Assassin's Assault

Chapter 3

.

.

.

.

.

The author would thank you for the loyal readers who always checked up my story. I can't thank you enough for all of your Attention towards me. You're all of my strength, so please keep watching me, 'kay?

.

.

.

.

.

Suasana di kastil Nagato yang semula tenang kini terusik oleh suara bombardir meriam dan senapan. Suara bantingan logam yang tajam terdengar diberbagai sudut kastil, disertai oleh suara teriakan marah dari kedua belah pihak.

"Badanmu sudah besar, tapi nyalimu masih seperti bocah, Yahiko!"

Yahiko menggertakkan giginya ketika dia menghadang serangan pedang lawannya dengan pedangnya. Sial, makan apa, sih, musuhnya ini? Sampai-sampai punya kekuatan fisik yang sebegitu kuat begini. Jemari Yahiko mulai mati rasa karena kelelahan memegang pedang. Pria berambut mencolok itu kemudian mengerahkan seluruh kekuatannya ditangannya dan mengayunkan pedangnya dengan kuat, sehingga musuhnya yang kekar itu terlonjak beberapa langkah kebelakang.

Yahiko tak langsung diam, dia segera mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi. Ujung pedangnnya menyabet helm pria kekar itu hingga terbelah dua. Helm pria itu terjatuh ke tanah.

Mata Yahiko membulat ketika melihat wajah musuhnya yang kini terekspos. "Kau... Mizuki?"

Yahiko tidak akan pernah lupa wajah itu. Wajah yang memiliki luka cakar memanjang dari pipi kanan hingga ke pelipis kirinya. Rambut perak itu, dan seringaian sinis itu. Yahiko langsung ingat pada kejadian beberapa tahun silam, dimana dia secara langsung menyaksikan kalau pria didepannya ini terbakar dengan hebatnya.

"Kau masih hidup?" tanya Yahiko, masih tak percaya dengan penglihatannya sendiri. "Tapi-tapi... Aku melihatmu..."

"Mati terbakar?" Pria bernama Mizuki itu memutar bola matanya seolah-olah dia sudah mendengar kalimat itu ribuan kali. "Ya, kau benar. Aku seharusnya sudah mati sejak dulu."

"Lalu, kenapa-"

"Anggap saja Tuhan memberiku kesempatan kedua." Mizuki menyeringai. "Kau jadi tambah banyak omong, Yahiko."

Yahiko tak mampu bergerak sedikitpun. Kakinya gemetar dan begitu kaku. Seakan-akan kakinya dipasak ditanah sehingga dia tak mampu menggerakkam barang satu anggota tubuhnya sekaligus.

Dia hanya diam ketika melihat Mizuki menghunuskan pedangnya kearah kepalanya.

"Aku bukan Mizuki yang kau kenal, Yahiko." Mizuki bergumam diantara nafasnya yang memburu.

Konan yang melihat Yahiko sontak saja berteriak. "Yahiko!"

Zleb!

.

.

.

.

"Agh... Ah..." Yahiko merasakan badannya kembali. Matanya membulat ketika dia melihat sesosok pemuda berjubah putih berdiri didepannya, menangkis serangan pedang Mizuki.

"Tch, siapa lagi ini?" Mizuki mendecih. Tapi pris itu kemudian terhenyak ketika matanya beradu pandang dengan sepasang mata biru yang tajam bak es. "Guh...!" Mizuki melompat kebelakang.

"Yahiko... Syukurlah." Konan menghela nafas lega ketika melihat Yahiko diselamatkan oleh seorang pemuda berjubah putih. Hei, tunggu, dia tak pernah melihat orang itu sebelumnya. Ah, jangan-jangan...

"Yahiko-nii." Yahiko tersentak ketika mendengar suara familiar itu. "Bukankah Yahiko-nii yang mengajarkanku untuk selalu waspada?"

"Ah... Kau...?"

"Konan," Nagato menyusul Konan. "Apa kah-"

"Nagato." Konan menyela perkataan Nagato. Dia menunjuk kearah Yahiko yang berdiri dibelakang sesosok pemuda berjubah.

"Itu...?"

Konan menoleh kearah Nagato dan memberikannya seulas senyuman kecil. "Adikmu."

"Naruto?" Yahiko tersentak. "Kau! Apa yang kau lakukan disini? Bukankah tadi kau disuruh ke perpustakaan?"

"Aku bosan di perpustakaan, Yahiko-nii." Balas Naruto singkat. "Lagian, aku lihat kalian membutuhkan bantuan disini."

Yahiko memang tidak dapat menolak hal itu. Pasukan mereka yang hanya terdiri dari dua ribu orang tentu saja akan kalah melawan pasukan Mizuki yang berjumlah lima ribu orang. Belum lagi ditambah oleh pasukan Mizuki yang membawa meriam dan ketapel.

Apa dia benar-benar berniat menghancurkan kastil ini?

"Mundurlah Naruto. Kau tidak akan menang melawan dia." Kata Yahiko sambil menatap tajam Mizuki.

"Ya, kau benar."

Yahiko mengernyitkan dahinya. Tumben Naruto pintar dan tahu diri. Apakah otaknya mengalami evolusi saat dia ada diperpustakaan?

"Aku akan kalah kalau menggunakan kekuatanku yang dulu." kata Naruto.

"Eh?"

"Tapi aku bukan Naruto lemah yang dulu, yang harus kalian lindungi." Naruto menarik nafasnya. "Sekarang biarkan aku melindungi kalian."

Naruto menghunuskan pedangnya, lalu menancapkannya ketanah.

Siiing

"Eh?"

"Oh, aku salah tempat." Naruto menggaruk kepalanya sambil nyenggir.

Gubrak

"Lupakan." Nagato dan Konan yang melihat tingkah laku Naruto langsung surut semangatnya.

Mizuki yang melihat hal itu langsung saja tertawa keras. "Apa ini? Badut dari kastilmu?"

"Jangan panggil aku badut, dattebayo!" Naruto merengut. Dia kemudian berpindah beberapa langkah kesamping dan kembali menancapkan pedangnya ke tanah. Dia kemudian menarik pedangnya, dan dari lubang pedangnya tadi, mengucur air yang sangat deras.

"Akan kubuat kalian menyesal telah menganggu kami!" serunya.

Air itu perlahan mulai mengalir keseluruh daerah.

Naruto kemudian mengambil nafasnya. Dia kemudian menggerakkan tangannya keatas, air yang ada dibawahnya perlahan ikut naik mengikuti direksi tangannya. Naruto menyeringai. "Bersiaplah."

Naruto kemudian mengarahkan tangannya kedepan. Air itu kemudian bergerak kedepan dengan kecepatan yang sangat tinggi, lalu berubah menjadi es.

"Sial! Dia seorang Mage!"

Nagato terhenyak. Inikah... Kekuatan Naruto?

Naruto kemudian terus menggerakkan tangannya, mengarahkan air itu kesana-kemari dan membuat pasukan musuh terbirit-birit. Naruto mengepalkan tangannya, dan sebuah bola air raksasa terbentuk ditengah pasukan musuh. Naruto kemudian melepaskan kepalan tangannya, dan secara ajaib bola air itu berubah menjadi es, meledak menjadi serpihan es tajam yang kini menghujani pasukan Mizuki.

"Serang Mage sial itu!" Mizuki berteriak frustasi.

Beberapa orang segera berlari kearah Naruto, beberapa diantaranya yang membawa senapan langsung menembaki Naruto dengan membabibuta.

Naruto mengangkat tangannya keatas dan sebuah dinding es tebal segera melindunginya dari peluru-peluru itu.

"Argh!" Naruro melirik kearah Yahiko yang kini sedang bertarung dengan beberapa orang. Tangan kanannya tersayat, memaksanya menggunakan tangan kirinya untuk mengayunkan pedang.

Naruto kemudian menginjakkan kakinya ketanah, menimbulkan suara gemuruh yang hebat. Tidak lama berselang, tiba-tiba ribuan duri es muncul dari dalam tanah, membekukan orang-orang yang tadi melawan Yahiko.

Naruto tak tinggal diam. Dia kemudian membentuk sebuah naga es yang kini bergerak dengan cepat ke seluruh sudut medan pertarungan. Menyapu habis pasukan Mizuki.

Mizuki mendecih. "Kita mundur!"

.

.

.

.

.

"Kau tadi hebat sekali, Naruto!" Yahiko menepuk-nepuk punggung Naruto dengan keras. "Aku tak menyangka kalau kau sehebat itu!"

"Aku juga tak menyangka." kata Nagato. "Karena kau awalnya salah tempat."

"Itu tadi sengaja, dattebayo!" Naruto membela diri. "Itu tadi termasuk strategi untuk membingungkan musuh!"

"Ya, ya, ya... Nanti saja ceritanya." Konan menengahi. "Kau mengeluarkan banyak sekali tenaga diluar sana. Tubuhmu membutuhkan istirahat, Naruto."

"Ya, sudahlah. Aku akan istirahat kalau begitu. Lagian aku memang benar-benar capek!" ucap Naruto sambil tersenyum lebar. Dia kemudian melangkah dengan riang menuju kamarnya.

"Naruto." Naruto menoleh ketika dia mendengar Nagato memanggil namanya.

"Ya?"

"Aku bangga padamu."

.

.

.

.

.

TBC