Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Hikage Natsuhimiko : Wahh, makasih~ Sacchan juga nganggep Ririn imut banget, apalagi dia ngebantah Hibari terus dengan polosnya. Maaf update kali ini lama, libur udah mau selesai, banyak yang harus di siapin dan Sacchan jadi agak sibuk, maaf ya lama updatenya!
prof. creau : Hai prof, saya juga kangen~#bales hug. Sacchan pergi nggak bawa oleh-oleh, yang ada malah bawa laptop rusak -_-". Iya, Sacchan juga sadar kok kalo buat mereka ketemu aja lama banget -.-'. Kayaknya updatenya nggak bisa kilat lagi nih berhubung mendekati libur selesai (wah, itu rahasia Sacchan masih sekolah atau udah kuliah#sok misterius). Wah, jangan, kalo sesama muka datar ketemu di kamar mandi apa jadinya? Nggak ada yang teriak, kan nggak mungkin Ririn yang datar bilang 'KYAA~', Hibari juga nggak ada bedanya -_-". Masih mending kalo Dino-Miyuki, kan yang satu teriak yang satu blushing. Ya, karena si Rin masih bayi serigala dan nggak beda jauh sama anak anjing Siberian husky, warna bulunya juga putih-abu-abu (kayak seragam aja). Wah, kalo romance mereka kayaknya anda masih harus bersabar, tapi di chapter depan ada sedikit bagian mereka kok, yah walau bareng Dino-Miyuki juga. Terima kasih semangatnya, prof juga semangat ya nyampul bukunya!
Selamat membaca!
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Can I Go To School?
.
.
.
Hibari baru saja bangun dari tidurnya. Dia melihat ke arah jam di samping tempat tidurnya, jam menunjukkan pukul 8:35. Dia melihat Hibird yang masih tertidur di keranjang berlapis selimut yang ada di mejanya. Sekilas dia melihat kotak jam hadiah Miyuki kemarin, tapi dia merasa melupakan suatu hal. Mengabaikan hal itu, Hibari berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya untuk menghilangkan kantuk.
Begitu selesai membasuh wajahnya, dia berjalan menuju ruang makan dan sudah tersedia kopi panas dan sepiring sarapan untuknya. Hibari duduk di kursinya dan mengangkat alisnya begitu melihat sarapannya. Bukannya dia pemilih (walaupun hanya makan sedikit sayur) dan meragukan masakan Miyuki, hanya saja 'bentuk' sarapannya ini membuatnya malas menyentuh sarapannya itu.
Sebenarnya sarapannya normal, hanya roti panggang yang di atasnya ada dua telur mata sapi dan sebuah sosis. Tapi, biasanya Miyuki memisahkan sosisnya. Dan ini, roti yang di taruh di atas telur membentuk mata, sosisnya membentuk mulut seperti tersenyum dan di atas telur itu ada saus yang membentuk rambut si 'wajah'.
"Ah, Kyo-nii sudah bangun?" Miyuki memasuki ruang makan sambil memegang secangkir kopi.
"Yuki, apa-apaan ini?" Hibari menatap sarapan di hadapannya denagn tatapan tajam.
"Oh itu? Ririn-chan tadi menyiapkannya untuk Kyo-nii," ucap Miyuki smabil tersenyum.
Hibari mengangkat alisnya, tak lama kemudian seorang gadis mungil masuk dari kaca luar memakai apron bermotif kotak-kotak merah, tidak lupa tas rajut selempang yang tidak pernah lepas darinya.
"Nee-chan, Ririn sudah selesai menyiram taman," ucap gadis itu sambil masuk ke dalam ruangan.
"Herbivore," Hibari mendesis mengingat hal yang dilupakannya.
Ririn, tidak menganggap panggilan Hibari, dia berjalan menuju Miyuki yang mengusap rambutnya dan mengatakan terima kasih.
"Kyo-nii, yang penting kan rasanya. Kopi yang di buat Ririn-chan enak lho," ucap Miyuki kepada Hibari yang menatap Ririn dengan tajam.
"Herbivore, apa-apaan bentuk sarapan ini?" Hibari bertanya pada Ririn yang tidak di tanggapi olehnya. Kesal, Hibari mengeluarkan sepasang tonfa yang-entah-disimpan-dimana.
"Kyo-nii, tenanglah. Ini masih pagi, jangan emosi," Miyuki berusaha menenangkan Hibari yang sudah siap dengan tonfanya.
"Herbivore kecil," Hibari mengarahkan tonfanya pada Ririn yang sedang memeluk Rin dan sekarang menghadap ke arahnya.
"Ririn sudah bilang nama Ririn bukan herbivore ataupun herbivore kecil, Vampire-san," ucap Ririn yang membuat Hibari semakin kesal dan Miyuki menahan tawa.
"Ah, Kyo-nii, aku dan Ririn-chan akan pergi untuk belanja kebutuhan Ririn-chan selama di sini," ucap Miyuki berusaha mengalihkan pembicaraan untuk mencegah Hibari melakukan sesuatau terhadap Ririn.
"Terserah," ucap Hibari, kembali duduk di tempatnya sambil menghela napas kasar.
Hibari menatap sarapannya sesaat dengan wajah aneh. Dia lalu meminum kopinya dan mau tidak mau dia mengakui kopi yang dibuat herbivore kecil itu enak. Dia kembali memandang sarapannya yang menurutnya terlihat sangat herbivore itu sebelum memakannya.
Miyuki yang melihat kakaknya makan sarapan yang dibuat Ririn diam-diam tersenyum geli. Bagaimana reaksi orang-orang di Namimori kalau tahu kakaknya yang dijuluki setan Namimori itu memakan makanan yang terlihat kekanakan itu?
Saat kakaknya memakan sarapannya, Miyuki dengan cepat mengajak Ririn ke kamarnya setelah menyiapkan makanan untuk Hibird yang baru memasuki ruangan. Miyuki mengambil tas miliknya sebelum mengajak Ririn pergi untuk belanja.
XXXXX
"Ririn-chan, bagaimana dengan ini?" Miyuki memberikan sebuah dress yang terlihat sangat imut kepada Ririn.
"Ririn tidak suka memakai rok, suah bergerak dengan pakaian seperti itu," Ririn memandang datar dress yang dipegang Miyuki.
"Begitu? Sayang sekali, kamu pasti terlihat cocok dengan ini," ucap Miyuki sambil mengembalikan dress penuh renda yang di ambilnya ke rak.
Sudah beberapa jam Miyuki dan Ririn berputar-putar di dalam mall itu. Miyuki sudah membelikan Ririn beberapa pakaian dalam, beberapa alat mandi dan sejak tadi mereka memilih baju ganti untuk Ririn.
Ririn memeluk Rin yang sejak tadi sudah diberi perintah oleh Ririn untuk diam agar dikira boneka. Sebenarnya Miyuki sudah menyarankan agar Rin ditinggal, tetapi karena Ririn bersikeras membawa Rin, Miyuki membiarkannya. Sejak tadi mereka sampai ke mall, Rin benar-benar 'berakating' seperti boneka di pelukan Ririn, seperti perintah sang majikan. Tidak bergerak dan hanya diam.
"Coba lihat mereka berdua, cantik sekali!"
"Apa mereka bersaudara? Yang kecil sepertinya bukan orang Jepang,"
"Yang tinggi cantik sekali dan yang kecil imut seperti boneka,"
"Apa mereka berdua idola baru atau model?"
"Eh, apa yang dipeluk boneka? Terlihat seperti anjing sungguhan,"
Miyuki dan Ririn sama sekali tidak menyadari pandangan orang orang yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua. Dengan kulit dan wajah Ririn yang berbeda dari orang Jepang pada umumnya, dengan segera dia terlihat berbeda. Miyuki yang sudah terbiasa diperhatikan oleh orang lain tidak menyadarinya dan Ririn yang memang tidak peduli pada orang lain juga tidak memperhatikannya.
"Hai, nona-nona manis,"
"Boleh kenalan nggak?"
Tiba-tiba dua orang pemuda tinggi, yang satu memakai topi, yang satu memakai kalung dan cincin mendekati mereka berdua saat mereka berjalan pulang dari mall, melewati pertokoan.
"Maaf, kami sedang buru-buru," Miyuki tersenyum kecil kepada dua orang itu.
"Cuma sebentar aja, gimana kalo kita minum bentar di café itu?" pemuda yang memakai topi menunjuk sebuah café tidak jauh dari mereka.
"Tidak mau. Kakak sebentar lagi datang. Kalau Ririn tidak ada nanti dia panik lagi," ucap Ririn dengan wajah datarnya.
"Sudahlah, biarkan saja kakakmu itu, ikut saja dengan kami," pemuda yang memakai banyak kalung memegang lengan Ririn yang menggendong Rin.
"Grrr!"
"Aduh!"
Rin menggigit tangan orang yang menyentuh Ririn dan menggongong pada mereka berdua, menyebabkan orang-orang melihat ke arah mereka. Melihat banyak orang yang memperhatikan mereka, kedua pemuda itu langsung melarikan diri meninggalkan Ririn dan Miyuki.
"Terima kasih Rin," Ririn mengangkat lengannya, menggesekkan pipinya dengan wajah Rin.
"Terima kasih sudah menolong kami," Miyuki mengelus Rin dengan tangannya yang dibalas goyangan ekor.
"Woof!" Rin menyalak dengan riang, senang bisa menolong majikannya dan Miyuki.
Merekapun melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba Ririn menghentikan langkahnya, membuat Miyuki ikut berhenti. Ririn memandang sebuah gerobak yang ikut dilihat oleh Miyuki.
"Kamu mau bakpau?" Miyuki tersenyum pada Ririn sambil menunjuk sebuah gerobak dengan tulisan Cina yang sepertinya menjual gyoza, bakpau dan dim sum.
Seorang anak kecil baru saja pergi dari gerobak itu sambil membawa bakpau di tangannya.
"Bakpau?" Ririn menatap Miyuki sambil memiringkan kepalanya.
"Kamu tidak tahu bakpau?"
"Ririn tidak tahu. Di mansion koki selalu memasak makanan Italia atau makanan Eropa," jawab Ririn sambil menggeleng.
"Kalau begitu ayo kita coba," Miyuki mengajak Ririn ke gerobak penjual bakpau itu.
"Maaf, beli bakpau dua," ucap Miyuki pada si penjual bakpau.
Si penjual bakpau memakai topi dan pakaian Cina berwarna ungu hingga tangannya tertutup dan kaca mata hitam besar. Si penjual bakpau menganggukkan kepalanya pada Miyuki.
"Hmm?" Miyuki mengamati si penjual bakpau itu dengan seksama. "Maaf, tapi apa kita saling kenal? Rasany anda familier sekali?"
Si penjual bakpau langsung menggelengkan kepalanya cepat dan memberikan bakpau yang telah dibungkusnya pada Miyuki.
"Oh, mungkin saya salah, maaf," ucap Miyuki sambil memberikan uang pada si penjual bakpau dan pergi menuju taman bersama Ririn. "aneh, sepertinya aku mengenalnya?" Miyuki bergumam sambil mengajak Ririn pergi.
Si penjual bakpau melepas kacamatanya dan tersenyum menatap dua orang yang baru saja membeli bakpau dagangannya. Seekor monyet putih keluar dari persembunyiannya di bawah meja gerobak dan duduk di kepala sang majikan.
"Lama tidak melihatmu kamu semakin dewasa, Yuki," si penjual bakpau tersenyum menatap Miyuki yang tersenyum sambil berbicara pada Ririn. "tapi, aku tidak menyangka 'tempat' yang kamu bilang akan kamu datangi adalah Jepang, Ririn," tambahnya sambil mengamati Ririn yang menganggukkan kepalanya pada entah apa yang di ucapkan Miyuki.
Si penjual bakpau mengeluarkan secarik kertas yang diterimanya dari temannya, mantan pemegang pacifier hijau sambil tersenyum.
XXXXX
"Ririn-chan bagaimana rasanya?" Miyuki tersenyum kepada gadis yang sedang duduk di sebelahnya.
"Enak," ucap gadis itu singkat sambil tetap memakan bakpaunya.
Miyuki dan Ririn sedang berada di taman. Miyuki mengajak Ririn memakan bakpau yang mereka beli di taman setelah membeli minuman. Di sebelah Ririn, Rin memakan sedikit bakpau yang diberikan oleh Ririn.
"Begitu? Baguslah," Miyuki tersenyum kepada Ririn.
Setelah mereka menghabiskan bakpau mereka, mereka pulang. Miyuki melihat ruang tengah dan menemukan kakaknya sedang mengetik sesuatu di laptopnya. Pintu geser di belakangnya dibiarkan terbuka, menampilkan halaman dengan banyak tanaman yang tertata rapih.
Setelah meletakkan semua barang belanjaan di kamar, terdengar bunyi bel. Miyuki menyuruh Ririn menunggu di ruang tengah, sementara dia membukakan pintu depan. Ririn menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju ruang tengah.
Dia duduk di hadapan Hibari yang sedang mengetik. Suasana hening menyelimuti kedua orang berwajah datar itu. Hibari sibuk dengan laptopnya dan Ririn bermain dengan Rin. Sekilas, Hibari melihat ke arah Ririn yang sedang mengelus Rin.
"Ririn~" tiba-tiba sebuah suara memasuki ruangan itu.
"Kakak," Ririn bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kakaknya.
"Kamu jadi anak baik kan di sini?" Dino memeluk adiknya erat hingga terdengar suara 'upf' begitu wajah Ririn terbenam ke perut Dino.
"Tenang saja, Dino-san. Ririn-chan justru membantuku di sini," ucap Miyuki sambil tersenyum pada Dino.
"Boss, nyawa Nona-maksud saya Ririn akan dalam bahaya kaalu anda tidak melepaskannya," ucap Romario melihat wajah Ririn yang terbenam di perut Dino.
"Oh? Ahahahaha, maaf," Dino melepaskan pelukannya dari Ririn sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Romario, lama tidak bertemu," Ririn mendekati Romario dan memeluk orang yang selama beberapa tahun terakhir ini menyelamatkannya setiap penyakit sister complex Dino kambuh.
"Ya, senang bertemu denganmu lagi, Ririn," Romario membalas pelukan Ririn singkat sambil tersenyum.
"Silahkan duduk dulu, akan kubuatkan minuman," Miyuki tersenyum pada Dino dan segera ke dapur untuk membuatkan minum sebelum Dino sempat menjawab.
"Kyoya," Dino duduk di hadapan Hibari, di kanannya duduk Ririn yang memeluk Rin dan dikirinya duduk Romario.
Dino terus merengek hingga Hibari kesal dan menutup laptopnya kasar.
"Berisik, Haneuma!"
Satu kata dan membuat rengekannya berhenti. Hibari baru akan menarik keluar tonfanya ketika Miyuki datang membawakan minum untuk mereka semua.
"Silahkan," ucap Miyuki sambil meletakkan gelasnya dan duduk di sebelah Hibari.
"Jadi, Ririn. Bisa tolong kamu jelaskan apa maksudmu kemarin?" Dino berbicara dengan wajah serius menghadap adiknya itu. "alasan kenapa kamu mengatakan ingin sekolah di Namimori," tambah Dino ketika Ririn memandangnya dengan pandangan bertanya.
"Karena Ririn ingin sekolah,"
"Kenapa?"
"Ririn ingin merasakan rasanya bersekolah," ucap Ririn menatap Dino lurus, membuat Dino terdiam.
Dino bukannya tidak sadar kalau adiknya itu masih dalam umur 'wajib sekolah'. Tetapi mengingat kejeniusan Ririn, sepertinya sekolah tidak begitu penting dan Dino tidak pernah memasukkan Ririn ke sekolah.
Mendengar perkataan Ririn, tentu Dino sadar dengan kemungkinan Ririn ingin merasakan sekolah. Anak-anak seumuran dirinya biasanya bermain bersama teman-teman mereka, tidak seperti Ririn yang baru menginjak dunia luar tiga tahun yang lalu.
"Kenapa Namimori Gakuen? Kenapa SMA?" Dino kembali melontarkan pertanyaannya pada Ririn. "Di Italia juga ada banyak sekolah bagus," ucap Dino.
"Tidak mau, Ririn hanya mau di Namimori. Suhu di Italia terlalu dingin. Ririn mau bertemu Vongola. Mau bertemu Juudaime yang Kakak anggap sebagai adik Kakak dan," Ririn memberikan jeda sebelum melanjutkannya. "Kakak mengajar di sana," lanjutnya.
"Ririn," Dino memandang Ririn dengan pandangan berkaca-kaca, tetapi hanya sesaat karena sesaat kemudian dia berhasil menguasai diri sebelum sister complexnya kumat dan wajahnya kembali seirus. "Ririn, tapi aku tidak bisa terus-terusan berada di Jepang. Bagaimana kalau aku kembali ke Italia? Tidak mungkin aku meninggalkan mu sendirian," ucap Dino.
"Kalau Dino-san tidak keberatan, Ririn-chan bisa tinggal di sini," Miyuki tiba-tiba berbicara.
"Apa? Tidak, aku tidak bsia merepotkanmu lebih dari ini," ucap Dino kepada Miyuki.
"Sama sekali tidak merepotkan. Aku senang kalau Ririn-chan tinggal di sini. Mungkin ini terdengar aneh karena kami baru bertemu kemarin, tapi aku sudah menganggapnya adik sendiri," ucap Miyuki sambil tersenyum.
"Ririn juga menganggap Nee-chan Kakak Ririn," ucap Ririn yang membuat Dino menaikkan alisnya.
"Nee-chan?" Dino menatap Miyuki.
Ririn tidak pernah menambahkan embel-embel Nee-chan kecuali pada Luce, itupun karena Luce memaksanya. Sebenarnya Luce menyuruhnya memanggilnya Nee-chan, tetapi Ririn menolaknya, yang sepertinya menurut Dino, karena Luce suka sangat berlebihan jika berhadapan dengan Ririn karena Luce suka dengan segala hal yang imut dan manis dan akhirnya mereka berdua sepakat dengan 'Luce-Nee'. Dan kali ini Ririn memanggil Miyuki dengan 'Nee-chan'?
"Wah, terima kasih," Miyuki tersenyum senang kepada Ririn.
"Tapi bagaimana dengan Kyoya?" Dino menatap Hibari yang memasang tatapan bosan dan wajah datar.
"Kyo-nii tidak keberatan," ucap Miyuki sebelum Hibari sempat berkata apapun.
Hibari mengerutkan dahinya sambil menatap adiknya yang sama sekali tidak dianggap oleh Miyuki.
"Hhhh, Ririn tolong kamu main di luar sebentar. Romario, tolong kamu temani Ririn," ucap Dino sambil mengeluarkan Enzo dari kantungnya. "Ini, mainlah dengan Enzo,"
Ririn menganggukkan kepalanya, memasukkan Enzo ke dalam kantung bajunya. Sebelum berjalan melewati Hibari, di berhenti sebelah Hibari yang membuatnya menatap Ririn.
"Boleh Ririn bermain dengannya?" Ririn mengulurkan tangannya, yang lagi-lagi terdapat Roll.
"Gupiii," Roll menatap Hibari dengan senang.
"Mainlah, dengannya," Miyuki tersenyum pada Ririn melihat tatapan datar kakaknya. Lagi-lagi Hibari tidak sadar Roll keluar dari gelangnya.
Ririn menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju halaman melalui pintu geser di belakang Miyuki dan Hibari.
"Yuki, Kyoya, sebelumnya aku ingin menceritakan sesuatu pada kalian," ucap Dino dengan wajah serius. "Ririn," Dino mengalihkan pandangannya, menatap Ririn yang sedang bermain dengan Rin, Enzo dan Roll. "aku ingin kalian tahu alasanku menjadikan Ririn sebagai adik angkatku,"
"Bukan karena Ririn-chan saudara jauhmu?" Miyuki menatap Dino dengan pandangan bertanya.
"Bukan," Dino tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Aku menemukannya di suatu rumah terpencil, dekat dengan hutan. Rumah itu tidak memiliki jendela. Dia bilang dia sudah sudah lima tahun berada di tempat itu, tanpa sekalipun menginjakkan kakinya diluar. Aku mengajaknya ke tempatku dan menjadikannya adik angkatku. Memang hanya beberapa orang saja yang mengetahui gadis itu," ucapnya sambil tertawa kecil.
"Aku tidak tahu apapun tentangnya. Tentang bagaimana dia bisa berada di sana, bagaiaman dia sebelum ada di tempat itu, siapa orang tuanya, aku sama sekali tidak tahu apapun tentangnya. Tapi satu hal, aku menganggapnya sebagai adikku sendiri," Dino menatap Ririn yang berdiri di luar, Hibird terbang di atas kepalanya.
"Maka dari itu, kalau bisa aku ingin memberikan apapun yang dia mau. Kalian tahu, hal pertama yang dia inginkan dariku adalah sebuah laboratorium kecil," Dino terkekeh pelan mengingat hal itu. Bayangkan, gadis berusia sebelas tahun menginginkan laboratorium?
"Dia tidak pernah meminta apapun dariku selain itu. Aku ingin dia merasakan kehidupan normal, setidaknya merasakan apa yang dirasakan anak-anak seumurannya. Aku ingin mengajaknya berkeliling Italia, tapi Ririn sama sekali tidak tahan dingin dan suhu di Italia terlalu dingin baginya,"
"Yuki, Kyoya. Hal yang Ririn tahu hanya sebagian besar sebatas dari apa yang dia baca di buku atau apa yang orang-orang bicarakan padanya. Dia sangat jujur dan polos, pikiranya dan cara pandangnya seperti bayi yang baru lahir. Aku tahu ini egois, tapi aku benar-benar ingin kalian menjaga Ririn selama aku tidak ada di Jepang," ucap Dino sambil menundukkan kepalanya.
"Dino-san, tenang saja. Kami akan menjaga Ririn-chan dengan baik," Miyuki tersenyum lembut sambil menyentuh tangan Dino yang memegang gelas di atas meja.
Hibari hanya diam saja tidak mengatakan apapun. Tatapan datarnya tidak berubah, menunjukkan ketidakpedulian dan bosan.
"Yuki," Dino menatap Miyuki dengan pandangan terharu yang membuat Hibari ingin melempar wajahnya dengan tonfa miliknya.
"Tapi Dino-san, Ririn-chan bilang dia akan masuk Namimori Gakuen, memangnya umurnya berapa?" Miyuki bertanya pada Dino sambil melihat Ririn yang sedang memandangi Rin.
Di atas kepala Rin ada Hibird, sedangkan Enzio di punggungnya dan Roll menatapnya dengan takut-takut. Sungguh pemandangan yang menggemaskan, andai Romario tidak berdiri di sana dengan baju hitamnya.
"Tahun ini umurnya empat belas tahun," Dino tersenyum lebar kepada Miyuki.
"Eh? Empat belas?" Miyuki dengan cepat menolehkan kepalanya menatap Ririn. Hibari mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban Dino.
"Ahahaha, banyak yang mengira umurnya masih sepuluh tahun karena tinggi badannya, tapi Ririn sama sekali tidak pernah mempedulikan perkataan orang lain," ucap Dino sambil tertawa kecil.
"Sepertinya masalah itu tidak hanya ada pada tinggi badannya," ucap Miyuki mengingat sifat Ririn yang kelewat polos dan jujur.
"Yah, dia baru mengenal dunia tiga tahun terakhir ini," ucap Dino sambil mengangkat bahunya. "Ririn, sini!" Dino memangil Ririn yang memeluk Rin. Enzo di bahu kanannya dan Roll di bahu kirinya. Hibird hinggap di atas kepala Ririn.
Ririn berlari kecil memasuki rumah diikuti Romario. Ririn berhenti di sebelah Hibari dan memberikan Roll kepadanya sambil menagatakan terima kasih, yang langsung dikembalikan ke dalam gelang oleh Hibari.
"Kakak, Hi-chan memanggil nama Ririn," ucap Ririn sambil mengembalikan Enzo.
'Hi-chan?' Dino dan Miyuki mengerutkan dahi mereka sedangkan Hibari hanya menatap Hibird.
"Ririn, Ririn~" Hibird terbang dan berputar di atas kepala Ririn lalu terbang ke atas kepala Dino. "Haneuma, kamikorosu~" ucap Hibird sebelum hinggap ke bahu majikannya sambil memanggil nama Hibari.
"Hei, kenapa perlakuanmu berbeda begitu!" Dino mengerutkan dahinya menatap Hibird.
Hibari menyeringai melihat kelakuan burung kecil miliknya. Miyuki dan Romario tertawa kecil melihat sikap Hibird terhadap Dino.
"Kakak, Ririn mau sekolah di Namimori Gakuen," Ririn menarik lengan baju kakaknya pelan.
"Ririn-chan, apa kamu mau tinggal di sini selama bersekolah di Namimori?" Miyuki tersenyum lembut pada Ririn.
"Ririn mau," ucap Ririn sambil menganggukkan kepalanya.
"Apa benar tidak apa-apa? Bagaimana kalau-,"
"Dino-san, tidak apa-apa, sungguh," Miyuki sekali lagi berusaha menenangkan Dino.
"Baiklah, tapi bagaimana membuatmu masuk ke sana? Besok sudah mulai masuk sekolah," Dino memandang Ririn dengan bingung.
"Dino-san, kalau masalah seragam Ririn-chan bisa pakai punyaku," ucap Miyuki. "Dan kalau urusan sekolah, Kyo-nii bisa bantu kan?" Miyuki mengalihkan pandangannya, menatap kakaknya yang entah sejak kapan sudah kembali sibuk dengan laptopnya
"Kalau begitu aku akan meminta orang rumah mengirimkan beberapa barang milik Ririn," Dino berdiri dan berjalan menuju teras di belakang Miyuki dan Hibari.
"Kyo-nii, bantu mereka?" Miyuki memandang kakaknya dengan tatapan memohon yang biasanya.
Hibari tidak mengalihkan pandangannya dari laptopnya dan tidak merespon apapun. Miyuki menghela napas kecil sambil sedikit menyeringai kecil. Sepertinya dia harus sedikit 'memaksa' kakaknya itu.
"Ah, Ririn, aku ingin mempertemukanmu dengan Tsuna," Dino memasukkan ponselnya ke dalam kantung celananya sambil kembali memasuki ruangan itu.
"Benar juga, sejak kemarin Dino-san hanya bisa bersama Ririn-chan sebentar. Bagaimana kalau kalian berdua pergi bersama?" Miyuki tersenyum kepada mereka berdua.
Dino menyetujui saran Miyuki dan mengajak Ririn pergi ke rumah Tsuna. Miyuki tersenyum melihat ketiga orang itu pergi dari rumahnya. Dia kembali ke ruang tengah dan menatap kakaknya dengan seringai kecil. Ada hal yang harus dibicarakan dengan kakaknya sekarang.
XXXXX
"Begitu? Aku harus berterima kasih nanti karena Yuki menemanimu membeli barang kebutuhanmu," ucap Dino.
Sejak pergi dari rumah Hibari, Dino menceritakan pada Ririn kalau dia akan tinggla di tempat Hibari selama sekolah di Namimori, lalu Ririn juga menceritakan apa yang mereka lakukan tadi pagi.
Dino lalu menceritakan apa yang dia lakukan dan betapa kangennya dia dengan Ririn yang tidak begitu di tanggapi oleh gadis itu. Romario sibuk dengan ponselnya, mengurus segala tugas Bossnya.
"Miaw, miiw,"
Ririn menghentikan langkahnya dan menatap kardus di pinggir jalan itu. Dia mendekati kardus itu dan berjongkok melihat ada dua anak kucing di dalamnya. Ririn menurunkan Rin dari pelukannya dan mengelus anak-anak kucing itu.
"Kucing manis," gumam Ririn sambil menggendong anak-anak kucing itu. "Kakak…" Ririn menolehkan kepalannya dan hanya menemukan jalanan yang sepi.
"Mana Kakak dan Romario?" Ririn memiringkan kepalanya tidak menemukan Dino dan Romario.
Dia lalu meletakkan kucing itu kembali ke kardusnya dan mengambil Rin, lalu berhenti saat melihat persimpangan. Ada dua jalan, ke kanan dan ke kiri. Rin menggongong ke arah kiti dan Ririn langsung berjalan menuju ke kiri walaupun tidak tahu tempat yang dia tuju. Dia hanya bsia mengandalkan Rin.
Sayang, di jalan itu ada dua orang preman. Ririn tidak menghiraukan dua orang itu dan terus berjalan, tetapi dua orang itu berdiri menghadang Ririn dengan seringai di wajah mereka.
XXXXX
"Dame-Tsuna, hanya karena di kejar anjing kamu jadi terpisah dengan yang lainnya!" Reborn memukul kepala Tsuna dengan palu Leon.
"Aduh, Reborn! Kita akan bertemu di rumahku, jadi apa bedanya, nanti juga ketemu!" ucap Tsuna sambil memegang kepalanya yang di pukul oleh Reborn.
Mereka terus berjalan dan melihat dua orang berbadan besar menghadang seorang gadis bertubuh mungil. Anjing di tangannya menyalak dengan galak kepada dua orang di hadapannya.
"HIII! Ada preman yang sedang mengganggu anak kecil!"
"Kalau begitu kamu tolong dia, Dame-Tsuna!"
Reborn mengarahkan pistolnya ke arah Tsuna yang berdiri dengann kaki bergetar. Dia lalu menembakkan pistolnya ke dahi Tsuna.
"Reborn! Tolong gadis itu dengan dying will ku!" pakaian Tsuna tersobek seketika.
Dia berlari menuju ketiga orang itu dan menendang dua orang itu hingga pingsan sebelum kedua orang itu sempat memproses apa yang terjadi.
"Huff," Tsuna menghela napas bersamaan dengan api di dahinya menghilang.
"Kamu keren, tapi tidak pakai baju,"
Tsuna membalikkan badannya dan menatap gadis kecil berwajah datar yang sangat imut dan manis sedang memeluk anak anjing. Dibilang blak-blakan seperti itu, mau tidak mau wajah Tsuna memerah dan dia refleks menutupi badannya dengan tangannya.
"Eh, ah, itu…" Tsuna tergagap, bingung bagaimana menjelaskan hal itu pada gadis di hadapannya.
"Tapi kamu sudah menolong Ririn saat dua orang itu mengganggu Ririn, terima kasih," ucap Ririn sambil menundukkan kepalanya.
"Ririn!"
Sebelum Tsuna dapat membalas kata-kata gadis di hadapannya, mereka mendengar suara sebuah suara dan menolehkan kepala mereka ke asal suara itu.
"Dino-san!" Tsuna berseru kaget melihat kakak seperguruannya berlari kecil ke arah mereka.
"Kakak," gumam Ririn kecil.
Dino yang tersadar kalau Ririn tidak lagi berjalan bersama mereka ternyata segera menyadarkan Romario yang tadinya masih menelepon dan kembali ke jalan sebelumnya. Beruntung mereka menemukan Ririn.
"Tsuna," Dino terlihat terkejut melihat Tsuna bersama adiknya. "apa yang terjadi?" Dino melihat dua orang yang pingsan tergeletak di dinding.
"Dia menolong Ririn dari mereka," ucap Ririn smabil menunjuk Tsuna lalu dua orang yang pingsan.
"Begitu? Terima kasih sudah menolong Ririn, Tsuna!" Dino tersenyum pada Tsuna.
"Ah, tidak," Tsuna mengusap kepalanya. "tapi Dino-san, siapa gadis ini?" Tsuna menunjuk Ririn dengan pandangan bertanya.
"Ah, aku ingin membicarakan sesuatu padamu. Bisa bicara di rumahmu?" Dino tersenyum kecil pada Tsuna.
"Ah, boleh saja. Aku juga sudah berjanji dengan yang lain untuk bertemu di rumah,"
Dino meminjamkan jaketnya pada Tsuna. Selama perjalanan Tsuna memperhatikan gadis berwajah datar di sampingnya dengan penasaran. Dia merasakan sesuatu dari gadis itu. Sepertinya Vongola Hyper Intuition miliknya merasakan bahwa gadis di sampingnya bukan gadis biasa. Tsuna menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikirannya.
Dari jauh, sesosok bayi dengan stelan dan topi fedora mengamati mereka dari salah satu atap rumah. Ekspresi wajah bayi itu tidak terlihat, tertutup oleh topi fedora yang dipakainya.
"Gadis itu...apa mungkin dia? Tapi bukankah sebelas tahun yang lalu dia dinyatakan meninggal karena menghilang tanpa jejak?" bayi itu bergumam tanpa melepaskan pandangannya dari gadis manis berwajah datar yang sedang memeluk anak anjing. "Atau sejak awal dia belum meninggal? Aku harus memastikannya," gumam bayi itu sambil melompat dari atap rumah.
XXXXX
Readers, mohon maaf karena Sacchan akhir-akhir ini sibuk dan laptop sempet rusak, jadi Sacchan updatenya jadi lama.
Berhubung sebentar lagi Sacchan selesai liburan, mungkin updatenya akan lebih lama, tapi Sacchan usahakan nggak lebih dari seminggu!
Minna, mind to R&R?
