Mammon membiarkan tubuhnya mendarat ke kasurnya yang empuk dengan pendaratan yang cukup keras, buku Istorii Sankt'ya yang sedari tadi didekapnya ia biarkan berpisah dari pelukannya dan terhempas cukup jauh darinya meski tetap berada di atas kasur si pemuda. Sang Pemanggil Matahari mengatur napasnya yang tak beraturan, mencoba mengenyahkan segala kata-kata pria sial yang membuatnya gemetaran hebat itu dari pikirannya.

"Kau hanya dan akan tetap jadi milikku, untuk selamanya, Mammon."

Mammon memandangi tangannya, menatap kulit yang membungkusnya itu gemetaran. Ia mendekap tangannya di dadanya, mencoba berharap semua bayangan mengerikan itu lenyap dari otaknya seiring dengan embusan napasnya.

Tak ingin membuang waktu dengan hal-hal konyol lagi, pemuda violet itu meraih buku yang tadi dihempaskannya. Dengan perlahan, sang Pemanggil Matahari membalikkan tubuhnya hingga telungkup, kemudian menaruh buku tadi di depannya. Jemari mungilnya kemudian mengelus sampul buku tersebut, merasakan sampul itu cukup keras namun bertekstur cukup lembut. Manik violet pemuda berambut sebahu itu sedikit menyipit, batinnya kembali membaca judul buku tersebut yang bertuliskan tinta berwarna emas.

Istorii Sankt'ya.

Mammon menarik napas dalam-dalam, menguatkan tekadnya. Dengan perlahan, ia membuka sampul buku itu dan berharap ia dapat mengetahui di mana burung api disembunyikan.

.

.

Title: Last Hope

Disclaimer: Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira

Grisha Trilogy by Leigh Bardugo

Warning: Grisha Trilogy!AU, BL, OOC, Fon dibuat menjadi dua orang, typo(s). Alternative ending dari Siege and Strom. Possibily harem. Mengandung spoiler Grisha Trilogy.

.

.

.chapter 7.

.

.

Untuk sebuah teka-teki:

Biarkan aku bertaruh denganmu di antara seribu kemustahilan

.

.

Halaman pertama Istorii Sankt'ya berisi beberapa peringatan akan kekuatan Grisha. Mammon melewatinya, tak membaca satupun kata yang tercantum di sana. Pikirannya hanya tertuju pada penguat gelombang ketiga Morozova dan ia tak yakin ia punya banyak waktu berlama-lama membaca buku itu.

Jemari lentik sang Pemanggil Matahari terus bergerak membalik halaman buku tersebut, sepertinya buku ini dirancang tak memiliki daftar isi, yang artinya ia harus menemukan sendiri di mana bagian halaman yang membicarakan Morozova, pembuat penguat gelombang terkuat yang pernah ada di muka bumi.

Mammon mati-matian menahan gejolak untuk memuntahkan makanan yang ada di perutnya—meski ia tak yakin masih ada sisa makanan di pencernaannya mengingat ia nyaris tak pernah menyentuh makanan yang disajikan untuknya—begitu melihat sebuah ilustrasi seorang perempuan yang dipotong menjadi empat bagian. Cepat-cepat jemarinya membalik halaman itu dan meneruskan pencariannya. Apa buku ini lulus pengecekan untuk anak dibawah umur? Atau yang melakukan pengecekan sudah buta?

Apapun itu Mammon berusaha tak ambil pusing. Pikirannya terpusat pada penguat gelombang Morozova ketiga. Ia harus menemukannya, apapun ujiannya.

Begitu sampai di pertengahan buku, Mammon menghentikan jemarinya. Matanya mengeras, mencoba mengeja judul pada bagian teratas halaman dalam hatinya.

Ilya Morozova

Sang Pemanggil Matahari meneguk ludah, merasakan adrenalin memacunya. Ia menarik napas untuk yang ke sekian kali sebelum manik violetnya menelusuri kata demi kata yang tertulis di sana.

Ilya Morozova

Salah satu Grisha pertama dan terkuat di tanah Ravka. Ia termasuk dalam ordo Materialki, seorang Fabrikator terkemuka sepanjang sejarah yang membuat tiga penguat gelombang terkuat di dunia; Penguat Gelombang Morozova.

Penguat gelombang pertama adalah tanduk rusa-rusa ajaib berkulit seputih susu dan selembut salju. Tanduknya memancarkan kekuatan tiada tara sebagai pendamping seorang Grisha. Rusa-rusa ini seringkali berpindah tempat dari Fjerda ke Ravka atau sebaliknya sesuka hati mereka. Tak satupun orang pernah menemukan mereka. Mereka adalah makhluk purba dan ajaib. Mereka tak hanya hewan berinsting tajam, melainkan juga memiliki hati dan perasaan.

Pemuda berambut sebahu itu kembali mengingat pelariannya yang pertama dari Istana Kecil, kemudian tanpa sengaja bertemu kembali dengan Fon setelah cukup—sangat—lama tak bisa bertemu karena ia harus melatih kekuatannya di hutan dekat Ryevost. Fon menyelamatkannya dari kejaran tentara saat ia nyaris ketahuan, Fon masih memedulikannya meski ia telah menyuruh pemuda berkepang itu untuk enyah dari hadapannya. Mereka lalu pergi ke Tsibeya, melacak sendiri di mana kawanan rusa itu. Lalu, setelah selama seminggu melacak, mereka mengakui perasaan masing-masing, dan bibir mereka bertemu untuk pertama kalinya. Saat itulah kawanan rusa tiba, dan …

Mammon merasakan mulutnya terkatup rapat, rahangnya mengeras begitu melanjutkan lanjutan kenangannya. Fong datang tiba-tiba, lalu membunuh rusa itu dengan tangannya. Ia memisahkan Mammon dari Fon, lalu menyematkan tanduk rusa itu di lehernya untuk menjadi kalung—tali leher—yang menjadi penguat gelombangnya yang pertama.

Jemari sang Pemanggil Matahari menyentuh kalung dari tanduk Rusa Morozova di lehernya, lalu menelusuri teksturnya yang halus. Manik violet sang Pemanggil Matahari menyipit, merasakan dadanya dialiri rasa sakit tertikam belati. Tanda kepemilikan tanduk rusa itu sebagai penguat gelombangnya tidak lain telah menjadi tamparan keras baginya, tanda bahwa ia sudah gagal dan kini ia hanya alat untuk seorang pria tamak menjijikkan yang tak bisa dilawannya seorang diri.

Lupakan. Mammon menggelengkan kepalanya. Tidak ada waktu untuk menyesal dari nostalgia panjangnya. Sekarang, ia hanya harus menemukan petunjuk tentang penguat gelombang ketiga dan mendapatkan benda itu. Itu satu-satunya jalan yang tersisa untuk bisa mengalahkan Sang Kelam. Mammon kembali menelusuri bukunya, mengenyahkan semua kenangan yang baru saja diingatnya.

Penguat gelombang kedua adalah seekor naga bawah laut; Naga Es, Rusalye. Setiap sisiknya berkilauan, memancarkan kekuatan. Ia hidup dalam Laut Sejati di mana banyak tulang belulang berserakan. Terkadang, ia mengunjungi Kerch dan Novyi Zem diam-diam, berenang tanpa diketahui satupun kapal pedangan maupun kapal nelayan. Ialah sang penguasa Laut Sejati.

Mammon tetap bungkam. Jemarinya kini menelusuri gelang yang melingkari pergelangan tangan kanannya, merasakan sisik-sisik Rusalye dalam sapuan jemarinya. Pemuda itu kembali mengingat bagaimana setelah pelariannya dari Ravka dulu. Setelah Fong mengalungkan tanduk Rusa Morozova itu di lehernya dan mereka memasuki Shadow Fold dengan segudang grisha serta beberapa duta besar Fjerda dan Shu Han, Mammon berhasil melarikan diri dengan Fon lalu menaiki kapal yang menyebrangi Laut Sejati dan mendarat dengan selamat di Novyi Zem. Mammon kira itu akan menjadi akhir dari segalanya, tapi Fong sama sekali belum menyerah soal dirinya.

Sang Kelam berhasil menemukannya dan Fon di Novyi Zem, membawa mereka menyebrangi Laut Sejati dan tiba di perairan The Bone Road. Pria bermanik hitam itu menyuruh Fon melacak keberadaan Rusalye dan menjadikan Mammon sebagai tawanan yang akhirnya meluluhkan Fon. Pada hari ketujuh, Fon menemukan sesuatu dan setiap orang langsung berhamburan menggunakan perahu kecil ke arah yang diberitahu Fon tanpa satupun—kecuali Haru—yang memperhatikan Mammon. Fon langsung menghambur ke arah Mammon, bertanya dengan cemas apa sang penguasa kegelapan telah melukainya—dan memang itu hanya gertakan saja, sepertinya. Setelahnya, entah bagaimana Rusalye bisa ditemukan, dan lagi-lagi oleh Fon.

Mammon menghentikan nostalgia sintingnya dengan menggelengkan kepalanya, kemudian kembali menelusuri bukunya, meneruskan bacaannya.

Penguat gelombang ketiga adalah burung api. Ia terlahir di tanah keajaiban dari seorang pencipta kekuatan magis serta seorang yang bukan apa-apa. Tempatnya tinggal begitu tersembunyi hingga embusan panas kepakan sayapnya yang mampu melelehkan es tak dapat dirasakan manusia. Setiap inci tubuhnya dialiri warna merah panas, membakar dan menghasilkan gejolak keyakinan yang luar biasa.

Ilya Morozova mati karena penghakiman penduduk di desa tempat ia hidup bersama dengan istri dan ketiga anaknya. Semoga ia tenang di alam sana. Atas setiap jerih payahnya selama hidupnya, namanya kini diabadikan sebagai nama kawanan rusa berkulit putih yang merupakan dasar penguat gelombang pertama buatannya. Terpujilah dirinya untuk semua pengabdiannya pada dunia.

Begitu saja? Ini seperti teka-teki, kan? Mammon mengerjapkan matanya tak percaya. Jemarinya membolak-balik bagian Ilya Morozova berulang kali, berharap secara ajaib bagian itu dapat bertambah dengan sendirinya. Namun tak ada yang berubah, bagian referensi tentang grisha pertama dan terkuat itu tak berubah seperti harapan si pemuda.

Mammon tak yakin Sang Kelam menaruh buku catatan kecil atau bahkan hanya sekedar kertas kosong dan sebuah pena di laci meja riasnya, namun ia juga tak yakin dapat membawa-bawa Istorii Sankt'ya terus-menerus. Tanpa bersalah, pemuda mungil itu langsung merobek bagian referensi Ilya Morozova, kemudian kembali menatap dua lembar kertas—selembar tentang isi referensi dan selembar lagi berisi ilustrasi tentang gambaran Penguat Gelombang Morozova—yang telah berhasil ditariknya.

Jemari lentik pemuda itu mengelus lembut ilustrasi Rusa Morozova, kemudian turun mengelus ilustrasi Rusalye, hingga akhirnya jemarinya menyapu ilustrasi burung api. Mata sang Pemanggil Matahari berubah menjadi sendu, seolah ia begitu merindukan hewan itu dan menginginkan untuk segera dapat bertatap muka dengannya. Pemuda itu mengelus sayap lebar burung api yang terkembang dalam ilustrasi, membayangkan betapa panas setiap inci tubuh hewan itu, memikirkan telah berapa lama hewan tersebut hidup tanpa terendus siapapun dan menjadi makhluk purba.

Aku pasti mendapatkanmu, Mammon bersumpah dalam hati. Aku akan menemukanmu lebih dulu dari pria brengsek purba itu dan mengalahkannya.

Ketukan di pintu kamar membuat lamunan Mammon buyar dalam sekejap. Pemuda violet tersebut menoleh ke segala arah, mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan kertas-kertas yang diambilnya sebelum akhirnya menjejalkan kertas-kertas itu dalam saku kefta-nya dan menutupi buku Istorii Sankt'ya dengan menimbunnya menggunakan selimut.

"Siapa, muu?" tanya Mammon setelah selesai menyembunyikan jejak kegiatannya.

Pintu kamar sang Pemanggil Matahari menjeblak terbuka, memperlihatkan sosok Rokudo Mukuro yang berdiri tegak di ambang pintu.

"Saya, moi soverenyi," jawab pria bermanik dwiwarna itu sembari membungkukkan badannya sopan.

Mammon mendengus terang-terangan. "Tidakkah kau tahu membuka pintu kamar sebelum mendapat izin dari pemilik kamar adalah tindakan lancang?" desisnya tajam.

"Mohon maafkan saya, moi soverenyi. Saya takut Anda tengah terlelap dalam mimpi indah Anda," kata Mukuro dengan nada terkendali.

Mammon menajamkan tatapan matanya, menyadari pria bergaya rambut aneh itu tengah menyindirnya. "Ada apa? Jika ini tak begitu penting, segeralah angkat kaki dari sini," usir Mammon terang-terangan.

"Kufufu, tentu ini penting—sangat penting malahan, moi soverenyi," jawab Mukuro tanpa bisa menyembunyikan serigai kemenangannya. Ia menegakkan kepalanya, lalu menatap Mammon yang tengah memandanginya waspada dengan manik dwiwarnanya.

"Sang Kelam memanggil Anda untuk segera pergi ke Ruang Latihan Grisha. Sekarang."

Dengan penekanan di kata terakhir itu, Mammon tahu ia tak bisa menjawab panggilan tersebut dengan kata nanti, terlebih menolaknya meski ia sangat tak ingin bertemu lagi dengan pria bermanik hitam tersebut.

.

.

.

"Jadi, Colonello," Fon menyapu permukaan meja dengan jemarinya. Sekedar informasi, pemuda itu telah punya cukup tenaga untuk berjalan, sepertinya. "Apa yang dikatakan Mammon padamu? Aku yakin dia tidak akan menolak penyelamatanmu tanpa memberimu alasan yang cukup logis untuk membuatmu kembali dengan tangan kosong," katanya serius.

"Yaah, memang sih. Kalau dia tak memberiku alasan yang cukup rasional, aku pasti sudah lama menggendongnya pergi dari sana—atau mungkin menyeretnya, siapa tahu dia berat," cetus Colonello tanpa bersalah.

"Ushishi, bersikap sopanlah pada wanita, Fjerdan. Aku yakin berat badannya tak akan lebih berat dari sekarung berisi gandum," kekeh Belphegor main-main.

"Hahaha! Pangeran paling suka menggoda Mammon-san dengan sebutan perempuan, ya," kata Yamamoto sembari tertawa lepas.

Gokudera mendelik dan menyikut pemuda bermanik amber itu sadis. "Bodoh! Panggil dia dengan 'moi tsarevich'!" bisiknya pada pemuda easy going tersebut.

"Maa maa, bisa kita kembali ke topik utamanya?" tanya Ugetsu mengembalikan mereka pada tujuan utama.

Setiap mata langsung kembali menatap Colonello, menunggu pria pirang yang bisa menyelinap ke luar dari Istana dan ibukota Os Alta dengan jantung masih berdenyut mengatakan pesan Pemanggil Matahari pada mereka.

"Mammon mengatakan banyak hal padaku, aku tak yakin masih mengingat semuanya," Colonello menarik napas sejenak, "dia bilang, 'coba lacaklah di mana lokasi burung api, aku akan mencoba melacaknya dari Istana Kecil dengan Istorii Sankt'ya. Kurasa lokasi burung api itu berkaitan erat dengan Keramzin dan Rebe Dva Stolba, aku belum tahu apa benang merahnya, tapi sepertinya keduanya berhubungan erat. Pertarungan kita dengan Sang Kelam baru akan dimulai sebentar lagi.' Seingatku begitu," kata pria pirang itu mengakhiri ceritanya.

"Keramzin …," Fon bergumam lirih. Ia mengingat dulu setelah orangtuanya tewas dalam Perang Perbatasan, ia dibawa seorang Duke baik hati ke Keramzin untuk diasuh bersama anak yatim piatu lain. Di sanalah akhirnya Fon menemukan kehidupan baru … dan bertemu Mammon.

"Tahu sesuatu, Pelacak?" tanya Bel seraya menatap pemuda bermanik karamel itu.

"Selain Keramzin adalah tempatku dan Mammon dibesarkan oleh seorang Duke dan seorang pengasuh perempuan cerewet bernama M.M., kurasa tidak ada relasi apapun. Ada petunjuk lain? Rebe Dva Stolba maksudmu?" tanya Fon sembari kembali menatap Colonello.

"Yaah, kau tahu kan tentang orang-orang fanatik," Colonello menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. "Beberapa orang fanatik seperti Sang Pendeta telah memberinya semacam nama kecil baru yang membuatnya tampak agung; Sankta, Rebe Dva Stolba. Kau bisa tambahkan yang lain."

"'Putri' Dua Mil, eh? Mereka pasti akan sangat terguncang saat tahu orang yang paling mereka agungkan adalah laki-laki dalam tubuh setengah perempuan," kekeh Belphegor keras-keras.

"Aku satu pemikiran denganmu, moi tsarevich," timpal I-Pin.

"Dua mil …," Fon bergumam.

"Ada sesuatu yang ganjil?" tanya Spanner yang sudah cukup bosan melihat rapat setengah acara lawakan yang dihadirinya.

"Ada yang punya peta?" Fon balik bertanya, manik karamelnya bergantian menatap seluruh Grisha yang ada di sana.

"Sepertinya Sang Pendeta tidak menyiapkan atau mungkin sama sekali tak akan memperbolehkan kita melihat peta," Belphegor menggulum senyum miringnya. Ia merogoh saku celananya, kemudian meletakkan sebuah peta yang digulung di atas meja.

"Menyiapkan peta dalam saku celana—tindakan bagus, moi tsarevich," Fon melirik pangeran pirang itu seraya membentuk seringai tipisnya.

"Aku yakin kalian akan sangat miskin dan kesulitan bahkan hanya untuk melihat peta," kekeh Bel.

Fon menggulum senyum. Pangeran yang satu ini sedikit bisa diandalkan dibanding kakak laki-lakinya yang telah tewas, setidaknya dia sudah mempersiapkan beberapa hal dan memprediksi kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Fon membuka gulungan itu, kemudian melebarkannya, meneliti setiap tempat yang mungkin bisa dijadikan petunjuk.

.

.

.

Mammon merasakan langkahnya semakin berat saat melihat pintu ruang latihan Grisha dari kejauhan. Pemuda berambut sebahu itu pasti akan langsung berbalik arah dan berlari tunggang langgang menjauhi ruangan tersebut jika saja Rokudo Mukuro tak berjalan di belakangnya dengan dalih melindunginya meski Mammon tahu benar pria bergaya rambut aneh itu tengah mengawasi tindak-tanduknya.

Begitu mereka tiba di hadapan pintu ruang latihan Grisha, Mammon dapat merasakan aura arogan Sang Kelam dari dalam ruangan. Sang Pemanggil Matahari sama sekali tak berharap bisa membuka pintu itu, namun Mukuro layaknya gentleman sejati membuka pintu besar tersebut dan mempersilahkan Mammon masuk.

Mammon mengambil napas dalam-dalam, kemudian memasuki ruangan itu dengan langkah yang—dibuat—cukup tegas bersamaan dengan Rokudo Mukuro yang langsung menutup pintu tersebut seolah mengatakan tak ada jalan keluar baginya.

"Apa lagi, Sialan?" desis Mammon geram. Matanya menatap pria bermanik hitam yang kini tengah berdiri memunggungi dirinya di tengah ruangan jengkel namun juga lelah.

Fong berbalik, menggulum senyum tipis saat menelusuri wajah pemuda mungil itu cukup berantakan. "Kulihat kau belum cukup menikmati waktu istirahatmu, Mammon," ujarnya membuka percakapan tenang.

"Kalau kau sudah tahu—"

"Tapi," Fong memotong cepat dengan nada yang ditekankan, "sudah saatnya kau bekerja untukku," lanjutnya. Pria itu menggulum seringai tipis, Mammon mengatupkan bibirnya, mewanti-wanti dirinya untuk tidak membantah kata-kata sang penguasa kegelapan secara terus terang.

Sang Kelam tersenyum puas melihat pemuda mungil di depannya diam. "Panggil cahayamu," titahnya dengan nada terkendali.

Mammon memutar bola matanya sembari memalingkan wajahnya, namun ia tetap memusatkan pikirannya dan membiarkan cahaya keluar dari dari telapak tangannya. Sang penguasa kegelapan melebarkan senyumnya, puas melihat secercah cahaya yang dipanggil Mammon.

"Bagus," sahut Sang Kelam. "Sekarang, panggil kawanan nichevo'ya," titahnya lagi.

Mammon mengerjit, kepalanya langsung beralih dan menatap pria bermanik hitam tersebut dengan tatapan 'apa-kau-sudah-sinting'. "… Maaf?" tanya pemuda violet tersebut sembari memendam seluruh sumpah serapah dan makian yang hendak terlontar dari bibirnya.

"Kau tak perlu meminta maaf, Mammon. Aku tahu perintah itu akan mengejutkan untukmu. Tapi aku benar-benar serius soal itu," ujar Fong tenang.

"Caranya?" Mammon masih menatap pria di depannya dengan tatapan yang sama tak mengertinya, memendam keinginan untuk mendengus keras-keras.

Sang Kelam menatapnya tenang, namun netra sepekat dirgantara malamnya menusuk Mammon hingga membuatnya mereguk saliva yang terkumpul di mulutnya.

"Nichevo'ya," Fong buka suara, nadanya begitu terkendali dan menghanyutkan, "adalah monster kegelapan yang terbentuk dari Merzost, kekuatan hidup dan mati," ujarnya sambil berjalan mendekati Pemanggil Matahari.

Mammon merasakan kakinya goyah dan nyaris membiarkan raganya jatuh terduduk di atas lantai begitu sang penguasa kegelapan berjalan ke arahnya. Namun ia tetap berdiri dengan tegak, mencoba menghilangkan delusi mengerikan yang mungkin dilakukan pria itu.

Merzost. Mammon tahu hal itu. Kekuatan itu didapatkan Sang Kelam ketika ia mencoba membunuh pria itu dengan meninggalkannya sendiri di dalam Shadow Fold setelah pria itu berhasil menangkapnya dan Fon dari Tsibeya. Saat itu, Mammon berhasil melepaskan diri, kemudian lari menjauhi kapal dan meninggalkan Sang Kelam dengan seluruh anak buahnya di tengah-tengah Fold. Mammon mengira ia telah berhasil membunuh pria itu—namun ia tahu itu salah, sangat salah.

Fong berdiri tepat di depan pemuda mungil itu. Tangan kanannya bergerak naik dan menyusuri tanduk Rusa Morozova yang mengalungi leher jenjang Mammon, kemudian turun dan mengelus perlahan gelang dari sisik-sisik Rusalye yang menghiasi pergelangan tangan Mammon. Mammon menggigit bibir bawahnya, ia benci mengetahui ia masih bereaksi pada sentuhan pria tamak ini meski hanya sekedar sapuan jemarinya.

"Kita sudah nyaris tewas di saat kau memanggil kegelapan di gereja dalam Istana Kecil saat itu," ucap Fong seraya menyelipkan setiap jemarinya di sela-sela jemari sang Pemanggil Matahari.

"Aku berusaha membunuhmu saat itu," ralat Mammon membenarkan. Dan aku sudah tak peduli pada apapun meski kematianmu harus dibayar dengan nyawaku, batinnya meneruskan.

Fong menunjukkan senyum tipis yang membuat wajahnya semakin tampan. "Seperti apapun itu, saat itu kita berdua nyaris tewas bersama," katanya tenang.

"Lalu apa hubungannya dengan semua itu?" desis Mammon seraya mengepalkan tangannya. Namun Fong hanya tersenyum miring, membuat Mammon semakin waspada.

"Kita sudah bersama-sama memasuki keadaan nyaris mati, Mammon," Fong berjalan memutari sang Pemanggil Matahari dan berhenti tepat di belakang pemuda mungil itu. "Saat kau menarik kekuatanku untuk membuatku mati, tanpa kau sadari kau juga mengeluarkan kekuatanmu yang juga membuatmu dapat ikut tewas bersamaku," lanjut sang penguasa kegelapan seraya menggenggam sebelah tangan pemuda violet tersebut dari belakang dan mengangkatnya lurus, membuat Mammon diam-diam meneguk saliva untuk membasahi kerongkongannya yang mengering.

"Itu artinya," suara Fong yang berbisik di telinganya, membuat Mammon harus mati-matian mempertahankan kewarasannya, "kau sama-sama sudah pernah nyaris menyeberangi gerbang kematian."

Mammon tahu Fong tengah menguatkan kekuatannya, namun apa yang ke luar dari telapak tangannya sungguh mengejutkan pemuda violet tersebut. Itu bukan cahaya, itu bukan kekuatan-nya.

Dari telapak tangannya, keluar gumpalan hitam pekat yang meluncur di udara, kemudian menabrak dinding di depan mereka. Gumpalan hitam pekat itu cukup banyak, nyaris memenuhi seluruh dinding, mereka bergerak-gerak seolah memiliki nyawa. Keringat dingin jatuh dari pelipis Mammon, ia gemetaran.

Dengan perlahan, gumpalan hitam itu berubah menjadi monster-monster berwajah aneh yang mengerikan. Mereka berdiri dengan dua kaki yang gemuk, tubuh mereka tidak gemuk tapi juga tak ramping. Mammon tahu apa itu, monster dengan bentuk mengerikan itu sangat familiar baginya, monster yang meluluhlantakkan nyaris seluruh Grisha di istana dan memandikan dinding serta lantai istana dengan warna merah pekat berbau amis yang menusuk indera penciuman.

"Nichevo'ya …," bisik Mammom dengan suara tersekat, manik violetnya sama sekali tak beralih dari makhluk-makhluk kegelapan itu.

Fong tersenyum penuh kepuasan. "Tepat," jawabnya seraya terkekeh kecil.

Mammon membeku, jantungnya berdetak liar karena ketakutan, kewarasannya nyaris lenyap. Ia melangkah mundur, membuat punggungnya bertabrakan dengan dada bidang Fon yang keras namun ia sudah tak merasakan apapun lagi.

Fong mendekatkannya bibirnya pada telinga pemuda mungil itu dan berbisik, "Selamat. Kau sudah berhasil membuat monster tumbuh dalam dirimu, Mammon," bisiknya sembari mengukir seringai, membuat Mammon serasa sudah tak memiliki nyawa lagi dalam raganya.

"Kalau begitu kau—" Mammon berbalik, matanya masih terbelalak menatap Fong.

"Oh? Kau sudah menyadarinya?" tanya sang penguasa kegelapan tanpa memudarkan seringainya.

Mammon meneguk ludah, membayangkan pemikirannya benar-benar terjadi. "Jika aku bisa mendapatkan kekuatanmu saat kita nyaris mengecap kematian, maka artinya …." Mammon tak bisa meneruskannya kembali.

Sang penguasa kegelapan terkekeh. "Tentu," ia menadahkan tangannya dan Mammon kembali lupa bernapas. Dari tangan Fong, muncul cahaya yang paling dikenal Mammon—cahaya-nya, kekuatan yang seharusnya hanya dimiliki oleh-nya.

"Aku mendapatkan sebagian kekuatanmu juga, Mammon," ujar Fong sembari melebarkan seringainya melihat ekspresi pemuda mungil di depannya.

Mammon merasa kakinya seperti ubur-ubur, ia tak bisa berdiri tegak dengan kedua kakinya saat ini. Namun, ia menguatkan dirinya sekali lagi, kemudian mengepalkan tangannya dan menundukkan kepala.

"Petrazoi …," kata Mammon pelan.

"Apa?" Fong menatap Mammon yang tengah menundukkan kepala, ia sengaja melenyapkan cahaya buatannya.

"Semuanya dari Rebe Dva Stolba; Putri Dua Mil. Sepertinya petunjuk burung api bisa diperoleh dari kata 'dua mil' itu. Dua Mil dari Os Alta ada Petrazoi. Kau harus mencoba melacaknya di sana," jelas Mammon tanpa mengalihkan kepalanya dari lantai.

Sang Kelam jelas-jelas menggulum seringai arogannya—Mammon tahu tanpa perlu meliriknya. "Jadi, kau menyimpulkannya sendiri, Pemanggil Matahari-ku? Apa keahlian Pelacak itu sedikit kau peroleh karena pernah bersamanya?" tanya pria bermanik hitam itu angkuh.

Mammon mendesis dan melirik pria itu sengit. "Kau tidak berhak menyebutnya," desisnya tajam.

Fong tak mengacuhkannya, ia berbalik ke arah pintu dan memanggil Tangan Kanannya setengah berteriak, "Rokudo Mukuro!"

Bersamaan dengan itu, pintu ruangan yang ditempati dua Grisha terkuat itu pun terbuka. "Ada apa, moi soverenyi?" tanya Mukuro seraya membungkukkan badan penuh hormat.

"Siapkan persiapan untuk pergi dari istana. Kita akan menuju Petrazoi untuk memburu burung api itu," titah Fong tanpa menaikkan nada suaranya.

"Oya? Atas arahan siapa ini?" tanya Mukuro namun jelas-jelas manik dwiwarnanya melirik tajam sang Pemanggil Matahari.

"Kau tak berhak mencurigainya, Rokudo Mukuro," kata Sang Kelam dengan nada terkendali, namun dari mana pun itu tentulah ancaman. "Dia memang tak terlalu paham caranya melacak, tapi sepertinya dia tahu sesuatu dari Istorii Sankt'ya," lanjutnya.

"Dan jika kita tak mendapatkannya?" Mukuro masih bertanya.

"Artinya kami bisa menjadi raja dan ratu Ravka lebih cepat," jawab Sang Kelam tenang.

Mammon tersentak. Ia dengan cepat mendongakkan kepalanya, Fong tengah menatapnya dengan mengumbar seringai licik.

"Kita tak bisa membiarkan kekosongan kepemimpinan Ravka terus menerus, Mammon. Aku berencana mempercepat pernikahan kita untuk menghindari penyerangan seperti kemarin dan lebih leluasa dapat bersamamu membicarakan perihal Penguat Gelombang Ketiga Morozova," kata Sang Kelam tenang namun Mammon tahu bahwa itu tak lebih dari sekedar dusta.

Fong kembali berbalik dan menatap Tangan Kanannya yang masih berdiri di ambang pintu. "Tunggu apa lagi, Rokudo Mukuro? Lakukan apa yang kuperintahkan!" titahnya lagi.

"Da, moi soverenyi," jawab Mukuro sembari kembali membungkukkan badannya patuh. Ia berbalik, kemudian berteriak dengan suara keras hingga bergema di lorong istana.

"Siapkan semua perlengkapan untuk pergi ke Petrazoi! Bawa bahan makanan yang cukup selama lima hari! Bagi yang tetap tinggal di istana harap mempersiapkan pernikahan Sang Kelam dan Pemanggil Matahari sebagai raja dan ratu Ravka berikutnya! Kita pergi saat fajar!" teriak Mukuro menggelegar. Para Grisha yang ada langsung kalang kabut, menyiapkan ini-itu dengan cepat. Mammon memejamkan matanya, merasakan adrenalin memacu jantungnya.

Taruhan sudah dimulai …

.

.

.

Fon, Bel, dan para Grisha lain tengah berdiskusi serius kala terdengar suara gaduh di luar ruangan yang mereka gunakan.

"Apa yang terjadi di luar, kora?" tanya Colonello seperti orang tolol.

"Mana mungkin kami tahu, kan?" dengus G setengah jengkel dengan sikap Grisha Fjerda yang satu ini.

"Maa, maa. Bagaimana kalau kau melihat ke luar, Colonello?" tanya Ugetsu berusaha menengahi mereka.

Colonello menghela napas panjang, kentara sekali ia keberatan dengan itu. "Kenapa harus aku? Suruh saja orang lain, kora!"

"Berhenti melimpahkan pekerjaan pada orang lain dong!" sembur Gokudera.

"Hahahaha! Kalau begitu, biar aku saja," kata Yamamoto seraya berjalan mendekati pintu. Gokudera hanya menanggapi sebagai balasan.

Yamamoto berjalan santai menuju pintu, namun baru saja ia menyentuh ganggang pintu, pintu itu langsung terbuka dan dua orang masuk begitu saja tanpa bersalah kemudian menutup pintunya cepat.

"Hahi!"

"Uwooh!" Yamamoto yang terkejut melangkah mundur, mengalihkan seluruh perhatian orang yang berkumpul di dalam ruangan.

"Lal!?" tanya Bel terkejut.

"Penjahit!?" I Pin pun sama terkejutnya melihat dua orang tersebut.

"Mohon maaf sekali saya harus datang dalam keadaan seperti ini, moi tsarevich," kata Lal sembari melangkah maju dari belakang Haru. Keadaannya cukup berantakan, namun ia tak peduli.

"Oi, oi, apa yang kau lakukan sampai bisa ada yang menyusul ke mari, Colonello?" tanya G tanpa bisa mengalihkannya dari perempuan berambut biru tua yang baru saja memasuki ruangan itu.

"Mana kutahu, kora! Apa yang kau lakukan sampai bisa menyusup ke mari, kora!?" sembur Colonello sembari menunjuk perempuan itu tak sopan.

"Jadi, kalian benar-benar masih hidup, eh, para Grisha Pemanggil Matahari," desis Lal sinis. Mata merah batanya menghujam seluruh Grisha—tak terkecuali Fon meski pemuda itu bukanlah Grisha—itu tajam.

Belum sempat seluruh Grisha di sana bereaksi, pintu ruangan tersebut kembali dibanting dari luar. Seluruh makhluk yang ada di sana sontak menolehkan kepalanya, menemukan Luce berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah dan keringat bercucuran. Mata perempuan bergaun putih itu tampak geram menatap seluruh penghuni kamar.

"Kau mengirimkan tempat ini seorang penyusup! Sungguh tak tahu malu!" hardik perempuan bergaun putih itu tak terima.

Lal memutar bola matanya tak sabar. "Bisakah kau tidak bersikap dramatis begitu, Pendeta? Aku benar-benar mengerahkan tenagaku untuk bisa mencapai tempat ini secepat yang aku bisa," desisnya dengan menekankan kata demi kata yang diucapkan bibirnya.

Luce berang dibuatnya. "Kau masih berani berbicara meski tiba di sini tanpa undangan!?" bentaknya dengan nada naik beberapa oktaf. "Sungguh kurang ajar! Akan kubuat kau—"

"BISAKAH KAU DIAM?!" Lal memotong perkataan sang Pendeta cepat dan membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan perempuan itu, kemudian menatapnya sengit.

Luce sontak bungkam, yang lain saling lirik dan beberapa meneguk ludah untuk membasahi kerongkongan mereka yang mendadak kering menyaksikan adu debat dua perempuan di hadapan mereka.

"Adu antar perempuan itu mengerikan, kora," bisik Colonello. Bel mengangguk setuju sebagai respons, Yamamoto tertawa pelan dengan canggung, Ugetsu menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya sebagai tanda agar mereka tak terlalu berisik, Fon serta Alaude tak berniat menanggapi.

"Lalu, ada apa sampai kau ke mari tergesa-gesa begitu?" G bertanya tanpa beban seolah tak terpengaruh perdebatan sengit antar perempuan barusan.

Lal membalikkan badan, lalu menatap pria bertato api itu dengan tatapan yang sama saat ia melihat Luce. Perempuan bermanik merah bata itu menarik napas sejenak, kemudian berdehem meredakan amarahnya.

"Jika yang jadi persoalan hanya karena Pangeran yang tak kembali sejak tiga jam lalu, aku tak akan terlalu ambil pusing. Aku yakin pastilah memang akan cukup lama berbicara dengan kalian. Tapi, kabar ini," Lal berusaha menenangkan dirinya dan menggigit bibir bawahnya sejenak, "aku baru saja menerima kabar terbaru dari mata-mata kami di Os Alta, kabar tentang Dokuro Mammon, Pemanggil Matahari," jawab Lal serius.

Yang lain segera membelalakkan mata, jantung mereka berdegup lebih cepat kala kalimat itu terlontar dari bibir perempuan berambut biru tua tersebut. Fon langsung melebarkan manik karamelnya, merasakan detak jantungnya semakin tak harmonis dipacu suatu hal yang tak kasatmata, suatu hal yang sudah lama tak dirasakannya. Namun yang pasti, mendengar nama orang yang dicintainya, membuat pemuda bermanik karamel itu merasakan rindu yang berdesakan dalam dada.

Lal menarik napas sejenak, ikut merasakan ketegangan dalam dirinya. Jantungnya berpacu liar penuh adrenalin, kabar ini bisa jadi adalah satu-satunya kesempatan mereka menculik sang Pemanggil Matahari namun bisa juga menjadi pedang bermata dua bagi mereka.

"Mereka bilang, Sang Kelam dan Pemanggil Matahari akan pergi ke Petrazoi saat fajar nanti. Kita punya cukup waktu untuk membawa Dokuro Mammon kembali bersama kita," kata Lal setelah cukup lama membiarkan ruangan itu diselimuti sunyi.

Mata Fon membelalak mendengarnya.

.

.

.

.tbc.

.

.

.

A/N : Akhirnya selesai juga buat chapter ini /boboan/ /plak. Entah kenapa di sini keknya kebanyakan deskripsi, ya? Semoga pada nggak bosen bacanya ya :") omong-omong, kalau masih ada yang membingungkan, jangan ragu bertanya di kolom review, ya~! /o/ terus, terus, bahasanya kurang luwes nggak sih dari yang pertama? Saya soalnya ngerasa gitu, kalau kata pembaca gimana? ._. aduh semoga nggak ada yang kecewa ya sama lanjutan fic ini orz

Saya bingung mau ngejelasin apa lagi, tapi pokoknya saya mau bilang bentar lagi akhirnya akan ada scene romens Fon x Mammon! Yeeaaayy~! \o/ mungkin ini pengaruh saya bosan sama sado-maso, jadi pengen buat fluff di sini sekali-kali /eh keceplosan /wat. Nggak tahu juga sih scene-nya di chapter depan atau dua chapter lagi, ditunggu saja ya~ xD

Lussia Archery: HAI HAI! Maaf ya chapter ini lama jadi balesnya juga lama :"" Daan, sumpah saya terharu kamu bilang jatuh cinta sama fanfic ini, makasiihhh /peyuk/. HAHAHHAA ternyata kamu lebih suka yang langsung 'digarap' ya? Wkwkwk masalah garap menggarap kayaknya nanti aja, ini kan fic (sok) serius /senyum modus/. Btw, ini sudah apdet. Terima kasih lho untuk review-nya! xD

Terima kasih bagi yang sudah mau berkunjung ke mari, terutama bagi yang sudah meninggalkan jejak berupa review, fav, dan follow! Aku tanpa kalian bukanlah penulis sesungguhnya :") /edan jadi buat quote /mendadak melankolis /gaplokin. Saya tunggu lagi semua kritik, saran, komentar, fav, dan follow-nya ya! Sampai jumpa di karya saya berikutnya!

-Salam-

Profe Fest