The Assassin's Assault
Cahapter 2: Pelatihan Dimulai!
oOo
Holaa~ :D Mai balik lagi! Ada yang kangen? Ada? Ada? *krik krik* Ehem, baiklah, lupakan hal itu :v . Sebelum hukum pancung dilaksanakan, saya mau minta maaf pada semua readers, yang log-in maupun non-log-in, karena Mai udah lama nggak update fic ini. Mai dan seluruh kerabat kerja Uzumaki*plakk* meminta maaf sebesar-besarnya karena membuat kalian semua lama menunggu. Belakangan saya sibuk dengan event ujian akhir semester yang siap menghadang saya.
Nah, selain ffn ini, saya akan mengupdate semua fic saya yang terbengkalai diluar sana :D jadi, tolong mampir ke fic saya yang lain, ya! Sekalian, kita nanti minum teh disana :D :v
Babai!
oOo
"Ya. Klan yang mewarisi gen Ashura selain klan Senju adalah kita. Klan Uzumaki."
"Jadi mereka menyerang karena…Karena—"
"Tepat sekali. Mereka menyerang kerajaan kita, Konohagakure karena kita adalah pewaris darah Ashura yang murni!"
oOo
Naruto tidak bergeming sedikit pun ketika Nagato mengakhiri ceritanya. Ini semua begitu—… Begitu menakjubkan dan aneh, sehingga otaknya tidak mampu mencerna sepatah kata pun. Semua yang dikatakan Nagato memang menjelaskan beberapa hal, termasuk latar belakang penyerangan tiba-tiba kerajaan Konohagakure beberapa hari yang lalu. Tapi juga membuat beberapa sisi terasa kabur dan membingungkan.
"Kemungkinan besar, Templars bakalan menyerang negara lain," Nagato memecah keheninga dengan suara datarnya.
"Eh? M-maksudmu, mereka akan menyerang negara lain…—selain kita?" Tanya Naruto dengan ekspresi tercengang.
"Yep. Ini adalah kesempatan besar untuk kita untuk membuka kedok pemimpinnya, Naruto. Dengan begitu…—dunia ini akan aman dan para Mage juga bisa hidup tenang. Ditambah, salah satu informanku juga sudah mengetahui salah satu markas cabang mereka—tidak terlalu jauh dari sini," Jawab Nagato. Senyum tipis menghias wajah pucatnya.
"Kalau begitu, ayo kita hajar mereka sekarang!" Seru Naruto sambil berdiri dari tempatnya semula.
"Eits—! Tunggu dulu, Naruto!" Nagato menyela, tangan dinginnya menangkap bahu Naruto dan menariknya agar duduk kembali.
"Apa lagi yang harus ditunggu?! Kita—"
"Kita harus membuat rencana dulu. Kau juga cuma pandai menggunakan pedang, 'kan? Itu saja tidak cukup untuk menghadapi mereka, Naruto. Mereka itu sangat banyak, dan beberapa diantara mereka terlatih dengan baik,"Nagato menekankan kalimat akhirnya.
Bibir Naruto mengerucut tidak senang.
"Karena itu, kau juga perlu dilatih." Sambung Nagato.
Mata biru Naruto membulat, bibirnya terbuka sedikit. Dia menatap Nagato dengan pandangan tidak percaya. Apa dia tidak salah dengar?
Latihan?
"Tapi latihan ini khusus untuk Mage, Naruto. Yang sudah dapat dipastikan kalau latihan ini akan benar-benar berat. Kau bersedia?" Tanya Nagato.
Rahang Naruto mengeras. Tangannya dikepal dengan begitu erat—hingga bergemetaran.
"Ya! Tentu saja aku bersedia, dattebayo!" Pekik Naruto dengan semangat.
Senyuman lebar menghiasi wajah pucat Nagato.
"Baiklah, kalau begitu, kita kembali dulu ke kastil. Yahiko dan Konan pasti sudah menunggu kita disana,"
"OSH!"
oOo
"Hah? Kau serius, Naruto?!" Pekik Yahiko pada Naruto yang dengan santainya menunjukkan cengirannya pada sahabat kakaknya itu.
"Ya, keputusannya sudah bulat, Yahiko." Balas Nagato tegas.
"Tapi latihan ini berat sekali untuk anak seumurannya," Ucap Konan khawatir.
"Jangan khawatir, Konan-nee! Begini-begini, badanku kuat, lho." Jawab Naruto dengan ponggahnya sambil membuat beberapa pose binaraga asal-asalan yang ia ketahui.
Ekspresi Konan dan Yahiko masih belum berubah, masih khawatir dan ragu. Mereka berdua takut kalau Naruto tidak akan bisa menanggung beratnya latihan menjadi seorang Mage nanti. Ditambah lagi, Naruto masih berusia enam belas belas, daya tahan tubuhnya pasti jauh berbeda dari daya tahan tubuh mereka yang berusia delapan belas tahun ini.
"Aku percaya pada Naruto," Yahiko akhirnya menjawab.
"Yahiko?!" Konan memekik tidak terima.
"Well, Konan. Kau tahu sendiri kalau Naruto itu keras kepala. Aku yakin, bahkan kalau kita menolak permintaannya atau mengurung dan mengikatnya di tempat tidur, dia pasti akan berlatih juga. Ciri khas klan Uzumaki." Balas Yahiko dengan nada sekalem mungkin.
"Itu benar, dattebayo!" Balas Naruto dengan cengirannya.
"Jangan khawatir, Konan, aku yang akan melatihnya. Jadi badannya tidak akan hancur," Tambah Nagato dengan nada yang menyakinkan.
Konan awalnya masih ragu. Tapi akhirnya dia menghela nafas—dan berkata, "Kalian bertiga sama keras kepalanya." Ucapnya sambil tersenyum.
"Kalau begitu sudah diputuskan, latihannya dimulai sekarang!"
oOo
"Pertama, kau harus tahu apa kemampuanmu, Naruto." Ujar Nagato sesampainya mereka di sebuah Traning Field yang terletak disisi selatan kastil itu.
"Hm!"
"Nah, coba kau konsentrasi. Pusatkan pikiranmu, dan kumpulkan kekuatanmu ditanganmu lalu lepaskan," Ucap Nagato memberi perintah.
"OSH!"
"Naruto! Berjuanglah! Kau pasti bisa!" Teriak Konan dan Yahiko dari sebuah balkon kastil yang menjorok kearah Training Field itu.
Naruto mengangguk tegas. Dia memejamkan matanya, mengarahkan tangannya ke tanah dan mulai konsentrasi. "Hmmmmhhh…!"
Satu detik,
Dua detik,
Tiga detik.
"Arrrrghhh! Aku tidak bisa melakukannya, dattebayo!" Pekik Naruto frustasi.
Nagato dan kedua sahabatnya langsung berkeringat dingin.
"Tenang, Naruto! Jangan marah dulu! Lagi pula, kau hanya berkonsentrasi selama TIGA DETIK, tahu!" Seru Nagato esmosi.
"Ini tidak ada gunanya, nii-chan!" Balas Naruto.
"Tentu ada, Naruto! Kau sendiri yang tidak sabaran!"
"Aku sudah mencoba sabar!"
"Tapi cuma selama tiga detik!"
"Tapi walau begitu—!"
"Naruto!" Nagato memekik frustasi. Dia hendak mencekik adiknya yang benar-benar menyebalkan yang nyaris membuatnya terkena serangan stroke akut.
"G-gomene, nii-chan…" Naruto berkata dengan gugup ketika Nagato sudah mengaktifkan Rinnegan-nya—salah satu kemampuan istimewa klan Uzumaki.
"Oi, oi, Nagato! Sabar dulu!"
Yahiko memekik dari kejauhan.
"SHINRA TENSEI!"
DUARRR
"ITTAI!"
oOo
"Nah, Sekarang biar aku yang mengajarimu, " Ucap Yahiko setelah Nagato sudah menghancurkan lebih dari setengah bangunan training field itu.
"Baik," Jawab Naruto sambil menengguk air liurnya ketika melihat Nagato yang terkapar diatas sebuah kursi diseberang sana karena sudah pening tujuh keliling hanya karena melatihnya untuk berkonsentrasi.
Konan yang duduk disamping Nagato melambai-lambaikan tangannya pada Naruto. Mengatakan kalau Nagato tidak apa-apa.
"Nah, kau harus konsentrasi. Karena kau adalah pemula, jadi pelan-pelan saja, ya,"Ucap Yahiko membuyarkan lamunan Naruto.
"Baik," Jawab Naruto sekenanya.
Naruto menarik nafas—menghembuskannya dengan pelan, lalu memejamkan matanya.
DUAAARRR!
Naruto dan Yahiko tersentak ketika sebuah ledakan terjadi di gerbang depan. Bahkan Nagato yang terbaring diatas kursi pun ikut melompat saking kagetnya.
"Apa yang terjadi?!" Pekik Konan yang berlari menuju tempat Yahiko dan Naruto.
Seorang serdadu kastil itu mendatangi mereka. Wajahnya pucat pasi. "Yahiko -sama! Templars! Mereka… Mereka sudah datang kemari!"
"Apa? Templars!?" Seru Naruto panik.
"Sepertinya mereka mengincar anak ini!"Sambung serdadu tadi sambil menunjuk Naruto yang membeku ditempat.
"Baik, evakuasi pegawai kastil keruang bawah tanah. Dan Naruto—"
"Ya?"
"Kau bersembunyilah diruang perpustakaan," Sambung Yahiko.
"Apa?! T-Tapi aku—"
"Sudahlah. Ikuti saja perkataan Yahiko. Bersembunyilah disana sampai keadaan aman. Jika ada yang mendekat, kau bisa menggunakan ini," Ujar Nagato sambil melempar sebilah pedang mengilap pada Naruto.
"Kami akan segera kembali," Ucap Konan sambil berlari mengikuti Yahiko dan Nagato yang sudah duluan berlari di depan.
"Ayo, Nagato, Konan."
Ujar Yahiko sambil memimpin kedua sahabatnya menuju gerbang depan, meninggalkan Naruto yang melongo dtempat.
oOo
"Wah, wah… Yahiko. Sudah lama tidak bertemu, ya? Lihat, kau sudah tumbuh besar rupanya," Ujar seorang pria kekar dengan baju zirah yang terbuat dari logam yang mengilat. Nada suaranya sama sekali tidak terdengar menyenangkan.
"Yah, saking lamanya, aku sampai tidak mengenalmu," Ucap Yahiko dengan nada mengejek, walau sebenarnya itu adalah sebuah kenyataan terselubung, karena sesungguhnya dia memang tidak mengenal orang itu.
"Tch," Si pria itu mendecih.
"Aku tidak ingi berlama-lama si tempat usang ini. Jadi, kita mulai saja sekarang."
oOo
Naruto merasa sangat tidak tenang berada ditengah-tengah perpustakaan yang merupakan penjara baginya. Bukan itu saja, dia mulai merasa khawatir akan kabar kakaknya yang tadi pergi untuk melawan para Templars itu. Dia mondar-mandir, menggerutu dan mengomel tanpa henti. Pedang pemberian Nagato tergeletak diatas salah satu meja, dan dia sama sekali tidak berniat menyentuhnya.
Pikirannya sedang kacau.
Ia menggigit bibir bawahnya. Bagaimana keadaan kakaknya? Apakah mereka baik-baik saja? Ya, mereka pasti baik-baik saja, apalagi Nagato. Karena kalau lelaki berambut merah itu marah, dunia bisa hancur dibuatnya.
Tapi, Nagato pernah mengatakan kalau Templars itu banyak anggotanya, dan beberapa diantaranya terlatih dengan baik. Apa mereka bertiga mampu mengalahkan semua musuh itu? Memikirkan semua itu membuatnya semakin merasa cemas saja. Pandangannya beralih kesalah satu rak buku didekatnya. Dia menghela nafas panjang, berjalan kearah rak buku tadi lalu berikir untuk membaca buku—sekadar untuk mengalihkan perhatiannya sejenak.
Dia mengambil sebuah buku bersampul biru dan mulai membacanya. Pikirannya mulai terpusat pada buku itu sampai—
Matanya membulat ketika lapisan es menyelubungi buku yang ia baca. Bukan itu saja, lapisan es itu semakin meluas hingga menutupi seluruh buku itu. Buru-buru dia menarik tangannya dari buku itu sehingga membuat buku itu jatuh. Ia memandangi tangannya dengan takjub.
J-Jangan-jangan ini adalah?!
oOo
To Be Continued To The Next Chapter
oOo
