Disclaimer : Akira Amano
Warning : Author masih baru dan belum berpengalaman, mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Note : Cerita ini terjadi 3 tahun setelah para arcobaleno terlepas dari kutukan, dan sedikit berbeda dengan cerita di manga dan anime nya.
Waaiii~ Sacchan seneng deh udah ada yang mereview
Hikage Natsuhimiko: Hikage-san terima kasih sudah merview~. Sacchan tidak menyangka ada yang membaca cerita Sacchan secepat itu. Sacchan terima dukungannya dengan sepenuh hati~ terima kasih, Hikage-san#membungkuk dalam.
Nah, Minna-san, ayo kita masuk ke cerita~
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Encounter
.
.
.
Giglio Nero Mansion, Italia
"Jadi, kamu belum mendapatkan haid pertamamu?"
Sudah beberapa hari ini Luce, Aria dan Yuni mengajarkan Ririn tentang hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Dari kosmetik, gaun, perhiasan, perawatan dan saat ini, mereka sedang mengajarkan hal yang biasa terjadi pada perempuan.
"Apa itu?"
Ririn menatap Luce yang memegang suatu plastik berbentuk kotak seperti bantal mini yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan Luce dan Aria menghela nafas dan mulai menjelaskan dengan cara mereka apa itu 'haid'. Ririn hanya menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Dan ini," Luce membuka plastik yang tadi di pegangnya dan menunjukkan sesuatu yang pada bagian atasnya di lapisi kapas atau kain tipis. "kamu memakai ini saat sedang haid, Ririn," Luce memberikan penjelasan dan, lagi-lagi Ririn hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan mereka.
"Sepertinya dia akan sedikit terlambat untuk anak seumurannya," Aria menghela nafas sambil menepuk kepala Ririn.
"Tenang saja, Ririn. Aku juga baru pertama kali 'haid' tahun lalu," Yuni menepuk punggung Ririn menenangkan. Ririn hanya menganggukkan kepalanya.
"Perempuan itu merepotkan ya," Ririn berkata dengan datar seperti ekspresi wajahnya.
"Hei, kamu itu juga perempuan," Aria sweatdrop mendengar perkataan Ririn.
XXXXX
Namimori, Jepang
"Kyo-nii, aku pergi sebentar ya," Miyuki mengetuk pintu kamar kakaknya beberapa kali sebelum kakaknya membuka pintu kamarnya.
"Aku mau ke tempat Rika-nee," jawab Miyuki melihat tatapan kakaknya.
Menjadi adik dari seorang Hibari Kyoya membuatnya bisa memiliki kemampuan membaca pikiran kakaknya walaupun kakanya tidak berbicara apapun atau hanya menjawab dengan 'Hn'. Hibari yang memang tidak suka banyak bicara cukup senang dengan kemampuan adiknya itu.
"Kembali sebelum sore," ucap Hibari sebelum menutup pintu kamarnya kembali.
Miyuki hanya menganggukkan kepalanya walaupun kakaknya tidak bisa melihat dirinya. Miyuki berjalan meninggalkan pintu kamar kakaknya.
XXXXX
"Ara~ Yuki-chan, lama tidak bertemu! Silahkan masuk," seorang perempuan berusia dua puluhan tersenyum melihat Miyuki berdiri di depan pintu kamarnya.
Miyuki menghampiri perempuan berambut cokelat lembut dengan panjang sedada itu dan duduk di kursi yang berada di samping tempat tidurnya.
"Selamat pagi, Rika-nee, lama tidak bertemu. Maaf aku baru bisa datang sekarang," Miyuki tersenyum melihat perempuan yang memiliki aura keibuan di depannya.
"Tidak apa-apa Yuki-chan, aku cukup senang kamu datang ke sini," ucap Rika sambil mengelus kepala Miyuki lembut. Miyuki tersenyum mendengar perkataan Rika.
"Lagi pula, hanya kamu satu-satunya yang mau datang ke rumah di tempat terpencil di dalam hutan ini," ucap Rika sambil tertawa.
"Ya, kalau tiga belas tahun yang lalu aku tidak penasaran untuk mendatangi rumah yang dijuluki rumah berhantu Namimori ini mungkin sekarang aku tidak mengenal Rika-nee," jawab Miyuki sambil tersenyum mengingat kejadian delapan tahun yang lalu.
Flash back delapan tahun yang lalu….
"Rumah berhantu?"
Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun menatap seorang anak perempuan berusia tujuh tahun dengan rambut dikat model ekor kuda
"Um, teman-teman bilang di dekat hutan ada sebuah rumah putih yang berhantu," Miyuki memperhatikan kakaknya yang sekarang sedang menyentuh beberapa anak yang lebih tua darinya tergeletak di tanah dengan ujung sepatunya.
Bukan hal aneh bagi Miyuki melihat kakaknya diserang dan mengalahkan anak-anak yang badannya lebih besar dan lebih tua darinya.
"Miyu, kamu terlalu banyak bermain dengan para herbivore itu,"
"Kyo-nii, ayo kita lihat rumah itu,"
Miyuki menarik tangan kakaknya yang terangkat, hampir memukul salah seorang anak yang kelihatannya pemimpin dari bocah lainnya.
"Pergi saja sendiri,"
Hibari menurunkan tangannya dan berjalan meninggalkan anak-anak itu. Anak yang hampir di pukul oleh Hibari tadi menatap Miyuki dengan pandangan terima kasih dan langsung berlari dari tempat itu bersama teman-temannya. Hibari melihat mereka berlari dari sudut matanya.
"Kyo-nii takut?"
Hibari menghentikan langkahnya mendengar perkataan Miyuki. Dia membalikkan badannya dengan alis terangkat.
"Kyo-nii jadi semakin mirip dengan herbivore-herbivore itu kalau takut dengan hantu," ucap Miyuki sambil menghela nafas.
"Jangan samakan aku dengan herbivore-herbivore itu," Hibari kembali membalikkan badannya. "Dimana rumah itu?"
Miyuki menyeringai mengetahui rencananya berhasil. Kakaknya yang mempunyai harga diri tinggi tentu saja tidak mau di samakan dengan para herbivore-herbivore yang menurutnya lemah itu. Miyuki mengikuti kakaknya sambil memberitahu kakaknya rumah yang disebutkannya tadi.
Setelah lama berjalan, Miyuki dan Hibari menemukan rumah yang mereka cari, sayang pintu gerbangnya di kunci. Hibari memanjat gerbang yang juga berwarna putih itu yang diikuti oleh Miyuki. Mereka melihat ada sebuah jalan kecil di samping rumah itu dan mengikutinya. Ternyata jalan itu menuju pada sebuah taman bunga yang luas. Ada sebuah meja bulat dan kursi di sudut taman yang dinaungi oleh sebuah pohon besar, menjadikannya teduh.
"Wah, ada tamu rupanya,"
Miyuki dan Hibari seketika melihat ke arah asalnya suara. Seorang perempuan cantik yang terlihat berusia belasan berdiri di pintu kaca yang terbuka.
"Siapa kau?" Hibari dengan segera berdiri di depan adiknya dengan sikap defensive. Perempuan itu tertawa melihat sikap Hibari.
"Bukankah kalian yang masuk ke halaman rumahku?" tanyanya sambil mengangkat alisnya.
"Kyo-nii, dia benar," Miyuki berjalan maju ke sebelah Hibari dan membungkukkan badannya. "maaf, kami hanya ingin menyelidiki rumah hantu Namimori."
"Rumah hantu Namimori, eh? Padahal sudah dua tahun aku tinggal di sini," ucap gadis itu sambil menghampiri Miyuki dan Hibari. Dia berjongkok di hadapan Miyuki dan Hibari.
"Namaku Rika," Rika memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.
"Namaku Miyuki, panggil saja Yuki, dan ini kakakku, Kyoya," Miyuki membalas uluran tangan Rika. Hibari hanya menatap perempuan di depannya dengan tanjam yang dib alas dengan senyum oleh Rika.
"Kalau begitu, Yuki-chan, Kyoya-kun, karena kalian sudah berada di sini maukah kalian menemaniku minum teh bersama?"
Sejak hari itu Miyuki sering mendatangi rumah itu, terkadang bersama sendiri, terkadang bersama dengan kakaknya yang ditarik paksa untuk ikut menemaninya. Bahkan miyuki yang tadinya bersikap seperti laki-laki mulai bersikap sedikit feminine karena terpengaruh oleh sikap lembut Rika. Sedangkan Hibari, berbeda dengan sikapnya pada orang dewasa lainnya, Hibari memang tetap menatap tajam dan mengeluarkan ancaman tetapi dia tidak pernah melakukan lebih dari itu.
End of flashback
XXXXX
"Aku tidak menyangka dua tahun setelah pertemuan kita kamu harus tinggal di rumah paman dan bibimu," Rika memandang langit dengan mata menerawang.
"Ya," Miyuki kembali teringat kematian ibunya setahun setelah pertemuannya dengan Rika.
"Apa Kyo-nii tidak pernah datang ke sini?"
Miyuki bertanya pada Rika sambil menyesap tehnya. Sekarang mereka berada di taman belakang rumah Rika. Berapa kalipun datang ke rumah itu. Miyuki tidak pernah sekalipun bosan dengan pemandangan taman itu.
"Kyoya-kun? Tidak pernah, tapi aku sering mendengar berita tentangnya dari Yamada-san dan Reiko jika mereka membeli bahan-bahan yang habis. Kyoya-kun sangat terkenal ya,"
Miyuki hanya tertawa garing mendengar perkataan Rika. Entah, berita seperti apa yang di terima Rika dari Yamada dan Reiko. Tiba-tiba, Yamada, butler Rika, datang dan memberikan sebuah surat kepada Rika. Rika tersenyum cerah membaca nama pengirim surat itu.
Miyuki sudah bisa menebak siapa pengirim surat itu dan hanya tersenyum melihat reaksi Rika. Miyuki sangat yakin bahwa surat itu berasal dari seseorang di Italia.
"Apa orang itu sudah pernah datang mengunjungi Rika-nee lagi?"
"Tidak," Rika memandang bunga-bunga di taman itu dengan tatapan menerawang. "Aku tahu dia pasti sangat sibuk sekarang," Rika lalu memandang Miyuki sambil tersenyum.
Miyuki menyadari ada kesedihan di mata dan senyuman Rika walaupun Rika berusaha menutupinya.
"Tidak apa-apa, aku percaya padanya," Rika menambahkan, melihat ekspresi wajah Miyuki yang mengkhawatirkannya. "dia memang bukan pria yang lembut dan tidak bisa dibilang 'baik', tetapi dia adalah orang yang sangat serius terhadap pekerjaannya, kuat, dan tidak pernah tergoyahkan, dan hal itulah yang kusukai darinya."
Melihat Rika tersenyum lembut seperti itu membuat Miyuki ikut tersenyum. Miyuki memandang langit yang semakin sore.
"Rika-nee, sepertinya aku harus pulang sekarang. Aku harus membuat makan malam,"
Miyuki berdiri dari kursinya diikuti oleh Rika. Sebelum Miyuki melangkahkan kakikny keluar dari rumah itu, Rika memanggilnya.
"Yuki-chan, jangan memaksakan diri,"
Miyuki membalikkan tubuhnya dan mendapati Rika tersenyum lembut. Senyum yang sama seperti yang diberikan oleh Suster Kepala sebelum dia meninggalkan Cattleya. Senyum yang mengandung rasa keibuan dan kelembutan. Miyuki hanya tersenyum dan membungkukkan badannya sekilas mendengar perkataan Rika sebelum melanjutkan perjalanannya.
XXXXX
Sekolah berjalan seperti biasanya, baik itu Tsuna yang selalu menjadi korban dari rencana Reborn, Yamamoto yang selalu ceria dan setia pada baseball, Gokudera yang selalu berusaha menjadi 'tangan kanan Juudaime' yang baik, Hibari yang 'menggigit mati' setiap siswa yang melanggar peraturan, maupun Miyuki yang dikelilingi oleh fansnya.
Setiap orang pasti memiliki orang yang tidak disukainya, begitu juga dengan Miyuki. Walaupun sebagaian besar perempuan mengaguminya, tetapi ada juga yang merasa iri dengannya. Miyuki sedang berjalan di belakang sekolah saat istirahat siang, dengan kamera tergantung di lehernya. Dia baru saja bergabung dengan klub jurnalistik dan berniat mencari berita untuk klubnya saat tangannya di tarik menuju belakang gudang oleh sekelompok siswi senior.
"Jangan sombong kamu hanya karena banyak laki-laki yang suka padamu!"
"Kami tidak suka dengan sikapmu yang sok manis itu!"
Sekitar lima orang siswi perempuan mengelilingi Miyuki yang disudutkan ke tembok. Walaupun di ancam dan di caci maki oleh para siswi itu, Miyuki tidak menunjukkan sedikitpun rasa takut.
"Apa ada perbuatan saya yang membuat senpai-tachi merasa tersinggung?"
Miyuki bertanya masih dengan nada lembutnya dan senyum di wajah. Para siswi itu merasa kesal dan diremehkan oleh Miyuki sehingga salah seorang yang terlihat seperti pemimpin siswi-siswi itu menarik rambut Miyuki. Miyuki memicingkan matanya menahan sakit. Teman-temannya tertawa melihat Miyuki kesakitan.
"Kamu sengaja memakai pita berwarna putih ini karena merasa suci?"
Siswi yang tadi menarik rambut Miyuki berniat mengambil pita putih putih di kepala Miyuki saat tangan Miyuki menggenggam pergelangan tangannya yang bergerak mengarah pita di rambutnya.
Siswi itu melihat raut wajah Miyuki yang tadinya tertutup oleh sebagian rambut yang ditariknya. Wajahnya berubah mengeras dan matanya berkilat berbahaya. Senyum yang tadi ada di wajahnya menghilang. Siswi yang tadi menarik rambut Miyuki sudah melepaskan tangannya yang menarik rambut Miyuki, wajahnya berubah menjadi pucat. Dia berusaha menarik tangannya yang berada dalam genggaman Miyuki, tetapi genggaman Miyuki lebih kuat membuat tangannya mati rasa.
"Jangan kalian berani menyentuh pita ku," ucap Miyuki dengan nada dingin yang membuat siswi-siswi di sekitarnya mundur karena takut. Tangan Miyuki baru berniat bergerak ke balik bajunya saat dia mendengar suara.
"Hei, apa yang kalian lakukan?"
Seketika pandangan mereka mengarah pada segerombolan anak yang berdiri tidak jauh di sana.
"Gawat, itu Yamamoto-kun dan Gokudera-san," seorang siswi yang berdiri di belakang bergumam.
Miyuki menurunkan tangannya dan melepas genggamannya, membuat para siswi itu langsung melarikan diri dari tempat itu meninggalkan Miyuki.
"Kamu tidak apa-apa?"
Miyuki mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk dan memandang empat siswa di depannya. Di depannya berdiri Yamamoto, Gokudera, Enma dan Tsuna. Miyuki membersihkan seragamnya lalu tersenyum sambil membungkukkan badannya.
Mereka kaget melihat siswi yang mereka tolong ternyata adalah siswi yang belum lama ini mereka bicarakan. Enma hanya menatap gadis itu tanpa berkata apapun.
"Tidak apa-apa, terima kasih. Kalau senpai-tachi tidak datang, saya tidak tahu apa yang akan terjadi," 'Pada mereka,' sambungnya di dalam hati.
"Maa, maa, baguslah kalau kamu tidak apa-apa," Yamamoto dengan senyumnya yang biasa tersenyum kepada Miyuki.
"Yamamoto-senpai, Gokudera-senpai, Sawada-senpai, Kozato-senpai, terima kasih banyak atas pertolongannya," Miyuki tersenyum sambil menatap mereka satu-persatu.
"Hiee, kamu mengenal kami?" Tsuna menunjuk dirinya kaget.
"Yamamoto-senpai ace klub baseball dan Gokudera-senpai jenius matematika," Miyuki mengarahkan pandangannya pada Tsuna, Tsuna yakin dia melihat seberkas kilat di mata Miyuki sesaat.
"Sawada-senpai sering melakukan hal-hal yang 'luar biasa' tiba-tiba," Tsuna hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar perkataan Miyuki. Tsuna sangat yakin kalau itu saat Reborn menembaknya dengan dying will bullet. Miyuki mengarahkan pandangannya pada Enma dan tersenyum sambil membungkukkan badannya.
"kita bertemu lagi, Kozato-senpai,"
"Eh, kamu mengenalnya, Enma?"
Sekarang semua mata tertuju pada Enma. Enma hanya membalas salam Miyuki dengan anggukan kepala.
"Dia pernah merawat lukaku," Enma menjawab dengan singkat. Seakan teringat sesuatu, Enma mengeluarkan sesuatu dari dalam kantungnya. Sebuah saputangan berwarna abu-abu dengan motif kelelawar. "ini tertinggal di UKS," ucapnya sambil memberikan saputangan itu pada Miyuki.
"Terima kasih," Miyuki mengambil saputangan miliknya dari Enma sambil tersenyum.
"Hei, apa yang mereka lakukan tadi padamu?" tiba-tiba Gokudera yang sejak tadi diam mulai bicara.
"Eh, mereka hanya sedikit mengancamku,"
"Tidak mungkin mereka hanya mengancammu," kali ini Gokudera menatap Miyuki dengan tajam.
"Maa, maa, karena dia tidak apa-apa, jadi tidak apa-apa kan," Yamamoto menepuk bahu Gokudera beeberapa kali membuat Gokudera merasa kesal.
"Baseball idiot, jangan sok akrab denganku!" Gokudera mengeluarkan dinamit dan bersiap melemparkannya pada Yamamoto.
"Hieee! Gokudera-kun, tolong jangan berkelahi di sini!" Tsuna mulai panik melihat Gokudera mengeluarkan dinamitnya.
"Huh, baiklah kalau Juudaime bilang begitu," Gokudera baru akan memasukkan kembali dinamitnya ketika semak-semak di sebelah mereka keluar dan sesuatu meloncat ke dekat kaki Gokudera.
"Ciaossu!"
Ternyata itu adalah Reborn yang memakai kostum rerumputan. Gokudera yang kaget melempar dinamitnya hingga terlempar ke arah Miyuki.
"Bahaya!"
BOMM
Tsuna berteriak, tapi terlambat. Dinamit-dinamit itu sudah meledak. Asap menutupi pandangan mereka dari Miyuki.
"Miyuki-chan!"
Begitu asap menghilang mereka melihat Miyuki berdiri di tempatnya tanpa terluka, hanya sedikit terbatuk-batuk sambil memeluk kamera yang tergantung di lehernya.
"Miyuki-chan, tidak apa-apa?"
"Juudaime, maafkan aku!"
Tsuna dan Gokudera langsung berlari ke arah Miyuki. Miyuki menatap mereka sambil tersenyum.
"Aku tidak apa-apa, kembang api tadi tidak mengenaiku kok," ucapnya sambil tersenyum. Tsuna hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar perkataan Miyuki yang menganggap dinamit itu sebagai kembang api. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Reborn menendang kepala Tsuna.
"Reborn, apa yang kamu lakukan!" Tsuna mengusap kepalanya yang sakit karena ditendang Reborn.
"Tsuna, kesalahan bawahanmu adalah kesalahanmu, kamu yang harus menerima hukumannya," Reborn berkata dengan tenang sambil duduk di salah satu dahan pohon.
Sementara itu, Enma menatap Miyuki dengan curiga. 'Ternyata benar dia bukan perempuan biasa. Aku melihat dua dinamit tadi mengenai tubuhnya,' batin Enma sambil mengamati Miyuki.
"Tanganmu terluka!" Gokudera menunjuk pergelangan tangan Miyuki yang berdarah.
"Ah, sepertinya sedikit terkena kembang api tadi," Miyuki langsung mengelap darah yang keluar dari luka di tangannya. "aku tidak apa-apa." Miyuki tersenyum lembut kepada Gokudera, berusaha menghilangkan rasa bersalah yang terlihat di wajahnya.
"Tapi aku tidak menyangka kalau senpai mengetahui namaku," Miyuki merubah topik pembicaraan, dia menatap Tsuna. "Sawada-senpai tadi memanggilku 'Miyuki-chan'," ucapnya.
"Ah, karena kamu terkenal di kalangan senior, dan kami tidak tahu nama belakangmu, maaf kalau terdengar tidak sopan," Tsuna mengusap lehernya canggung.
"Tidak apa-apa kok, aku tidak keberatan," Miyuki tersenyum yang membuat Tsuna menghela nafas lega.
"Tapi kami dengar tidak ada yang mengetahu nama keluargamu selain guru, kalau boleh tahu, kenapa begitu?" kali ini Yamamoto tidak bisa menyembunyikan rasa penasannya dan bertanya.
"Ah, itu karena-," belum selesai Miyuki mengatakan apapun, ada sebuah suara yang sangat familier bagi mereka.
"Kalian berkerumun dan membuat keributan di sekolah ini, I'll bite you to death."
"Hieee!"
Tiba-tiba Hibari muncul di belakang mereka diikuti dengan Hibird yang hinggap di dahan pohon sebelah Reborn. Sepasang tonfa sudah bersiap di kedua tangannya yang terangkat. Tanpa aba-aba dia menyerang Yamamoto yang berada di dekatnya, untunglah Yamamoto memiliki refleks yang bagus sehingga dia bisa menghindari serangan tiba-tiba Hibari.
"Kyo-nii!"
Tiba-tiba Miyuki berada di belakang Hibari dan memeluknya dari belakang, yang membuat semua orang di situ-kecuali Reborn- kaget dengan tindakan Miyuki.
"Heh, kamu sekarang jadi herbivore dengan berkerumun dengan mereka, Yuki?"
Hibari mendengus sambil menurunkan tonfanya dan membalikkan badannya menatap Miyuki.
"Orang yang kamu panggil dengan herbivore itu baru saja menolong adikmu ini, jadi jangan 'gigit' mereka,"
"EEHH? Adik?!" Tsuna berteriak kaget mendengar percakapan antara Miyuki dan Hibari. Ketiga orang yang bersamanya pun kaget mendengar hal itu.
"Ah, aku belum sempat memperkenalkan diri. Perkenalkan, namaku Hibari Miyuki, tapi kalian panggil saja Miyuki karena," Miyuki memandang kakaknya sekilas."sepertinya 'Hibari' sudah identik dengan Kyo-nii."
"Maa, maa, aku tidak tahu kamu punya adik, Hibari-san,"
"Hibari-san punya adik?"
Mereka menatap kedua orang di hadapannya. Memang kalau dilihat mereka berdua sangatlah mirip. Rambut raven, mata onyx dan kulit yang putih pucat. Tetapi, sifat mereka sangatlah- perlu di ulangi- SANGAT tidak mirip. Hibari tidak pernah tersenyum, yang pernah dilakukannya adalah menyeringai yang terlihat-sangat-tidak bersahabat dan 'mengigit' orang sampai mati, sedangkan sepanjang penglihatan mereka Miyuki adalah gadis lembut yang murah senyum.
"Iya, , aku baru kembali sebulan yang lalu karena selama ini aku bersekolah di asrama khusus putri di Tokyo." Miyuki menjawab dengan riang.
'Di Tokyo? Pantas saja tidak ada yang tahu Hibari punya adik,' batin mereka.
Reborn menyeringai melihat reaksi mereka. Dia melompat turun dari dahan dan mendarat di antara Miyuki-Hibari dan Tsuna dkk (maaf, auther males nulis).
"Miyuki-chan,"
"Reborn-san,"
Sekarang semua mata tertuju pada Miyuki dan Reborn.
"Miyuki-chan, kamu mengenal Reborn?" Tsuna yang heran karena tutornya selalu mengenal setiap orang yang ditemuinya bertanya pada Miyuki.
"Ya, Reborn-san sering ke rumah saat Kyo-nii sedang patroli di hari libur,"
'Pantas akhir-akhir ini dia tidak kelihatan saat hari libur,' Tsuna membatin di dalam hati.
"Reborn-san juga sering menceritakan kalian dan permainan Vongola itu. aku tidak menyangka Kyo-nii mau ikut dalam permainan mafia itu,"
'Eeehh? Ternyata dia menganggap itu permainan seperti Yamamoto dulu!' batin mereka sambil sweatdrop mendengar pekataan Miyuki.
"Cukup bicaranya," Hibari berkata dengan tatapan tajam dan aura membunuh. "berkerumun dan berisik di dekatku, I'll bite you to death," ucap Hibari sambil menyerang Tsuna.
"Hiiieee!" Tsuna melompat menghindari serangan Hibari. Gokudera sudah bersiap dengan dinamitnya saat Miyuki menarik lengan baju kakaknya.
"Kyo-nii, hentikan!"
TRAKKK
Semua mata tertuju pada Miyuki yag baru saja diserang Hibari. Mata mereka melebar kaget karena tidak menyangka Hibari akan menyerang adiknya sendiri. Tetapi apa yang mereka dengan barusan bukanlah suara tonfa yang mengenai tubuh orang, tetapi seperti besi beradu dengan besi.
"Aku tidak mendengar perintah dari siapapun," ucap Hibari dengan aura membunuh yang tidak berkurang.
Mereka melihat Miyuki dengan nafas tertahan yang menahan tonfa Hibari dengan sebuah obeng dengan besi hitam dan garis putih bergelombang seperti ukiran salju di gagangnya.
"Mereka sudah menolongku,"
"Aku tidak peduli,"
Hibari berusaha menghantam adiknya denga tonfa di tangannya yang satu lagi saat Miyuki memajukan badannya dan membisikkan sesuatu.
"Tch!" Hibari mendecih dan memasukkan tonfanya dengan kesal lalu berjalan meninggalkan mereka yang masih mematung tanpa mengatakan apapun.
"Mi-Miyuki-chan, aku tidak menyangka Hibari akan memukulmu," Tsuna akhirnya membuka mulutnya begitu Hibari sudah tidak terlihat.
"Karena, Kyo-nii bilang kalau menahan serangannya saja aku tidak bisa, aku tidak pantas menjadi adiknya," Miyuki menjawab sambil memasukkan obeng yang di pegangnya ke dalam bajunya sambil tersenyum.
Mereka semua lagi-lagi hanya sweatdrop mendengar perkataan Miyuki. Hibari ternyata tidak pandang bulu dalam menyerang. Bahakan adiknya pun dia hantam. Sekarang mereka sedikit heran karena bisa-bisanya Miyuki menjadi gadis yang lembut-walaupun mungkin tidak seperti yang terlihat mengingat dia bisa menahan serangan tonfa Hibari- dan murah senyum.
"Senpai-tachi, maafkan Kyo-nii ya," Miyuki membungkukkan badannya kepada Yamamoto, Tsuna, Gokudera, dan Enma.
"Maa, maa, karena tidak ada yang terluka, jadi tidak apa-apa," Yamamoto menepuk bahu Miyuki menenangkannya. Miyuki menegakkan tubuhnya dan menatap para senpainya.
"Benar, itu bukan salahmu. Si battle maniac itu yang salah," Gokudera berusaha menenangkan Miyuki walaupun terlihat tidak acuh. Sepertinya dia merasa bersalah karena tangan Miyuki terluka. Miyuki tersenyum mendengar panggilan Gokudera untuk kakaknya-yang memang maniak bertarung.
"Senpai-tachi, terima kasih," Miyuki menatap mereka semua sambil tersenyum lembut.
Yamamoto, Tsuna, Gokudera bahkan Enma sempat blushing melihaat senyum Miyuki.
"Ne, Miyuki-chan, apa yang tadi kamu bisikkan pada Hibari-san?" tanya Tsuna penasaran. Biasanya tidak ada yang bisa membuat Hibari berhenti, kecuali jika sesorang menjanjikan lawan yang lebih kuat untuknya seperti yang pernah Dino dan Reborn lakukan, tetapi melihat ekspresinya, sepertinya bukan itu hal yang dikatakan oleh Miyuki.
"Ah, itu…." Miyuki mengalihkan pandangannya dengan senyum canggung. Bel masuk berbunyi, Miyuki lallu langsung terburu-buru pergi meninggalkan tempat itu.
"Ah, aku akan kembali ke kelasku sekarang, permisi," Miyuki membungkukkan tubuhnya sebelum pergi meninggalkan mereka.
"Berbeda sekali dengan Hibari-san," kata Tsuna sambil melihat Miyuki memasuki gedung sekolah.
"Tapi aku penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Miyuki-chan pada Hibari," ucap Yamamoto dengan senyum cerianya yang biasa.
Dalam hati mereka semua menyetujui ucapan Yamamoto. Ada sesuatu yang misterius dari gadis itu, tetapi mereka tidak tahu apa itu. Bahkan, hyper intuition Tsuna dapat merasakan bahwa ada hal yang tidak biasa dari gadis itu, tetapi entah kenapa dia merasa bukan hal yang berbahaya. Enma masih menatap gadis itu dalam diam. Walaupun dia mengetahui siapa gadis itu tetapi dia masih penasaran dengan kata-kata gadis itu sebelumnya.
'Sampai bertemu lagi, Shimon Decimo,'
Enma berusaha menghilangkan kata-kata Miyuki dan menganggap itu karena Miyuki mendengar cerita Reborn dan menganggap Enma juga terlibat permainan itu. Enma lalu mengikuti teman-temannya yang berjalan menuju kelas mereka.
Di balik tembok, seorang gadis dengan tangan terangkat dan kamera di depan wajah menatap kepergian ke empat orang itu. Miyuki menurunkan kamera yang di pegangnya begitu objek yang baru saja di fotonya menghilang memasuki gedung. Dia lalu melihat gambar yang baru saja di ambilnya.
"Kamu sudah merencanakan semuanya,"
Tiba-tiba kotak pemadam kebakaran yang ada di sebelah Miyuki terbuka, Reborn berada di dalam kotak itu, duduk dengan secangkir kopi di tangannya. Miyuki seakan sudah mengetahu hal itu, tidak menunjukkan keterkejutan sama sekali.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan Reborn-san," ucap Miyuki sambil tersenyum, tidak mengalihkan matanya dari kamera yang dipegangnya.
"Kalau tadi mereka tidak datang, kamu pasti sudah menjadi 'Miyu',"
Mendengar perkataan Reborn tanpa sadar tangan Miyuki terangkat menyentuh pita putih di rambutnya, senyumnya lenyap berganti dengan helaan nafas. Pita putih yang di berikan kakaknya sebelum mereka berpisah enam tahun yang lalu.
"Kamu benar,"
"Tidak kusangka kamu juga mengambil resiko dan mengorbankan tanganmu,"
Reborn menyeringai sambil melihat tangan Miyuki yang terluka. Kejadian tadi bisa berakibat fatal kalau Miyuki tidak bisa memperhitungkan daya ledak dinamit yang dilempar Gokudera dan dengan ceroboh menerimanya.
"Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, kita harus mengorbankan sesuatu kan?" Miyuki tersenyum mengatakan hal yang lebih seperti pernyataan dibandingkan pertanyaan itu. "Dengan begini, satu hal sudah selesai, selanjutnya….," Miyuki mengangkat kameranya ke arah seorang pria muda berkacamata berambut pirang sedang mengajar di salah satu jendela kelas dua dan memfotonya. Sesekali dia tertawa dan menjatuhkan bukunya.
"Miyuki, sudah waktunya kamu kembali bertugas, ada pekerjaan untukmu," tiba-tiba Reborn menyodorkan surat pada Miyuki, membuyarkan lamunannya.
Miyuki menatap surat itu sesaat sebelum mengambilnya dan membalikkan tubuhnya, meninggalkan Reborn dan menuju kelasnya. Reborn hanya menatap Miyuki sambil menurunkan topi fedoranya.
XXXXX
Giglio Nero Mansion, Italia
"Sekarang, kita akan belajar memasak!"
Saat ini Luce, Aria, Yuni dan Ririn berada di dapur. Mereka masing-masing memakai apron berwarna biru, kecuali Aria.
"Ini bukan bidangku," ucapnya sebelum duduk di salah satu kursi di ruangan itu.
Ririn hanya memandang peralatan di depannya dengan bingung. Luce meletakkan sebuah laptop di meja di depan Aria dan memutar video cara membuat kue cokelat.
"Nah, sekarang, ayo kita buat kue nya!"
Akhirnya mereka menyiapkan bahan-bahannya dan membuat kue cokelat.
"Ririn! Pisau, pisaumu terbalik!" Yuni berseru panik melihat Ririn memotong cokelat dengan pisau yang bagian tajamnya mengarah ke atas.
"Oh," Ririn lalu membalik pisaunya dan kembali memotong cokelatnya.
Tidak lama kemudian, mereka mencampurkan berbagai macam penambah rasa ke dalam adonan mereka seperti vanilla, madu, cinnamon dan lain-lain.
"Ririn, apa yang baru saja kamu masukkan ke adonanmu?" Aria yang memperhatikan Ririn memasukkan suatu bubuk berwarna ungu yang-Aria sangat yakin- tidak ada di antara bahan-bahan di meja.
"Penambah rasa," jawab Ririn singkat. Aria hanya menatap adonan Ririn dengan tidak yakin.
Lima belas menit kemudian mereka selesai membuat adonan dan memasukkannya ke dalam oven.
"Nah, sekarang ayo, kita buat icing dan hiasannya!"
Luce lalu mengeluarkan beberapa bahan-bahan. Mereka pun kembali membuat icing dengan tenang sampai mereka mendengar seruan Aria.
"Hoi, benda cokelat apa yang tadi kamu masukkan ke dalam adonan icing?" Aria sekarang semakin curiga dengan bahan-bahan yang di pakai Ririn dalam membuat kue. Apakah Ririn berniat membuat masakan seperti Bianchi?
"Penambah rasa," jawab Ririn-lagi-lagi- dengan singkat. Aria hanya bisa sweatdrop dan berharap kue yang di buat Ririn setidaknya tidak beracun.
"Sudahlah, kamu terlalu khawatir Aria. Ini kan pertama kalinya Ririn memasak, mungkin dia memasukkan bahan-bahan yang dikiranya cocok dengan kuenya," ucap Luce sambil tersenyum.
'Iya, tapi kalau kita berakhir keracunan kan tidak lucu!' Aria mengerang di dalam hati.
Begitu kue mereka matang, mereka pun mulai menghias kue mereka masing-masing.
"Wah, hebat! Kamu yakin ini pertama kalinya kamu membuat kue, Ririn?" Yuni bertanya sambil melihat hasil kue Ririn.
Berbeda dengan Luce dan Yuni yang memberi hiasan simple dengan whip cream, sedikit icing dan menghias dengan beberapa strawberry atau ceri, kue Ririn seperti sebuah taman kecil. Dia menghias bagian samping kue cokelatnya menyerupai sulur, di bagian pinggir kue itu dia membuat hiasan daun, beberapa bunga mawar mini dan bagian tengahnya terdapat mawar putih besar yang di tengahnya diletakkan ceri dan di taburkan strawberry yang di potong kecil-kecil.
"Cantik sekali," Luce memandang kue itu dengan kagum. "rasanya jadi sayang untuk dimakan."
"Tunggu, yang penting rasanya, bukan penampilannya kan?" Aria, walau sebenarnya juga menganggap karya Ririn cantik, masih mengingat bahan-bahan aneh yang di masukkkan oleh Ririn ke dalam adonan.
"Kalau begitu di coba saja," Ririn lalu mengambil empat buah piring dan garpu kecil, lalu memotong kue itu. Aria untuk sesaat ragu memakan kue itu, tetapi tetap memakannya dengan mata tertutup.
"Enak!" Aria membuka matanya, tidak menyangka rasanya akan seenak itu.
Cokelatnya terasa penuh dan tidak terlalu pekat. Kuenya terasa lembut dan tidak terlalu manis, cocok dengan cokelat dan icing nya yang terasa sedikit manis.
"Kukira kamu tidak pernah masak?" Yuni menatap Ririn sambil memakan kuenya.
"Memang, tapi memasak sama seperti membuat ramuan. Kalau kita mencampurkan bahan yang benar, maka ramuan kita akan berhasil, kalau gagal, maka," Ririn menghentikan kata-katanya melihat Luce, Aria dan Yuni memandangnya dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
"Membuat 'eksperimen' yang biasa kamu lakukan berbeda dengan membuat kue, " Aria mneggumam sambil sweatdrop mendengar penjelasan Ririn.
"Lagi pula tadi aku sudah melihat bagaimana cara membuatnya, jadi mudah saja untukku membuat yang sama," Ririn menunjuk laptop Luce yang masih ada di meja.
Mereka memandang laptop itu dan melihat kue yang ada di contoh sama persis dengan yang di buat Ririn. Sebuah 'taman kecil'.
"Aku lupa kalau Dino-san pernah bilang bahwa adiknya itu jenius dalam hal apapun," Luce bergumam.
"Kukira dia berkata begitu karena sister complex nya," Aria bergumam.
Mereka menatap jenius-dalam-segala-hal di hadapan mereka yang sedang memakan kue buatannya dengan tenang. Sepertinya, mereka akan mengajarkan lebih banyak hal lagi pada gadis itu.
Coninue…..
XXXXX
Kata asing
Senpai : senior,
Senpai-tachi : senior sekalian, semuanya. (-tachi digunakan untuk orang jamak, ex: anata-tachi: kalian semua)
Readers yang sudah bersedia membaca, Sacchan benar-benar berterima kasih karena kalian mau membaca cerita Sacchan, juga untuk ghost readers#membungkukkan badannya.
Sacchan berusaha mengupdate pada hari yang sama dengan review pertama setelah chapter baru dimasukkan, tapi jika tidak sempat Scchan akan berusaha agar update tidak lebih dari seminggu setelah review pertama. Sacchan mengupdate cerita di malam hari, jadi kalian bisa melihatnya di atas jam 8 malam. Maaf, untuk chapter selanjutnya sepertinya akan sedikit memakan waktu karena Sacchan sedang sedikit buntu.
Sacchan sedikit heran karena sepertinya setiap chapter ceritanya menjadi semakin panjang saja, tetapi Sacchan harap readers tidak keberatan ya. Oh ya, readers inget kan waktu Prolog Ririn membuat 'eksperimen' campuran bahan-bahan tidak jelas? Nah, salah satu hasil 'eksperimen' itu yang di masukkan Ririn ke dalam kue buatannya~.
Apakah kalian penasaran dengan apa yang dibisikkan oleh Miyuki hingga membuat Hibari pergi walaupun tidak rela? Jawabannya ada di chapter selanjutnya~#dijitak karena bikin penasaran.
Nah, Minna, untuk membaca chapter selanjutnya, ayo direview lagi~ (sebenernya untuk ngulur waktu update karena author sendiri masih membuat chapter berikutnya)
