Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

OzLen-CieloSky27: Makasih udah Fave dan Follow cerita Sacchan, OzLen-san. Sacchan sangat mengapresiasi dan senang~ semoga kamu menikmati cerita yang Sacchan buat~

Selamat membaca~

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Genius (?)

.

.

.

Namimori, Jepang

Hari-hari berjalan seperti biasanya, begitu juga dengan yang di alami oleh Miyuki. sebagai seorang adik dari Hibari Kyoya, dia memang sempat di jauhi oleh para murid dan guru. Namun, karena sikap dasarnya yang lembut itu, semua orang kembali menaruh hormat padanya. Bahkan siang ini pun lagi-lagi ada seorang yang nekat menyatakan cinta padanya.

"Miyuki-san, aku menyukaimu, jadilah pacarku," seorang siswa yang cukup tampan, yang diketahui oleh Miyuki sebagai seorang senpai populer ace tim basket bernama Sato mendekati Miyuki yang berdiri di halaman belakang sekolah.

Dino, yang kebetulan melihat Miyuki berjalan menuju halaman belakang sekolah tanpa sadar mengikutinya. Dino bersembunyi di balik tembok sambil berusaha mencuri dengar percakapan mereka.

"Maaf Sato-senpai, saya tidak bisa pacaran dengan senpai," Miyuki membungkukkan badannya.

"Apa? Kenapa?" Sato yang tidak menyangka akan ditolak oleh Miyuki bertanya padanya. "Apa karena kakakmu? Karena Hibari-san?"

"Bukan," Miyuki dengan cepat menyangkal perkataan Sato dengan dahi berkerut.

"Miyuki-chan, kalau kamu khawatir tentang kakakmu yang galak itu kamu tidak usah mempedulikannya. Lagi pula orang seperti dia tidak memerlukan perhatian darimu. Kamu terlalu baik dan lembut, tidak perlu mengurusi kakakmu yang tidak punya perasaan seperti itu," seakan tidak mendengar bantahan Miyuki, dia terus melanjutkan perkataannya dan menjelek-jelekkan Hibari.

Dino yang menguping dari balik tembok mengerutkan dahi mendengar perkataan Sato. Mantan murid satu-satunya itu memang maniak berkelahi dan berdarah dingin, tapi tentu saja dia memiliki perasaan. Buktinya dia marah ketika dirinya (Dino) tidak sengaja menyentuh adiknya. Itu menunjukkan dia mempunyai perasaan.

"Senpai," Miyuki berbicara dengan suara rendah dan nada bicara yang berbeda.

Mendengar kakaknya di jelek-jelekkan di hadapannya, tidak sadar dia melepaskan pita putih di rambutnya. Dengan tangan kanan yang menggenggam pita putihnya, dia mendekati Sato dan menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.

"Kalau senpai mengatakan hal buruk tentang Kyo-nii lebih dari ini," ucapnya lirih dengan tatapan dan senyum misterius. "aku, bisa marah lho," Miyuki berbisik tepat di hadapan Sato.

Sato yang mendengar suara dan melihat Miyuki yang entah kenapa menjadi seksi hanya bisa memperhatikan Miyuki dengan wajah memerah. Dia hanya bisa menganggukkan tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua iris onyx itu.

"Senpai," Miyuki menyentuh dasi Sato dan menggenggam simpulnya lalu menariknya hingga wajah mereka sangat dekat, kurang dari sepuluh centi. "aku, tidak akan memaafkan siapapun yang menjelek-jelekkan kakakku, senpai mengerti kan?"

Seakan terbius oleh Miyuki yang sekarang, Sato hanya menganggukkan kepalanya sambil menelan ludah dengan wajah memerah.

"Bagus," Miyuki tersenyum. "lain kali aku mendengarmu menjelek-jelekkan kakakku, aku akan menghukummu," ucap Miyuki dengan senyum misterius, namun matanya berkilat berbahaya.

Sato, lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepalanya, tetapi kali ini bukan karena kekagumannya atau terpesona, melainkan oleh rasa takut dan dingin yang tiba-tiba menjalar di seluruh tubuhnya hingga bulu kuduk di lehernya berdiri. Dia merasakan bahaya dari tatapan mata Miyuki walaupun gadis itu tersenyum.

Miyuki tersenyum puas lalu melepaskan dasi yang digenggamnya. Dia membalikkan badannya dan meninggalkan Sato yang masih membatu di tempatnya. Dino yang memperhatikan kejadian itu hanya bisa bingung karena dia tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Satu hal yang Dino tahu, Miyuki marah ketika Hibari di jelek-jelekkan.

Sementara itu, Miyuki yang pergi menjauh dari halaman belakang pergi bersembunyi di balik salah satu pohon di taman sekolah. Dia memakai kembali pita putih yang tadi dilepasnya.

"Tidak ada yang boleh menjelek-jelekkan Kyo-nii," ucapnya lirih sambil menundukkan kepalanya.

Setelah menarik napas dalam-dalam dan membuangnya, dia mengangkat kepalanya dan berjalan menuju kelasnya dengan ekspresi biasa, seakan tidak ada hal yang terjadi.

XXXXX

Sejak acara hanami bersama, Miyuki menjadi dekat dengan para senpainya itu. terkadang jika berpapasan dengan Kyoko yang berniat memakan bekal bersama Hana dia mengajak Miyuki makan bersama yang dengan senang hati diterima oleh Miyuki.

Teman-temannya terlalu segan untuk mengajaknya makan bersama, karena itu terkadang Miyuki mendatangi Hibari dan mengajaknya makan bersama walaupun terkadang kakaknya itu sibuk atau melalang buana entah ke mana di sekolah itu. Tetapi sekarang Hibari tidak pernah mengusirnya dari ruang komite kedisiplinan.

Terkadang Miyuki juga makan siang bersama dengan Tsuna, Yamamoto dan Gokudera, walaupun yang mengajak adalah Yamamoto, tetapi Tsuna dan Gokudera tidak menunjukkan keberatan.

Di sekolah, Miyuki tetap memanggil Dino dengan 'sensei' agar tidak menimbulkan salah paham dan kejadian yang tidak diinginkan dari fans-fans Dino. Hibari masih sering mengajak Dino berkelahi di atap sekolah sepulang sekolah dan Miyuki menjadi terbiasa dengan hal itu. Bahkan terkadang Miyuki menonton pertarungan itu hingga selesai bersama Kusakabe dan Romario sambil menunggu kakaknya.

Terkadang begitu mereka selesai berkelahi Miyuki mengajak mereka untuk makan bersama. Hibari, walaupun terlihat tidak suka jika adiknya mengajak Dino, tidak mengatakan apapun.

Di luar sekolah, Kyoko dan Haru sering mengajaknya pergi untuk makan cake bersama dengan Chrome dan I-pin dan terkadang Hana. Miyuki cukup senang karena dia mulai dekat dengan Vongola lainnya. Miyuki menyadari Mukuro yang terkadang jika berpapasan dengannya saat bersama dengan Chrome menatapnya dengan misterius.

Biasanya Miyuki hanya membalas tatapan Mukuro dengan senyumnya. Miyuki sadar Mukuro mulai menyadari Miyuki bukan sekadar 'siswi biasa' karen aura yang dipancarkan Miyuki tidak jauh berbeda dengan miliknya. Tetapi, tidak melihat keanehan pada gadis itu membuat Mukuro tidak terlalu memperhatikannya terutama karena Miyuki adalah adik Hibari.

XXXXX

Lab. Rahasia, Italia

TOK TOK

CKITZZZ

SRAK SRAK

BZZT BZZT

Verde yang sedang sibuk membuat barang yang diminta oleh Ririn mengerutkan dahinya bingung mendengar suara itu. Spanner yang sepertinya terlalu serius tidak begitu memperhatikan suara itu. Verde membalikkan badannya untuk melihat dari mana suara itu berasal.

"Spanner, tarik gadis itu!"

Verde dengan mata terbelalak melihat Ririn di depan sekumpulan mesin yang entah sejah kapan ada di sana. Rambut panjangnya di kepang satu dengan sedikit sisi kanan dan kiri yang dibiarkan membingkai wajahnya seperti biasa jika dia akan melakukan penelitian. Ririn memegang sebuah bor di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang sebuah mesin kotak yang tidak beraturan dan mengeluarkan bunyi seperti listrik yang konslet.

Spanner mengalihkan pandangannya dari mesin yang dikerjakannya dan melebarkan matanya melihat Ririn memegang mesin. Dia berjalan cepat ke arah Ririn dan mengangkat tubuhnya dengan cepat sehingga bor dan mesin di tangnnya terjatuh.

BOOOM

BZZZTT

Spanner menatap mesin yang sebelumnya di pegang Ririn dengan alis terangkat. Mesin itu baru saja meledak dan mengeluarkan asap hitam. Beruntung ledakannya sangat kecil sehingga tidak ada yang terluka. Verde dengan segera menyemprot asap hitam dan mesin itu dengan penemuannya yang biasa dia gunakan untuk mencegah terjadinya ledakan jika eksperimennya gagal.

"Ririn, aku sudah melarangmu mendekati mesin!" Verde meloncat ke bahu Spanner dan menatap gadis yang masih diangkat oleh Spanner.

"Ririn akan membantu agar bisa cepat selesai,"

"Tidak perlu! Spanner, bawa dia ke laboratorium,"

Spanner mengikuti perintah Verde dan membawa gadis itu menuju laboratorium yang terdapat di pintu sebelah kanan ruangan itu. Begitu memasuki laboratorium yang penuh dengan tabung reaksi dan cairan kimia itu, Spanner menurunkan Ririn.

"Setiap kali kamu merakit mesin, mesin yang kamu rakit selalu meledak. Kamu dilarang menyentuh mesin-mesin! Tunggulah di sini sampai kami menyelesaikan alat itu!" Verde melompat dari bahu Spanner dan berjalan keluar dari laboratorium.

Sebenarnya Verde cukup bingung dengan gadis itu. Dia memang jenius dan pandai mencampurkan bahan-bahan kimia, tetapi entah kenapa setiap kali dia merakit mesin, mesin itu meledak. Verde tidak akan pernah melupakan saat dia pertama kali membiarkan gadis itu merakit eksperimen yang sedang dikerjakannya dan meledak, menyebabkan laboratoriumnya tidak bisa dipakai hingga beberapa minggu ke depan.

"Uhh," Ririn menunjukkan ekspresi tidak puas dengan perkataan Verde.

Spanner tersenyum melihat ekspresi Ririn yang seperti anak kecil yang sedang merajuk karena dilarang main oleh mamanya. Dia berjongkok di hadapan Ririn dan mengeluarkan sebuah lollipop dari kantungnya.

"Tunggulah di sini, aku dan Verde akan segera menyelesaikan alat yang kamu minta. Kalau Ririn jadi anak baik, alatnya akan lebih cepat selesai," ucap Spanner sambil membuka lollipop itu dan meletakkannya di depan mulut Ririn.

Ririn melihat permen itu sekilas dan membuka mulutnya, membiarkan Spanner memasukkan permen itu. Ririn menganggukkan kepalanya sambil mengemut lollipop yang di berikan Spanner. Spanner tersenyum sambil mengusap rambut Ririn sebelun keluar dari laboratorium itu.

"Heh, kukira dia hanya bisa mengurus mesin, bisa juga dia menangani anak kecil," Verde yang berdiri di depan pintu melihat kejadian itu sambil tersenyum.

"Kalau begitu Ririn akan melengkapi bahan yang kurang untuk melakukan 'itu'," Ririn memandang tabung-tabung dan cairan-cairan di hadapannya begitu Spanner menutup pintu ruangan itu.

Dia mendekati meja dan mengambil sebuah tabung yang kosong lalu mengeluarkan beberapa botol dari dalam tas rajutnya. Ada cairan berwarna putih susu, serbuk berwarna silver, beberapa butir pil aneka warna, cairan semerah darah dan beberapa botol berwarna hitam legam sehingga isinya tidak terlihat. Terakhir, dia mengeluarkan cerminnya.

"Baiklah, Ririn akan mulai membuatnya,"

Continue…

XXXXX

Raders semoga anda sekalian menikmati cerita yang Sacchan buat walaupun banyak terdapat typo (s) yang baru disadari setelah di upload -_-". Mohon maaf atas typo yang ada karena mata kanan Sacchan memang bermasalah.

Entah kenapa Sacchan rasanya membuat Spanner sebagai sosok 'kakak' yang sabar di sini dengan dia membujuk Ririn.

Sacchan tahu chapter ini kurang menarik, tapi bersabarlah, begitu Miyuki dan Ririn bertemu Sacchan yakin akan menjadi menarik.

Mind to R&R? Fav?