Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Hikage Natsuhimiko : Waah, kamu tau aja Reborn pacarnya si Luce~ Ah, nggak, orang tua mereka nggak mati bareng kok. Orang tua Ririn meninggal waktu Ririn masih dua tahun, kalo Miyuki dan Hibari ayahnya tidak di ketahui (sabar ya) dan ibunya waktu Miyuki sembilan tahun, Hibari sebelas tahun. Iya, mereka senasib nih. Nggak kok, nggak kembar, tenang aja~Iya, mereka emang punya kemiripan dan kemiripan itu yang menghubungkan mereka. Ehehehe untuk soal di mana mereka bertemu sabar dulu ya, Sacchan juga masih bingung mau ketemuin mereka di mana -_-'. Terima kasih banyak infonya~ #pelukHikage. Iya yang ada Bel nya authornya bener Rin-X-Edden, dan ceritanya udah di hapus TTTT.

Masuk ke cerita, selamat membaca!

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Movement

.

.

.

Namimori, Jepang

"Kyo-nii, tunggu aku!"

Miyuki mengambil tasnya yang ada di kursi dan berjalan menuju kakaknya dengan senyum di wajahnya. Hibari hanya menatap adiknya dengan tajam.

"Mou~ kemarin kan Kyo-nii yang mengatakan aku adikmu di depan banyak murid, tidak ada gunanya lagi di tutupi!" Miyuki membalas tatapan kakaknya sambil memakai sepatunya.

"Jaga jarak denganku, Yuki," Hibari membalikkan badannya begitu adiknya selesai memakai sepatu.

"Kenapa? Aku senang bisa berangkat sekolah dengan Kyo-nii. Kyo-nii tidak pernah mau berangkat sekolah denganku dan menghindariku di sekolah. Sekarang semua murid pasti sudah tahu kalau aku adik Kyo-nii, jadi tidak ada alasan untuk berpura-pura tidak kenal lagi," Miyuki mengerutkan dahinya kesal sambil menatap kakaknya.

"Kamu akan dijauhi," Hibari menggumam pelan.

"Tidak masalah," Miyuki tersenyum mendengar perkataan kakaknya. "bukankah Kyo-nii sendiri yang bilang kalau berkerumun adalah perbuatan herbivore, kenapa sekarang malah tidak ingin aku dijauhi?" Miyuki menatap kakaknya sambil tersenyum nakal. Dia tahu alasan kakaknya berkata begitu.

Hibari hanya mengalihkan pandangannya tanpa menjawab pertanyaan Miyuki, membuat Miyuki tersenyum maklum. Miyuki lalu menarik lengan baju kakaknya.

"Aku tidak keberatan. Aku ingin semua orang tahu Kyo-nii adalah kakakku. Aku ingin mereka tahu kita adalah keluarga. Tidak suka?" Miyuki memandang kakaknya dengan pandangan memelas dan kepala dimiringkan yang membuatnya sangat imut.

Hibari menatap adiknya tanpa berkedip. Sebenarnya dia juga ingin semua orang mengetahui Miyuki adalah adiknya. Satu-satunya keluarganya. Adiknya yang baik, cantik, lembut, pintar dan kuat.

"Hn," Hibari kembali melanjutkan jalannya.

Miyuki tersenyum mendengar jawaban Hibari. Mungkin bagi orang lain itu terdengar cuek atau dia tidak peduli, tetapi Miyuki tahu bahwa itu artinya kakaknya tidak keberatan dengannya. Miyuki berjalan di samping kakaknya dengan senyum bahagia di wajahnya. Dia tidak perlu lagi menutupi dirinya sebagai adik Hibari.

Hibari melihat Miyuki yang tersenyum bahagia dari ujung matanya. Hibari tersenyum kecil. Sepertinya dia tidak akan menyesali keputusannya ini.

Mereka memasuki sekolah bersama-sama, membuat semua murid berbisik-bisik sambil menatap ke arah mereka.

"Eh, jadi rumor bahwa Miyuki-sama adik Hibari-san itu benar?"

"Tapi kalau dilihat-lihat mereka memang sangat mirip,"

"Yah, kalau saja sifat mereka juga sama,"

Banyak terdengar bisikan-bisikan yang menyerukan ketidak percayaan dan keterkejutan melihat Hibari dan Miyuki berjalan berdampingan. Hibari menatap tajam semua murid yang berada di sekitarnya, membuat murid-murid ketakutan dan terdiam. Hibari lalu berjalan mendekati Kusakabe yang berdiri di dekat gerbang sekolah.

"Kyo-nii, aku ke kelas ya," Miyuki tersenyum sambil melanjutkan jalannya yang hanya di jawab dengan 'Hn' oleh Hibari.

"Yang benar saja!"

"Aku tidak percaya!"

"Miyuki-sama!"

Sekali lagi terdengar seruan kecewa, ratapan dan ketidak percayaan murid-murid yang sebagian besar adalah fans Miyuki. Saat Miyuki akan memasuki gedung sekolah, dia melihat Tsuna, Yamamoto dan Gokudera.

"Pagi, Miyuki-chan," Yamamoto melambaikan tangannya kepada Miyuki.

"Selamat pagi, Miyuki-chan,"

"Pagi,"

"Selamat pagi Yamamoto-senpai, Sawada-senpai, Gokudera-senpai," Miyuki menghampiri mereka dan membungkukkan badannya.

"Sepertinya tadi kamu datang bersama Hibari?" Yamamoto menatap Hibari yang berdiri di gerbang sekolah bersama Kusakabe.

"Iya, kami berangkat bersama," Miyuki menjawab perkataan Yamamoto dengan senyum lebar di wajahnya dan binar di matanya.

"Eh, sepertinya kamu bahagia sekali bisa berangkat bersama kakakmu, Miyuki-chan?" Tsuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat Miyuki yang terlihat sangat senang dan antusias menjawab pertanyaan Yamamoto.

"Karena, ini pertama kalinya aku dan Kyo-nii pergi sekolah bersama sejak masuk SMA," Miyuki menjawab masih dengan senyum di wajahnya.

"Kenapa sebelumnya kalian tidak berangkat bersama?" kali ini Gokudera ikut bertanya.

"Karena Kyo-nii tidak mau murid lain tahu bahwa aku adalah adiknya,"

"Kenapa?"

Sebelum pertanyaan terakhir Gokudera sempat terjawab, bel masuk sudah berbunyi. Akhirnya mereka berpisah menuju kelas masing-masing. Begitu sampai di kelas, murid-murid memandangnya dengan takut-takut.

Miyuki tersenyum kecil menanggapi sikap mereka. Dia memaklumi sikap mereka mengingat kakaknya dalah sesorang yang ditakuti oleh orang-orang sekota Namimori ini. Dia duduk di bangkunya dengan tenang seakan tidak terjadi apapun. Seorang guru memasuki kelasnya dan mulai mengabsen murid-muridnya.

"Hasegawa-san,"

"Hadir,"

"Hayashima-san,"

"Hadir,"

"Umm," sang guru terlihat kebingungan membaca nama murid selanjutnya.

Para guru memang diancam oleh Hibari untuk tidak memberitahukan siapapun tentang adiknya, sehingga guru-guru biasanya mengabsennya dengan 'Miyuki-san'. Tapi, kalau sudah ketahuan begini, guru-guru pun jadi bingung mau mengabsen dengan apa. Salah-salah, nyawa mereka melayang.

"Hibari Miyuki, hadir," Miyuki tersenyum menenangkan guru itu, membuat guru yang tadinya gugup dan panik menjdi lebih tenang.

Pelajaran pun kembali seperti biasa. Guru-guru sempat gugup dan terlihat tidak tenang saat pertama kali memasuki kelas dan menatap Miyuki. Mereka mengira setelah murid lain mengetahui Miyuki adalah adik Hibari, sikap gadis itu akan berubah. Tapi, begitu Miyuki tersenyum menenangkan setiap guru yang gugup, duru-guru itu kembali mengajar sepertu biasa.

Bel istirahat berbunyi. Seorang siswi yang merupakan ketua kelas di kelas itu mengambil setumpuk buku tugas murid yang ada di meja guru dan berniat membawanya ke ruang guru. Sepertinya karena buku yang di bawanya terlalu berat dia tidak memperhatikan jalannya dan tersandung meja.

Ketika dia mengira dirinya akan jatuh, sepasang lengan yang lembut namun kuat menahannya dari samping sehingga buku-buku yang di bawanya juga tidak terjatuh. Siswi itu samar-samar mencium aroma lembut lavender. Siswi itu mengangkat pandangannya dan menatap gadis cantik bermata onyx menahan tubuhnya.

"Kamu baik-baik saja?" Miyuki tersenyum sambil membantu melepas tangannya yang menahan gadis itu.

"Iya, terima kasih, Miyuki-chan," siswi itu menundukkan kepalanya yang di balas dengan senyuman oleh Miyuki.

"Kamu akan membawa buku itu ke ruang guru? Kelihatannya berat, biar aku bantu," Miyuki mengambil sebagian buku yang di bawa siswi itu.

"Ah, tidak perlu," siswi itu berniat menolak ketika Miyuki mengambil bukunya.

"Jangan begitu, ayo," Miyuki tersenyum lembut membuat wajah siswi itu sediki memerah dan menganggukkan kepalanya.

Miyuki tidak sadar bahwa teman-teman sekelasnya memperhatikannya sejak tadi. Begitu Miyuki keluar dari kelas mereka saling memandang.

"Miyuki-chan, terima kasih sudah membantuku!" siswi tadi membungkukkan badannya begitu mereka keluar dari ruang guru.

"Ah, tidak apa-apa. Sudah seharusnya kita saling menolong kan?" Miyuki tersenyum mendengar perkataan siswi tadi.

Tiba-tiba suara berisik anak-anak di koridor berhenti. Miyuki membalikkan badannya dan melihat Hibari berjalan sambil membawa dokumen diikuti Kusakabe. Miyuki tersenyum dan berjalan menuju kakaknya.

"Selamat siang, Tetsuya-san," Miyuki membungkukkan kepalanya sambil memberi salam kepada Kusakabe yang dibalas dengan sopan sebelum menghadap kakaknya. "Kyo-nii, mau makan bento bersama?"

"Hn, aku sibuk," Hibari menatap kertas yang di bawanya sekilas.

"Oh, kalau begitu selamat bekerja," Miyuki tersenyum kepada kakaknya sebelum Hibari dan Kusakabe melanjutkan jalannya yang hanya dibalas anggukan oleh Hibari.

Miyuki mengabaikan tatapan murid-murid yang memperhatikannya dan berjalan menuju kelasnya. Begitu dia sampai di kelasnya dan berniat memakan bentonya, teman-teman sekelasnya mendatangginya.

"Miyuki-chan,"

"Miyuki-san,"

"Kami minta maaf!" semua murid membungkukkan badannya kepada Miyuki.

"Eh?" Miyuki memandang mereka dengan bingung. "Minta maaf untuk apa?"

"Kami minta maaf sudah meragukanmu," seorang siswa berkata dengan sambil menunduk.

"Kami menjauhimu dan takut padamu karena kamu adalah adik Hibari-san!" seorang siswa lain menyahut.

"Miyuki-chan, maafkan kami karena bersikap buruk," seorang siswi yang tadi dibantu oleh Miyuki menundukkan kepalanya.

Miyuki tertawa kecil yang membuat semua teman sekelasnya saling berpandangan.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku mengerti. Wajar kalau kalian takut padaku karena aku adik Kyo-nii," Miyuki tersenyum menenangkan mereka semua.

"Miyuki-san,"

"Miyuki-chan,"

"Miyuki-sama,"

Teman-teman sekelas Miyuki memandangnya dengan mata berkaca-kaca dan wajah memerah. Mereka merasa terharu Miyuki mau memaafkan mereka.

"Eh, tolong jangan panggil aku dengan '-sama',"

"Baik, Miyuki-san!"

Awalnya hanya teman-teman sekelasnya yang kembali bersikap biasa dan tidak menjauhi Miyuki, namun lama-kelamaan siswa-siswi lain kembali bersikap seperti biasa terhadap Miyuki.

"Selamat pagi, Miyuki-sama!"

"Selamat pagi, Miyuki-san,"

"Selamat pagi, Miyuki-chan,"

"Selamat pagi," Miyuki membalas sapaan siswa-siswi itu dengan senyum lembutnya seperti biasa, tidak menyadari sepasang mata onyx melihat hal itu sambil tersenyum kecil.

XXXXX

"Hee~ Miyuki populer sekali,"

Seorang pemuda berambut pirang melihat seorang gadis berambut hitam yang dikelilingi banyak murid dari atap sekolah. Ada senyum terpasang di wajahnya.

"Dino, aku tidak ingat pernah mengajarimu menjadi mesum," Reborn berkata sambil menendang kepala Dino.

"Aduh, Reborn, aku tidak mesum!" Dino memegang kepalanya.

"Aku mendengarnya, apa yang kau lakukan kemarin," Reborn mengubah Leon menjadi palu.

"Hentikan, hentikan! Kemarin aku benar-benar tidak sengaja!" Dino menggoyangkan tangannya di depan wajahnya yang memerah.

"Huh, baiklah," Reborn mengembalikan Leon ke wujud asalnya dan meletakkannya kembali ke topinya yang membuat Dino menghela napas lega. "lagipula masih ada hal lain yang harus kita bicarakan,"

"Sepertinya mereka mulai mengincar Shimon Famiglia. Enma dan anggota Shimon lainnya sepertinya kembali ke Italia untuk mengurus kekacauan yang terjadi," Dino menatap Reborn dengan serius.

"Ternyata mereka mulai bergerak. Bagaimana keadaan Shimon?"

"Aku sudah menyuruh anak buahku memberikan bantun dan Vongola Nono juga memberikan bantuan kepada mereka, sepertinya mereka dapat mengatasinya,"

"Begitu. Tapi, apa yang membuat mereka tiba-tiba bergerak?"

"Entahlah. Kita bahkan sampai sekarang belum mengetahui tujuan mereka," Dino menghela napas sambil mengacak rambutnya.

"Dino, sudah saatnya kita memberi tahu Tsuna dan yang lainnya tentang hal ini," Reborn berjalan menuju pintu dan keluar dari atap.

"Aku mengerti,"

XXXXX

"Kyoya~"

Dino melangkah memasuki ruang komite kedisiplinan diikuti oleh Romario dan dengan seketika sebuah tonfa melayang ke arahnya. Dino dengan sigap menangkis tonfa itu dengan cambuknya.

"Haneuma mesum pedophile," Hibari mendesis sambil menatap Dino dengan tajam dari kursi tampatnya duduk.

'Me-mesum? Pedhopile?' Dino membatin dalam hati dengan tersinggung.

"Kyoya, aku bukan pedophile! Dan aku tidak mesum!" Dino merengek sambil mendekati muridnya itu.

"Apa maumu?" Hibari tidak menghiraukan perkataan Dino dan berdiri sambil mengangkat tonfanya yang masih tersisa. "Jangan kira aku lupa apa yang kau lakukan kemarin Haneuma."

"Kyoya, aku mau kita bicara sebentar," Dino menelan ludah melihat Hibari siap bertarung mengangkat tangannya, berusaha menenangkan pemuda itu. "tentang The Foundation," sambung Dino cepat sebelum Hibari benar-benar menyerangnya.

"Sebaiknya ini penting Haneuma, atau kamikorosu," ancamnya sambil menurunkan tonfanya dan berjalan ke sofa diikuti Dino.

"Aku tahu,"

XXXXX

Giglio Nero Mansion, Italia

"Kamu benar-benar akan pergi sekarang?"

Yuni menatap Ririn yang sudah siap dengan mantel abu-abu panjang selutut dengan hoodie, celana panjang hitam, kaus lengan panjang sepaha, tas rajut abu-abu dan sebuah koper. Ririn hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap Luce, Aria, Yuni, Gamma, Colulu dan Widget.

Saat mereka sedang sarapan, tiba-tiba Ririn mengatakan pada Luce, Aria dan Yuni bahwa dia akan pergi dari tempat itu karena ada yang harus di lakukannya. Pada awalnya mereka menolak karena Ririn tidak mau di antar dan memaksa akan pergi sendiri. Namun, melihat ketegasan di mata dan nada bicara Ririn, Yuni mengizinkan Ririn.

"Ada yang harus Ririn lakukan," ucapnya singkat.

"Kamu yakin tidak mau di antar?" Luce menatap Ririn dengan khawatir.

"Itu benar Nona Ri-"

"Ririn," Ririn memandang Gamma. "Ririn tidak suka di panggil 'Nona',"

"Baiklah, Ririn. Saya bisa menyiapkan mobil dan mengantarkan sampai ke tujuan," Gamma menatap gadis kecil itu, berusaha meyakinkannya.

"Tidak. Ririn akan pergi sendiri,"

"Kamu yakin tidak mau menunggu pagi atau siang hari saja? Sekarang sudah hampir gelap," Aria menatap langit yang berwarna merah dengan dahi berkerut.

"Tidak, Ririn harus pergi sekarang,"

"Hhh~ baiklah, tapi berhati-hatilah. Kalau terjadi apa-apa padamu, kami tidak tahu bagaimana akan menghadapi Kakakmu," Aria menghela napas sambil mengusap kepala Ririn.

"Um," Ririn menganggukkan kepalanya pada Aria.

Ririn lalu berjalan ke arah Yuni dan memeluknya setelah itu Aria, Luce, Gamma, serta dua ekor rubah, Colulu dan Widget.

"Ririn pergi sekarang," Ririn melambaikan tangannya dan berjalan pergi dari mansion itu.

"Apa tidak apa-apa membiarkannya pergi sendirian?" Luce memandang punggung Ririn dengan khawatir.

"Tidak apa-apa," Yuni menatap Ririn yang pergi sambil tersenyum, mengingat ketegasan di mata Ririn saat mengatakan akan pergi.

Setelah beberapa jam berjalan dan memasuki hutan, Ririn menghentikan langkahnya. Dia merapatkan mantelnya dan tubuhnya bergetar hebat. Berbeda dengan saat berada di dalam mansion Cavallone dan Giglio Nero, udara di luar sangat dingin bagi darah tropis Ririn.

Dengan tangan bergetar dia mengambil sebuah botol kecil dari tas rajut abu-abunya dan mengeluarkan sebutir pil berwarna merah lalu menelannya. Ririn merasakan dingin di tubuhnya menghilang, gemetarnya berhenti dan menghela napas. Dia menatap langit yang sudah gelap dan melihat bulan purnama perak di langit.

"Syukurlah malam ini ada bulan purnama," Ririn mengeluarkan cerminnya dari dalam tas."Tidak baik menarik kekuatan dengan ilusi terus menerus," gumamnya sambil menggores jarinya dengan pisau kecil dan membuat lingkaran serta simbol bulan sabit di cermin lalu mengarahkan cerminnya ke bulan.

"Specchio di Luna : Attivare," Ririn memejamkan matanya. Perlahan cermin di tangannya mulai bersinar dan dia membuka matanya perlahan.

"Salvare," Ririn mengarahkan cerminnya ke kopernya dan dalam sekejap koper itu seperti terserap ke dalam cermin yang lebih kecil dari koper itu. Ririn lalu menatap bulan.

"Malam tidak akan panjang. Sekarang waktu yang tepat untuk melakukannya sebelum 'hal itu' Ririn lakukan," Ririn menghela napas lalu mengeluarkan sekantung serbuk berwarna putih dan membuat lingkaran sihir dengan simbol bulan sabit dan bebrapa huruf serta simbol dengan menaburkan serbuk itu. Ririn lalu berdiri di tengah lingkaran yang dia buat.

"Wahai bulan, wahai penguasa malam. Pinjamkan padaku kekuatan suci yang menerangi kegelapan," perlahan tubuh Ririn diselimuti oleh cahaya berwarna perak. "malam ini, dengan bantuan bulan dalam selubung kegelapan malam, kuhancurkan segel pengikat dari diriku," Ririn mengambil sebotol cairan berwarna perak dari dalam tasnya matanya terpejam.

"Ririn, maaf… mama hanya bisa menitipkan ini padamu,"

"Ririn, maafkan mama. Mama tidak mau mereka mempergunakan kekuatanmu,"

"Hancurkanlah segel ini saat kamu merasa membutuhkan kekuatan ini,"

"Kupersembahkan air suci dan darah dari bulan terkutuk," Ririn menuangkan cairan berwarna perak itu ke lingkaran sihirnya dan cermin di tangannya, lalu meminum sisanya.

Dia menggores tangannya menggunakan pisau kecil yang sering dibawa olehnya dan membiarkan darahnya menetes di cermin dan lingkaran sihir. Lingkaran sihir itu lalu bersinar dengan warna perak.

"Wahai kekuatanku yang tertidur, lenyapkanlah segala segel yang mengikatmu, aku, Karina van Derkheim, memerintahkanmu untuk bangkit," Ririn mengangkat cerminnya dan mengarahkannya pada bulan.

Sekelebat cahaya seakan jatuh dari bulan dan mengenai Ririn dan cermin ditangannya. Ririn perlahan membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Tubuhnya diselimuti cahaya berwarna perak.

"Akhirnya, Ririn bisa menggunakan kekuatan ini," gumam Ririn. "baiklah, sekarang saatnya menemui Paman," Ririn lalu kembali melafalkan beberapa mantra dan tubuhnya perlahan-lahan menghilang, meninggalkan sebuah lingkaran sihir yang mulai menghilang tertiup angin.

XXXXX

Specchio di Luna : Cermin bulan

Attivare : Aktifkan

Salvare :Simpan

Maaf untuk judul chapter kali ini Sacchan lagi buntu, jadi kayaknya nggak begitu cocok sama isinya deh.

Reders, maaf chapter ini pendek. Beberapa chapter ke depan juga akan pendek karena Sacchan ingin segera mempertemukan Ririn dan Miyuki dan mulai kehabisan ide. Di chapter depan akan ada sedikit romance antara DinoxMiyuki, ditunggu ya~

Minna, R&R!