Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
yamashita akira : Sama-sama Kira-san (boleh kan panggil begitu?). Terima kasih juga sudah memfavorit dan follow cerita Sacchan yaa#peluk Kira. Terima kasih doanya, Alhamdulillah adik Sacchan sudah sembuh dan sore tadi sudah pulang dari RS. Tenang saja, Sacchan selalu berusaha mengupdate secepat mungkin!
Hikage Natsuhimiko : Aduh, sabar ya Hikage-san, semoga kamu bisa log in lagi ke di ponsel mu#bales meluk Hikage. Di chapter depan akan ada sedikit hint tentang Masternya Ririn, Sacchan harap kamu bisa mengerti maksudnya. Mammon? Hmm, nanti anda akan tahu siapa#plak-pukul karena sok misterius. Bisa dong, kan nggak tiap hari ada bulan, jadi kalo ngga ada bulan kadang-kadang Ririn bikin ilusi bulan sendiri, karena kalo ga ada bulan, kekuatan bulannya nggak bisa di pake maksimal. Entah kenapa Mukuro selalu identik dengan orang mesum, apakah memang auranya aura mesum?#ditusuk-trident. Di chapter ini kamu akan mengetahui ke mana Ririn~
prof. creau : Haiii prof, sebelumnya Sacchan mau berterima kasih karena kamu udah follow cerita Sacchan~ Sacchan memang sempat bertanya-tanya, ke mana gerangankah reviewer pertama Sacchan? Nggak apa-apa kok, Sacchan seneng kamu review Sacchan lagi~ Iya, siscon tersembunyi Hibari terlihat tuh kalo Dino mulai deket-deket ama Miyuki. Penyihir kok (UMA itu sejenis alien kan?), emang punya kekuatan gaib. Wah, kalo Ririn bener-bener pake baju begitu, Dino harus dijauhkan agar sisconnya tidak membahayakan Ririn~ Itu terinspirasi dari pertanyaanmu, bagaimana? Puaskah anda dengan reaksi Miyuki saat Hibari masuk ke kamarnya? Oke, terima kasih sudah mereview semangat ya kerjanya~Tenang saja, Sacchan sangat semangat memikirkan bagaimana Ririn dan Vongola lainnya bertemu nantinya! Sabar ya, sekitar tiga chapter lagi mereka bertemu kok~ Bye bye~
Please enjoy this chapter!
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Birthday, Bloody Moon and Ritual
.
.
.
Namimori, Jepang
"Kyo-nii, aku pergi dulu ya,"
Miyuki mengetuk pintu kamar kakaknya beberapa kali sebelum membukanya, mengira kakaknya itu masih tertidur. Dia melihat sekeliling kamar dengan model sederhana tanpa banyak barang itu.
Dikamar itu hanya ada sebuah tempat tidur dengan ukuran king size, lemari kayu, meja belajar, cermin besar, rak buku, dan beberapa barang.
Terkadang Miyuki bingung dengan kasur kakaknya yang sangat besar itu. Kalau hanya tidur sendiri kenapa sebesar itu? Ditambah lagi dengan entah-bahan-apa yang digunakan untuk membuat kasur itu, karena kasur itu tidak empuk seperti kasur biasanya.
Hibari dengan kimono hitam, sedang bersandar di pintu geser yang memperlihatkan halaman rumah dan pohon besar yang berada dekat tembok. Hibari mengangkat pandangannya dari laptopnya dan menatap adiknya.
"Aku mau pergi bersama Kyoko-chan, Hana-chan, Haru-chan, dan Chrome-chan. Haru-chan dan Kyoko-chan membuat pesta ulang tahun untukku," seakan bisa membaca pikiran kakaknya, Miyuki menjelaskan.
"Apa si Nanas datang juga?"
"Tidak, Mukuro-san tidak datang. Kami hanya berlima karena Hana-san mengatakan lebih baik perempuan saja. Kyo-nii tidak keberatan aku pergi dengan Chrome-chan kan?" Miyuki mengangkat alisnya menatap Hibari.
Hibari hanya mengangkat bahunya dan kembali menatap laptopnya. Miyuki tersenyum lega melihat reaksi Hibari. Itu artinya dia tidak keberatan dengan Chrome. Miyuki lalu melambaikan tangan pada kakaknya sambil menutup pintu kamar dan mengucapkan salam.
Tidak lama kemudian Hibari mendengar pintu depan di buka dan ditutup. Dia berdiri dan berjalan menuju meja belajar dan membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah kotak kecil dengan bungkus putih bermotif salju dan pita biru.
"Happy birthday Miyuki~ Happy birthday Miyuki~"
Hibari melihat ke arah Hibird yang masuk ke dalam kamarnya sambil bernyanyi. Hibird mendarat di bahu Hibari dan Hibari tersenyum sambil mengelus kepala Hibird dengan jarinya.
"Kamu seharusnya bernyanyi nanti," ucap Hibari sambil menggenggam kotak di tangannya dan memasukkannya ke dalam laci.
XXXXX
"Happy birthday Yuki-chan!" Haru memberikan ucapan selamat sambil memeluk Miyuki.
"Selamat ulang tahun, Yuki-chan," Kyoko hanya tersenyum sambil menjabat tangannya.
"Um, selamat ulang tahun, Miyuki," Chrome mengucapkannya dengan malu-malu.
"Selamat ulang tahun Miyuki," Hana tersenyum sekilas kepada Miyuki.
"Terima kasih semua," Miyuki tersenyum senang melihat teman-temannya.
Mereka sekarang sedang berada di sebuah café untuk merayakan ulang tahun Miyuki. di tengah-tengah meja itu ada sebuah cake dengan cokelat batang bertuliskan 'Happy Birthday Miyuki'. Mereka berbincang-bincang sambil memakan kuenya.
Begitu mereka selesai memakan kue, mereka masing-masing memberikan kado kepada Miyuki. Kyoko dan Haru memberikan sebuah tas berwarna putih-hitam yang manis, Chrome dengan malu memberikan sebuah gantungan berbentuk bunga salju yang unik berwarna putih-hitam, Hana memberikan bedak dan lipgloss.
"Aku perhatikan kamu tidak pernah memakai make-up sedikitpun. Setidaknya pakailah bedak dan lipgloss," ucap Hana.
"Ah, terima kasih," Miyuki tersenyum kepada Hana. Miyuki memang tidak pernah memakai make-up karena di asrama dulu dilarang memakai make-up dan aksesoris.
"Maaf kalau hadiahnya terlalu sederhana," Chrome menundukkan kepalanya sambil menatap Miyuki dengan malu.
"Tidak kok, aku suka. Gantungan yang indah, aku suka salju," Miyuki tersenyum sambil menatap Chrome.
"Syukurlah, aku memilihnya karena sesuai dengan namamu," Chrome tersenyum sambil mengangkat kepalanya.
"Kami memilih hadiah ini bersama!" Haru berseru riang, sedangkan Kyoko tersenyum di sampingnya.
"Terima kasih. Tasnya bagus sekali," Miyuki tersenyum sambil memasangkan gantunngan yang di berikan oleh Chrome k etas itu. "wah, gantungan dan tasnya cocok," Miyuki tersenyum sambil mengangkat tas itu untuk menunjukkannya pada mereka.
"Wah benar!" Kyoko menyatukan tanganya sambil tersenyum senang.
"Lucky desu!" Haru tersenyum ceria.
Chrome tersenyum senang melihat Miyuki langsung memasang hadiahnya di tas barunya. Hana tersenyum melihat teman-temannya seperti itu.
"Semuanya, terima kasih hadiahnya," Miyuki tersenyum pada mereka yang dibalas dengan senyum.
XXXXX
Miyuki baru saja selesai merayakan ulang tahunnya bersama Kyoko dan yang lainnya saat sebuah mobil hitam mewah berhenti di sebelahnya.
"Miyuki!"
Seorang pria berambut pirang berwajah tampan keluar dari kursi penumpang. Dino menghampirinya dengan senyum cerianya yang berhasil meluluhkan hati beberapa pejalan kaki perempuan yang lewat.
"Dino-san, selamat siang," Miyuki sedikit membungkukkan badannya pada Dino.
"Siang," Dino tersenyum membalas sapaan Miyuki sambil melihat barang yang di bawa Miyuki.
"Ah, Kyoko-chan dan yang lain mengadakan pesta ulang tahun untukku," jelas Miyuki begitu melihat arah pandangan Dino.
"Hee, Miyuki hari ini ulang tahun? Selamat ulang tahun kalau begitu," Dino mengulurkan tangannya kepada Miyuki dan dibalas dengan ucapan terima kasih.
"Hey, kalau begitu bagaimana kalau aku mentraktirmu makan siang? Kamu belum makan kan?" Dino menatap Miyuki dengan pandangan berbinar.
"Belum sih, tapi aku merasa tidak enak. Bukan kah selain sebagai seorang guru Dino-san juga menjalankan usaha keluarga? Apa tidak sibuk?" Miyuki memandang Dino dengan tatapan tidak enak.
"Ah, tidak kok. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku, jadi kebetulan saat ini sedang senggang sampai beberapa jam ke depan. Jadi, kamu mau? Anggap saja hadiah ulang tahun dariku, kamu kan adik Kyoya," Dino tersenyum kepada Miyuki berusaha meyakinkannya.
"Uhm, baiklah," Miyuki akhirnya menganggukkan kepalanya.
Lagi pula kakaknya tadi bilang kalau dia tidak makan siang di rumah, jadi tidak ada salahnya kalau dia makan di luar. Miyuki sedikit merasa kecewa karena kakaknya seperti tidak ingat dengan hari ulang tahunnya.
Dino lalu membukakan pintu kepada Miyuki dan mempersilahkannya duduk si kursi penumpang bersamanya.
XXXXX
"Apa restoran ini tidak terlalu mewah, Dino-san?"
Miyuki memandang sekeliling restoran yang berada di lantai empat sebuah hotel mewah di kawasan elit Namimori. Sekarang dia duduk di hadapan Dino setelah Dino memesan makanan untuk mereka berdua
"Tidak, tidak apa-apa. Ini kan hari ulang tahunmu, anggap saja hadiah dariku," Dino tersenyum menenangkan Miyuki.
"Uhm, baiklah," Miyuki menganggukkan kepalanya dengan ragu.
"Sudahlah, jangan sungkan begitu," Dino tersenyum yang malah membuat beberapa pelayan perempuan yang lewat meleleh melihat senyumannya.
Melihat senyum Dino, perasaan tidak enak Miyuki hilang dan dia membalas senyum Dino. Miyuki lalu mengambil gelas air putih di hadapannya dan meminumnya.
Dino memperhatikan gadis di hadapannya dengan seksama. Tanpa seragam sekolah, Miyuki terlihat lebih dewasa. Tidak hanya penampilannya, tetapi sifatnya dan auranya. Cara dia berjalan, cara dia berbicara, cara dia mengambil gelas dan meminumnya. Dino harus mengakui Miyuki memiliki manner sebagai seorang lady.
Tidak heran dia menjadi perbincangan di ruang guru mengingat sifatnya yang sangat berkebalikan dengan sifat kakaknya. Ditambah lagi dia sangat cantik. Dino melihat pelanggan pria yang duduk di sebelah mereka yang memandangi Miyuki.
"Mereka pacaran?"
"Yang perempuan cantik sekali,"
"Aaah, pria berambut pirang itu keren sekali!"
"Pasangan yang serasi!"
Dino dapat mendengar suara pelanggan dan pelayan di sekitar mereka. Miyuki terlihat tidak peduli sama sekali, atau mungkin memang karena dia tidak menyadarinya.
"Ada apa Dino-san? Sejak tadi memandangku terus?"
"Ah, tidak," Dino berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. "Ne, Kyoya selalu memanggilmu Yuki kan? Keberatan kalau aku juga memanggilmu seperti itu?" Dino menatap Miyuki sambil tersenyum.
"Tidak. Aku tidak keberatan,"
"Yuki," Dino menggumamkan nama gadis di depannya.
"Ya?"
"Eh, Yuki," Dino berusaha mencari topik, tidak menyangka gadis di depannya mendengarnya. "kamu sangat sayang pada Kyoya ya,"
"Aku sangat menyayangi Kyo-nii, dia saudaraku satu-satunya," Miyuki tersenyum lembut yang membuat jantung Dino berdetak lebih cepat.
"Maaf, tapi orang tua kalian…?"
"Tou-san meninggal saat aku masih kecil, aku tidak ingat. Kaa-san meninggal karena kecelakaan mobil saat pergi ke kantor makanya aku di titipkan di tempat paman dan bibi di Tokyo. Tapi paman meninggal karena kanker yang sudah lama di deritanya dan bibi tidak lama kemudian meninggal karena stress yang dideritanya. Karena itu aku mencari beasiswa dengan sekolah berasrama di Tokyo," jelas Miyuki sambil meminum airnya.
"Maaf, aku tidak tahu," Dino menundukkan kepalanya, merasa tidak enak sudah bertanya hal seperti itu.
"Tidak apa-apa. Lagi pula hal itu sudah berlalu," Miyuki berusaha menenangkan Dino yang merasa tidak enak.
"Jadi, kalian tidak punya kerabat lagi?" Dino mengangkat kepalanya dan kembali bertanya pada Miyuki.
"Sebenarnya kami masih punya seorang paman yang menjadi wali kami. Tetapi pekerjaan paman mengharuskannya berpindah-pindah dan karena Kyo-nii tidak mau pergi dari kota ini, Kyo-nii tetap tinggal di sini," jelas Miyuki sambil tersenyum.
"Paman kalian?" Dino mengangkat alisnya.
"Kami tidak tahu paman saat ini ada di mana. Err, sebenarnya lebih tepatnya tidak begitu tahu apa pekerjaannya, tapi seingatku paman adalah master bela diri? Tapi sepertinya Kaa-san pernah memanggilnya dengan pengelana?" Miyuki berusaha mengingat sosok pamannya yang sudah lama tidak di temuinya. "Ah, tapi tenang saja, setidaknya dia masih hidup. Beberapa hari yang lalu dia mengirimkan surat walaupun tanpa alamat yang jelas," Miyuki menggerakkan tangannya di depan wajah sambil tersenyum ceria.
Dino menghela napas lega melihat senyum ceria Miyuki. Setidaknya hal yang berkaitan dengan pamannya itu bukan hal yang tabu. Tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang. Dua piring sirloin beef steak.
Dino sempat menyenggol gelas saat memotong steak sehingga gelas itu jatuh dan pecah, dengan segera dia meminta maaf pada seorang pelayan yang membersihkan gelas yang di pecahkannya.
"Maaf Yuki, aku membuatmu malu," ucap Dino sambil menundukkan kepalanya.
"Dino-san, aku kan sudah bilang, satu-dua kesalahan itu hal yang biasa," Miyuki tersenyum kepada Dino. "Aku tidak malu, kok. Dino-san yang ceroboh menurutku menarik," ucap Miyuki sambil tertawa kecil.
'Karena kamu berkali-kali membuatku tidak bisa memprediksi sikapmu dan membuatku menunjukkan emosiku yang sesungguhnya,' batin Miyuki sambil tersenyum.
"Eh, begitukah?" Dino merasakan jantungnya berdebar mendengar Miyuki berkata seperti itu.
"Iya. Ayo kita lanjutkan makannya. Jangan panik dan takut membuat kesalahan Dino-san," ucap Miyuki sambil memotong steaknya, tidak menyadari akibat dari ucapannya.
"Iya," Dino tersenyum pada Miyuki. Entah kenapa dia merasa tenang.
Akhirnya Dino berhasil melanjutkan makannya tanpa membuat kesalahan. Miyuki tersenyum kecil memandang Dino yang duduk di hadapannya. Sekilas, dia melihat jam tangannya.
XXXXX
"Yuki, kenapa kamu pulang bersama Haneuma itu?"
Hibari menatap Miyuki dari ruang tengah dengan TV menyala. Di hadapan Hibari ada Roll yang bergulung di atas meja dan Hibird yang berdiri di sampingnya. Tidak menyangka kakaknya sudah di rumah di jam-jam seperti itu. Biasanya kakaknya pulang malam yang, menurut Kusakabe karena dia berpatroli keliling kota atau sekedar memukuli orang yang berkerumun atau tidak di sukainya.
Terkadang Miyuki heran dengan kakaknya itu. Sebenarnya statusnya di kota itu apa? Polisi? Pejabat? Penguasa? Kakaknya itu seperti kriminalitas yang tak tersentuh oleh hukum dan menegakkan hukum itu sendiri. Lebih hebat dari polisi, lebih sadis dari penjahat. Miyuki mengenyahkan pikirannya dan menatap kakaknya.
"Aku bertemu dengan Dino-san saat selesai merayakan ulang tahunku bersama yang lain. Dino-san mentraktirku makan siang untuk merayakan ulang tahunku, katanya," Miyuki duduk di depan kakaknya sambil mengelus Roll dan Hibird bergantian.
"Sampai malam begini?" Hibari menatap Miyuki dengan alis terangkat.
"Yah, kami membicarakan banyak hal. Dino-san cerita tentang adiknya di Italia,"
"Adik? Bukan si binatang kecil?" Hibari mengangkat alisnya pada Miyuki.
"Bukan, bukan Sawada-senpai. Dino-san bilang dia punya adik perempuan yang imut dan lucu di Italia. Selama berjam-jam dia bercerita tentang adik perempuannya itu. Kelihatannya dia kangen pada adiknya," Miyuki menjelaskan sambil tersenyum. "Ah, aku lupa bertanya nama adiknya. Padahal sejak tadi kami membicarakannya," Miyuki mengerutkan dahinya, mengingat hal yang lupa ditanyakannya.
"Yuki,"
"Hmm?"
Miyuki menolehkan kepalanya menatap Hibari. Hibari menatapnya selama beberapa saat.
"Happy birthday Miyuki~Happy birthday Miyuki~ Happy birthday, Happy birthday, Happy birthday Miyuki~"
Bersamaan dengan Hibari mengulurkan tangannya dan menyerahkan sebuah kotak kecil dengan bungkus putih, Hibird bernyanyi sambil terbang mengitari Miyuki.
"Selamat ulang tahun, Yuki," ucap Hibari begitu Hibird selesai bernyanyi dan hinggap di kepala Miyuki.
"Waah, terima kasih, Hibird, Kyo-nii," Miyuki tersenyum senang pada mereka berdua.
Sesaat dia menatap kotak berwarna putih itu dengan sedih. Hibari menangkap tatapan Miyuki, tetapi tidak bertanya apapun.
'Putih, warna yang sudah tidak pantas lagi kusentuh,' batin Miyuki sedih.
Miyuki lalu tersenyum dan membuka kado di tangannya dengan wajah senang. Melihat benda di dalam kotak kecil itu entah kenapa membuat Miyuki tanpa sadar kehilangan senyumnya. Sebuah gelang rantai berwarna putih dengan motif bunga salju.
"Aku sudah tidak pantas lagi memakai warna putih yang bersih dan suci," gumam Miyuki lirih, namun cukup untuk di dengar oleh Hibari.
"Yuki?" Hibari menatap adiknya dengan ekspresi kerasnya yang biasa, tapi matanya terlihat khawatir.
"Ah, terima kasih, Kyo-nii, aku suka sekali! Aku tidak menyangka Kyo-nii memberiku hadiah," Miyuki tersenyum ceria pada Hibari sambil berusaha memakai gelangnya, tidak menunjukkan sedikitpun bahwa sikapnya baru saja berubah.
Melihat Miyuki yang ceria seperti itu Hibari menganggap apa yang di dengarnya dan dilihatnya itu salah dan membantu adiknya memakai gelang yang di berikan olehnya. Hibari tersenyum kecil sambil melihat Miyuki yang memandang gelangnya dengan senang.
XXXXX
Setelah selesai makan malam dan mandi, Miyuki memasuki kamarnya. Dia melihat hadiah dari teman-temannya di meja dan mengalihkan pandangannya pada gelang di tangannya.
"Bodoh. Hampir saja Kyo-nii curiga," gumamnya.
Miyuki memandang kamarnya yang sekarang bernuansa gelap. Barang-barangnya yang tadinya berwarna putih sekarang menjadi hitam. Lemarinya, mejanya, tempat tidurnya. Dinding kamarnya menjadi abu-abu muda. Motif salju masih tidak hilang dari kamar itu. Di dalam kamar itu tidak lagi terlihat barang berwarna putih kecuali pita di rambutnya, hadiah dari teman-temannya dan gelang yang di pakainya.
Dia berjalan menuju meja belajarnya dan membuka lacinya, mengeluarkan secarik surat.
"Yang benar saja. Tepat di hari ulang tahunku? Kalian memang tahu bagaimana cara memberi hadiah ya, Reborn-san," Miyuki berkata tanpa menoleh pada sesosok bayi yang duduk di jendelanya.
"Tentu saja. Lagipula kamu tidak akan kecewa dengan misi kali ini, karena informasi yang kita cari sepertinya berhubungan dengan informasi yang kau cari," Reborn tersenyum memandang Miyuki yang mulai membuka lemari dan mengambil beberapa baju berwarna hitam, membuat gadis itu menghentikan gerakannya sesaat.
"Reborn-san, untuk misi kali ini aku ingin bekerja sendiri. Aku ingin mempercepat waktu misiku," ucap Miyuki sambil tersenyum dan melihat kalender yang ada di meja kecil samping tempat tidurnya.
"Mau dipercepat menjadi berapa lama?"
"Tiga hari,"
"Kau yakin? Misi ini memiliki jangka waktu seminggu, kau tidak perlu buru-buru,"
"Justru karena jangka waktunya seminggu, aku terburu-buru," Miyuki menunjuk kalender di sebelah tempat tidurnya.
"Begitu," seakan mengerti maksud Miyuki, Reborn menganggukkan kepalanya. "Apa kau bisa sendiri?"
"Ckck, Reborn-san lupa siapa aku?"
Reborn hanya menyeringai mendengar jawaban Miyuki dan melompat keluar dari jendela.
"Kutunggu di tempat biasa," ucapnya sebelum menghilang.
Miyuki mengganti bajunya dengan baju hitamnya yang biasa. Dia memandang surat misi di tangannya dengan mata berkilat.
"Aku sedikit mendekati kebenaran kan?" gumamnya.
XXXXX
Cavallone Mansion, Italia
Ririn mengerjapkan matanya perlahan-lahan. Semalam, dia berhasil sampai ke mansion Cavallone. Beberapa maid jelas kaget melihat nona mereka yang seharusnya ada di Giglio Nero bisa berada di sana. Setelah mengatakan beberapa hal yang membuat bingung maid, mereka membiarkan nonanya itu memasuki mansion tanpa banya bertanya lagi.
Sejak semalam sampai di Cavallone, Ririn mengunci diri di perpustakaan dan tidak sadar dirinya tertidur. Dia membuka matanya dan keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju kamarnya untuk mandi.
Ririn memperhatikan kamarnya yang sangat girly itu. Tempat tidurnya dipasangi bedcover berwarna biru muda berenda-renda, cat kamarnya berwarna pastel lembut. Di sekeliling kamar itu banyak boneka yang di berikan oleh Dino. Dari yang seukuran genggaman tangan yang menghiasi sudut-sudut mejanya sampai lebih tinggi dari pemiliknya (Ririn). Lantainya dilapisi karpet beludru yang berwarna putih.
Ririn tidak pernah begitu mempedulikan hal itu, lagipula Ririn tidak pernah tidur di kamar itu, kecuali saat dia pertama kali datang ke tempat itu. Jika tidak ada Dino, Ririn biasanya tidur di laboratorium atau perpustakaan. Ririn membuka lemarinya yang sangat besar. Gaun dari berbagai warna dengan banyak renda langsung terlihat.
Ririn mengerutkan dahinya tidak menemukan bajunya yang simple dan celananya. Dia tidak pernah memakai gaun dan rok yang di belikan oleh Dino. Menurutnya, memakai rok itu merepotkan, ditambah dengan dress berenda itu.
Dino bahkan memberikannya aksesoris yang hanya tersimpan di laci meja rias Ririn karena gadis itu hanya memakai leontin miliknya dan menolak memakai apapun. Dino pernah memaksanya memakai anting tetapi Ririn tidak tahan dan malah melempar anting itu pada Dino.
Seakan teringat sesuatu, Ririn menutup korden kamarnya dan mengunci pintu lalu mengeluarkan cerminnya dari tas rajutnya yang tidak pernah dia lepaskan sejak sampai di Cavallone mansion. Dia menggores jarinya dengan pisau dan menggambar simbol bulan sabit lalu mengarahkan tangannya ke langit-langit kamarnya, seketika kamarnya menjadi langit malam dengan bulan purnama walaupun hari masih pagi.
Ririn mengucapkan mantera dan koper miliknya keluar dari cermin. Setelah itu kamarnya berubah seperti sebelumnya dan dia membuka korden kamarnya. Dia membuka kopernya dan melihat barang yang di berikan oleh Luce, Aria dan Yuni saat masih di Giglio Nero.
Ririn mengambil handuk, pakaian ganti dan barang dari Giglio Nero lalu masuk ke kamar mandi. Tidak lama kemudian dia selesai mandi dan berniat memakai bajunya. Ririn memandang barang yang di masukkan Luce ke dalam kopernya dengan dahi berkerut. Bra. Setelah beberapa lama mencoba mengaitkan kawat, Ririn menghela napas lega dan memakai pakaiannya tanpa kesulitan.
Ririn sempat protes kepada Aria kalau memakai bra tidak enak dan dia bahkan sempat mengeluarkan benda itu dari kopernya. Tapi Luce menasehati Ririn dan berhasil meyakinkannya untuk selalu memakai itu. Tapi tetap saja Ririn kesulitan memakai benda itu.
Begitu selesai Ririn menyisir rambutnya dan melihat keluar jendela. Dia masih punya banyak waktu untuk bersiap-siap sebelum malam tiba. Dia melihat sekilas kalender yang tergantung di dinding melihat lingkaran berwarna merah di salah satu tanggal.
Sebelum keluar dari kamarnya dia berjalan mengambil tas rajutnya dan mengambil sebuah gantungan kunci dari laci meja riasnya dan berjalan menuju dapur. Makan pagi sudah disingkirkan karena dia terlambat bangun dan dia berniat mengambil makanan.
Ririn bertemu dengan koki di dapur dan koki itu memberikan Ririn sandwich yang dihidangkan untuk makan pagi. Ternyata koki itu tidak membuang makan pagi itu. Ririn memakan dua potong sandwich dan meminum segelas susu setelah itu berjalan menuju laboratorium miliknya. Berkali-kali dia keluar masuk perpustakaan-laboratorium hingga hari menjelang malam.
Setelah melihat jam yang menunjukkan pukul tujuh, Ririn mempercepat kerjanaya dan membawa beberapa barang ke kamar kosong di bagian paling ujung mansion yang gelap. Bagian mansion itu sangat jarang di kunjungi selain karena hanya terdapat kamar kosong di tempat itu juga tidak ada apapun.
Ririn memasuki salah satu ruangan yang kosong dan mengunci pintu di belakangnya. Dia membuat dua buah lingkaran, satu buah lingkaran sihir besar dengan diagram dan beberapa simbol bulan bulat besar tepat di tengah, kanan dan kirinya terdapat bulan sabit yang menghadap luar dan beberapa gambar aneh di lingkaran luar.
Satu buah lingkaran yang berukuran lebih kecil. Di lingkaran kecil terdapat simbol bulan sabit di kanan dan kiri saling berhadapan, di tengahnya terdapat simbol seperti kepala serigala.
Berbeda dengan sebelumnya, Ririn menggunakan kapur berwarna merah untuk membuat lingkaran itu. Dia mengeluarkan lima botol hitam dan membuat dua lingkaran menggunakan cairan di dalam botol itu mengelilingi dua lingkaran sebelumnya
Di tengah-tengah lingkaran yang lebih kecil dia meletakkan sarung tangan berwarna hitam dari Verde, empat buah botol kecil dengan cairan berwarna merah, emas, silver, dan biru, tas rajut miliknya, sebuah gantungan berbentuk anjing yang pernah di berikan oleh Dino sebagai oleh-oleh–entah-dari-mana-dan cermin miliknya.
Ririn menuangkan sebuah cairan bening di antara dua lingkaran itu sehingga kedua lingkaran itu terhubung. Ririn menyalakan tujuh buah lilin berwarna merah yang mengelilingi lingkaran kecil dan tujuh buah lilin berwarna biru mengelilingi lingkaran besar.
Sebelum memulai segala sesuatunya, Ririn membuka jendela ruangan itu yang merupakan satu-satunya jendela di ruangan itu. Angin malam bertiup membuat api di lilin-lilin itu bergerak dengan liar, tetapi tak ada yang padam. Ririn menggigil merasakan angin malam menusuk kulitnya. Dia meminum sebutir pil berwarna merah untuk menghilangkan rasa dingin.
Ririn menatap bulan purnama yang berwarna merah darah dengan matanya yang sekarang juga berwarna merah. Tangannya memegang dadanya yang berdetak dengan kencang.
"Sekarang atau tidak sama sekali," gumam Ririn sambil berjalan menuju lingkaran besar dan berdiri di tengah-tengah.
Ririn menarik napas dalam-dalam sambil menutup matanya. Tangan kanannya memegang pisau kecil. Dia menusuk telapak tangan kirinya dalam. Perlahan Ririn membuka matanya dan melihat darahnya yang menetes seakan memiliki nyawa, langsung mengalir menuju lingkaran kecil dan mengikuti kapur merah yang digambar oleh Ririn. Begitu darah telah mengikuti semua simbol di lingkaran kecil, darahnya juga melakukan hal yang sama terhadap lingkaran besar. Cairan bening yang dituangkan Ririn sekarang berwarna merah darah.
Ririn menarik napas dalam-dalam, berusaha menghilangkan rasa pusing akibat banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya. Dalam ruangan itu berubah menjadi berwarna merah. Cahaya bulan yang jatuh menyinari Ririn dan lingkaran miliknya seakan merupakan pemicu warna merah di dalam ruangan itu.
Ririn menutup matanya dan mengangkat tangannya ke depan, dia perlahan-lahan menaburkan serbuk berwarna biru dan silver di hadapannya sambil menggumamkan mantera. Lalu tangannya terangkat ke depan mengarah pada lingkaran kecil dan semua benda di tengah-tengah lingkaran itu. Dia menggumamkan mantera tanpa henti dengan tangan terangkat.
XXXXX
Sementara itu di bagian lain Italia, seorang perempuan baru saja terbang keluar dari sebuah mansion besar dan mewah. Di punggungnya ada sepasang sayap kelelawar, membuatnya terlihat seperti iblis atau dewa kematian. Tetapi orang-orang menjulukinya Kelelawar Hitam.
Gadis itu memakai baju berwarna hitam dengan jubah yang sobek di bagian bawahnya dan pita hitam yang mengikat rambut ekor kudanya. Ditengah- tengah simpul pita itu terdapat jepit rambut berbentuk kelelawar hitam. Mata tajam gadis itu memandang bulan yang berwarna merah di hadapannya. Entah kenapa sejak tadi dadanya berdebar.
"Ah," gadis itu sedikit memekik saat dia kehilangan kendali dan sayapnya seakan lumpuh.
Tapi dengan segera gadis itu dapat memegang kendali kembali dan kembali terbang seperti semula. Apakah itu dia yang merasakannya atau karena animalnya? Entah, gadis itu tidak mengerti. Satu hal yang pasti, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi.
XXXXX
Sudah lebih dari lima jam Ririn berdiri seperti itu sambil membaca mantera tanpa henti. Tenggorokannya kering, pandangannya kabur karena banyaknya darah yang keluar, kaki dan tangannya gemetar karena lelah. Namun gadis itu tidak berhenti.
Ririn memejamkan matanya. Tubuh dan wajahnya basah oleh keringat. Napasnya memburu, bibirnya pucat dan kering. Ririn kembali membuka matanya, dia melihat benda-benda dihadapannya diselimuti cahaya berwarna merah.
Ririn mengambil suatu botol berwarna hitam dari kantungnya dan meminumnya sedikit, lalu menumpahkan sisanya ke atas lingkaran. Semakin lama bulan seakan bersinar semakin terang hingga suatu kilatan cahaya berwarna merah seakan jatuh dari bulan dan memasuki jendela kamar itu, menjatuhi benda-benda di hadapan Ririn.
Bersamaan dengan cahaya merah yang memenuhi ruangan dan membutakan segalanya untuk sesaat, tekanan kencang memenuhi ruangan itu, angin kencang membuat lilin-lilin padam, menyisakan asap.
Begitu cahaya dan tekanan itu hilang, Ririn tidak dapat menahan tubuhnya lagi dan dia terjatuh ke depan. Napasnya memburu dan pandangannya mulai kabur. Dia tidak dapat melihat apakah ritual yang dia lakukan berhasil, tapi sebuah suara tanpa sadar membuatnya lega. Tidak sadar dia menarik bibirnya hingga tersenyum kecil, campuran bahagia, lega dan puas.
Tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu mengusap dahinya. Dengan susah payah dia melihat sosok kecil di hadapannya. Matanya melembut dan tangannya yang berdarah dengan gemetar meraih sosok kecil di hadapannya.
"Woof!" seekor binatang yang terlihat seprti anjing kecil berdiri sambil mengusapkan kepalanya ke dahi Ririn.
"Hai serigala kecil," Ririn tersenyum kecil pada binatang kecil yang disebutnya sebagai serigala di hadapannya yang tiba-tiba ada di ruangan terkunci itu sambil mengelusnya dengan tangannya yang berdarah.
Serigala kecil yang dipanggil Ririn memiliki bulu bagian atas berwarna abu-abu kebiruan dan bagian bawah berwarna putih dengan mata berwarna biru terang. Binatang yang di sebut oleh Ririn sebagai serigala itu lebih mirip seperti bayi Siberian Husky. Di dahinya ada sebuah simbol bulan sabit berwarna putih.
"Woof," serigala itu menyandarkan kepalanya di tangan Ririn yang berdarah.
"Karena kamu familiar Ririn, jadi Ririn akan memanggilmu Rin," ucap Ririn yang dibalas dengan seruan senang oleh Rin.
Tangan Ririn lalu terjatuh dan pandangannya mulai mengabur. Rin menjilati pipi Ririn dengan khawatir dan mengeluarkan suara yang menunjukkan kalau dia khawatir.
"Tidak apa-apa, Ririn hanya kelelahan karena memakai tenaga berlebihan," Ririn mulai menututp matanya. "Ririn…hanya…butuh…isti..ra..hat…," gumam Ririn dengan suara pelan sebelum jatuh tertidur.
Rin menatap majikannya yang tertidur dan terlihat kelelahan. Tidak ingin menganggu istirahatnya, dia mengambil posisi sebelah tangan Ririn yang tadi sempat mengelusnya dan tidur sambil menempelkan wajahnya di tangan Ririn.
Matahari mulai terbit, menyinari langit yang gelap. Bulan merah yang sebelumnya menghiasi langit gelap sudah tidak ada. Sinar matahari masuk melalui jendela, menyinari dua sosok di dalam ruangan itu yang tidur dengan nyenyak.
Continue…
XXXXX
Omake
Hibari berjalan menuju dapur, masih memakai piyama berwarna hitam polosnya untuk membuat kopi ketika melihat secarik kertas menempel di pintu kulkas.
Dear : Kyo-nii
Aku pergi beberapa hari karena besok mulai libur Golden Week. Tenang saja, aku akan kembali sebelum ulang tahunmu! Aku tidak mungkin melewatkan ulang tahun kakakku tersayang~ ;)
From : Your Beloved Lil' Sis
Hibari menghela napas membaca pesan adiknya. Sepertinya dia harus mulai terbiasa dengan kebiasaan adiknya yang sering 'kabur dari rumah' selama beberapa hari itu.
Mengira adiknya belum pergi, Hibari berjalan menuju kamar Miyuki dan membuka pintunya. Untuk sesaat Hibari mengerutkan dahinya melihat warna barang-barang Miyuki berubah. Bukan hanya itu, bahkan suasananya berubah menjadi lebih gelap.
"Aku sudah tidak pantas lagi memakai warna putih yang bersih dan suci,"
Tiba-tiba suara lirih Miyuki yang semalam dia dengar kembali terngian di kepalanya. Apakah yang dia dengar dan lihat itu sungguhan?
XXXXX
Readers, selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin kalo Sacchan ada salah ya.
Di chapter ini Haru dan Kyoko mulai panggil Miyuki pake 'Yuki-chan' setelah dengar Hibari manggil dia begitu.
Soal Hibari yang manggil Tsuna 'binatang kecil', di manga Hibari mulai nyebut Tsuna 'little animal' bukan 'herbivore' lagi sih, kayaknya dia mulai mengakui Tsuna.
Kyaaa~ Sacchan seneng banget udah berhasil nyelesaiin ritual Ririn dan bayangin Rin! Btw, itu hari Miyuki ngerjain misi sama ultahnya nggak barengan lho ya. Jadi selesai ultah, terbang ke Italia, baru jalanin misi. Paman Miyuki dan Hibari, kalian pasti tahu kan?
Readers, Sacchan akan pergi ke suatu tempat yang sepertinya tidak ada internet selama sekitar dua hari dari Rabu, jadi kemungkinan besok update Sacchan langsung dua chapter.
Minna mind to R&R?
