Disclaimer : Akira Amano
Warning : Ini fanfic pertama yang author tulis. Author masih baru dan belum berpengalaman, mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Note : Cerita ini terjadi 3 tahun setelah para arcobaleno terlepas dari kutukan, dan sedikit berbeda dengan cerita di manga dan anime nya.
Seperti yang sudah saya tulis di cerita sebelumnya, jadi ceritanya Checker Face alias Kawahira-san adalah suami dari Sepira yang katanya dulu merupakan nenek moyang Yuni. Tetapi, disini kita akan menjadikan Sepira sebagai Ibu dari Luce, Aria, dan Yuni dan Kawahira adalah ayahnya. Begitu kutukan Arcobaleno lepas, Sepira, Luce dan Aria hidup kembali, tetapi di sini ketika 'mati' mereka sebenarnya hanya di tarik ke dimensi lain, makanya waktu mati fisik mereka ikut hilang.
Terima kasih untuk prof. creau atas reviewnya ya, saya senang sekali begitu membaca review pertama yang saya dapatkan. Saya sudah memebetulkan penulisan 'Itali' di sini menjadi 'Italia'. Sekali lagi terima kasih atas review, kritik dan sarannya. Sesuai janji, begitu saya mendapatkan satu review saya akan langsung mengupdate sesegera mungkin.
Oke, kita masuk ke cerita!
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Hibari Miyuki
.
.
.
Namimori, Jepang
Hari menjelang sore, seorang gadis tersenyum ceria melihat rumah bergaya Jepang di hadapannya. Tertulis nama 'HIBARI' di papan kayu dekat gerbang. Miyuki membuka gerbang itu dan mengetuk pintu rumah yang cukup besar itu beberapa kali dengan dada berdebar.
'Aku pulang!' batin Miyuki semangat. Sudah hampir setahun dia tidak pulang ke rumahnya itu. senyumnya bertambah lebar begitu mendengar suara langkah kaki yang diseret dari dalam mendekati pintu.
Begitu pintu terbuka, terlihat seorang laki-laki berumur tujuh belas tahun memakai kimono hitam berambut biru, bermata onyx dengan ekspresi stoic dan tatapan tajam. Namun, Miyuki sudah melompat untuk memeluk laki-laki itu begitu pintu dibuka sebelum laki-laki itu sempat melihat siapa orang yang menggangu tidur siangnya maupun bereaksi.
"Aku pulang Kyo-nii!" ucap gadis itu lembut masih memeluk kakak yang sangat disayanginya.
"Yuki," gumam Hibari dengan mata melebar kaget begitu menyadari bahwa orang yang berani mengganggu tidur siangnya adalah adiknya.
"Kyo-nii pasti lupa kalau aku pulang hari ini," Miyuki tersenyum sambil melepaskan pelukannya.
"Hn,"
"Aku kan sudah menelepon, kenapa tidak diangkat?"
Miyuki menarik kopernya masuk ke dalam rumah berniat membawanya ke kamar ketika dia merasakan tangan besar kakak nya berada di pegangan koper miliknya. Miyuki tersenyum dan membiarkan kakaknya membawakan koper miliknya. (seorang Hibari Kyoya mau membawakan barang orang lain?! Ternyata sebenarnya Kyoya itu sangat sayang adik yaa~ )
"Baiklah, lupakan pertanyaan tadi,"
Miyuki mengikuti kakaknya masuk ke dalam rumah dan menuju ke dapur untuk meletakkan oleh-oleh yang di bawanya.
"Miyuki~, Miyuki~," seekor burung kecil bulat berwarna kuning tiba-tiba saja terbang dan hinggap di bahu Miyuki.
"Hibird~," Miyuki ikut bersenandung dan mengelus pelan Hibird dengan jarinya yang dibalas dengan kicauan senang dan kepakan sayap.
Hibari tersenyum kecil melihat adik yang sudah lama tidak dilihatnya itu sedang bercanda dengan teman kecilnya.
"Kangen Miyuki~, kangen~," Hibird kembali berkicau.
"Waah, kamu lebih jujur dari pada Kyo-nii ya, coba kalau pemilikmu bisa lebih jujur," Miyuki tersenyum nakal sambil melihat Hibari yang tersenyum kecil menanggapi perkataan Miyuki.
"Mana mungkin aku bersikap seperti herbivore begitu," Hibari mendengus sambil duduk dan menyalakan TV.
Miyuki tersenyum menanggapi perkataan kakaknya dan membuat teh untuk dirinya dan kakaknya. Sambil menunggu airnya mendidih, Miyuki menyusun manju yang dibawanya di sebuah piring dan memberikan sedikit kepada Hibird yang dimakannya dengan gembira.
"Oh ya, Roll dimana?" tanya Miyuki sambil meletakkan teh yang sudah dituangkan dan kue yang sudah disusunnya di meja di hadapan Hibari.
Hibari mengulurkan tangannya dan seketika seekor landak kecil berduri putih keluar dari gelangnya.
"Gupii~," Roll mendongakkan kepalanya memandang Miyuki.
"Roll, lama tidak bertemu," Miyuki mengelus kepala Roll dengan jarinya.
Setelah meletakkan Roll dipangkuannya dan memberikan manjuu oleh-olehnya kepada Roll, yang diterima dengan senang, Miyuki memeperhatikan sekeliling ruangan itu.
"Tidak ada yang berubah di rumah ini," gumam Miyuki pelan sambil memeperhatikan taman dari pintu geser yang terbuka yang berada di belakang Hibari.
"Hn,"
"Aku senang bisa kembali lagi," tatapan Miyuki kembali melembut.
"Yuki," Hibari memanggil pelan Miyuki. Miyuki memandang kakaknya dengan pandangan bertanya. "Okaeri," kata Hibari tanpa mengalihkan pandangannya dari TV.
"Uhm, tadaima Kyo-nii," ucapnya sambil tersenyum lembut.
"Ah, Kyo-nii," Miyuki memanggil kakaknya, berusaha mendapatkan perhatiannya. Hibari menatap Miyuki dengan sebelah alis terangkat. "Apa benar tidak ada yang perlu kulakukan untuk masuk ke Namimori Gakuen? Bagaimana dengan berkas-berkas?"
"Tidak perlu. Sudah ada yang mengurus semua itu," Hibari kembali menatap TV yang sekarang sedang menayangkan Bird Discovery bersama Hibirid yang entah sejak kapan sudah hinggap di rambut Hibari.
Miyuki hanya bisa sweatdrop mendengar jawaban kakaknya. Hampir saja dia lupa bahwa kakaknya itu adalah orang yang paling di takuti di kota Namimori ini. Miyuki menghela nafas kecil sambil tersenyum.
"Baiklah, aku mau merapihkan barang-barangku dulu," ucap Miyuki sambil mengembalikan Roll kepada kakaknya.
Miyuki pergi menuju kamarnya meninggalkan Hibari yang masih menonton TV. Miyuki membuka sebuah pintu dengan papan berbentuk persegi berwarna hitam dan motif salju bertuliskan MIYUKI'S tergantung di pintu. Dia memperhatikan kamarnya yang tidak berubah sejak hampir setahun yang lalu dia kemari.
Diperhatikannya kamarnya yang bernuansa putih dan motif salju di dinding kamarnya. Miyuki berjalan menuju tempat tidur queen size nya dan menyentuh kasurnya. Miyuki tersenyum mengetahui kakaknya menjaga barang-barang miliknya dengan rapih. Dia berjalan menuju koper yang diletakkan oleh Hibari di sebelah lemari berwarna hitam dan membukanya.
Dirapihkannya semua baju-bajunya dan beberapa buku hingga hanya beberapa baraang yang tersisa. Miyuki memperhatikan beberapa barang yang tersisa itu sambil menghela nafas. Dia duduk di hadapan koper miliknya sambil menatap barang-barang yang tersisa di koper itu. Disentuhnya perlahan-lahan barang-barang di dalam kotak itu.
"Aku sudah tidak lagi cocok mengenakan warna putih dan motif salju," gumamnya pelan sambil mengeluarkan beberapa lembar surat dan membuka salah satu surat tanpa amplop hanya digulung dan diikat oleh sebuah tali.
Miyuki membuka tali itu dan melihat surat dengan dying will flame stamp di tangannya. Miyuki menggulung kertas itu dan mengikatnya kembali dengan tali. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
"Kyo-nii, kalau mau masuk kamar perempuan seharusnya kamu mengetuk dulu pintunya,"
"Hn, aku tidak menerima perintah dari siapapun," Hibari mendengus mendengar perkataan adiknya. Hibird terlihat tidur di atas kepala Hibari.
"Ini permintaan dan etika, bukan perintah," Miyuki menghela nafas lelah. Sudah lama tidak bertemu, ternyata sifat keras kepala kakaknya belum berkurang. Miyuki menyadari tatapan kakaknya yang terarah pada surat di tangan dan pangkuannya.
"Ini dari kouhai dan teman-teman ku, kakak mau baca?"
Hibari hanya mendengus perkataan adiknya. Miyuki tersenyum, tahu kalau dia mengatakan hal itu kakaknya tidak akan bertanya atau menyentuh surat-suratnya, karena menurut kakaknya surat-surat seperti itu pasti hanya berisis hal sentimental yang hanya dilakukan oleh herbivore.
"Kyo-nii mau pergi?" Miyuki tersadar melihat penampilan kakaknya yang mengenakan seragam dan sebuah arm band berwarna merah di lengan kirinya.
"Patroli," jawab Hibari singkat.
"Adikmu baru pulang setelah hampir setahun dan kamu mau meninggalkannya?" Miyuki mengerutkan dahinya menatap Hibari yang masih bersandar di pintu.
"Tidak lama," dengan satu kata itu Hibari menutup pintu kamar Miyuki. Tidak lama kemudian Miyuki dapat mendengar pintu depan ditutup. Perhatiannya kembali ke surat-surat di hadapannya.
"Dari kouhai dan teman-teman ya," gumam Miyuki pelan membuka salah satu surat.
Satu surat yang dia terima menyertai surat sebelumnya. Surat yang mengubah hidupnya dan dia rahasiakan dari kakaknya. Dia akhirnya merapihkan surat-surat itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak kayu kecil.
"Tidak boleh, kalau begini nanti bisa ketahuan Kyo-nii! Aku harus bersikap biasa," Miyuki berdiri dan berjalan menuju cermin. Dia menatap pantulan dirinya yang memakai kaus biru muda dan rok selutut dengan warna senada. Rambutnya masih di hiasi dengan pita putih yang dipakainya.
Tiba-tiba dia melihat pantulan dirinya dengan baju dan jubah hitam yang bagian bawahnya sudah tersobek tidak rata. Pita yang tadinya hanya di ikat menyerupai bando sekarang mengikat rambutnya yang melewati bahu dengan model pony tail.
Miyuki menggelengkan kepalanya dan melihat bayangan di cermin kembali seperti semula. Dia berjalan keluar kamar, menuju dapur berniat mengambil segelas air. Dia membuka lemari es dan menatap isis kulkas itu lama.
"Baiklah, karena sudah lama tidak masak, malam ini aku yang akan membuat makan malamnya," Miyuki tersenyum dan mengeluarkan beberapa bahan makanan dari lemari es.
Miyuki tersenyum senang membayangkan makan malamnya bersama kakak tersayang setelah sekian lama. Setelah ini dia tidak harus pergi lagi. Dia bisa terus berada di rumah ini.
Continue…
XXXXX
Hai minna~
Terima kasih sudah mau membaca kelanjutan LSIA ini! *menunduk sedalam-dalamnya
Maaf untuk yang mengharapkan Karin (Ririn) akan sedikit muncul di chapter berikutnya, tapi untuk lebih banyak kemunculannya akan ada di beberapa chapter ke depan.
Nah, seperti sebelumnya, bagi yang ingin membaca kelanjutan chapternya saya minta review readers sekalian dan saya akan dengan segera meng-update chapter selanjutnya.
Sekali lagi, terima kasih banyak Readers! *kembali membungkuk dalam.
