Vocaloid © Yamaha
Katakter di cerita ini bukan milik saya
Mohon dukungannya terima kasiih
Cita - cita
"Jurnalis?" tanya gadis cilik berambut hijau-biru yang dikuncir dua. Matanya berkedip keheranan mempelajari kata yang baru saja didengarnya. Ia memiringkan kepalanya sambil mengerutkan dahi. "Memang ada cita-cita jadi jurnalis?"
"Ada," jawab bocah lelaki pirang yang berdiri di depannya. Ia membawa catatan kecil dan pulpen hitam, berlagak seperti pemburu berita. Len mengernyitkan alis sambil menulis-nulis bebas, berkhayal memburu berita.
Gadis pirang yang wajahnya seperti cerminan si bocah laki-laki tertawa lepas sambil mengalungkan tangannya pada leher gadis rambut biru-hijau. "Mereka itu kerjanya cari-cari berita, terus masuk tv deh. Gitu deh, Miku."
"Berita? Oooh, kayak acara yang sering papa tonton pagi-pagi?" tanya Miku. Senyum melengkung di wajahnya.
Si gadis pirang, Rin menggumam berlagak sedang berpikir meskipum sebenarnya tidak. "Ya, seperti yang sering paman Kaito lihat." Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau begitu ...," ucap Miku. Ia menautkan kedua tangannya dan matanya membulat, penuh cahaya berkilauan menatap Len. "Kak Len akan muncul di tv setiap hari?" tanya Miku.
Si kembar pirang itu menganggukkan kepala mereka bersamaan, yang perempuan tersenyum yang laki-laki bersikap sok tidak peduli.
"Hmph!" Gakupo menyela sambil menarik tangan Miku. "Apa bagusnya jadi jurnalis kalau cuman masuk tv?" pekiknya sambil menatap Len tajam.
Len hanya diam, berusaha tak terpengaruh sikap Gakupo yang mengajak berkelahi.
"Memang cita-cita kakak apa?" tanya Miku.
"Cita-citaku menjadi pemain sepak bola dan terkenal seperti Neymar!" teriak Gakupo.
"Huh, kerjaanmu cuman menendang-nendang bola sih apa bagusnya," jawab Len. Tak tahan ia mendengar ejekan Gakupo. Namanya juga anak-anak, siapa yang terima hal yang disukainga dijelek-jelekkan anak lain.
"Enak saja bilang begitu!" pekik Gakupo.
"Diam!" teriak Rin. Keduanya seketik diam dan menatap Rin. "Kalau kalian ribut nanti kapan aku bakal ceritain cita-citaku!"
Gakupo dan Len bercedak dan salinv membuang muka.
"Apa cita-cita kakak?" tanya Miku.
"Jadi perancang busana!" jawab Rin dengan semangat. "Aku ingin membuat gaun pengantin yang paling bagus!" teriak Rin.
"Cih, dasar anak perempuan," gumam dua bocah lekaki dengan kompak tapi mereka masih tetap mengalihkan wajah. Saat Rin melotot, keduanya diam.
"Nah, Miku," ucap Rin, "apa cita-cita Miku?"
"Jadi istri kak Len!" jawab si gadis hijau-biru dengan semangat.
"Hah!"
Wajah ketiga anak yang lebih tua tiga tahun dirinya seketika memererah, apalagi Len.
Len hanya diam sambil menutup wajahnya dengan buku catatan.
Dia masih terlalu kecil untuk bilang seperti itu! pikir Len. Tapi ... kenapa aku deg-dengan.
