Disclaimer : Akira Amano

Note : Cerita ini terjadi 3 tahun setelah para arcobaleno terlepas dari kutukan, dan sedikit berbeda dengan cerita di manga dan anime nya.

Warning : Ini fanfic pertama yang author tulis. Author masih baru dan belum berpengalaman, mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Kyaaaa~ Begitu membaca review kalian seneng banget / sampe loncat-loncat! #lebay. Begitu membaca review prof. creu aku jadi ganti namaku nih biar nggak bingung. Panggil aja Sacchan. Biasanya temen-temen Sacchan suka panggil gitu sih.

Zee Ritsu12 : Oke Ritsu-san, Sacchan akan memberikan penjelasan untuk cerita-cerita selanjutnya. Oh ya, Sacchan juga baru di sini, jadi nggak usah pake senpai .

Hikage Natsuhimiko: Apakah Miyuki dan Ririn saling kenal? Itu rahasia!#plak#dipukul karena bikin kesel. Itu akan ada di beberapa chapter ke depan, sepertinya sedikit lama, tapi Sacchan minta kamu tetep dukung Sacchan ya~

Prof. creu: Kyaa~ kamu review lagi! Sacchan senang melihat nama kamu di dafatar review /. Panggil aja aku Sacchan yaa prof. creu! Iya nih, sesuai janji, begitu ada yang review, Sacchan akan langsung mengupdate cerita ini. Ehehehe… Sacchan berusaha supaya Hibari nggak terlalu OOC gitu, semoga nggak ya. Iya nih, Sacchan kan fans beratnya Hibird (kyaaa!) bulet, kecil, kuning, bisa ngomong, coba kalo ada yang jual, pasti Sacchan langsung pelihara tuh! /. Kalau tentang Hibari, sebenarnya Sacchan sempat memikirkan hal yang sama, 'bagaimana kalau Miyuki lagi ganti baju?', tapi sudahlah, nanti mungkin anda akan tahu.

Nah Minna~

Chapter ini sedikit lebih panjang dari chapter lainnya, selamat menikmati~

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Today, Everything Start

.

.

.

Giglio Nero Famiglia HQ, Italia

"Apa benar tidak apa-apa?"

Entah sudah yang keberapa kalinya, Dino bertanya sambil menatap adiknya dengan tatapan memelas di depan pintu Giglio Nero Famiglia. Ririn hanya menatap Dino dengan tatapan datar sambil mengelus Enzo di tangannya..

"Tenang saja, kami akan menjaga Ririn," sang boss Giglio Nero, Yuni, tersenyum berusaha menenangkan sang boss Cavallone.

Dikarenakan tradisi Giglio Nero Famiglia, perempuan termuda yang lahir di Famiglia yang menjadi boss Giglio Nero. Maka, Yuni sebagai yang termuda memagang jabatan sebagai boss dari Giglio Nero Famiglia.

"Ririn tidak apa-apa sudahlah, Kakak pergi saja,"

"Tapi...,"

Ririn menghela nafas. Dino memang sering pergi, tapi tidak pernah lama. Sister complex nya kumat begitu dia mau pergi ke Jepang. Dino memang sengaja mengantarkan Ririn ke tempat Giglio Nero sehari sebelum mereka berangkat dan bermalam di sana. Sayang, Kawahira dan Sepira yang mempunyai hobi berjalan-jalan mengelilingi dunia itu sedang berpergian entah kemana meninggalkan anak perempuan mereka.

Tetapi saat sudah waktunya untuk Dino pergi ke Jepang dia masih belum rela meninggalkan adiknya selama berbulan-bulan. Ririn berjalan menuju Dino dan memeluknya, berusaha menghilangkan kekhawatiran yang ada pada diri Dino.

"Ririn bukan anak kecil dan bukankah Ririn adik Kakak? Kakak harus percaya pada Ririn," kata Ririn sambil memasukkan Enzo ke dalam kantung jaket Dino.

Dino memperhatikan Ririn yang masih berekspresi datar namun matanya seakan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Dino membalas pelukan Ririn dan melepaskannya. Dia mengeluakan sebuah ponsel berwarna silver dan memberikannya pada Ririn.

"Telepon Kakak jika terjadi sesuatu, jaga dirimu baik-baik," Dino mengusap rambut Ririn lalu masuk ke dalam mobil berwarna merah yang sejak tadi sudah menunggunya.

"Kakak, hati-hati. Romario, jangan pernah meninggalkan Kakak ya, supaya Kakak tidak melakukan kecerobohan," kata Ririn begitu Dino masuk ke dalam mobil.

"Hei, aku hanya sedikit ceroboh," Dino merajuk mendengar perkataan adiknya yang ditanggapi dengan tawa kecil oleh Romario.

"Iya, iya. Pokoknya hati-hati," Ririn membalas tidak acuh sambil melambaikan tangannya pada mobil yang mulai berjalan yang di balas oleh Dino sambil memegang Enzo.

"Jepang ya, aku juga mau bertemu dengan Tsuna, Paman Reborn dan yang lainnya," kata Yuni yang sudah berdiri di sebelah Ririn.

"Ririn juga mau bertemu mereka," gumam Ririn pelan sambil memasukkan ponsel yang di berikan Dino ke dalam saku jaketnya. Dia membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Luce dan Aria.

"Mohon bantuannya selama beberapa minggu ke depan, Giglio Nero Famiglia," kata Ririn sambil menundukkan kepalanya pada Luce, Aria, dan Yuni yang berniat masuk ke dalam rumah, atau lebih tepat di bilang mansion.

"Sudahlah, tidak perlu seformal itu, lagi pula kamu aka di sini selama beberapa bulan kan? Kenapa jadi beberapa minggu?" Luce dengan senyumnya yang seperti matahari tersenyum pada Ririn.

"Ada tempat yang ingin kudatangi setelah beberapa minggu,"

"Apa Dino tahu? Apa tidak apa-apa?" tanya Aria.

"Tidak apa-apa, aku sering ke tempat itu kok," jawab Ririn. 'saat Kakak tidak kembali ke mansion,' tambahnya di dalam hati.

"Baiklah, ayo kita bersenang-senang!" kata Aria ceria sambil menarik tangan Ririn dan Yuni diikuti oleh Luce dengan tawa kecil.

XXX

Namimori, Jepang

Seminggu kemudian….

"Kyo-nii sudah mau pergi?" Miyuki melihat kakaknya yang sudah membawa tas menuju pintu depan.

"Hn,"

"Bawa ini," Miyuki yang tadinya sedang mencuci piring bekas sarapan mereka mengambil sebuah bento yang di bungkus kain berwarna biru tua kepada kakaknya.

"Hn,"

Miyuki memperhatikan kakaknya yang pergi terlebih dahulu dan menghela nafas.

Flash back seminggu yang lalu….

Tahun ajaran baru sudah dimulai, hari ini adalah hari pertama Miyuki memasuki Namimori Gakuen. Miyuki berniat menyusul kakaknya yang sudah akan pergi ke sekolah ketika kakaknya berbicara.

"Yuki, jangan pergi ke sekolah bersamaku,"

Miyuki menghentikan langkahnya dan menatap kakaknya bingung. Hibari hanya melihat Miyuki dari ekor matanya.

"Kamu juga dilarang menyapaku di sekolah,"

Miyuki menatap kakaknya dengan dahi berkerut.

"Karena kakak ditakuti di sekolah dan di juluki sebagai 'Iron Hammer'?"

Hibari tidak menjawab dan berjalan keluar rumah tanpa sedikitpun menoleh. Miyuki menghela nafas mengetahui alasan kakaknya tidak mau siswa lain tahu bahwa Miyuki adalah adiknya. Sejak hari itu, Miyuki selalu berangkat terpisah dengan kakaknya.

End of flash back

XXX

Sudah hampir satu bulan sejak tahun ajaran baru di mulai, murid-murid kelas satu pun sudah saling mengenal bahkan terkenal. Tak terkecuali Miyuki. Hanya dalam jangka waktu kurang dari satu bulan dia sudah berhasil membuat banyak siswa dan siswi terpesona olehnya bahkan dia sampai memiliki fans club tersendiri dan sudah banyak menerima surat cinta. Sayang, Miyuki tidak sadar dan tidak peduli pada hal seperti itu.

"Miyuki-sama, selamat pagi,"

"Miyuki-san, selamat pagi!"

"Miyuki-chan, pagi!"

"Selamat pagi,"

Begitu memasuki gerbang sekolah Miyuki langsung disambut dengan salam oleh para senior maupun teman-teman angkatannya. Miyuki membalas salam mereka dengan senyuman lembut seperti biasa, yang membuat hampir semua siswa dan siswi merona.

"Hee, hebat sekali anak kelas satu itu,"

Yamamoto yang sedang bersender di jendela melihat Miyuki dari kelasnya bersama Tsuna, Gokudera, Kyoko, Hana dan Enma.

"Oh, Miyuki-chan?" Kyoko mengikuti pandangan Yamamoto yang menunjuk seorang gadis cantik berambut hitam.

"Kyoko, kamu tahu anak itu?" Hana mendekati jendela untuk melihat Miyuki,

"Dia cukup terkenal, anak-anak di klubku sering membicarakannya," Kyoko tersenyum manis yang membuat hampir semua siswa di kelas itu merona.

"Miyuki? Siapa nama lengkapnya?" Hana bertanya kepada sahabat karibnya itu.

"Entahlah, sepertinya yang tahu nama lengkapnya hanya guru. Bahkan katanya guru-gurupun hanya memanggilnya 'Miyuki-san'," Kyoko menjawab sambil meletakkan satu jarinya di dagu, berusaha mengingat rumor yang di dengarnya tentang Miyuki.

'Imutnya..' sebagian besar siswa kelas itu-lagi-lagi- merona melihat sikap Kyoko yang sangat imut itu, termasuk sang boss Vongola, Tsuna.

"Heh, gadis aneh," Gokudera kali ini menimpali.

"Maa~ dia cukup misterius ya," Yamamoto, dengan senyum cerianya yang biasa berkomentar.

Bel masuk berbunyi, mereka pun duduk di tempat mereka masing-masing. Hanya Tsuna yang tetap di tempatnya karena mejanya memang berada di dekat jendela. Tsuna mengalihkan pandangannya menatap luar dan melihat ke bawah saat tatapannya bertemu dengan Miyuki.

Miyuki berdiri di tengah-tengah halaman sekolah yang mulai sepi karena bel sudah berbunyi, balas menatap Tsuna dengan senyum di wajahnya dan membungkukkan badannya yang di balas dengan anggukan kepala dengan canggung oleh Tsuna. Setelah itu Miyuki masuk ke dalam gedung sekolah.

'Apa benar dia baru saja memberi salam padaku?' Tsuna membatin. Dia mengira Miyuki memberikan salam kepada orang lain, tapi dia mengingat Miyuki yang balas menatapnya lurus. Begitu guru pelajaran pertama masuk, Tsuna sudah melupakan Miyuki.

"Vongola Decimo, aku ingin bertemu denganmu," gumam Miyuki sambil berjalan menuju kelasnya diikuti tatapan sang prefek.

XXX

Bel istirahat berbunyi. Sebagian siswi ada yang menghampiri Miyuki dan mengajaknya makan bersama, tetapi ditolak dengan halus oleh Miyuki karena ada satu hal yang harus dia kerjakan. Miyuki mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya. Sudah beberapa minggu kertas itu ada di dalam tasnya.

Miyuki memandang kertas yang dipegangnya dengan bingung. Kertas berisi formulir pendaftaran ekskul itu sudah dia isi, hanya ada satu bagian yang kosong, yaitu nama ekskul yang akan dia masuki. Sebenarnya ada beberapa ekskul yang pernah dia ikuti saat masih di Cattleya seperti senam, ikebana (klub merangkai bunga), choir, menari dan upaca minum teh. Sebenarnya, ada sebuah ekskul yang sangat ingin di coba Miyuki, tetapi dia sedikit ragu untuk mencobanya.

Tiba-tiba sebuah nama terlintas di kepala Miyuki. Bayangan seseorang dengan arm band berwarna merah bersulam benang berwarna emas muncul di kepalanya. Miyuki tersenyum senang -yang membuat fansnya yang memperhatikannya melting- sambil berdiri, membawa kotak bentonya dan berjalan menuju sebuah ruangan.

Beberapa siswa menatap Miyuki dengan pandangan tidak percaya saat melihat gadis itu berdiri di depan pintu bertuliskan 'Reception Room'. Dia mengetuk pintu beberapa kali dan mendengar suara yang sangat familier baginya. Miyuki membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum. Dia melihat kakaknya sedang duduk dan di hadapannya berdiri seseorang yang dikenal Miyuki sebagai tangan kanan kakaknya, Kusakabe Tetsuya.

"Selamat siang, Tetsuya-senpai," Miyuki sedikit membungkuk yang langsung dibalas oleh Kusakabe.

Miyuki mengenal Kusakabe sejak kakaknya itu masih Nami middle. Terkadang saat Miyuki sedang pulang dari asramanya dia mengajak Kusakabe yang setia menemani kakaknya yang galak makan bersama. Selama liburan kemarin, Miyuki juga mengajak Kusakabe makan bersama dengan alasan merayakan kepulangannya.

"Kyo-nii," Miyuki berjalan menuju Hibari dan mengulurkan kertas yang di bawanya ke hadapan Hibari. Hibari menatap Miyuki dengan sebelah alis terangkat.

"Aku mau mendaftar sebagai anggota komite kedisiplinan!"

Hibari menatap adiknya dengan dahi berkerut. Miyuki menatap kakaknya tanpa berkedip.

"Tidak boleh," jawab Hibari cepat.

"Kenapa?" sekarang Miyuki yang menatap kakaknya dengan dahi berkerut.

"Komite kedisiplinan khusus untuk siswa laki-laki,"

"Diskriminasi!"

"Memang,"

Miyuki menatap kakaknya dengan tatapan memohon. Hibari segera mengalihkan pandangannya menuju kertas-kertas yang ada di tangannya.

'Curang!' Miyuki membatin begitu Hibari kembali menatap berkas-berkas di tangannya.

Miyuki tahu, Hibari akan meloloskan permintaannya jika dia menatap Miyuki lebih lama. Walau dijuluki sebagai setan Namimori sekalipun, Hibari tidak pernah menolak permintaan Miyuki jika sudah memasang wajah seperti itu, oleh karena itu untuk mencari aman, Hibari segera mengalihkan pandangannya dari Miyuki.

Miyuki menghela nafas pasrah sambil menarik kembali kertas itu. Sebenarnya, dia tahu alasan utama Hibari menolak permintaannya. Hibari tidak mau adiknya itu terluka. Menjadi siswi di Namimori Gakuen selama hampir sebulan cukup bagi Miyuki untuk mengetahui apa saja yang dilakukan oleh komite kedisiplinan yang di tangani oleh kakaknya. Dia lalu berjalan menuju sofa dan duduk di sana sambil membuka bungkusan bentonya.

"Apa yang kamu lakukan?" Hibari mengalihkan pandangannya dari kertas di hadapannya dan menatap Miyuki.

"Aku melakukan apa yang terlihat," jawab Miyuki sambil merajuk.

Hibari menatap adiknya yang merajuk sambil menyeringai kecil. Miyuki berdiri dan menghampiri Hibari.

"Karena Kyo-nii tidak membolehkanku bergabung dengan komite kedisiplinan, Kyo-ni harus menemaniku makan siang," kata miyuki sambil mengambil kertas di tangan Hibari, meletakkannya di atas meja dan menarik tangan kakaknya.

Hibari tidak berkata apa-apa selain mengambil bento di sudut mejanya dan mengikuti adiknya yang masih menarik tangannya menuju sofa.

"Saya akan membuatkan teh," ucap Kusakabe sambil berjalan menuju sebuah teko dan gelas yang berada di sudut ruangan. Kusakabe mendengar Miyuki mengucapkan terima kasih dan tersenyum kecil.

Kusakabe tersenyum kecil melihat Iinchou-nya yang menurut kepada adiknya. Sebaliknya, walaupun Miyuki memiliki image sebagai seorang lady yang feminine dan lembut, tetapi jika terhadap kakaknya dia bisa menjadi manja dan seperti anak kecil.

"Hanya hari ini saja," ucap Hibari sebelum memakan bentonya yang dibalas dengan anggukan kepala dan senyuman oleh Miyuki.

"Miyuki~Hibari~"

Mereka makan dengan tenang saat Hibird masuk dari jendela dan hinggap di bahu Miyuki. Miyuki memberikan sedikit makanan yang ada di bentonya kepada burung kecil itu.

"Rasanya sedikit aneh jika Hibird memanggil Kyo-nii dengan Hibari. Aku kan juga Hibari," kata Miyuki saat sedang menyuapi Hibird.

"Hn,"

"Kyoya, Kyoya," Miyuki menunjuk Hibari kepada Hibird yang sekarang hinggap di tangannya.

"Hibari?" Hibird memiringkan kepalanya menatap majikannya. Miyuki tertawa kecil, gemas melihat tingkah Hibird yang sangat imut.

Bel istirahat selesai berbunyi. Miyuki merapihkan bentonya dan meletakkan Hibird di bahu Hibari.

"Yuki," Miyuki menghentikan langkahnya saat memegang kenop pintu dan memandang kakaknya. "formulir itu harus kamu serahkan hari ini, atau I'll bite you to death," kata Hibari tenang yang sudah duduk kembali kursinya.

Kusakabe hanya sweatdrop mendengar perkataan Iinchou-nya yang tidak pandang bulu itu. Miyuki tertawa kecil mendengar perkataan kakaknya.

"Tenang saja, akan kuserahkan pada guru sepulang sekolah," ucapnya sambil membuka pintu.

Begitu Miyuki duduk di kursinya, teman-teman sekelasnya langsung menghampirinya.

"Miyuki-san, apa yang kamu lakukan di ruangan komite kedisiplinan?"

"Aku mendaftar sebagai anggota," jawaban Miyuki membuat teman-teman sekelasnya menahan nafas. "tapi ditolak, katanya komite kedisiplinan di sini hanya menerima laki-laki," tambahnya.

"Miyuki-chan, kamu tidak…..'digigit sampai mati' olehnya?" tanya salah seorang murid perempuan.

"Tidak," Miyuki tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Kenapa kamu lama sekali berada di dalam sana?" seorang murid kembali menimpali.

"Rahasia," Miyuki tersenyum misterius sambil memiringkan kepalanya menatap siswa yang tadi bertanya, membuat semua siswa dikelas itu hampir mengalami nose bleed massal.

Tidak lama kemudian semua murid kembali ke tempat duduknya masing-masing karena seorang guru sudah memasuki kelas dan bersiap menyampaikan materi.

XXXXX

"Permisi,"

Miyuki memasuki ruang guru dan berjalan menuju meja salah seorang guru dan membawa setumpuk kertas yang berisi tugas murid di kelasnya dan meletakkannya di meja guru tersebut.

"Oh, Miyuki-san terima kasih bantuannya," ucap seorang guru pria melihat Miyuki meletakkan setumpuk kertas di mejanya. Miyuki membalas ucapan terima kasih guru itu sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya.

Miyuki berjalan menuju wali kelasnya dan memberikan formulir klub yang akan diikutinya.

"Oh, pembimbing klub surat kabar memang jarang datang, tapi tak apa, saya akan menyampaikannya kepada Fukushima-sensei,"

"Hai, terima kasih banyak, sensei. Kalau begitu, saya permisi," ucap Miyu sambil tersenyum dan membungkuk lalu berjalan keluar dari ruang guru.

"Miyuki-san itu manis sekali ya, dia selalu tersenyum dan sopan," ucap seorang guru wanita yang sempat bertatapan dengan Miyuki dan diberikan senyuman olehnya.

"Ya, dibandingkan kakaknya itu. Tidak bisa dipercaya ternyata setan Namimori memiliki adik yang seperti malaikat begitu," ucap seorang guru pria yang sudah tua.

Guru-guru di ruangan itu menyetujui di dalam hati sambil menganggukkan kepala mereka. Mereka sudah takut ketika mendengar setan Namimori itu memiliki adik dan akan bersekolah di sana. Mereka sudah memikirkan hal terburuk yang akan terjadi mengingat kakaknya seperti itu. namun mereka sangat lega mengetahui sang adik ternyata sangat baik, sopan dan lembut, sungguh berkebalikan dengan sifat kakaknya.

XXXXX

"Hanya segini saja uang yang kau punya? Dasar tidak berguna!"

Seorang senior kelas tiga menendang sorang siswa berwajah muram pendek dan berambut merah dengan banyak plester di wajahnya. Dua orang temannya tertawa. Mereka lalu ikut menendang siswa berambut merah itu dan pergi meninggalkannya sambil tertawa.

"Aduh," siswa yang ditinggalkan itu berusaha berdiri sambil berpegangan pada dinding di belakangnya.

"Kozato Enma-senpai?"

Sebuah suara lembut membuat Enma mendongakkan kepalanya dan memandang seroang gadis cantik bermata onyx berambut hitam yang berdiri di hadapannnya dengan wajah khawatir.

"Siapa?"

"Ah, kelas 1-A, Miyuki," Miyuki memperkenalkan diri sambil mengeluarkan sapu tangan dan menyeka darah di wajah Enma. "sebaiknya kita ke UKS untuk merawat luka senpai."

"Tidak perlu, terima kasih," Enma menghentikan tangan Miyuki yang membersihkan darah di wajahnya.

"Tapi jika dibiarkan begini bisa infeksi dan akan membuat khawatir orang rumah,"

Enma menghentikan gerakannya dan memandang Miyuki. Jika dia pulang dengan keadaan seperti ini, pasti Adelheid akan khawatir. Enma akhirnya berjalan menuju UKS tanpa bicara diikuti Miyuki. Enma membuka pintu UKS dan menemukan ruangan itu kosong.

"Kelihatannya guru yang bertugas sudah pulang. Senpai duduklah, aku akan mengambil air dan es," ucap Miyuki sambil berjalan kelaur UKS. Tidak lama kemudian dia kembali membawa sebaskom air es.

"Aku tidak menemukan kain bersih, pakai sapu tangan ku saja ya," ucap Miyuki sambil memebersihkan wajah dan tangan Enma yang kotor terkena tanah.

"Aku tidak mengenal mu," ucap Enma tiba-tiba.

"Aku tahu, Kozato Enma-senpai," Miyuki tersenyum mendengar perkataan Enma, tidak menghentikan kegiatannya.

"Aku tidak tahu kalau aku seterkenal itu di kalangan kouhai,"

"Kozato Enma-senpai selalu bersama dengan Sawada Tsunayoshi-senpai, Gokudera Hayato-senpai dan Yamamoto Takeshi-senpai kan?"

"Tidak usah memanggilku dengan nama lengkap begitu," Enma mengerutkan dahinya mendengar Miyuki memanggil nama lengkapnya berulang-ulang.

"Baik, Kozato-senpai," ucap Miyuki masih melanjutkan kegiatannya. "aku mengetahui nama hampir semua senpai di sekolah ini, jadi tidak perlu heran."

"Selesai," ucap Miyuki sambil memperharikan plester di wajah Enma dan perban di tangannya.

Enma baru akan membuka mulutnya ketika mendengar suara kicauan burung yang familier. Ternyata itu adalah suara ponsel Miyuki karena Miyuki langsun membuka ponselnya dan mengangkat teleponnya.

"Ya, Kyo-nii?"

Enma memperhatikan Miyuki yang menerima telepon tidak sampai satu menit setelah itu menutup ponselnya dan berdiri.

"Maaf, senpai aku harus pulang," kata Miyuki sambil memberi salam dan membungkuk.

Enma hanya memperhatikan Miyuki saat gadis itu berjalan keluar dari UKS. Gadis itu membalikkan badannya tersenyum dan membungkuk.

"Sampai bertemu lagi, Shimon Decimo," gumam Miyuki, namun dapat dengan jelas terdengar oleh Enma di tempat yang sepi itu.

Enma mengangkat kepalanya menatap pintu yang sudah di tutup, matanya melebar kaget dan badannya masih membatu di tempat. Saat dia tersadar dan membuka pintu ruang UKS itu, Enma hanya menemukan lorong yang sepi.

Enma menghela nafas dan kembali ke dalam UKS untuk mengambil tasnya yang ada di kursi saat dia melihat sesuatu di dalam baskom. Sebuah saputangan berwarna abu-abu dengan motif kelelawar hitam di sudutnya. Enma mengambil saputangan milik Miyuki yang tertinggal dan memasukkannya ke dalam kantung blazernya, berniat mengembalikannya kepada gadis itu jika mereka bertemu lagi. Enma melihat jam dinding di UKS dan memutuskan untuk kembali ke rumah sebelum Adelheid khawatir. Sepasang mata berwarna onyx mengamati Enma yang berjalan di koridor dari balik tembok.

"Bagaimana? Awal yang cukup bagus kan?" Miyuki bersender pada tembok menatap seorang batita (karena kutukannya sudah lepas dan sudah tiga tahun berlalu berarti Reborn menjadi batita kan?) yang memakai jas dan topi fedro.

"Ya, lumayan," Reborn menyeringai mendengar perkataan Miyuki.

"Aku harus pulang, aku belum menyiapkan makan malam," Miyuki berdiri tegak, merapihkan bajunya yang sedikit kusut sebelum melangkah ke koridor.

"Miyu, jangan lupa dengan tugasmu. Aku sudah memberikan kelonggaran untuk memberikanmu 'libur' dari misi sesuai permintaanmu, sudah waktunya kamu kembali melakukan tugasmu," Reborn membalikkan badannya. "jangan lupa, untuk mencapai keinginanmu harus ada yang di korbankan," ucap Reborn sebelum menghilang dari balik tembok.

Miyuki menghentikan langkahnya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dia memperhatikan rambut hitam kakaknya dan bulu kuning Hibird yang tidur di atas kepala kakaknya yang masih berada di ruangannya. Tatapannya berubah menjadi sedih begitu juga dengan senyumnya.

"Aku tahu, sangat tahu, Reborn. Harus ada yang ku korbankan," gumamnya.

Miyuki memasukkan tangannya ke dalam kantung dan mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kelelawar berwarna hitam. Miyuki mencium jepit itu sambil bergumam pelan.

"Kyo-nii, maaf,"

Miyuki memasukkan jepit rambut itu dan dalam sekejap ekspresi wajahnya kembali tenang seperti sebelumnya. Langkah kakinya terdengar di koridor yang sepi itu.

XXXXX

Giglio Nero Mansion, Italia

"Apa ini?"

Ririn menatap satu set benda asing di hadapannya. Di sampingnya berdiri Luce di kirinya dan Aria di kanannya. Yuni berdiri di sebuah lemari baju yang sangat besar dan mengambil beberapa beberapa gaun melihat dan melemparkannya dan melakukan hal yang sama berulang-ulang.

"Karena sepertinya Dino-san tidak mengajarimu tentang hal-hal yang berkaitan dengan perempuan, kami akan mengajarimu!"

Aria tersenyum ceria sambil mengambil alat rias di hadapan Ririn dan menjelaskan satu persatu kegunaannya.

"Ririn tidak membutuhkan ini," Ririn menatap benda-benda dihadapannya tanpa minat.

"Jangan bilang begitu, sebagai seorang perempuan kamu setidaknya harus menguasai hal ini," kali ini Luce mulai mengambil sebuah bedak dan mennyapukannya di wajah Ririn.

"Ririn, pakai gaun ini! Kamu selalu memakai celana dan tidak pernah memakai rok!" Yuni menyodorkan sehelai gaun berwarna biru lembut kepada Ririn.

"Ririn dulu selalu pakai gaun," gumamnya pelan yang tidak di dengar oleh Luce, Aria maupun Yuni sebelum mengambil gaun yang di berikan oleh Yuni dan memakainya.

Ririn sebenarnya berniat pergi dari tempat itu, tetapi melihat Luce, Aria dan Yuni terlihat bersemangat mendandaninya, dia hanya pasrah. Dia tidak ingin melihat mereka kecewa atau sedih.

Satu jam kemudian…

"Kyaa~, imutnya!"

Entah, sudah yang keberapa kalinya Ririn berganti-ganti baju dan hanya pasrah di dandani oleh Luce dan Aria, sedangkan Yuni memberikannya berbagai macam gaun, dari yang simple dan polos hingga gaun berenda-renda seperti yang dia pakai sekarang ini.

Ririn menatap pantulan dirinya di cermin besar di ruangan itu. Gaun yang dipakainya bermodel lolita berwarna pink pastel dengan renda di lengan, pinggang, dada dan ujung roknya yang mencapai lutut Ririn. Dia juga memakai stocking selutut dan sebuah sepatu berwarna senada dengan bajunya. Rambutnya yang biasanya dibiarkan tergerai sekarang dikuncir dua dengan pita berenda berwarna senada.

"Mirip boneka, imutnya~"

Dengan wajah imut, mata bulat dan besar serta rambut hitam pekat Ririn memang sangat mirip dengan boneka, ditampah dengan wajahnya yang selalu tanpa ekspresi. Ditambah dengan pakaian yang dia kenakan sekarang, jika dia hanya duduk diam pasti orang-orang akan mengiranya boneka sunggguhan.

"Sempit,"

Ririn menarik gaun bagian depannya. Bagian dada gaun itu terdapat tali-tali yang menyilang dan menekan bagian dada. Luce memperhatikan Ririn sesaat. Dan memeriksa gaun itu.

"Ukuran dadamu sepertinya tidak cukup untuk gaun ini," Luce akhirnya memberi kesimpulan sambil membantu Ririn membuka gaun yang di pakainya.

"Wah, untuk anak seumuranmu pertumbuhanmu cukup pesat ya," ucap Aria sambil melihat mengukur dada Ririn menggunakan meteran-yang entah dari mana dia dapat- dan melihat hasilnya.

"Ririn, aku tahu ini hal yang aneh untuk ditanyakan, tapi apa Dino-san membelikanmu bra?" Yuni yang berdiri di sebelah Aria menatap Ririn dengan alis terangkat.

"Apa itu?"

Dan, dengan satu kata itu mereka mengetahui jawabannya.

"Dari mana kamu mendapatkan ini?"

Aria menunjuk mini set yang dipakai Ririn.

"Saat pertama kali Ririn datang ke Cavallone mansion, Kakak menyuruh maid untuk menyiapkan semua barang yang Ririn butuhkan,"

"Bukankah itu tiga tahun yang lalu?"

Ririn hanya menatap mereka dengan pandangan bingung. Aria menghela nafas.

"Untung yang kau pakai ukuran free size," Aria lalu berdiri dari duduknya. "Yuni, suruh seorang maid untuk membelikan Ririn bra," Aria memandang dada Ririn sekilas. "ukuran C cup." Tambahnya sambil menghela nafas.

Yuni menuruti perintah kakaknya. Tidak lama kemudian dia kembali ke kamar dan menatap dada Ririn, lalu dadanya.

JIII~

"Tenang saja, dadamu juga akan tumbuh pada waktunya," Aria tiba-tiba muncul disampingnya.

"Aku tahu," Yuni menghela nafas dan berjalan mendekati Ririn. "Sambil menunggu, ayo kita lanjutkan yang tadi."

Ririn hanya menghela nafas melihat mereka mulai mendandani dirinya lagi. Entah akan berapa lama lagi dia harus bersabar menjadi 'boneka'.

Continue…

XXXXX

Kata-kata asing

Bento: bekal ala jepang yang biasanya berisi nasi dan lauk pauk seperti kaarage (ayam goreng), tamagoyaki (telur dadar gulung yang manis), sosis, dan beberapa makanan lainnya.

Senpai: panggilan untuk senior

Maaf, Zee Ritsu12! Saya benar-benar bingung dengan kata-kata asing mana yang harus saya cantumkan artinya, akhirnya saya hanya menuliskan dua kata asing di atas. Saya akan berusaha lagi di chapter selanjutnya!

Readers sekalian, terima kasih banyak sudah mau membaca sampai chapter ini!

Sebenarnya saya cukup bingung di cerita ini antara mau menulis tentang Enma atau Yamamoto, tapi saya akhirnya memutuskan untuk memakai Enma dalam cerita ini.

Setelah ini saya hanya akan membuat sedikit adegan Ririn saat tinggal dengan Giglio Nero Famiglia, jadi untuk sementara inti cerita akan di fokuskan pada Miyuki.

Oke, seperti biasa saya akan segera mengupdate begitu ada satu review, terima kasih!