Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Hikage Natsuhimiko: Iya Hikage-san, nanti Ririn sama lucu sama-sama datar tapi yang satu polos, terus Ririn kelewat jujur. Iya dong, kan Ririn disukai para animal weapon. Hmm, kayaknya sekitar seperut si Yamamoto deh. Kalo mereka berdua di jejerin kasian tuh si Ririn kebanting ama tinggi badannya. Entah kenapa kepikiran buat Ririn jadi disukain ama para pedo mafia. Kan di mafia yang polos imu-imut kayak Ririn nggak ada. Iya perut besi. Beberapa chapter ke depan nanti ibunya di bahas kok, sabar yaa. Sayang kamarnya Ririn yang disediain Miyuki sangat standar. Btw, tolong ini nanti chapter perlu ganti rating nggak ya?

Selamat membaca~

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Night Before School

.

.

.

Hibari menatap makannannya dengan tatapan datar, tidak menghiraukan dua bersaudara tidak sedarah di hadapannya. Dino makan dengan berantakan karena Romario kembali ke hotel untuk membereskan beberapa pekerjaan yang harus dilakukan oleh Dino setelah malam ini.

Sedangkan Ririn, dengan porsi makannya yang setara anak TK, makan dengan pelan. Miyuki seakan tidak terganggu dengan hal itu dan memakan makanannya dengan tenang. Setidaknya Dino tidak menjatuhkan apapun ataupun menumpahkan minumnya, di hanya mencecerkan nasi yang di makannya.

Selesai makan malam, Miyuki yang baru selesai membersihkan piring membawa Ririn ke sebuah kamar kosong yang luas walau lebih kecil dari kamar Miyuki, yang di dalamnya terdapat sebuah futon, meja belajar, sofa, lemari dan rak buku tepat di depan kamar Miyuki.

Di dindingnya terdapat kalender dan jam dinding. Di kamar itu terdapat sebuah jendela berukuran sedang dan cahaya bulan sedikit masuk lewat jendela itu.

"Maaf, hanya ada sedikit barang di kamar ini. Kalau ada barang yang kamu butuhkan bilang saja," Miyuki tersenyum pada Ririn.

"Tidak apa-apa. Ruangan ini lebih dari cukup," Ririn menganggukkan kepalanya sambil menurunkan Rin dari pelukannya.

"Kalau begitu aku ke ruang tengah sebentar," Miyuki tersenyum dan meninggalkan Ririn di kamar barunya sendirian.

Ririn mengamati ruangan itu untuk sesaat. Dia lalu berjalan menuju futon di kamar itu dan melipatnya, meletakkannya di atas sofa. Setelah melihat kamarnya yang sangat minim barang itu. Dia melihat ke luar jendela sesaat dan melihat bulan sabit berwarna kuning di luar.

"Ruangan ini, lebih dari cukup. Ririn hanya perlu menambahkan apa yang perlu di tambahkan," Ririn mengeluarkan cerminnya dari dalam tas rajut.

XXXXX

"Mana Kyo-nii?"

Miyuki memasuki ruang tengah dan hanya menemukan Dino yang sedang menonton TV.

"Sepertinya tadi dia mandi," Dino tersenyum kepada Miyuki yang meletakkan teh di sampingnya. "Hhh, besok akhirnya Ririn akan sekolah. Aku khawatir," Dino menghela napas sambil menyetuh gelas di hadapannya.

"Tenang saja, Kyo-nii tadi sudah mengurus semuanya. Ririn-chan akan masuk ke kelas yang sama denganku," Miyuki tersenyum kecil mengingat bagaimana dia meminta kakaknya untuk membantu mereka.

Hibari dengan kesal langsung menelepon salah satu bawahannya dan menelepon kepala sekolahnya dengan ancaman. Hanya kurang dari sepuluh menit dan Hibari selesai menelepon mereka. Entah apa yang di katakan oleh Hibari pada mereka.

"Yuki, kamu benar-benar malaikat," Dino menggenggam kedua tangan Miyuki dengan mata berkaca-kaca yang hanya di balas Miyuki dengan senyum maklum.

Kalau tidak ada Miyuki, dia pasti tidak tahu Ririn harus tinggal di mana dan kesulitan mengizinkan gadis itu untuk sekolah di Namimori.

TAK

"Aduh!"

Dino mengusap kepalanya yang baru saja di lempar sesuatu. Dino melihat botol minum di sebelahnya dan melihat Hibari yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam.

"Haneuma mesum, jangan sentuh Yuki sesukamu," Hibari berjalan ke arah Dino sambil mengeluarkan tonfanya.

"Kyo-nii, dia hanya berterima kasih karena kita mengizinkan Ririn-chan tinggal di sini. Ini sudah malam, jangan bertarung di dalam rumah!" Miyuki mengerutkan dahinya sambil memberikan gestur kepada kakanya agar menyimpan tonfanya.

"Hn," Hibari menyimpan tonfanya dan duduk di depan Dino sambil menatapnya tajam.

"Kalau begitu aku akan menyuruh Ririn untuk mandi duluan," Miyuki berdiri dan berjalan menuju tempat Ririn berada.

Miyuki membuka pintu kamar itu dan terkejut karena kamar itu menjadi sangat berbeda dengan beberapa saat yang lalu.

Kamar yang tadinya kosong itu terdapat sekitar lima meja panjang yang di susun seperti U di tengah ruangan, hanya saja tidak melengkung, tetapi kotak. Di atas meja itu banyak terdapat tabung-tabung dan cairan berbagai warna. Beberapa mengeluarkan asap, beberapa terdapat buih.

Miyuki juga melihat ada sekitartiga buah rak dan sebuah lemari yang sebelumnya tidak ada. Di dalam rak itu ada banyak cairan berbagai warna di dalam botol-botol kecil, juga botl-botol berisi pil dan bola-boal bulat yang Miyuki tidak tahu apa itu semua. Di dinding banyak rumus-rumus dan beberapa kertas yang Miyuki tidak mengerti tulisannya.

Dia menutup pintu kamar itu lalu menghampiri Ririn sambil tersenyum, sekilas ada sebuah kilatan di matanya.

"Ini kekuatanmu?"

Ririn yang masih berdiri di dekat jendela dengan rambut di kepang satu dan memegang cermin menatap Miyuki. Matanya bersinar tipis berwarna keemasan.

"Um," Ririn mengangukkan kepalanya. Warna matanya kembali seperti semula.

"Hee, ilusi?" Miyuki menyentuh meja yang dia lewati sambil berjalan ke arah Ririn.

"Itu memang di buat dengan ilusi, tapi itu adalah nyata," ucap Ririn sambil memasukkan cerminnya ke dalam tas rajutnya.

"Maksudmu seperti Reality Illusion Glove?"

"Kurang lebih, tapi benda itu hanya bisa membuat benda menjadi nyata selama satu hari, sedangkan yang ini bisa dalam jangka waktu yang lama,"

"Kamu memang benar-benar menarik," Miyuki tersenyum pada Ririn.

DUAK

Miyuki mengerutkan dahinya mendengar suara keras barusan. Sepertinya kakaknya mulai menyerang Dino lagi. Miyuki menghela napas lelah.

"Ririn-chan, kamu mandilah duluan, nanti aku akan menyusul," Miyuki tersenyum pada Ririn yang mengangguk dan melepaskan kepangannya.

Miyuki lalu menuju ruang tengah dan membiarkan Ririn mengambil pakaian di kamarnya.

XXXXX

"Kyoya, aku tidak menyangka kamu menurut pada Yuki," Dino tersenyum lebar sambil menatap Hibari yang menonton TV di hadapannya. "kamu terlihat lebih jinak!" Dino berkata tanpa menyadari akibat kata-katanya.

Hibari mengalihkan pandangannya dari TV dan menatap Dino tajam. Dino langsung panik melihat aura membunuh mulai keluar dari Hibari.

"Eh, maksudku, biasanya kamu tidak pernah mendengar perkataan orang lain, tapi kamu mau mendengarkan perkataan Yuki," Dino berusaha memberikan alasan agar Hibari tidak menyerangnya.

"Tidak ada yang bisa memerintah dan menyuruhku, Haneuma. I'll bite you to death," Hibari berdiri sambil memegang tonfa di tangannya.

DUAK

PRAK

Hibari memukul Dino, tetapi dia berhasil menghindar. Sayang, pukulan Hibari tadi mengenai meja pendek di ruangan itu, hingga gelas di atasnya jatuh dan pecah. Hibari mengambil posisi lagi dan Dino dengan panik mengambil cambuknya, yang sayangnya malah dia jatuhkan.

Dino kembali menghindar tanpa sempat mengambil cambuknya yang jatuh. Hibari menyerang ke arah Dino, Dino berusaha menghindar, tetapi kakinya tersandung meja yang sudah patah sehingga di terjatuh di depan TV.

Hibari melayangkan tonfanya yang dihindari Dino dengan berguling sehingga tonfanya mengenai TV dan menghancurkan TV itu beserta sebuah vas bunga kecil dengan motif naga di atas TV itu. Miyuki memasuki ruang tengah dan menghela napas begitu melihat keadaan ruang tengahnya.

Hibari terlalu sibuk berusaha memukul Dino, sedangkan Dino terlalu sibuk menghindari serangan Hibari sehingga mereka tidak sadar kalau Miyuki memperhatikan mereka. Miyuki tersadar dari keterkejutannya begitu Hibari kembali menghantamkan tonfanya ke arah TV yang sudah hancur.

"Mou, Kyo-nii!" Miyuki menyilangkan tangannya di depan dada sambil menatap kakaknya dengan kesal.

Hibari menghentikan gerakannya dan membalikkan badannya, menatap adiknya. Dino melihat Miyuki berdiri di depan pintu dan memandangnya seperti seorang penyelamat. Dia menggunakan kesempatan ini untuk mengambil cambuknya.

Miyuki mengarahkan pandangan pada semua kekacauan sebelum memandang Hibari dengan alis terangkat. Hibari menyimpan tonfanya kembali sambil mengedikkan bahunya.

"Aku sudah bilang jangan berkelahi di dalam rumah. Lihat semuanya berantakan," Miyuki menghampiri kakaknya yang duduk di depan separuh dari meja yang hancur.

"Besok semuanya akan beres," Hibari menolak menatap adiknya dan memandang pepohonan dari jendela yang terbuka.

"Bukan itu masalahnya. Kalau setiap kali Kyo-nii bertengkar dan menghancurkan barang-barang, bagaiman kalau Paman pulang? Mau bilang kita renovasi atau ganti suasana lagi? Paman sudah berbaik hati mau menjadi wali kita, setidaknya jagalah barang yang dia berikan sebagai oleh-oleh," Miyuki mendekati TV dan menyentuh vas bunga yang pecah sambil menghela napas.

"Tanpa dia pun aku bisa sendiri," wajah dan nada bicara Hibari tetap datar, tidak berubah.

"Kalau Paman tidak ada, kita sudah masuk panti asuhan," Miyuki mengerutkan dahinya kepada kakaknya.

"Ah, maaf, ini salahku membuat Kyoya marah," Dino yang sejak tadi menatap mereka dari depan meja menatap Miyuki dengan pandangan bersalah, berusaha menghentikan pertengkaran kecil mereka berdua.

"Tidak, ini karena Kyo-nii tidak bisa menjaga emosi!" Miyuki menghela napas sambil menatap wajah datar kakaknya. "Coba kalau-,"

"Nee-chan, sabunnya habis,"

Ucapan Miyuki berhenti karena sebuah suara dari arah pintu. Miyuki dan Dino yang memang menghadap pintu jawdrop melihat Ririn berdiri di depan pintu yang terbuka dengan wajah datarnya dan rambutnya yang basah.

Sebenarnya, bukan karena Ririn memegang sabun atau rambutnya yang basah yang membuat mereka jawdrop seperti itu, tetapi penampilannya. Ririn tidak memakai pakaian-dengan kata lain telanjang- sekali lagi TELANJANG!

Hibari yang melihat ekspresi ke dua orang di hadapannya mengangkat alisnya dan membalikkan tubuhnya untuk melihat apa yang membuat mereka berekspresi seperti itu. Dino yang tersadar langsung melompat ke arah Hibari.

"Kyoya, kamu tidak boleh lihat!" Dino memekik sambil menutup mata Hibari dengan kedua tangannya.

Bisa di perkirakan, sang Skylark merasa kesal di perlakukan begitu. Dia langsung menghantamkan meninju wajah Dino keras yang membuat pria itu terpental. Hibari lalu membalikkan badannya dan menaikkan alisnya melihat gadis berwajah datar tak berbusana yang sedang memegang botol sabun dan melihat ruangan itu dengan pandangan bingung.

Tubuhnya memang kecil walaupun dia suka makan makanan manis. Perutnya rata dan rambut basahnya sebagian berada di depan, sedikit menutupi dadanya yang sedikit terlalu besar untuk anak seumurannya dengan tinggi badan sepertinya.

Hibari dan Ririn bertatapan selama beberapa saat. Tiba-tiba Ririn merasakan sesuatu membungkus badannya. Dia mendongakkan kepalanya dan melihat Miyuki tersenyum kecil kepadanya. Ternyata begitu tersadar Miyuki langsung mengambil handuk ke kamar mandi untuk Ririn.

"Ririn, kamu tidak boleh jalan-jalan tanpa pakaian seperti itu di depan laki-laki!" Dino mengusap dagunya yang memerah akibat dihantam tonfa oleh Hibari. "Apalagi di sini ada Kyoya!" Dino menunjuk Hibari yang sekarang menatapnya dengan tajam, seakan mengatakan 'apa masalahnya?'.

"Kenapa? Ririn juga pernah mandi bareng Kakak," Ririn memegang ujung handuk yang membungkusnya sambil memiringkan kepalanya menatap Dino.

"Pedofil," Hibari menatap Dino dengan tatapan menuduh.

"Hey, itu hanya sampai tahun kemarin! Aku tidak pernah mandi dengannya lagi sejak tahun ini!" Dino menatap Hibari dengan wajah yang sedikit memerah. "Lagipula waktu itu Ririn yang memaksaku," tambahnya, berusaha beralasan. 'Dan dia terlalu manis! Dan dia memanggilku Kakak' Dino membatin, mengingat saat awal-awal Ririn memanggilnya Kakak.

"Tapi Kakak tidak mau mandi bareng Ririn lagi," Ririn mengerutkan dahinya mengingat kakaknya selalu menolak mandi bersama dengannya selama beberapa bulan terakhir.

"Itu karena kamu sudah remaja, tidak baik mandi dengan laki-laki, walau aku Kakakmu! Dan, Ririn, kamu tidak boleh menunjukkan tubuhmu pada laki-laki lain, seperti Kyoya!" Dino sekali lagi menunjuk Hibari yang langsung ditampik oleh orang yang bersangkutan sambil mendesis kesal.

"Kakak juga sering tidak pakai baju kalau habis mandi,"

"Aku kan laki-laki, dan itu hanya bagian atas, tidak telanjang!" Dino, masih dengan sedikit panik karena adiknya hanya memakai handuk yang hanya menutupi setengah tubuhnya.

"Tapi waktu Ririn di tempat eksperimen, professor-professor itu semuanya laki-laki dan Ririn sering telanjang untuk di periksa oleh mereka?" Ririn kali ini semakin bingung dengan setiap jawaban kakaknya. Apa masalahnya?

"Mereka bukan orang yang baik, Ririn," Dino berusaha agar dia tidak berteriak kepada adiknya itu.

Sungguh, di kadang bingung dengan emosi apa saja yang dimiliki adiknya. Setelah tiga tahun bersama Ririn, ekspresi yang paling sering muncul dari gadis itu hanya ekspresi bingung. Selebihnya hanya matanya yang berekspresi, itu pun kalau diperhatikan dengan seksama karena wajahnya tetap datar walau matanya menunjukkan dia merasa tertarik terhadap suatu hal.

"Ririn-chan, kurasa maksud Dino-san, karena kamu adalah seorang perempuan, maka kamu harus lebih menjaga tubuhmu. Kamu tidak boleh memperlihatkan tubuhmu pada laki-laki," Miyuki berusaha menjelaskan kepada Ririn, merasa kasihan melihat Dino yang frustasi menjelaskan hal itu pada adiknya yang kelewat polos dan tidak beremosi.

"Kenapa?"

Hibari menatap semua kejadian itu sambil meminum teh yang enath sejak kapan ada di tangannya. Dia merasa kejadian di hadapannya sedikit lucu. Setidaknya dia memiliki hiburan karena dia baru saja menghantam TV miliknya dengan tonfanya sendiri.

Hibari memperhatikan Miyuki yang berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk Ririn. Malu? Ririn tidak mengerti rasa malu. Masa iya mau menjelaskan tentang seks pada anak sepolos itu? Hibari tersenyum kecil melihat adiknya kesulitan menjelaskan kepada Ririn.

Pandangannya lalu teralih pada Ririn. Satu-satunya perempuan selain adiknya yang berani menentangnya dan tidak takut kepadanya. Terlihat dengan jelas di wajah gadis itu kalau dia sama sekali tidak mengerti dengan penjelasan Dino dan Miyuki sebelumnya.

Dino yang memperhatikan Miyuki dan Ririn mengalihkan pandangannya pada Hibari. Dia melihat Hibari tersenyum kecil.

"Kyoya, berhenti menatap Ririn!" Dino memegang dagu Hibari dan memutar wajahnya hingga menghadap dirinya.

Kesal, Hibari lagi-lagi memukul Dino dengan tonfanya di perut Dino. Dino langsung tersungkur memegang perutnya. Miyuki menghela napas dan pergi ke luar ruangan itu. Tidak lama kemudian dia kembali membawa sebotol sabun baru.

"Ririn-chan, kamu kembali ke kamar mandi ya, nanti aku menyusulmu," Miyuki memberikan botol sabun itu pada Ririn dan mengambil botol yang sudah habis dari tangan gadis itu.

Ririn menganggukkan kepalanya dan mengambil botol sabun yang diberikan Miyuki. Dia lalu kembali ke kamar mandi dengan handuk menggantung di tubuhnya dan membawa sabun.

Setelah rasa sakit di perutnya berkurang, Dino duduk sambil memegang perutnya.

"Aduh, Kyoya! Apa-apaan itu!" Dino menatap Hibari yang menyesap tehnya dengan tenang.

Hibari tidak mengatakan apapun, bersikap seakan Dino tidak ada di sana. Miyuki mendekati Hibari dan duduk di sebelahnya sambil menatap Dino.

"Terima kasih sudah membantu menjelaskan Yuki, walaupun aku tidak yakin dia mengerti tentang hal itu," Dino tersenyum kepada Miyuki.

"Ah, tidak apa-apa," Miyuki tersenyum kepada Dino. "Maaf, tapi kalau aku boleh tahu, professor-professor itu..?" Miyuki menggantung kalimatnya dan menatap Dino dengan pandangan bertanya.

"Ah, sepertinya itu saat dia di sekap Ririn di jadikan objek eksperimen," Dino tersenyum pahit mengingat banyak bekas jarum dan beberapa luka kecil yang tidak diketahui sebabnya saat pertama menemukan Ririn.

Hibari menyesap tehnya dengan sikap tidak peduli, namun merasa tertarik mendengar cerita Dino. Miyuki melebarkan matanya dan menutup mulutnya dengan satu tangannya.

"Eksperimen apa...?" Miyuki menatap Dino dengan pandangan tidak percaya.

"Entahlah, aku tidak pernah bertanya padanya. Aku tidak ingin dia mengingat hal-hal yang menyedihkan. Aku ingin dia melupakannya," Dino tersenyum kecil. "Dia memang mengatakan hal itu dengan ekspresi dan nada bicara seperti itu, datar seakan tak peduli, tetapi aku tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaannya. Apa yang dirasakan Ririn saat dia membicarakan hal itu?" Dino menghela napas lelah.

Dino mengangkat pandangannya dan melihat Miyuki yang menatapnya khawatir. Sadar kalau dia sudah bicara berlebihan, Dino mengeluarkan senyumnya yang biasa seakan mengatakan kalau dia baik-baik saja.

"Tapi karena Ririn yang sekarang terlihat senang, jadi aku tidak pernah memikirkan hal itu lagi," Dino tersenyum sambil tersenyum lebar, membuat Miyuki tersenyum.

"Baiklah, sepertinya sudah waktunya aku menyusul Ririn-chan. Aku bilang akan menyusulnya tadi," Miyuki berdiri dan meninggalkan ruangan itu.

Begitu Miyuki keluar dari ruangan, pandangan Dino mengarah pada Hibari. Laki-laki itu menatap pepohonan melalui pintu geser dengan tenang. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

"Kyoya," Dino memanggil Hibari yang tidak ditanggapi. "Aku tahu kamu mendengarku. Aku hanya memperingatkanmu, jangan macam-macam dengan Ririn, Kyoya," Dino menatap Hibari serius walau ada senyum di wajahnya.

Hibari menatap Dino dengan tertarik. Aura yang dipancarkan Dino berbeda dengan biasanya. Lebih serius dan menekan. Hibari bisa merasakannya, aura Dino sebagai seorang Don Cavallone. Senyum di wajahnya seakan tidak mengurangi kilat yang berisi ancaman di mata Dino. Hibari merasa sangat tertarik untuk bertarung melawan Dino yang seperti itu.

"Apa maksudmu, Haneuma?" Hibari hanya bertanya dengan tenang, masih memegang gelas tehnya (karena mejanya dia hancurkan).

"Kamu tahu apa maksudku Kyoya," Dino masih tersenyum sambil menatap Hibari. "Dia tidak mengerti bahaya dengan lawan jenis. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, dia seperti bayi yang baru lahir, seperti anak-anak," Dino berbicara dengan tenang, berbeda dengan dirinya yang biasa.

"Hn, siapa yang mau macam-macam dengan Chibi-Herbivore itu," Hibari mendengus meremehkan Dino.

Lalu dia teringat Ririn yang masuk ke ruangan itu tanpa pakaian. Yah, mungkin memang tidak seperti anak-anak. Tapi tetap saja, siapa yang mau menyentuh gadis berwajah datar dengan penampilan seperti anak SD itu? Hibari mendengus mendengar perkataan Dino.

Selama ini dia tidak pernah dekat, peduli ataupun tertarik pada perempuan. Satu-satunya perempuan yang dekat dengannya hanya Miyuki, adiknya sendiri, karena bisa diperkirakan semua perempuan walau merasa Hibari sangat tampan, tidak ada yang berani mendekatinya karena aura membunuh yang setiap hari dikeluarkan. Kenapa sekarang dia akan tertarik dengan perempuan berumur hampir empat belas tahun yang seperti anak SD?

Lagipula dia tidak tertarik berdekatan dengan perempuan karena menurutnya perempuan itu herbivore paling menyusahkan. Kesampingkan adiknya dan Rika. Miyuki mungkin memang perempuan dan dia bisa menjadi herbivore yang menyebalkan jika sedang menceramahi kakaknya, tetapi selain itu dia gadis yang cukup tenang.

Sedangkan Rika, walau bertahun-tahun tinggal di kota yang sama, Hibari tidak pernah mengunjunginya walaupun sekali sejak Miyuki pindah ke Tokyo. Pertemuan pertama setelah bertahun-tahun paling saat di taman. Beruntung, Rika tipe perempuan lembut, pendiam, penyabar dan ramah. Walaupun mereka bertemu setidaknya Rika tidak seperti perempuan Vongola yang berisik (Kyoko, Haru, Hana dan Bianchi. Kesampingkan Chrome, Hibari tidak terlalu memperhatikannya karena dia pendiam dan mengingatkannya pada Mukuro).

"Hei, itu daya tariknya! Dia mungil, manis dan imut seperti boneka," tiab-tiba sifat Dino berubah lagi. Sister complex mode: ON!

Hibari hanya mengangkat sebelah alisnya melihat perubahan sifat Dino. Sekarang di mata Hibari Dino benar-benar terlihat seperti orang idiot dengan binar di wajah dan matanya, senyumnya kembali menjadi senyum konyolnya yang biasa.

"Dengan mata silvernya yang bulat dan besar, rambut hitam bergelombangnya, kulitnya yang-"

DUAK

Hibari yang merasa kesal mendengar Dino yang dengan antusias bercerita tentang Ririn melempar tonfanya hingga membentur kepalannya.

"Ooowie! Aduh, Kyoya, kenapa aku dilempar tonfa?" Dino mengusap kepalanya yang terkena tonfa Hibari.

"Berisik," Hibari mendengus sambil mengalihkan pandangannya dari Dino ke tanaman di luar.

Dino menggumamkan beberapa kata yang tidak dapat dimengerti oleh Hibari sambil merengut. Hibari mengabaikan Dino dan melihat sekilas kekacauan yang di buatnya di ruangan itu. Sepertinya besok dia harus menyuruh sesorang untuk membereskan kekacauan ini sebelum mereka pulang sekolah besok karena dia tidak mau mendengar omelan Miyuki.

Adik yang baik dan perhatian memang, tapi kalau sudah mulai mengancam dan mengomel, dia lebih mirip ibu-ibu di bandingkan seorang adik.

"Hhh, Kyoya, sepertinya aku harus kembali sekarang, aku masih ada pekerjaan," Dino melihat jam tangannya sambil menghela napas.

"Dino-san sudah mau pulang?"

Miyuki dan Ririn tiba-tiba muncul dari pintu yang terbuka. Miyuki memakai piyama berwarna merah sedangkan Ririn memakai piyama yang sama hanya saja berwarna biru.

"Yuki, Ririn," Dino tersenyum sambil berjalan ke arah mereka. "Yah, besok kalian sekolah, aku tidak mau mengganggu waktu istirahat kalian," Dino mengusap rambut basah Ririn smabil tersenyum.

"Ririn, besok kamu mulai sekolah. Jangan berbuat macam-macam oke? Jaga dirimu baik-baik. Kalau ada yang berani menindasmu bilang saja pada Kakak. Kalau kamu-," Dino mulai berkata dengan pandangan dan nada khawatir pada Ririn.

"Kakak, sudahlah. Ririn baik-baik saja. Lagi pula bukankah Ririn akan masuk ke kelas yang sama dengan Nee-chan? Kakak terlalu khawatir, Ririn bukan anak kecil," Ririn menatap kakaknya datar.

Hibari mendengus mendengar perkataan Ririn. Lucu, mendengarnya dari seorang anak yang tidak mengerti rasa malu dan jalan-jalan di rumah orang telanjang.

"Benar, Dino-san tenang saja, aku akan menjaga Ririn-chan," Miyuki tersenyum menenangkan pada Dino.

"Baiklah. Tapi biar kuberi tahu beberapa hal tentang Ririn agar kamu tahu. Pertama, Ririn itu heavy sleeper dan tidak akan bisa di bangunkan walau diapakan sekalipun. Tapi, Ririn selalu bangun di jam yang sama di pagi hari, jadi kamu tidak perlu takut terlambat," Dino tersenyum pada Miyuki yang menganggukkan kepalanya.

"Kedua, walaupun makannya sedikit, kalau makanan manis, ringan atau snack Ririn bisa makan dalam jumlah yang sangat banyak. Ketiga, Ririn sangat-sangat tidak tahan dingin, dia juga mudah tertidur, lalu-,"

"Kakak, Ririn baik-baik saja, berhentilah bersikap berlebihan," Ririn memotong ucapan Dino.

Mengingat berapa lama dan panajangnya ceramah dan nasehat yang Dino berikan saat dia akan menginap di Millefiore, Ririn sudah cukup bosan dengan hal itu. Untunglah Luce cukup tenang menghadapi Dino dan saat itu tidak ada Aria. Kalau ada Aria, bisa dipastikan gadis tomboy itu akan langsung memotong Dino.

"Tapi, tapi-," Dino menatap adiknya dengan pandangan memelas yang tidak dipedulikan oleh Ririn.

"Ririn-chan benar. Dia kan baik-baik saja di sini, aku akan menjaganya," Miyuki tersenyum berusaha menenangkan Dino.

"Baiklah," Dino menghela napas pasrah. "Kalau begitu, Kakak pulang dulu, sampai bertemu di sekolah besok," Dino memeluk Ririn dan mencium dahi gadis itu.

Miyuki dan Ririn mengantar Dino sampai ke depan pintu. Dino sempat tersandung meja telepon dan salah memasang tali sepatunya, tetapi selebihnya dia baik-baik saja. Miyuki kembali ke ruang tengah untuk merapihkan pecahan vas dan gelas, di bantu oleh Ririn, sedangkan Hibari sudah kembali ke kamarnya.

"Ah," Ririn melihat tangannya yang tergores dan mengeluarkan darah.

"Ririn-chan, kamu tidak apa-apa? Tunggu, biar kuambilkan obat," Miyuki baru akan berdiri saat Ririn menarik lengan bajunya.

"Tidak apa-apa, hanya tergores. Lukanya akan hilang nanti," Ririn menatap Miyuki dengan datar, tidak menunjukkan kalau dia kesakitan.

"Apa itu juga salah satu kekuatanmu?" Miyuki menatap Ririn yang menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Tapi, tetap saja aku akan membersihkan lukamu. Secepat apapun kamu smebuh, kalau terluka kamu harus merawat lukanya," Miyuki berjalan ke arah salah satu lemari dan mengambil kotak P3K.

Miyuki membersihkan luka di tangan Ririn dan menutupnya dengan plester. Ririn menatap tangannya yang terbungkus plester. Dia tidak pernah memakai benda itu sebelumnya, rasanya aneh.

"Terima kasih," Ririn menatap Miyuki yang meletakkan kembali kotak P3K nya ke dalam lemari sambil tersenyum ke arahnya.

Setelah mereka membersihkan pecahan kaca itu, Ririn dan Miyuki ke kamar Miyuki. Miyuki memberikan Ririn sebuah tas hitam dan beberapa buku tulis.

"Nah, besok kamu pakai ini ke sekolah," Miyuki tersenyum pada Ririn yang menganggukkan kepalanya sambil memeluk Rin yang sejak tadi ditinggal di kamar.

Miyuki lalu mengeluarkan seragam sekolahnya dari dalam lemari. Untunglah Miyuki memiliki tiga seragam sekolah, jadi dia bisa meminjamkan satu kepada Ririn. Miyuki menyuruh Ririn mencoba seragamnya.

Ririn menuruti perintah Miyuki dan memakai seragam itu. Miyuki hanya bisa menggaruk pipinya melihat penampilan Ririn dengan seragamnya. Seragam itu sedikit kebesaran untuknya. Roknya kebesaran, sedikit melewati lutut dan agak longgar, lengan seragamnya terlalu panjang, mencapai jari jempolnya. Blazernya kepanjangan dan tangan Ririn tenggelam. Miyuki memutuskan memberikan Ririn sweater tanpa lengan berwarna hitam dari pada blazer.

Setidaknya, baju itu tidak terlalu terlihat kebesaran untuk Ririn karena kemeja putihnya di masukkan ke dalam rok sehingg tidak terlihat kalau sebenarnya mencapai paha dan beruntung karena badan Miyuki yang terbilang langsing, setidaknya ukuran badannya hampir sama dengan Ririn.

Miyuki lalu mendekati Ririn dan mencoba membuat seragam itu terlihat lebih pantas untuknya. Miyuki mengeluarkan alat jahit dan menjahit lengan baju Ririn beberapa senti juga melipat rok Ririn. Miyuki tersenyum puas melihat hasil kerjanya.

Lengannya seragamnya jatuh tepat di pergelangan tangannya, walau terlihat sedikit kebesaran, setidaknya membuat seragamnya lebih panatas untuknya. Roknya hanya bisa dilipat hingga lutut agar tidak terlalu longgar dan Miyuki menjahit sedikit bagian atasnya, walau umumnya ukuran rok di Jepang sekitar lima belas senti dari lutut.

Miyuki memperhatikan seragamnya yang dipakai Ririn. Setidaknya Kakaknya tahu kalau Ririn belum punya seragam dan sedikitnya bisa mentolerir seragam Ririn sekarang. Miyuki hanya bisa berharap seragam sekolah Ririn bisa cepat selesai, karena biasanya seragam sekolah yang di pesan di pertengahan tahun ajaran seperti ini akan lama selesainya.

Setelah mengganti bajunya dengan piyama kembali, Ririn berjalan ke arah jendela dan menatap langit penuh bintang. Ririn hanya bisa melihat sedikit cahaya bulan yang tertutup awan. Miyuki yang baru selesai memasukkan kembali seragam ke dalam lemari menghampiri Ririn.

"Ririn-chan, ada apa?" Miyuki mengikuti pandangan Ririn ke langit.

"Bulannya tidak terlihat," Miyuki menunjuk ke arah cahaya pudar di langit.

"Kamu benar," Miyuki mengikuti arah pandangan Ririn lalu menatap Ririn. "Ririn-chan suka bulan?" Miyuki menatap Ririn sambil tersenyum.

"Um," Ririn menganggukkan kepalanya.

"Ne, Ririn-chan," Miyuki memanggil Ririn pelan sambil menatap bulan yang sedikit terlihat karena awan mulai bergerak. "saat Reborn-san mengatakan aku akan di beri animal weapon, apa saat itu dia tahu tentangmu?" Miyuki melanjutkan walau gadis itu tidak menjawab karena dia tahu gadis itu mendengarkan.

"Tidak. Reborn-jii-chan berbicara pada Paman. Ririn yang meminta Paman merahasiakan tentang Ririn dan Ririn yang membuatkan animal weapon melalui Paman saat Paman menerima surat itu,"

"Tapi bagaimana bisa Reborn-san tidak mengetahui tentangmu di tempat Pamanmu? Bagaimana mungkin dia tidak tahu tentang keberadaanmu di tempat Dino-san?" Miyuki mengalihkan pandangannya dan menatap Ririn bingung.

"Karena Ririn meminta Kakak merahasiakan keberadaan Ririn dari orang lain. Keberadaan Ririn diketahui oleh Millefiore karena kekuatan shaman milik perempuan dari Goglio Nero seperti menarik kami untuk bertemu. Saat itu Millefiore datang ke mansion dan Ririn bertemu dengan Yuni dan Byakuran. Selain Millefiore, tidak ada yang tahu tentang Ririn di rumah Kakak,"

"Tapi Reborn-san selalu tahu semuanya. Bagaimana kamu bisa menyembunyikan keberadaanmu di tempat Dino-san?"

"Karena Ririn tahu setiap kali ada orang yang mencari informasi di dekat mansion atau mencari informasi tentang Ririn. Seperti Ririn tahu Nee-chan memasukkan alat penyadap di tas Ririn," Ririn berkata datar sambil menunjuk tas rajutnya yang ada di atas meja.

"Kamu sadar?" Miyuki mengangkat sebelah alisnya, tidak menyangka gadis itu menyadari dirinya menyadap dia. "Kenapa tidak kamu buang saja alat penyadapnya?" Miyuki kembali bertanya dengan penasaran.

"Selama tidak merugikan Ririn, Ririn tidak mempermasalahkannya," jawab gadis itu datar yang membuat Miyuki sweatdrop.

Dia tidak menyangka gadis sepolos itu sadar dirinya di sadap, padahal kakaknya tidak sadar saat Miyuki menyadapnya. Tidak hanya itu, dia bahkan membiarkan dirinya di sadap hanya karena dia tidak peduli.

"Baiklah," Miyuki menghela napas sambil tersenyum.

Sedikit demi sedikit dia mengenal gadis itu. Miskin ekspresi, cuek, tidak kenal malu, tidak kenal takut dan polos. Seperti seorang bayi yang baru lahir. Dia juga tidak mengenal dunia.

Miyuki mengalihkan pandangannya dan melihat jam dinding yang menunjukkan waktu mulai larut. Mengingat besok mereka harus sekolah, Miyuki mengajak Ririn untuk tidur. Miyuki tersenyum melihat Ririn yang tidur di sebelahnya. Dia benar-benar merasa seperti memiliki seorang adik perempuan. Tidak lama kemudian dia tertidur.

XXXXX

Readers, tolong kalo ini perlu ganti rate dibilang aja, karena Sacchan nggak ngerti standarnya kalo perlu ganti rate. Tapi Sacchan nggak bakal nulis yang bener-bener rated sih, kayaknya cuma chapter ini aja.

Readers, sabar ya nunggu update, karena liburan Sacchan udah selesai nih. Tapi Sacchan tetep usahain biar update nggak leih dari seminggu kok~