Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Hikage Natsuhimiko : Wah, Hikage-san kalo ada boneka kayak Rin, Sacchan juga mau, lucu banget. Benar sekali! Fon adalah Master Ririn! Karena biasa di jadiin eksperimen, Ririn kan nggak punya pengalaman berantem, makanya Sacchan jadiin Fon Masternya. Kalo sesama illusionis kayaknya kurang cocok berhubung Ririn udah bisa bikin illusi sendiri. Wah, jangan, kalo dipeluk Dino nyawa mu dalam bahaya karena Dino suka nggak kira-kira kalo meluk Ririn. Wah, kalo keliatan lebih muda lagi kasian Ririnnya. Nanti Hibari makin keliatan kayak pedofil lagi -_-'. Iya tuh, Reborn ke asyikan ngelatih Tsuna sama mantau Miyuki.
Selamat membaca!
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Hi, I'm Ririn
.
.
.
"Silahkan masuk, Kaa-san sedang pergi bersama Bianchi, Lambo dan I-pin," Tsuna mempersilahkan Romario, Dino dan Ririn masuk dan mengajak mereka berdua ke kamarnya. Dia mengembalikan jaket Dino dan mengambil celana pendek dan kaus. "tunggu sebentar, akan kubuatkan minuman," Tsuna baru akan keluar dari kamarnya begitu mendengar suara.
"Ne," Tsuna berhenti begitu merasakan lengan bajunya ditarik. "Namanya siapa?" Ririn mengangkat seekor bayi singa berwarna orange yang entah sejak kapan ada dipelukannya. Rin duduk di sebelah Ririn dengan manis.
"Graaawr," singa itu mengaum kecil sambil menatap Tsuna.
"Hii! Sejak kapan Natsu keluar?" Tsuna memegang vongola gear di kantung celananya.
"Hahahaha, itu kemampuan Ririn, dia bisa membuat animal weapon keluar dari vongola gear maupun weapon box," Dino menjelaskan sambil tertawa.
"Grawr,"
"Ah, namanya Natsu," jawab Tsuna sambil tersenyum pada Ririn.
Tidak lama kemudian, terdengar suara bel. Tsuna membuka pintu dan melihat ketiga Guardiannya berdiri di sana.
"Juudaime kami datang!"
"Kami datang EXTREME!"
"Hahaha, ternyata kamu sampai lebih dulu,"
Tsuna memandang ketiga guardiannya sambil tersenyum dan mempersilahkan mereka masuk.
"Juudaime, sebagai tangan kananmu, aku yang akan membuatkan minum!" Gokudera dengan semangat melesat menuju dapur sebelum Tsuna sempat berkata apapun.
"Sebaiknya aku membantunya, kalian tunggu saja di kamarku, ada Dino-san juga," kata Tsuna kepada Yamamoto dan Ryohei sebelum menyusul Gokudera ke dapur.
Yamamoto dan Ryohei menuju ke kamar Tsuna dan melihat Romario berdiri di depan pintu kamar Tsuna dan Dino duduk di kursi. Mereka memandang Ririn yang duduk di lantai, sedang bermain dengan Natsu, Rin dan Enzo.
"Hai, kalian berdua!" Dino melambaikan tangan dengan ceria begitu melihat kedua Guardian Tsuna memasuki kamar.
"Dino-san siapa dia?" Yamamoto menunjuk Ririn yang mengelus Natsu sambil menatap Ryohei dan Yamamoto dengan tatapan datarnya.
"EXTREME! Aku tidak pernah melihat gadis ini!" Ryohei berteriak yang membuat Rin meloncat ke pelukan Ririn karena kaget.
"Ah, akan kuperkenalkan begitu Tsuna kembali," ucap Dino sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian Tsuna dan Gokudera masuk membawa minuman dan beberapa makanan kecil untuk mereka.
"Nah, karena sepertinya kalian sudah berkumpul, aku ingin memperkenalkannya," Dino berdiri dari duduknya. "Kenalkan, ini adik angkatku, namanya Karina, tapi dia hanya mau dipanggil Ririn," ucap Dino sambil menunjuk Ririn yang entah sejak kapan berada di pojokan.
Di kanannya ada Natsu, kirinya Rin, Enzo di atas Rin, Uri di pangkuannya, Jirou di depannya, Kojiro di atas kepalanya dan Kangaryuu di belakangnya.
"HIEE!"
"Hahaha, sejak kapan mereka keluar?"
"Uri!"
"EXTEREME menakjubkan!"
Dino hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya selama tinggal di Namimori dia harus meminta Ririn membuat ramuan untuk mencegah setiap animal weapon keluar dari 'tempat bersemayam' mereka jika bersama Ririn.
"Ah, maaf, Ririn punya kekuatan di sukai binatang dan bisa menarik animal weapon keluar dari box dan Vongola Gear," Dino tersenyum meminta maaf kepada mereka sambil menarik Ririn mendekat ke arahnya dari kerumunan animal weapon itu. "Ririn, tolong biarkan mereka kembali, lalu perkenalkan dirimu,"
Mereka lalu memasukkan kembali animal weapon mereka ke dalam Vongola Gear, dengan sedikit kesulitan karena Uri lari dari Gokudera dan berhasil di masukkan setelah di tangkap oleh Ririn.
"Nama Ririn Karina, tapi kalian panggil Ririn saja. Ririn tidak mau dipanggil Karina," ucap Ririn datar.
"Namaku Sawada Tsunayoshi," Tsuna tersenyum canggung kepada gadis berwajah datar itu.
"Hahaha, aku Yamamoto Takeshi," Yamamoto tersenyum ceria.
"Namaku Sasagawa Ryohei, EXTREME!" Ryohei mengayunkan tinjunya di udara.
"Che, Gokudera Hayato," Gokudera membuang pandangannya.
"Mulai besok Ririn akan bersekolah di Namimori Gakuen, jadi bisa dibilang mereka adalah senpaimu," Dino tersenyum kepada Ririn.
"Senpai?" Ririn memandang orang-orang di hadapannya sambil memiringkan kepalanya.
"Eh? Memangnya umurnya berapa?" Tsuna memandang Ririn dengan bingung.
"Tahun ini umur Ririn empat belas tahun," jawab Ririn datar.
"Eh?" mereka menatap gadis di depan mereka dengan kaget. Fuuta yang berumur dua belas tahun saja jauh lebih tinggi dan terlihat lebih dewasa dari gadis itu. Penampilan memang bisa menipu.
"Ririn, Tsuna juga adalah adik seperguruanku dan aku juga menganggapnya sebagai adik sendiri," Dino memegang bahu Tsuna yang tertawa canggung.
JIIII~
Lagi-lagi, kebiasaan Ririn menatap orang yang baru di temuinya muncul. Dia menatap Tsuna dalam diam yang membuat Tsuna semakin canggung. Tiba-tiba dia memeluk Tsuna.
"Mata yang lembut. Karena Kakak menganggapmu adiknya, Ririn akan menganggpmu kakak Ririn, Tsuna-nii," ucap Ririn sambil memeluk Tsuna, yang membuat laki-laki itu memerah.
Mungkin karena penampilannya seperti anak kecil atau baju yang dipakainya, memang tidak memperlihatkan dengan jelas badan Ririn. Tapi dadanya menekan badan Tsuna mau tidak mau membuat laki-laki polos itu salah tingkah.
"Hei, perempuan lepaskan Juudaime!" Gokudera berdiri di sebelah Tsuna dengan majalah yang digulung dan mengarah pada gadis itu.
JIIII~
Oke, kali ini tatapan Ririn terpaku pada Gokudera yang menatapnya dengan garang, lalu terjatuh ke buku yang dipegang Gokudera. Sesaat kemudian dia sudah memeluk laki-laki tempramental itu.
"Maaf, Ririn suka memeluk orang yang baru di temuinya," Dino menjelaskan sambil tersenyum pada semua orang di ruangan itu.
"Apa?" Gokudera baru akan melepaskan pelukan gadis itu ketika gadis itu bicara.
"Majalah Supernatarural edisi xxx tentang UMA. Haya-senpai suka hal yang berbau misteri?" Ririn mengangkat pandangannya, masih memeluk Gokudera.
"Kamu tahu?" ekspresi wajah Gokudera berubah menjadi lebih cerah dan sepertinya dia mengabaikan bagaimana Ririn memanggil namanya.
"Edisi itu menceritakan alien yang kemungkinan tinggal di mars, juga campur tangan alien pada suku Aztec kuno, dan sedikit tentang vampire dan warewolf," Ririn melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepalanya. "Ririn membacanya bersama Yuni. Cerita yang menarik," tambah Ririn.
"Kamu tertarik? Lain kali aku bisa meminjamkanmu hal lainnya!" tiba-tiba sikap Gokudera berubah begitu berhubungan dengan hal yang sangat disukainya itu.
"Apa Haya-senpai punya yang berhubungan dengan penyihir?"
"Aku punya beberapa,"
Semua orang yang ada di ruangan itu sweatdrop melihat perubahan sikap Gokudera. Biasanya dia selalu kasar terhadap perempuan walaupun terhada Haru yang merupakan pacarnya, walau terkadang perhatian. Pengecualian dengan sikapnya terhadap Miyuki dan Kyoko.
Kalau sikapnya terhadap Kyoko, bisa diperkirakan karena Kyoko adalah pacar dari Juudaimenya tercinta, sedangkan Miyuki? Mungkin masih merasa sedikit bersalah dengan kejadian sebelumnya saat dia tidak sengaja melempar dinamitnya kepada gadis itu.
Di tambah lagi Ririn terlihat seperti anak kecil. Perlu diingatkan, Gokudera sangat tidak menyukai anak kecil. Dan dalam waktu kurang dari satu jam dia berhasil membuat Gokudera bersikap 'baik' padanya. Yah, setidaknya dia tidak berteriak, mengancam atau melempar Ririn dengan dinamit.
"Extereme! Dia bisa membuat kepala gurita jinak padanaya!" Ryohei setengah berbisik melihat Gokudera berbicara dengan semangat mengenai UMA dan beberapa hal lainnya.
"Ternyata dari situ dia mengira Kyoya vampire," gumam Dino pelan sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Gokudera-kun," Tsuna hanya bisa melihat tangan kanannya semangat bercerita tentang UMA.
"Hahaha, ternyata dia bisa bicara seperti itu pada orang selain Tsuna," Yamamoto melipat tangannya di belakang kepalanya. "seharusnya kau juga bicara dengan orang lain seperti itu, Gokudera," Yamamoto tersenyum sambil meletakkan satu tangannya di bahu Gokudera.
"Baseball idiot, jangan sok akrab denganku!" Gokudera menghalau tangan Yammoto yang singgah di bahunya dengan kasar dan hanya di balas oleh Yamamoto dengan tawa ringan.
JIIII~
Kali ini Ririn memeperhatikan Yamamoto dan memeluknya.
"Hangat," gumam Ririn. "Take-senpai tinggi sekali," Ririn sedikit mendongak. "dan senyum yang cerah,"
"Ahahaha, terima kasih. Kamu juga manis!" Yamamoto tertawa ringan sambil mengacak rambut Ririn.
Ririn melepaskan pelukannya dan menatap Ryohei sesaat sebelum memeluk laki-laki itu.
"EXTREME! Ada apa?" Ryohe mengusap kepala Ririn hingga membuat rambut gadis itu berantakan, yang sama sekali tidak dipeduulikan oleh si pemilik rambut.
"Keras sekali," Ririn mengerutkan dahinya dan melepaskan pelukannya dari Ryohei. "panas dan sangat bersemangat ya, Extreme-senpai," Ririn memandang Ryohei dengan datarnya.
Dino tersenyum geli mendenar perkataan Ririn. Mengingat betapa sering Ryohei berlatih dan berolahraga, tentu saja tubuhnya akan penuh dengan otot dan membuat badannya menjadi keras.
"EXTREME! Namaku Sasagawa Ryohei, EXTREME!" Ryohe memasang wajah terkejut.
"Sasagawa Ryohei Extreme-senpai?" Ririn memiringkan kepalanya.
"Uh, 'Extreme' bukan namanya Ririn-chan. Hanya Sasagawa Ryohei," Tsuna berusaha menjelaskan pada 'adik' barunya.
"Kalau begitu Ryo-senpai?" Ririn memiringkan kepalanya menatap Ryohei.
"EXTREME!" Ryohei mengacungkan jempolnya pada Ririn. "Hei, kamu tertarik masuk klub tinju?"
"Tinju?"
"Iya!"
"Ririn tidak tahu tinju,"
"Tinju itu seperti ini, angkat tanganmu di depan wajah. Benar seperti itu, lalu arahkan ke depan dengan cepat! EXTREME!" Ryohei memperagakan bagaimana meninju pada Ririn yang dengan polosnya mengikuti gerakan Ryohei.
"Extreme!" Ririn meniru Ryohei yang sayangnya gagal karena ekspresi dan nada bicaranya yang datar, juga pukulannya yang tidak secepat Ryohei.
"Tidak boleh! Ririn tidak boleh mengikuti klub yang berat seperti itu!" Dino langsung memeluk Ririn dari belakang.
"Kepala rumput, yang benar saja! Masa kamu mau mengajak gadis sekecil itu masuk ke klub tinjumu!" Gokudera berkata dengan dahi berkerut.
"Ahahaha, tapi apa Ririn-chan tidak terlalu kecil untuk masuk klub tinjumu yang semua anggotanya laki-laki?" Yamamoto tertawa sambil melipat tangannya di belakang kepala.
"Asalkan ada niat, semua hal tidak jadi masalah!" Ryohei berkata dengan semangat sambil mengayunkan tinjunya ke udara.
"Ririn tidak ada niat kok," ucap gadis itu datar yang membuat sweatdrop semuanya.
"Kalau begitu, kalau kamu tertarik, kamu bisa masuk ke klub tinju!" Ryohei berkata dengan semangat pada Ririn, membuat semua yang ada di ruangan itu, kecuali Ririn sweatdrop.
"Karina," tiba-tiba sebuah suara muncul dari arah jendela, membuat semua yang ada di situ mengalihakan pandangan mereka menatap jendela.
"Reborn! Kemana saja kamu tadi?" Tsuna memekik melihat Reborn berdiri di jendela.
Reborn tidak menghiraukan panggilan Tsuna dan melompat ke bahu Dino, menatap gadis di hadapannya.
JIIII~
Ririn memperhatikan Reborn lama sambil memiringkan kepalanya.
"Hmpf, benar-benar anak Amel!" Reborn mendengus sambil mengangkat Leon dari topi fedoranya dan menunjukkannya di hadapan Ririn.
"Leon!" Ririn meraih bunglon hijau di hadapannya lalu menatap Reborn sekali lagi. "Reborn-jii-chan?" Ririn memiringkan kepalanya menatap Reborn.
"EH?" semua yang ada di situ memekik kaget mendengar Ririn memanggil Reborn.
"Penampilanmu benar-benar seperti replika dari Amel, Karina, juga kebiasaan kalian,"
"Hentikan. Jangan panggil Ririn dengan nama itu," Ririn menatap Reborn tajam.
"Reborn, kamu kenal Ririn?" Dino yang sama sekali tidak menyangka Reborn mengetahui adik angkatnya yang asal usulnya tidak di ketahui itu terlihat sangat kaget.
"Tentu saja. Karina van Derkheim, ayahnya adalah seorang ilmuwan jenius dan sempat menjadi partner Verde sebagai sesama ilmuwan gila,"
"Papa nggak gila," Ririn mengerutkan dahinya mendengar penjelasan Reborn.
"Ilmuwan? Derkheim? Maksudmu ilmuwan terkenal Edrich van Dekheim yang keberadaannnya hilang dua puluh tahun yang lalu?" Gokudera bertanya dengan kaget kepada Reborn.
"Eh? Ririn anak dari ilmuwan?" Dino menatap adiknya itu dengan kaget. Pantas saja dia sangat jenius.
"Ya,"
Ririn mengulurkan tangannya, ingin meraih Reborn yang ada di bahu Dino, tetapi Reborn menghindar dan melompat ke lantai. Ririn mengikuti Reborn, tetapi lagi-lagi Reborn melompat ke atas meja belajar.
"Ririn mau memeluk Reborn-jii-chan," Ririn menatap Reborn dengan puppy eyes yang sangat imut, membuat sister complex Dino hampir kumat.
Dino dan Tsuna, sebagai sesama murid dan mantan murid Reborn, jelas heran dengan kelakuan Reborn. Biasanya Reborn selalu membiarkan perempuan memeluknya. Setidaknya, Reborn selalu bilang untuk bersikap gentleman terhadap perempuan.
"Hhh," Reborn menghela napas melihat tatapan Ririn. "aku tahu bagaiman kamu dan Amel. Kalau kamu memelukku dengan ukuran badanku yang seperti ini, aku akan terbenam di dadamu," ucap Reborn dengan santainya, membuat orang-orang yang berada di ruangan itu memerah, kecuali Ririn sendiri yang memasang wajah tidak puas.
Bukannya mereka tidak sadar, tapi di bilang blak-blakkan begitu dengan santainya, mau tak mau mereka jadi ingat saat Ririn memeluk mereka tadi. Dino sendiri hanya mengagruk kepalanya mendengar perkataan blak-blakkan mantan tutornya itu.
"Ririn peluk di bahu deh," Ririn mengulurkan kedua tangannya, bersikeras memeluk Reborn.
Reborn menatap gadis itu yang masih mengulurkan kedua tangannya dan menatapnya dengan pandangan berbinar dengan wajah datarnya. Leon sudah kembali hinggap di fedora miliknya.
"Hhh, baiklah," Reborn menghela napas pasrah.
Ririn berjalan ke arah Reborn dan memeluk Reborn, tetapi meletakkan kepala Reborn di bahunya, tidak seperti saat dia memeluk Verde.
"Lama tidak bertemu," Ririn setengah berbisik sambil memeluk Reborn.
Reborn tersenyum sambil mengelus kepala Ririn. Ririn benar-benar mirip dengan mamanya. Baik fisiknya yang mungil maupun kebiasaannya memeluk orang dan sulit mengingat orang lain tanpa ciri khas.
"Reborn, bisa kamu ceritakan dari mana kamu mengenal Ririn?" Dino tiba-tiba berbicara dengan penasaran.
Ririn melepas pelukannya dari Reborn dan Reborn duduk di bahu gadis itu.
"Ririn van Derkheim, anak dari Edrich van Derkheim. Dua puluh tahun yang lalu, dia menikah dengan seorang perempuan di Indonesia, salah satu negara tropis di Asia dan tinggal di sana," ucap Reborn.
"Tunggu, berarti kabar bahwa dua puluh tahun yang lalu dia hilang saat sedang melakukan penelitian itu salah?" Dino bertanya kepada Reborn.
"Salah. Dia menyebarkan sendiri berita itu karena tidak mau istrinya terganggu dengan statusnya sebagai ilmuwan nantinya dan tidak mau istrinya terlibat dengan mafia, tetapi dia tetap melakukan penelitian di rumahnya dengan membuat laboratorium kecil. Sebagai seorang ilmuwan yang bebas, Edrich juga terlibat dalam mafia tetapi tidak terikat seperti Verde. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui keberadaan Edrich, termasuk kami, para Arcobaleno,"
"Eh? Edrich van Derkehim mengenal Arcobaleno?" kali ini Gokudera bertanya dengan penasaran.
"Tentu saja. Karena bintang-binatang partner Arcobaleno adalah pemberian darinya dan istrinya sebagai bukti 'pertemanan' kami," jelas Reborn dengan menekankan kata pertemanan dengan nada yang aneh.
Mereka hanya tertawa garing di dalam hati karena menyadari Reborn sebenarnya tidak mau mengakui bahwa ia berteman dengan Arcobaleno lainnya.
"Bukankah Edrich adalah orang yang tertutup? Kenapa dia memberikan bukti pertemanan?"
"Istrinya yang memberikan itu pada kami. Edrich memang jarang bicara dan miskin ekspresi-,"
"Papa nggak miskin ekspresi. Dia cuma jarang menunjukkan ekspresinya," Ririn memotong perkataan Reborn, tidak terima Papanya di bilang miskin ekspresi, meski kenyataannya dia sendiri miskin ekspresi.
"Itu kan sama saja," Tsuna menggumam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pantas saja Ririn seperti itu, turunan ayahnya ya," Dino menggumam sambil menatap Ririn yang berwajah datar sambil sweatdrop.
"Kamu juga miskin ekspresi, Ririn," Reborn menyentil dahi Ririn yang langsung di usap gadis itu. Semua hanya sweatdrop melihat sikap Reborn terhadap Ririn. "jangan potong kata-kataku lagi," ucap Reborn pada Ririn.
"Berkebalikan dengan Edrich, istrinya sangat baik dan terbuka. Secara fisik, Amel sangat mirip dengan Ririn. Bertubuh mungil, rambut hitam bergelombang dan mata silver,"
'Ciri khas ras khusus milik mereka,' batin Reborn.
"Tapi, dua belas tahun yang lalu seharusnya..." kata-kata Reborn terhenti dengan kepala menunduk. Ririn hanya diam sambil memeluk Rin erat tanpa berkata apapun.
Tiba-tiba terdengar suara pintu depan di buka dan suara ramai menaiki tangga.
"Lambo, kamu tidak boleh membawa semua kuenya! Itu untuk semua, kembalikan!"
"Gyahahaha! Semua kue ini milik tuan Lambo!"
Pintu kamar Tsuna terbuka lebar dan Lambo berlari masuk sambil membawa kotak kue sementara I-pin mengejarnya.
BUKK
Reborn memukul Lambo yang berlari ke arahnya dengan palu Leon. Yang malah membuatnya tepental ke arah I-pin hingga kepala I-pin terbentur tembok dan hilang kesadaran.
"Hu..to.. .HUAA!" Lambo mengeluarkan bazooka dan masuk ke dalamnya.
Asap berwarna pink memenuhi ruangan itu dan muncul seorang pria dengan baju bermotif seperti sapi sedang memegang sebuah piring dengan kue.
"Yare, yare, tidak kusangka kembali ke sepuluh tahun yang lalu di saat seperti ini," ucap pria itu sambil memperhatikan sekelilingnya. "Hm? Ririn-nee juga terkena bazooka?" laki-laki itu menatap Ririn dengan pandangan bertanya.
"Lambo dewasa!" Tsuna menyerukan orang di hadapan mereka.
"Siapa kamu?" Ririn memiringkan kepalanya menatap TYL Lambo yang mendekat ke arahnya.
"Are? Bukan ya?" TYL Lambo mengamati Ririn, masih memegang kue di tangannya.
"Lambo-kun, Ririn-chan tidak terkena bazooka," Tsuna berbaik hati memberi tahu Lambo yang sudah duduk di lantai, di sebelah Ririn.
"Begitu? Kalau di lihat-lihat memang sedikit berbeda. Rasanya Ririn-Nee terlihat lebih kaku dan lebih sedikit lebih muda," ucap Lambo sambil memakan kue yang di pegangnya.
"Kamu siapa?" Ririn mengulangi pertanyaannya sambil menatap Lambo di hadapannya.
"Ririn, ini adalah Lambo yang sama dengan anak kecil yang tadi di pukul Reborn. Hanya saja, dia terkena efek bazooka yang membuatnya bertukar dengan dirinya di sepuluh tahun mendatang," Dino berusaha menjelaskan kepada Ririn.
Memiliki otak yang jenius membuat Ririn dengan cepat mengerti perkataan kakaknya. Dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Sapi Bodoh, masa kamu tidak bisa membedakan Ririn dengan Ririn di waktumu!" Gokudera mendengus kepada Lambo yang hanya mengedikkan bahunya.
"Apa boleh buat. Ririn-nee merupakan mafia nomor satu dalam hal baby face dan penampilan yang tidak pernah berubah selama sepuluh tahun. Aku baru saja bersama dengannya karena kue ini Ririn-Nee yang membuatkan untukku, karena aku berhasil menjalankan misi dengan baik," ucap Lambo dengan sedikit sombong.
"Hahaha, apa itu artinya selama sepuluh tahun ke depan dia tetap terlihat seperti ini?" Yamamoto bertanya pada Lambo yang masih memakan kuenya.
"Tidak semirip ini tapi yah begitulah. Ririn-nee juga populer di kalangan para pedophilia di mafia, makanya dia di larang pergi sendirian walau biasanya Ririn-nee selalu bersama Yuki-nee," jelas Lambo yang membuat hampir semuanya jawdrop.
"Kedengaran sangat EXTEREME!"
"Serius?"
"Eh?"
"APA? Ririn!" Dino langsung memeluk Ririn dengan sikap protektif yang dipukul dengan palu Leon oleh Reborn.
"Itu sepuluh tahun mendatang. Aku tidak ingat pernah mengajarkanmu bersikap sister complex seperti ini, Dino," Reborn lalu mengubah Leon menjadi pistol dan mengarahkannya pada Dino yang sekarang mulai panik melihat pistol yang di arahkan padanya.
"Tunggu Reborn, aku hanya bersikap sebagai Kakak yang baik!" Dino mengayunkan tangannya di depan muka, berusaha agar Reborn menurunkan pistolnya.
"Kakak memang kakak yang baik kok," Ririn yang berada belakang Dino berbicara dengan nada datarnya, membuat Dino terharu, tetapi kali ini menahan sikapnya, khawatir mantan tutornya akan kembali menghukumnya jika sister complexnya kumat.
"Hmp," Reborn mengembalikan Leon ke atas topi fedoranya.
Tiba-tiba asap pink menyelimuti TYL Lambo dan bersamaan dengan menghilangnya asap, seorang anak berpakaian sapi yang sedang tidur muncul. Di mulutnya ada krim kue dan dia memeluk kotak kue yang kelihatannya lebih besar dari kotak kue sebelumnya.
"Ririn, ini adalah Lambo dan ini I-pin," Tsuna meletakkan Lambo dan I-pin di atas kasurnya sambil meletakkan kotak kuenya dia atas meja belajarnya.
"Reborn sayang~"
Bianchi masuk ke dalam ruangan sambil membawa sepiring cookies berwarna biru gelap dan mengeluarkan asap.
"Geh, Ka..kak..," Gokudera memegang perutnya dan pingsan dengan mulut berbusa begitu melihat Bianchi masuk ke kamar itu tanpa google ataupun kacamata.
"Reborn, aku membuatkan kue ini spesial untukmu," Bianchi mengabaikan Gokudera dan berjalan menuju Reborn yang duduk di sebelah Ririn. Reborn langsung pura-pura tidur yang membuat Bianchi tertawa kecil menggumamkan betapa menggemaskannya Reborn. Pandangannya lalu beralih pada Ririn yang duduk di sebelah Reborn.
"Bianchi, kenalkan ini, Ririn, adik angkatku," Dino memperkenalkan Ririn sambil tersneyum lebar.
"Hmm, gadis yang sangat manis," Bianchi membungkukkan badannya, mengamati wajah Ririn dengan seksama. "perkenalkan, namaku Bianchi. Aku adalah Kakak dari Hayato," Bianchi tersenyum pada Ririn sambil menunjuk Gokudera yang pingsan di lantai dengan tidak peduli.
"Nama Ririn Karina, tapi Bianchi-san panggil saja Ririn," Ririn menatap Bianchi yang sekarang duduk di sebelah Reborn.
"Ririn, kalau begitu panggil saja aku Bianchi atau Bianchi-nee," Bianchi tersenyum melihat gadis itu menganggukkan kepalanya.
Ririn tiba-tiba memeluk Bianchi, membuat Bianchi sedikit kaget.
"Ah, maaf, Ririn selalu memeluk orang yang pertama di temuinya dan dia suka," Dino tersenyum, mengetahui Bianchi tidak pernah menyerang perempuan.
"Oh, gadis yang sangat manis," Bianchi tersenyum dan meletakkan piringnya di sebelahnya dan membalas pelukan Ririn.
"Bianchi-nee cantik dan wangi," Ririn sedikit bergerak di pelukan Bianchi dan menatap Bianchi.
"Terima kasih atas pujianmu, sebagai tanda terima kasih, bagaimana kalau kamu mencoba cookies buatanku? Walaupun aku sebenarnya ingin memberikan ini pada Reborn sayang, tapi dia malah tertidur," Bianchi tertawa kecil sambil menyodorkan cookies buatannya pada Ririn.
"Terima kasih," Ririn mengambil satu cookies itu dan memakannya sebelum yang lain sempat mencegahnya.
"JANGAN DIMAKAN!" mereka berseru bersamaan yang menyebabkan Bianchi melemparkan tatapan tajam pada mereka, yang sayangnya terlambat karena Ririn sudah memakan cookies itu.
Reborn menyeringai di balik topi fedoranya sambil menatap Ririn yang mengunyah cookies itu perlahan sambil menatap Dino, Tsuna, Ryohe, dan Yamamoto yang menatapnya dengan khawatir. Ririn memiringkan kepalanya sambil menelan cookies itu.
"Bagaimana rasanya?" Bianchi bertanya sambil tersenyum kepada Ririn, mengharapkan jawaban gadis itu.
"Rasa yang unik," Ririn berkata sambil meraih satu cookies lagi dan memakannya yang membuat Dino, Tsuna, Ryohei, dan Yamamoto menganga.
"Duh, kamu bisa saja," Bianchi merona sambil tersenyum memegang kedua pipinya, senang karena masakannya di 'puji'.
"EXTREME! Dia tidak apa-apa setelah memakan cookies itu!" Ryohei berteriak dengan kagum melihat Ririn memakan cookies Bianchi dengan tenang.
"Ahahaha, mungkin cookiesnya kali ini memang normal?" Yamamoto tertawa ringan sambil melipat tangannya di belakang kepala.
"Masa?" Tsuna mendekati Ririn dan mengambil sebuah cookies dengan ragu lalu memakannya. "UGH!" wajah Tsuna berubah menjadi biru lalu ungu dan pingsan sambil memegang perutnya dengan mulut berbusa.
"TSUNA!/SAWADA-SAN!" Dino, Ryohei dan Yamamoto panik begitu melihat Tsuna tumbang. Mereka memandang kue di pangkuan Ririn dengan horor.
"Ririn, kamu tidak apa-apa?" Dino bertanya dengan panik setelah membaringkan Tsuna di lantai karena kasurnya masih dipakai Lambo dan I-pin yang belum bangun.
"Ririn tidak apa-apa," Ririn memandang kakaknya dengan bingung sambil minum.
"Racun Bianchi tidak akan mempan untuknya," semua kepala tertuju pada Reborn yang entah sejak kapan sudah berdiri di meja.
"Apa makusdmu Reborn?" Dino bertanya dengan penasaran.
"Seperti mamanya, Ririn memiliki perut besi meski porsi makannya sangat minim. Dia tidak akan terpengaruh oleh racun apapun yang masuk ke tubuhnya," ucap Reborn.
"Sangat menakjubkan EXTREME!"
"Maa, maa, ternyata Ririn hebat juga," Yamamoto tertawa ringan sambil menatap gadis mungil itu.
Dino hanya bisa menatap adiknya dengan pandangan tak percaya. Banyak hal yang baru di ketahuinya tentang adik angkatnya dalam beberapa jam ini.
XXXXX
Tiba-tiba ponsel Ririn berbunyi. Ririn mengeluarkan ponselnya dan menatapnya sesaat sebelum mengangkatnya.
"Halo, Ririn-chan?"
"Ya, Nee-chan?"
"Ah, maaf mengganggu, aku hanya ingin memberi tahu kalau aku sudah menata sebuah kamar untukmu. Kalau bisa aku ingin kamu pulang saat makan malam untuk melihat kamarmu,"
"Ririn tidak keberatan seperti apapun,"
"Jangan begitu, kamu akan tinggal di sini, jadi aku mau membuat yang terbaik,"
"Kalau begitu baiklah. Ririn akan segera pulang,"
Begitu Ririn mematikan ponselnya, semua mata memandangnya.
"Kakak, Nee-chan bilang ingin kita kembali sebelum makan malam," Ririn menatap Dino dengan tatapan datarnya yang biasa.
"Begitu?"
"Dino-san, memangnya kamu punya saudara perempuan yang lain?" Yamamoto bertanya dengan penasaran mendengar 'Nee-chan' yang di ucapkan Ririn.
"Tidak. Yang Ririn maksud dengan 'Nee-chan' adalah Yuki, karena selama Ririn bersekolah di Namimori Gakuen dia akan tinggal di rumah Kyoya,"
"EH?"
"Mau bagaimana lagi, karena Ririn membawa Rin aku tidak bisa membawanya ke hotel tempatku menginap dan Yuki berbaik hati menawarkan Ririn tinggal di sana,"
"Ahahaha, aku tidak menyangka Hibari mau menerima orang lain tinggal di sana," Yamamoto tertawa ringan mendengar penjelasan Dino.
"Sebenarnya menurutku Kyoya tidak bisa dibilang 'menerima' Ririn, tapi Yuki berhasil membuat Kyoya setuju," Dino menggaruk belakang kepalanya mengingat reaksi Hibari saat Yuki menawarkan Ririn tinggal di sana. "Baiklah, sepertinya aku harus kembali ke tempat Kyoya untuk membicarakan masalah lainnya,"
Dino lalu mengucapkan salam dan pergi ke tempat Hibari bersama Ririn dan Romario, juga Rin yang tertidur di pelukan Ririn.
Reborn memperhatikan ketiga orang yang baru saja pergi dari rumah itu dari jendela kamar Tsuna. Dia menurunkan topinya sambil menyeringai. Dia memiliki sebuah ide yang sepertinya bisa dicoba walau kemungkinan berhasilnya kecil.
XXXXX
Sebenarnya chapter ini sama chapter depan tadinya satu chapter, tapi berhubung panjang banget, sampe lebih dari 6000 words, jadi Sacchan pecah dua chapter dan karena nggak nyambung juga.
