Disclaimer : Akira Amano

Warning : Author masih baru dan belum berpengalaman, mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Hikage Natsuhimiko: Maaf untuk typonya Hikage-san! Sacchan memang sering kurang teliti dan sering terjadi typo walau sudah memeriksanya. Untuk selanjutnya Sacchan akn berusaha mengurangi typonya. Wah~ nasibmu nggak beda jauh sama Sacchan tentang binatang tuh, Sacchan juga sering digongongin sama anjing tetangga -_-", sabar ya kita senasib. Iya dong, Miyuki emang keren, mengimbangi Ririn yang manis. Kyahahaha, sebenernya sih Luce nggak ngejomblo, cuman pacarnya nggak tinggal di Italia Hikage-san~

Apakah anda senang dengan adegan Miyuki bertemu dengan Dino? (Kufufufu~ #ketawa-setan-mengingat-adegan-itu) Author sampe guling-guling sendiri nulis chapter kemaren lho~ Miyuki sama Dino imut banget! Kyoya protektif banget! Apakah Dino akan menjadi pedofil? Lihat saja nanti~ #ditimpukkarenanyebelin. Miyuki sebagai aktris sejati di depan kakaknya jadi terbiasa untuk berakting dengan scenario yang sudah ada di otak! Dia memang hebat! Hikage-san chapte ini mungkin kurang seru, tapi author akan berusaha mengupdate chapter selanjutnya lebih cepat lagi!

Oke, Minna, selamat membaca

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Dream

.

.

.

Seorang gadis kecil berumur dua tahun dengan rambut hitam bergelombang berdiri diam sambil memeluk sebuah cermin melihat pemandangan di hadapannya. Darah. Darah. Tubuhnya berlumuran darah ibunya yang melindunginya. Di luar terdengar suara hujan deras dan petir yang saling menyambar

Anak itu mengalihkan pandangannya menatap seorang pria berjas putih yang sudah berwarna merah tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Disekelilingnya tergenang darah.

"Hahahaha! Bodoh! Seharusnya kalian menyetujui tawaranku!" seorang pria muda tertawa jahat sambil memegang sebuah rokok di tangannya. Disekililingnya terdapat banyak pria berpakaian hitam dan memakai kacamata.

"Amel, sayang sekali malam ini hujan," Laki-laki itu tersenyum mengejek menendang tubuh perempuan yang memeluk gadis kecil.

"Ka..mu..mengkhia…nati..ka…mi," dengan napas yang terputus-putus perempuan itu berbicara.

"Aku sudah memberikan kalian sebuah penawaran, tetapi kalian menolaknya," Laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan mendramatisir.

"Kamu...tidak….a…kan….bisa…men.. …kan..yang…ka.m.u..inginkan," perempuan itu sekali lagi berkata. "a..ku….menyem…bunyika.n…kuncinya," lanjutnya sambil tersenyum lalu dia menutup matanya.

"Sialan!" laki-laki itu menendang tubuh perempuan yang sudah tidak bergerak itu. "sayang sekali, padahal kamu adalah spesies yang menarik untuk diteliti," laki-laki itu tersenyum melihat perempuan itu tidak bergerak.

"Boss, kami sudah memeriksa semua yang ada di rumah ini. Semua yang ada di laboratorium sudah dihancurkan dan ada banyak bekas kertas yang terbakar. Kami tidak menemukan hal lain," lapor salah seorang laki-laki begitu memasuki ruangan itu.

"Huh, Edrich memang pintar, dia memilih menghancurkan semua penelitiannya," laki-laki itu mendesis kesal sambil memandang pria berjas putih yang tergeletak tidak jauh dari mereka. Pandangannya teralihkan kepada gadis kecil yang memeluk sebuah cermin.

"Heh, dia bisa digunakan," laki-laki itu tersenyum licik sambil menyuruh anak buahnya membawa gadis itu. "gadis kecil, jangan meyalahkanku atas hal ini. Kalau kamu mau, salahkan dirimu sendiri yang lemah dan tidak bisa berbuat apapun," ucapnya sambil tertawa jahat.

"Atau kau bisa menyalahkan dirimu yang terlahir dari bulan terkutuk,"

XXXXX

Begitu dia membuka mata yang terlihat adalah ruangan rumah sakit yang berwarna putih. Dihadapannya terbaring tubuh ibunya, tetapi sebuah kain menutupi wajahnya. Dia merasakan seseorang memeluknya. Tubuh kakaknya bergetar sambil memeluk adiknya.

"Kyo-nii, kenapa wajah kaa-san ditutup kain?" gadis itu menatap kakaknya bingung. Kakaknya hanya mengeratkan pelukannya tanpa berkata apapun.

Sekarang di hadapannya sekumpulan orang berbaju hitam dengan wajah sedih. Gadis itu dapat merasakan tangan kakaknya yang menggenggamnya erat.

"Kyo-nii, kaa-san di mana? Aku mau ketemu kaa-san!"

Gadis itu menangis dengan kencang. Sudah lama dia tidak bertemu dengan ibunya. Terakhir kali dia melihat ibunya adalah di rumah sakit. Kakaknya tidak menjawab perkataan adiknya, hanya memeluk tubuh itu dengan erat.

XXXXX

Gadis kecil berambut hitam bergelombang itu hanya diam. Dia tidak berteriak maupun menangis melihat orangutanya di bunuh, juga saat orang-orang berbaju hitam itu membawanya. Sudah beberapa hari dia berada di ruangan itu. Dia sudah menjadi boneka tanpa jiwa.

Gadis kecil bergaun putih itu duduk diruangan itu dalam diam. Ruangan dengan lantai dan cat putih. Di dalamnya hanya ada meja, kursi, kasur dan kamar mandi. Tidak ada jendela di sana. Setiap hari ada orang-orang berjas putih dan berkacamata datang untuk memeriksanya. Leontin dan cermin yang dibawanya di periksa oleh mereka begitu gadis itu datang.

Mereka mengembalikan leontin itu kepada si gadis kecil dan cermin, namun kaca cermin itu hancur. Walau begitu, gadis itu tetap menjaga cermin pemberian ibunya. Selama dua tahun gadis itu tinggal di tempat itu tanpa pernah menginjakkan kakinya ke luar.

Suatu hari sang laki-laki yang membunuh orang tuanya datang bersama sorang pria tua setengah berdua memasang senyum licik di wajahnya.

"Kalau dia memang tidak bisa menggunakan kemampuannya, kita gunakan saja darahnya,"

Mereka lalu membawa gadis kecil itu ke sebuah mansion besar dan menuju ruang bawah tanah. Di sana setiap orang-orang di sana menjadikan gadis itu sebagai bahan eksperimen. Darah gadis itu di ambil untuk di periksa, kabel-kabel terpasang di sekujur tubuhnya. Namun gadis itu tetap hanya diam. Tidak menangis, tidak berteriak. Wajah dan matanya hampa.

Hal itu berlangsung selama beberapa bulan lamanya karena mansion itu hancur dan si pria muda langsung melarikan diri membawa gadis kecil itu ke suatu tempat yang baru. Sekarang gadis itu tinggal di sebuah rumah kecil yang di pasangi barrier sehingga dia tidak bisa keluar. Tidak ada jendela di sana.

Di rumah kecil itu terdapat meja, kursi, tempat tidur, rak buku, sebuah piano dan kamar mandi. Setiap hari dia hanya membaca dan sesekali memainkan piano itu. Setiap beberapa bulan sekali orang-orang akan datang untuk memeriksa keadaannya dan memberikannya beberapa buku baru untuk mengganti buku yang ada di rak itu.

XXXXX

Keceriaan di dalam diri gadis itu hilang begitu ibunya meninggal. Dia menjadi pendiam. Pamannya yang mengambil alih hak asuh gadis itu dan kakaknya hanya bisa memperhatikan gadis itu tanpa berbuat apapun.

Sayang, sang paman memiliki pekerjaan yang membuatnya tidak bisa tinggal menetap di suatu tempat dalam jangka waktu yang lama. Pekerjaannya mengharuskannya pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Tetapi sang paman mengetahui kedua anak itu begitu menyayangi kota tempat tinggal mereka.

Kakak gadis itu menolak tinggal di rumah paman-bibi mereka di Tokyo sehingga pamannya mengambil hak asuhnya dan membiarkannya tinggal di Namimori. Gadis itu kehilangan sinarnya, keceriaannya. Kakaknya dan pamannya menginginkan gadis itu untuk tetap tinggal di Namimori, tetapi melihat kondisi gadis itu mereka mengalah dan membiarkan gadis itu di bawa oleh paman dan bibinya ke Tokyo walaupun hak asuh bukan tetap pada pamannya.

"Miyu," kakak gadis itu menatap adiknya sebelum dia pergi ke Tokyo.

"Kyo-nii," gumam gadis itu sambil menatap kakaknya sedih.

"Tidak," kakak gadis itu menarik ikat rambut adiknya sehingga rambutnya yang terikat tergerai. Dia mengeluarkan sebuah pita putih berenda dan memakaikannya di rambut adiknya.

"Ini pita kaa-san," gadis itu menyentuh pita di kepalanya sambil menangis.

"Yuki,"

Gadis itu menghentikan tangisannya dan menatap kakaknya. Kakaknya tidak pernah memanggilnya dengan 'Yuki', dia selalu memanggilnya dengan 'Miyu'.

"Yuki, jadilah kuat dan kembali ke kota ini," ucap kakaknya sambil tersenyum kepada adiknya. Untuk pertama kalinya dia melihat kakaknya tersenyum seperti itu.

Gadis itu menggenggam pita di rambutnya sambil menundukkan kepalanya. Dia menurunkan tangannya dan menghapus air mata di wajahnya lalu menatap mata kakaknya sambil tersenyum.

"Uhm! Aku akan jadi kuat dan kembali ke sini. Aku kan adik Kyo-nii, aku tidak boleh lemah," gadis itu menatap kakaknya lurus.

Kakak gadis itu tersenyum melihat binar di mata adiknya kembali walaupun masih ada kesedihan di sana. Dia memeluk adiknya untuk terakhir kalinya sebelum adiknya pergi. Gadis itu menahan tangisan yang hampir keluar dan membalas pelukan kakaknya.

Sayang, karena sejak awal pamannya sudah terkena kanker, dua tahun kemudian pamannya meninggal dunia. Bibinya yang tidak tahan ditinggal oleh suaminya, kondidinya terus memburuk dan meninggal setahun kemudian.

Gadis itu menguatkan hatinya. Dia tidak akan kembali ke tempat kakaknya sebelum dia menjadi kuat. Dia mendaftarkan diri beasiswa di salah satu sekolah elit di Tokyo. Berusaha menjadi yang terbaik di sana.

XXXXX

Gadis itu duduk sambil memainkan piano di ruangan itu. Musik yang dimainkan indah dan sempurna, tetapi tidak ada perasaan yang tertuang dalam permainannya. Musik itu terasa hampa.

Sudah lima tahun dia tinggal di tempat itu. Tidak ada yang berubah kecuali dia yang bertambah besar karena pertumbuhannya dan buku-buku di ruangan itu yang selalu di ganti oleh mereka. Gadis itu dapat mendengar suara orang membuka pintu dengan kasar. Seorang pria muda berambut pirang dan beberapa orang berpakaian hitam masuk ke dalam ruangan itu.

Gadis itu tidak menghentikan permainannya. Pria itu mengangkat tangannya, memberi tanda pada anak buahnya untuk menurunkan senjata mereka. Pria itu berjalan menuju sang gadis, cambuk yang di bawanya dia masukkan ke dalam kantung jaketnya.

"Boss!" beberapa bawahannya berseru.

"Tenang saja," sang pria muda tersenyum menenangkan bawahannya. Dia berhenti tepat di sebelah gadis itu.

Gadis itu menghentikan permainannya dan menatap sang pria. Pria itu menatap gadis di hadapannya sambil tersenyum. Dia menatap mata kosong dan hampa gadis itu sambil mengulurkan tangannya.

"Namaku Dino, siapa namamu?"

Gadis itu menatap pria dihadapannya tanpa berkedip. Sudah lama dia tidak melihat ada orang yang tersenyum seperti itu kepadanya. Bukan senyum licik, jahat maupuns senyum yang membuat perasaan tidak enak lainnya. Senyum yang diberikannya membuat gadis itu merasa tenang dan hangat. Ragu-ragu, gadis itu meraih tangan yang disodorkan padanya.

"Karin,"

Xxxxx

' Hibari Miyuki,'

Miyuki membuka matanya dan menemukan dirinya berdiri tepat di tengah-tengah padang rumput yang luas. Dia membalikkan badannya, mendengar ada suara yang meamnggil dirinya. Dia melihat seorang gadis berdiri di bawah sebuah pohon.

Di belakang gadis itu terhampar langit malam dengan bulan purnama berwarna biru. Sinar yang di pancarkan bulan itu membuat Miyuki tidak bisa melihat wajah gadis itu karena tertutup bayang-bayang pohon.

Miyuki berjalan perlahan menuju gadis itu. Dia hanya bisa melihat gaun putih yang di pakai gadis itu sama dengan gaun putih yang di pakainya dan rambut hitam bergelombang hingga pinggang.

"Kamu siapa?"

"Aku membutuhkan bantuanmu,"

"Bantuanku?" Miyuki menghentikan langkahnya. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" Miyuki menatap gadis itu dengan dahi berkerut.

Gadis itu hanya menunjuk dia atas Miyuki. Miyuki mengangkat kepalanya dan melihat seekor kelelawar yang sangat besar terbang di atas kepalanya.

"Natt!" Miyuki berseru.

Kelelawar itu terbang menuju tempat gadis di bawah pohon dan berdiri di sebelah gadis itu.

"Bagaimana…?" Miyuki menatap kelelawar miliknya dengan bingung. Bagaimana mungkin kelelawar miliknya jinak kepada orang lain?

"Jadi, namamu sekarang adalah Natt?" gadis itu mengelus kelelawar yang berdiri di sampingnya.

"Kiii~" Kelelawar itu bersuara senang.

"Terima kasih sudah membawanya ke sini," gadis itu mengelus kelelawar itu lagi.

"Apa maksudmu?" Miyuki bertanya pada gadis itu.

Gadis itu hanya mengangkat tangannya, menunjuk Miyuki. Miyuki melihat arah yang ditunjuk oleh gadis itu dan menyentuh rambutnya. Jepit rambut kelelawar hitam miliknya terpasang bersama pita putihnya.

"Kamu…" Miyuki seakan tersadar menatap gadis di hadapannya dengan mata melebar kaget.

"Balas jasa. Aku menginginkan kamu membantuku dengan kemampuanmu,"

"Membantumu apa?" Miyuki berjalan kembali mendekati gadis itu.

Gadis itu menggerakkan mulutnya, Miyuki tidak bisa mendengarnya. Sekilas Miyuki melihat mata berwarna silver yang mengandung kesedihan.

"Jangan khawatir, kita akan segera bertemu,"

XXXXX

Namimori, Jepang

Miyuki membuka matanya dan melihat atap kamarnya yang putih. Dia berusaha duduk dari posisinya. Matanya beralih pada meja kecil di samping tempat tidurnya. Ada sebuah pita putih dan jepit rambut hitam dengan motif kelelawar di sana.

"Mimpi?" Miyuki mengambil jepit rambut di sampingnya dan memandanginya.

Miyuki mengingat mimpinya ketika masih kecil, saat ibunya meninggal dan dia harus tinggal di rumah paman dan bibinya. Saat kakaknya berhenti memanggilnya 'Miyu'.

"Kenapa malah bermimpi seperti itu?" gumam Miyuki sedih sambil menghela napas.

Dia teringat gadis di mimpinya dan menatap jepit yang masih dia pegang.

"Jangan khawatir, kita akan segera bertemu,"

Miyuki menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan mimpinya. Dia menatap jam di samping tempat tidurnya dan beranjak dari kasurnya.

"Sudahlah, aku harus bersiap-siap sekolah," gumamnya sambil mengambil baju seragamnya dari dalam lemari dan menganti bajunya. Dia akan melupakan mimpinya barusan.

Miyuki menatap jepit rambut hitamnya sekilas. Itu hanya mimpi. Miyuki berusaha meyakinkan dirinya, tetapi bayangan rambut hitam bergelombang dan mata silver gadis itu tidak mau hilang dari pikirannya. I

XXXXX

Giglio Nero Mansion, Italia

Matanya terbuka, tubuhnya berkeringat. Ririn duduk di kasurnya sambil mengingat mimpinya. Mimpi saat orang tuanya di bunuh. Saat hidupnya terasa kosong dan hampa. Saat dia hanyalah sebuah boneka yang digunakan oleh para peneliti itu sebagai kelinci percobaan.

Ririn berusaha menenangkan dirinya hingga napasnya menjadi teratur. Tangannya tidak sengaja menyentuh bantalnya dan dia mengeluarkan cermin miliknya yang ada di bawah bantal.

"Terima kasih sudah menolongku, Kakak," Ririn tersenyum kecil mengingat Dino menolongnya dari kehampaan.

"Kamu juga, terima kasih," Ririn mencium cermin di tangannya yang sedikit bersinar.

Dia berjalan menuju tas miliknya dan mengambil tiga lembar foto di sana dan sebuah pisau kecil, lalu berjalan menuju jendela. Dia meletakkan cermin itu di kusen jendela dan merobek ketiga foto itu hingga menjadi kecil dan meletakkannya di atas cermin itu.

Ririn lalu mengambil pisau kecil di sebelah cermin dan menyayat tangannya, membiarkan darahnya menetes di atas cermin dan foto di hadapannya. Cermin itu bersinar dan Ririn menggumamkan sebuah mantra. Foto-foto yang ada di atas cermin itu menghilang.

Ririn mengambil cermin itu dan duduk di kusen jendela. Dia menggerakkan tangannya ke luar jendela. Langit malam yang tadinya gelap tanpa bulan sekarang terdapat sebuah bulan purnama berwarna perak.

Ririn menatap cermin di tangannya dengan matanya yang bersinar keperakan. Dia mengambil sedikit darah dari tangannya dan membuat gambar bulan sabit lalu menggumamkan sesuatu. Cermin itu bersinar dan menampilkan gambar secara berganti-gantian.

Gambar seorang pemuda berambut cokelat sedang berada di meja makan dengan seragam sekolah, di sekelilingnya ada seorang anak yang memakai setelan, memakai baju cina dan memakai kostum sapi.

Gambar di cermin itu berganti menampilkan seorang pemuda berambut silver sedang berjalan, lalu seorang pemuda berambut hitam tinggi yang keluar dari rumahnya, seorang pria berambut putih cepak yang berlari sambil meneriakkan sesuatu, lalu seorang perempuan dan pemuda berambut biru keunguan dengan model rambut yang sama di sebuah ruangan yang mirip reruntuhan, seorang pemuda dengan rambut hitam dan seekor burung kuning kecil bulat di bahunya, lalu berhenti pada gambar seorang perempuan yang sangat mirip dengan pemuda sebelumnya.

"Ririn mohon bantuanmu, Kelelawar Hitam,"

XXXXX

Tada~

Ini menceritakan masa lalu Miyuki dan Ririn waktu masih kecil~ jadi urutannya Ririn-Miyuki-Ririn-Miyuki-Ririn, semoga tidak membingungkan

Maaf! Sacchan benar-benar buntu, jadi chapter ini tidak sepanjang chapter sebelumnya dan tidak ada romance sedikitpun disini! Sacchan berjanji akan memeperbaikinya di chapter berikutnya

*Readers, Sacchan sedang mencari Author dari New Cloud Guardian of Varia, apa ada yang tahu? Sacchan tertarik menulis Fanfic setelah membaca fanfic itu, tapi sepertinya sudah dihapus karena Sacchan tidak bisa menemukannya dan Sacchan lupa authornya. Untuk yang tahu Sacchan mohon info karena Sacchan sangat menyukai Lirina dan Sacchan jadi ngefans sama authornya~*

Nah, Minna mind to Review?