Bagi Grisha, warna kefta yang dikenakan mereka adalah sebuah kebanggaan selain kesombongan seolah-olah mereka hendak menunjukkan pada dunia bahwa mereka memiliki kekuatan yang lebih agung daripada manusia biasa—atau sering mereka sebut sebagai otkazat'sya, orang yang terbuang. Tak hanya warna pakaian saja, warna sulaman pada ujung lengan kefta yang dikenakan mereka juga menjadi kesombongan abadi yang tumbuh subur dalam jiwa mereka.

Ordo Materialki hanya diperbolehkan mengenakan kefta berwarna ungu, memperlihatkan bahwa setiap bulir keringat mereka dalam mengolah ribuan baja untuk membuat bermacam-macam senjata hingga kefta-kefta yang dikenakan setiap Grisha itu sendiri. Ordo Etherialki diberikan warna biru tua sebagai tanda bahwa mereka dapat memanggil kekuatan alam, bahwa alam dan sukma mereka dapat berbagi kekuatan kasatmata yang agung. Ordo tertinggi atau juga disebut ordo Corporalki, diberkahi warna merah sebagai lambang keberanian dan keagungan akan kekuatan mereka yang menyangkut hidup-mati makhluk bernyawa. Warna hitam hanyalah milik Sang Kelam, Fong, sekaligus menjadi penanda hanya dirinyalah sang penguasa kegelapan abadi—jika Alaude tak dihitung, diingatkan kembali. Bordiran pada kefta para Grisha pun menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka di mana untuk mereka yang memiliki bordiran kefta berwarna hitam berarti telah bersiap mengabdikan diri sebagai tentara Sang Kelam hingga tetes darah mereka yang terakhir—namun tetap saja, warna hitam sepenuhnya adalah milik pria bermanik hitam itu.

Mammon pernah memakai kefta berwarna hitam sekali, dengan sulaman serta bordiran berwarna emas yang menandakan bahwa dirinya adalah pemanggil cahaya seterang mentari. Itu terjadi dulu sekali, saat itu tengah pesta perayaan musim dingin Grisha yang diadakan di Istana Besar—atau bisa dikatakan sebagai pesta unjuk kebolehan Grisha di hadapan para bangsawan rakus dan beberapa pria hidung belang kaya raya. Saat memakainya, Mammon tak punya kata apapun untuk menggambarkan kegembiraannya, Haru pun ikut terkesima kala Grisha Pemanggil Matahari itu telah mengenakan pakaian dengan warna yang melambangkan Sang Kelam seorang, sebuah tanda bahwa Mammon kini adalah satu-satunya Grisha yang dikhususkan dan akan menjadi satu-satunya Grisha yang bisa dikatakan setara dengan sang penguasa kegelapan. Seluruh Grisha gempar melihat penampilannya dan dapat Mammon sadari mereka sedikit memandanginya iri namun juga tersipu saat menyadari bahwa memang sepatutnya sang Pemanggil Matahari dapat bersanding dengan Sang Kelam. Mammon pun tahu ia cukup berdebar-debar saat memakai kefta berwarna sama dengan Sang Kelam, ia merasa dirinya begitu istimewa.

Namun, setelah Alaude mengatakan semuanya, setelah pria berambut platinum blonde itu memberitahunya seberapa bajingan pria rakus bermanik hitam tersebut padanya, Mammon tak punya kata apapun selain memandang jijik bahwa dirinya pernah bangga karena memakai benda tolol dengan warna yang melambangkan pria itu dan berpikir bahwa dirinya telah menjadi makhluk yang sama memukaunya seperti sang penguasa kegelapan.

Dan di sini, di kamarnya setelah ia kembali dari Ruang Latihan Grisha, pemuda berambut sebahu violet tersebut menemukan benda paling menjijikkan yang tak pernah lagi ingin dilihat apalagi dikenakannya; sebuah kefta berwarna hitam dan bersulam ratusan mutiara mungil berwarna emas yang senada dengan bordiran keftanya. Sang Kelam memang mengatakan padanya ia telah meminta para Fabrikator miliknya untuk menjahit kefta baru untuk pemuda violet tersebut, sebuah kefta baru yang akan menunjukkan bahwa mereka benar-benar setara dan akan terus bersama.

Mammon mengepalkan tangannya erat, rahangnya mengeras dan terkatup rapat. Ia sudah tak menginginkan kesetaraan apapun dengan pria itu, kefta biru tua khas Grisha Pemanggil dengan sulaman emas sudah lebih dari cukup baginya. Sang Kelam pastilah berniat memamerkan pada penduduk Os Alta bahwa kata-katanya bukan sekedar omong kosong belaka, bahwa Pemanggil Matahari akan bersanding dengan dirinya dan memimpin Ravka.

Oh, persetan. Mammon menggertakkan giginya hingga berbunyi, mencoba menahan emosi. Ia harus sadar posisinya pada saat ini dan dalam hati bersumpah jika ia berhasil memenangkan taruhan pertamanya dengan sang penguasa kegelapan dan berkumpul lagi dengan para Grishanya, ia akan merobek kefta itu hingga menjadi serpihan kain tak berarti.

Sang Pemanggil Matahari pun menarik napas sejenak, mencoba meredakan amarahnya. Diseretnya kefta hitam panjang itu ke sekat untuk berganti baju, kemudian menanggalkan kefta biru tua yang selama ini dikenakannya.

.

.

Title: Last Hope

Disclaimer: Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira

Grisha Trilogy by Leigh Bardugo

Warning: Grisha Trilogy!AU, BL, OOC, Fon dibuat menjadi dua orang, typo(s). Alternative ending dari Siege and Strom. Possibily harem. Mengandung spoiler Grisha Trilogy.

.

.

.chapter 8.

.

.

Kepada jalan berliku; yang akhirnya kembali mempertemukan kami.

.

.

Luce menghela napas berat, perundingannya selesai sudah. Berdebat dengan seluruh Grisha itu benar-benar menguras tenaganya. Belum lagi informasi dari orang kepercayaan pangeran kedua Ravka—meski bukan berarti ia percaya sepenuhnya pada informasi itu, namun melawan sekumpulan orang berkepala batu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mau merendahkan egonya.

"Baiklah," sang Pendeta berkata dengan nada berat, "akan kuperbolehkan kalian pergi," lanjutnya.

"Akhirnya, kora!" seru Colonello seraya mengepalkan kedua tangannya dan meninju udara sebagai perwakilan akan rasa senang yang meluap dalam dirinya. I Pin pun tak kalah girangnya dan melompat-lompat bebas di udara. Yamamoto dengan refleks merangkul Gokudera meskipun selanjutnya langsung mendapat sumpah serapah kotor pemuda berambut perak tersebut. G bahkan tak ketinggalan menggulum senyum tipis sebagai tanda bahwa dirinya sudah lama menunggu kesempatan ini.

Bel mengeluarkan tawa anehnya dan menyenggol bahu Fon yang berdiri di sebelahnya. "Berjalan lancar, eh, Hibari Fon? Ushishi~," kekehnya sembari mengukir seringai lebar.

Fon menggulum senyum puas sembari mengangkat sebelah alisnya, menyombongkan diri. "Sudah sepatutnya, moi tsarevich," jawabnya usil.

Bel terbahak dan memukul punggung pemuda itu sedikit keras. "Rasanya terdengar tolol mendengarmu memanggil gelarku," ujarnya di sela-sela tawanya yang aneh.

Belum sempat Fon merespons kata-kata pangeran pirang itu, G telah lebih dulu menepukkan kedua tangannya beberapa kali dan menghasilkan suara yang menggema hingga ke setiap sudut ruangan. "Baik, baik. Cukup main-mainnya. Jangan bertingkah seperti anak-anak atau bahkan sampai melompat seperti seekor katak," cetusnya.

I Pin sontak mendelik kesal pada pria bertato api tersebut, namun G melebarkan seringainya, merasa puas dapat menjahili gadis bermanik coklat tersebut. Ugetsu menyenggol bahu pria berambut merah tersebut pelan, berusaha menengahi. G merenggut dan menggerutu, kesenangannya mengusili gadis berkepang tersebut lenyap tak berbekas.

"Oi! Kalian para pria berhenti main-main—kalian anak-anak juga termasuk!" Bentakan Lal yang kasar membahana di kamar yang ditempati mereka. "Cepat bereskan barang-barang kalian! Kita pergi tiga puluh menit lagi!" instruksi perempuan tersebut masih dengan nada yang sama.

"Oi, oi! Tiga puluh menit membereskan barang-barang? Mana mung—"

"Untukmu akan jadi dua puluh menit, Grisha Fjerda. Dan kalau ada yang masih protes, kita akan berangkat dalam waktu sepuluh menit!" potong Lal tegas, nada suara yang dipakainya terdengar sama sekali tak bisa dibantah.

Gokudera mendengus mendengar perintah perempuan berambut biru tua itu. "Perempuan sok ngatur," cibirnya.

Lal menolehkan kepalanya, benar-benar tersinggung pada pemuda perak itu. "Jaga mulutmu, Nak. Atau aku tak akan segan meski kau adalah Grisha," ancamnya.

Bel terkekeh. "Kakak-adik itu memang tak tahu tata krama. Kau harus bersabar sedikit, Lal," cetusnya.

Alaude diam, tak berniat menanggapi. Gokudera kembali mendengus, namun ia akhirnya melangkah ke luar dari ruangan disusul oleh Yamamoto. Haru dan Spanner telah menyelinap lebih dulu entah sejak kapan, sementara Colonello dan I Pin baru saja ke luar beberapa menit sebelum Gokudera. Lampo menggaruk belakang kepalanya gugup dan menundukkan kepala sejenak sebelum melangkah pergi. G dan Ugetsu membungkukkan tubuh mereka sejenak pada sang pangeran sebelum ikut melengos pergi dari sana. Fon berbalik, hendak memeriksa barang-barangnya yang mungkin dibawa G saat mereka berhasil kabur dari gereja di Istana Kecil—ia cukup beruntung tak perlu pergi ke luar berhubung ruangan yang mereka tempati sekarang adalah kamarnya.

"Hibari Fon."

Panggilan itu sontak membuat Fon menghentikan langkahnya. Pemuda itu menoleh dan mendapati Luce yang kini memandanginya dengan manik biru yang tampak mengintimidasi.

"Apa kau benar-benar telah menjalin hubungan dengan Sankta?" tanya Luce penuh selidik, bahkan sebelum Fon sempat merespons panggilannya.

Fon membalikkan badannya, membuat dirinya berhadapan dengan perempuan itu. "Kukira kau tak memercayaiku," jawabnya seraya menaikkan sudut bibirnya, setengah mencemooh.

"Aku bertanya bukan berarti akan memercayainya," kilah sang Pendeta dingin.

"Apa itu aneh?" tanya Fon.

"Apanya?"

"Hubungan kami. Apa itu benar-benar terlihat aneh?" Fon mengulang pertanyaannya.

"Tentu saja. Sankta tak punya perasaan pada siapapun," sahut Luce dingin.

"Kami saling mencintai," sergah Fon.

"Bualan yang sangat buruk," cibir Luce seraya memandangi pemuda bermanik karamel itu dengan tatapan merendahkan seolah ia tengah menatap seekor tikus.

"Darimana kau menyimpulkan aku tengah berdusta?" Fon mengulas senyum miring yang membuatnya semakin tampan.

"Pemanggil Matahari—"

"Kami saling mencintai, Pendeta," sahut Fon memotong ucapan perempuan bergaun putih tersebut. "Kami sepasang kekasih," tambahnya lagi.

"Dia melepaskanmu. Dia meninggalkanmu dan memilih Sang Kelam saat kalian berada di Istana Kecil," sergah Luce dingin.

"G sudah menceritakannya padamu?" tanya Fon penuh selidik.

"Jawab saja pertanyaanku, Pelacak," cetus sang Pendeta dingin.

"Apa kata melepaskan itu terdengar sebegitu menyedihkan bagimu?" Tak memedulikan perkataan sang Pendeta, Fon kembali bertanya. Luce memandanginya dingin, kedua belah bibirnya saling mengatup, sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan itu.

Fon mengukir senyum tipis pada sang Pendeta sebelum menjawab, "Kami saling mencintai. Aku tahu itu dan tak pernah meragukannya, dia pun juga mengetahui hal itu," pemuda itu mengambil napas sejenak dan melanjutkan, "dia melepaskanku bukan karena tak lagi mencintaiku. Dia terlalu mencintaiku, karena itu dia memilih melepaskanku—melepaskan kami—saat itu. Aku sadar sepenuhnya tentang itu," katanya tenang.

Luce terdiam sejenak, kemudian menarik napas dalam. "Bersumpahlah, Pelacak," pintanya dengan nada yang lebih mirip memerintah.

"Untuk?"

"Bersumpahlah kau akan melindungi Pemanggil Matahari dengan seluruh nyawa yang melekat dalam ragamu," ulang sang Pendeta, matanya menatap pemuda bermanik karamel itu tajam.

Namun di luar dugaan, Fon mengangkat bahunya santai. "Aku tak memiliki kewajiban bersumpah padamu," ucapnya dengan nada yang lebih terdengar main-main.

Luce meradang mendengarnya. "Kau—"

"Lagi pula," Fon memotong ucapan sang Pendeta tenang, "tanpa bersumpah pun aku pasti akan melindunginya apapun yang terjadi," lanjutnya percaya diri disertai mengulas senyum miringnya yang sempat lenyap.

"Darimana aku bisa memercayai kata-kata pelacak sepertimu?" tanya Luce sembari melempar tatapan merendahkan.

Namun, lagi-lagi Hibari Fon memberi perempuan bergaun putih tersebut sebuah kejutan. Pemuda bermanik karamel itu melebarkan senyum miringnya, sama sekali tak tampak ragu meski Luce memberinya tatapan seperti melihat seekor kutu.

"Terima saja fakta bahwa kami saling mencintai, Pendeta. Kau sudah mendapatkan alasan logis mengapa aku akan melakukannya—karena sepasang kekasih tidak perlu sumpah apapun untuk melindungi orang yang dicintainya," sahut Fon panjang lebar.

Bel, yang sudah sedari tadi menonton perdebatan konyol itu, terbahak dari tempatnya berdiri. "Ushishi~, apa memenangkan argumen adalah hobi barumu setelah sadar dari koma, Hibari Fon?" tanyanya di sela-sela tawanya.

Fon menatap pangeran pirang itu dan menyeringai. "Apapun untuk kekasihku, moi tsarevich," jawabnya.

Bel kembali terbahak dibuatnya.

.

.

.

"Persiapan menuju Petrazoi sudah lengkap, moi soverenyi," ucap Mukuro seraya membungkukkan badannya ala gentleman pada Sang Kelam yang berdiri di sebelah kudanya.

Fong mengangguk tanpa menjawab, kemudian menolehkan kepalanya, melempar pandangan ke arah pasukan para Grishanya yang telah dipilih oleh Mukuro untuk menemani perjalanan kali ini; tiga Pengoyak Jantung, dua Penyembuh, tiga orang dari ordo Etherialki, dan seorang Fabrikator. Ditambah dengannya, Mammon, dan Mukuro maka berjumlah sepuluh orang. Tidak terlalu banyak seperti biasanya, tapi Sang Kelam tahu mereka kesatuan terpilih yang pantas menemani mereka. Beberapa kereta pengangkut barang sudah ikut berjajar rapi di sekeliling rombongan mereka.

Sang penguasa kegelapan kembali menolehkan kepalanya ke segala penjuru, jelaga hitamnya mencari-cari sosok yang paling dinantikannya, apalagi setelah ia membuat kejutan khusus pada orang itu untuk hari ini.

"Rokudo Mukuro, di mana Pemanggil Matahari-ku?" tanya Sang Kelam tanpa menatap pria bermanik dwiwarna tersebut.

"Oya? Saya kira sebelumnya dia bersama Anda, moi soverenyi," jawab Mukuro seraya kembali menundukkan kepalanya.

Fong kembali melempar pandangannya ke arah rombongannya sejenak sebelum kembali menatap Mukuro. "Aku akan menyusulnya. Kau tetaplah di sini—"

"Maaf telah membuat Anda lama menunggu, moi soverenyi," ucap sebuah suara. Mukuro telah lebih dulu menolehkan kepala ke asal suara dan tercengang. Pria bermanik hitam itu melirik pada rombongannya, menyeringai puas pada keterkejutan yang terlihat dalam setiap wajah mereka. Fong ikut menoleh ke sumber suara, menemukan hal yang sudah ditunggunya.

Mammon, sang Pemanggil Matahari, berdiri dengan anggun beberapa langkah di depannya dengan kepala sedikit tertunduk. Kefta hitam panjang dari sutra halus membalut tubuh mungil dan rampingnya, bordiran emas melengkapi kefta cantik yang berwarna sekelam malam tersebut, tak lupa berlian-berlian mungil yang berwarna senada dengan bordiran emasnya menghiasi kefta hitam itu dan membuatnya tampak elegan sekaligus memukau. Sebuah bandana sutra berwarna hitam dengan berlian-berlian mungil emas bertengger di rambut sebahu violet pemuda mungil itu, membuat penampilan pemuda mungil tersebut semakin mirip layaknya seorang perempuan Grisha.

Mammon menggigit keras-keras bagian dalam bibirnya, menahan segala rasa yang berkecamuk dalam dirinya sekaligus menahan mati-matian tak memaki atau melayangkan kepalan tangannya pria penguasa kegelapan di depannya. Kedua tangannya yang tengah menggenggam kefta hitam yang dikenakannya mengepal erat, berusaha meluapkan emosinya untuk tak merobek-robek kefta sialan tersebut.

"Kau tampak menawan, Mammon," puji Sang Kelam seraya mengulas senyum lembut di bibirnya, manik sekelam malamnya tak pernah beralih dari penampilan pemuda mungil yang tampil anggun di depannya ini.

"Suatu kehormatan dapat mendengarnya dari Anda, moi soverenyi," jawab sang Pemanggil Matahari sembari kembali menundukkan kepalanya. Jika pria itu bisa berakting mengagumi penampilannya, maka dia juga bisa berakting tampak gembira mendengar pujian palsu itu.

"Tak perlu sampai begitu. Semua orang di sini pun akan mengakuinya walaupun bibir mereka enggan mengatakannya," ujar Sang Kelam seraya mengambil langkah ke depan dan berhenti tepat di depan pemuda itu. Diangkatnya dagu pemuda berambut violet tersebut seraya menelusuri wajah menawan si pemuda.

"Kau cantik," puji sang penguasa kegelapan lagi, senyum tipis masih bertahan di wajahnya yang tampan.

Mammon berusaha mati-matian tak meludahi wajah pria brengsek di depannya dan memilih mengalihkan manik violetnya ke objek lain. Sekilas, pemuda mungil itu dapat melihat ekspresi iri dari dua perempuan Etherialki serta tatapan yang tak mengenakkan dari tatapan Rokudo Mukuro padanya.

"Moi soverenyi, apa tak sebaiknya kita segera pergi?" Pertanyaan dari Mukuro dengan cepat memecahkan suasana yang tampak romantic sekaligus tolol itu.

"Aah. Benar juga." Fong kembali menarik tangannya dari dagu sang Pemanggil Matahari dan berbalik menatap rombongannya, membuat Mammon harus menghela napas selega mungkin meski tak bertahan lama. Pria bermanik hitam itu kembali menoleh padanya, kemudian mengulurkan tangannya bak seorang pria mengajak seorang gadis berdansa.

"Ayo kita pergi, Mammon," kata Sang Kelam seraya kembali menggulum senyum tipis.

Mammon harus kembali menahan diri tak menepis tangan itu. Ia mengulurkan tangannya lambat-lambat, kemudian meraih genggaman tangan sang penguasa kegelapan dan merasakan tangan pria itu sangat dingin—seperti hatinya yang telah lama membeku, meski sang Pemanggil Matahari dapat merasakan secercah tarikan keyakinan setelah menyapu permukaan kulit tangan sang penguasa kegelapan mengingat pria itu juga Penguat Gelombang hidup selain seorang Pemanggil Kegelapan.

Mereka berjalan menuju kereta kuda yang tak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri. Mammon masuk lebih dulu ke dalam, kemudian mendudukkan bokongnya di kursi empuk dalam kereta. Sang Kelam masuk setelahnya, kemudian menutup pintu kereta itu dan duduk di depan si pemuda.

"Kau berakting dengan dramatis," kata pria bermanik hitam tersebut.

"Berisik," sembur Mammon tanpa melihat pria itu dan lebih memilih menatap berlian-berlian mungil yang menghiasi keftanya.

Fong kembali mengamati pemuda mungil yang duduk di depannya, memperhatikan seperti apa wajahnya berusaha menahan dirinya mati-matian, melihat bibir ranum mungil si pemuda yang digigit kuat menahan sumpah serapah kotor yang biasa selalu terlontar dari mulutnya, kemudian menangkap kepalan tangan pemuda violet tersebut yang seolah-olah tak tahan mengenakan kefta indah sehalus sutra tersebut.

"Jangan sia-siakan bibirmu dengan terus menggigitnya," cetus Sang Kelam seraya mengukir seringai miring.

Mammon membelalakkan mata, bak terkena aliran listrik ia sontak menegakkan tubuhnya dan menatap pria bermanik hitam di depannya. Fong memamerkan senyum miringnya, kemudian beranjak dari kursi kereta kuda yang belum melaju itu dan membuka pintunya.

"Kau—"

"Oh, satu lagi," Fong menolehkan kepalanya dan menatap Mammon dengan seringai tipis, "kalau kau merobek kefta yang kau pakai itu, kau bisa terus meneruskan pencarian ini dengan tanpa busana," kekehnya dengan nada mengejek.

Wajah Mammon sontak merah padam, ia mengeratkan kepalan tangannya dan merasakan kukunya menancap dalam kulitnya dan menembus hingga ke dagingnya. "Kau bajingan brengsek," desisnya bak ular sembari melempar pandangan penuh benci.

Fong menyeringai lebar mendengarnya. "Sampai jumpa di Petrazoi nanti, Mammon. Kalau kau benar-benar membenciku, kau bisa memilih mana yang paling mudah bagimu; menemukan burung api itu dan semakin mempermudahku menguasai seluruh Ravka atau pulang dengan tangan hampa dan menjadi pendamping hidupku untuk selamanya," katanya seraya tersenyum picik.

Tanpa perlu menunggu jawaban sang Pemanggil Matahari, Fong telah lebih dulu melangkah ke luar kereta kuda dan menutup pintunya dari luar. Pria itu kemudian mendekati kudanya dan menaiki hewan itu sembari memegang tali kekangnya erat.

"Kita berangkat," titah Sang Kelam sembari menjalankan kudanya lebih dulu.

"Moi soverenyi," jawab seluruh Grisha yang berkumpul di sana patuh.

Tanpa perlu menoleh ke belakang, Fong tahu semua Grisha itu tengah menekuk lutut mereka, kemudian menaiki kuda-kuda mereka, dan mengikuti langkahnya pergi.

.

.

.

"Haah …," I Pin kembali mengembuskan napas kelelahan, punggung tangannya ia gunakan lagi untuk menghapus peluh yang berjatuhan dari dahinya. Sudah nyaris sejam rombongan mereka menyusuri lorong gua yang gelap gulita dengan satu-satunya penerangan dari api yang dibuat sang Grisha Fjerda, namun hingga kini belum ada tanda-tanda mereka akan sampai ke permukaan.

"Oi, Grisha Fjerda! Berapa lama lagi kita harus berjalan?!" tanya gadis bermanik coklat itu setengah berteriak, kaki-kaki rampingnya kembali ia paksakan berjalan menyusul rombongannya yang sudah lebih dulu melewatinya.

"Entahlah. Tapi akan lebih lama kalau juga harus menunggumu yang kepayahan begitu, kora," cetus Colonello seraya menoleh ke arah gadis berkepang Pemanggil Badai itu dan mengulas senyum miring. I Pin menekuk wajahnya, terlihat cukup dongkol dengan jawaban yang diterimanya.

"Jangan banyak mengeluh! Kalian Grisha, kan? Jangan membuang waktu!" sahut Lal menimpali. Perempuan itu berhenti untuk melirik I Pin dari sudut matanya sejenak, kemudian kembali berjalan mengikuti rombongannya. I Pin memutar bola matanya, kemudian kembali berjalan di paling belakang rombongan itu sembari menggerutu.

"Omong-omong, Pangeran Kedua Ravka, bagaimana orang kepercayaanmu bisa sampai di Katedral Putih?" tanya Fon seraya menatap Belphegor dari sudut matanya.

Bel menyeringai mendengar pertanyaan lelaki otkazat'sya itu. "Kau menanyakan hal yang sepertinya sudah ditunggu banyak orang di sini, Hibari Fon," cetus pangeran itu dengan menyelipkan kekehan anehnya. Matanya yang tertutup poni itu melirik beberapa orang yang ada di belakang mereka. Gokudera mendecih terang-terangan, sementara G acuh tak acuh dan terus menghisap batang nikotin seraya mengembuskan asapnya beberapa kali ke udara.

Bel berputar dengan kedua sudut bibir membentuk seringai lebar, lagaknya seperti seorang anak kecil yang tampak kegirangan. Lelaki pirang itu merapatkan tubuhnya ke dinding gua, kemudian mengetuk-ngetuk dinding tersebut tanpa mengendurkan seringainya. "Ini jawabannya," ujar pria itu dengan menyelipkan kekehan anehnya di ujung kalimatnya.

"Karena … dinding gua?" tanya I Pin dengan mengerutkan dahi.

"Ada sayatan kecil di sana," Lal menyela, menjelaskan dengan angkuh, "sayatan kecil berbentuk tanda panah yang nyaris menyatu dengan retakan-retakan dinding gua," lanjutnya.

"Ah! Karena itu kau terus meminta untuk berhenti sejenak setiap kali kita sampai di persimpangan ya, kora!" Colonello mengacungkan jari telunjuknya ke arah sang pangeran, memberi kesan menuduh.

"Kau terlalu lembek sampai tak menyadarinya," sahut Alaude yang sedari tadi diam.

"Memang kau menyadarinya?" Colonello balas bertanya sengit.

"Bukan urusanku menyadarinya atau tidak," balas Alaude tak kalah angkuh.

"Tch. Kalian sama-sama payah," cetus Gokudera sembari membuang muka.

Yamamoto tertawa tanpa beban. "Mana ada yang menyangka pangeran akan melakukan hal seperti itu kan, Gokudera?" tanyanya optimis.

"Kudengar pangeran kedua Ravka ikut serta dalam kegiatan militer. Agak ganjil kalau dia meminta berhenti di setiap persimpangan dengan alasan kelelahan. Apalagi jalan menuju Katedral Putih melalui banyak persimpangan," Ugetsu memaparkan opininya dengan suara yang begitu jernih, nyaris tanpa beban.

"Nah, berarti Grisha Fjerda ini memang payah," celetuk I Pin, berusaha membalas perkataan pemuda pirang itu padanya barusan.

"Kalau kau membicarakan orang lemah, lihat dulu siapa yang kalian bawa ikut serta, kora!" protes si pirang seraya menunjuk Lampo yang sedari tadi menguap sepanjang perjalanan.

"Ore-sama tidak lemah," ucap Lampo seraya menutup mulutnya yang menguap dengan sebelah tangan—yang justru membuatnya berkebalikan dengan pembelaannya barusan.

Fon terdiam, sejenak ia tersenyum tipis melihat pertengkaran rombongan ini, namun senyumnya berangsur-angsur lenyap bak tertutup awan mendung. Pertengkaran hangat ini tak akan berlangsung lama.

"Kenapa?" tanya G yang entah kapan berada di sebelah sang Pelacak sembari mengembuskan asap dari nikotin yang terus dihisapnya. "Kau kehilangan ketenanganmu," cetusnya.

"Memikirkan apa yang terjadi selanjutnya, G," jawab Fon sekenanya. Ia terdiam, lalu kembali menyahut, "ini semua akan semakin sulit. Kita mendekat ke arah cahaya namun kegelapan paling pekat berada di baliknya, mengawasi, menunggu—berusaha memangsa kita semua dan mengendalikan cahaya itu," lanjutnya lirih.

G mengembuskan asap dari nikotinnya sekali lagi. "Sang Kelam memang menyusahkan," sahutnya.

"Masalah paling pentingnya lagi adalah …," Fon memutus perkataannya, membiarkannya menggantung di udara, "… bisakah kita memisahkan bayangan dan cahaya itu?" sambungnya lirih.

"Kau bicara seolah kita adalah pihak antagonis," cetus G tak terima.

"Hahaha, jangan khawatir, G. Kita tak akan terlihat begitu buruk dengan memisahkan keduanya. Toh dari awal, cahaya itu terlalu bagus untuk disimpan oleh kegelapan sepekat orang itu," jawab Fon seraya menaikkan ujung bibirnya hingga membentuk senyum tipis.

"Oh, dan satu lagi, cahaya itu hanya dan selalu jadi milikku saja," lanjut Fon percaya diri.

G mendengus jengah. "Terkadang, bicara dengan orang yang dimabuk cinta seperti kalian itu sama sintingnya dengan bicara pada orang fanatik," rutuknya.

.

.

.

"Moi soverenyi," panggilan dengan suara mendayu itu sontak membuat Mammon yang tengah merenung terkesiap. "Moi soverenyi, bisakah saya masuk?" Kini pemilik suara itu meneruskan dengan meminta izin.

Mammon tak mendengarkan, ia baru selesai mengumpulkan kesadarannya, namun masih samar. Ia menolehkan kepalanya ke seluruh penjuru, dan saat itulah ia menyadari bahwa ia berada dalam tenda beledu yang nyaman berwarna hitam

Hitam. Pemanggil Matahari itu mendengus seraya memutar bola mata violetnya. Dari semua warna, kenapa harus hitam? Ia mendecakkan lidahnya, tak peduli jika tak terlihat bermartabat.

"Moi soverenyi, apa Anda sedang tidur?" Pemilik suara mendayu itu kembali bertanya.

"Tidak, tidak. Masuklah," ucap Mammon akhirnya, memilih untuk mengungkap bahwa ia tengah terjaga.

Tendanya disikap dari luar, dan seorang gadis bertubuh mungil yang tampak rapuh menyelinap masuk.

Mammon lupa caranya bernapas sesaat, namun ia segera menepis keterkejutannya. Sejak kapan ada pelayan yang nyaris serupa dengan Rokudo Mukuro? Mammon tak merasa pernah melihat gadis mungil itu di Istana Kecil.

"Apa perjalanan ini membuatmu letih, moi soverenyi?" tanya gadis cilik itu dengan suara yang lembut.

"A- ah, sedikit," jawab Mammon setengah tergagap. Ia sendiri baru sadar berada di Petrazoi.

"Anda bekerja dengan sangat keras, moi soverenyi," ucap gadis itu seraya menaruh sebuah kotak yang baru disadari Mammon dan mengambil sisir emas dari sana.

"Aku tak meminta pujianmu," cetus Mammon. Setelahnya, ia segera menyesal mengatakan itu. Kata-kata itu mirip dengan Sang Kelam dan membuatnya tampak tolol.

Alih-alih tersinggung, gadis pelayan itu jutru tersenyum tulus. "Anda pantas mendapat pujian," ucapnya tulus.

Mammon bergeming di tepi kasurnya, diamatinya gadis pelayan itu sejenak sebelum akhirnya berdiri dan duduk di kursi meja rias. Gadis itu mulai menyisir rambut sebahu Mammon dengan jemarinya yang lentik, dengan sabar memilah cabang rambut sang Pemanggil Matahari yang kusut karena perjalanan mereka. Selama beberapa menit, tak ada yang berniat memecah hening di antara mereka hingga Mammon memilih buka suara.

"Siapa namamu?" tanya pemuda berambut violet sebahu itu.

Gadis pelayan itu sejenak terkesiap, jemari lentiknya berhenti menyisir, namun ia segera menunduk dan melanjutkan pekerjaannya. "Chrome … Chrome, moi soverenyi."

"Oh …." Mammon merespons sekenanya. Ia berpikir untuk membuka topik baru, namun tak ada satu hal pun yang bisa dibicarakan cukup lama dengan gadis ini.

"Aku tak pernah melihatmu di Istana Kecil," Mammon berujar setelah cukup lama diam.

Chrome tersenyum manis. "Saya lebih sering berada di Istana Besar, mempersiapkan penobatan raja baru untuk Ravka masa depan, moi soverenyi," jawabnya.

Ya, raja baru yang menjijikkan dan berakal bulus. "Begitu, huh." Sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.

"Anda harusnya makan lebih banyak, moi soverenyi. Setelah penobatan raja, Sang Kelam akan menikahi Anda dan menjadikan Anda sebagai ratu. Anda harus tampil memukau," ujar pelayan itu lagi.

"Akan kupikirkan nanti." Tapi Mammon tahu ia tak akan benar-benar melakukannya. Tampil memukau sebagai pendamping penguasa kegelapan seperti penghinaan terang-terangan baginya. Sayang sekali ia tak bisa menampar perempuan ini kecuali jika ia mau kedoknya terbongkar.

Chrome mempertahankan senyumnya dan sesaat Mammon merasa senyum itu sedikit ganjil. "Moi soverenyi, seperti apa Sang Kelam menurutmu?" tanyanya.

Brengse, culas, menjijikkan, ingin kujotos saja wajahnya. "Menurutmu sendiri? Seperti apa dia?" Mammon balik bertanya.

Gerakan jemari Chrome melambat canggung, gadis itu menunduk. "Beliau akan menjadi raja yang bijaksana," jawabnya dengan suara amat pelan.

"Begitu juga yang kupikirkan," Mammon menimpali, berdusta. Kenapa semua orang selalu bermulut manis setiap kali menyangkut lelaki sialan itu?

Chrome kembali mengunci bibirnya. Jemarinya selesai menyisir helaian rambut terakhir sang Pemanggil Matahari. "Saya selesai, moi soverenyi. Apa Anda ingin mengganti kefta Anda atau—"

"Tidak, tidak perlu," Mammon menyela cepat. Ia memerhatikan dirinya di cermin dan menemukan Chrome tak jua angkat kaki dari tempatnya berdiri, kepala gadis itu justru menunduk dalam.

"Ada apa?" tanya Mammon sembari menoleh pada gadis itu.

Chrome meremas ujung kefta emasnya, terlihat gelisah. "Moi soverenyi, saya tahu akan sangat lancang mengatakan ini," gadis itu berbasa-basi, namun Mammon tahu ada aura lain yang mencekiknya.

"Moi soverenyi … saya … tolong … saya mohon—"

SRAK!

"Moi soverenyi," suara berat lelaki memecah ketegangan di antara kedua orang itu, "mohon maafkan kelancangan saya sebelumnya."

Gadis pelayan itu bungkam, seluruh tubuhnya mendadak kaku. Mammon ikut melebarkan matanya, kemudian mendongak dengan napas tertahan.

Rokudo Mukuro berdiri tanpa ekspresi di dalam tendanya.

Chrome menunduk lebih dalam. "Saya mohon diri dulu, moi soverenyi," ucapnya. Perempuan mungil itu berbalik dan terus menunduk. Ketika melewati Rokudo Mukuro, kepalanya tertunduk lebih dalam. Rokudo Mukuro tak banyak bereasi, bahkan mata dwiwarnanya saja enggan melirik lebih dari sedetik.

"Apa yang kau lakukan di tendaku?" desis Mammon setelah berhasil menemukan suara dan napasnya.

Rokudo Mukuro menatap lekat wajah sang Pemanggil Matahari selama beberapa saat sebelum akhirnya buka mulut, "Anda dipanggil Sang Kelam. Saya diperintahkan untuk menjemput Anda," ujarnya.

.

.

.

Colonello melirik berkali-kali dari balik pohon besar yang mampu menyembunyikan tubuhnya, kemudian menggerutu pelan. "Demi orang-orang fanatik, ketat sekali penjagaannya, kora!"

"Berhenti mengeluh, Fjerdan," Lal menyikut lelaki pirang itu dan melayangkan delikan tajam. "Tugas kita saat ini hanya membawa kembali Pemanggil Matahari. Cari dia, culik, dan selesai."

"Kau pikir itu perkara mudah, hah!?" sembur Gokudera.

"Sst, sudahlah, Gokudera," ujar Yamamoto menenangkan.

"Kalau hanya Mammon aku bisa menemukannya," cetus Fon tanpa beban.

"Pelacak, dengar, meski kau mampu melacak Penguat Gelombang Morozova pertama dan kedua, aku tidak yakin—"

"Dia pasti bisa, Lal," potong Bel seraya menyeringai.

"Tapi, moi tsarevich! Dia hanya pelacak! Kalau dia mati—"

"Kalau dia mati, artinya Pemanggil Matahari jadi milikku, ushishi," kekeh Bel.

"Dalam mimpimu pun aku ragu itu bisa terjadi, moi tsarevich," balas Fon.

"Ya, ya, ya. Kalian para lelaki, teruskan saja debat kalian yang tidak berujung itu." I Pin mengibaskan tangannya di udara, jengah.

Bahu Ugetsu berguncang, lelaki itu menahan tawanya. "Ketika menyangkut orang yang dicintainya, lelaki memang kadang bisa jadi kekanakan. Mohon dimaklumi," katanya.

"Kurasa ini bukan saat yang tepat bersifat kekanakan," timpal Spanner yang sedari tadi terus diam.

"Mereka memperketat penjagaan sampai seperti ini. Seperti yang kuduga, Sang Kelam," G mendesis jijik saat menyebut nama lelaki paling berkuasa di Ravka saat ini.

"Jadi, siap dengan rencana kita, ushishi?" Bel melebarkan seringainya, tampak lebih pada menikmati ini ketimbang cemas.

Fon mengulas senyum miring. "Kau tak perlu bertanya, moi tsarevich. Cukup berikan perintah."

.

.

.

Fong masih berdiri memandangi pepohonan yang tingginya nyaris menggapai langit, berpikir tanpa suara, tanpa gerakan apapun.

Pohon-pohon itu tumbuh setiap tahun, dan setiap tahun itu juga mereka berpikir akan menyentuh langit. Tapi, siapapun tahu itu hanya akan jadi angan mereka. Fong mendengus geli memikirkan betapa ternyata dia masih bisa membuat perumpamaan, rupanya dia belum kehilangan sepenuhnya sisi kemanusiaannya.

Tapi, aku berbeda. Ambisiku akan menjadi sesuatu yang nyata, jelas. Dan sejarah akan mencatatnya dengan seluruh pujian yang mereka punya.

"Kukira kau sudah di tendamu, Brengsek. Ternyata kau masih saja punya tenaga setelah perjalanan dua mil, huh," dengus sebuah suara yang cukup feminin.

Fong mau tak mau menaikkan sudut bibirnya, menyeringai tipis. "Jika kau masih bisa mengucapkan kata-kata kotor seperti itu, artinya kau pun masih punya tenaga bukan, Pemanggil Matahari-ku?" tanyanya sembari berbalik, menghadap Mammon yang tengah menatapnya jijik.

Mammon membuang muka. "Katakan saja keperluanmu supaya aku bisa cepat pergi dari sini, Brengsek. Perutku mulas kau panggil seperti itu," dengusnya.

"Kau harus ingat kalau kau perlu berakting saat bersamaku bukan, Mammon?" tanya Sang Kelam picik.

Mammon mendecih, sadar ia berada di posisi yang tak menguntungkan. Ia membuang muka.

Sang penguasa kegelapan masih menyeringai. "Tenang saja, Mammon. Aku hanya akan menanyakan satu hal padamu," ujarnya.

"Apa?"

"Apa kau menginginkan mahkota di kepalamu dan hak lain sebagai ratu setelah aku jadi raja?" tanya Sang Kelam tenang. "Maksudnya, mungkin aku bisa mengurangi beberapa hal yang tak kau suka. Aku akan menanganinya sendiri nanti," tambahnya.

DEG!

Mammon membulatkan mata, ia nyaris tak bisa berdiri. Mahkota? Lelaki di depannya menawarinya memakai mahkota untuk menjadi pendamping hidupnya seumur hidup. Mahkota tanda perbudakan, simbol kebebasannya terenggut habis. Lagi pula, hak-hak apa? Tidak ada hak apapun yang akan dimiliki Mammon. Hak untuk hidup sebagai manusia saja ia tak akan punya, ia akan hidup sebagai ternak, diberi makan dan digunakan kekuatannya untuk keperluan pria itu nanti.

Mammon merasa dilecehkan.

"Jangan bercanda!" bentak Mammon tak bisa menahan emosinya. "Aku sudah bilang padamu, aku lebih baik dikuliti hidup-hidup daripada menjadi pendamping hidupmu, Sial! Mahkota yang kau tawari itu adalah mahkota tolol tanda kebebasanku direnggut! Hak apa maksudmu!? Jangan konyol, Sang Kelam yang Agung!" bentaknya tanpa bisa menahan diri.

Fong menghela napas, namun seringainya masih bertahan. "Kau terus berkata seperti itu, Mammon. Tapi tak lama lagi kau akan sadar kalau pilihanmu mengikutiku adalah pilihan paling tepat," katanya angkuh.

"Tidak akan pernah!" bantah Mammon cepat.

"Tunggulah sepuluh tahun lagi, Mammon. Bagiku dan kau, sepuluh tahun itu hanya sekadar mengedipkan mata. Umur Grisha dipengaruhi oleh kekuatannya, semakin besar kekuatannya maka semakin panjang umurnya. Kita adalah Grisha terkuat, kau dan aku masih punya waktu yang bisa dihabiskan bersama," ujar sang penguasa kegelapan picik.

Mammon mengepalkan tangannya. "Aku lebih suka membusuk bersama Fon daripada terkurung bersamamu!" serunya.

"'Fon', hm?" Sang Kelam memicingkan jelaga hitamnya, menatap Mammon tajam. Mammon meneguk ludah, keringat dingin meluncur jatuh di kulitnya.

"Mammon, kukira kau sudah mengikuti saranku untuk melupakan otkazat'sya itu," Fong melangkah mendekat, matanya masih menatap tajam sang Pemanggil Matahari. Mammon mundur beberapa langkah, ketakutan.

Fong berhasil meraih lengan pemuda violet itu, kemudian mencengkram dagu Mammon dan membuat pemuda itu menatapnya kasar. "Sudah kukatakan berulang-ulang, Mammon. Pelacak itu sudah tewas. Kau yang membunuhnya. Dia mati bersimbah darah di gereja yang ada di Istana Kecil. Jadi, bisa kuminta koreksi atas kata-katamu barusan?" tanyanya geram.

Mammon meronta, masih belum menyerah meski rasanya ia ingin berlutut dan meraung nama teman masa kecil yang dicintainya. "Fon bahkan sama sekali tak pernah melakukan hal ini, kau pria busuk! Aku tak akan jatuh hanya karena gertak sambalmu, Brengsek! Aku percaya pada Fon!" sahutnya lantang.

Percaya apanya? Mammon ingin tertawa sekeras mungkin mendengar kata-kata yang keluar dari lidahnya. Fon sudah lama tewas, Sang Kelam benar. Tapi ia tak mau kalah, biar saja ia disebut gila, memang asalnya ia sinting dan dipaksa untuk bekerja sama dengan lelaki yang tak kalah sintingnya.

"Oh?" Sang Kelam menyeringai tipis dan mengeratkan cengkramannya. "Kau berharap sebuah adegan heroik kecil, hm? Mammon, dunia nyata tak akan mengizinkan kemustahilan menjadi nyata. Apalagi menjadikan sosok yang sudah direnggut dewa kematian untuk kembali dan menyelamatkan harapan satu-satunya umat manusia dari tiraniku. Bangunlah dari mimpimu, Mammon. Kau calon ratuku. Berhenti berkhayal seperti anak kecil dan hadapi kenyataan! Kau akan jadi ratu Ravka dan pendamping hidup Sang Kelam, kemudian membuat ambisiku jadi nyata!"

"Sayangnya dia tak perlu bangun dari khayalannya. Yang perlu bangun dari mimpi itu adalah kau sendiri, moi soverenyi."

.

.

.

Mammon melebarkan matanya, begitu juga Sang Kelam yang sontak mengendurkan cengkramannya pada dagu sang Pemanggil Matahari.

Siapa yang berani membantah lelaki paling berkuasa di Ravka? Siapa yang berani menyuarakan hal selancang itu? Dan lebih-lebih … siapa yang mau membelanya?

"Kukira tak akan ada penyusup. Rupanya masih ada tikus yang tersisa," dengus Fong seraya melepaskan cengkramannya. Lelaki itu bahkan terlalu angkuh untuk berbalik menatap musuhnya.

"Aku rasa aku bukanlah orang yang pantas mendapat julukan 'tikus' dari Anda," cetus pemilik suara misterius itu lagi.

"Kemarilah dan biarkan aku mempertemukanmu dengan kematianmu," titah Sang Kelam.

Tanpa menjawab, orang itu mendekat. Sosoknya keluar di antara bayang-bayang pepohonan yang lebat.

Mammon terkesiap. Bodoh! Jangan mendekat! Ia memaki betapa dungu orang itu—

Tunggu … bukannya itu—

"Sungguh, moi soverenyi, tetapi ancaman barusan bukan hal yang akan menakutiku. Aku pernah menemui kematian yang kau sebut-sebut itu dan aku berhasil kembali," ucap orang itu tenang.

Mammon menahan napas setiap orang itu melangkah mendekat. Cara bicara itu, suara itu, gaya berjalan itu … semua itu adalah hal yang tak bisa dilupakannya.

Fong memicingkan matanya, ekspresi Mammon terlalu ganjil. Seolah rasanya ia sangat mengenal penyusup itu, seolah mereka begitu dekat, seolah mereka sudah lama tak bertatap muka.

Sang Kelam membalikkan badannya, bersamaan itu juga sang penyusup mengarahkan moncong pistolnya pada sang penguasa kegelapan. Mammon mundur beberapa langkah, mengingatkan dirinya bahwa mungkin ini hanya mimpi, mungkin ia langsung tertidur setelah Chrome keluar dari tendanya.

Karena kemustahilan tengah berdiri di depan dua Grisha terkuat di tanah Ravka, berdiri gagah berani dengan sebuah pistol hitam di tangannya, layaknya pahlawan kesiangan yang berusaha menyelamatkan orang terkasihnya.

Fon mengulas seringai kecil, cukup puas dengan keterkejutan yang berhasil dibuatnya.

"Apa kabar, moi soverenyi?" tanya Fon tenang, bahkan lebih terkesan angkuh. "Aku bangkit dari kematian untuk merebut kembali kekasihku yang kau ambil," lanjutnya.

.

.

.

.tbc.

.

.

.

A/N : Setelah delapan chapter dengan total sekitar 39k words, akhirnya Fon, Mammon, dan Fong dapat bertatap muka dalam jarak dekat HAHAHAHA! AKHIRNYA SAMPE JUGA KE CHAPTER INI HEYYAHHH! /O/ gimana gimana? Ini pertemuan pertama tiga tokoh utama (Fon, Mammon, Fong) setelah pengepungan di Os Alta lho ehehe XD

Apa kabar semuanya? Masih ingat sama fic (sok) serius ini kan? /nggak. Hahaha, maaf ya lama nelantarin, abis duta membutuhkan ekstra perhatian nih wkwkwk. Saya minta maaf sekali karena keterlambatan meng-apdet fanfic ini _ _)|| ((((astogeh ini dari 2014 kaget saya-))). Tbh ini juga diapdet setelah nostalgia gitu baca-bacain fanfic sendiri, terus kaget kok di Ms. Word udah ada chapter baru tapi nggak ada apdetannya di FFn HAHHAHA :")) /DIBUANG. BTW KAGET TAU SAYA VIEWS-NYA 709? INI DARIMANA AJA YA GUSTI NU AGUNG /NGAKAK SEJADI-JADINYA /DISLEPET. Bener saya nggak nyangka deh. Makasih banget buat yang udah berkunjung, aduh maaf saya baru bisa ngungkapin keharuan saya di sini, maaaaffff banget :")) btw, maaf dan makasih ya semuanya. Saya bener-bener nggak nyangka pas nengok udah segitu ((((padahal asaan ini OOC bat jelek ingin diinjek saja plus ini cuma copas langsung dari draft tanpa diliat lagi hahaha /yha kamu)))). Makasih ya semuanya :")))

Sekian dari saya. Sekali lagi, makasih banyak buat yang udah mendukung saya dan menanti kelanjutan penpik ini. Mohon maaf sekali saya gantungin lagi gini /sujud penuh sesal/. Doakan aja ya saya masih sanggup maso buat lanjutin penpik ini ehehe (((bcs saya sebenernya lagi banyak ngurus acara jurusan sama proyek bareng temen-temen saya hehehe))).

.

-Salam-

Profe Fest