Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Hikage Natsuhimiko : Hikage-san nggak salah kok, Master Ririn ada di salah satu nama yang Hikage sebutkan sebelumnya~ sabar saja, nanti akan ada hint-hint lagi kok di chapter depan (atau malah kasih tau)! Sebenernya 'dilahirkan' bukan kata yang cocok ya kayaknya...tapi emang Ririn kok yang 'manggil' Natt. Iya mereka punya kontak batin itu. Emang nggak seru kok, kan Ririn tenaganya udah habis di perjalanan. Semangat sih semangat nulis, tapi kemaren di update dua karena Sacchan mau liburan ke tempat terpencil (udah di tulis di tiga chapter sebelumnya kok) jadi nggak ada internet. Nggak taunya laptop Sacchan malah rusak di sana dan hari ini baru selesai di benerin. Maaf untuk keterlamabatan updatenya.
yamashita akira : Emang Ririn harus hati-hati tuh sama makhluk haus darah satu itu#ditonfa. Sama-sama, maaf ya kali ini updatenya telat, laptop Sacchan rusak dan baru dibenerin tadi.
prof. creau : Sayang sekali sepertinya adegan itu nggak ada, tapi tenang aja, yang mirip-mirip dikit ada kok. Iya, si Fon jadi Paman Hiba-Miyu. Iya si om-om pengen Ranking Booknya Fuuta sama kekuatan dia. Maaf oleh-olehnya baru bisa di upload sekarang karena laptop malah rusak di bawa liburan -_-".
Minna, please enjoy this chapter!
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Fateful Meeting
.
.
.
Sebelumnya….
"Kamu sudah melanggar peraturan di sini. I'll bite you to death," ucap laki-laki itu setelah tersadar dari lamunannya, sepasang tonfa sudah terpasang di tangannya.
"Apa?" Ririn menatap laki-laki di hadapannya dengan wajah datarnya, tetapi matanya menunjukkan keterkejutan. "Kata-kata itu, jangan-jangan kamu adalah…,"
Belum sempat Ririn menyelesaikan kalimatnya, laki-laki itu menyerangnya. Ririn menghindari serangan laki-laki itu dengan melompat ke kiri.
"Hmm, ternyata kau bisa menghindar," sebuah seringai menghiasi wajah laki-laki itu.
Laki-laki itu kembali mengammbil posisi menyerang, mengarah kepada Ririn yang hanya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresinya.
XXXXX
"Herbivore, jangan hanya kabur!"
Ririn berkali-kali melompat, memutar, melakukan sliding, dan gerakan lainnya untuk menghindari serangan laki-laki itu, tetapi tidak sekalipun membalas serangannya. Rin hanya bisa menyalak kepada laki-laki itu dari tempatnya melihat majikannya di serang.
"Kekuatan fisik Ririn tidak mungkin bisa mengalahkanmu," ucap Ririn dengan jujur sambil terus menghindar.
Saat laki-laki itu mengayunkan tonfanya lurus, Ririn menunduk dan mendekati laki-laki itu, lalu meninju dadanya keras dan melompat mundur. Tetapi, laki-laki itu hanya mundur beberapa langkah.
"Hanya segitu kemampuanmu?" laki-laki itu menyeringai.
Sangat jarang ada orang yang bisa melayangkan serangan padanya walau faktanya pukulan Ririn tidak begitu terasa sakit walaupun tubuhnya masih ada luka dari pertarungannya sore tadi.
Walaupun pukulan Ririn tidak bisa dibilang lemah karena masih sanggup menumbangkan orang dewasa, tapi bagi laki-laki itu yang sudah berkali-kali menerima tendangan dan pukulan yang jauh lebih kuat dari gadis itu, pukulan Ririn tidak begitu berpengaruh padanya.
"Tuh kan, kekuatan fisik Ririn tidak bisa mengalahkanmu," ucap Ririn dengan datar seakan dia baru saja membuktikan suatu hal yang sangat jelas.
Walaupun Ririn yang sejak awal memang tidak punya kekuatan fisik yang hebat, berkat bantuan Masternya, dia setidaknya sekarang dapat bergerak dengan cepat, menghindar dan memukul.
Sebenarnya Ririn lebih menguasai pertahanan di bandingkan serangan, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa kekuatan fisiknya sekarang sudah lebih kuat dari sebelumnya sehingga pukulannya dapat menumbangkan orang dewasa sekalipun. Masalahnya, itu jika yang Ririn lawan adalah manusia 'biasa'. Ditambah dengan tenaganya yang sekarang hanya sekitar lima puluh persen dari tenaga sebenarnya karena lelah dari perjalanan.
"Kalau begitu, I'll bite you to death," ucap laki-laki itu sambil melanjutkan menyerang Ririn.
Ririn melanjutkan menghindari serangan laki-laki itu. Merasa staminanya akan habis, Ririn mengeluarkan botol berisi cairan bening. Saat dia melompat menghindari laki-laki itu, dia membuka tutupnya hingga cairan terciprat itu mengenai sedikit rambut, wajah dan tubuh laki-laki itu.
Laki-laki itu mengusap wajahnya yang terkena cairan dan melanjutkan menyerang Ririn. Ririn menghindari laki-laki itu dengan dahi berkerut.
'Kenapa tidak mempan?' batin Ririn bingung. Ririn lalu mengambil jarak dari laki-laki itu dan mengamatinya.
'Apa perkiraan Ririn salah? Tapi kata-katanya tadi…,' belum selesai Ririn berpikir, laki-laki itu sudah kembali menyerangnya.
Ririn tidak bisa menggunakan kekuatannya karena kekuatannya memang belum pulih sejak ritual dan dia bahkan memaksakan dirinya dengan melakukan warp. Sekarang dia tidak bisa menggunakan kekuatan sihirnya sedikitpun. Dia berhasil mencapai tempat ini pun karena mengandalkan Rin.
Ririn menyuruh Rin mencari Dino melalui baunya yang Ririn tunjukkan pada Rin dari saputangan Dino yang sempat di ambilnya, dan Rin membawanya ke atap sekolah Namimori Gakuen.
Ririn akhirnya mengeluarkan bubuk berwarna ungu dan biru. Dia melompat menghindari laki-laki itu sambil menyebarkan bubuk itu di sekitar laki-laki itu. Seketika laki-laki itu menghentikan gerakannya.
XXXXX
Dino dan Miyuki berlari menuju atap sekolah. Kalau menurut apa yang di dengar Dino dari Romario benar, maka kemungkinan saat ini Ririn berada dalam bahaya karena memasuki sekolah di malam hari.
Flashback
DRRT
DRRT
Dino mengambil ponselnya dari kantung celananya. Dia bersama dengan Miyuki sedang berjalan menuju sekolah.
"Ada apa Romario?"
"Boss, beberapa saat yang lalu saya melihat Nona!"
"Apa? Itu tidak mungkin! Seharusnya saat ini dia di Italia,"
"Saya juga berpikir begitu, tetapi saya melihat seorang gadis dengan tinggi, wajah dan rambut yang sama dengan Nona saat menyiapkan tempat pertemuan untuk besok. Dia juga memakai mantel yang selalu di pakainya. Saya tidak berpikir ada orang yang memiliki kemiripan sampai seperti itu,"
"Baiklah, aku akan menelepon Luce untuk memeriksa Ririn,"
Dino segera mematikan sambungn teleponnya dengan Romario dan dengan cepat menelepon Luce. Luce segera meminta maaf karena membiarkan Ririn pergi seorang diri. Merasa tidak enak untuk menyalahkan perempuan itu, Dino menenangkan Luce.
Dino segera menelepon mansionnya dan menghela napas lega begitu mendengar kabar kalau Ririn berada di mansion itu. Tetapi perkataan dari koki yang berkata Ririn hilang sejak kemarin membuatnya panik kembali.
Dino segera menelepon Romario dan bertanya pada tangan kanannya itu tempat dia melihat Ririn. Romario menjawab dia melihat Ririn mengarah ke Namimori Gakuen, tetapi tidak dapat mengejarnya karena terhalang lampu merah dan banyak orang.
Dengan segera Dino menceritakan semuanya pada Miyuki yang menatapnya khawatir. Mereka pun segera bergegas menuju Namimori Gakuen.
Semakin dekat dengan Namimori Gakuen, Miyuki dapat merasakan reaksi dari Natt di kantungnya. Miyuki hanya bisa menyimpulkan bahwa apapun yang membuat Natt bereaksi ada di Namimori gakuen dan sekarang dia harus secepatnya ke sana.
Untuk mengetahui penyebab Natt dan mencegah kakaknya 'membunuh' adik dari gurunya. Miyuki menyentuh kantung jaketnya sekilas, mungkin acara pemberian kadonya harus ditunda.
End of flashback
"Kuharap Kyoya tidak melakukan apapun pada Ririn,"gumam Dino saat mereka menaiki tangga menuju atap. "tidak, kuharap saat ini Ririn sedang tertidur di salah satu sudut rumah seperti biasa," Dino bergumam dengan khawatir. "semoga Romario salah mengenalinya."
Berkali-kali Dino menggumamkan kata-kata yang lebih seperti harapan itu selama berjalan menuju Namimori Gakuen. Miyuki beberapa kali berusaha menenangkan Dino walaupun di dalam hati dia juga panik dengan perasaannya.
BRAKK
Dengan kasar Dino membuka pintu menuju tangga dan berjalan dengan cepat memasuki atap.
"Ririn!"
Dino berteriak memanggil sesosok gadis yang memegang suatu botol kecil seukuran genggaman tangan sedang sedikit berjongkok di sebelah lelaki berambut hitam yang sedang berlutut. Kepala lelaki itu tertunduk, tetapi dari bahunya yang sedikit bergetar bisa di pastikan bahwa lelaki itu dalam keadaan sadar.
"Kakak," Ririn berdiri dan membalikkan tubuhnya menatap kakaknya yang menatapnya dengan mata melebar.
DHEG
Miyuki yang sejak tadi berdiri di belakang Dino merasakan Natt bereaksi di kantung jaketnya begitu dia memasuki atap. Begitu Dino melangkah, dia menatap gadis berambut hitam bergelombang, berwajah datar dan bermata silver. Mata silver yang tidak pernah bisa dilupakannya.
"Balas jasa. Aku menginginkan kamu membantuku dengan kemampuanmu,"
"Jangan khawatir, kita akan segera bertemu,"
Lamunannya tersadar begitu gadis itu berjalan ke arah Dino.
"Kakak, Ririn berhasil mengalahkan vampire," Ririn menunjuk 'vampire' yang terduduk di lantai atap dengan tonfa di tangannya, diikuti oleh Rin.
"Vampire? Kyoya!" Dino berseru begitu melihat 'vampire' yang ditunjuk oleh Ririn.
"Kyo-nii!" Miyuki juga berseru kaget melihat kakaknya terduduk di lantai.
"Herbivore," Hibari mendesis kesal, kepalanya sedikit terangkat menatap Ririn dengan tajam.
"Ririn, Kyoya bukan vampire!" Dino melupakan hal yang sejak tadi ada di pikirannnya, menghampiri Hibari bersama Miyuki.
"Tidak, dia adalah vampire. Dia tadi bilang akan menggigit Ririn sampai mati. Dia akan menghisap darah Ririn," ucap Ririn polos mengikuti Dino di belakangnya.
Dino hanya bisa menepuk dahinya mendengar perkataan Ririn. Catch phrase Hibari memang bisa menimbulkan salah paham, tapi dia tidak menyangka Ririn akan menganggapnya sebagai vampire. Miyuki hanya bisa menggaruk pipinya mendengar perkataan polos gadis itu.
Dia memang sering mendengar ada orang yang mengatakan kakaknya itu seperti setan, iblis dan hal lainnya, tetapi tidak pernah menyangka ada orang yang benar-benar menganggapnya sebagai vampire karena kalimat favoritnya itu.
"Ririn, Kyoya bukan vampire. Dia memang sering mengatakan hal itu, tapi bukan dalam makna yang sebenarnya," ucap Dino menjelaskan pada adiknya.
"Bukan vampire?" Ririn memiringkan kepalanya menatap Hibari yang menatapnya tajam.
"Bukan," Dino menghela napas meyakinkan.
"Hibari~Hibari~" Hibird entah dari mana tiba-tiba muncul dan berputar di atas Hibari.
"Apa yang kau lakukan?" Hibari menatap tajam kepada Ririn. Tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali.
"Burung itu, Cloud Guardian?" Ririn menggumam begitu melihat Hibird. "pantas saja air suci Ririn tidak mempan terhadapnya, dia bukan vampire," gumamnya.
"Ririn salah, maaf," Ririn membungkukkan badannya setelah melihat Hibird hinggap di kepala Hibari. "Ririn memberimu obat pelumpuh dan obat tidur, tetapi kelihatannya kamu bisa menahan obat tidurnya," ucap Ririn sambil berlutut di sebelah Hibari.
"Ririn akan memberikanmu penawarnya. Maaf, Ririn kira kamu vampire," ucap Ririn polos yang membuat Dino dan Miyuki tertawa garing di dalam hati dan Hibari mendesis.
Ririn mengeluarkan sebuah botol berwarna silver dan meminta Hibari meminumnya. Tidak lama kemudian Hibari bisa bergerak. Dia berdiri dengan tonfa di arahkan pada Dino.
"Haneuma, lebih baik kau jelaskan siapa herbivore ini," perintah Hibari dengan nada kesal.
"Tenang dulu Kyoya," Dino menggeser tonfa yang mengarah padanya. "Perkenalkan ini adik angkatku, Karin, atau dia biasa dipanggil Ririn," ucap Dino memperkenalkan Ririn.
"Hai, namaku Hibari Miyuki," Miyuki tersenyum kepada Ririn sambil mengulurkan tangannya.
JIII~
Ririn membalas jabatan tangan Miyuki tetapi wajahnya memperhatikan Miyuki lama.
"Ehm, ada apa?" Miyuki tersenyum bingung kepada Ririn.
"Kamu cantik sekali," ucap Ririn tiba-tiba.
"Eh?" Miyuki mengerjapkan matanya.
Begitu dia tersadar Ririn sudah memeluknya.
"Lebih cantik yang asli dibandingkan saat bertemu di mimpi. Ririn senang kamu menjaga Natt, Kelelawar Hitam" bisik Ririn sambil memeluk Miyuki, sesaat tangannya menyentuh kantung jaket tempat Natt berada.
"Ah, maaf Yuki. Ririn selalu berkata apapun yang ada di pikirannya dan suka memeluk orang yang pertama di temuinya dan disukainya," ucap Dino sambil menggaruk kepalanya. "Dia terlalu jujur dan polos,"
"Ah, tidak apa-apa," Miyuki tersenyum sambil membalas pelukan Ririn. "aku juga senang, bisa bertemu denganmu," bisik Miyuki sebelum mereka melepaskan diri.
"Ini kakakku, Hibari Kyoya," Miyuki tersenyum kepada Ririn sambil menarik lengan kakaknya.
JIII~
5 menit berlalu…
10 menit berlalu…
"Ehm, Ririn? Kyoya?" Dino mulai berkeringat dingin melihat kedua orang berwajah datar itu saling bertatapan dengan pandangan yang sangat bertolak belakang.
Hibari, masih dengan wajah kesalnya dan tatapan membunuhnya menatap Ririn dengan tajam, sedangkan Ririn menatap Hibari tanpa sedikit pun rasa takut. Ririn menatap Hibari dengan polosnya entah apa yang dipikirkan gadis itu.
"Matamu sangat indah," ucap Ririn tiba-tiba. Untuk sesaat Ririn dapat melihat keterkejutan di mata laki-laki itu dan hawa membunuhnya berkurang.
"Eh?" Dino dan Miyuki mengerjapkan mata mereka mendengar kata-kata Ririn, saat mereka tersadar, tangan Ririn menyentuh wajah Hibari.
Sebelum Hibari sempat bereaksi, Dino sudah menarik Ririn menjauh dari Hibari dan memeluk gadis itu erat. Hibari hanya bisa menatap semua hal yang terjadi dengan cepat itu dengan alis terangkat.
"Kakak, Ririn belum memberikannya pelu-,"sebelum Ririn sempat menyelesaikan kalimatnya, Dino sudah memotong ucapannya.
"Ririn, laki-laki itu tidak memerlukan 'pelukan perkenalan' darimu. Oke? Cukup sayangi nyawamu dan turutilah kata-kata kakak," ucap Dino cepat sambil melepaskan Ririn dari pelukannya.
"Uhm," Ririn hanya menganggukkan kepalanya. Dia lalu berjalan menuju Hibari sekali lagi yang membuat Dino khawatir.
"Dia sangat baik dan manis, Ririn suka padanya," ucap Ririn sambil mengulurkan kedua tangannya yang entah sejak kapan memegang sesuatu.
Hibari mengangkat alisnya saat melihat apa yang ada di atas telapak tangan mungil itu.
"Roll?" Miyuki menatap landak kecil itu dengan alis terangkat.
"Piii~" Roll tersenyum menatap Hibari dari tangan Ririn.
Dino yang melihat Roll di tangan Ririn tanpa sadar menyentuh sakunya, memeriksa animal box Scuderia miliknya. Dalam hati Dino bersyukur, selama tiga tahun tinggal bersama Ririn, kelihatannya Scuderia miliknya mulai terbiasa sehingga tidak selalu keluar setiap ada Ririn di bandingkan saat mereka pertama kali membawa Ririn ke mansion, walau terkadang keluar sendiri di dekat Ririn.
"Midori tanabiku~ Namimori no~" Hibird hinggap di bahu Ririn dan bernyanyi.
"Kyoya, Ririn punya kemampuan disukai binatang, sungguhan maupun animal weapon. Jangan heran Roll mu keluar dengan sendirinya," ucap Dino begitu menghampiri Hibari, takut Miyuki mendengarnya, yang sayangnya malah terkena siku Hibari di dadanya karena Dino terlalu dekat dengannya.
"Waah, sejak kapan kamu memegang Roll?" Miyuki mendekati Ririn dan mengelus Roll yang berada di tangannya.
"Sejak bertarung dengannya, dia bersembunyi di mantel Ririn," Ririn menjawab dengan polos. Dia menggerakkan kepalanya sehingga pipinya bersentuhan dengan Hibird. "maaf, Ririn membawanya seenaknya," Ririn sekali lagi mengulurkan tangannya dan memberikan Roll pada Hibari.
Hibari kembali memasukkan Roll ke dalam gelangnya tanpa berkata apapun dengan tatapan tajam. Jujur, dia sama sekali tidak sadar Roll keluar dari gelangnya. Sekarang dia memandang Ririn yang sedang mengelus Hibird itu dengan tajam.
"Haneuma, sebaiknya herbivore itu punya alasan bagus masuk ke sekolah ini di malam hari," ucap Hibari sambil mengarahkan tonfanya ke arah Ririn.
"Ah, benar juga," seakan baru teringat hal yang sejak tadi mau ditanyakannya, Dino mengalihkan pandangannya menatap Ririn dengan serius. "Ririn bagaimana kamu bisa sampai ke sini? Apa dengan bantuan Millefiore?"
"Bukan, Ririn ke sini meminjam kendaraan teman Ririn," jawab Ririn sambil menggelengkan kepalanya.
"Ririn, siang tadi saat aku meneleponmu, apa kamu sudah di Jepang?"
"Tidak, Ririn masih di Italia," jawaba Ririn yang membuat dahi Dino berkerut.
Kalau bukan dengan bantuan Millefiore, lalu siapa? Ditambah lagi tidak mungkin menggunakan pesawat biasa karena memakan waktu hampir satu hari, sedangkan sejak tadi Dino meneleponnya hingga sekarang hanya sekitar sembilan jam berlalu, ditambah lagi tidak diketahui jam berapa Ririn pergi dan sampai, sehingga ada kemungkinan dia menggunakan jet.
Tetapi Dino tidak ingat memiliki jet yang dapat mencapai Jepang dalam jangkan waktu sekitar sembilan jam. Lalu, siapa 'teman' yang disebutkan Ririn?
"Siapa teman yang meminjamkan kendaraan padamu?"
"Itu teman rahasia Ririn, Kakak tidak boleh tahu. Teman Ririn akan marah kalau Ririn mengatakan dia teman Ririn," jawab Ririn yang membuat Dino semakin bingung.
Jadi selama ini Ririn memiliki teman yang tidak menganggap dirinya teman Ririn dan kedengarannya memiliki tempramen yang buruk? Dino semakin bingung mendengarnya.
"Herbivore, aku tidak peduli dengan semua itu. sekarang juga, jelaskan alasanmu memasuki sekolah ini," ucap Hibari dengan tonfa terangkat mengarah pada Ririn.
"Ririn?" Dino memanggil adiknya yang sejak tadi diam saja tidak menjawab pertanyaan Hibari.
Sekarang Hibari sudah menatap Ririn dengan pandangan tajam dan tatapan membunuh karena pertanyaannya tidak di anggap. Miyuki, berdiri di belakang Hibari, mengelus lengan kakaknya, berusaha setidaknya mengurangi emosi kakaknya.
"Ya?" Ririn memandang kakaknya datar.
"Kyoya bertanya padamu," Dino memiringkan kepalanya pada Hibari yang sudah siap menyerang Ririn kapanpun.
"Apa?" Ririn dengan polosnya bertanya pada Hibari.
"Herbivore, sebaiknya kau memiliki alasan yang bagus untuk masuk ke sekolah pada malam hari, atau I'll bite you to death!" Hibari sekarang menatap Ririn dengan tatapan membunuh yang sangat terasa bagi ke dua orang di belakangnya.
"Ririn, tolong jawab pertanyaan Kyoya demi keselamatanmu juga," ucap Dino dengan memelas karena Ririn tidak juga menjawab pertanyaan Hibari yang membuat si pemberi pertanyaan semakin kesal.
Kali ini, Miyuki tidak hanya mengelus lengan kakaknya, tapi dia sudah memeluk lengan Hibari untuk mencegah kakaknya menyerang gadis mungil polos di hadapannya.
"Eh? Dia bilang herbivore, dan Ririn tidak ingat menjadi vegetarian maupun pernah dipanggil seperti itu," jawab Ririn polos yang berhasil membuat Hibari semakin marah, Dino semakin khawatir sengan keselamatan Ririn dan Miyuki berusaha menahan tawa.
"Orang yang lebih lemah dariku adalah herbivore, tanpa terkecuali," ucap Hibari dengan nada dingin.
"Ririn bukan herbivore,"
"Aku tidak peduli,"
"Kalau begitu Ririn akan memanggilmu Vampire-san sampai kamu memanggil Ririn dengan benar!" Ririn berkata dengan tegas.
Untuk sesaat tidak ada yang berkata apapun sampai mereka mendengar suara tawa.
"Yuki, berhenti tertawa!" Hibari berkata kepada adiknya yang menutup mulutnya, berusaha menahan tawa namun gagal.
"Ahahaha, ini pertama kalinya ada yang berani melawan Kyo-nii! Seorang gadis dan itu karena kebiasaanmu," Miyuki masih tersenyum geli lalu menghampiri Ririn. "Kamu benar-benar menarik, Ririn-chan," Miyuki lalu mengelus kepala Ririn.
"Yuki, minggir. I'll bite you to death, dan aku bersungguh-sungguh," ucap Hibari dengan aura membunuh yang menusuk, tonfanya sudah terangkat dengan posisi siap menyerang.
"Tunggu, Kyoya! Kamu tidak boleh menyerangnya!" Dino dengan segera menarik Ririn ke pelukannya dan Miyuki dengan segera menarik lengan kakaknya kembali.
"Ririn, jadi kenapa kamu bisa berada di Namimori Gakuen?" Dino segera bertanya kepada Ririn.
"Ririn menyuruh Rin mencari Kakak melalui bau dari sapu tangan Kakak dan Rin membawa Ririn ke sini," jawab Ririn sambil menunjuk Rin yang duduk manis di dekat mereka.
"Woof!" Rin menyalak, seakan menyetujui ucapan Ririn.
"Rin?" Dino menaikkan salah satu alisnya menatap Rin. "Sejak kapan kamu memelihara anak anjing?" Dino mengerutkan dahinya menatap Rin.
"Sejak empat hari yang lalu, Rin serigala bukan anjing," ucap Ririn yang membuat Dino mengerutkan dahinya.
Dino melihat Rin yang menatapnya dengan lidah terjulur dan ekor bergoyang. Di mata Dino Rin terlihat seperti seekor anak anjing sejenis Siberian Husky. Dino mengabaikan hal itu.
"Kenapa kamu datang ke Jepang?" Dino kembali menatap adiknya.
"Ririn mau ketemu Kakak," ucap Ririn. Dia melepaskan diri dari pelukan Dino dan berdiri menatap Dino lurus. "Kak, Ririn mau sekolah di sini. Namimori Gakuen, tempat Kakak mengajar," ucapnya.
"Apa?" Dino membulatkan matanya mendengar perkataan Ririn.
"Namimori Gakuen tidak memiliki batasan umur minimal untuk bersekolah di sini. Yang terpenting adalah Ririn bisa mengikuti pelajaran di sini," ucap Ririn, membuyarkan lamunan Dino.
"Tunggu! Apa maksudmu mau bersekolah di sini?" Dino menatap Ririn dengan pandangan tidak percaya.
"Apa yang Ririn katakan adalah apa yang Ririn maksudkan," jawab Ririn tegas.
Dino terdiam sambil menatap Ririn. Ririn balas menatapnya dengan wajah datarnya, tetapi matanya menunjukkan kesungguhan dari apa yang dikatakannya. Hibari menurunkan tonfanya walau masih berwajah kesal sehingga Miyuki melepaskan pegangannya dari lengan Hibari.
"Sepertinya hari sudah terlalu malam. bagaimana kalau kalian melanjutkan pembicaraan besok? Bukankah Dino-san besok juga ada pekerjaan?" Miyuki tersenyum, berusaha mencairkan suasana.
"Hhh, kamu benar. Baiklah, Ririn, kurasa sebaiknya sekarang kamu ikut bersamaku ke-," kata-kata Dino terputus bgitu pandangannya terjatuh pada Rin. "Ririn, kurasa kamu tidak bisa membawa Rin ke hotel," ucapnya dengan dahi berkerut.
"Ririn bersama dengan Rin. Rin adalah familiar Ririn. Ririn tidak mau kalau tidak bersama Rin," ucap Ririn tegas yang membuat Dino bingung.
"Ah, bagaimana kalau Ririn-chan menginap di rumah kami saja?" Miyuki tiba-tiba berkata.
'Aku bisa bertanya banyak hal padanya,'
"Yuki," Hibari menatap tajam adiknya, yang sayangnya tidak dipedulikan oleh Miyuki.
"Di rumah banyak kamar kosong, kurasa tidak masalah kalau Ririn menginap di rumah. Dia bisa mengajak Rin dan di rumah Rin bisa bermain dengan Hibirid dan Roll," Miyuki tersenyum berusaha meyakinkan Dino.
"Eh, terima kasih Yuki, tapi Ririn tidak biasa tidur sendirian," ucap Dino sambil menggaruk kepalanya.
"Kalau begitu tidur bersamaku saja, kamarku luas kok," ucap Miyuki sambil tersenyum dan menghampiri Ririn. "Ririn-chan, apa kamu keberatan kalau menginap di rumahku?" Miyuki mengusap kepala Ririn sambil tersenyum.
"Ririn tidak keberatan," jawab Ririn.
"Dia bilang begitu," Miyuki tersenyum kepada Dino.
"Apa sungguh tidak apa-apa?" Dino menatap Kyoya yang memandang mereka dengan tajam.
"Tidak apa, tidak apa. Aku sudah lama ingin merasakan rasanya punya adik perempuan," Miyuki tersenyum kepada Ririn.
"Yuki," kali ini Hibri berkata dengan nada dingin dan tatapan tajam kepada Miyuki.
Miyuki mendekati Hibari dan memebisikkan sesuatu yang cukup lama kepada Hibari. Dahi Hibari berkerut, tetapi akhirnya dia menghela napas kasar.
"Sesukamu," Hibari lalu membalikkan badannya dan meninggalkan mereka, diikuti Hibird yang hinggap di kepalanya.
"Kyo-nii tidak keberatan," Miyuki lalu mengahadap ke arah Dino dan Ririn yang sejak tadi menatap mereka.
"Kau yakin Kyoya tidak keberatan?" Dino dengan ragu melihat ke arah pintu tempat Hibari baru saja keluar.
"Tenang saja, tidak apa-apa kok. Lagi pula sudah sejak lama aku ingin merasakan mempunyai adik perempuan," ucap Miyuki sambil mengelus Rin yang berada di pelukan Ririn dan tersenyum pada Ririn.
"Ah, Ririn, mana kopermu?" Dino seakan teringat sesuatu bertanya pada adiknya itu.
"Ririn lupa bawa," jawabnya dengan wajah dan ekspresi yang sama datarnya.
"Yang benar saja! Kamu datang ke sini tanpa persiapan?" Dino menatap adiknya dengan mata melebar yang hanya di balas dengan anggukan kepala.
"Kalau pakaian, kurasa kau masih menyimpan baju lamaku. Ririn bisa memakai itu kalau dia mau," ucap Miyuki sambil tersenyum.
"Maaf sudah merepotkan, Yuki. Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan datang ke sini, Ririn," Dino menghela napas menatap adiknya yang selalu berwajah datar itu.
"Ririn sudah bilang 'Ririn akan ketemu Kakak hari ini juga'," Ririn berkata dengan dataranya mengulangi perkataannya di telepon beberapa jam yang lalu.
"Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau kamu benar-benar akan ketemu denganku," Dino mengacak rambutnya dengan nada lelah.
"Kakak tidak suka Ririn di sini?" Ririn bertanya dengan wajah dan nada datar, tapi Dino bisa melihta di matanya ada keraguan.
"Mana mungkin tidak suka," Dino tersenyum sambil mengelus kepala Ririn. "setidaknya, beritahu kalau kamu akan ke sini. Aku panik begitu mendengarmu hilang,"
"Maaf. Tapi Ririn sudah mengatakannya kalau akan ketemu Kakak hari ini," ucap Ririn sambil menundukkan kepalanya.
"Tolong lain kali jelaskan dengan spesifik. Baiklah, hari sudah terlalu larut. Kita lanjutkan hal ini besok saja," Dino bersama Miyuki dan Ririn akhirnya menyudahi pembicaraan mereka.
Mereka pun keluar dari gedung sekolah itu. Dino, sebagai gentleman sejati, mengantarkan Miyuki dan Ririn hingga ke rumah Hibari.
"Terima kasih sudah mengantarkan kami Dino-san," Miyuki tersenyum kepada Dino.
"Yuki, tolong aku titip Ririn ya," Dino mengelus kepala Ririn sambil menatap Miyuki.
"Tenang saja, aku akan menjaganya," Miyuki tersenyum kepada Dino.
"Ririn, kakak akan kembali ke hotel. Jaga dirimu baik-baik, jangan merepotkan Yuki dan Kyoya. Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur, cuci tangan dan kakimu, lalu.." kata-kat Dino terpotong oleh Ririn.
"Kakak, Ririn menginap di sini hanya sehari kan? Besok kita bertemu lagi, jangan berlebihan," ucap Ririn dengan datar.
"Itu benar Dino-san. Tenang saja, Ririn akan baik-baik saja di sini," Miyuki tersenyum sambil memegang pundak gadis yang lebih pendek darinya itu.
"Kalian benar. Baiklah, aku pergi sekarang,"
Setelah Dino mengucapkan salam sambil memeluk Ririn sebelum pergi, mereka memasuki rumah. Miyuki melihat Hibari di ruang tengah sedang menonton TV, di kepalanya ada Hibird yang sedang tidur dan mengajak Ririn ke dapur.
"Ririn-chan, kamu sudah makan malam?" Miyuki bertanya kepada Ririn yang di jawab dengan gelengan kepala. "Ada sedikit nasi dan ayam goreng, kamu makan malam dulu ya," Miyuki mengeluarkan ayam goreng dari kulkas dan melihat nasi di rice cooker.
Ririn hanya menganggukkan kepalanya sambil memeluk Rin. Miyuki melihat Rin yang ada di pelukan Ririn dan menyiapkan makanan untuk Rin setelah menghangatkan ayam gorengnya. Ririn mengambil sedikit nasi dan sepotong ayam goreng. Miyuki memebrikan Ririn sepasang sumpit, tapi melihat gadis itu kesulitan memakainya, dia memberikan sendok dan garpu untuk gadis itu.
"Kamu yakin hanya makan segitu?" Miyuki menaikkan alisnya melihat porsi makan Ririn yang sangat minim itu.
"Ririn tidak bisa makan banyak," jawab Ririn setelah mengambil nasi dan ayam goreng yang di berikan Miyuki.
"Baiklah," Miyuki menganggukkan kepalanya melihat porsi makan gadis itu. "Ririn, aku mau bicara dengan Kyo-nii sebentar, tunggu di sini ya," Miyuki lalu beranjak dari hadapan Ririn dan pergi ke ruang tamu. Ririn hanya menganggukkan kepala sambil mengunyah makanannya.
"Kyo-nii," Miyuki memanggil kakaknya yang sedang menonton TV. Tidak mendapt respon dari sang kakak, Myuki tentu sadar kalau kakaknya sedang marah padanya. Dia menghela napas dan duduk di sebelah kakaknya.
"Kyo-nii, tidak ada salahnya kan kita membiarkannya menginap di sini. Dia kan adik Dino-san, gurumu-,"
"Kuda jingkrak itu bukan guruku,"
"-oke, tapi dia tetap salah seorang guru di sekolah kita. Rumah ini juga sangat besar dan kita punya banyak kamar kosong, tidak ada salahnya kita membiarkannya menginap di sini. Lagipula," Miyuki menambahkan lambat-lambat membuat perhatian Hibari teralih kepadanya dari TV. "aku ingin mengetahui rasanya punya adik perempuan," Miyuki menatap pangkuannya sambil tersenyum kecil.
Hibari bukannya tidak sadar diri kalau dia sering 'menelantarkan' adiknya itu. Tapi, dia juga tahu kalau adiknya itu bukan tipe herbivore yang rapuh yang menangis tersedu-sedu begitu ditelantarkan. Melihat adiknya seperti itu, Hibari sedikit merasa bersalah karena selalu membiarkan adik satu-satunya itu sendirian.
Tetapi, namanya juga Hibari Kyoya, dia tidak membiarkan perasaannya terlihat di wajahnya. Di menatap TV di hadapannya lurus dengan tatapan dan wajah datarnya.
"Yuki, kau urus herbivore kecil itu agar tidak menggangguku," ucap Hibari datar.
Miyuki mengangkat pandangannya dan menatap kakaknya. Memang, wajah dan tatapannya datar, tetapi Miyuki sangat mengetahui suara dan nada bicaranya barusan juga tatapannya sekarang. Hibari sudah tidak marah lagi padanya.
"Kyo-nii, terima kasih!" Miyuki memeluk kakaknya itu yang sama sekali tidak bergeming dan tetap menonton TV, walau dalam hati dia tersenyum melihat reaksi Miyuki.
"Ah, Kyo-nii," seakan teringat sesuatu, Miyuki mengeluarkan sebuah kotak berwarna bau-abu dengan pita hitam dari kantung jaketnya. "sebenarnya tadi aku mengejarmu ke sekolah ingin memberimu hadiah ulang tahun untukmu. Selamat ulang tahun, Kyo-nii," Miyuki tersenyum pada kakaknya sambil menyerahkan kotak itu.
Hibari menatap kotak yang sekarang ada di tangannya dengan alis terangkat. Dia melihat Miyuki yang seakan berkata 'buka kadonya sekarang' dengan tatapan matanya. Hibari membuka bungkusan itu dan menatap hadiah dari Miyuki.
Sebuah jam tangan berwarna hitam dan abu-abu, yang sesuai dengan selera Hibari. Miyuki tersenyum senang melihat reaksi kakaknya. Walaupun wajahnya datar, Miyuki dapat melihat kakaknya tertarik dengan jam di tangannya.
"Kyo-nii, Rika-nee dan aku membuat jam itu bersama-sama. Jam itu tahan banting dan pukulan, kedap air, memiliki fungsi sebagai senter jika kamu memencet tombol bagian atasnya," jelas Miyuki dengan semangat yang membuat Hibari menaikkan alisnya tertarik dengan perkataan adiknya.
Dia memencet bagian atas jam tangan itu dan jam itu mengeluarkan cahanya dari bagian depan seperti senter. Hibari mematikannya dan memukul jam itu dengan tonfanya, yang hebatnya, kacanya tidak retak sedikitpun dan jam itu masih tetap dalam keadaan baru. Miyuki tersenyum melihat ekspresi 'puas' kakaknya mengetahui hadiahnya tidak akan menghambatnya jika bertarung.
"Ah, Kyo-nii, aku akan ke Ririn dulu," ucap Miyuki sambil berdiri dan berjalan ke arah dapur.
Melihat Ririn tidak ada di kursinya, Miyuki heran dan mencarinya, ternyata dia ada di dekat dapur, sedang mengelus Rin yang sudah selesai makan. Miyuki tersenyum dan menghampiri Ririn.
"Ririn, ayo kita mandi, Rin juga," Miyuki tersenyum dan mengajak Ririn mandi yang dibalas anggukan oleh Ririn.
Ririn memluk Rin dan membawanya ke kamar mandi. Dengan bantuan Miyuki, Ririn memegang Rin sementara Miyuki memandikannya, mereka dapat selesai dengan cepat. Setelah selesai mengeringkan Rin dengan hair dryer, Ririn dan Miyuki mandi bersama.
Untunglah kamar mandi milik keluarga Hibari luas dan besar, jadi mereka bisa mandi bersama tanpa kesempitan. Selesai mandi, Miyuki memberikan Ririn beberapa baju lama miliknya yang muat dengan Ririn.
"Kelelawar Hitam, ini sedikit sempit," Ririn menunjuk dadanya.
"Eh, tunggu sebentar, sepertinya aku punya cadangan," Miyuki berusaha mencari pakaian dalam yang kira-kira ukurannya muat untuk Ririn.
Untunglah sebenarnya ukuran dada mereka tidak beda jauh, sehingga Miyuki yang memang selalu memiliki bra cadangan dengan ukuran lebih besar dari miliknya dapat memberikan Ririn ukuran yang pas.
"Bagaimana?"
"Pas,"
"Hmm, aku tidak punya banyak pakaian dalam yang seukuranmu, sebelum Dino-san datang besok, bagaimana kalau kita belanja kebutuhanmu? Bukankah kamu mau sekolah di Namimori?" Miyuki tersenyum sambil memberikan baju tidur lamanya pada Ririn.
Ririn menerima baju itu sambil menganggukkan kepalanya.
"Kelelawar Hitam baik sekali. Ririn suka," ucap Ririn dengan ekspresi dan nada datarnya, membuat Miyuki tertawa kecil.
"Ne, Ririn-chan, jangan panggil aku Kelelawar Hitam. Tidak ada yang tahu identitasku,"
"Kalau begitu boleh Ririn panggil Nee-chan?"
"Tentu saja boleh!" Miyuki tersenyum lebar dan matanya berbinar mendengar Ririn memanggilnya 'Nee-chan'.
Dia memang ingin mengetahui rasanya punya adik perempuan dan sangat senang dengan panggilan yang diberikan oleh Ririn untuknya.
"Ririn-chan, waktu itu," tiba-tiba Miyuki berbicara sambil menyisir rambut Ririn. "bantuan apa yang kamu ingin kan dariku?"
Ririn hanya menundukkan kepalanya sambil memeluk erat Rin. Melihat sikap Ririn, walaupun penasaran, Miyuki memeluk Ririn lembut.
"Tidak apa-apa kalau kamu belum mau mengatakannya sekarang, aku akan menunggumu," ucap Miyuki lembut sambil mengelus kepala Ririn.
Ririn membalas pelukan Miyuki. Rin sudah melompat dan memilih melihat majikannya dan Miyuki berpelukan dibandingkan harus tergencet tubuh mereka berdua.
Ririn mencium aroma lembut lavender yang menenangkan dirinya. Berbeda dengan saat dipeluk oleh Luce maupun Aria, pelukan mereka memang menenangkan, tapi pelukan Miyuki terasa nyaman dan membuatnya rindu.
"Ririn-chan sebelumnya, aku ingin memastikan satu hal padamu," Miyuki melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ririn dengan serius. "Natt," Miyuki mengeluarkan jepit rambut kelelawar hitam dari kantung piyamanya. "Apa benar kamu yang menciptakan Natt?" Miyuki menatap Ririn degan serius.
"Salah," Ririn menggelengkan kepalanya, membuat Miyuki menatapnya dengan pandangan bertanya. "Ririn tidak menciptakan Natt," Ririn mengelus jepit rambut di tangan Miyuki dengan tatapan lembut. "Ririn hanya 'memanggilnya'. Yang memilih Natt sejak awal adalah Nee-chan," jawab Ririn.
"Maksudmu?"
"Nee-chan ingat kalau Ririn pernah meminta darah Nee-chan saat Nee-chan meminta animal weapon?" Ririn bertanya yang dibalas anggukan kepala oleh Miyuki, walau Miyuki tidak tahu kalau yang waktu itu meminta darahnya adalah Ririn. "Darah Nee-chan lah yang memilih Natt dari sekian banyak animal yang ada. Sejak awal, Nee-chan secara tidak langsung sudah memilih Natt," jelas Ririn.
Miyuki menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Ririn. Dia melihat Natt yang ada di tangannya dan mengelusnya lembut. Ririn menguap dan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang mereka duduki dan langsung tertidur.
"Kenapa kamu dan Nat-," ucapan Miyuki terhenti.
Miyuki yang tersadar dari lamunannya tersenyum melihat Ririn tertidur dia menyelimuti tubuh Ririn dan tidur di sebelahnya. Sebenarnya, masih banyak hal yang ingin dia tanyakan pada gadis itu tapi hari sudah larut dan gadis itu juga terlihat sangat lelah. Dia bisa bertanya banyak hal pad Ririn besok.
Miyuki tersenyum menatap gadis yang tertidur di sebelahnya. Malam ini, dia mendapatkan seorang adik perempuan yang manis dan sangat polos dan jujur.
Continue…..
XXXXX
Readaers, Sacchan benar-benar minta maaf karena keterlambatan update kali ini!
Waktu Sacchan lagi ngetik di hotel, sekeringnya mati berkali-kali dan laptop Sacchan tau-tau ga bisa nyala dan baru di benerin hari ini. Maaf, niatnya di update begitu Sacchan balik, nggak taunya laptop malah rusak di bawa liburan.
Akhirnya Sacchan mempertemukan Miyuki dan Ririn! Wah, satu bagian telah terselesaikan! Readers, tetap setia baca LSIA ya, maaf ternyata chapternya lebih panjang dari perkiraan Sacchan dan ini bahkan baru mempertemukan Miyuki dan Ririn.
Minna, mind to R&R?
