Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Hikage Natsuhimiko : Iya, maaf ya. Bagian sebelumnya sebenernya emang cuma transisi, tapi bagian Rika udah bisa keluar dari rumahnya nanti yang di perlukan di chapter ke depan. Tenang aja, chapter ini seenggaknya lebih banyak kok!
Minna selamat membaca!
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
New Enemy
.
.
.
Namimori, Jepang
Sekarang Dino, Tsuna, Yamamoto, Gokudera, Ryohei, Lambo, Chrome, Hibari dan Reborn sedang berada di suatu ruangan di hotel tempat Dino menginap. Mereka berkumpul di satu meja, kecuali Hibari yang memilih tidur di sofa tidak jauh dari mereka. Entah dengan cara apa Reborn berhasil membuat Hibari datang ke tempat itu. Mukuro tidak datang dan diwakili oleh Chrome karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika Cloud Guardian dan Mist Guardian itu bertemu.
Dino menatap Reborn seakan meminta persetujuan dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Reborn.
"Sebelumnya, maaf memanggil kalian ke sini di hari libur," Dino memandang semua yang hadir dengan tatapan meminta maaf. "aku memanggil kalian kemari untuk membicarakan hal penting," Dino melihat ke arah Reborn.
"Sebenarnya aku memiliki alasan menyamar sebagai guru lagi di sekolah kalian. Ada musuh baru yang mulai menyerang,"
"Apa?" semua orang yang hadir terlihat kaget dengan pernyataan Reborn, kecuali Dino yang sudah mengetahui hal ini dan Hibari yang masih tertidur di sofa tidak mempedulikan keributan itu.
"Yah, sebenarnya bukan musuh baru. Ada sebuah organisasi yang sudah lama diincar oleh mafia dan organisasi internasional. Entah sudah berapa lama mereka beroperasi, tapi sepuluh tahun yang lalu kejahatan yang mereka lakukan sempat terdeteksi dan kelihatannya sekarang mereka bergabung dengan salah satu Famiglia di Italia," jelas Dino.
"Tapi, mereka terlalu pintar menyembunyikan jejak mereka. Hanya sebuah jejak yang berhasil ditemukan, hal lain mengenai mereka tidak berhasil kita temukan. Baik anggota, nama maupun motif organisasi itu," Reborn berkata pada mereka sambil memberika beberapa lembar data pada mereka.
"Jejak apa yang telah berhasil ditemukan Reborn-san?" Gokudera memandang Reborn sambil memegang kertas yang di berikan oleh Reborn. Reborn menunjuk kertas di tangan Ryohei sambil menatap mereka semua sesaat sebelum berbicara.
"Sebuah kertas dengan copy tulisan kuno yang berisi tentang kekuatan tak terbatas dan hidup abadi. Kejahatan yang mereka lakukan adalah menyekap beberapa ilmuwan yang berpotensi di bidang DNA. Tetapi saat polisi datang, sepuluh ilmuwan yang disekap telah dibunuh," jelas Reborn.
"Organisasi itu memang terlihat seperti sudah dibubarkan, tetapi dengan bantuan seorang informan rahasia Vongola, tiga tahun yang lalu, kita berhasil mendapatkan sedikit data tentang organisasi itu. Sebelumnya, organisasi itu diketahui pernah menjalin kerjasama dengan Estraneo Famiglia sebelum hancur. Setelah Estraneo hancur, jejaknya tidak ditemukan dan beberapa waktu yang lalu informan itu telah berhasil mendapatkan informasi baru tentang organisasi itu,"
"Kelihatannya organisasi itu lagi-lagi menjalin kerjasama dengan salah satu mafia di Italia, hanya saja dia belum berhasil mendapatkan informasi lebih jelas karena pergerakannya sangat terbatas,"
"Ne, Reborn-san, apakah informan yang dimaksud adalah informan yang saat ini sedang menjadi bahan pembicaraan di antara mafia? Apakah dia yang disebut-sebut dengan julukan Pipistrello Nero Di Vongola?" Gokudera bertanya dengan penasaran.
"Benar. Si kelelawar Hitam," Reborn menurunkan topi fedoranya, menyembunyikan seringainya.
"Kalau begitu kenapa tidak dari dulu saja menyuruhnya mencari informasi?" Yamamoto bertanya dengan dahi berkerut.
"Karena aku baru merekrutnya tiga tahun yang lalu,"
"EEEH? Reborn yang merekrut Kelelawar Hitam?" semua yang ada di meja itu, termasuk Dino melebarkan mata tidak percaya.
"Kapan kamu merekrutnya?" Tsuna bertanya dengan dahi berkerut. Bukankah Reborn selalu bersamanya? Jika si informan sejak awal dari mafia bukankah seharusnya dia direkrut di Italia? Kapan Reborn pergi ke Italia?
"Dame-Tsuna!" Reborn menendang kepala muridnya yang duduk di sebelahnya itu. "Pekerjaanku kan tidak hanya mengurusmu saja," ucap Reborn sambil kembali ke kursinya.
"Aduh!" Tsuna menatap Reborn dengan tatapan 'bagaimana-kau-tahu-pikiranku?' yang diabaikan oleh Reborn.
"Ne, Reborn, kenapa kamu bilang pergerakannya terbatas?" Lambo yang ternyata sejak tadi diam karena memakan kue yang diberikan Dino (untuk menjaga agar Lambo tenang selama rapat) bertanya.
"Karena dia hanya mau menerima misi sebulan sekali," ucap Reborn dengan nada datar yang sangat jelas. Semua yang ada di meja itu hanya bisa sweatdrop melihat aura gelap di belakang Reborn untuk sesaat.
"Err, kenapa begitu?" Tsuna bertanya dengan takut-takut.
"Karena dia sibuk di hari-hari biasa,"
"EXTREME! Aku menginginkannya di klub tinju! Dimana dia sekarang Reborn?" Ryohei kali ini angkat bicara diiringi tatapan guardian lainnya.
'Untuk apa tinju memerlukan informan? Tidak, yang lebih penting, apa hubungannya?' batin mereka bersamaan.
"Dia selalu ada di sini," Reborn menyeringai melihat tatapan bingung dihadapannya. "di Jepang," tambahnya sambil menurunkan topi fedoranya untuk menyembunyikan seringainya.
"Apa? Jadi dia tinggal di Jepang?" Dino yang mengira orang itu berada di Vongola HQ atau suatu tempat yang dekat dengan markas Vongola terkejut.
"Tentu saja, kan dia orang Jepang," Reborn menambahkan seakan itu hal yang sangat jelas.
Mereka tidak menyangka dengan apa yang mereka dengar. Ternyata informan rahasia yang menjadi perbincangan diantara mafia berada dekat dari mereka.
"Seperti apa dia?" Chrome yang sejak tadi diam akhirnya bertanya dengan malu-malu.
"Kalau untuk hal yang satu itu aku tidak bisa menjawab. Salah satu perjanjiannya adalah aku tidak memberitahukan pada siapapun tentang jati dirinya yang sebenarnya. Bahkan Vongola Nono tidak pernah bertemu langsung dengannya dan hanya memberi perintah dengan surat tugas," ucap Reborn.
"Tapi, kamu dan dia sangat cocok dan bisa menjadi teman baik di bandingkan guardian lainnya, Chrome," tambah Reborn sambil tersenyum.
"Eh? Aku?" Chrome mengerjapkan matanya.
'Ya, karena kamu satu-satunya guardian perempuan dan dengan umur yang sama dengannya,' batin Reborn tersenyum melihat Chrome.
"Jangan-jangan Kelelawar Hitam seperti Shamal? Seorang playboy?" Dino mengerutkan dahinya mengira-ngira alasan Chrome bisa dekat dengan Kelelawar Hitam. Reborn mendengus menghina mendengar perkataan Dino.
"Sudahlah, identitas Kelelawar Hitam adalah rahasia. Kita kembali ke topik sebelumnya. Mafia yang berkerjasama dengan organisasi ini baru saja melakukan penyerangan terhadap Shimon Famiglia,"
"Apa? Pantas saja Enma kembali ke Italia. Bagaimana keadaan mereka sekarang?" Tsuna bertanya dengan khawatir pada Reborn.
"Saat ini mereka baik-baik saja. Dino dan Vongola Nono sudah mengirimkan bantuan pada mereka dan berhasil mengatasi penyerangan itu. Tapi kita masih belum mengetahui alasan penyerangan itu karena semua karena musuh yang berhasil ditangkap semuanya bunuh diri dan mereka tidak membawa apapun yang bisa dijadikan identitas mereka," Reborn menghela napas mengingat tidak adanya bukti-bukti yang bisa mereka dapatkan.
"Syukurlah," Tsuna dan yang lainnya menghela napas lega mendengar hal itu.
"Untuk sementara sepertinya Enma dan yang lainnya tidak akan kembali ke sini karena kerusakan yang mereka terima, ditambah lagi Famiglia mereka sedang berkembang sejak tiga tahun lalu berkat kerjasama dengan Vongola,"
"Tapi kenapa Shimon?" Gokudera mengerutkan dahinya penasaran.
"Entahlah," Reborn menghela napas.
XXXXX
"Wah, aku tidak mau disamakan dengan Dr. Shamal~," Miyuki mengerutkan dahinya sambil memegang suatu benda berbentuk kotak yang seperti walkie talkie hanya saja lebih kecil. Ditelinganya terpasang earphone yang kabelnya tersambung pada benda yang mirip walkie talkie itu.
Miyuki sedang berjalan-jalan di daerah pertokoan sambil mendengarkan percakapan yang terjadi di tempat Tsuna dan kawan-kawannya dari alat penyadap yang diam-diam dia tempelkan di jaket Hibari saat menarik tangannya tadi.
Miyuki mendengarkan semua percakapan itu sambil melihat pertokoan. Tiba-tiba dia merasakan sebuah aura yang familier dan menyembunyikan earphone dan benda kecil yang di bawanya ke dalam tas kecil yang di bawanya.
"Kufufufu, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini, Yuki-chan," Mukuro, entah dari mana tiba-tiba ada di hadapan Miyuki.
"Ah, selamat siang, Mukuro-san," Miyuki memberi salam sambil tersenyum kepada Mukuro. "Tidak bersama yang lain? Tidak biasanya Mukuro-san sendirian," Miiyuki tersenyum sambil melihat sekelilingnya dan tidak menemukan seorang pun murid Kokuyo di sekitar mereka.
"Tidak, yang lain berada di Kokuyo dan aku sedang menunggu Chrome yang sedang ada urusan," ucap Mukuro. "kalau tidak keberatan maukah menemaniku sambil menunggu Chrome?" Mukuro menatap Miyuki sambil menunjukkan senyum khasnya.
"Baiklah, aku juga sedang senggang," Miyuki tersenyum dan mengikuti Mukuro berhenti di sebuah café.
Mereka memilih duduk di luar. Mukuro memesan secangkir ice lemon tea dan sepotong kue cokelat, sedangkan Miyuki memesan green tea latte dengan sepotong tart buah.
"Kufufufu, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu, Miyuki-chan," Mukuro menatap tersenyum kepada Miyuki.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Mukuro-san," Miyuki yang sedang memakan tart buahnya memandang Mukuro dengan bingung.
"Perkataan bocah sapi sepuluh tahun mendatang itu dan auramu," Mukuro menyesap tehnya sambil memandang Miyuki yang masih memasang ekspresi bingung.
"Bocah sapi sepuluh tahun mendatang?" Miyuki memandang Mukuro dengan dahi berkerut.
"Kufufufu, kamu benar-benar menarik. Kamu mungkin bisa menipu orang lain, tapi, aku yang sudah berkali-kali menjalani kehidupan dan bereinkarnasi berkali-kali tidak akan tertipu oleh aktingmu. Kamu memiliki aura yang sama denganku," Mukuro tersenyum lebar menatap Miyuki.
Miyuki tidak merubah ekspresinya. Dia hanya memandang Mukuro dengan tatapan bingung tanpa sedikitpun terkejut. Miyuki sejak awal sadar kalau Mukuro penasaran padanya sejak hanami karena tatapannya yang tidak pernah melepaskannya.
Tapi, sebagai seorang 'aktris' professional di kehidupan sehari-harinya, dia berperan sebagai Miyuki. Sebagai 'Yuki' yang di kenal oleh kakaknya, bukan 'Miyu' yang dulu ataupun sang informan.
"Kufufufu..hahahaha," Mukuro tiba-tiba tertawa melihat ekspresi di wajah Miyuki yang tidak berubah dan auranya, tidak menunjukkan keterkejutan sedikitpun. "Kamu benar-benar menarik!" Mukuro menghentikan tawanya. Dia lalu mulai memakan kue cokelat miliknya.
"Ne, Mukuro-san. Aura seperti apa yang kamu bilang mirip denganmu?" Miyuki memandang Mukuro sambil meminum minumannya.
"Kau mau tahu?" Mukuro menghentikan kegiatannya dan meminum minumannya sebelum mulai berbicara. "Gelap. Aura mu berisi kebencian, rasa bersalah, kelicikan dan…..penyesalan," Mukuro menatap Miyuki sambil tersenyum sedih yang dibuat-buat.
Mendengar penjelasan Mukuro, untuk sesaat mata Miyuki berkilat dengan emosi yang tidak bisa Mukuro deskripsikan, kepalanya menunduk. Kehampaan? Entahlah, yang pasti itu membuat Mukuro semakin penasaran pada gadis itu.
"Penyesalan," gumam Miyuki sambil mengangkat kepalanya. "Mukuro-san juga menyesal terhadap suatu hal?" Miyuki menatap Mukuro dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kufufu," Mukuro tertawa, tetapi entah kenapa kali ini tawanya berbeda. "Ya, ada," ucapnya sambil meminum minumannya.
"Boleh aku tahu apa itu?"
"Aku menyesal tidak bisa menolong orang yang pernah menyelamatkan nyawaku," ucap Mukuro dengan ekspresi yang sulit dibaca. Untuk sesaat suasana di sekitar mereka terasa hening.
"Sudahlah. Kenapa pembicaraan kita menjadi serius seperti ini?" Miyuki tertawa kecil berusaha menghilangkan suasana negative di sekitar mereka. "Kamu cocok jadi cenayang, Mukuro-san," Miyuki tersenyum kepada Mukuro yang sekarang menatapnya dengan dahi berkerut.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak tertarik melakukan hal tidak penting seperti itu," ucapnya sambil tersenyum dengan dahi berkerut, tetapi ekspresi wajahnya kembali seperti semula.
Miyuki tertawa kecil dan mereka melanjutkan menghabiskan makanan mereka. Tiba-tiba Miyuki merasakan aura membunuh yang sangat familier baginya. Benar saja, tidak lama kemudian sebuah tonfa melayang ke arah Mukuro yang sedang minum dan dengan mudah dihindari olehnya.
"Kyo-nii!" Miyuki berseru kaget melihat kakaknya berdiri tidak jauh dari mereka.
Dibelakang Hibari ada seluruh Guardian ditambah Reborn. Hibari menatap Mukuro dengan pandangan membunuh, sedangkan Chrome memandang Mukuro khawatir. Miyuki bisa mendengar Tsuna berteriak 'HIEE'.
"Oya, oya, Kyoya-kun," Mukuro sudah berdiri dengan trident di tangannya menghadap Hibari. "lama tidak bertemu caramu memberi salam tidak berubah," Mukuro tersenyum menatap Hibari yang berjalan ke arahnya.
"Yuki, apa yang kau lakukan bersama Nanas sialan ini?" Hibari menatap adiknya dengan tajam.
"Aku hanya menemaninya menunggu Chrome sambil minum teh," Miyuki memberi alasan sambil menunjuk gelas dan piring mereka berdua di meja.
"Yuki, kamu dilarang mendekati kepala Nanas ini," Hibari menunjuk Mukuro dengan tonfanya.
"Oya, oya, kamu tidak bisa melarang Miyuki-chan seperti itu. Dia sudah besar, Kyoya-kun," Mukuro mengerutkan dahinya, tidak suka dengan panggilan yang di berikan Hibari padanya.
Dalam sekejap Hibari sudah menyerang Mukuro. Miyuki menjauhi mereka berdua yang mulai keluar dari area café dan bertarung di jalan.
"Chrome, buat ilusi agar tidak menarik perhatian," Reborn memerintahkan Chrome yang dibalas dengan anggukan.
Dengan segera sebuah trident tercipta di tangan Chrome. Dia mengayunkan tridentnya dan orang-orang yang tadi melihat mereka dengan penasaran mulai kembali berjalan dan mengabaikan mereka.
Miyuki melihat arah mereka datang dan menyadari hotel mewah tempat Dino menginap di balik sebuah sebuah gedung tinggi. Dia menyesal tidak memperhatikan sekitar saat mengikuti Mukuro. Seharusnya dia memperhatikan tempat mereka menunggu, tidak di dekat hotel dan sudah bisa mangantisipasi reaksi kakaknya.
"Miyuki-chan, kamu tidak apa-apa?" Chrome dan yang lainnya menghampiri Miyuki yang berdiri menatap dua sosok yang sedang bertarung di hadapannya.
"Aku tidak apa-apa, tapi bagaimana menghentikan mereka?" Miyuki menatap dua orang yang yang bertarung dengan 'semangat'.
"Pertarungan yang EXTREME!" Ryohei menatap Hibari dan Mukuro yang saling menyerang.
"Hiee! Bagaimana cara menghentikan mereka!" Tsuna memekik panik melihat dua Guardiannya yang sedang bertarung.
"Sial, mereka berani membuat Juudaime khawatir!" Gokudera mengeluarkan dinamitnya sambil memandang dua orang yang bertarung dengan kesal.
"Maa, maa, mereka kan selalu seperti itu," Yamamoto tersenyum dengan santai sambil menggendong Lambo yang tertidur, seakan itu adalah hal yang biasa.
"Dame-Tsuna! Kamu sebagai Boss mereka harus menghentikan pertempuran Guardianmu," ucap Reborn sambil mengeluarkan pistolnya.
"Hie! Reb-," kata-katanya terpotong oleh Reborn yang menembak dahinya.
"Hentikan pertarungan mereka dengan dying will ku!" Tsuna berdiri dengan tegak, di dahinya ada api yang menyala. Bajunya entah kenapa sudah tersobek dan sepatunya, dia hanya mengenakan celana pendek.
Tsuna lalu meloncat di antara Mukuro dan Hibari, menghentikan trident dan tonfa yang akan beradu. Mereka berdua kaget melihat ada yang berani mengganggu pertarunyan mereka.
"Tch," Hibari mendecih dan melompat mundur sambil menarik tonfanya.
"Oya,oya, Tsunayoshi-kun," Mukuro tersenyum sambil menarik tridentnya.
Api di dahi Tsuna perlahan-lahan menghilang dan dia menatap Hibari dan Mukuro dengan panik.
'HIE! Reborn, bagaimana ini?' Tsuna memekik di dalam hati sambil melihat ke arah Reborn yang malah mengalihkan pandangannya.
"Eh, kurasa tidak baik bertarung di tempat seperti ini walaupun Chrome-chan sudah memasang ilusi untuk menutupinya," Tsuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berusaha menelan ludah. Hibari menatapnya dengan tatapan membunuh. "Hibari-san, Miyuki-chan juga ada di sini, kurasa kamu tidak mau adikmu terlibat dengan hal ini..?" Tsuna melihat ke arah Miyuki yang berdiri bersama yang lainnya dengan takut-takut.
Hibari melihat ke arah Miyuki yang menatapnya dengan ekspresi khawatir. Dia menurunkan tonfanya dan pergi dari tempat itu, menghampiri Miyuki tanpa berkata apapun.
"Pulang,"
Hanya dengan satu kata dan Hibari berjalan melewati mereka semua tanpa berkata apapun. Miyuki membungkukkan badannya pada Tsuna dan yang lainnya sebelum berjalan mengikuti kakaknya.
"Kufufufu~ sungguh menarik," Mukuro melihat kejadian itu sambil tersenyum. "Chrome, ayo kita kembali," Mukuro lalu menatap Chrome. Trident di tangannnya menghilang perlahan.
Chrome menganggukkan kepalanya. Trident di tangannya menghilang seperti Mukuro dan ilusi yang dia gunakan pun hilang. Chrome lalu berlari kecil menghampiri Mukuro.
"Arcobaleno, gadis itu sungguh menarik, bukan?" Mukuro berbisik saat melewati Reborn.
Reborn hanya menurunkan topi fedoranya untuk menyembunyikan ekspresinya. Setelah itu dia menghampiri Tsuna yang sudah memakai jaket milik Gokudera.
XXXXX
"Ne, Kyo-nii, sebelum pulang aku mau membeli bahan makanan untuk nanti malam," ucap Miyuki memecah kesunyian di antara mereka.
"Hn,"
Setelah itu Miyuki memasuki mini market untuk membeli beberapa bumbu dan bahan makanan, sedangkan Hibari berjalan-jalan memperhatikan toko-toko dengan wajah tidak tertarik. Beruntung jalanan tidak begitu ramai, moodnya yang tidak bisa dibilang baik tidak perlu bertambah buruk.
Pandangan Hibari berhenti di sebuah toko. Dia memandangi etalase toko itu lama sebelum memutuskan untuk masuk dan membeli barang itu. Sang pemilik toko yang tidak menyangka Hibari akan memasuki tokonya dengan cepat mengambil dan membungkus barang yang diminta Hibari dengan ketakutan.
Pemilik toko itu masih mengingat kejadian saat festival musim panas beberapa tahun lalu. Standnya di hancurkan tanpa ampun oleh Hibari karena dia tidak bisa membayar uang sewa stand.
Begitu selesai keluar dari toko, Hibari menatap bungkusan di tangannya sebelum memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Dia menghampiri Miyuki yang sedang berdiri di depan mini market, mencari dirinya.
XXXXX
Lab. Rahasia, Italia
"Akhirnya, selesai juga," Verde membenarkan letak kacamatanya sambil menatap alat di hadapannya.
"Aku akan memberi tahu Ririn kalau alatnya sudah selesai," Spanner yang berdiri di belakang Verde sambil mengemut lollipop berjalan menuju pintu Lab.
Spanner membuka pintu dan melihat ruangan itu sangat sepi. Spanner memasuki ruangan itu karena tidak melihat sosok Ririn di depan meja Lab. dan ciran-cairan kimia. Dia lalu berjalan menuju satu-satunya sofa di ruangan itu dan menemuka Ririn tertidur di sofa dengan posisi menyamping dan lutut di depan dada, membuat dirinya yang kecil terlihat seperti bola.
"Dia tidur," Spanner berkata pada Verde yang memasuki ruangan itu. "Apa harus dibangunkan? Dia terlihat membutuhkan alat ini secepatnya," Spanner bertanya pada Verde yang menghampirinya.
"Percuma, dia heavy sleeper, tidak akan bangun walau ada gunung meletus sedikitpun," ucap Verde sambil berdiri di sisi sofa dan menusuk-nusuk pipi Ririn yang sedang tidur dengan jari telunjuknya, yang sama sekali tidak mendapat respon.
Verde mengingat saat Ririn tidur menindih sebuah buku yang dibutuhkannya di sofa dan dia berusaha membangunkan Ririn dengan segala cara. Dimulai dengan memanggil namanya sambil menggoyangkan tubuhnya, menggunakan alatnya yang mengeluarkan suara sangat besar hingga terdengar keluar gedung (Verde memakai headphone anti suara). Pada akhirnya dia mendapatkan buku itu setelah mendorong Ririn hingga jatuh dari sofa dan Ririn pun tidak bangun, dia terbangun tidak lama setelah Verde berhasil mendapatkan bukunya karena dia merasa kedinginan.
"Hee," Spanner berjongkok di depan sofa dan ikut menepuk pipi gadis itu. Dia lalu berdiri dan mengangkat gadis itu seperti sebelumnya, di bawah lengannya dan menggoyangkannya, tetapi Ririn tidak menunjukkan respon. Spanner akhirnya kembali menidurkannya di sofa. Dia mengambil selimut di sebuah lemari kayu di ruangan itu dan menyelimuti Ririn.
"Sudahlah, tadi sepertinya dia membuat makan malam, ayo kita makan saja," ucap Verde sambil melompat ke bahu Spanner.
Mereka berdua akhirnya pergi ke dapur dan menemukan sepanci sup krim dan roti. Mereka memakan sup itu hingga habis dan mengambil beberapa potong roti, lalu tidur di dua sofa yang ada di ruang mesin.
Ririn terbangun saat hampir tengah malam. Dia memandang selimut yang menutupinya sesaat lalu pandangannya teralih pada sebuah alat di atas tas rajutnya. Ririn memperhatikan alat itu dan memasukkannya ke dalam tas.
Ririn berjalan keluar dari ruangan itu dan melihat Verde dan Spanner yang tertidur di sofa. Tidak ingin membangunkan mereka berdua yang sudah beberapa hari begadang untuk membuat alat yang dimintanya, dia mengendap-endap mengambil selimut dan menyelimuti mereka berdua.
Ririn lalu berjalan menuju dapur dan menemukan sepanci sup yang dibuatnya sudah habis. Dia membuka kulkas dan membuat sup, sandwich dan makanan yang bisa dihangatkan lainnya agar mereka tidak selalu memakan makanan tidak bergizi. Setelah selesai memasak, Ririn mencuci piring-piring kotor.
Ririn berjalan memasuki ruang mesin dan mengambil secarik kertas, lalu menulis sesuatu. Setelah selesai dia menempelkannya di pintu agar mudah terlihat oleh Spanner dan Verde. Dia lalu mengambil tas rajutnya dan berniat berjalan keluar dari tempat itu.
"Paman, Spanner, terima kasih," ucapnya sambil melihat dua sosok di atas sofa sebelum keluar dari ruangan.
Sebelum keluar Ririn menelan sebuah pil berwarna merah dan merapatkan mantelnya. Musim memang memasuki musim semi, tetapi bagaimana pun tetap saja udara sangat dingin terutama di malam hari begini. Ririn menatap langit dan melihat bulan sabit berwarna kuning. Dia berjalan memasuki hutan dan membuat lingkaran sihir di sana, lalu mengeluarkan cerminnya dan menggores tangannya. Ririn membuat simbol bulan sabit di cermin itu dan menggumamkan mantera sambil mengangkat cermin itu mengarah pada bulan. Tubuh Ririn perlahan-lahan menghilang meninggalkan lingkaran yang hilang ditiup angin.
Continue…
XXXXX
Omake..
Verde terbangun dan melihat dirinya memakai selimut. Dia melihat ke arah Spanner yang masih tertidur dan berjalan menuju laboratorium dan hanya menemukan ruangan yang kosong. Verde kembali ke ruangan sebelumnya dan melihat secarik kertas menempel di pintu.
Verde melompat untuk mengambil kertas itu dan membacanya
For
Paman dan Spanner
Terima kasih sudah membantu Ririn membuatkan Reality Illusion Glove. Maaf Ririn pergi tanpa bilang kalian karena Ririn tidak enak membangunkan kalian yang beristirahat setelah membuatkan Ririn alat ini. Dalam jangka waktu yang cukup lama, sepertinya Ririn tidak bisa mengunjugi tempat Paman karena ada yang ingin Ririn lakukan
Ririn sudah membuatkan makanan yang bisa dihangatkan dan tahan untuk beberapa hari, berhentilah hanya memakan roti dan makanan cepat saji lainnya, Ririn tidak mau mempunyai Paman yang berumur pendek karena terkena serangan jantung atau kanker akibat terlalu banyak makan makanan cepat saji dalam wujud batita
From
Keponakanmu, Ririn
"Heh, aku tidak akan kena serangan jantung atau kanker. Aku juga tidak ingat punya keponakan sepertimu," ucap Verde sambil tersenyum. Verde baru akan menyimpan kertas itu ketika melihat tulisan di baliknya.
P.S
Tolong katakan pada Master kalau Ririn tidak bisa datang lagi karena pergi ke suatu tempat. Ririn sangat berterima kasih Master mau mengajari Ririn yang fisiknya lemah ini bela diri dan menerimanya menjadi murid. Ririn harap Master bisa mengajari Ririn, setidaknya membuat Ririn sedikit lebih kuat lagi sebelum Ririn pergi, tapi itu tidak mungkin.
Verde menghela napas membaca tulisan itu. Sepertinya dia harus menyimpan pesan itu untuk seseorang yang berkata akan mengunjunginya lusa nanti.
XXXXX
Readers sekalian, maaf kemarin Sacchan ga bisa update karena adek Sacchan masuk rumah sakit dan Sacchan lagi tugas jaga karena kebetulan lagi nggak puasa. Berhubung sejak kemaren Sacchan di rumah sakit dan di rumah sakit ga ada sinyal (ehm, Wi fi rumah sakit ga bisa akses ) jadi Sacchan sama sekali ga bisa update. Readers, bantu doakan adek Sacchan supaya cepet sembuh ya dan bisa cepet pulang, Sacchan nggak mau lebaran di rumah sakit neh -_-".
Beberapa chapter sebelumnya emang cuma transisi dan bagian pentingnya dikit, tapi beberapa ada yang diperlukan di chapter mendatang, jadi sabar yaa~
Berhubung Sacchan mungkin akan terlambat update untuk beberapa waktu ke depan di mohon kesabarannya.
Minna, mind to R&R?
