"Astaga …," Luce tampak cukup syok begitu melihat seorang pemuda yang merupakan salah satu dari orang-orangnya tengah dibopong salah seorang lelaki yang berjalan di belakang sang pangeran. Dengan tergopoh-gopoh, wanita bergaun putih itu mendekati si pemuda, kemudian ganti membopongnya.

"Hei, sadarlah!" Pendeta wanita itu menepuk-nepuk kedua pipi si pemuda, berusaha membangunkannya. Wanita bergaun putih itu menghela napas lega begitu melihat pemuda itu membuka matanya. Luce memejamkan matanya, kemudian komat-kamit mengucap syukur. G cukup terkejut begitu melihat bahwa pendeta fanatik tersebut bisa berwajah semanusiawi itu, ia baru benar-benar tampak seperti seorang manusia.

"Apa yang terjadi?" tanya Luce lembut pada pemuda itu. Matanya menelusuri keadaan si pemuda, mendapati beberapa luka hasil penyiksaan yang berbekas di sekujur tubuhnya.

"Kami … kami bertindak di luar rencana," jawab pemuda itu lirih, namun dapat terdengar seluruh makhluk yang hadir karena dalam sekejap ruangan tersebut ditelan hening. "Kami meledakkan bomnya, kemudian bertempur dengan beberapa Grisha. Yang lain dibunuh, hanya aku yang disisakan untuk interogasi," lanjutnya.

"Semoga mereka tenang di alam sana," ucap Luce penuh duka. "Lalu, kenapa kau bisa pergi dari sana?" tanyanya.

"Sankta, Sankta Mammon …," setiap orang di sana tersentak bak disengat begitu nama yang amat familiar bagi mereka terucap dari bibir pemuda berwajah pucat itu, "aku melihat Sankta. Dia meminta pengampunan untukku, dia membiarkanku bebas. Terpujilah ia, terpujilah." Pemuda itu memejamkan matanya, kemudian menangkupkan kedua tangannya serta menaruhnya di depan dadanya.

Luce ikut melakukan hal yang sama, ia menangkupkan kedua tangannya dan meletakkannya di depan dadanya sembari memejamkan matanya erat. "Terpujilah Sankta, terpujilah engkau," katanya.

Nah. G menggerutu, tanpa pikir panjang segera kembali menarik perkataannya yang mengatakan bahwa pendeta itu terlihat manusiawi. Yaah, dia cukup manusiawi—dan tetap fanatik menyebalkan.

"Aku tak menyangka kau bisa bertahan dua bulan lebih di luar sana. Pasti berat untukmu kan?" tanya Fon membuka percakapannya dengan sang pangeran.

"Ushishi~, khawatirkan saja dirimu yang baru bangun dari koma itu, Hibari Fon. Pasti berat rasanya berada di ujung kematian, kan?" balas Bel seraya menyeringai.

"Kita semua tengah merasakan ujung kematian sekarang," sergah Fon. "Mammon ditawan Sang Kelam sementara kita bisa berdiri di sini dan mengobrol—oh, apa kau sudah tahu soal Mammon?" tanyanya.

"Tentu sudah. Orang kepercayaanku tak selemah itu sampai tak mendapat informasi yang paling banyak tersebar di seluruh penjuru Ravka," Bel mengangkat bahunya, terlihat jelas nada bangga dalam kalimatnya.

"Yaah, terserah," Fon tak ambil pusing. "Yang penting senang melihatmu bisa di sini dengan Colonello. Bisa lepas dari pengawasan orang paling kuat di Ravka pasti melelahkan, kan?" tanyanya.

"Justru seharusnya kau tak senang melihatku, Hibari Fon," sahut Bel. Seringainya mengendur dan mendadak ia bersikap serius.

Fon menyipitkan mata karamelnya. "Apa maksudmu?" tanyanya waspada.

"Kedatanganku ke mari bukan semata-mata ingin memberitahu kalian kabar baik. Aku—kami—juga membawa kabar buruk selain para orang-orang biasa yang dikirimkan hanya tersisa satu orang," jawab Bel.

"Kabar buruk?" beo Ugetsu yang sedari tadi diam.

Bel menganggukkan kepalanya. "Kami mendapat kabar bahwa Dokuro Mammon, Pemanggil Matahari kita, akan menikah dengan Sang Kelam dalam waktu dekat ini."

.

.

Title: Last Hope

Disclaimer: Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira

Grisha Trilogy by Leigh Bardugo

Warning: Grisha Trilogy!AU, BL, OOC, Fon dibuat menjadi dua orang, typo(s). Alternative ending dari Siege and Strom. Possibily harem. Mengandung spoiler Grisha Trilogy.

.

.

.chapter 6.

.

.

Kepada bintang:

Biarkan aku menitipkan harapan serta janjiku diantara kerlipan cahayamu.

.

.

Mammon membongkar setiap rak dan laci yang ditemukannya di Perpustakaan Istana tak sabar, tak dipedulikannya beberapa buku menjadi kurang teratur atau bahkan sampai ada yang terjatuh dan merasakan dinginnya lantai. Bukunya tak ada—buku Istorii Sankt'ya tak ada di manapun Mammon mencari. Seingatnya dulu, Luce pernah mengatakan padanya bahwa buku itu adalah buku wajib seluruh murid Grisha, tapi kenapa di perpustakaan sebesar ini buku itu tak ada?

Mammon mendecih, ini pasti ulah Fong. Mungkin dia sudah mengantisipasi hal ini dengan membakar seluruh kopian bukunya atau jangan-jangan buku itu sudah lenyap semenjak penyerangan terakhir Fong yang menewaskan Fon waktu itu? Entahlah, Mammon tak pernah pergi ke perpustakaan lagi untuk mengecek buku, lagi pula siapa yang mau repot-repot mengecek keberadaan buku-buku yang butuh banyak waktu untuk dibaca?

"Kufufu, Anda terlihat kacau, moi soverenyi," ujar sebuah suara yang cukup familiar.

Mammon terkesiap, rasanya ada sebuah sengatan listrik yang membuatnya kembali berdiri tegak. Dibalikkannya tubuhnya, mendapati Rokudo Mukuro tengah berdiri di ambang pintu perpustakaan dengan senyum semi seringainya yang berbahaya. Dua bola matanya yang berbeda warna menatap Mammon tanpa minat, namun Mammon sadar bahwa sepasang mata itu tengah mengawasinya, memperhatikan gerak-geriknya di sana.

"Berisik. Kenapa kau tidak bersama dengan tuanmu?" sindir Mammon tajam, tanda ia tak suka diganggu secara terang-terangan.

"Kufufu, Sang Kelam sedang menjalani pemeriksaan kesehatan rutin. Akan sangat lancang jika saya tak membiarkannya seorang diri," jawab Mukuro seraya membungkukkan badannya bak seorang gentleman, tapi bagi Mammon perilakunya itu membuatnya mual dan tak lebih dari seorang pencari perhatian.

"Lalu, apa yang membuatmu terdampar di sini?" tanya Mammon seraya memunggungi Mukuro dan kembali mencari benda yang masih belum ditemukannya.

Mukuro menggulum seringai tipisnya. "Saya penasaran ingin melihat keindahan dalam diri Anda yang mampu membuat penguasa kegelapan terpikat," jawabnya.

"Hah?!" Mammon segera membalikkan badan, dahinya berkerut.

"Kufufu, saya hanya bercanda. Sang Kelam bilang, jika saya tak punya pekerjaan lain, akan lebih bagus jika dipakai untuk mendampingi Anda. Apalagi kejadian beberapa hari yang lalu pasti sudah membuat Anda trauma," jelas pemuda bermanik dwiwarna itu tenang.

Mammon berbalik sembari mendengus terang-terangan, tak tampak anggun memang namun ia tak peduli. Persetan dengan bersikap anggun dan lemah gemulai, lagi pula memang sejak awal dia bukan perempuan. "Kalau hanya kata orang itu, pergilah, aku bisa sendiri. Aku sedang sibuk sekarang dan tidak suka ada yang mengganggu," usirnya ketus.

"Apa yang tengah Anda cari, moi soverenyi?" tanya Mukuro tenang.

"Sesuatu. Kau tidak perlu tahu dan tidak berhak untuk tahu," jawab Mammon masih dengan nada yang sama ketusnya.

"Mohon maafkan atas kelancangan saya bertanya, moi soverenyi." Lelaki bergaya rambut aneh itu kembali membungkukkan badannya. "Tapi, moi soverenyi, sepertinya saya sudah mengetahui benda apa yang Anda cari hingga membuat perpustakaan hancur seperti ini," sambungnya.

"Oh ya? Aku ingin tahu apa yang sudah kau ketahui," kata Mammon tanpa minat seraya mengembalikan sebuah buku yang diambilnya kembali ke rak, judulnya berbeda dan yang pasti tidak memuat apapun mengenai Penguat Gelombang Morozova.

"Apa ini benda yang kau cari, moi soverenyi?" tanya Rokudo Mukuro seraya mengangkat sebelah tangannya, memperlihatkan sesuatu yang tergenggam dalam tangannya. Mammon sebenarnya berniat untuk tak mengacuhkannya, namun matanya berkhianat dan melirik ke arah pria berambut biru itu, melihat sekiranya benda apa yang dikeluarkan seorang tangan kanan Sang Kelam dan segera terkesiap.

Istorii Sankt'ya! Demi semesta!

"Oya? Sepertinya aku benar, eh," ujar Mukuro sembari melebarkan seringai kemenangannya begitu melihat Mammon menahan napas.

Mammon tak memedulikan kata-kata pria itu yang sebenarnya cukup lancang bagi seorang Grisha biasa padanya yang—mungkin—akan menjadi pendamping sang penguasa kegelapan dan berbalik. "Darimana kau dapatkan buku itu?" tanya Mammon sembari membalikkan badan dan menatap pria bergaya rambut aneh tersebut.

"Apa yang membuat Anda begitu menginginkan buku ini, moi soverenyi?" Tak memedulikan pertanyaan sang Pemanggil Matahari, Mukuro kembali bertanya.

"Kalau tahu pun, itu tak akan menguntungkanmu. Sang Kelam tak akan memberimu sekeping emas pun hanya untuk informasi kecil itu," sahut Mammon. Ia berjalan cepat mendekati pria pemilik mata dwiwarna itu, namun sebelum ia berhasil merebut buku tersebut, Rokudo Mukuro telah lebih dulu menaikkan buku itu hingga tak dapat dijangkau pemuda mungil violet tersebut yang notabene memang lebih pendek dibanding dirinya.

"Kufufu, kalau mau jujur, saya juga tak menginginkan satu keping emas pun dari informasi itu. Saya bertanya karena ingin tahu," ujar Mukuro tenang.

Mammon menyimpulkan bahwa pria ini hanya berniat mengoloknya karena tak mampu menemukan sebuah buku, ia mendecakkan lidahnya dan bertanya dengan nada ketus, "Apa sebenarnya tujuanmu ke mari? Aku yakin titah Sang Kelam bukan satu-satunya alasanmu."

"Kufufu, saya hanya ingin mengagumi ratu masa depan negeri ini," jawab pria bermata dwiwarna itu seraya menggulum seringai tipis.

"Aku benci sebuah bualan. Dan lagi, aku belum jadi ratu negeri ini," ralat Mammon sinis. Dan itu tidak akan pernah terjadi. Siapa sudi menjadi budak Sang Kelam seumur hidup? batinnya menambahi.

"Kufufu, maafkan kelancangan saya, moi soverenyi. Harusnya, sebagai pengabdi, saya harus bersyukur bisa berbicara sedekat ini dengan Anda," kata Mukuro seraya kembali membungkukkan badan, namun Mammon menangkap seringai tadi tak terlepas dari bibir si pria dan tahu pria bergaya rambut aneh itu hanya berniat main-main.

"Pergilah," usir Mammon setelah menghembuskan napas pendek dan membalikkan badan.

"Oya?"

"Dan katakan pada Sang Kelam aku tak butuh penjagaan," sahut Mammon lagi.

"Bahkan meski saya ingin memberikan buku ini secara cuma-cuma?" pancing Mukuro tenang.

Pemuda berambut violet sebahu itu terhenyak, ia kembali berbalik dan menatap wajah Mukuro yang tengah menatapnya lurus. Mammon mengepalkan tangannya, kemudian kembali berjalan mendekati pria berambut biru itu dan melayangkan tatapan tajam padanya.

"Aku butuh buku itu," desis Mammon seraya mengeraskan rahangnya.

"Kufufu, as you wish, moi soverenyi," jawab Mukuro sembari menyodorkan buku itu pada sang Pemanggil Matahari. Mammon menyambarnya, dan ternyata Mukuro sama sekali tak berniat menahan buku itu dan memilih membiarkan sang Pemanggil Matahari mengambilnya—meski dengan memberinya tatapan tajam yang cukup mengancam.

Mammon membuka buku itu dan membolak-balikkan beberapa halaman, kemudian menutup buku itu kembali setelah yakin buku itu tak rusak atau terdapat halaman yang disobek atau bekas buku itu dibuka oleh pria bergaya rambut aneh itu.

"Khawatir aku telah membuka atau merusaknya, moi soverenyi?" tebak Mukuro tepat sasaran.

"Tidak," dusta Mammon sembari memasang wajah tak bersalah. "Aku berterima kasih kau mau melepaskan benda ini. Meski itu tidak berarti aku memercayaimu. Apa kau berusaha mengkhianati Sang Kelam setelah mendapat kepercayaan penuhnya?" selidik Mammon tajam.

"Kufufu, sama sekali tidak, moi soverenyi. Saya memberikan buku itu semata-mata karena Sang Kelam juga tampak tak membutuhkannya sehingga menaruhnya di sembarang tempat," jawab Mukuro tenang.

"Begitu," respons pemuda mungil itu tak minat. "Kalau begitu permisi—"

"Cara apa yang Anda gunakan untuk membuat Sang Kelam begitu terobsesi padamu, eh?" tanya Mukuro memotong perkataan Mammon. Pemuda berambut violet itu terkesiap, matanya terbelalak. Pria bermata dwiwarna itu menaikkan sudut bibirnya untuk yang kesekian kali, namun Mammon tak dapat membaca apa yang dipikirkan pria itu.

Mammon mendongakkan kepalanya, memandangi Mukuro dengan matanya yang masih melebar serta iris violet yang memancarkan ketakutan yang terlihat jelas, tak lupa dengan keringat dingin yang mengalir deras turun dari pelipisnya. Rokudo Mukuro mengabaikan semua itu dan melangkah maju mendekati Grisha bertubuh mungil tersebut. Refleks, Mammon melangkah mundur, berusaha menjaga jarak dengan lelaki bergaya rambut aneh itu meski kakinya gemetar hebat.

Mukuro terus melangkah sementara Mammon tetap berjalan mundur tanpa melepaskan pandangannya dari sepasang manik yang berbeda warna milik pria itu. Ketakutan menguasai sekujur tubuh sang Pemanggil Matahari, dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki. Mata dwiwarna itu memancarkan aura yang memojokkan Mammon hanya melalui sebuah pandangan mata.

Baru saja melangkah beberapa langkah ke belakang, punggung Mammon berbenturan dengan sebuah benda keras. Mammon melirik ke belakang, memaki tanpa suara bahwa ia telah terpojok oleh sebuah rak kayu tinggi yang berwarna cokelat.

Terpojok?

Mammon tersentak begitu sadar di mana posisinya, namun sempat mengelak sebuah tangan di sebelah kirinya dan sejajar denga telinga kiri sang Grisha berambut violet. Pemanggil dengan nama belakang Dokuro itu mendongakkan kepala takut-takut, pandangan manik senada dengan rambutnya bersirobok dengan pria berambut biru itu, membuat Mammon tanpa sadar meneguk saliva paksa.

"Jujur, saya bingung dengan cara Sang Kelam memerlakukanmu. Apa kau benar-benar orang yang dicintainya? Atau hanya sekedar pemuas hasratnya? Sebagai kartu as andalannya? Yang mana posisi Anda sesungguhnya?" tanya Mukuro dengan seringai misterius yang tak kunjung lenyap dari bibirnya. Mammon tak menjawab, terlalu sibuk menghadapi ketakutannya.

Mukuro melebarkan seringainya, ia mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga kanan pemuda violet itu dengan nada rendah, "Kau bisa menjadi senjata yang hebat untuk Sang Kelam. Jadi, kuharap kau sadar diri dalam menempatkan dirimu sebagai senjata, 'moya tsaritsa'," ia berbisik dengan nada rendah yang tampak mengancam.

"Sedang apa kau di sana, Rokudo Mukuro?" tanya sebuah suara dengan nada angkuh, memecah ketegangan yang menyelimuti kedua Grisha tersebut.

Keduanya tersentak, refleks dengan cepat menoleh ke asal suara, kemudian melebarkan mata begitu menangkap sesosok pria tinggi tegap dengan garis-garis wajah tegas khas benua Asia yang tengah menatap mereka dengan sepasang kelereng hitamnya yang tajam.

Sang Kelam, Fong.

.

.

.

"Rokudo Mukuro, seingatku kau kuperintahkan menjaga Pemanggil Matahari. Jadi, apa yang tengah kau lakukan di sana dengan calon pendampingku?" tanya Fong seraya menyipitkan matanya.

Rokudo Mukuro berbalik, kemudian membungkuk ala gentleman sejati dan melupakan sikapnya yang lebih mirip dengan bajingan barusan. "Moi soverenyi, aku mengharapkan pengampunanmu atas apa yang telah kulakukan," katanya dengan nada bak seorang hamba sahaya.

Dia terlalu sering berakting. Mungkin wajahnya ada lebih dari dua, atau mungkin puluhan, atau malah ratusan. Mammon membatin, namun ia lebih memilih membisu dan menunggu jawaban pria Asia bermanik senada arang itu.

"Tergantung jawabanmu," sahut Fong tenang namun juga tajam sekaligus arogan. "Apa yang kau lakukan sebelum aku memergokimu dengan Mammon?" tanyanya.

Senyum semi seringai Mukuro mengendur. "Saya—"

"Dia menahanku saat aku kehilangan keseimbangan, aku tengah membawa beberapa buku saat itu dan tak kuat menahan beratnya yang melebihi perkiraanku," sambar Mammon yang dengan cepat memotong jawaban Mukuro dan mengalihkan perhatian kedua pria di depannya. "Aku cukup gugup saat mencoba kembali berdiri dengan kakiku sendiri lagi, dan aku kembali kehilangan keseimbangan. Sisanya … kau dapat melihatnya, moi soverenyi," sambung pemuda violet tersebut seraya sedikit menundukkan kepalanya.

Mukuro melirik Grisha berambut sebahu itu melalui sudut matanya, namun sama sekali tak terlihat bersyukur akan distorsi karangan Mammon untuk mereka berdua. Fong terdiam, hingga akhirnya pria bermanik hitam itu menarik napas dalam dan membuangnya hingga dadanya yang bidang—dan cukup berotot itu—terlihat turun.

"Pergilah," usir Sang Kelam terpaksa. "Aku butuh privasi dengan calon pendampingku," lanjutnya.

"Moi soverenyi," Mukuro menundukkan kepalanya sejenak dan segera menarik diri dari perpustakaan yang bak baru saja diterjang badai tersebut dan menutup pintunya.

Fong mengawasi dengan sudut matanya hingga pintu kayu itu ditutup dari luar, kemudian kembali menatap Mammon yang tengah memandanginya tanpa ekspresi berarti.

"Kau pikir dusta seperti itu bisa membohongiku?" tanya Fong seraya berjalan mendekat dengan langkah yang terkesan angkuh.

Mammon mengepalkan tangan, sadar betul bahwa kata-katanya itu tak akan mampu mendustai sang penguasa kegelapan—bukan, ia justru akan terkejut jika itu bisa membohongi pria Asia di depannya ini.

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Menyiksaku sampai mampus?" desis Mammon menantang.

"Menyiksamu? Tidak, tidak," Fong membentuk sebuah seringai tipis, berusaha menahan tawanya. "Kau ingin Fjerda dan Shu Han itu tahu kalau aku menyiksamu yang akan jadi ratu mendampingiku? Tidak ada raja yang akan menyiksa ratu-nya."

Culas. Mammon memandangi pria itu jijik, menggelikan ia bisa jatuh terperosok hingga tak seberdaya ini dalam genggaman Grisha sial tersebut.

"Sepertinya, kau sudah mendapat apa yang kau cari, eh?" tambah Sang Kelam sembari melirik ke arah benda yang didekap Mammon dengan erat.

Mammon meneguk ludah paksa, kemudian mencuri pandang pada Istorii Sankt'ya yang didekapnya di dada. "Tak akan kuserahkan benda ini padamu, Brengsek," katanya dengan melayangkan sebuah tatapan tajam.

"Kau berniat mengancamku, Mammon? Manis sekali," kekeh pria Asia itu sarkastis.

Mammon tak menjawab, namun juga tak mengendurkan pelukannya pada buku tersebut. Tubuhnya ia paksa bersiaga, berjaga-jaga jika kalau pria ini akan langsung melakukan hal di luar dugaannya.

"Ambil saja benda itu, aku juga tak membutuhkannya," kata Sang Kelam setelah mereka terdiam cukup lama.

Mammon membelalakkan matanya, pria ini mau melepaskannya begitu saja? Apa kepalanya terbentur sebelum memasuki Perpustakaan Istana?

"Tidak, aku tidak terbentur apapun sebelum memasuki tempat ini." Seringai tipis terukir sempurna di wajah tampan Fong. Mammon memaki dirinya, lupa bahwa pria ini juga bisa membaca pikirannya—atau mungkin pengamat wajah yang baik.

"Tapi, ingatlah satu hal, Mammon," dengan gerakan terkoordinasi sempurna tanpa bisa diprediksi sebelumnya, Sang Kelam memajukan tubuhnya, memojokkan Mammon ke rak kayu seperti yang sudah dilakukan Mukuro sebelumnya, kemudian mendekatkan wajahnya pada daun telinga mungil Mammon dan berbisik. "Sampai kapanpun kau berusaha menjatuhkanku, tak peduli sehebat apapun rencana yang akan kau lakukan, semua itu akan sia-sia."

Mammon menahan napasnya, Istorii Sankt'ya dalam dekapannya nyaris terjatuh. Sebuah seringai terpasang kembali di bibir pria bermanik hitam itu, seolah tak menyadari ekspresi sang Pemanggil Matahari, ia kembali melanjutkan.

"Jadilah anak baik yang tetap mengikuti langkahku, dan semuanya akan baik-baik saja, Mammon. Kau hanya dan akan tetap jadi milikku, untuk selamanya, Mammon," lanjut sang penguasa kegelapan.

Mammon yakin tubuhnya gemetaran, ia tahu ia tak akan bisa melawan, seluruh tenaganya seolah terserap habis hanya karena mendengar bisikan pria ini yang terdengar memabukkan sekaligus menjijikkan. Tapi ia menolak untuk kalah dan jatuh dalam kekangan pria yang memojokkannya ini. Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Mammon mendorong pria itu dan segera berlari menjauh.

Fong membiarkan, namun seringainya tak terlepas dari bibirnya. Ia melihat punggung Mammon yang menjauhinya, ia melihat punggung serta tangan sang Pemanggil Matahari begitu gemetaran hanya karena bisikannya, dan itu membuatnya terlalu puas.

'Kau tak akan bisa lari dariku. Tak ada tempat untukmu berlari … dan Pelacak yang kau cintai sudah mati.'

.

.

.

"Sampai kapanpun tidak akan pernah kuizinkan!" bentak Luce. Kedua bola matanya yang sejernih langit biru menatap dingin seluruh makhluk yang ada di ruangan itu. "Ke luar dari sini hanya akan mendatangkan malapetaka! Kalian pikir kalian bisa bertahan hidup-hidup di luar sana?!" tambahnya dengan nada tinggi.

"Memang tidak ada jaminan tentang keselamatan kami, tapi kalau Mammon sudah merencanakan itu, artinya kita juga harus siap," jawab Bel tenang, seringai khasnya sama sekali tak luntur menghadapi pendeta di depannya.

"Tidak berotak!" bentak wanita bergaun putih itu. "Bisa jadi ini jebakan! Sankta Mammon tidak akan menjerumuskan kita ke dalam bahaya yang begitu besar! Ya! Ini pasti hanya karanganmu saja, Grisha Fjerda!" Pendeta itu menunjuk wajah Colonello penuh nafsu amarah.

"Kalau seandainya orang-orangmu itu bisa menahan diri lebih baik dan mengikuti prosedur sesuai rencana, mungkin sekarang kau bisa mendengar rencana itu dari mulut Pemanggil Matahari sendiri, kora!" bela Colonello keras. Tangannya mengepal erat, menahan diri untuk tidak menghantamkan tinjunya pada pendeta fanatik itu—oh, seandainya dia bukan wanita.

"Tenangkan dirimu," kata Bel sembari menoleh dan menatap lurus wajah Colonello, memintanya untuk menekan amarahnya.

"… Maafkan saya, moi tsarevich." Colonello membungkukkan badannya sedikit pada sang pangeran.

"Jadi," Bel kembali mengalihkan pandangannya, menatap wanita bergaun putih yang masih menatapnya murka, "kau masih tak akan membiarkan kami, eh, Pendeta?"

"Tentu saja! Lagi pula, bagaimana kau bisa selamat—"

"Pendeta."

Semua tersentak, dengan cepat mereka menoleh ke asal suara, mendapati Fon tengah memandangi mereka dengan manik karamelnya tenang namun juga tegas di saat bersamaan.

"Kenapa kau sebegitu tidak ingin kami ke luar dari sini?" tanya Fon setelah membiarkan hening menyelimuti mereka selama beberapa detik.

"Jangan mencoba mendesakku, Pelacak," desis Luce dengan pandangan yang sama kerasnya.

"Apa aku terlihat sedang mencoba mendesakmu?" balas Fon dingin. "Dengar ini, aku tidak peduli apa yang kau katakan, tapi Mammon di luar sana sudah terlalu lama menunggu dan dia sendirian! Apa keras kepalamu itu tidak bisa berpikir jernih mana yang harus diselamatkan?"

"Tutup mulutmu! Kau hanya pelacak di sini!" bentak Luce.

"Apa kedudukan sebagai seorang pendeta juga lantas membuatmu menjadi orang yang paling berhak untuk menentukan jalan menyelamatkan Pemanggil Matahari? Berhenti keras kepala dan lihat sekelilingmu! Membiarkan kami tetap di sini sama saja membiarkan Mammon bertahan hidup sendiri di sana!" bentak Fon tak mau kalah.

"Dengar ini, Pelacak," Luce menekankan suaranya, matanya menyipit tak suka pada pemuda yang masih duduk di tempat tidurnya itu, "sampai kapan pun, aku tak akan membiarkan kalian ke luar dari sini kecuali kalian punya alasan kuat yang memiliki bukti nyata dan bukan hanya berkedok pada Sankta Mammon saja."

Tak peduli pada respons yang menunggunya, Luce membuang wajahnya dari pemuda itu, kemudian berjalan menuju pintu dengan langkah anggun yang angkuh. Ia membuka kenop pintu, kemudian membantingnya dari luar. Langkah kakinya di lorong masih sama angkuhnya dengan ketika ia berada di ruangan.

Semua membungkam mulutnya, lalu menoleh pada Fon yang matanya masih tak beralih dari pintu.

"Jadi, bagaimana menurutmu, Hibari Fon? Apa kita harus membungkamnya dan memaksanya untuk membiarkan kita ke luar dari sini?" tanya Bel memecahkan hening di sana.

Fon menghela napas. "Aku belum memikirkannya sampai sana. Kau sendiri? Menurutmu bagaimana?" tanyanya.

Bel mengangkat bahu. "Kalau aku tetap bertahan di sini, Lal di atas sana pasti akan kalang kabut setengah mati." Seringai sang pangeran berubah menjadi seringai main-main.

"Mungkin kau bisa ke luar dari sini," Fon menyibak selimut yang menyelimuti sebagian tubuhnya, kemudian duduk di tepi kasur dan mencoba berdiri dengan berpegangan pada tepi kasur. "Ada yang mau menanyakan pada sang Pendeta apa Pangeran Ravka bisa ke luar dari sini?" tanyanya sembari mengarahkan pandangannya pada setiap orang di sana.

"Tidak, aku tetap di sini. Soal Lal tidak masalah, dia pasti bisa mengantisipasinya," kata Bel.

"Ah, kalau begitu, bagaimana kalau aku bawa teh lagi? Teh yang kubawa jadi kurang, kan?" tawar Haru sembari berdiri.

"Tentu, tentu saja, Haru. Tidak sopan juga membiarkan seorang pangeran kedua Ravka datang tanpa menjamunya dengan sesuatu," jawab Fon tenang sembari tersenyum tipis.

"Pastikan kalau pendeta itu sama sekali tak memasukkan benda lain selain teh ke dalam cangkir-cangkir kami, Penjahit," kata I-Pin memperingatkan.

"Hai', desu! Kalau begitu, aku permisi, moi tsarevich." Haru membungkukkan tubuhnya anggun, sebelum akhirnya pergi ke luar ruangan dan menutup pintu dari luar.

Suasana dalam ruangan itu berangsur-angsur mereda, Colonello terlihat asyik mengobrol dengan Ugetsu dan G, Yamamoto berusaha mengajak Gokudera bicara, I-Pin terlihat tak terlalu peduli dengan apa yang terjadi, dan Belphegor meluruskan kakinya dan terlihat tengah mengajak Spanner—Grisha dari ordo Materialki yang paling anti sosial—berbicara. Fon bersandar pada tepian tempat tidur dan menatap lantai, memikirkan berbagai cara yang bisa dilakukannya untuk membuatnya bisa ke luar dari sini—atau setidaknya dapat memaksa sang Pendeta memberi mereka izin ke luar dari Katedral Putih. Namun semuanya buntu, ia tak menemukan jalan keluar apapun yang dapat mengantarkannya ke luar ke permukaan.

"Kau mirip dengan seseorang yang kukenal," ucap sebuah suara yang terdengar dingin. Fon melirik ke sebelahnya, mendapati seorang pria berambut platinum blonde dan memakai penutup mata yang juga dibawa Colonello sekembalinya dari penyusupan ke Istana Kecil—Alaude—ikut bersandar pada tepi tempat tidur.

"Benarkah?" tanya Fon.

"Hn." Pria itu menjawab acuh tak acuh, namun matanya yang hanya tinggal satu itu memandangi Fon dari atas ke bawah berulang-ulang. "Seseorang yang harusnya tak pernah ada lagi di dunia ini," tambahnya.

"Jadi, kau ingin mengatakan kalau aku ini semacam hantu? Satu spesies dengan makhluk gaib?" tanya Fon setengah ingin tertawa.

"Bukan," jawab Alaude dingin. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, "apa yang kau lakukan hingga masih bisa bernapas, Pelacak? Menang bertaruh dengan dewa kematianmu?" tanyanya.

"Bisa jadi." Fon menggulum senyum tipis, seolah menganggap itu hanya sebuah guyonan. "Tapi mungkin ini semua karena dia," lanjutnya.

"Kau terlalu dini membicarakan hal tentang cinta, Nak," cetus Alaude.

"Jadi, kau terlalu tua untuk mendengar hal tentang cinta itu dariku?" Fon balas bertanya.

Pria bermata satu itu memutar bola matanya jengah, bibirnya enggan menjawab.

"Bercanda," ucap Fon buru-buru.

"Kau pikir aku akan tersinggung hanya karena dikatakan tua?" balas Alaude.

Fon melirik pria itu seraya menggulum senyum tipis. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya sembari menatap lantai lagi, senyumnya belum luntur dari bibirnya.

"Kau kira aku pengasuh Saint Kecil itu?" tanya pria berambut platinum blonde itu sinis.

"Bukan, bukan. Mammon pernah bercerita sedikit tentang kau, dia bilang kau gurunya—sekaligus orang yang menyelamatkannya," jawab Fon dengan nada terkendali.

"Aku tidak pernah ingat pernah menyelamatkannya," desis Alaude sinis.

"Kau menyelamatkannya—kau memberitahunya tentang Sang Kelam." Fon terdiam dan melanjutkan, "terima kasih untuk itu."

Namun pria bermata satu malah mendecih. "Saint Kecil itu harus diajari yang namanya menutupi rahasia," katanya.

"Hei, saat itu juga terdesak, mengertilah sedikit," kata Fon, namun anehnya ia mengatakannya sambil tertawa.

Alaude melirik pemuda itu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Dia baik-baik saja, masih bernapas meski dalam kekangan Sang Kelam," ia terdiam sejenak, "dia masih mencintaimu," lanjutnya.

Fon bungkam, disingkirkannya seluruh hasrat ingin mengolok pria yang tadinya menolak membicarakan cinta ini, beralih mengenang sesosok pemuda mungil yang dulu dimilikinya—yang seharusnya dilindunginya, yang sekarang dirindukannya.

Napas berat diembuskan si pemuda bermanik karamel setelah cukup lama. "Aku harap dia benar-benar baik-baik saja," katanya sembari memaksakan tersenyum. "Dia ada di genggaman tangan penguasa nomor satu Ravka saat ini, dan yang kulakukan hanya memikirkan cara ke luar dari sini. Benar-benar tak sebanding."

"Di luar dugaan, kau cukup pesimis, heh?" Alaude mengangkat sebelah alisnya. "Tidak ada gunanya menyalahkan diri. Kalau kau benar-benar ingin menyelamatkannya, jangan pikirkan apapun," katanya acuh tak acuh.

"Di luar dugaanku juga, kau ternyata cukup cocok sebagai motivator," Fon memamerkan seringai kecilnya, membuat Alaude memutar bola matanya yang hanya tinggal sebuah, tanda bahwa ia menyesal mengatakan hal barusan.

"Kalau soal itu, pasti akan kulakukan," kata Fon tanpa memedulikan raut wajah Alaude yang sedikit tak mengerti arah pembicaraannya.

Fon menatap lurus ke depan, namun fokusnya bukan pada objek di depannya, melainkan begitu jauh seolah ia harus menyelami waktu dalam kenangannya untuk membayangkan objek tersebut ada di depannya.

"Aku pasti akan menyelamatkan Mammon. Tidak peduli sampai kapanpun, harus mengorbankan apapun, dia pasti akan kuselamatkan," janji Fon tegas.

Alaude diam, mengamati pemuda yang berdiri di sebelahnya. Sepertinya memang mirip, minus pada bibirnya yang senantiasa tersenyum dan cara bicaranya yang santun, ia mirip dengan orang itu. Sebelum pikirannya kembali mereka-reka lebih lanjut, Alaude segera menatap objek lain, kemudian memaki dirinya yang kembali teringat dengan orang itu—orang yang tak seharusnya diingat lagi.

"Aku tak butuh kata-katamu. Kalau mau selamatkan, selamatkan saja dia. Bicara hanya membuang waktu," cetus Alaude acuh tak acuh.

Fon menyeringai tipis. "Jangan khawatir, banyak waktu untuk berpikir. Lagi pula, seorang tuan putri sudah seharusnya diselamatkan dengan cara yang keren, kan?"

.

.

.

.tbc.

.

.

.

A/N : Saya nggak sadar udah berapa lama menelantarkan benda ini duhh— /digeplak. Uuhh maaf ya kalau feels kurang dapet, saya udah lama nggak baca karya Leigh Bardugo, nanti deh say abaca ulang novel-novel dia yang selalu awesome itu orzz /duash. Saya juga minta maaf untuk segala kekurangan dalam fanfiction ini mulai dari OOC, tipo, dsb. Hayoo yang dimaksud sama Alaude soal orang itu siapa hayoo, yang udah baca novel aslinya pasti tahu :""") /yudonsei /pergikamu. Semoga kalian tetap menikmati fanfic ini ya XD

DAN AKHIRNYA BERITA MAMMON NYAMPE JUGA KE KATEDRAL PUTIH HEYYYAAAHHHH! MARI KITA BERHARAP SAYA BISA SEGERA NGETIKIN ADEGAN FON X MAMMON X FONG! /o/ /dibuang.

Dan, saya mau mengucapkan terima kasih untuk setiap orang yang telah mendukung fanfiction ini, jujur saya kaget ternyata fanfic ini bisa dapet 58 suara. Dan meski tidak berhasil menembus suara terbanyak, tapi ya ampun terima kasih banyak untuk kalian semua, saya sangat terharu ternyata banyak yang menanti fanfiction ini :"))

Omong-omong, jangan sungkan untuk mengotori kotak review fanfic ini ya. Tuangkan seluruh perasaanmu saat membacanyaaa /o/ /udah. Saya tunggu review kalian. Terima kasih sudah membaca! Sampai jumpa di chapter berikutnya atau di karya saya yang lain!

-Salam-

Profe Fest