Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Hikage Natsuhimiko : Ahahaha, iya nih, si Ririn kelewat polos kelamaan disekap sama para professor pedofil. Dino terlalu over protectif sama Ririn tuh, jadi jelek-jeleknya dia kalo lagi sama cewek-cewek di mafia nggak ditunjukkin ke Ririn, kan biar Ririn tetep polos. Nggak bisa membayangkan Hibari dengan kepala di bebat kayak mumi, nanti Ririn manggilnya apa tuh? Vampire-Mumi-san? Panjang amat. Iya, kayaknya emosi-emosinya kebanyakan diambil Yamamoto, Ryohei, Gokudera deh. Mereka berdua jadi cuma kebagian emosi datar. Iyalah dia sadar, kan waktu valentine ruang komite selalu penuh dengan cokelat misterius tanpa nama dari fans girlnya (mereka takut digigit kalo nulis nama), yang sayangnya nggak disentuh Hibari dan diurus Kusakabe. Memang, Dino jauh lebih membahayakan karena pelukan mautnya itu dan sikap overnya kalo udah nyangkut Ririn. Pasangan sesama muka datar, berbeda sifat. Yang satu polos dan jujur, yang satu cuek dan sadis. Malaikat dan setan! Kyaaa~(fans girl sendiri bayangin mereka berdua). Oke, Sacchan nggak ganti ratingnya. Hikage-san, Sacchan minta maaf karena untuk chapter selanjutnya akan di lanjutkan beberapa minggu ke depan berhubung Sacchan banyak banget tugas.
ByuuBee : Byuu-san, terima kasih sudah memfollow cerita Sacchan ya! Semoga kamu menyukai cerita yang Sacchan buat ini!
Minna, selamat membaca chapter ini!
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
First Day At School
.
.
.
Miyuki sedang memasak untuk bento, sedangkan di sampingnya Ririn sedang menyusun sarapan untuk mereka bertiga. Ririn mengambil sebuah mangkuk dan mengisinya dengan makanan untuk anak anjing lalu meletakkannya di sudut dapur yang dengan senang di ikuti Rin. Miyuki melihat jam sekilas. Sebentar lagi kakaknya akan keluar karena dia akan memeriksa setiap murid pagi ini.
"Miyuki, Ririn, pagi~ ," sebuah suara imut memasuki ruangan diikuti sesosok makhluk mungil kuning yang terbang memasuki dapur. "sarapan, sarapan," Hibird berkicau sambil hinggap di meja kecil tempat makanannya biasa di letakkan. Sesaat kemudian Hibari memasuki ruang makan.
"Pagi Kyo-nii, Hibird,"
"Pagi, Hi-chan, Vampire-san,"
Hibari langsung menatap tajam Ririn yang sayangnya tidak di pedulikan karena Ririn langsung menyiapkan makanan untuk Hibird. Begitu selesai menyiapkan makanan untuk Hibird, Ririn membantu Miyuki menyiapkan sarapan. Ririn membawa piring yang sudah di susun olehnya sebelumnya dan membawanya kepada Hibari.
Hibari menatap Ririn sekilas saat gadis itu meletakkan makanan dan kopi di hadapannya lalu menatap sarapannya. Hibari memicingkan matanya menatap sarapannya kali ini. Dia merasa ingin melempar makanan di hadapannya.
Sarapannya kali ini adalah roti panggang. Di atasnya ada keju yang di bentuk seperti rumput di bagian setengah kebawah, di bagian atasnya di letakkan dua chicken nugget yang di bentuk menyerupai anak ayam dengan mata dan sayap, cacing juga kaki dari saus.
"Chibi-Herbivore," Hibari menggeram rendah.
Miyuki dan Hibari kembali dari dapur dan membawa sarapan milik mereka beserta minuman mereka. Miyuki mengangkat alisnya dan menahan senyum geli begitu sampai di meja dan melihat sarapan kakaknya.
Memang, sejak tadi Miyuki dan Ririn bersama-sama di dapur, tapi bukan berarti Miyuki terus memperhatikan apa yang dilakukan Ririn pada makanan mereka. Sejak tadi, Miyuki mengurus bento mereka, sedangkan Ririn mengurus sarapan mereka. Jujur, saat melihat sarapannya dia tidak menyangka kakaknya juga mendapat sarapan yang serupa.
Ririn sama sekali tidak menghiraukan Hibari dan mulai memakan sarapannya. Hibari menggeram rendah dengan kesal.
"Kyo-nii, sudahlah," Miyuki tersenyum berusaha menenangangkan kakaknya. "Kyo-nii harus segera berangkat kan? Bukankah hari ini Kyo-nii akan memeriksa murid-murid di gerbang depan?" Miyuki berusaha agar kakaknya itu melepaskan gadis di sampingnya.
"Hn,"
Hibari mendengus lalu menatap rotinya sesaat. Hibari akhirnya melipat roti itu dan memakannya. Miyuki tersenyum kecil karena bisa dipastikan kalau kakaknya tidak mau makan sambil menatap makanan yang terlihat kekanakan itu.
Hibari dengan cepat menyelesaikan sarapannya. Begitu dia selesai dan mengambil tasnya, berniat untuk pergi, Miyuki memanggilnya.
"Kyo-nii, bento mu!"
Miyuki menghampiri Hibari di depan pintu masuk dan memberikan bekal milik Hibari. Hibari mengambil bekal di tangan Miyuki dan pergi sambil mengangukkan kepalanya pada Miyuki dengan Hibird di bahunya.
"Selamat jalan, Kyo-nii, hati-hati," Miyuki tersenyum pada kakaknya.
Begitu Hibari sudah pergi, Miyuki menghampiri Ririn yang sedang mencuci piring bekas sarapan dan membantunya. Begitu selesai, Miyuki mengajak Ririn untuk pergi ke sekolah, namun Miyuki mengerutkan dahinya melihat Ririn memeluk Rin.
"Umm, Ririn-chan, sebaiknya kamu tidak membawa Rin ke sekolah," Miyuki menatap Rin yang berada di pelukan Ririn.
"Ririn mau bersama Rin. Lagipula, Vampire-san juga membawa Hi-chan,"
"Kalau begitu bawa saja,"
Sebuah suara tiba-tiba muncul, membuat dua gadis itu menolehkan kepala mereka ke sumber suara.
"Ciaossu," Reborn, entah sejak kapan berdiri di meja telepon.
"Selamat pagi, Reborn-san,"
"Reborn-jii-chan,"
Miyuki dan Ririn menatap sesosok bayi dengan stelan yang sedang duduk di meja dekat telepon.
"Kalau kamu mau membawa anak anjing itu, bawa saja ke sekolah,"
"Rin bukan anak anjing, Rin serigala,"
Reborn menatap Rin yang ada di pelukan Ririn, lalu kembali menatap Ririn.
"Familiarmu?"
"Um," Ririn mengangukkan kepalanya diikuti suara Rin, seakan mengiyakan.
"Hmm, begitu," Reborn menatap Rin sekali lagi.
"Reborn-san, apa maksudmu bawa saja Rin ke sekolah? Kyo-nii pasti tidak akan mengizinkan Rin di bawa ke sekolah karena di anggap mengganggu," Miyuki bertanya pada Reborn dengan dahi berkerut.
"Tidak ada salahnya kan mencoba? Dia juga selalu membawa Hibird dan di sekolah tidak ada peraturan tidak boleh membawa binatang peliharaan ke sekolah," Reborn menjawab dengan nada seakan tidak peduli.
"Itu kan karena tidak akan ada orang yang membawa binatang ke sekolah saat belajar. Itu seperti peraturan tidak tertulis," Miyuki menghela napas lalu melihat ke arah Ririn. "Yah, kurasa tidak ada salahnya kalau kita mencoba membawa Rin," Miyuki tersenyum kecil sambil mengelus Rin yang membalasnya dengan senang.
Saat Ririn sudah memakai sepatunya dan menunggu Miyuki di luar rumah, Miyuki memandang Reborn dengan curiga.
"Reborn-san, apa yang kamu rencanakan?"
"Apa maksudmu?" Reborn bertanya dengan nada polosnya.
"Aku tidak sebodoh itu. Aku tahu kamu pasti merencanakan sesuatu, Reborn-san," Miyuki mendengus. "sudahlah, aku harus berangkat. Aku harus mengantarkan Ririn-chan ke ruang kepala sekolah. Apapun yang kamu rencanakan, aku berharap kamu tidak terlalu berlebihan," ucap Miyuki sambil berjalan keluar rumah dengan Reborn di bahunya.
Reborn hanya menurunkan topi fedoranya sambil menyeringai. Insting Miyuki memang tajam.
XXXXX
Hari pertama setelah Golden Week, suasana menjadi lebih ceria. Banyak murid-murid yang dengan ceria menceritakan apa yang mereka lakukan selama liburan.
Miyuki dan Ririn memasuki gerbang sekolah diikuti tatapan siswa-siswi. Miyuki yang cantik dan Ririn yang manis otomatis membuat semua murid menoleh pada mereka. Banyak yang bertanya-tanya siapa gadis mungil manis yang bersama dengan idola mereka.
Ririn yang melihat Hibari di depan gerbang sekolah menghentikan langkahnya di depan Hibari. Miyuki menatap Hibari dan Ririn dengan pandangan bertanya.
"Kenapa Vampire-san berdiri di sini?" Ririn bertanya dengan datarnya sambil memiringkan kepalanya.
Hibari dapat merasakan matanya berkedut kesal mendengar panggilan yang di berikan Ririn padanya.
"Karena Kyo-nii adalah ketua Komite Kedisiplinan di sekolah ini, Kyo-nii memeriksa siswa-siswi di sini jika ada yang melanggar peraturan," Miyuki tersenyum sambil menjelaskan pada Ririn.
Ririn kembali menatap Hibari yang menatapnya tajam lalu melihat Rin yang di peluk Ririn.
"Chibi-Herbivore, dilarang membawa binatang peliharaan ke sekolah. I'll bite you to death," Hibari mengeluarkan tonfanya dan menerjang Ririn yang membuat semua siswa-siswi dan Miyuki terkejut.
Siswa-siswi itu tidak menyangka Hibari akan menerjang gadis mungil nan manis itu. Mereka hanya bisa melihat gadis itu dengan kasihan. Miyuki terkejut Hibari langsung menerjang ke arah nya dan Ririn, sehingga membuat refleksnya menghindar dan tidak sempat menolong Ririn.
Ririn yang melihat Hibari menyerang ke arahnya menghindar dengan pelan ke samping, membuat Hibari lewat tepat di sampingnya. Hibari kembali menyerang yang bisa dihindari oleh Ririn. Miyuki hanya tersenyum sedangkan siswa-siswi lainnya terlihat kagum karena Ririn bisa menghindari serangan-serangan Hibari.
"Kyoya, hentikan!"
Tiba-tiba sebuah suara menghentikan serangan Hibari bersamaan dengan Ririn merasakan tubuhnya diangkat, membuat serangan terakhir Hibari tidak mengenainya. Hibari menggeram dan melihat pemuda berambut pirang berkacamata di hadapannya yang mengangkat Ririn.
"Haneuma," Hibari menatap Dino tajam.
"Kenapa kamu menyerang Ririn?" Dino menatap Hibari hampir histeris.
Dino sangat terkejut karena begitu dia memasuki gerbang dia melihat adiknya yang manis sedang di serang oleh sang ketua Komite Kedisiplinan.
"Dia membawa hewan peliharaan ke dalam sekolah," Hibari menunjuk Ririn dengan tonfanya.
"Vampire-san juga bawa Hi-chan," Ririn menunjuk burung kecil kuning yang hinggap di batang pohon di belakang Hibari, membuat Hibari menggeram kesal.
"Chibi-Herbivore, aku tidak mengizinkanmu membawanya ke dalam kelas," Hibari menatap Ririn dengan aura menekan yang membuat siswa-siswi yang melihat mereka bergidik ngeri.
"Diskriminasi,"
Hibari merasakan matanya memicing tajam menatap gadis berwajah datar di hadapannya. Dia kembali mengangkat tonfanya dan bersiap menyerang Ririn.
"Ah, Kyo-nii," Miyuki memegang lengan Hibari, berusaha mengalihkan perhatian kakaknya dari Ririn. "bagaimana kalau begini saja, Rin tidak boleh masuk ke gedung sekolah, tapi dia boleh berada di halaman sekolah, bagaimana?"
"Tidak," Hibari menjawab cepat sambil mendengus kesal.
"Kyo-nii kan tahu Ririn-chan tidak pernah lepas dari Rin. Rin juga menjadi anak baik dan tidak pernah macam-macam di rumah, dia pasti tidak akan merusak halaman sekolah, ya?"
Hibari hanya menatap adiknya tajam yang mengatakan dia tetap tidak setuju.
"Kyo-nii juga membawa Hibird, bahkan ke ruang komite kedisiplinan. Kalau Rin hanya sampai halaman tidak ada salahnya kan?" Miyuki kembali berusaha membujuk kakaknya. "Kalau Kyo-nii tidak setuju, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Ririn-chan. Kurasa Kyo-nii tidak mau mendengarkan Dino-san jika sister complexnya nanti mulai kambuh dan dia berbicara tentang Ririn-chan tanpa henti," Miyuki berjinjit dan membisikkan hal itu kepada kakaknya.
Hibari hanya menatap adiknya tajam lalu menatap Dino dan Ririn yang masih memeluk Rin. Dino terlihat siap melindungi adiknya kapan saja.
"Aku tahu Kyo-nii sangat kuat, tapi kalau Ririn-chan memberikan obat pelumpuh seperti kemarin, Kyo-nii tidak mau kan kalau terlihat lemah di hadapan orang lain?" Miyuki menambahkan.
"Kalau dia merusak sekolah, kalian terima akibatnya,"
Hibari menggeram sambil meninggalkan mereka membuat Miyuki meminta maaf di dalam hati sudah menyinggung hal itu. Dia tentu saja tahu kakaknya benci diingatkan dengan kekalahan seperti itu. Dino mengahadap Miyuki sambil tersenyum berterima kasih yang dibalas Miyuki dengan rendah hati.
"Ririn, kamu tidak boleh membawa Rin ke dalam gedung, itu peraturannya," Dino menasehati Ririn sambil mengelus kepala gadis itu.
"Tapi Ririn mau sama Rin,"
"Ririn-chan, saat istirahat dan pulang sekolah kamu bisa bertemu dengan Rin lagi kok. Hanya saat sekolah saja kamu harus meninggalkannya di halaman," Miyuki berusaha membujuk Ririn dengan lembut.
Ririn menatap Rin lalu menganggukkan kepalanya sambil menurunkan Rin. Ririn berlutut di depan Rin.
"Rin, Ririn mau sekolah dan kamu tidak boleh masuk gedung. Nanti Ririn akan datang, kamu tunggu Ririn di halaman sekolah ya," Ririn mengusap kepala Rin sambil memberitahu.
"Woof!" Rin menggoyangkan ekornya sambil menganggukkan kepalanya, seakan mengatakan kalau dia mengerti.
Ririn mengangguk pada Rin dan berdiri. Rin segera berlari ke belakang semak-semak agar tidak terlihat oleh murid lain.
"Kalu begitu, biar aku saja yang mengantarkan Ririn ke ruang kepala sekolah," Dino memegang pundak Rin sambil tersenyum pada Miyuki.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu di kelas," Miyuki tersenyum dan berjalan memasuki gedung sekolah.
Dino menatap Ririn dan mengajaknya ke ruang kepala sekolah yang dengan patuh diikuti oleh Ririn.
XXXXX
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru," seorang guru perempuan yang terlihat masih muda berkacamata mengumumkan di depan kelas, membuat murid-murid saling berbisik-bisik. "Cavallone-san, silahkan masuk," guru itu memberi perintah.
Pintu kelas terbuka dan Ririn dengan eskpresi datarnya masuk ke dalam kelas. Semua siswa-siswi di ruangan itu, kecuali Miyuki langsung terdiam sesaat melihat Ririn sebelum kelas mulai berisik dengan dengungan kagum dan pekikan tertahan murid perempuan.
"Imutnya~,"
"Manis sekali!"
"Kyaa, seperti boneka!"
Dengan bentuk wajah yang berbeda dengan wajah orang Jepang, kulit kuning kecoklatan, mata bulat besar berwarna silver, mulut mungil berwarna pink lembut, rambut hitam panjang bergelombang sepinggang dan figurenya yang imut, Ririn berhasil mengambil hati semua murid di kelas itu.
Para sisiwi perempuan merasa gemas melihat gadis imut dan mungil yang seperti boneka itu. Sedangkan para siswa merasa Ririn sangat manis dan walaupun seragamnya sedikit kebesaran, tetap memperlihatkan dadanya yang cukup besar untuk ukuran badannya yang kecil.
"Nama Ririn, Karina Cavallone, tolong panggil Ririn saja," ucap Ririn begitu guru itu menyuruhnya untuk memperkenalkan diri.
Ririn masih mengingat pesan kakaknya tadi sebelum mereka memasuki ruang kepala sekolah. Ririn akan memakai marga Cavallone karena tidak mungkin dia memakai marga lamanya untuk saat ini. Ririn juga ingat kalau kakaknya sempat berpesan bahwa dia dan Dino adalah sepupu dan karena orangtuanya meninggal dia diangkat sebagai adik.
Ririn hanya menganggukkan kepalanya tanpa membantah. Dino juga sempat mengatakan kalau ditanya tempat tinggal, Ririn menjawab tinggal di tempat Hibari karena Dino sering pergi mengurus perusahaan dan tidak ada yang menjaganya. Sedangkan dia masih memiliki hubungan kerabat jauh dengan Hibari.
"Caval-,"
"Ririn saja," Ririn menatap gurunya lurus.
"Ririn-san merupakan adik angkat dari guru kita, Cavallone-sensei," gurunya memandang gadis datar itu sesaat sambil menganggukkan kepalanya sedikit sweatdrop. "dia pindah ke sini dari Italia karena Dino-sensei sibuk mengajar di Jepang dan mengurus perusahaannya, karena itu Ririn-san pindah ke Jepang," guru itu menjelaskan. "Apa ada yang mau bertanya?" guru itu bertanya pada muri-muridnya.
"Ririn-chan, berapa umurmu?" seorang siswa bertanya pada Ririn.
"Tahun ini Ririn empat belas tahun,"
"Ehh?" semua murid memandang Ririn.
"Ah, Ririn-san merupakan seorang jenius, jadi kalian tidak usah bingung," guru perempuan itu tersenyum melihat ekspresi terkejut murid-muridnya. Mereka berdecak kagum mendengar perkataan guru itu.
"Ririn-chan, apa yang tadi pagi diserang Hibari-san di gerbang sekolah kamu?" kali ini seorang perempuan berkacamata bertanya dengan penasaran.
"Um," Ririn menganggukkan kepalanya membuat murid-murid memandangnya kagum.
Tidak ada yang berani dengan ketua komite kedisiplinan kecuali Miyuki yang merupakan adiknya dan Dino yang entah kenapa selalu bersikap biasa di depan Hibari.
"Baiklah, sudah cukup. Ririn-san, kamu bisa duduk di depan Miyuki-san,"
Ririn menganggukkan kepalanya dan berjalan ke depan Miyuki. Miyuki memberikan senyum kepada Ririn yang di balas dengan anggukan kecil. Setelah Ririn duduk, guru itu memulai pelajaran. Guru itu, yang ternyata adalah guru matematika memberikan beberapa soal. Guru itu menunjuk Ririn untuk mencoba sejauh mana gadis itu mengerti. Tidak disangka, Ririn mengerjakan soal itu dengan mudah. Saat istirahat siang, banyak murid yang datang ke meja Ririn dan bertanya-tanya kepadanya.
"Ririn-chan, kamu benar-benar adik dari Cavallone-sensei?"
"Bagaimana di Italia?"
"Kamu benar-benar jenius!"
"Tas rajut yang kamu pakai apa isinya?"
Ririn hanya bisa bingung tidak tahu mau menjawab apa. Ririn tidak suka di kelilingi seperti itu oleh orang yang tidak dikenalnya. Tiba-tiba sebuah suara memotong kerumunan itu.
"Minna-san, kalian membuat Ririn-chan bingung,"
Semua murid menghentikan pertanyaan mereka dan melihat ke sumber suara. Miyuki berdiri di belakang kerumunan itu sambil memasang senyumnya.
"Nee-chan," Ririn memandang Miyuki yang berjalan ke arahnya.
Mereka kaget dengan Ririn yang memanggil Miyuki dengan 'Nee-chan'. Miyuki hanya tersenyum menanggapi tatapan yang di arahkan padanya.
"Miyuki-san, apa kamu kenal dengan Ririn-san sebelumnya? Bukankah tadi pagi kalian datang ke sekolah bersama?" seorang siswi berambut pendek bertanya sambil menatap Miyuki dan Ririn penasaran.
"Ririn tinggal di rumah Nee-chan," Ririn tiba-tiba berkata, membuat murid-murid itu kaget.
"Eh? Apakah itu benar Miyuki-san?" seorang siswa berkacamata bertanya pada Miyuki.
"Iya. Karena keluargaku dan Ririn-chan masih memiliki hubungan kerabat jauh. Sensei bilang tidak bisa meninggalkan Ririn-chan sendirian di apartemen atau hotel, makanya Ririn-chan tinggal di rumah kami," Miyuki tersenyum kepada mereka. "baiklah, karena ini sudah waktunya makan siang, aku dan Ririn-chan akan pergi makan dulu," Miyuki tersenyum sambil mengangkat bentonya.
Ririn mengambil bentonya dari laci meja dan tas rajutnya lalu merngikuti Miyuki. Siswa-siswi itu hanya bisa melihat dua gadis cantik itu pergi.
XXXXX
"Ririn-chan, ayo kita makan di atap sekolah,"
Miyuki mengajak Ririn ke tempat di mana mereka pertama kali bertemu, atap sekolah. Miyuki suka makan di sana karena biasanya yang makan di atap sekolah hanya Tsuna dan kawan-kawannya karena tidak ada murid yang berani ke atap sekolah.
Mereka takut kalau mereka tidak sengaja mengganggu sang Ketua Komite Kedisiplinan karena atap sekolah adalah tempat favorit Hibari untuk tidur. Mereka tidak mau mengambil resiko digigit sampai mati.
Miyuki membuka pintu atap dan melihat enam orang senpainya sedang makan di bawah bayangan gedung.
"Miyuki-chan,"
"Ririn-chan,"
"Yuki-chan,"
"EXTREME,"
Mereka menyapa dua gadis yang baru datang itu. Miyuki tersenyum dan menghampiri mereka, membalas sapaan mereka dengan sopan. Ririn mengikuti Miyuki sambil menatap satu-persatu wajah senpai-senpainya.
"Ririn, kamu pasti tidak ingat pada mereka,"
Sebuah suara membuat mereka menoleh ke arah pagar kawat. Reborn berdiri di depannya sambil memakai kostum penjelajah dengan baju dan celana pendek berwarna cokelat, topi bulat, jenggot palsu, backpack hijau (Leon) dan di tangannya terdapat tali yang terikat pada Rin.
"Reborn-jii-chan, Rin,"
"Woof," Rin berlari ke arah Ririn sambil menggoyangkan ekornya setelah Reborn melepaskan tali dari lehernya.
Ririn membuangkukkan badannya dan menggendong Rin. Tsuna hanya sweatdrop melihat tutornya memakai kostum seperti itu. Miyuki menatap Reborn seakan meminta penjelasan dengan kata-katanya. Ririn hanya menatap Reborn.
"Ririn, kamu baru bertemu mereka kemarin. Ingatlah baik-baik," Reborn menunjuk Tsuna, Yamamoto, Gokudera dan Ryohei.
"Apa maksudmu Reborn?" Tsuna bertanya sambil melihat Ririn yang menatapnya dengan serius. Tsuna bergerak tidak nyaman ditatap begitu.
"Ririn short memory kalau mengingat orang lain. Walaupun baru bertemu kemarin, dia akan lupa jika kalian tidak memiliki ciri khas," Reborn menjelaskan.
Ririn berlutut di depan Tsuna yang masih duduk. Mereka hanya melihat dengan penasaran apa yang akan dilakukan gadis itu.
"Tsuna-nii," Ririn akhirnya berkata, lalu melihat ke arah kanan Tsuna.
Gokudera dengan alis terangkat diam memperhatikan Ririn. Untuk pertama kalinya dia tidak berteriak walau ada seseorang yang mendekati Juudaime-nya. Ririn lalu melihat majalah di sebelah Gokudera.
"Haya-senpai," Ririn berkata yang membuat Gokudera tersenyum bangga. Sebagai tangan kanan Juudaime, tentu saja dia senang Ririn mengingatnya.
Ririn mengalihkan pandangannya ke kiri dan menatap Yamamoto yang tersenyum ceria padanya.
"Take-senpai,"
Ririn lalu mengalihkan pandangannya ke arah Ryohei. Ririn memiringkan kepalanya sambil menatap Ryohei serius. Semua menunggu Ririn mengatakan sesuatu.
"EXTREME! Kamu lupa padaku!" Ryohei berseru kaget dengan suara besar yang membuat Rin melompat karena kaget.
"Ah, Extreme-senpai," Ririn berkata yang membuat semua yang ada di situ sweatdrop.
"EXTREME! Namaku bukan itu!" Ryohei sekali lagi berseru kaget, membuat Hana tertawa.
"Hahaha! Rasakan kepala rumput! Ririn bahkan tidak ingat padamu!" Gokudera tertawa mengejek kepada Ryohei.
"Ririn-chan, kemarin aku sudah bilang 'Extreme' bukan namanya," Tsuna mengingatkan Ririn.
"Ah, Ryo-senpai," Ririn akhirnya berkata yang membuat Ryohei terlihat senang sedangkan Gokudera dan Hana memutar mata mereka.
Pandangan Ririn lalu teralih pada Kyoko dan Hana yang berada di samping Ryohei. Kyoko tersenyum manis pada Ririn.
"Hai, namaku Sasagawa Kyoko. Aku adiknya," Kyoko tersenyum pada Ririn sambil menatap Ryohei sekilas.
"Kyoko-senpai?"
"Kyoko saja tidak apa," Kyoko tersenyum pada Ririn.
"Kyoko?"
Kyoko menganggukkan kepalanya.
"Nama Ririn Karina, tapi Kyoko panggil Ririn saja,"
"Baiklah," Kyoko membalas sambil tersenyum.
Ririn memperhatikan Kyoko lama dan memeluknya, mebuat Kyoko kaget.
"Ririn-chan selalu memeluk orang yang pertama dikenalnya," Tsuna, berbaik hati memberi tahu Kyoko-nya tersayang dengan wajah sedikit memerah.
"Oh," Kyoko tersenyum dan membalas pelukan Ririn.
"Kyoko manis, hangat dan lembut," Ririn menggumam yang hanya bisa di dengar oleh Kyoko.
"Terima kasih," Kyoko kembali tersenyum sambil melihat Ririn yang sekarang menatap Hana.
"Namaku Kurokawa Hana. Senang bertemu denganmu," Hana meperkenalkan dirinya dengan datar.
"Nama Ririn Karina, Hana-senpai panggil Ririn saja,"
"Aku tidak memerlukan pelukanmu. Aku tidak suka disentuh-sentuh," Hana menambahkan yang dibalas anggukan kepala Ririn.
Tsuna hanya sweatdrop mendengar betapa judesnya Hana. Tapi mengingat sifatnya memang blak-blakkan begitu, Tsuna hanya menatap Ririn yang tidak terlihat tersinggung sedikitpun. Ririn menatap Hana lama. Hana mengangkat sebelah alisnya.
"Hana-senpai cantik dan memiliki karisma," ucapnya blak-blakkan membuat Hana menyeringai.
"Heh, matamu bagus juga Dik," Hana menyeringai kepada Ririn.
Tidak jauh dari mereka, Reborn memberikan sebuah surat kepada Miyuki di saat mereka sedang sibuk dengan perkenalan Ririn.
"Yang benar saja, sepertinya aku baru melakukan misi beberapa hari yang lalu?" Miyuki menggumam yang hanya bisa di dengar oleh Reborn dengan senyum di wajahnya sambil menatap Ririn dan senpai-senpainya.
"Data yang kamu bawa sebelumnya sangat berguna. Walaupun aku memberikan surat itu sekarang, itu hanya untuk persiapan. Kita akan bertemu untuk membicarakan masalah ini terlebih dahulu," Reborn berkata sambil mengelus Rin.
Saat Ryohei berseru tadi ternyata Rin melompat dan berlari ke arah Reborn. Reborn mengelus anjing itu untuk menenangkannya.
"Begitukah? Tapi kalau aku melakukan misi nanti bagaimana dengan Ririn-chan? Aku khawatir meninggalkannya berdua dengan Kyo-nii," Miyuki memikirkan Hibari yang berusaha menggigit Ririn nantinya.
Hmm, sepertinya terdengar sedikit ambigu? Miyuki mengerutkan dahinya memikirkan kata-katanya. Miyuki sangat tahu kalau Hibari tidak akan menyerang perempuan, binatang dan anak-anak. Kakaknya tidak akan menyerang hebirvore lemah. Tapi, itu jika perempuan 'biasa' yang tidak bisa berkelahi.
Miyuki mengingat saat kakaknya itu bertarung dengan Adelheid. Kakanya tentu tidak tahu caranya menahan diri kalau menemukan lawan yang kuat walaupun perempuan. Karena kemarin Ririn berhasil melumpuhkannya, apakah kakaknya akan menyerang Ririn lagi?
"Biarkan Hibari bersama dengan Ririn. Aku sudah mengenal gadis itu saat dia masih bayi," Reborn membaca pikiran Miyuki yang menatap Ririn dengan dahi berkerut.
"Lucu mendengar itu darimu yang berwujud batita," Miyuki tersenyum kecil menatap Reborn. "Reborn-san, kuharap ini bukan salah satu rencanamu," Miyuki menatap Reborn skeptis walaupun matanya masih mengawasi kelompok orang di depannya.
"Menurutmu?" Reborn balas bertanya kepada Miyuki.
"Apa yang kamu rencanakan sampai melibatkan Ririn-chan dan Kyo-nii?" Miyuki menghela napas pelan.
"Kurasa kamu mengetahuinya," Reborn menyeringai lebar sambil menatap Miyuki.
Miyuki mengalihkan pandangannya dan menatap Reborn. Miyuki dapat melihat sebuah rencana yang licik yang terpancar dari kilat di mata dan senyum Reborn.
"Hahaha...tidak mungkin..kan?" Miyuki tertawa skeptis sambil menyipitkan matanya.
"Mungkin. Bukan kah kamu ingin melihat kakakmu bahagia? Tidak mungkin kalau dengan Adelheid karena gadis itu sudah bersama Julie,"
"Tapi..,"
"Tidak ada perempuan yang berani mendekati kakakmu selain Ririn," Reborn tersenyum melihat ekspresi di wajah Miyuki. Dia harus bisa membuat Miyuki setuju dengan rencananya, karena hanya Miyuki yang bisa membantunya. "Kamu tidak mau melihat bagaimana Hibari kalau nanti dia benar-benar menyukai Ririn?"
"Hmm, kedengarannnya menarik juga," Miyuki mulai terpengaruh dengan kata-kata Reborn, membuat seringai Reborn semakin lebar. "Tapi sepertinya akan sangat sulit mengingat betapa Kyo-nii tidak suka berdekatan dengan perempuan dan Ririn bahkan tidak mengerti dengan hubungan lawan jenis," Miyuki menggumam.
"Makanya, aku menginginkan bantuanmu karena kamu tinggal bersama mereka,"
"Jadi, setelah kamu berhasil membuat Boss dan Kyoko-chan, Gokudera-senpai dan Haru-chan, juga Sasagawa-senpai dan Hana-chan, sekarang kamu mau membuat Kyo-nii bersama Ririn-chan? Reborn-san sejak kapan kamu berpindah profesi dari hitman nomor satu menjadi cupid?" Miyuki menatap Reborn dengan alis terangkat. "Tapi, aku akan membantu. Aku punya sebuah rencana," Miyuki mengedipkan sebelah matanya pada Reborn yang hanya tersenyum licik.
"Baiklah, sepertinya sudah waktunya aku ke sana," Miyuki lalu meinggalkan Reborn dan menghampiri kelompok di depannya.
"Cupid? Mungkin benar, karena tidak hanya Hibari dan Ririn saja, Miyuki. Sebagai Boss mafia dengan Famiglia paling berpengaruh nomor tiga, Dino harus mulai mencari calon istri untuknya," Reborn menyeringai licik menatap Miyuki yang menghampiri Tsuan dan kawan-kawannya.
Reborn lalu tersenyum mengingat rencananya dan surat yang baru saja dia berikan pada Miyuki. Sedikit beresiko, tapi dia tahu semuanya akan berjalan dengan baik. Reborn lalu pergi dari atap, meninggalkan Rin di sana
Setelah mereka selesai makan siang, Miyuki dan Ririn baru saja berdiri, berniat mengantar Ririn keliling sekolah sekaligus meletakkan Rin di halaman sekolah. Bisa bahaya kalau Hibari menemukan Rin ada di dalam gedung.
Tapi sayang, pintu atap terbuka. Hibari berdiri sambil memegang tonfanya menghadap Ririn dengan tatapan tajam.
"Sudah kubilang dilarang membawa peliharaan ke dalam gedung sekolah Chibi-Herbivore. I'll bite you to death," Hibari mendesis sambil mengangkat tonfanya.
"Hiiieee!" Tsuna terlonjak kaget melihat Cloud Guardiannya dengan tonfa di tangan.
"Hibari-san," Kyoko dan Hana menatap Hibari.
Gokudera menggeram kesal melihat Hibari, sedangkan Yamamoto hanya tersenyum ringan seperti biasa. Ryohei hanya mengatakan 'Ekstreme' sambil menatap Hibari.
"Eh, Kyo-nii?" Miyuki melihat ke arah Hibari lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling atap, berusaha mencari sesosok batita. Apakah ini bagian dari rencananya?
Hibari sudah menerjang Ririn dengan cepat. Ririn lagi-lagi bisa menghindari serangan-serangan Hibari.
"To-tolong hentikan!" Tsuna melihat Hibari yang menyerang Ririn dengan panik.
"Tch, beraninya dia mengabaikan Juudaime!" Gokudera berseru sambil menggenggam dinamitnya
"Gokudera-kun, tolong jangan gunakan dinamitmu!" Tsuna semakin panik melihat Gokudera mengeluarkan dinamitnya.
"Tch, baiklah kalau Juudaime bilang begitu," Gokudera kembali memasukkan dinamitnya yang membuat Tsuna sedikit lebih tenang.
BRAKK
Semua mata sekarang menatap sesosok pria berambut pirang berkacamata yang berdiri di pintu dengan terengah-engah. Dahinya merah, sepertinya habis terbentur sesuatu dan kacamatanya sedikit miring.
"Dino-san!"
"Dino,"
"Kakak,"
Semua mata memandang Dino yang berantakan. Bisa dipastikan dia berkali-kali terjatuh. Hibari menggeram rendah sambil menatap penampilan Dino.
"Haneuma, pakaianmu berantakan. Sebagai seorang guru kamu harus memberikan contoh yang baik," Hibari mengangkat tonfanya sambil menunjuk Dino.
"Ini karena aku berkali-kali terjatuh," Dino menggumam yang sayangnya terdengar oleh mereka.
"Itu karena Kakak terlalu ceroboh," Ririn berkata dengan datarnya kepada Dino.
"Tidak, hanya saja sepertinya hari ini lantainya membenciku, sepatuku menjadi iseng dan dindingnya menjadi penghalahng setiap aku berjalan ke manapun aku pergi," ucapnya dengan serius.
"...,"
Semua yang ada di situ hanya bisa terdiam menatap Dino. Dia benar-benar tidak mau mengakui dirinya sangat ceroboh. Yamamoto menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil dan Gokudera mendengus meremehkan.
Miyuki menutup mulutnya, menahan tawa melihat Dino berbicara begitu serius dengan penampilan seperti itu. Dino benar-benar sering melakukan hal yang tidak diduganya dan selalu berhasil membuatnya merasa terhibur.
"Kyoya, kamu menjahati Ririn lagi!" Dino mendekati adiknya dan memasang sikap protektif.
"Herbivore, dia membawa binatang ke gedung sekolah," Hibari menggeram sambil menunjuk Rin.
"Kamu tidak perlu menyerangnya!"
"Aku harus mendisiplinkannya,"
Sekarang semua menatap dua orang yang sedang beragumen itu.
"Ciaossu,"
"Reborn-jii-chan,"
"Bayi,"
"Reborn!"
Hibari dan Dino menghentikan argumen mereka begitu melihat Reborn dengan pakaiannya yang biasa dan topi fedoranya. Ririn melihat Reborn yang berdiri di pagar pembatas. Miyuki menatap Reborn dengan penasaran. Sekarang, dia tahu kalau ini adalah bagian dari rencana Reborn.
"Hibari, biarkan saja anak anjing itu berkeliaran, dia tidak akan merusak lingkungan sekolah,"
"Kyo-nii, Reborn-san benar. Lagipula dia sama sekali tidak merusak apapun, jadi kurasa tidak apa-apa membiarkannya berkeliaran," Miyuki menambahkan.
Hibari menatap Ririn yang menatapnya dengan datar sekilas. Lalu berpindah pada Rin yang ada di pelukannya. Rin menatap Hibari dengan mata bulatnya yang imut. Lidahnya terjulur dan ekornya bergoyang. Rin sedikit memiringkan kepalanya pada Hibari.
Ririn menurunkan Rin dari pelukannya. Rin berjalan ke arah Hibari dan mengusap wajahnya ke kaki Hibari lalu duduk di hadapan Hibari. Hibari yang sejak awal memang memiliki sikap berbeda terhadap binatang kecil mau tidak mau mulai terpengaruh juga.
"Woof!" Rin menatap Hibari dengan tatapan memelas yang sangat-sangat menggemaskan.
Hibari mengalihkan pandangannya dari Rin dan menatap Miyuki dan Reborn, lalu pada Ririn. Miyuki tersenyum mengetahui kakaknya yang sadis diam-diam penyayang binatang kecil. Hibari membalikkan badannya dan tanpa berkata apapun meninggalkan atap, membuat mereka semua menghela napas lega.
"Ririn-chan, kamu baik-baik saja?"
Semua, kecuali Reborn dan Miyuki mendekati Ririn dan memeriksa gadis mungil itu, memeriksa apakah dia terluka. Untunglah dia sama sekali tidak terluka karena berhasil meh
"Reborn-san, kenapa kamu bersikeras agar Rin tetap ada di sekolah?" Miyuki menatap Reborn dengan pandangan bertanya.
"Karena Rin adalah familiar Ririn dan familiar tidak boleh jauh dari majikannya," Reborn menjawab sambil berjalan ke arah Ririn, membuat Miyuki bingung.
"Reborn, Yuki, terima kasih sudah meyakinkan Kyoya," Dino tersenyum kepada mereka berdua.
"Ah, tidak apa-apa kok," Miyuki tersenyum.
"Ririn," Reborn memanggil Ririn membuat semua perhatian teralihkan padanya. "Apa yang bisa dilakukan Rin?"
"Rin bisa mencari orang dari baunya," Ririn menjawab. "dan Rin juga bisa menjadi besar," tambahnya.
"Begitu," Reborn menggumam.
"Hahaha, bukankah anjing memang akan tumbuh menjadi lebih besar?" Dino tertawa kecil mendengar perkataan adiknya.
"Hahaha, benar," Yamamoto tertawa ringan sambil mengusap Rin yang sudah kembali dipeluk Ririn.
Mereka mendengar bel masuk berbunyi. Mereka kembali ke kelas masing-masing. Miyuki menahan tangan Ririn sebelum mereka turun.
"Ririn-chan, kenapa animal weapon tidak ada yang keluar kali ini?"
"Karena Ririn baru saja meminum obat agar tidak menarik keluar animal weapon dalam dua puluh empat jam. Tapi, Ririn harus segera mencampurkan obatnya pada benda lain atau Ririn akan terkena efek sampingnya jika terus menerus meminum obat ini,"
"Maksudmu?"
"Seperti membuat jimat, Ririn harus mencampurkannya dengan sesuatu, karena jika terus menerus Ririn makan, akan merusak tubuh,"
"Mau kubuatkan? 'sesuatu' itu? Anggap saja karena kamu sudah memberikan Natt, aku memberikanmu sesuatu,"
"Nee-chan juga membuat senjata kan?"
"Ya, kurang lebih sih,"
"Kalau begitu Ririn mau yang seperti ini," Ririn mengambil sebuah pisau kecil dari tas rajutnya.
Miyuki menerima pisau kecil itu. Pisau kecil biasa dengan gagang besi polos yang terlihat sudah lama.
"Dari mana kamu dapat pisau ini?" Miyuki masih memperhatikan pisau itu.
"Ririn ambil dari ruang senjata di mansion. Itu satu-satunya pisau kecil yang ada. Ririn tidak mungkin membawa pisau yang besar karena nanti ketahuan Kakak,"
Miyuki sweatdrop mendengar kata-kata Ririn. Ternyata dia mencuri pisau kecil itu. Miyuki mengerutkan dahinya menatap pisau yang terlihat tua itu.
"Ririn-chan, bagaimana kalau aku buatkan yang baru saja? Sepertinya yang ini sudah cukup lama,"
"Um, Ririn tidak keberatan," Ririn menganggukkan kepalanya.
Merekapun akhirnya berjalan ke kelas mereka.
Diam-diam sesosok batita menatap mereka berdua dengan tertarik. Sebuah kilatan terdapat di matanya.
"Kalian memang benar-benar cocok, Kelelawar Hitam, Penyihir Bulan," Reborn menurunkan topi fedoranya sambil menyeringai.
To Be Continue...
XXXXX
Readers, sebelumnya Sacchan mau minta maaf, karena Sacchan akan CUTI sekitar 3 MINGGU-an (paling cepet). Ada yang harus Sacchan kerjain dan hal itu sangat memakan waktu. Sacchan akan berusaha melanjutkan cerita ini kalau tugas-tugas Sacchan udah selesai.
Sacchan minta maaf dan berharap readers menunggu dengan sabar, karena Sacchan sendiri stress dengan tugas-tugas ini.
Chapter selanjutnya akan berkisar di Hibari-Ririn dan mungkin akan ada sedikit Dino-Miyuki.
#tolong doakan Sacchan agar tugas tidak tambah banyak ya~
Minna, mind to Review?
