Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Hikage Natsuhimiko : Hikage-san Sacchan baru lihat kamu Fav cerita Sacchan, makasih~#pelukHikage. Sacchan sangat senang ada yang Fav cerita ini~
Please enjoy this story~
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Hanami
.
.
.
Namimori, Jepang
"Yuki, kenapa Haneuma mesum itu di sini?" Hibari menatap tajam sesosok pemuda pirang yang nyengir kuda ke arahnya dari meja makan.
"Ah, Kyo-nii. Tadi aku bertemu dengannya saat belanja dan dia membantuku membawakan barang, sebagai tanda terima kasih aku mengajaknya makan malam bersama," Miyuki tersenyum sambil menata meja makan.
Sebenarnya, Hibari berniat mengusir Dino jika dia tidak melihat Dino yang berbicara dengan Miyuki dan melihat Miyuki tertawa kecil kepada sesuatu yang diucapkan Dino. Sedikit merasa bersalah karena selalu membiarkan adiknya sendirian ketika pulang sekolah karena dia selalu patroli di seluruh kota dan sekolah, Hibari akhirnya membiarkan Dino dan berjalan menuju kursi kosong di hadapan Dino, tetapi di sebelahnya, menolak duduk dekat Dino.
"Miyuki~ Dino~ Makan malam~" Hibird terbang dari jendela dapur yang terbuka dan mengitari Miyuki dan Dino.
Miyuki mengalihkan pandangannya setelah selesai menyusun makanan di meja makan dan menyiapkan dua mangkuk kecil di sebuah meja kecil. Satu mangkuk berisi biji-bijian dan satunya lagi berisi sayur hijau.
"Ini untukmu, Hibird dan Enzo," Miyuki tersenyum sambil meletakkan dua mangkuk itu dan Dino yang menghampiri mangkuk itu sambil meletakkan Enzo di meja.
"Miyuki, terima kasih~" Hibird mendarat di sebelah Enzo dan mulai memakan makanannya.
"Terima kasih Miyuki," Dino tersenyum kepada Miyuki sambil berjalan menuju tempat duduknya kembali.
DUAK
"Aduh," Dino mengerang kecil ketika kakinya tersandung meja.
"Dino-san tidak apa-apa?" Miyuki menghampiri Dino dengan wajah khawatir.
"Tidak apa-apa," Dino segera duduk di kursinya sambil tersenyum berusaha menenangkan Miyuki. Miyuki menganggukkan kepalanya.
"Haneuma, mana herbivore-herbivore yang selalu mengikutimu itu?" Hibari menatap Dino dengan mata menyipit.
"Maksudmu bawahanku? Romario dan yang lainnya tadi kembali ke hotel begitu aku dan Miyuki sampai," Dino menatap Hibari seakan-akan itu bukanlah masalah.
Hibari, lebih dari tiga tahun mengenal tutornya itu membuatnya tahu bahwa tutornya itu sangat tidak berguna tanpa bawahannya.
"Haneuma, berani berbuat kekacauan di sini, I'll bite you to death," Hibari menatap Dino dengan tajam.
"Tenang saja," Dino tertawa canggung mendengar perkataan Hibari.
"Tenang saja Kyo-nii, Dino-san hanya makan malam di sini, bukan bertarung denganmu," Miyuki tersenyum kecil melihat reaksi kakaknya.
"Hn,"
Mereka pun makan dengan tenang. Ya, tenang kalau kalian mau menganggap tatapan tajam dan kesal Hibari yang mengarah pada Dino yang makan dengan berantakan, sempat menumpahkan supnya dan menumpahkan minumnya, tenang.
"Maaf, maaf," entah sudah berapa kali Dino menggumamkan kata-kata itu.
"Tidak apa-apa. Santai saja, Dino-san," Miyuki tersenyum sambil mengelap minum yang baru saja di tumpahkan Dino. Sekilas Dino bisa mencium aroma lembut lavender saat Miyuki sedikit membungkukkan kepalanya ke mejanya.
DUAK
"Kh," Dino hanya bisa menahan sakit di kakinya saat Hibari menendang kakinya di bawah meja.
"Ada apa?" Miyuki yang tidak menyadari tatapan tajam kakaknya menoleh pada Dino.
"Ah, tidak, tidak ada apa-apa,"
Miyuki lalu berjalan menuju dapur untuk meletakkan kain lapnya. Dino mengangkat pandangannya dan melihat Hibari menatapnya dengan tatapan tajam dan terlihat kesal.
"Haneuma mesum pedophile," Hibari menatap Dino tajam.
"Hei, aku nggak mesum!" Dino mengerutkan dahinya menatap Hibari.
"Berarti kau mengakui pedo-mu," Hibari membalas dengan nada dingin.
Belum sempat Dino membalas perkataan Hibari, Miyuki sudah kembali dan duduk di tempatnya. Kali ini, mereka melanjutkan makan dengan tenang, walaupun Hibari sesekali melemparkan tatapan tajam pada Dino. Dino, entah kenapa berhasil makan tanpa membuat kekacauan di sisa acara makan malam itu.
Setelah selesai makan, Hibari segera pergi mandi dan Miyuki mencuci piring dibantu oleh Dino, walau sebenarnya alih-alih membantu malah menambah pekerjaan, karena memecahkan dua buah piring dan satu buah gelas.
"Maaf, maaf," Dino-lagi-lagi-hanya bisa mengatakan hal itu.
Dino memungut pecahan piring itu dengan terburu-buru, tetapi pecahan piring itu malah menggores tangannya. Miyuki yang melihat darah keluar dari tangan Dino langsung menariknya duduk di kursi dan mengambil kotak P3K.
"Maaf, aku hanya bisa merepotkan," Dino menundukkan kepalanya saat Miyuki merawat lukanya.
"Tidak apa-apa, satu-dua kesalah adalah hal yang biasa kan?" Miyuki tersenyum menenangkan Dino. Dino mengangkat pandangannya dan merasa tenang melihat senyum Miyuki.
Setelah itu mereka membersihkan pecahan piring dan kembali mencuci piring yang tersisa. Kali ini Dino berhasil membantu Miyuki tanpa memecahkan apapun. Hibari yang baru selesai mandi berjalan menuju dapur dan mengambil minum.
"Ah, Miyuki, Tsuna dan yang lain akan mengadakan hanami besok, apakah kamu mau ikut?" Dino sambil mengelap piring-piring bertanya pada Miyuki.
"Bolehkah? Apa nanti tidak mengganggu?"
"Tentu saja tidak, Tsuna dan yang lain pasti merasa merasa senang,"
"Baiklah, aku ikut. Kyo-nii, mau ikut hanami?"
"Jangan bercanda. Aku benci berkerumun dan sakura," Hibari mendengus lalu membalikkan badannya dan berjalan menuju kamarnya.
"Aku tahu Kyo-nii benci berkerumun, tapi aku bingung sejak beberapa tahun lalu Kyo-nii jadi benci sakura, hingga pohon sakura di halaman di tebang dan hanya menyisakan satu pohon," Miyuki menyentuh dagunya dengan jarinya dengan dahi berkerut. "ah, dia juga sekarang benci dengan nanas," tambahnya.
Dino yang mendengarkan perkataan Miyuki hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal mengingat seseorang yang menyebabkan Hibari membenci sakura dan hal yang identik dengan si pelaku, nanas.
XXXXX
Pagi itu setelah kakaknya pergi dengan seragam dan armband nya di ikuti oleh Hibird, Miyuki membuat sandwich sebelum pergi ke tempat hanami. Memakai baju lengan panjang tanpa bahu berwarna ungu dan rok dengan warna senada, dia pergi ke taman.
Begitu sampai di sana dia melihat Dino, Tsuna, Yamamoto, Gokudera, Bianchi, Ryohei, Kyoko, Haru, I-pin, Lambo, dan Reborn. Miyuki memperhatikan sekeliling mereka dan sedikit merasa aneh karena sekitar mereka terasa sepi dan sempat melihat beberapa bagian tanah yang berwarna kehitaman seperti gosong dan sesuatu yang menempel di pohon sakura yang terlihaat kering tidak jauh dari mereka, yang berwarna ungu.
Sedikit bisa mengira apa yang terjadi, Miyuki mengabaikan keanehan itu dan berjalan menghampiri mereka. Miyuki menyapa mereka semua sambil tersenyum khas miliknya yang lembut dan Tsuna segera memperkenalkan Miyuki pada semuanya.
"Hibari Miyuki, yoroshiku onegaishimasu," Miyuki sedikit membungkukkan badannya pada mereka semua.
"Namaku Sasagawa Ryohei! Aku tidak tahu Hibari punya adik, EXTREME!"Ryohei mengangkat tinjunya ke udara. "apa kamu mau bergabung dengan klub tinju?" Ryohei bertanya dengan bersemangat.
"Maaf Sasagawa-senpai, saya sudah masuk klub jurnalistik. Saya hargai tawaran Senpai, tapi sepertinya saya tidak cocok," Miyuki tersenyum meminta maaf kepada Ryohei.
"Niatmu saja sudah cukup!" Ryohei tetap berkata dengan suara besar sambil mengacungkan jempolnya, membuat Miyuki tersenyum kepadanya.
"Onii-chan, jangan begitu!" seorang gadis berambut cokelat terang lurus sebahu menegur kakaknya dan mengalihkan perhatiannya pada Miyuki. " Maaf Miyuki-chan, aku adiknya, kamu bisa memanggilku Kyoko," Kyoko tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang dibalas oleh Miyuki.
"Hahi! Manusia berdarah dingin itu punya adik yang cantik dan sopan begini desu!" kali ini gadis yang memiliki rambut cokelat gelap dengan panjang sepunggung bergelombang dan jepit di rambutnya menatap Miyuki dangan mata melebar. "Aku Miura Haru! Panggil saja aku Haru, Miyuki-chan!" Haru mengulurkan tangannya dengan ceria yang dibalas Miyuki.
"Terima kasih, Haru-chan. Haru-chan juga manis," Miyuki tersenyum membalas jabatan tangan Haru yang dibalas Haru dengan senang.
"Ara, aku tidak menyangka dia memiliki adik yang cantik begini," Bianchi yang memakai google untuk mencegah Gokudera pingsan mendekati Miyuki dan tersenyum padanya. "Kamu bisa memanggilku Bianchi, aku kakaknya Hayato, senang bertemu denganmu, Miyuki-chan," ucap Bianchi. Miyuki membungkukkan badannya pada Bianchi sambil tersenyum.
"Namaku I-pin dan ini Lambo," I-pin maju ke hadapan Miyuki dan menunjuk dirinya dan Lambo. Miyuki membungkukkan badannya dan menjabat tangan mereka berdua.
"Gyahahahaha! Apa kamu punya permen untuk tuan Lambo ini nee-chan?" Lambo mengulurkan tangannya pada Miyuki.
"Kamu tidak boleh begitu, Lambo! Itu tidak sopan!" I-pin menegur Lambo tetapi tidak dihiraukan.
"Ah, kebetulan aku bawa permen, ini untukmu," Miyuki tertawa kecil melihat tingkah Lambo dan memberikannya permen. "I-pin-chan juga silahkan," Miyuki memberikan sebuah permen lagi pada I-pin.
"Xie xie, Miyuki-nee-chan," I-pin tersenyum sambil menerima permen yang diberikan oleh Miyuki.
"Waa, terima kasih, nee-chan!" Lambo menerima permen yang diberi Miyuki dengan senang.
"EXTREME! Dia sangat berbeda dengan Hibari!" Ryohei berteriak kencang.
"Yah, banyak yang bilang begitu," Miyuki tersenyum maklum kepada Ryohei.
"Miyuki, duduklah," Reborn yang duduk diantara mereka menyuruh Miyuki duduk sambil menunjuk tempat kosong di samping Dino.
"Oya, oya, aku tidak tahu kalau Skylark itu punya adik," tiba-tiba ada kabut di balik pohon sakura tempat mereka duduk.
Dari balik kabut itu muncul lima orang dengan seragam berwarna biru tua. Seorang pria dan seorang perempuan dengan model rambut yang sama tetapi rambut si perempuan lebih panjang mencapai lehernya, seorang pria berkacamata, seorang pria dengan bekas luka di wajah dan jepit di rambutnya dan seorang perempuan berambut cokelat pendek.
"Mukuro!" Tsuna, walau sudah beberapa tahun terlewati masih saja takut terhadap Mukuro.
"Selamat pagi, Bossu," Chrome menundukkan kepalanya pada Tsuna sekilas.
"Selamat pagi," Miyuki berdiri dari duduknya dan membungkukkan badannya pada mereka.
Tsuna membungkukkan badannya sedikit pada mereka dan memperkenalkan Miyuki, lalu memperkenalkan sekelompok orang yang baru saja datang itu.
"Kufufufu, aku tidak pernah menyangka seorang Hibari Kyoya punya adik secantik dan semanis ini," Mukuro tersenyum sambil menghampiri Miyuki.
Miyuki hanya memandang Mukuro, tetapi lebih tepatnya rambutnya. Baru pertamma kali dia bertatapan langsung dengan Mukuro dan dia bisa mengerti kenapa kakaknya jadi membenci nanas.
"Ada apa?" Mukuro mengangkat sebelah alisnya.
"Eh, model rambut yang unik," Miyuki memaksakan diri tersenyum sambil menatap wajah Mukuro.
"Kufufufu, aku bisa membuatmu memiliki model rambut seperti ini," Mukuro tersenyum-terlihat senang karena model rambutnya yang seperti nanas itu dipuji- menangkap perkataan Miyuki dengan makna yang berbeda. Dia mengulurkan tangannya, hampir menyentuh wajah Miyuki ketika gadis itu mundur selangkah.
"Ehm, tidak terima kasih. Nanti aku bisa tidak dianggap adik oleh Kyo-nii," Miyuki tersenyum pada Mukuro. "Dia..ehm, sensitive kepada segala sesuatu yang berbentuk seperti rambutmu," Miyuki berusaha memberi alasan.
"Bilang saja rambutnya seperti nanas!" Gokudera yang sejak tadi diam,, duduk di sebelah Tsuna akhirnya angkat bicara.
"Kufufufu, kepala gurita, jangan bicara sembarangan," Mukuro sudah siap dengan tridentnya dan Gokudera sudah berdiri sambil memegang dinamitnya.
"Hiiee! Mukuro-san, Gokudera-kun, tolong jangan membuat keributan di sini!" Tsuna berdiri dengan panik dan berusaha melerai mereka berdua. Gokudera, sebagai tangan kanan yang patuh, menuruti Tsuna dan memasukkan kembali dinamitnya.
"Reborn, apa maksudmu memanggil semuanya di sini?"
"Tentu saja hanami bersama seluruh keluarga Vongola. Seharusnya Hibari ada di sini, tetapi begitu mengetahui Mukuro akan datang dia menolak mentah-mentah, walaupun sejak awal sudah menolak karena dia benci berkerumun" Reborn menaikkan topi fedoranya sambil menatap Tsuna.
"Ara~ permainan itu lagi? Kalian sering sekali ya bermain begitu," Miyuki tersenyum sambil menata sandwichnya bersama makanan yang ada di atas kain itu. Ada onigiri, kaarage, tamagoyaki, sakuramochi, dan beberapa makanan lainnya.
Reborn menyembunyikan seringainya dengan menurunkan topi fedoranya melihat 'akting' Miyuki yang sempurna. Wajahnya seakan benar-benar menganggap itu adalah permainan yang dia tidak ketahui.
"Hei, apa dia tidak tahu kalau itu bukan permainan?" M.M yang sudah duduk di atas kain bersama yang lainnya menatap Tsuna denga dahi berkerut.
"Err, sepertinya tidak," Tsuna hanya menggelengkan kepalanya menatap Miyuki yang sedang berbicara dengan Kyoko, Haru, Chrome dan I-pin.
"Maaf, sepertinya makanan yang kubuat tidak begitu cocok dengan makanan yang lainnya,"
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Justru karena makanannya beraneka ragam kita tidak akan bosan," Haru tersenyum ceria meyakinkan Miyuki.
"Tenang saja, kami akan memakan sandwich buatan nee-chan," I-pin, masih dengan sedikit aksen cinanya berbicara.
"Gyahahaha! Lambo-san akan memakan sandwich ini!" Lambo tiba-tiba muncul di antara mereka dan mulai memakan sandwich milik Miyuki dengan cepat.
DUAK
"Kamu tidak boleh memakan semuanya sendirian," Reborn dengan Leon yang dirubah jadi palu memukul Lambo.
"To…tole…toleransi…Huaaaa!" Lambo berlari menjauh dari kerumunan dan mengeluarkan bazooka andalannya lalu masuk ke dalamnya.
BOOOM
"Yare, yare, lagi-lagi diriku yang dulu memakai bazooka itu," seorang laki-laki bertubuh tinggi, berambut bergelombang memakai kemeja dengan motif seperti kulit sapi berdiri di antara asap berwarna pink yang mulai menghilang.
"Lambo dewasa!"
"Vongola muda, sepertinya kalian sedang melakukan hanami," TYL Lambo melihat ke arah makanan yang ada di atas kain. "kelihatannya ini adalah saat pertama aku bertemu dengan Yuki-nee-chan," ucapnya sambil menatap Miyuki. "saat itu aku benar-benar tidak menyangka bahwa Yuki-nee adalah orang yang hebat," Lambo lalu berjalan ke arah mereka.
"Waah, bagaimana melakukan sulap tadi?" Miyuki berdiri dan menghampiri Lambo dengan wajah terkejut dan menjabat tangannya.
Yamamoto tertawa dengan khas melihat reaksi Miyuki, Tsuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Dino tertawa canggung, Reborn kembali menyembunyikan seringainya dengan menurunkan topi fedoranya, Gokudera mendengus kesal, Bianchi, M.M, Ken, dan Chikusa tidak mempedulikan mereka dan terus makan, Chrome, Kyoko dan Haru mengerjapkan matanya, Ryohei hanya mengatakan 'EXTREME', I-pin hanya melihat mereka dalam diam dan Mukuro menatap mereka dengan tertarik.
"Lambo-kun, tolong jangan katakana apapun tentang diriku, oke?" Miyuki berbisik ketika jarak mereka sudah dekat sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum meminta tolong.
"Yare, yare, kalau Yuki-nee yang selalu membantuku bilang begitu, apa boleh buat," Lambo menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum.
"Hahi! Itu pria mesum yang biasanya desu! Miyuki-chan menjauhlah darinya!" Haru dengan segera menarik Miyuki dari Lambo.
"Errr, Lambo-kun, sambil menunggu efek bazookanya habis, bagaimana kalau kamu ikut makan bersama kami saja?" Tsuna akhirnya menawarkan kepada Lambo.
Lambo mengambil tempat di sebelah Yamamoto dan mereka pun akhirnya memakan bento yang mereka bawa. Lima menit kemudian, begitu pengaruh bazookanya habis, Lambo kembali berulah yang membuat sang Storm Guardian naik darah dan hampir meledakkan anak itu yang ditahan oleh Haru, dan bermain dengan I-pin. Sementara itu, beberapa kali Dino menumpahkan minuman, menjatuhkan makanan dan melakukan kecerobohan lainnya.
"Dino-san!" Tsuna memekik kaget saat Dino tak sengaja melemparkan sepiring makanan padanya, yang bisa dihindari oleh Tsuna berkat latihannya dengan Reborn.
"Oi, jangan merepotkan juudaime, Haneuma!" Gokudera hampir mengeluarkan dinamitnya jika tidak dilarang oleh Tsuna.
"Maa, maa~ karena tidak ada yang terluka, jadi tidak apa-apa kan," Yamamoto menepuk bahu Gokudera berusaha menenangkan. Mereka pun kembali melakukan acara mereka.
"Hahi, Miyuki-chan mau kemana?" Haru menatap Miyuki yang tiba-tiba berdiri.
"Sudah lama tidak melihat sakura di sini, aku mau berjalan-jalan sebentar," Miyuki tersesnyum pada Haru sebelum pergi.
" Dino," Reborn memukul kepala Dino dengan Leon yang berubah menjadi palu.
"Reborn! Apa yang kamu lakukan?" Dino memegangi kepalanya yang baru saja dipukul oleh Reborn.
"Seharusnya aku yang berkata begitu. Apa yang kamu lakukan di sini? Seharusnya kamu tidak membiarkan seorang lady berjalan seorang diri," Reborn lalu merubah Leon menjadi pistol dan mengarahkannya pada Dino.
"Tu-tunggu! Aku mengerti, aku akan menemaninya!" Dino dengan segera berdiri dan berlari menghampiri Miyuki yang sudah tidak terlihat walaupun sempat terjatuh beberapa kali.
"Hmp," Reborn menyeringai melihat Dino berusaha mengejar Miyuki yang sudah tidak terlihat.
"Reborn, apa yang kamu rencanakan?" Tsuna mengerutkan dahinya melihat seringai Reborn. Dia sangat tahu bahwa seringai itu mengandung sesuatu.
"Itu bukan urusanmu, Dame-Tsuna," Reborn lalu menendang kepala Tsuna.
Tsuna hanya bisa mengusap kepalanya dan berharap apapun yang dilakukan Reborn bukan hal yang buruk. Perhatiannya teralihkan begitu Kyoko duduk di dekatnya dan mengajaknya bicara.
Sementara itu, Miyuki berdiri di bawah sebuah pohon sakura yang sangat besar dan penuh dengan bunga yang merekah. Dia mengangkat tangannya ke depan dada, melihat beberapa kelopak bunga yang berjatuhan ke tangannya. Dia lalu mengangkat pandangannya dan menatap pohon sakura itu tanpa menurunkan tangannya.
Pikirannya melayang saat dia masih kecil dan dia bersama ibu dan kakaknya sering melakukan hanami bersama. Matanya terpejam mengingat kenangan masa lalunya.
'Miyu,'
'Yuki-chan,'
Entah kenapa kakaknya dulu suka memanggilnya Miyu dibandingkan dengan Yuki. Padahal orang-orang di sekelilingnya selalu memanggilnya dengan 'Yuki'. Miyuki berusaha mengingat sosok ayahnya, tetapi dia tidak berhasil mengingatnya karena ayahnya meninggal saat dia masih sangat kecil.
Terlalu tenggelam dalam ingatannya, Miyuki tidak sadar Dino berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dino memandang Miyuki tanpa berkedip. Hanya satu kata yang ada di pikiran Dino saat ini.
"Indah sekali," tanpa sadar Dino berkata dengan wajah yang sedikit memerah.
Melihat Miyuki di bawah hujan kelopak sakura berwarna pink dengan ujung rok dan rambut yang melambai tertiup oleh angin, tangannya menengadah seakan berdoa dengan mata terpejam dan kelopak sakura yang berada di telapak tangannya hanya satu kata untuk mendeskripsikan pemandangan itu.
Miyuki tersadar dari lamunannya dan mendengar suara Dino, membalikkan badannya sambil tersenyum lembut begitu melihat Dino berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Membuat jantung Dino berdetak dengan cepat dan wajahnya memerah.
"Ah, Dino-san, ada apa?" Miyuki tersenyum kepada Dino yang menghampirinya dan menurunkan tangannya, membiarkan kelopak sakura yang tadi menumpuk di tangannya berjatuhan di tanah.
"Indah sekali," Dino tanpa sadar berkata.
"Iya, bunga sakura ini sangat indah," Miyuki mengalihkan pandangannya dan menatap pohon sakura di sampingnya sambil tersenyum, tangannya terangkat menangkap beberapa kelopak sakura yang berjatuhan. (Readers bisa membayangkan dengan melihat image di kiri atas).
"Bukan," Dino berjalan menuju Miyuki dan memegang ujung rambutnya. "yang indah adalah kamu, Miyuki," Dino tersenyum lembut kepada Miyuki yang sekarang menatapnya.
Tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari Dino membuatnya tidak bisa berakting atau menahan ekspresinya. Wajahnya memerah mendengar Dino berkata begitu dan melihat senyumnya.
"Ehm, Dino-san?" Miyuki mengalihkan pandangannnya dari Dino.
"Ah, maaf, maaf," Dino dengan segera melapaskan rambut Miyuki dan mundur selangkah begitu sadar apa yang baru saja dilakukannya dan melihat wajah Miyuki yang memerah.
"Itu terbawa suasana kau tahu. Kamu yang berdiri di bawah bunga sakura yang berjatuhan, angin yang membuat rambut dan rokmu melambai dan senyummu tadi," Dino berkata dengan cepat dan salah tingkah.
Melihat Dino yang panik begitu, Miyuki tertawa. Dino yang melihat Miyuki tertawa awalnya bingung tetapi melihat wajah cantiknya ketika tertawa membuatnya lega. Dino khawatir Miyuki akan menjauhinya karena perbuatannya yang memang tiba-tiba itu.
"Dino-san, terima kasih. Baru pertama kali aku mendengar ada yang mengatakan aku 'indah'," Miyuki tersenyum kepada Dino dengan lembut begitu selesai tertawa.
"Ehehehe," Dino hanya bisa tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah sedikit merah, merasa malu.
Padahal Dino merasa sering memuji perempuan di pesta-pesta walaupun itu sekadar basa-basi, tapi entah kenapa rasanya di hadapan Miyuki semua yang biasa dia lakukan pada perempuan menjadi berbeda dan membuatnya salah tingkah.
"Dengan kata-kata seperti tadi, Dino-san cocok sekali menjadi cassanova," Miyuki tertawa kecil sambil mengatakan hal itu.
"Hei, sudahlah, aku malu. Ayo kita kembali ke tempat yang lainnya saja," Dino tersenyum lalu mengajak Miyuki berjalan menuju tempat yang lain berada yang dibalas oleh Miyuki dengan anggukan kepala.
Selama perjalanan, diam-diam Dino memperhatikan Miyuki dari ujung matanya. Dino merasakan jantungnya berdebar.
'Masa iya aku…tidak, tidak boleh! Dia masih SMA! Kelas satu!' Dino mengalihkan pandangannya dan menatap Tsuna dan kawan-kawan yang sudah menunggu mereka.
Miyuki menghampiri mereka sambil tersenyum diikuti oleh Dino yang menghela napas. Reborn yang diam-diam memata-matai mereka menyeringai dari atas pohon sakura.
XXXXX
Laboratorium Rahasia, Italia
Ririn membuka pintu besi itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dia menyusuri lorong-lorong dan berhenti di depan salah satu pintu bertulisan 'KEEP OUT, LIMITED'. Dia membuka pintu itu dan melihat sebuah ruangan besar yang penuh dengan perkakas, alat elektronik dan beberapa computer. Pandangannya jatuh pada sesosok batita berambut hijau berkacamata dengan seekor buaya kecil di sampingnya di depan sebuah mesin.
Ririn berjalan cepat menuju batita itu dan langsung memeluknya, menyebabkan batita yang sedang memegang buku itu terkejut dan menjatuhkan bukunya.
"Paman!" Ririn berseru sambil membenamkan wajah si batita ke dadanya, menyebabkan si batita meronta-ronta sesak napas.
"Ririn, lepaskan!"
Ririn melepaskan si batita mantan pemegang pacifier hijau dan mengelus si buaya yang masih pada tempatnya, sedikit terkejut ketika tuannya tiba-tiba terangkat.
"Hai, Keiman, lama tidak bertemu,"
"Ririn, aku sudah bilang aku bukan pamanmu,"
"Kalau Ririn tidak bilang Verde paman Ririn nanti Ririn tidak bisa masuk ke sini," Ririn menatap Verde dengan ekspresi datarnya.
"Sudah lama kamu tidak datang, ada keperluan apa kamu ke sini?" Verde membetulkan letak kacamatanya sambil menatap gadis yang mengaku sebagai keponakannya itu.
"Ririn mau minta tolong,"
"Lho, Ririn?" pintu yang berada di sebelah kiri ruangan itu terbuka. Seorang pria tinggi dengan baju pekerja hijau berambut pirang dan mengemut lollipop mengahampiri mereka.
"Spanner!" Ririn meloncat ke arah Spanner yang berjalan ke arah mereka.
"Woops," Spanner dengan sigap menangkap Ririn sambil menyeimbangkan tubuhnya.
Untunglah walaupun bukan tergolong orang yang kuat Spanner dapat menangkap tubuh Ririn yang kecil dan ringan itu.
"Lama tidak bertemu," Spanner mengusap kepala Ririn yang memeluk nya.
"Um," jawabnya sambil melepaskan pelukannya dan menatap Spanner dengan ekspresi datar namun tatapan yang senang. "Shou tidak bersama Spanner?" Ririn memiringkan kepalanya sambil menatap pintu tempat Spanner keluar.
"Tidak, dia bersama dengan Gianini di CEDEF. Kebetulan aku sedang meminta sebuah bahan dari Verde untuk di bawa ke sana," Spanner menunjuk Verde dan mesin di depannya. "Ada keperluan apa kamu ke sini?" Spanner menatap Ririn dengan pandangan bertanya.
"Ririn mau minta Paman membuatkan sesuatu," Ririn menatap Verde dengan serius. "tolong buatkan benda 'itu' secepat mungkin."
"'Itu'," Verde dan Spanner menatap Ririn dengan bingung.
"Ya,"
Ririn lalu menjelaskan benda yang dibutuhkannya pada Verde dan Spanner. Verde menganggukkan kepalanya dan bersedia membuatkan alat itu untuk Ririn.
"Anggap saja sebagai tanda terima kasih atas bantuanmu dalam eksperimen sebelumnya," ucap Verde mengingat sebelumnya Ririn membantunya dalam mengerjakan eksperimen dengan cairan-cairan kimia Verde.
"Terima kasih Paman!" Ririn memeluk Verde yang dengan segera meronta minta di lepaskan.
"Kurasa aku bisa membantumu membuatnya. Masih ada waktu sampai aku harus kembali ke CEDEF," ucap Spanner sambil membuang batang lollipop yang habis dan mengeluarkan yang baru dari kantongnya lalu memakannya.
"Spanner, terima kasih," Ririn memeluk Spanner lagi sebagai tanda terima kasih yang dibalas dengan usapan di kepala Ririn.
"Baiklah, ayo kita mulai membuatnya sekarang," ucap Verde diikuti anggukan Spanner.
XXXXX
Minna, maaf kalau semakin lama semakin banyak typo atau ceritanya semakin garing. Karena Sacchan ingin cepat-cepat menyelesaikan LSIA ini sebelum selesai libur, harap dimaklumi.
Sepertinya Sacchan akan semakin ngebut dan mengupdate setiap malam selama beberapa hari ini. Mohon maaf jika cerita kecepetan atau kadang jadi susah dimengerti.
Minna mind to R&R?
