Disclaimer : Akira Amano

Warning : Author masih baru dan belum berpengalaman, mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Note : Cerita ini terjadi 3 tahun setelah para arcobaleno terlepas dari kutukan, dan sedikit berbeda dengan cerita di manga dan anime nya.

Hikage Natsuhimiko: Waah, kamu setia banget baca LSIA ini ya, makasih sudah mereview~. Ehehehe, Sacchan seneng deh kamu gemes sama Miyuki. Miyuki adalah Hibari yang jadi actor? Menurut Sacchan sih Miyuki tuh dalemnya Reborn, luarnya Hibari, habis rencananya itu kalo menyangkut orang lain kayak Reborn. Benar sekali! Yang difoto oleh Miyuki terakhir adalah Dino! Waah, Sacchan juga suka banget sama Ririn yang polos~

Nah, Minna-san, ayo kita masuk ke cerita~

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Rika, Miyuki and Tonfa

.

.

.

Giglio Nero Mansion, Italia

"Apa yang kalian lakukan?"

Yuni baru saja pulang dari Giglio Nero HQ saat melihat Luce dan Ririn di ruang tengah dengan laptop di hadapan mereka, buku disebelah mereka dan beberapa gulung benang berserakan.

"Ara~ Yuni, kamu sudah pulang," Luce tersenyum lembut kepada Yuni yang berjalan mendekati mereka.

"Merajut," Ririn menjawab dengan datar stanpa mengalihkan pandangannya dari apa yang di kerjakannnya.

Yuni duduk di sebelah Ririn dan memperhatikannya merajut sesuatu yang seperti tas yang hampir jadi. Dia lalu menatap kakaknya yang sejak beberapa hari yang lalu semangat mengajarkan Ririn dengan jahit-menjahit. Beberapa hari yang lalu Luce mengajarkan Ririn menyulam, lalu menjahit, dan sekarang merajut. Yuni menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan dan tidak menemukan Aria di ruangan itu.

"Aria-nee dimana?" Yuni memperhatikan sekelilingnya, tidak menemukan kakaknya yang sedikit tomboy itu.

"Entahlah, sepertinya tadi dia pergi ke HQ," Luce menjawab pertanyaan Yuni sambil tersenyum memperhatikan stola biru hasil rajutannya.

"Aku tidak bertemu dengannya di sana," gumam Yuni.

"Selesai,"

Luce dan Yuni mengalihkan perhatian mereka dan memperhatikan hasil karya Ririn. Sebuah tas abu-abu-putih selempang berukuran sedang dengan satu kantung kecil di bagian kiri dan kanan serta dua kantung besar di bagian depan dan belakang yang ditutup menggunakan risleting seperti bagian tengahnya. Lagi-lagi Luce dan Yuni hanya menatap hasil karya Ririn dengan kagum.

"Jenius memang berbeda," gumam Luce dang disetujui dengan anggukan oleh Yuni.

Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara dering telepon. Ririn mengeluarkan sebuah ponsel berwarna silver yang di berikan oleh Dino sebelum berangkat ke Jepang.

"Kenapa?" Yuni memperhatikan Ririn yang hanya diam menatap telepon itu.

"Ririn tidak tahu bagaimana cara menggunakan ini," Ririn memandang Yuni dan Luce dengan ekspresi datarnya yang biasa. Luce dan Yuni memaklumi perkataan Ririn mengingat gadis itu memang buta akan-hampir-segala hal sehingga seperti bayi yang harus diajarkan tentang dunia.

"Tekan tombol berwarna hijau dan letakkan ponselnya di telingamu," Luce menunjuk salah satu tombol. Ririn meletakkan tombol di telinganya dan menekan tombol yang ditunjuk Luce.

"RIRIN~"

NGING~

Seketika Ririn menjauhkan ponselnya dari telinganya karena teriakan super Dino yang menyebabkan telinga kanannya berdenging dan tuli sesat. Dia lalu meletakkan ponselnya ditelinga kirinya tetapi dengan jarak sejengkal.

"Kakak,"

"Ririn, bagaimana kabarmu?"

"Ririn baik-baik saja,"

"Apa kamu makan dengan baik? Kamu bisa tidur dengan nyenyak kan di sana? Apa kamu kesepian tanpa Kakak? Apa kamu kangen pada Kakak?"

Tiba-tiba Dino berbicara dengan cepat dan Ririn tidak sempat menjawab satu pun pertanyaannya. Sedangkan Luce dan Yuni hanya bisa sweatdrop mendengar sister complex akut yang diderita boss Cavallone itu.

"Luce-nee, bagaimana cara mematikan ini?" Ririn mengalihkan pandangannya pada Luce tanpa menghiraukan teriakan Dino yang memanggil-manggil namanya.

"Eh, tekan tombol yang merah,"

"Ririn, Ririn! Jangan matik-" kata-kata Dino terputus seketika.

Luce dan Yuni lagi-lagi hanya bisa sweatdrop melihat tindakan kakak-beradik tidak sedarah itu.

XXXXX

Namimori, Jepang

Miyuki baru saja selesai memasak makan malam dan mengganti baju di kamarnya ketika mendengar pintu depan di buka dan sebuah suara imut yang menyerukan 'kami pulang~' yang diyakini suara si burung kecil imut, Hibird.

BRAKK

BUKK

"Kyaaa~ mesum!"

Ternyata dua suara di atas adalah suara Hibari yang membuka pintu kamar adiknya dengan kasar dan Miyuki yang melempar Hibari dengan bantal begitu pintu di buka. Hibari yang tidak menyangka akan dilempar bantal oleh adiknya tidak sempat menghindar sehingga bantal itu tepat mengenai wajahnya.

"Apa-apan kamu!" Hibari menatap adiknya dengan pandangan kesal dan dahi berkerut.

"Mou~, aku sudah bilang ketuk pintu dulu sebelum masuk. Aku kan sedang ganti baju!"

Miyuki berdiri di depan lemari pakaiannya hanya memakai rok hitam yang baru saja digantinya dan bra biru. Miyuki sedang mencari sebuah kaus untuk dipakai saat pintu kamarnya terbuka.

"Apa masalahnya, aku kan sudah biasa melihat tubuhmu,"

"Kyo-nii~, ucapanmu itu bisa menimbulkan salah paham lho," Miyuki mengambil sebuah kaus berwarna pastel dan memakainya. "dan Kyo-nii terdengar seperi orang mesum," setelah selesai memakai bajunya, Miyuki menatap kakaknya dengan alis terangkat.

Hibari terdiam mendengar ucapan adiknya. Dia menyadari hal yang dikatakan adiknya itu benar. Tetapi, ekspresi wajahnya tetap keras tidak menunjukkan perubahan. Sayang, orang dihadapannya adalah adiknya sendiri yang berarti seperti apapun Hibari menjaga ekspresi wajahnya, Miyuki mengetahui pikirannya. Miyuki mengambil seragamnya dari lantai dan menggantungnya sambil tersenyum geli melihat kata-katanya berpengaruh terhadap kakaknya.

"Itu salahmu karena tidak mengunci pintu kamar saat ganti baju," akhirnya Hibari berkata sambil berjalan mendekati adiknya.

"Kyo-nii lupa kalau setiap kali aku mengunci pintu kamarku, Kyo-nii 'membukanya' paksa dengan tonfa?" Miyuki bertanya sambil menghela nafas berat. "Makanya, aku tidak pernah lagi mengunci pintu kamarku, karena aku tidak mau pintu kamarku hancur!" Miyuki menatap kakaknya dengan kesal.

"Betulkan ini," tiba-tiba Hibari menyodorkan sepasang tonfa kepada Miyuki tanpa menggubris perkataan Miyuki sebelumnya.

"Jangan mengubah topik pembicaran tiba-tiba!" Miyuki berkacak pinggang menatap kakaknya.

"Tadi kamu mengatakan akan memperbaiki ini," Hibari menatap adiknya.

Flashback saat Miyuki menahan serangan Hibari di sekolah

"Mereka sudah menolongku,"

"Aku tidak peduli,"

Hibari berusaha menghantam adiknya denga tonfa di tangannya yang satu lagi saat Miyuki memajukan badannya dan membisikkan sesuatu.

"Kyo-nii, aku tahu tonfamu perlu diperbaiki, sudah hampir setahun aku tidak melakukan setting pada tonfamu," Miyuki menyeringai kecil merasakan perlawanan kakaknya berhenti. "kalau tidak berhenti, aku tidak mau memperbaiki tonfa Kyo-nii dan Kyo-nii tidak bisa 'menggigit' orang lagi," tambahnya.

"Tch!" Hibari mendecakkan lidahnya dan memasukkan tonfanya dengan kesal lalu berjalan meninggalkan mereka yang masih mematung tanpa mengatakan apapun.

End of flashback

"Benar juga," seakan teringat pada janjinya, Miyuki mengambil tonfa dari tangan kakaknya dan memeriksanya. "wah, ada bagian yang retak, pegangannya mulai kendor dan catnya mulai terkelupas," Miyuki menggumam sambil memperhatikan sepasang tonfa di tangannya.

"Baiklah, akan kuperbaiki setelah makan malam," Miyuki lalu tersenyum dan meletakkan tonfa yang di pegangnya di meja belajar.

Hibari mneganggukkan kepalanya dan mengikuti adiknya menuju ruang makan. Mereka makan dengan tenang sementara Hibird dan Roll diberi makan di sebuah meja tidak jauh dari meja makan. Setelah selesai makan, Miyuki kembali ke kamarnya dan mulai memperbaiki tonfa milik Hibari.

Sudah lama dia tidak memperbaiki benda di tangannya itu. Benda pertama yang di buatnya. Sepasang tonfa untuk kakaknya. Miyuki tersenyum sambil mengeluarkan obeng kesayangannya dan sebuah kacamata hitam dengan simbol salju di ujung kanan dan kirinya..

xxxxx

Flashback tujuh tahun yang lalu

Suatu hari, Miyuki sedang berkunjung ke rumah Rika seorang diri yang di sambut oleh pelayan rumah itu, sang butler, Yamada-san dan seorang maid yang dipanggil Reiko oleh Rika. Miyuki mengikuti mereka ke sebuah ruangan yang terdapat banyak barang-barang dan besi berserakan. Ada bor, tang, obeng, dan perkakas yang Miyuki tidak ketahui namanya.

Di tengah-tengah ruangan itu Miyuki melihat Rika yang memakai kacamata sedang memegang sesuatu yang seperti pistol di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang obeng.

"Rika-nee," Miyuki menghampiri Rika.

Rika yang mendengar namanya dipanggil mengangkat kepalanya dan melihat Miyuki yang berdiri di depannya dengan wajah ingin tahu.

"Ah, Yuki-chan, kamu datang," Rika tersenyum.

"Rika-nee sedang apa?" Miyuki memeperhatikan sebuah buku tua besar di sebelah Rika dan membukanya di dalamnya ada banyak gambar, cara membuat, kegunaan dan berbagai macam hal tentang senjata.

"Ini pekerjaanku," Rika tersenyum menjawab pertanyaan Miyuki.

Rika lalu menjelaskan beberapa barang yang berserakan di sebelahnya dan menjelaskan nama dan fungsinya.

"Ini adalah pekerjaan yang dilakukan oleh keluargaku selama beberapa generasi. Tapi sekarang hanya aku satu-satunya dari keluargaku yang masih hidup. Karena tubuhku lemah, yang bisa kulakukan hanya memberikan dukungan kepada mereka yang bertarung," tiba-tiba Rika bercerita kepada Miyuki.

Miyuki sadar kalau Rika memiliki tubuh yang lemah. Pelayannya selalu menyuruh Rika masuk ke dalam rumah jika matahari sedang terik dan melarangnya keluar dari rumah jika hari sedang hujan. Miyuki juga pernah melihat obat yang sangat banyak di kamar Rika.

Tiba-tiba mata Miyuki terarah pada sebuah surat dengan sebuah lambang berwarna emas dengan peluru ditengahnya.

"Itu lambang apa?"

Miyuki menunjuk surat yang ada di sebelah Rika. Rika mengambil surat disebelahnya dan menatap lambang itu sambil tersenyum.

"Ini adalah lambang Vongola Famiglia, keluarga ke duaku," jawab Rika sambil tersenyum.

"Keluarga kedua?" Miyuki memiringkan kepalanya menatap Rika.

"Iya, Timoteo jii-chan mengizinkanku mengerjakan pekerjaan yang sudah keluargaku lakukan sejak lama dan tetap menganggappku bagian dari Famiglia walaupun aku jauh dari Vongola,"

Miyuki sebenarnya tidak mengerti dengan 'Vongola', 'Famiglia', dan beberapa hal yang di katakan oleh Rika, tetapi melihat raut wajah Rika, Miyuki sadar bahwa yang disebutkan oleh Rika adalah hal yang penting untuk Rika.

"Kalau begitu aku akan menjadi keluarga ketiga Rika-nee! Aku akan menjadi adik Rika-nee!" Miyuki tersenyum ceria sambil menggenggam tangan Rika.

"Terima kasih, Yuki-chan," Rika tersenyum lembut mendengar perkataan Miyuki.

"Rika-nee, boleh aku memperhatikan Rika-nee membuat senjata?" Miyuki memandang Rika dengan tatapan berharap.

"Aku tidak tahu anak kecil boleh melihat hal seperti ini," Rika mengerutkan dahinya dan memandang Miyuki yang memasang puppy eyes. "tapi karena Yuki-chan yang meminta, kurasa boleh," lanjutnya sambil tersenyum.

"Waah, terima kasih Rika-nee!" Miyuki meloncat senang dari duduknya sambil memeluk Rika. Rika tertawa kecil melihat tingkah Miyuki.

Sejak hari itu Miyuki suka memperhatikan Rika membuat senjata, bahkan Rika memberikannya sebuah obeng dengan besi berwarna hitam dan garis putih bergelombang seperti ukiran salju di gagangnya.

"Kyo-nii!"

Miyuki yang sedang menonton TV di ruang tengah langsung bangkit berdiri begitu melihat kakaknya pulang dengan luka di tubuhnya. Tidak biasanya dia terluka seperti itu. Miyuki berlari ke dapur mengambil sebaskom air es dan sekotak obat dan mengobati luka kakaknya.

"Kaa-san di mana?" tanya Hibari saat adiknya sedang mengobati lukanya.

"Kaa-san pergi terburu-buru setelah menerima telepon dari kantornya. Kaa-san bilang akan kembali minggu depan,"

Hibari menghela nafas lega mendengar penjelasan adiknya. Dia tahu ibunya tidak akan senang melihat putranya pulang dengan penuh luka. Hibari menatap adiknya yang masih sibuk mengobati luka kakaknya. Dia tahu, sebenarnya ibunya bekerja pada sebuah oraganisasi rahasia, dan ibunya seharusnya tidak berada di rumah, tetapi ibunya berhasil meyakinkan organisasinya dengan kemampuannya. Miyuki tidak tahu pekerjaan ibunya dan hanya mengira ibunya sebagai pekerja kantoran biasa.

"Kyo-nii, siapa lawan mu sampai terluka seperti ini?"

Miyuki yang sudah selesai mengobati luka kakaknya sekarang menatap Hibari dengan tatapan khawatir.

"Miyu, ekspresimu seperti seorang herbivore,"

Hibari menatap datar adiknya sambil mencubit pipi Miyuki. Miyuki menghalau tangan Hibari dan menatapnya sambil mengerutkan dahinya kesal.

"Kalau Kyo-nii tidak mau bilang aku kabur dari rumah saja," Miyuki mengancam sambil beranjak menuju pintu depan. Hibari menghela nafas.

"Anak SMP,"

Miyuki menghentikan langkahnya dan menatap Hibari dengan alis terangkat.

"Kelihatannya salah satu dari herbivore lemah itu mengadu pada kakaknya dan segerombolan anak SMP mengajakku berkelahi,"

"Dan Kyo-nii menerima tantangannya?"

Miyuki menatap kakaknya dengan kesal. Ekspresi di wajah Hibari tidak berubah sedikitpun. Hibari tidak menjawab dan berniat meninggalkan ruangan itu.

"Aku pasti akan mengalahkan herbivore itu," ucapnya sebelum berjalan menuju kamarnya.

Miyuki menghela nafas mendengar perkataan kakaknya. Dia tahu, kakaknya pasti akan berkelahi dengan anak-anak SMP itu lagi, cepat atau lambat. Miyuki berlari ke kamaranya dan mengambil obeng yang diberikan oleh Rika.

"Aku harus membuatnya," gumamnya sebelum berlari ke rumah Rika.

xxxxx

"Miyu,"

Hibari memanggi-manggill adiknya dengan dahi berkerut. Sudah lebih dari seminggu adiknya suka menghilang tanpa mengatakan apapun padanya. Miyuki selalu pergi sepulang dari sekolah dan pulang saat matahari terbenam. Hibari sudah bertanya dan sempat mengancam adiknya itu karena adiknya tidak mau memberi tahu ke mana dia pergi, tapi tidak berhasil. Menangis pun tidak saat dia mencubit dan menjitak adiknya itu. Dia hanya menatap Hibari dengan tatapan bersalah, yang membuat Hibari berhenti mengancamnya.

Hibari bukan seorang kakak yang kelewat over-protective terhadap adiknya sehingga panik dan mencari-cari adiknya setiap kali menghilang. Sebenarnya, Hibari tidak begitu mempedulikannya kalau dia tidak melihat tangan Miyuki yang setiap kali pulang selalu terluka, dan makin bertambah setiap harinya.

Hibari akhirnya memutuskan untuk mencari Miyuki dan tempat pertama yang terlintas di pikirannya ada rumah Rika. Hibari pun berjalan menuju rumah bercat putih di dekat hutan Namimori itu.

Xxxxx

"Selesai!"

Miyuki bersorak senang melihat hasil pekerjaannya. Rika yang berada di sebelahnya juga tersenyum senang melihat karya pertama Miyuki.

"Rika-nee, terima kasih banyak sudah mau membantuku," Miyuki memeluk Rika yang berada di sampingnya dengan rasa terima kasih.

"Walaupun ini adalah hasil pertamamu, tapi kamu cukup hebat," Rika membalas pelukan Miyuki sambil mengelus pelan punggungnya.

"Tentu saja! Aku membuatnya dengan sungguh-sungguh, dengan begini aku juga bisa seperti Rika-nee, memberi dukungan pada orang yang berharga untukku," ucap Miyuki sambil tersenyum lembut.

"Ah, aku akan pulang sekarang,"

Rika memberikan sebuah kain pada Miyuki untuk membungkus dua buah 'karya' buatannya. Miyuki menerimanya dan dengan cepat membungkus benda itu. Setelah mengucapkan terima kasih dan salam, Miyuki berjalan pulang dengan riang.

Langkah Miyuki berhenti begitu melihat kakaknya dikepung oleh segerombolan anak SMP di taman yang di lewatinya. Miyuki berlari ke tempat kakaknya berada.

"Kyo-nii!"

Hibari menoleh ke arah adiknya. Miyuki dapat melihat beberapa anak SMP itu membawa tongkat baseball.

"Bodoh, jangan ke sini!" Hibari berteriak.

"Kyo-nii, awas!"

Miyuki berteriak ngeri saat melihat salah seorang anak SMP itu mengayunkan tongkatnya pada Hibari. Dia memeluk erat benda di pelukannya. Hibari berhasil menghindari serangan anak itu dengan gesit. Melihat kakaknya bisa menghindari serangan itu, Miyuki mengehela nafas lega. Seakan tersadar bahwa itu bukan kondisi yang menguntungkan untuk kakaknya, Miyuki membuka bungkusan yang di bawanya.

"Kyo-nii!" Miyuki berlari mendekati kakaknya dan melemparkan benda di tangannya yang dengan sukses ditangkap Hibari.

Hibari menatap benda di tangannya selama beberapa saat. Sepasang tonfa.

"Gigit mereka sampai mati, Kyo-nii!" Miyuki berteriak saat tatapan mereka bertemu.

Hibari menyeringai lebar mendengar perkataan adiknya. Dia tahu adiknya tidak suka saat kakaknya itu berkelahi, mendengar adiknya berkata seperti itu dan memberikannya senjata membuatnya merasakan sesuatu. Hibari menatap anak-anak SMP disekelilingnya yang menatapnya dengan meremehkan.

Sekarang, ada sebuah kilatan di mata Hibari. Sebuah hasrat untuk bertarung melawan lawan yang lebih kuat darinya.

"Hah bocah, kau kira dengan senjata sekecil itu kau bisa menaang melawan kami?"

Seorang anak tertawa meremehkan Hibari. Hibari hanya menatap orang itu dengan tatapan tajam. Dia menggenggam tonfa itu di tangan kanan dan kirinya.

"Kamikorosu,"

Setelah mengucapkan satu kata itu, Hibari langsung berlari menghajar anak-anak SMP di depannya. Miyuki menatap kakaknya dengan kagum. Miyuki melihat ada sebuah kilat di mata kakaknya saat bertarung melawan anak-anak SMP itu. Kilat gairah, senang, dan….haus darah.

Miyuki bisa melihat beberapa anak SMP itu mulai gentar dengan aura membunuh yang dipancarkan oleh Hibari. Beberapa kali Hibari menangkis tongkat baseball yang di arahkan padanya dengan tonfa di tangannya yang dibalas dengan pukulan tonfa di perut atau wajah mereka.

Tiba-tiba ada sebuah tongkat baseball yang terpental hingga menyentuh kaki Miyuki. Miyuki memungut tongkat itu dan memperhatikannya. Seorang anak yang menyelinap dari perkelahian itu mengendap-endap berjalan ke belakang Miyuki, berniat menangkap anak itu dan menjadikannya sandera untuk menang dari Hibari.

Sayang, begitu dia mengangkat tangannya, berniat untuk menangkap Miyuki, sebuah tongkat baseball menghantam tepat ke ulu hatinya dengan keras.

"Aku ini cinta damai, jangan ikut sertakan dalam perkelahian ini dong," Miyuki tersenyum memandang anak SMP yang tergeletak di kakinya. Tongkat baseball di tangannya masih mengarah lurus tepat di mana ulu hati orang di kakinya sebelumnya berada.

"Karena aku ini masih sedarah dengan Kyo-nii, kamu tidak bisa mengharapkan rasa 'cinta damai' ku kalau berani macam-macam," ucap Miyuki ceria sambil mengayunkan tongkat baseball itu ke kepala anak SMP yang berada di kakinya hingga dia pingsan.

Hibari yang dari ujung matanya melihat perbuatan adiknya menyeringai. Adiknya cinta damai, tapi jika sudah diusik, dia bisa menjadi seperti kakaknya, atau lebih menyeramkan. Karena, mana ada anak kelas tiga SD yang mengayunkan tongkat baseball untuk memukul orang sambil tersenyum ceria?

Tidak lama kemudian Hibari berjalan menuju adiknya meninggalkan tumpukan anak SMP yang tidak sadarkan diri dan berlumuran darah. Hibari menatap adiknya sambil mengangkat tonfa yang dipegangnya dengan alis terangkat.

"Eh…itu…" Miyuki mengalihkan pandangan dari kakaknya sesaat merasakan tatapan tajam kakaknya mengarah padanya, lalu menatap kakaknya. "aku meminta Rika-nee untuk mengajarkan ku membuat senjata!" Miyuki berkata dengan cepat sambil memejamkan matanya.

"Kenapa?"

"Karena aku tidak mau kakak kalah dari mereka,"

"Kukira kamu tidak suka aku berkelahi?"

Miyuki terdiam sesaat, kepalanya menunduk. Hibari masih menatap adiknya dan tangan adiknya. Sekarang dia tahu alasan bahwa adiknya itu pergi setiap hari dan kembali dengan tangan terluka adalah untuknya.

"Tidak suka, tapi…" Miyuki menghentikan kata-katanya sambil membuka matanya, bahunya bergetar. "aku..le-lebih….tidak suka…me-melihat….K-Kyo-nii…..ukh…terluka…huaaa!" Miyuki lalu menangis mengatakan kalimat terakhirnya.

"Bodoh, aku tidak akan kalah dan terluka melawan herbivore seperti mereka," Hibari mengelus kepala adiknya, beusaha meredakan tangisan adiknya.

Miyuki memeluk Hibari dan tangisnya berubah menjadi isakan kecil. Setelah tangisannya benar-benar berhenti, mereka pulang ke rumah dengan Miyuki menggandeng tangan Hibari. Hibari tidak merespon apapun saat adiknya itu menggandeng dirinya.

"Kenapa tonfa?"

Miyuki memperhatikan kakaknya yang masih berjalan dengan tatapan lurus ke depan. Miyuki terdiam sesaat sebelum menjawab.

"Karena tonfa kuat dan keras seperti Kyo-nii," ucap Miyuki sambil tersenyum. Hibari yang melihat senyum Miyuki dari sudut matanya tanpa sadar ikut tersenyum kecil.

"Lagi pula aku tahu, kalau aku membuatkan senjata jarak jauh seperti cambuk atau tongkat, Kyo-nii pasti kurang puas saat bertarung. Karena, cara bertarung Kyo-nii itu, Kyo-nii baru akan puas kalau merasakan sendiri 'kondisi' orang yang Kyo-nii pukul," tambah Miyuki ceria.

Mendengar hal yang satu ini, senyum Hibari berubah menjadi seringai yang sangat tidak cocok untuk anak seusianya. (Sungguh, kalau ada orang yang lewat, mereka pasti dicurigai kalau kerasukan. Mana ada bocah seperti mereka, yang satu menyeringai menyeramkan, yang satu lagi mengatakan hal yang tidak cocok dengan ekspresi dan nada bicaranya -_-")

End of flashback

Xxxxx

Miyuki melihat jam di mejanya. Jam menunjukkan pukul 3.00 dini hari. Beruntung itu adalah hari libur, jadi dia tidak perlu mempersiapkan apapun untuk ke sekolah, walaupun jika dia sekolah dia tidak akan pergi.

Miyuki melihat tonfa ditangannya dan tersenyum puas melihat tonfa itu seperti baru. Miyuki juga sudah memeriksa rantai yang dia pasang di tonfa itu dan memperbaikinya karena melihat ada sebuah rantai yang lepas. Pandangannya beralih menatap surat di samping tonfa itu. Surat yang kemarin di berikan oleh Reborn. Dia melepaskan kacamatanya dan mengambil selembar kertas dan menulis sesuatu, hal yang sudah menjadi kebiasaannya sejak beberapa tahun belakangan karena hal yang sama. Melakukan pekerjaannya.

Selesai menulis, Miyuki berjalan menuju lemari dan mengganti bajunya dengan kaus hitam, stocking hitam dan rok selutut berlipat. Selesai mengganti bajunya, Miyuki mengambil sebuah tas bertali satu yang berisi laptop serta surat yang diberikan Reborn dan berjalan menuju jendela. Dia memandang pantulan dirinya di cermin sekilas dan melepas pitanya, mengganti model rambutnya menjadi pony tail.

"Kau sudah siap, Miyu?"

Miyuki mengalihkan pandangannya menatap Reborn yang berdiri di jendela kamarnya. Dia menganggukkan kepalanya. Miyuki berjalan menuju jendela dan melompat keluar. Reborn memperhatikan Miyuki sambil menyeringai. Ekspresi wajah Miyuki sangat berbeda dengan sebelumnya. Matanya tajam, wajahnya keras dan yang ada di wajahnya bukanlah senyum lembut, melainkan sebuah seringai. Saat ini dia benar-benar seperti Hibari. Reborn melompat dari jendela untuk mengantar Miyuki menuju tempat tujuannya.

Hibari bangun saat matahari mulai terbit. Dia melihat jam di samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 7.05. Hibari berdiri dan melihat Hibird yang masih tidur di sebuah keranjang yang dilapisi kain. Dia berjalan menuju dapur, berniat membuat kopi. Saat dia menemukan dapur kosong dan tidak ada tanda-tamda adiknya, dia mengerutkan dahinya. Biasanya adiknya sedang menyiapkan sarapan, tapi dia tidak melihat masakan di meja makan.

Hibari berjalan dan-seperti biasanya-dia langsung membuka pintu kamar Miyuki tanpa mengetuk pintunya. Kerutan di dahi Hibari bertambah dalam saat dia tidak menemukan apa yang dicarinya. Dia pun berjalan memasuki kamar itu dan berhenti di depan meja belajar Miyuki.

Hibari mengambil tonfa nya yang sekarang terlihat lebih baik-jauh lebih baik- dibandingkan sebelumnya. Saat mengambil tonfa miliknya, dia melihat ada sebuah kertas terjatuh. Hibari mengambil kertas itu dan membaca tulisan tangan adiknya yang rapih.

Dear Kyo-nii

Aku sudah selesai membetulkan tonfamu dan juga flail di dalamnya, ambil saja. Aku akan kembali tiga hari lagi, jangan khawatir dan jangan cari aku ya. Aku sudah membuat surat izin untuk tidak masuk sekolah hari Senin nanti, tolong berikan pada wali kelasku ya ;)

From Your Beloved Lil' Sis

Hibari menatap kertas di tangannya dengan dahi berkerut lalu menghela sudah tahu adiknya itu suka melarikan diri di asramanya dan hilang selama berhari-hari, tapi dia tidak menyangka kalau adiknya itu tetap akan pergi dari rumahnya. Hibari pernah menanyakan hal itu pada adiknya, tapi jawaban yang di berikan Miyuki tidak membuatnya puas dan Miyuki selalu dapat berkelit dan mencari alasan. Akhirnya, Hibari tidak pernah bertanay lagi ketika suatu hari Miyuki menjawab 'Aku bertualang untuk mencari kesenangan, seperti Kyo-nii berkelahi mencari kesenangan.'.

Hibari membuang kertas itu di tempat sampah sebelah meja belajar Miyuki dan berjalan keluar dari kamar itu. Dia tahu adiknya itu bisa menjaga dirinya sendiri.

XXXXX

Giglio Nero Mansion, Italia

Suasana di ruangan itu gelap. Seorang gadis sedang duduk di tepi jendela sambil memperhatikan sebuah cermin bulat seukuran telapak tangan orang dewasa berwarna perak dengan ukiran di sekelilingnya dan bentuk bulan sabit di puncaknya, diterangi sinar bulan purnama yang berwarna perak. Gadis itu menatap cermin di tangannya dan matanya yang berwarna silver sekarang bercahaya keperakan.

Di cermin itu terpantul seorang gadis berambut hitam dengan pita putih dan mata onyx memakai kacamata bersama dengan dua orang pria. Seorang pria berambut pirang dengan poni menutupi matanya dan memakai mahkota miring dan seorang lagi seseorang yang seperti banci dengan rambut mohawk. Gadis itu sedang mengetik sesuatu di laptopnya di sebuah ruangan yang terdapat banyak computer sementara dua orang pria tadi menghalau orang-orang yang mendekati gadis itu.

"Pipistrello Nero Di Vongola, aku ingin bertemu denganmu. Tidak, kita harus bertemu," gumam Ririn. Matanya memandang bulan yang bersinar perak.

"Waktunya sudah dekat," Ririn memegang dadanya yang berdebar kencang, darahnya terasa berdesir.

Ririn memasukkan cermin itu kedalam tas rajutan yang baru saja dibuatnya. Dia berjalan menuju tempat tidur di ruangan itu. Matanya kembali berwarna silver tanpa cahaya. Dia menatap Yuni yang tidur di kasur itu.

"Sebentar lagi aku harus pergi," gumam Ririn dengan perasaan bersalah sambil menatap Yuni.

Ririn naik ke atas kasur itu dan merebahkan dirinya di sebelah Yuni, lalu menutup matanya. Waktunya sudah dekat. Dia harus menyelesaikan semuanya sebelum bulan purnama yang ditunggunya muncul. Satu-satunya waktu dia bisa melakukan hal itu.

Continue…..

XXXXX

Pipistrello Nero Di Vongola : Kelelawaar hitam dari Vongola

Readers sekalian, terima kasih sudah mau membaca sampai chapter ini!

Untuk prof. creau, sepertinya rasa penasaran anda tentang Hibari yang masuk kamar Miyuki tanpa mengetuk pintu sudah terjawab di sini. Hibari tetap buka pintu seenaknya walaupun Miyuki ganti baju~

Sacchan berharap beberapa chapter ke depan Sacchan udah bisa mempertemukan Miyuki dan Ririn. Di chapter selanjutnya ada sedikit romance Miyuki, ditunggu yaa~

Miyuki waktu kecil beda tipis sama Hibari. Kalo Hibari nggak berubah sama aja suka berantem nah, kalo Miyuki kalo diganggu dia langsung tunjukkin ke'ganasan'nya.

Dikarenakan Sacchan juga membuat sebuah fanfict untuk Rika, jadi Sacchan mohon kesabaran kalian menunggu LSIA ini.