Vocaloid © Yamaha
Katakter di cerita ini bukan milik saya
Mohon dukungannya terima kasiih
Benang Merah
"Kak Rin punya benang merah?" tanya Miku sambil memiringkan kepalanya. Kaki-kakinya melangkah berputar-putar di depan Rin, mencari-cari sesuatu, entah apa Rin juga tidak tahu apa isi kepala anak kelas satu sekolah dasar itu.
Gadis itu meninggalkan buku ceritanya di tempat ia duduk sebelumnya, tergelak begitu saja dengan beberapa kertas gambar dan krayon yang acak-acakkan.
Rin menaruh jahitannya di sebelahnya. Ia tengah membuat bando pita, alih-alih menghemat uang jajannya dengan membuat bando pita sendiri dari kain-kain sisa jahitan ibunya. Rin mengambil segulung benang merah dan memberikannya pada gadis yang sengaja dititipkan di rumahnya karena kedua orang tuanya tengah ada urusan yang tak bisa ditinggal dan hanya membawa si adik bayi.
"Benang merah buat apa?" tanya anak perempuan yang lebih tua itu. Otak pemikir anak kelas empatnya itu penasaran dengan buku yang baru saja si rambut teal baca. Toh tadi anak itu memilih sendiri buku yang ada di kamar si gadis pirang dan membacanya di kursi sudut kamar Rin.
Gadis itu tidak menjawab tapi malah tertawa terkekeh sambil menerima benang pemberian Rin. "Aku minta ya kak," ucap si rambut teal yang berkuncir dua sambil mengambil gunting kemudian memotong benang itu cukup panjang.
"Boleh sih, tapi untuk apa-" belum selesai si pirang menyelesaikan kalimatnya, Miku segera bangkit dan keluar dari kamarnya. "He-hei!" pekik Rin kemudian bangkit.
Ia berjalan mengejar gadis yang berlari itu tapi matanya menoleh pada sampul buku yang dibaca Miku. Buku komik kesukaan Rin. Komik cerita cinta remaja, Rin tahu kalau buku itu sedikit dewasa untuk usianya tapi ia tetap membelinya karena suka dengan cerita-cerita cinta seperti itu. "Oh, buku ini toh yang dibaca Miku," gumamnya sambil mengambil buku yang terbuka.
Halaman itu menunjukkan kolom percakapan sepasang remaja dengan seragam SMP.
"Benang merah ini akan mengikat kita selamanya." Seorang gadis dalam buku itu tampak mengikatkan benang merah pada kelingkingnya dan juga kelingking seorang pemuda.
Dialog di buku itu kadang juga membuat Rin geli tapi ia tetap membacanya, lagi-lagi alasannya karena ia suka dengan cerita yang seperti itu.
"Kita tidak akan terpisah selama-lamanya."
Rin menyeringai kemudian tertawa terbahak-bahak. "Jadi ini alasannya Miku minta benang merah barusan." Gadis itu menutup buku komik miliknya dan menaruhnya di tempat semula. Ia mengintip keluar kamarnya, melihat dua orang bocah laki-laki seumuran yang bermain Playstation di ruang tengah.
"Mari kita lihat apa yang dipahami Miku dari cerita ini," gadis itu tertawa kecil sambil berjalan keluar dari kamarnya.
.
"Cih, lagi-lagi aku kalah!" pekik Len sambil menaruh stick Playstation dan merenggangkan kakinya. "Tanganku cape!"
Bocah berambut ungu mendengus senang sambil sedikit mendongakkan kepalanya. "Sudah kubilang, tidak ada yang bisa mengalahkanku dalam permainan ini," ucap Gakupo.
"Jangan sombong dulu," ucap Len sambil memutar matanya.
"Kak Len."
Sebuah suara gadis kecil memanggil Len, membuat dua bocah laki-laki itu saling menatap satu sama lain, sama-sama terkejut dengan kehadirannya yang tak terdeteksi. Gakupo dan Len menoleh pada Miku sambil duduk berputar..
Gadis itu membawa benang merah di tangannya dan satu jari kelingking kiri gadis itu sudah diikat oleh benang merah.
"Pinjam tangan sebelah kiri kakak," ucap Miku sambil mengambil ancang-ancang hendak mengambil tangan Len yang tengah menopang tubuhnya sendiri.
"Untuk apa?" tanya Len sambil memberikan tangan kirinya pada Miku.
Miku duduk di depan Len sambil mengambil tangan lelaki berambut pirang itu. Ia mengambil ujung benang merah lainnya kemudian mengikat jari kelingking Len dengan benang merah.
Alis Len terangkat, begitu juga dengan Gakupo yang mengernyitkan dahi, tak senang adiknya itu memegang tangan rivalnya tapi juga tak berkata apapun karena berpikir keras dengan apa yang sedang dilakukan Miku.
Gadis itu terkekeh.
Len memanggil Miku pelan sambil menatap anak itu. "Kenapa mengikat kelingkingku dengan benang merah?"
"Benang merah ini akan mengikat kita selamanya," ucap Miku sambil mengacungkan kelingking kirinya yang diikat dengan benang merah. "Kita tidak akan terpisah selamanya," lanjutnya sambil menggoyang-goyangkan kelingkingnya dan tersenyum lebar.
"Ha-hah?!" pekik Len dan Gakupo. Rona merah menghiasi pipi keduanya.
"Kenapa tiba-tiba bicara begitu?!" pekik Len.
Gakupo segera berpindah ke sebelah Miku dan merebut tangan Len yang terikat dengan benang merah. "Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi, karena akulah yang akan terus bersama dengan Miku selamanya!" pekik Gakupo.
"Benang merahnya jangan dilepas!" pekik Miku sambil merebut kembali tangan Len.
"Ini pasti Rin yang ngajarin Miku hal yang aneh-aneh!" pekik Len.
Di sisi lain, Rin datang sambil tertawa terbahak-bahak, "aku tidak mengajarkan apapun padanya."
Miku mengambil mengambil tangan kiri Gakupo, membuat kedua bocah laki-laki itu diam. "Kalau kakak mau kita terus bersama, akan kuikat jari kelingking kakak di tengah-tengah benang merah ini," ucapnya dengan tawa polos sambil mengaitkan benang merah ke tangan Gakupo.
Rin berhenti tertawa. "Tunggu dulu Miku," ucap Rin dan Miku menoleh. "Kamu tahu arti dari benang merah yang terikat di kelingking?" tanya Rin.
"Aku dan kak Len akan terus bersama-sama," jawab Miku dengan polos.
"Lalu?"
Gadis itu diam menatap kosong Rin, tak tahu maksud Rin.
"Itu artinya kalian itu berjodoh. Ya hanya simbol saja sih," jelas Rin sambil mengangkat bahunya kemudian terkekeh, "eh tapi kamu tidak akan paham maksudnya."
"Apa itu artinya aku akan menikah dengan kak Len?" tanya Miku dengan mata berbinar-binar.
"Yap," jawab Rin singkat.
"Hei, apa katamu?!" pekik Len.
Miku seketika melepas ikatan benang dari tangan Gakupo. "Aku tidak mau menikah dengan kakak, aku maunya dengan kak Len saja."
"Apa?!" pekik Gakupo.
"Darimana Miku bisa tahu hal semacam ini, Rin?!" pekik Len.
Rin terkekeh, "komik yang kupunya."
"Jangan biarkan Miku membaca buku-buku anehmu itu lagi!" teriak Len dan Rin berlari ke kamarnya sementara Gakupo masih mematung di sebelahnya.
Len menghela napasnya sambil melihat anak kelas satu SD yang berseri-seri di depannya.
Ya ampun … Tapi tanpa Len sadari, jantungnya berdebar kencang.
Fin
A.N
Haloo kaze hadiir dan kali ini akan membawa sesi Q/A tentang apapun dan akan akau jawab di chapter selanjutnya. kalian juga bisa mengirimkan prompt untuk kelanjutan drabble ini dnegan syarat setting ceritanya sesuai dengan hubungan tiap karakter di You and I, Under the starry sky, under firework, nine wishes, Musim panas terakhir hehehhe, dimana:
keluarga Shion: Kaito (ayah), Meiko (ibu), Gakupo (kakak Meiko yang udah meninggal), Gakupo (anak pertama), Miku (anak kedua), Mizki (anak bungsu) (perbedaan masing-masing usianya 3 tahun)
keluarga Kagamine: Rinto (ayah), Kokone (ibu), Len dan Rin (kembar, rin kakaknya)
Hatsune Mikuo (pacar Rin di masa depan, teman sekantor Len)
Len jiwa jurnalis (dan penyiar berita/wartawan di masa depan)
Rin (pengangguran)
Miku (masih kuliah tingkat akhir)
