Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Under The Moonlight
.
.
.
Namimori, Jepang
5 Mei 20xx, 08:15
Hibari membuka matanya. Dia melihat sekeliling kamarnya sesaat sebelum bangkit dari kasurnya. Seperti biasanya, dia berjalan menuju dapur untuk membuat kopi. Begitu sampai di dapur dia melihat adiknya sedang memasak sesuatu sambil memakai apron berwarna biru muda.
"Ah, Kyo-nii, selamat pagi,"
"Hn,"
"Tunggu sebentar, akan kutuangkan kopi untukmu,"
Miyuki mengambil satu mug berwarna biru tua dan menuangkan kopi ke mug itu. Hibari duduk di salah satu kursi di meja makan dan menerima kopi yang di berikan Miyuki. Dia melihat gelas berwarna hitam di dekatnya yang berisi kopi yang tinggal setengah.
"Aku sudah tidak pantas lagi memakai warna putih yang bersih dan suci,"
"Yuki,"
"Ya?"
"Kenapa kamu mengganti warna kamar dan barang-barang mu?"
Hibari menatap punggung adiknya yang masih memasak. Dia tidak melihat ekspresi di wajah Miyuki yang berubah untuk sesaat. Miyuki membalikkan wajahnya kepada kakaknya sambil tersenyum.
"Aku hanya mau mengganti suasana saja," ucapnya lalu kembali memasak.
"Kamu tidak pernah memakai barang berwarna putih lagi selain pitamu,"
"Ah, warna putih kan cepat kotor. Ada apa tiba-tiba bertanya begitu?"
Miyuki mengambil piring dan meletakkan makanan yang di masaknya di piring-piring itu lalu membawanya ke meja makan.
"Tidak, hanya saja sepertinya sekarang kamu tidak pernah memakai apapun yang berwarna putih lagi,"
"Mungkin seleraku terhadap warna berubah sejak tinggal di asrama. Kenapa? Ada sesuatu yang salah?" Miyuki tersenyum sambil menyusun makanan di meja makan.
Hibari hanya mendengus sambil meminum kopinya. Niatnya untuk bertanya lebih jauh terhenti begitu mendengar sebuah suara memasuki ruangan itu.
"Miyuki, Hibari, pagi~"
Miyuki menolehkan kepalanya dan menatap Hibird yang memasuki ruang makan dan hinggap di bahu Miyuki. Miyuki mengelus kepala Hibird sambil tersenyum.
"Pagi Hibird. Tunggu ya, aku siapkan makanmu,"
Miyuki berjalan mengambil mangkuk kecil dan meneruh biji-bijian di dalamnya lalu sebuah mangkuk berisi air putih. Miyuki meletakkan kedua mangkuk itu di atas meja kecil.
"Kyo-nii, Roll mana? Sepertinya aku jarang melihatnya?"
"Dia tidak perlu makan,"
"Eh?"
"Dia tidak membutuhkan makanan,"
Seakan mengerti maksud Miyuki, Hibari berkata pada Miyuki dengan wajah datar. Animal Weapon kan memang tidak membutuhkan makanan. Miyuki menatap kakaknya dengan pandangan bingung.
Melihat Hibari yang kelihatannya tidak akan berkata apapun lagi, Miyuki menghela napas dan duduk di hadapan kakaknya.
"Baiklah," ucapnya sambil memakan sarapannya.
XXXXX
11:00
Hibari menatap jam dinding di kamarnya. Dia mematikan laptopnya, baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaannya untuk The Foundation. Dia berjalan menuju lemarinya dan mengambil seragamnya. Setelah memakai seragamnya, dia mengambil tonfanya dan berjalan keluar kamar.
"Kyo-nii mau patroli?"
Hibari sekilas melihat adiknya yang sedang duduk di ruang tengah dengan laptop menyala di hadapannya.
"Hn,"
"Hati-hati,"
"Hn,"
"Tunggu," sebelum Hibari sempat melangkahkan kakinya, Miyuki sekali lagi memanggilnya. "Kyo-nii jadi bertarung dengan Dino-san sore ini?" Miyuki menatap kakaknya dengan alis terangkat.
"Hn," jawab Hibari sambil berjalan meninggalkan Miyuki.
"Jangan pulang terlalu malam, aku memasak banyak makanan dan ajak juga Dino-san sebagai tanda terima kasih sudah mau menemanimu berlatih!" Miyuki setengah berteriak mendengar suara pintu depan di buka. Pintu depan tertutup tanpa ada jawaban, tetapi Miyuki tahu bahawa kakaknya mendengarnya.
Miyuki menghela napas. Bisa-bisanya kakaknya itu tetap bertarung di hari ulang tahunnya. Dia hanya berharap kakaknya itu tidak bertarung selama berhari-hari seperti yang pernah di lakukannya sebelumnya. Miyuki lalu mengalihkan pandangannya menatap layar laptopnya dengan serius.
"Bagaimana mungkin aku tidak bisa menemukan adik Dino-san? Tidak mungkin dia berbohong," gumam Miyuki.
Sejak pulang dari misi, Miyuki yang penasaran dengan 'adik' yang disebut-sebut oleh Dino dan mulai mencari data tentang keluarga Dino. Ayah dan ibunya sudah meninggal dan dia merupakan anak tunggal. Tidak disebutkan kalau ayahnya pernah menikah dengan perempuan lain atau memiliki anak simpanan atau memiliki anak angkat.
Sebagai seorang informan dari Vongola, Miyuki sudah memiliki data semua Famiglia yang memiliki aliansi dengan Vongola. Menurutnya, mengetahui kawan lebih dahulu daripada lawan sangatlah penting agar dia mengetahui kekuatan dan kelemahan Famiglia itu.
Juga untuk berjaga-jaga jika salah satu Famiglia berkhianat. Oleh karena itu, tidak heran sejak awal Miyuki memiliki data tentang Cavallone. Mulai dari jumlah anggotanya, sejarahnya, nama Boss nya sejak Primo sampai Decimo, silsilah keluarga, kelebihan dan kelemahan, semua Miyuki ketahui.
Memang Miyuki tidak pernah memeriksa Cavallone lebih detail sebelumnya, tetapi dia sangat yakin dengan informasi yang di milikinya. Beberapa kali dia menyusup ke jaringan keamanan Cavallone walaupun dia tahu menyusup jaringan Famiglia aliansi sendiri adalah tabu karena dapat menyebabkan putusnya aliansi dan membuat dua keluarga menjadi bermusuhan, tetapi tetap saja dia tidak dapat menemukan data 'adik perempuan' Dino.
Dia sempat bertanya pada Reborn jika Dino memiliki adik selain Tsuna, tetapi Reborn bilang tidak. Miyuki mengetuk meja dengan jarinya. Siapa 'adik perempuan' yang dimaksud Dino?
XXXXX
15:03
"Haneuma, kau terlambat tiga menit," Hibari mengarahkan tonfanya ke arah pria yang baru saja membuka pintu atap itu.
"Maaf, Kyoya. Romario tidak mengizinkanku pergi sebelum aku menyelesaikan pekerjaanku," Dino menunjuk ke arah Romario yang berdiri di belakangnya, berjalam ke arah salah satu sisi atap. Hibari hanya mendengus mendengar penjelasan Dino.
"Bersiaplah, I'll bite you to death,"
Dino dengan segera mengeluarkan cambuknya, menahan tonfa Hibari yang mengarah ke kepalanya.
"Yang benar saja Kyoya, kamu meminta bertarung denganku di hari ulang tahunmu? Apa kamu tidak bisa meminta hadiah yang lebih baik?" Dino menendang perut Hibari yang dihindarinya dengan melompat ke belakang.
Seakan tidak mendengar perkataan Dino, Hibari melanjutkan serangannya, menyebabkan pipi Dino sedikit tergores. Darahnya mentes di lantai atap itu.
"Baiklah, baiklah," Dino menghela napas sambil mulai menyerang Hibari dengan cambuknya.
XXXXX
20:12
"Kyoya, ini sudah malam, kamu tidak kasihan dengan Yuki menunggumu di rumah?" Dino dengan tubuh penuh lecet dan pakaian yang sedikit terkena darah, berkata dengan lelah.
"Jangan pulang terlalu malam, aku memasak banyak makanan,"
Tiba-tiba Hibari teringat perkataan adiknya itu.
"dan ajak juga Dino-san sebagai tanda terima kasih sudah mau menemanimu berlatih!"
Sebenarnya dia malas mengajak Dino ke rumahnya, tetapi dia malas berurusan dengan ceramah adiknya nanti jika dia tidak mengajak Dino.
"Hn," Hibari menurunkan senjatanya dan menatap Dino. "Haneuma, Yuki mengajakmu makan di rumah," dengan satu kalimat bernada dingin itu, Hibari pergi tanpa menunggu Dino.
"Sunnguh? Kyoya, aku ikut!" Dino tersenyum dan berjalan cepat menghampiri Hibari yang sudah berjalan menuju pintu.
XXXXX
21:45
"Aku kenyang, terima kasih sudah mengundangku makan di sini, Yuki," ucap Dino sambil tersenyum kepada Miyuki.
"Sama-sama," Miyuki tersenyum sambil merapihkan piring-piring kotor. "Lagipula anggap saja ini untuk merayakan pesta ulang tahun Kyo-nii sekaligus tanda terima kasihku karena sudah mau menemani Kyo-nii berlatih di hari libur,"
Dino tersenyum mendengar perkataan Miyuki. Teringat kejadian sebelumnya, dia tidak lagi membantu Miyuki dengan piring-piring. Walaupun sejak tadi dia belum berbuat kecerobohan apapun, dia tidak mau membuat Miyuki bertambah repot nantinya. Dino memang sempat menawarkan diri, tapi Miyuki berhasil meyakinkannya kalau dia bisa mengurus semuanya sendiri.
"Lho, Kyo-nii? Mau ke mana?" Miyuki mengerutkan dahinya melihat kakaknya berjalan menuju pintu depan.
"Sekolah,"
"Sekolah? Jam segini?"
"Ada sesuatu,"
"Apa?"
Hibari hanya menatap adiknya sekilas lalu pergi tanpa berkata apapun lagi. Miyuki tahu reaksi kakaknya itu. Ada 'sesuatu' di sekolah, tetapi dia juga tidak tahu apa yang terjadi.
"Ahahaha, Kyoya benar-benar peduli pada sekolah itu ya,"
"Hhh, terkadang aku heran padanya. Sepertinya hubungan batinnya dengan sekolah itu lebih erat daripada dengan adiknya," ucap Miyuki dengan nada sedikit kesal.
"Tapi dia tetap peduli padamu kan," ucap Dino sambil tersenyum.
"Iya," Miyuki membalas senyum Dino. "tapi aku belum sempat memberikannya hadiah ulang tahunnnya," tambahnya sambil mengeluarkan kotak berukuran sedang berwarna abu-abu dan pita hitam.
"Kalau begitu kita berikan saja sekarang," ucap Dino sambil tersenyum.
"Eh?"
"Kita pergi ke sekolah sekarang juga, aku akan menemanimu. Bukankah kejutan juga merupakan bagian dari hadiah? Kita kejutkan Kyoya dengan mendatanginya di sekolah!" ucap Dino sambil tersenyum pada Miyuki.
"Benar juga!" Miyuki tersenyum senang mendengar pendapat Dino. "Tapi apa tidak apa-apa? Bukankah besok Dino-san ada pekerjaan? Tadi Romario-san menelepon mengatakan hal itu kan?" Miyuki memandang Dino dengan khawatir dan tatapan tidak enak.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa! Aku hanya akan bertemu seseorang untuk membicarakan kerja sama kami, ini sama sekali tidak merepotkan," Dino tersenyum menenangkan Miyuki. "Ayo, kita pergi sekarang sebelum Kyoya pergi dari sekolah!" Dino berdiri sambil mengambil jaketnya yang tergantung di pintu.
"Ah, aku akan mengambil jaketku dulu," ucap Miyuki sambil berjalan ke kamar.
Miyuki membuka lemarinya dan mengambil jaket rajut berwarna hitam miliknya.
DHEG
"Eh?"
Miyuki menyentuh dadanya. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu dari kantung bajunya. Miyuki mengeluarkan jepit rambut berwarna hitam dari sakunya.
"Natt?"
DHEG
'Apa ini? Aku merasakan sesuatu,' batin Miyuki.
Miyuki menutup matanya dan menggenggam jepit rambutnya di depan dada. Miyuki berusaha menyatukan perasaannya dengan Natt. Dia mengosongkan pikirannya.
'Di mana?'
Hal pertama yang Miyuki lihat adalah bulan. Bulan purnama perak yang sangat terang di langit yang gelap. Lalu dia melihat pagar besi seperti teralis. Dari tempatnya berdiri, langit terlihat lebih dekat dan luas. Pemandangan yang asing dengan tempat yang sangat familier.
'Tempat itu…,'
Miyuki membuka matanya. Dia bergegas memakai jaketnya lalu berjalan menghampiri Dino yang menunggu di ruang tengah.
"Maaf lama," Miyuki tersenyum meminta maaf kepada Dino.
"Tidak apa-apa. Ayo, kita pergi sekarang," Dino tersenyum kepada Miyuki sambil berdiri.
Mereka pun pergi menuju sekolah bersama-sama.
'Kalau benar, aku harus cepat,' batin Miyuki sambil berjalan di sebelah Dino.
XXXXX
Seorang laki-laki duduk di jendela sambil memandang bulan purnama di langit dengan kedua matanya yang berbeda warna.
"Kufufufu, sepertinya ada yang datang ke kota ini," Mukuro menyentuh mata kanannya yang berwarna merah.
Beberapa saat yang lalu dia terbangun. Entah sudah berapa lama dia tidak memimpikannya, hari saat dia menghancurkan Estraneo Famiglia. 'Keluarganya' yang terkutuk, yang membuatnya ingin memusnahkan seluruh mafia.
Dia merasakan sebuah kekuatan yang entah kenapa terasa familiar baginya. Dia menutup matanya, mengingat mimpinya.
"Tanda terima kasih untuk leontinku. Sebagai gantinya tolong…..,"
Mukuro membuka matanya. dan tersenyum sedih.
"Aku sudah melakukannya, tetapi kenapa aku tidak bisa menolongmu?"
"Mukuro-sama?"
Mukuro mengalihkan perhatiannya dan menatap Chrome yang berdiri di depan pintu ruangannya dan menatapnya khawatir.
"Chrome, ada apa? Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur," Mukuro mengeluarkan senyum khasnya dan memberikan gesture pada Chrome untuk mendekat.
"Ah, aku baru mau tidur dan melihat anda masih terbangun," ucap Chrome sambil menundukkan kepala malu. Dia memainkan jari tangannya.
"Kufufufu, Chrome ku yang manis," Mukuro tersenyum sambil memegang dagu Chrome yang berdiri di depannya, membuat Chrome menatap wajahnya. "kamu khawatir padaku?" Mukuro memandang gadis yang sangat disayanginya itu sambil tersenyum lembut.
"Te-tentu saja," Chrome menjawab pertanyaan Mukuro dengan wajah memerah.
"Tenang saja, aku tidak apa-apa. Aku hanya terbangun karena bermimpi tentang masa lalu," Mukuro memegang bahu Chrome dan menarik tubuhnya pelan, membuat kepala Chrome bersandar di bahunya.
"Mimpi?" Chrome berusaha mengangkat kepalanya, melihat Mukuro yang menatap bulan purnama di langit.
"Ya, tentang sesorang yang membuatku bisa berada di sini," ucapnya sambil tersenyum sedih.
XXXXX
22:10 PM
Seorang gadis berdiri di atap Namimori Gakuen. Dia melihat atap yang luas dan kosong itu dengan datar. Angin kencang membuat mantel dan rambutnya berkibar.
"Rin, kamu yakin di sini?"
"Uuung,"
Ririn menatap Rin yang di peluknya. Ekor dan telinganya turun ke bawah, menunjukkan dia merasa bersalah karena membawa majikannya ke tempat yang salah. Beruntung udara di Jepang tidak sedingin udara di Italia, Ririn tidak perlu meminum obat miliknya walau tubuhnya tetap merasa kedinginan, dia masih dapat menahannya.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Mungkin memang sebelumnya Kakak ada di sini," ucap Ririn sambil menurunkan Rin dari pelukannya lalu berjalan menuju teralis besi dan berhenti di depannya. Kepalanya menatap langit, memandang bulan purnama berwarna perak yang bersinar terang.
"Lagi pula ini tempat yang sangat bagus untuk kita mengisi kekuatan. Tempat yang tinggi, membuat bulan terlihat lebih dekat dan lebih jelas. Untung saja di Jepang sedang ada bulan purnama," ucapnya sambil mengeluarkan cerminnya dan mengarahakannya ke bulan.
"Woof!" Rin menyalak senang, merasakan kekuatan mengalir ke tubuhnya.
"Bulan yang sangat indah,"
Ririn menutup matanya dan mengangakat cerminnya ke arah bulan. Tubuh Ririn dan cermin miliknya di kelilingi cahaya berwarna perak.
"Apa yang kau lakukan di sini?" sebuah suara dengan nada dingin terdengar dari arah pintu. "Tempat ini tidak boleh sembarangan di masuki," lanjutnya dengan dingin.
Ririn membalikkan badannya, masih memegang cermin dengan ke dua tangannya, menyebabkan mantel dan rambutnya berkibar dengan cahaya keperakan menyelimuti tubuhnya. Matanya yang bersinar keperakan menatap orang yang memanggilnya.
Seorang lelaki berambut hitam bermata onyx dengan tatapan tajam dan dingin serta ekspresi wajah yang tegas dan sesaat laki-laki yang memanggilnya menghentikan gerakannya melihat gadis di hadapannya.
Penampilan Ririn saat ini membuatnya terlihat seperti dewi bulan yang bersinar di malam yang gelap itu, dengan latar langit hitam dan bulan purnama terang di belakangnya. Begitu melihat ada orang lain di atap itu selain dirinya, Ririn mengembalikan keadaan dirinya seperti semula.
Matanya kembali berwarna silver, cahaya perak di sekeliling tubuhm cermin dan matanya menghilang. Dia juga memasukkan cerminnya ke dalam tasnya.
"Selamat malam," Ririn menundukkan kepalanya sambil menatap laki-laki di hadapannya.
"Kamu sudah melanggar peraturan di sini. I'll bite you to death," ucap laki-laki itu setelah tersadar dari lamunannya, sepasang tonfa sudah terpasang di tangannya.
"Apa?" Ririn menatap laki-laki di hadapannya dengan wajah datarnya, tetapi matanya menunjukkan keterkejutan. "Kata-kata itu, jangan-jangan kamu adalah…,"
Belum sempat Ririn menyelesaikan kalimatnya, laki-laki itu menyerangnya. Ririn menghindari serangan laki-laki itu dengan melompat ke kiri.
"Hmm, ternyata kau bisa menghindar," sebuah seringai menghiasi wajah laki-laki itu.
Laki-laki itu kembali mengambil posisi menyerang, mengarah kepada Ririn yang hanya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresinya.
Continue…
XXXXX
Readers~ saya rasa dan amat sangat yakin kalau kalian tahu siapa yang nyerang Ririn dan di mana Ririn berada~
Jadi ini kejadian dalam satu hari, waktu ultah si Hibari.
Minna, Sacchan cuti update dulu ya sekitar dua hari, dimohon sabar menunggu updateannya. Chapter depan kalian akan melihat Miyuki dan Ririn bertemu~
Minna, mind to R&R?
