Hai, You and I kembali dengan update chapter 2 :3 yaitu saat masa sekolah LenMiku
Happy reading
Tatapan
Iris teal Miku menatap Len dengan begitu seksama. Bibir gadis itu tersenyum simpul dengan mata yang memancarkan keceriaan dan percaya diri yang tinggi. Penuh rasa antusias dan cinta? Entahlah, Len tidak ingin memikirkannya. Entah apa yang ada dipikiran gadis yang masih duduk di bangku SMP ini. Hari ini, tatapannya mengusik Len. Tatapannya itu terkadang membuat Len ngeri, bahkan tak jarang ia mengalihkan pandangan dari gadis yang lebih muda tiga tahun darinya.
"Apa sih?" sergah Len berniat mengagetkan Miku yang terus memandanginya. "Jangan melihatku seperti itu terus!" teriak lelaki yang kembali mengalihkan wajahnya sambil memegang tas slempangnya. Tangannya berkeringat tak karuan.
Si gadis pemilik mata teal itu tersenyum. Ia terkekeh lembut. "Tidak ada, hanya senang saja melihat wajah kakak."
Ada apa sih sama anak ini! pekiknya dalam hati. Jujur saja, rasanya sangat memalukan digombali oleh seorang gadis, apalagi gadis itu lebih muda tiga tahun darinya. Tapi, ketimbang rasa malu karena gengsi, dia lebih malu karena gombalan gadis itu mengenainya. Dag dig dug, mungkin seperti itulah bunyi detak jantungnya yang berdebar kencang saat ini. Kenapa aku berdebar?!
"Kak Len tidak suka?" tanya Miku.
Ini dia pertanyaan sulit. Mana mungkin pemuda seusianya tidak senang jika ada gadis manis yang terus menatap dengan penuh cinta. Sayangnya, Len justru kesusahan menangani perasaannya yang tak karuan itu. "Duh, bukannya begitu!" pekiknya lalu tubuhnya sedikit meringkuk. "Cuman ... bisakah kamu tidak menatapku terus?" tanya Len sambil malu-malu melirik Miku. Meskipun gadis itu sering mengikutinya, ia tak pernah melihat Len sampai seperti saat ini. Rasanya, tidak ada yang aneh dari penampilannya, menurutnya.
Gadis itu, Miku bukannya sadar maksud dari perkataan Len, dia malah tersenyum lebar. "Kakak malu?" tanya Miku. Tubuh mungil si rambut teal bergeser, mempersempit jarak diantara mereka.
Len berkeringat dingin. Jantungnya berdebar lebih kencang lagi. Semoga Rin cepat datang! pintanya. Lebih tepatnya ia mengharapkan kelas tambahan Rin cepat selesai. Jika ada saudari kembarnya, ia tidak akan gugup seperti ini. Bisa dibilang, Rin bisa ia gunakan sebagai tameng. Ah, nasib sial Rin karena kelasnya mendapat kelas tambahan lantaran gurunya sempat absen beberapa waktu yang lalu. Sial bagi Rin, sial juga bagi Len karena duduk berdua bersama Miku. Entah apakah ini kesialan atau keuntungan, yang jelas Len merasa serba salah dan malu.
"Kenapa aku harus malu?" tanyanya dengan dingin. Dia berusaha menyembunyikan rasa malunya. Dia senang, hanya saja gengsi. Tapi, siapa yang tidak malu ditatap seperti itu? Tentu saja Len malu, dan juga senang. Sebagai anak SMA, tentu dia senang ada gadis yang mengaguminya, meskipun gadis itu sedikit aneh. Tapi jujur saja, baru kali ini ia merasa canggung dan malu di hadapan Miku. Mungkin karena ini pertama kalinya ia hanya berduaan dengan Miku.
Gadis bermata teal memiringkan kepalanya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia menatap Len dengan seksama, hingga ia tak tahu bagaimana harus menghindar untuk menyembunyikan rasa malunya.
Miku menggumam sebentar sebelum akhirnya dia memanggil Len dengan manja. "Kalau kakak tidak terganggu dan tidak malu, kenapa menghindari tatapanku?" tanyanya.
Kamu ini bodoh, tidak peka, atau mengerjaiku sih?! pekik Len dalam hati. Sayangnya, ia tidak bisa serta merta bersikap kasar pada anak gadis itu. Pertama, dia anak orang. Jika Miku merupakan saudara kandungnya, ia tak akan segan-segan menghajarnya seperti yang sering ia lakukan pada Rin ketika mereka ribut. Yang kedua, jika dia macam-macam pada Miku, akan ada seseorang yang senantiasa dengan senang hati memberi pelajaran padanya, kakak laki-lakinya.
"Jangan menatapku seperti itu! Kamu membuatku ngeri!" jawab Len dengan ketus. Miku kemudian diam, mengalihkan pandangannya dan juga membungkam mulutnya.
Miku sedikit bergeser memperlebar jarak mereka. Kali ini, Len sedikit bernafas lega karena tak lagi khawatir gadis itu tak mendengar detak jantungnya.
Keduanya diam. Len sedikit melirik gadis SMP itu. Ia tak tersenyum, dan menunduk. Keramaian taman SMA Shimizu tak membuat keduanya ikut meramaikan suasana. Diamnya gadis itu membuatnya sedikit tak enak hati. Mungkin bicaranya terlalu ketus, meskipun tadi itu ia sudah berusaha menahan dirinya.
Mata birunya terus melirik diamnya Miku yang lama kelamaan membuatnya lebih tidak nyaman. "Hei, maafkan aku karena sudah bicara dengan ketus."
Miku menoleh pada Len. Gadis itu tersenyum sendu sambil terkekeh pelan. "Maafkan aku juga karena membuat kakak tidak nyaman."
Len memperhatikannya. Hanya satu sentakan marah seperti tadi saja membuatnya diam, padahal ia sering membentak gadis itu. Biasanya gadis itu tetap jahil dan ceria meskipun Len sudah menggerutu untuk tidak mengganggunya. Mungkin tadi nada bicaranya yang tadi terlalu tinggi.
"Boleh kutanya satu hal?" tanya Len.
Miku mengangguk.
"Kenapa hari ini kamu menatapku seperti itu terus?" tanya Len sambil menatapnya serius dan mendekatkan wajahnya pada Miku. Ingin sekali rasanya dia membalas perlakuan jahil gadis ini yang sering membuat wajahnya merah.
Senyuman ceria yang selalu terlukis di bibir tipis Miku kembali. "Karena mama bilang, 'tatap terus orang yang kamu sukai dengan penuh cinta. pasti dia akan berbalik menyukaimu', begitu."
Suara cerianya menggelitik telinga Len. Ia sering menghadapi gadis yang mengungkapkan perasaan padanya, tapi gadis yang satu ini hampir setiap hari mengungkapkan perasaannya pada Len.
"Kata mama, itu cara mama untuk mendapatkan hati papa dulu," lanjut Miku.
Len memicingkan matanya. Padahal setiap kali bertemu dia 'kan menatapku. Ya tapi tidak seperti hari ini ...
"Aku ingin kak Len suka padaku," ucap Miku. Ia tersenyum tipis. Untuk anak kelas dua SMP, dia terlalu cepat mengerti hal yang dinamakan cinta.
Jantung Len berdebar dengan kencang. Len mengalihkan pandangannya sambil menutup wajahnya dengan satu tangan. Kenapa hari ini aku jadi berdebar gara-gara anak ini?! Sihir apa yang dia pakai?! Apa yang terjadi padaku?!
"Eh?" gumam Miku.
Len berdiri dari tempat duduknya. "Aku mau pulang duluan!" teriak Len. Ia lalu berjalan cepat menjauhi Miku.
"Eh kak Len? tapi kak Rin bilang kalau kita harus menunggunya!"
Duh. Len mempercepat langkah kakinya sambil berharap gadia itu tak mengikutinya. Kenapa kata-katanya hari ini membuat gawat jantungku?
"Kak tunggu!" teriak Miku sambil berlari mengejar Len.
Mendengar suara langkah kaki Miku, Len pun berlari. Ya, dia berusaha kabur karena malu.
Miku, gadis itu berhasil membuat Len mengalami jatuh cinta berkat tatapan yang diajarkan ibunya. Atau mungkin karena ini pertama kalinya Len duduk berdua dengan Miku? Yang jelas, Miku berhasil membuat Len meraskan jatuh cinta.
a.n
ahaa akhimya selesai meski cuman jadi drabbleXD hope you all like it
Mind to review?
