Disclaimer : Akira Amano
Warning : Author masih baru dan belum berpengalaman, mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Hikage Natsuhimiko : Terima kasih Hikage-san sudah mau setia membaca LSIA ini~ Ririn ngegemesin? Sangat!Itu mata Ririn jadi perak karena bulan purnamanya warna perak. Kekuatan Ririn kan sumbernya dari bulan, jadi warna matanya ngikutin warna bulannya. Untuk pekerjaan Miyuki nanti akan ada penjelasannya. Betul sekali! Dua orang yang membantu Miyuki pada chapter sebelumnya adalah Bel dan Lussuria~
Minna~ ayo kita masuk ke cerita~
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Meet The Cavallone
.
.
.
Giglio Nero Mansion, Italia
"Dan akhirnya, mereka hidup bahagia selamanya~," Luce tersenyum ceria sambil menutup buku bergambar di depannya.
Luce, Aria, Yuno dan Ririn sedang berada di perpustakaan. Entah sudah berapa buku yang di bacakan oleh Luce, Aria dan Yuni. Ini bermula saat mereka sedang menonton TV dan kebetulan ada sebuah film kartun seorang putri yang terbebas dari kutukan karena ciuman pangeran (kita sebut saja Sleeping Beauty). Ririn yang bingung mengapa kutukan itu bisa lepas bertanya yang di jawab oleh mereka dengan 'cinta'. Melihat Ririn yang bingung, Luce menarik Ririn ke perpustakaan diikuti oleh Aria dan Yuni.
Sudah lebih dari dua jam mereka membacakan buku-buku yang berisi tentang putri dan pangeran untuk mengajarkan Ririn tentang cinta. Mulai dari Beauty and the Beast, Snow White, Sleeping Beauty, Cinderella, dan cerita lainnya.
"Ririn tidak mengerti," Ririn membuka buku yang baru saja ditutup oleh Luce dan menunjuk bagian pangeran yang mencium putri di akhir cerita. "kenapa dia melakukan ini?"
"Tentu saja, karena dia mencintai putri!" Yuni menjawab dengan ceria.
"Kenapa dia menempelkan bibirnya pada putri?"
"Ririn, itu namanya cium. Biasanya, kita mencium orang yang kita cintai," jelas Luce.
"Yah, mencium orang lain itu ada berbagai macam artinya," tambah Aria.
"Arti?" Ririn memiringkan kepalanya menatap Aria.
"Yah, ciuman di pipi biasanya adalah tanda terima kasih atau salam, di dahi biasanya merupakan ciuman yang menandakan rasa sayang atau kepada saudara," Aria menghentikan kata-katanya sejenak. Ririn mengingat Dino yang sering mencium dahinya saat akan tidur, pergi atau kembali dari misi. "dan yang terakhir adalah ciuman di bibir. Biasanya hanya dua orang yang saling mencintai yang melakukannya." Aria lalu melanjutkan sambil tersenyum.
"Yah, walaupun ciuman di bibir juga ada banyak macamnya seperti untuk menggo-,"
"Aria!"
Kata-kata Aria terpotong bersamaan dengan Luce yang mencubit pipi adiknya.
"Jangan mengotori pikiran anak-anak yang masih suci ini!"
"Ahahaha, maaf, maaf. Yah, intinya ciuman itu berbeda tergantung masing-masing orang," Aria hanya tertawa mendengar kata-kata Luce.
"Ne, cinta itu apa?"
Sekarang semua mata memandang Ririn dengan tatapan tidak percaya. Ririn hanya balas menatap mereka dengan bingung. Mengetahui gadis di depannya tidak mengerti dengan hal itu, mereka pun menjelaskannya.
"Ririn, cinta itu perasaan yang kamu rasakan pada lawan jenis," Aria menepuk kepala Ririn sambil tersenyum.
"Itu adalah perasaan yang kamu rasakan saat bersama dengan orang yang kamu cintai. Perasaaan ingin bersama dengannya, disukai olehnya dan tersenyum bersama dengannya," Luce tersenyum dengan lembut sambil menerawang.
"Perasaan yang hangat dan menyenangkan," Yuni menambahkan.
"Ririn semakin tidak mengerti," Ririn memiringkan kepalanya menatap tiga saudari itu dengan dahi berkerut.
"Yah, nanti kamu pasti akan merasakannya," Aria tertawa kecil mengacak rambut Ririn.
"Ah, disini kalian rupanya,"
Tiba-tiba pintu terbuka dan sesosok pria masuk kedalam perpustakaan itu.
"Gamma!" Aria bangkit dari kursinya dan berjalan menuju Gamma, lalu memeluk dan menciumnya.
"Anak kecil tidak boleh lihat!"
Luce dengan segera menutup mata Yuni dan Ririn dengan kedua tangannya, yang percuma karena mereka tetap dapat melihatnya melalui celah-celah jari Luce.
"Aku/Ririrn bukan anak kecil," gumam Yuni dan Ririn bersamaan.
"Ah, saya mau menyampaikan kalau Byakuran datang," ucap Gamma begitu Aria melepaskan ciumannya.
"Byakuran!" Yuni berdiri dan berjalan keluar dari ruangan menuju ruangan Byakuran berada.
"Colulu, Widget,"
Tiba-tiba dua ekor rubah muncul dan mendekati Ririn. Ririn dengan senang hati memeluk dan mengelus dua rubah itu.
"Kamu benar-benar disukai binatang ya, baik nyata maupun animal weapon," Luce tersenyum melihat Ririn mengelus kedua rubah milik Gamma.
Gamma yang sudah terbiasa melihat animal weapon miliknya keluar begitu di dekat Ririn membiarkannya. Aria lalu menarik Gamma menuju beranda yang ada di perpustakaan itu.
"Ah, enaknya bersama dengan orang yang dicintai," Luce menghela nafas sambil memperhatikan Aria yang berbicara dengan Gamma.
Ririn memperhatikan ekspresi wajah dan tatapan Aria yang lembut menatap Gamma. Lalu teringat perubahan sikap Yuni begitu mendengar Byakuran datang. Ada binary yang sama di mata mereka, bahagia dan sesuatu yang asing untuk Ririn.
'Cinta ya?' Ririn membatin sambil memeluk kedua rubah milik Gamma.
XXXXX
Namimori, Jepang
"Haah~"
Dino menghela nafas panjang setelah menyelesaikan tugas-tugas di hadapannya. Dia begitu mengkhawatirkan Ririn sebelum pergi ke Jepang sehingga tugas-tugasnya menumpuk. Jadilah, dia membawa semua pekerjaannya yang sempat terbengkalai dan mengerjakannya.
Sudah hampir sebulan dia datang ke Jepang untuk membicarakan suatu masalah dengan Reborn. Tetapi, begitu dia datang ke Jepang, hal yang menantinya adalah tugasnya. Butuh waktu lama bagi Dino hingga semua pekerjaannya selesai dan dia terbebas dari tugas. Untuk sementara.
Dino berjalan menuju ruang tengah kamar hotel yang dia tempati untuk berbicara dengan Reborn yang sudah menunggunya dengan secangkir kopi di tangannya.
"Maaf membuatmu menunggu, Reborn," Dino duduk di sofa di hadapan Reborn yang hanya dibalas dengan anggukan kepala.
"Jadi, kamu sudah mendapat informasi tentang mereka?"
"Sulit melacaknya, Reborn. Tapi, berdasarkan data yang kutemukan mereka sudah lama melakukan hal ini, hanya saja mereka pandai menutupinya," Dino menyerahkan beberapa kertas berisi data tentang musuh mereka pada Reborn.
"Aku juga menemukan beberapa informasi," Reborn menyerahkan beberapa kertas dan beberapa foto pada Dino.
"Dari mana kamu bisa mendapatkan data-data ini?" Dino memperhatikan kertas-kertas yang di genggamnya dengan kaget. Data yang di berikan Reborn lebih akurat bahkan, ada beberapa foto yang berkaitan dengan musuh mereka.
"Menurutmu?" Reborn balas bertanya sambil menyeringai.
"Jangan-jangan rumor itu benar? Ada seorang informan rahasia Vongola, si pencuri informasi yang dikenal dengan julukan Pipistrello Nero Di Vongola?" Dino bertanya dengan mata melebar. Reborn hanya menurunkan topi fedoranya untuk menutupi seringainya yang semakin lebar.
"Yang terpenting, kita harus cepat membereskan mereka,"
"Ya, sudah hampir lima tahun kita melacak mereka, baru sejauh ini data yang berhasil kita kumpulkan," Dino memberi isyarat pada Romario yang berdiri di dekatnya untuk menyimpan data-data yang di berikan oleh Reborn. "apa tidak sebaiknya kita memberi tahu Tsuna tentang hal ini?" Dino menatap Reborn dengan dahi berkerut.
"Belum saatnya. Sebentar lagi," Reborn berkata sambil meninggalkan ruangan itu.
XXXXX
"Dino-sensei! Saya tidak mengerti soal yang ini!" seorang siswi mengangkat tangannya sambil tersenyum pada Dino.
Dino mendekati siswi tersebut dan menjelaskan soal yang tidak dimengerti olehnya. Sayang, penjelasan Dino tidak di dengarkan karena sekarang siswi itu sibuk memandangi Dino yang tempan dari dekat, membuat beberapa siswi lain iri.
Bel istirahat berbunyi, Dino pun keluar dari ruangan sambil tersenyum ceria yang membuat beberapa siswi meleleh di tempat. Seperti biasa, Dino berjalan dengan diiringi tatapan terpesona para siswi dan guru-guru yang berpapasan dengannya.
DUAK
Dan seperti biasa, karena tidak ada bawahannya, kecerobohan Dino kumat. Dia tersandung oleh kakinya sendiri hingga terjatuh. Kertas-kertas di tangannya berserakan dan mendarat di depan sepatu salah seorang siswi.
"Sensei tidak apa-apa?" seorang siswi dengan suara yang lembut menyodorkan selembar kertas yang mendarat di depannya pada Dino.
Dino lalu dibantu oleh siswi tersebut untuk bangkit. Dino mengangkat wajahnya untuk memandang orang yang membantunya. Seorang siswi yang cantik bermata onyx berambut hitam dengan senyum lembut. Tanpa sadar wajahnya memerah.
"Biar saya bantu," siswi itu berlutut dan membantu Dino mengumpulkan kertas yang berserakan.
"Ah, terima kasih," Dino hanya bisa tersenyum canggung sambil berdiri menerima kertas yang sudah di bereskan dan disodorkan di hadapannya.
Dino merasa canggung dan malu terjatuh seperti itu di hadapan muridnya-walaupun itu adalah hal yang biasa-dan dibantu oleh seorang siswi. Dino hanya menatap siswi itu membungkuk sekilas sambil tersenyum lalu pergi.
"Ah, aku lupa menanyakan namanya!" gumam Dino begitu tersadar. Dia pun melanjutkan perjalanannya menuju ruang guru.
"Boss yang lucu," Miyuki tersenyum begitu menaiki tangga.
"Dia hanya sangat bodoh," ucap Reborn sambil mendengus yang duduk di jendela di ujung tangga.
"Jangan bilang begitu, dia kan mantan muridmu juga," Miyuki tertawa kecil mendengar perkataan Reborn. "baiklah, aku akan mempersiapkan yang selanjutnya," ucap Miyuki sambil menaiki anak tangga.
Reborn hanya mengamati gadis yang berjalan menjauhinya dalam diam. Reborn mengeluarkan secarik kertas dan memandang gadis itu sambil tersenyum kecil.
"Kelelawar Hitam, kerjamu sungguh luar biasa,"
XXXXX
"Hai, Tsuna!"
"Dino-san!"
Tsuna baru saja pulang dari sekolah dan sedang berusaha melerai Gokudera yang lagi-lagi berniat melemparkan dinamitnya pada Yamamoto, sedangkan Yamamoto seperti biasanya hanya tertawa menanggapi tingkah Gokudera. Dino, masih memakai kacamata karena baru saja selesai mengajar menghampiri mereka bertiga.
"Dino-san, kukira kamu akan datang begitu tahun ajaran baru dimulai!" Tsuna memperhatikan Dino yang menghampirinya.
"Aku memang sudah di Jepang, tapi terlalu banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan," kata Dino sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
DUAKK
Tiba-tiba Dino menginjak tali sepatunya dan terjatuh menimpa Tsuna.
"Juudaime!"
Gokudera dengan segera membantu bossnya tersayang untuk berdiri.
"Maaf, Tsuna," Dino menundukkan kepalanya kepada Tsuna.
"Tidak apa-apa, aku tidak terluka," kata Tsuna tersenyum menenangkan sambil menatap Dino yang menundukkan kepalanya.
"Hei, apa yang kau lakukan pada Juudaime!" Gokudera memandang Dino dengan kesal.
"Maa, maa, karena tidak ada yang terluka, jadi tidak apa-apa kan," Yamamoto berusaha menenangkan Gokudera sambil menepuk bahunya.
"Jangan ikut campur, baseball idiot!" Gokudera menghalau tangan Yamamoto yang mendarat di bahunya.
"Gokudera-kun, aku tidak apa-apa, tolong lepaskan Dino," kata Tsuna berusaha melerai mereka.
"Huh, apa boleh buat," Gokudera melepaskan tangannya yang menggenggam kerah baju Dino. Tsuna menghela napas lega melihatnya.
"Dino-san, tumben kamu tidak melawan Hibari-san?" tanya Tsuna begitu mereka melanjutkan perjalanan.
Hampir semua anggota Vongola tahu kalau setiap kali Dino datang, pasti Hibari akan memaksanya untuk bertarung.
"Ah, itu karena," Dino berusaha mengingat kejadian sebelumnya.
Flashback
Sekolah sudah hampir sepi karena bel pulang sudah lama berbunyi. Dino, sambil membawa setumpuk kertas berjalan menunju ruang guru.
DUAK
SRAK
Lagi-lagi Dino tersandung kakinya sendiri sehingga kertas-kertas berserakan. Dino memungut kertas itu ketika ada sebuah suara di belakangnya.
"Haneuma, I'll bite you to death," Hibari ternyata sudah berdiri di belakangnya dengan tonfa di kedua tangannya. Matanya berkilat.
"Kyoya, tunggu dulu! Aku harus mengantarkan ini ke ruang guru!"
"Cepat," Hibari menunjuk ruang guru yang sudah dekat dengan tonfanya. "atau I'll bite you to death, sekarang juga,"
Dino segera melesat ke ruang guru dan meletakkan kertas itu di mejanya. Setelah memberi salam singkat kepada guru-guru yang masih berada di sana, dia menuju atap, tempat dia dan Hibari biasa bertarung.
"Um, Kyoya, sebaiknya kita hentikan kebiasaan kita ini," ucap Dino begitu sampai di atap. Sebenarnya, dia sedikit khawatir karena bawahannya tidak ada satupun bersamanya.
"Diam, herbivore,"
Hibari bergerak dengan cepat menuju Dino. Dino menghindari serangan Hibari sambil mengayunkan cambuknya. Sayang sekali, Dino malah melilit kakinya sendiri dengan cambuknya.
Midori no tanabiku~
Tepat saat Hibari akan mengayunkan tonfanya ke arah Dino, ponsel Hibari berbunyi. Hibari menghentikan gerakannya dan mengambil ponselnya dari kantung seragamnya. Dino menggunakan kesempatan ini untuk melepaskan cambuknya yang melilit di kakinya.
"Ya?"
Dino memperhatikan Hibari yang berbicara di telepon.
"Tidak bisa," Hibari mengerutkan dahinya. "aku sedang sibuk," ucapnya sambil menatap Dino dengan tajam yang membuatnya mematung. "Baiklah," Hibari menghela napas lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantungnya.
"Haneuma, kita selesaikan ini lain kali," ucap Hibari sambil berjalan melewati Dino yang sudah siap bertarung. Dia pergi dari atap meninggalkan Dino yang masih memandang punggungnya yang menghilang di balik pintu.
End of flashback
"dan dia pergi setelah menerima telepon," ucap Dino. "tapi aku penasaran. Aku sangat yakin suara di telepon tadi bukan suara Kusakabe dan itu adalah suara perempuan. Apakah Kyoya sekarang punya pacar?" Dino mengerutkan dahinya membayangkan muridnya memiliki pacar. Gadis bermental baja mana yang berani mendekati muridnya yang beringas itu?
"Eto, mungkin itu adiknya Dino-san,"
"Adik?" Dino menoleh menatap Tsuna dengan cepat. "Kyoya punya adik?" Dino membelalakkan matanya mendengar perkataan Tsuna.
"Ya, namanya Miyuki dan dia gadis yang baik," Yamamoto menambahkan.
"Dan yang terpenting, dia sama sekali tidak seperti kakaknya yang maniak berkelahi," timpal Gokudera.
"Tunggu, kalian tahu dari mana kalau Kyoya punya adik? Aku sudah pernah ke rumahnya dan Kyoya tinggal sendiri di sana," Dino menatap ketiga guardian Vongola di depannya dengan dahi berkerut.
"Beberapa hari yang lalu kami kebetulan bertemu dengannya. Katanya dia selama ini tinggal di Tokyo dan bersekolah di sekolah khusus putri," kata Tsuna berbaik hati menjelaskan.
"Mungkin itu sebabnya kamu tidak pernah bertemu dengannya?" tanya Yamamoto.
"Mungkin," Dino menyetujui ucapan mereka. 'Kyoya punya adik?' batin Dino bingung.
XXXXX
"Romario, bagaimana hasilnya?"
Dino sedang duduk di ruang kerjanya. Di hadapannya, berdiri Romario.
"Kami tidak dapat menemukan data apapun. Bahkan namanya tidak dapat kami ketahui. Sepertinya pengaruh Hibari-san di kota ini terlalu besar sehingga tidak ada yang berani membocorkan apapun yang berkaitan dengannya,"
"Kyoya memang hebat," Dino hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar laporan dari tangan kanannya itu. "lalu, bagaimana dengan di luar Namimori? Kalian menemukan sesuatu?"
"Sayang sekali tidak. Sepertinya ada yang sengaja menutup semua data yang berkaitan dengannya. Bahakan nama adiknya pun tidak berhasil kami dapatkan,"
"Aneh," Dino mengerutkan dahinya. "Kyoya seharusnya tidak mempedulikan hal lain di luar Nammori, jadi kemungkinannya yang menutup data di luar Namimori bukan Kyoya," Dino lalu mengangkat pandangannya hingga bertemu dengan Romario. "atau mungkin sejak awal bukan Kyoya yang melakukannya?"
"Entahlah,"
"Baiklah, kamu boleh kembali sekarang,"
Begitu Romario keluar dari ruangan itu, Dino berdiri dan berjalan menuju jendela. Otaknya berpikir dengan keras. Siapa yang menyembunyikan data-data tentang keluarga Kyoya? Kenapa? Apa alasannya? Dino menghela napas dan mengangkat pandangannya menatap langit malam.
Di kamar Miyuki…
"Kenapa kamu melakukannya?"
Reborn meloncat dari jendela dan duduk di meja belajar Miyuki. Miyuki yang sedang membongkar suatu senjata seperti tongkat menghentikan pekerjaannya dan melepaskan kacamata hitam yang di pakainya. Dia menatap Reborn.
"Apa?"
"Menghentikan Hibari dan Dino bertarung,"
"Karena, jika dia tidak memiliki satupun bawahannya di dekatnya, dia tidak akan bisa menang dari Kyo-nii. Aku tidak mau rencanaku gagal, karena sepertinya Dino-sensei bukan tipe orang yang penyabar," Miyuki tersenyum ceria menatap Reborn.
Reborn terdiam menatap gadis di depannya. Terkadang dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran gadis ini. Walaupun dapat membaca pikiran orang lain, tapi Reborn tidak pernah bisa membaca pikiran gadis di hadapannya. Tapi, setidaknya dia tahu hal yang dilakukan gadis di hadapannya tidak pernah membahayakan dan berakibat buruk.
"Kamu juga menyembunyikan data-data keluargamu?"
"Iya, karena aku lebih memilih mencari informasi di bandingkan dicari. Aku tidak suka ada orang lain yang seenaknya melihat data pribadi keluargaku, aku kan malu," ucapnya sambil tersenyum memandang luar jendela.
'Tidak salah aku menjadikannya informan dan mata-mata,' Reborn menurunkan topi fedoranya sehingga menutupi seringai di wajahnya. Ada rasa bangga karena gadis yang direkrutnya bisa sehebat ini.
"Lagipula, jika Dino-sensei menunggu besok, dia pasti bisa mengetahuinya,"
Reborn memandang gadis di hadapannya yang sudah memakai kacamatanya kembali dan sibuk membongkar senjata di hadapannya.
'Mungkin bukan hanya sebagai informan dan mata-mata,' batinnya melihat gadis di depannya yang kembali serius membongkar benda di depannya.
XXXXX
Dino baru saja selesai mengajar di kelas Tsuna. Sekarang, dia sedang menuju ruang guru bersama dengan Tsuna, Yamamoto dan Gokudera. Mereka berniat berbicara di atap. Tetapi sebelumnya, Dino harus menyerahkan tugas siswa siswinya di ruang guru.
"Dino-san, yakin tidak mau di bantu?" Tsuna dengan khawatir menatap 'kakak'nya.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Ini hanya sedikit!" Dino tersenyum menenangkan Tsuna.
'Tapi bawahanmu tidak ada di sini Dino-san!' Tsuna membatin di dalam hati sambil memperhatikan Dino menuruni anak tangga.
Seperti yang di khawatirkan oleh Tsuna, Dino terpeleset dan jatuh dari tangga. Sayang sekali saat itu adalah istirahat siang hingga banyak murid yang berlalu lalang. Seorang siswi berdiri tepat di bawah tangga ketika Dino terjatuh sehingga Dino menimpa siswi itu. Kertas-kertas berterbangan di sekitar mereka dan kacamata yang di pakainya terlepas.
"Ouch," Dino mengerang, tetapi begitu mendengar suara erangan dari bawahnya, dia tersadar sudah menimpa seseorang.
Dino sedikit mengangkat bagian bawah tubuhnya untuk melihat orang yang ditimpanya. Tubuhnya membeku begitu melihat sepasang mata onyx yang indah menatap dirinya. Gadis yang sama dengan yang kemarin membantunya.
"Dino-san, kamu baik-baik saja?"
"Ah, maaf!" seakan tersadar oleh panggilan Tsuna, Dino berusaha cepat-cepat berdiri dengan panik. Wajahnya memerah.
Sayang, dia tidak melihat di mana tangannya mendarat, alhasil sekali lagi dia jatuh menimpa menimpa sang gadis. Dengan posisi yang sangat -diulangi-SANGAT CANGGUNG. Bagaimana tidak? Kepalanya terjatuh di dada gadis itu dan tangannya bukan menyentuh lantai, melainkan paha gadis itu di bagian yang tidak tertutup rok. Sekali lagi, Dino membatu. Dengan segera dia mengangkat kepalanya dari gadis itu.
Tsuna, Yamamoto dan Gokudera yang melihat kejadian itu hanya bisa menahan napas dengan wajah memerah, begitu juga semua murid yang ada di koridor
"Maaf, maaf! Aku tidak sengaja!" ucapnya cepat dengan wajah semerah tomat.
Tidak disangka oleh Dino, dia mendengar gadis itu tertawa kecil. Dino lalu merasakan sebuah tangan lembut dan halus menyentuh kepalanya, mengelusnya.
"Sensei, saya tidak apa-apa. Jangan panik," ucap gadis itu dengan suara lembut yang menenangkan walaupun ada segaris rona di wajahnya.
Entah kenapa mendengar suaranya dan merasakan tangannya mengelus kepalanya menenangkan Dino. Saat akan bangkit dari posisinya, tiba-tiba Dino merasakan sesuatu melewati belakang kepalanya dengan sangat cepat.
KRAK
Spontan, semua murid termasuk Dino dan gadis yang ditimpanya melihat asal bunyi itu. Sebuah benda dari besi, panjang, berwarna silver dan memiliki gagang berwarna hitam yang sangat familier menancap di tembok yang retak tidak jauh dari tangga. Seketika, mereka menatap arah datangnya benda itu.
Seketika murid-murid bergidik ngeri melihat sang ketua komite kedisiplinan dengan aura membunuh yang sangat mencekam dan mata yang haus darah berjalan mendekati kedua orang yang masih berada di lantai. Mereka hanya bisa menelan ludah begitu melihat sang ketua komite kedisiplinan berhenti tepat di sebelah kedua orang itu.
Tsuna, Yamamoto dan Gokudera yang melihat sang ketua komite kedisiplinan langsung mengetahui bahaya yang akan dihadapi oleh Dino. Setelah Dino jatuh untuk yang kedua kalinya, akhirnya mereka dapat melihat orang yang ditimpa oleh Dino. Hibari Miyuki. Dan kelihatannya Hibari melihat kejadian barusan.
DUAGH
Semua murid menahan napas saat melihat Hibari menendang wajah Dino. Begitu juga dengan Miyuki. Tepat saat Hibari akan memukul Dino dengan tonfanya, Miyuki segera berdiri dan menahan tangan Hibari.
"Haneuma, I'll bite you to death,"
"Hentikan! Dia tidak sengaja!"
Semua orang menatap Miyuki dengan ngeri. Tidak ada yang berani menahan sang ketua komite kedisiplinan, ditambah jika moodnya sedang buruk seperti ini. Termasuk Dino yang menatap gadis itu tidak percaya.
"Yuki, lepaskan," Hibari menggeram sambil memegang tangan Miyuki yang menahan tangannya, membuat semua murid yang mendengarnya bingung termasuk Dino.
'Yuki? Bukan herbivore?'
"Haneuma, beraninya kamu mengotori sekolah ini dengan melakukan pelecehan seksual," Hibari kembali menatap Dino dengan tatapan membunuh.
"Kyoya, yang tadi itu aku tidak sengaja," Dino menatap muridnya dengan bingung dan sedikit rasa takut. Kalau Miyuki tidak menahan serangannya, pasti sekarang dia sudah berada di rumah sakit. Kalau tidak langsung dikirim ke surga mengingat daya hancur tonfanya barusan.
"Sengaja atau tidak, aku tidak peduli," Hibari menggeram. "beraninya kamu menyentuh adikku seperti itu, herbivore!" Hibari melepaskan tangan adiknya dengan paksa.
"EH? ADIK HIBARI-SAN?!"
Seketika terdengar seruan kaget dan tidak percaya dari murid-murid di koridor. Dino menatap dua orang dihadapannya tidak percaya.
'Adik? Jadi dia adik Kyoya, Miyuki?' Dino memperhatikan Miyuki yang masih bersikeras menahan tangan kakaknya.
"Haneuma, berhenti menatap Yuki seperti itu. I'll bite you to death!"
Dino langsung mengalihkan pandangannya dari Miyuki dan berusaha berdiri sambil mengambil cambuknya. Sayang, begitu jatuh tadi ternyata cambuknya terpental di dekat tonfa Hibari yang menancap di tembok.
TRAK
Semua mata memandang Miyuki dengan mata terbelalak. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja gadis itu sudah masuk di antara Hibari dan Dino. Tsuna, Yamamoto dan Gokudera hanya bisa terpaku melihat mereka.
"Kyo-nii, hentikan!"
Ternyata Miyuki menahan serangan Hibari menggunakan tonfa Hibari yang tadi menancap di tembok. Semua murid memandangnya dengan takjub.
'Kyo-nii? Jadi dia memang adik Hibari-san?' batin semua murid.
"Yuki, minggir!" Hibari menggeram menatap adiknya.
"Tidak mau!" Miyuki menahan tonfa Hibari dengan tangan bergetar. "Aku tidak apa-apa, hentikan saja ini," Miyuki berusaha menenangkan kakaknya.
"Yuki, minggir sebelum I'll bite you to death," Hibari menatap tajam adiknya.
"Kyo-nii tidak memberiku pilihan. Padahal aku baru memperbaiki ini," Miyuki berbisik sambil mengeluarkan obeng yang hanya bisa di dengar oleh Hibari. Hibari yang melihat obeng yang di keluarkan oleh Miyuki langsung melompat mundur.
"Yuki, jangan macam-macam," Hibari menatap Miyuki dengan mengancam.
"Aku tidak akan macam-macam kalau Kyo-nii berhenti memukul Sensei," ucap Miyuki sambil menghampiri Hibari.
Hibari menatap Dino dengan pandangan membunuh yang membuat Dino terlonjak lalu melihat adiknya yang memandangnya dengan tatapan memohon. Hibari menghela napas kasar lalu memasukkan tonfanya.
"Haneuma mesum, ini belum selesai,"
'Me-mesum…' batin Dino terluka mendengar panggilan Hibari untuknya.
Miyuki memberikan tonfa yang dipegangnya kepada kakaknya sambil tersenyum meminta maaf. Hibari sekilas memandang siswa-siswi aktivitasnya berhenti karena kejadian tadi. Semua siswa-siswi itu akhirnya melanjutkan aktivitasnya dan banyak yang langsung masuk ke kelas karena takut dengan tatapan Hibari.
"Kyo-nii, aku benar-benar tidak apa-apa," Miyuki memeluk Hibari sesaat-yang membuat semua murid melebarkan matanya- sebelum Hibari pergi meninggalkan mereka masih mengeluarkan hawa membunuh yang mencekam walaupun sudah berkurang dari sebelumnya, siap 'menggigit siapapun sampai mati'.
"Dino-san, Miyuki-chan!"
Tsuna, Gokudera dan Yamamoto langsung berlari menghampiri ke dua orang itu.
"Sawada-senpai, Yamamoto-senpai, Gokudera-senpai, selamat siang," Miyuki membungkukkan badannya melihat ketiga senpai yang baru beberapa hari yang lalu ditemuinya. Mereka membalas salam Miyuki dengan canggung sebelum menanyakan keadaan mereka.
"Aku tidak apa-apa," Dino tersenyum melihat murid-muridnya memandangnya dengan khawatir.
"Itu tidak baik-baik saja Sensei, wajahmu bengkak dan hidungmu berdarah. Akan kurawat lukamu sebagai permintaan maaf atas perbuatan Kyo-nii,"
Pada awalnya Dino menolak, tetapi melihat Miyuki yang bersikeras merawat lukanya dan menatapnya dengan pandangan bersalah, Dino akhirnya mau di rawat dan mereka menuju UKS setelah sebelumnya mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan, kacamata dan cambuknya.
"Permisi,"
BUAGH
Begitu Miyuki membuka pintu UKS, tiba-tiba saja ada seseorang yang melompat ke arahnya, tetapi langsung terpental begitu Gokudera menendangnya.
"Aduh, aku cuma mau memberi salam pada gadis cantik itu," Shamal mengelus wajahnya yang baru saja ditendang oleh Gokudera.
"Selamat siang, saya mau meminjam obat di sini," Miyuki tersenyum sambil menatap Dr. Shamal. Tsuna melihat ada sebuah kilatan di mata Shamal untuk sesaat, tetapi tidak tahu apa.
"Gadis cantik, tentu saja boleh," Shamal segera berdiri dan mendekati Miyuki lagi.
Tsuna segera mengusir pikirannya dan berpikir itu karena Shamal melihat gadis cantik. Setelah perkenalan singkat antara Shamal dan Miyuki, mereka menceritakan kejadian yang baru saja terjadi dan meminta obat pada Shamal.
"Maaf, Kyo-nii tidak bermaksud jahat," ucap Miyuki saat sedang mengobati wajah Dino.
'Seperti itu tidak bermaksud jahat? Hampir saja ada korban nyawa di sekolah ini,' batin mereka bersamaan.
"Ah, itu juga salahku. Kalau aku lebih berhati-hati, pasti tidak seperti tadi," ucap Dino sambil menggaruk kepalanya dengan wajah memerah. Tiba-tiba suasana kembali canggung dan wajah Miyuki pun sedikit memerah mengingat kejadian tadi.
"Tapi, Sensei benar-benar sering terjatuh ya," Miyuki tertawa kecil mencairkan suasana yang membuat Dino lega.
"Maa, tadi Hibari seram sekali, ya," Yamamoto tiba-tiba bersuara sambil tersenyum.
"Itu karena Kyo-nii sangat protektif terhadap hal yang dia sangat dia sayang," Miyuki tersenyum. "seperti dia menjaga kota Namimori ini dan Namimori Gakuen, dia menjaga yang berharga baginya dengan caranya sendiri," Miyuki tersenyum lembut mengingat kakaknya, membuat semua yang ada di ruangan itu ikut tersenyum.
"Hee~, Miyuki-chan sangat sayang Hibari ya," Yamamoto berkomentar sambil tersenyum.
"Uhm! Aku sangat sayang Kyo-nii," Miyuki tersenyum manis yang membuat semua di ruangan itu tanpa sadar tersipu. Bel masuk berbunyi bersamaan dengan Miyuki selesai merawat luka Dino.
"Ah, kalau begitu saya akan kembali ke kelas, permisi," Miyuki membungkuk lalu berjalan keluar dari UKS. "ah, yang tadi kukatakan tolong rahasiakan dari Kyo-nii, karena Kyo-nii tidak akan senang mendengar hal itu," ucap Miyuki sebelum keluar dari ruangan itu.
"Benar-benar berbeda dengan Kyoya," Dino memandang pintu UKS yang masih terbuka dengan rona merah muda di wajahnya.
XXXXX
"Kamu benar-benar nekat, Miyuki,"
Begitu keluar dari ruang UKS, Miyuki memasuki salah satu ruang praktek yang tidak di pakai. Reborn, duduk di meja yang ada di ruangan itu.
"Reborn-san,"
"Hmp, wajahmu tadi memerah, apakah itu bagian dari rencanamu juga?" tanya Reborn dengan nada menggoda sambil menyeringai.
"Mou, aku tidak menyangka dia SECEROBOH ITU," ucap Miyuki sambil menekankan dua kata terakhir. Tanpa sadar satu tangannya menyentuh dadanya dan satunya menyentuh pahanya. Wajahnya kembali memerah.
"Khuhuhu, walau dijuluki informan dan mata-mata hebat sekalipun, kamu tetaplah hanya seorang remaja berusia 15 tahun," Reborn tersenyum melihat wajah Miyuki yang memerah.
"Mau bagaimana lagi, aku kan tidak terbiasa dengan laki-laki, Reborn-san lupa kalau dulu aku bersekolah di sekolah khusus putri?" Miyuki menundukkan kepalanya sambil berusaha melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
"Hmp," Reborn meloncat turun dari meja dan menghampiri Miyuki yang berdiri di dekat pintu. "kamu tidak menyangka hal tadi terjadi kan?" Reborn menatap Miyuki yang menunduk.
"Tidak, aku tidak menyangka Kyo-nii sedang patroli. Padahal biasanya dia berada di atap atau di ruangannya," Miyuki menghela nafas berat. "aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya nanti. Dia pasti marah."
Reborn hanya diam memperhatikan Miyuki. Walau dijuluki Kelelawar Hitam sekalipun, dia hanyalah seorang gadis remaja berusia 15 tahun. Tidak terbiasa dengan laki-laki dan sangat menyayangi kakaknya. Reborn menghela napas dan menyarankan Miyuki untuk memikirkan hal itu nanti dan menyuruhnya kembali ke kelas.
Miyuki mengangguk dan menuruti saran Reborn. Begitu dia masuk ke kelas, murid-murid berbisik-bisik sambil menatapnya yang tidak dihiraukan oleh Miyuki. Selama pelajaran pikirannya tidak tenang dengan apa yang akan dilakukan kakaknya. Miyuki sangat yakin kakaknya berniat melanjutkan serangannya.
XXXXX
TRAK
Mata Dino melebar menatap tonfa yang menancap di tembok sebelahnya. Sedikit saja salah melangkah, kepalanya yang retak. Dino mengalihkan pandangannya melihat Hibari yang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Haneuma, urusan kita belum selesai,"
"Kyoya, jangan di sini. Bagaimana kalau di atap saja?" Dino berkeringat dingin melihat muridnya seperti itu.
Hibari tidak menjawab dan hanya mengambil tonfanya yang menancap di tembok dan berjalan menuju tangga. Dino menghela napas lega Hibari menyetujui tawarannya, mengetahui Hibari akan menyerangnya, Dino sudah memanggil Romario agar menunggu di atap sekolah.
Sementara itu, Miyuki sedang berada di dalam ruang klub. Dia tidak memperhatikan sama sekali pembicaar di ruang klub itu. Begitu kegiatan klubnya selesai, Miyuki langsung berlari menuju atap sekolah.
"Kyo-nii!"
Miyuki berseru begitu membuka pintu atap dan melihat kakaknya sedang menyerang Dino yang menghalau semua serangannya dengan cambuknya.
"Miyuki-san,"
Miyuki mengalihkan pandangannya dan melihat Kusakabe dan Romario berada di pinggir atap, jauh dari dua orang yang bertarung.
"Tetsuya-san,"
Miyuki berjalan menghampiri Kusakabe dan Romario. Dia membungkukkan badannya dan memperkenalkan diri pada Romario yang dibalas dengan sopan.
"Maaf kan Boss saya yang ceroboh," Romario membungkukkan badannya pada Miyuki.
"Ah, tidak, justru saya yang harus minta maaf karena Kyo-nii merepotkan," Miyuki balas membungkukkan badannya.
Miyuki mengalihkan pandangannya dan menatap Dino dan Hibari yang bertarung. Dapat dilihat Hibari serius menyerang Dino dengan tatapan membunuh. Dino, walaupun dapat menghindari serangan-serangan dari Hibari kesullitan untuk membalas serangannya. Tiba-tiba Miyuki berlari menuju Hibari dan menarik tangannya.
"Kyo-nii, berhentilah!"
"Yuki, lepas!"
Hibari mengayunkan tangannya dan memukul Miyuki. Romario dan Kusakabe berteriak panik melihat Miyuki terlemper keluar pagar pembatas. Hibari membalikkan badannya dan melihat adiknya terlempar dari pagar pembatas.
"Miyuki-san!"
Tiba-tiba ada sesuatu melewati Hibari. Dino berlari mendekati pagar sambil mengayunkan cambuknya. Tepat pada waktunya, Dino berhasil menangkap Miyuki dengan cambuknya. Dino lalu menariknya ke atas sekolah.
"Miyuki," Dino menangkap Miyuki yang terlempar ke arahnya. Miyuki membuka matanya. Onyx bertemu dengan hazel. Dino hanya bisa mematung menatap Miyuki.
BUAGH
"Mau sampai kapan kamu memeluknya, herbivore," Hibari menendang punggung Dino yang mematung sambil memeluk Miyuki.
Dino melepaskan Miyuki dengan wajah memerah mendengar perkataan Hibari. Romario tersenyum melihat tingkah bossnya.
"Kyo-nii, dia sudah menolongku, jangan begitu!" Miyuki berjalan menuju kakaknya. "terima kasih sudah menolongku, Sensei," Miyuki membungkukkan badannya.
"Ah, tidak apa-apa," ucap Dino salah tingkah.
"Kyo-nii, Sensei sudah menolongku, maafkan yang tadi," Miyuki berjalan menuju kakaknya sambil memegang lengan bajunya. "bukankah prinsip Kyo-nii membayar hutang secepatnya? Anggap saja Kyo-nii sudah berhutang padanya,"
"Kenapa aku harus berhutang padanya?" Hibari menatap adiknya dengan pandangan kesal.
"Karena, Kyo-nii yang baru saja melemparku dan Sensei yang menolongku!" Miyuki balas menatap kakaknya dengan alis terangkat. Hibari menatap Miyuki dan Dino sesaat.
"Baiklah," Hibari menghela napas dan menyimpan tonfanya. Dino menghela napas lega melihat Hibari menyimpan tonfanya.
"Kenapa Sensei membawa cambuk ke sekolah?" Miyuki membalikkan badannya menghadap Dino sambil memandangi cambuknya.
"Eh, ini…itu…," Dino menyembunyikan berusaha menyembunyikan cambuknya sambil berusaha memikirkan alasan.
"Ah, apa karena mafia?"
"Bagaimana kamu tahu?" Dino membulatkan matanya memandang Miyuki.
"Reborn-san menceritakannya padaku kalau Sensei berasal dari Cavallone," Miyuki tersenyum memandang Dino.
"Bagaimana…?"
"Aku tidak menyangka permainan mafia ini populer sekali," ujar Miyuki yang membuat Dino, Romario dan Kusakabe terdiam mencerna perkataannya. "atau ini sebenarnya bela diri baru dengan menggunakan senjata? Sepertinya kemarin Gokudera-senpai memakai kembang api," Miyuki menambahkan.
'Eeehh! Dia menganggap ini sebagai game!' Dino, Romario dan Kusakabe hanya bisa tertawa garing di dalam hati mendengar perkataan Miyuki, sedangkan Hibari tidak peduli sedikitpun.
"Reborn-san juga bilang kalau Dino-sensei adalah guru Kyo-nii dan sering berlatih dengannya,"
"Herbivore itu bukan guruku," Hibari yang sejak tadi diam membuka mulutnya.
"Kyoya, setelah selama ini kamu masih belum mengakuiku sebagai gurumu?" Dino menatap Hibari dengan pandangan tidak percaya.
"Sensei, maafkan sikap Kyo-nii," Miyuki membungkukkan badannya.
"Ah, tidak apa-apa, aku sudah terbiasa. Miyuki-chan, karena kamu adik Kyoya panggil saja aku 'Dino'," ucap Dino sambil tersenyum.
"Baik, Dino-san," Miyuki membalas senyum Dino.
Ada segaris rona di wajah Dino saat Miyuki memanggil namanya. Mereka saling bertatapan. Sayang, hal itu tidak bertahan lama karena lagi-lagi Hibari menendang Dino.
"Haneuma mesum, berhenti menatap Yuki," Hibari berkata dengan nada kesal.
"Kyoya, aku tidak mesum!" Dino merengek mendengar perkataan Hibari yang sama sekali tidak dihiraukan.
"Pulang," Hibari menarik tangan Miyuki dan membawanya keluar atap. Miyuki hanya bisa memberi salam singkat karena tangannya ditarik oleh Hibari.
Dino, Romario dan Kusakabe hanya diam menatap pintu tempat kakak-beradik itu pergi.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," Kusakabe memecahkan keheningan itu sambil berjalan menuju pintu.
"Miyuki-san benar-benar berbeda dengan Hibari-san," ujar Romario memecahkan lamunan Dino. Dino hanya menganggukkan kepalanya dengan segaris rona di wajahnya yang disadari oleh tangan kanannya.
"Tapi saya tidak menyangka boss seagresif itu terhadap adik Hibari-san," goda Romario sambil tersenyum.
"Romario, sudah kubilang itu tidak sengaja!" Dino berseru dengan wajah merah padam.
Dino tidak tahu kenapa dia merasa malu setiap berdekatan dengan , sebagai seorang boss mafia yang memiliki Famiglia yang hebat dan berkarisma, sudah banyak perempuan yang mendekatinya dan dia seharusnya sudah terbiasa. Dino mengenyahkan pikirannya dan kembali ke hotel.
Tidak disadari oleh mereka seorang bayi yang memakai setelan hitam dan topi fedora menyeringai melihat kejadian tadi.
Continue…
XXXXX
Minna~ gimana menurut kalian chapter ini?
Entah kenapa Sacchan membuat di chapter ini Hibari menjadi over-protective sama Miyuki, Sacchan harap nggak kelewat OOC ya. Seperti yang sudah kalian baca pairing pertamam DinoxMiyuki! Kyaa~ akhirnya Sacchan berhasil mempertemukan mereka berdua~
Sacchan akan berusaha agar ada banyak adegan romance di beberapa chapter ke depan. Oke, minna mind to review?
