Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Hikage Natsuhimiko : Hikage-san, maaf membuatmu menunggu lama! Sacchan nggak nyangka bakalan update selama ini, padahal untuk chapter ini Sacchan sudah menulis setengah sebelum ada tugas dan ternyata butuh 2 bulan untuk menyelesaikan chapter ini.

Iya, kelihatan jelas ya kalo Reborn di sini perannya nggak jauh dari cupid, suka nyomblangin orang. Ahahaha, kayaknya rencana Reborn nggak kayak gitu kok, inget, yang kita bicarakan di sini adalah Reborn, sang devil tutor, jadi rencananya ekstrem-berbahaya gitu. Iya, sebenernya Sacchan juga mau buat mereka ngedate, tapi sepertinya untuk sekarang harus dikesampingkan.

Please enjoy this chapter!

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Ririn At School

.

.

.

Sudah beberapa hari berlalu sejak Ririn masuk Namimori Gakuen. Dan sejak Ririn masuk Namimori Gakuen, dia mendapat fans club. Hampir seluruh murid di Namimori Gakuen baik siswa maupun siswi menjadi anggota fans club itu.

Ditambah dengan orang yang selalu bersama Ririn adalah Miyuki, mereka menjadi semakin mencolok. Dua siswi kelas satu yang cantik dan manis. Tapi berbeda dengan fans Miyuki yang segan padanya karena sikap Miyuki yang terlihat anggun, banyak fans Ririn yang menyapanya dan terkadang mengajaknya bicara walaupun Ririn segera lupa.

Miyuki dan Ririn sedang makan siang di kelas siang itu, karena cuaca di luar mendung dan mereka takut hujan akan turun. Ririn sempat menyembunyikan Rin di gudang belakang sekolah yan terdapat banyak kardus agar jika hujan turun Rin tidak basah. Beberapa murid mencuri pandang ke arah mereka berdua, yang sayangnya sama sekali tidak disadari oleh dua gadis itu.

Banyak siswa dan siswi yang sengaja lewat di depan kelas mereka untuk melihat kedua gadis itu. Miyuki mengeluarkan bentonya dan membukanya.

"Wah," Miyuki menggumam rendah sambil menatap makanan di depannya sedikit kaget.

Hari ini yang membuat bento adalah Ririn dan Miyuki menyiapkan sarapan. Miyuki melihat bentonya yang terlihat cukup menarik itu. Di atas nasi putih terdapat rumput laut yang di buat berbentuk seperti kelelawar.

Juga ada telur dengan tambahan sayap yang mirip kelelawar dan wortel bentuk kelelawar. ada tomat yang dibuat seperti jack-o-lantern dan selada yang mengelilingi semuanya. Miyuki mengangkat pandangannya dan menatap Ririn sambil tertawa kecil.

"Bagaimana kamu membuat ini? Lucu sekali!"

"Ririn hanya mengikuti apa yang ada di TV," Ririn menjelaskan singkat sambil membuka bentonya yang berukuran setengah dari bento Miyuki.

Miyuki melihat bento Ririn dan tersenyum. Dia membuat bento dengan rumput laut membentuk anak anjing (sebenarnya Rin), telurnya di buat mirip Hibird dan wortelnya seperti landak, sedangakn tomatnya ditambahi wajah oleh Ririn. Tidak ada selada karena sepertinya memang tidak muat di kotak bekalnya yang kecil itu.

"Rin, Hibird dan Roll?"

"Um,"

Tiba-tiba Hibird terbang masuk melalui jendela dan hinggap di bahu Ririn.

"Hibari, Hibari! Dimana~,"

"Hi-chan tidak bisa menemukan Vampire-san?" Ririn mengelus Hibird dengan jarinya dan meletakkan Hibird di meja lalu memberikannya sepotong wortel kecil yang di terimanya.

"Kyo-nii sepertinya tadi di kelasnya. Tapi sepertinya Hibird juga tidak tahu kelas Kyo-nii yang mana. Kyo-nii kan tidak pernah menghadiri kelas sebelumnya," Miyuki ikut mengelus Hibird dengan jarinya.

Miyuki tersenyum sambil melihat Ririn yang mulai memakan bekalnya. Miyuki mengikuti Ririn, memakan bekalnya dengan tenang. Tapi entah kenapa, dia seperti melupakan suatu hal dan membuat perasaannya tidak enak. Ternyata tidak lama kemudian perasaan tidak enaknya terbukti.

XXXXX

Hari itu, Hibari sedang berada di kelasnya. Miyuki berkali-kali menyuruhnya sesekali mengikuti kelas walaupun nilainya merupakan yang terbaik di Namimori Gakuen. Miyuki menggunakan kelemahan Hibari, statusnya sebagai Ketua Komite Kedisiplinan.

Miyuki sengaja menyinggung pekerjaan kakaknya dengan nada seakan tidak bermaksud menyinggungnya yang membuat Hibari merasa tersinggung dan membuatnya menghadiri kelas hari itu.

Karena itu, suasana di kelas Hibari menjadi berkali-kali lipat lebih menekan dari biasanya. Guru yang mengajar pada hari itu hanya bisa berharap tidak membuat kesalahan dan tidak digigit oleh murid mereka. Padahal, Hibari hanya duduk dengan tenang. Tanpa tatapan tajam, hanya tatapan bosan dan sesekali menguap.

Siswa-siswi menjadi lebih pendiam dan berusaha mendengarkan pelajaran dengan baik, mencatat, dan berusaha agar tidak tertidur di kelas. Suasana semakin tegang ketika seorang siswa tertidur dan ketahuan oleh Hibari. Dia menarik orang itu keluar kelas dan tidak lama kemudian Hibari kembali bersama siswa tersebut, yang sayangnya tidak sadarkan diri dan penuh dengan luka.

Seorang siswa berbaik hati mengantarkan siswa itu ke ruang UKS, walaupun tidak menemukan guru yang bertugas, dia membaringkan temannya dia tas kasur dan kembali dengan cepat. Suasana kembali hening hingga bel istirahat berdering dan guru yang mengajar dengan cepat membubarkan kelas dan pergi.

Siswa-siswi lainnya berniat pergi dari kelas itu, tetapi ada juga yang masih tinggal di situ. Hibari, terlalu malas pergi ke ruang komitenya memilih memakan bentonya di tempat itu juga, yang sayangnya merupakan pilihan yang salah.

Daripada menemukan bekal yang tertata rapih seprti biasa, dia melihat peternakan ayam mini di dalam bekal itu. Di atas nasi ada rumput laut yang menyerupai Hibird. Telur-telur kecilnya di buat menjadi seperti anak ayam dengan putih telur yang terpecah, memberikan kesan telur yang menetas dan beberapa menyerupai Hibird.

Wortelnya di buat menyerupai anak burung. Ada juga beberapa tomat kecil yang dibuat seperti anak ayam dan selada yang mengelilingi lauknya. Hibari membeku sesaat. Dia tersadar saat mendengar gumaman.

"Eh, itu bekal Hibari-san?"

"Lucunya!"

"Imut!"

Hibari mendengar gumaman-gumamamn itu dan melemparkan tatapan tajam ke dalam kelasnya. Semua anak langsung terdiam dan mengalihkan pandangan mereka. Hibari mendesis kesal, aura membunuh keluar dari tubuhnya.

Dia merasa sudah cukup setiap hari melihat sarapannya seperti sarapan herbivore lemah. Sarapan yang di buat dengan berbagai bentuk seperti untuk anak TK. Hibari sedikit lega ketika pagi tadi dia melihat sarapannya normal. Sarapan yang tertata rapih tanpa bentuk muka, binatang, atau apapun yang membuat makanannya terlihat sangat menyebalkan. Dia tidak menyangka akan melihatnya lagi di bentonya.

"Chibi-Herbivore," Hibari menggeram kesal.

Hibari menutup bekal itu dengan cepat dan berdiri dengan kasar, membuat murid-murid di sekitarnya terlonjak kaget. Hibari keluar dari ruang kelasnya dan berjalan menuju satu tempat. Tempat di mana si pembuat bento berada.

XXXXX

"Ah, Ririn-chan," seakan teringat sesuatu, Miyuki memanggil Ririn dengan nada khawatir. "Kalau kamu membuat bekal seperti ini, apa kamu juga membuat bekal yang sama untuk Kyo-nii?" Miyuki menatap Ririn dengan khawatir.

BRAK

Miyuki melihat pintu kelasnya yang terbuka kasar. Melihat Hibari berdiri di depan pintu kelasnya dengan aura membunuh, Miyuki sudah mengetahui jawaban pertanyaannya.

"Hibari! Hibari!" Hibird yang ada di meja terbang menuju Hibari dan berputar di atasnya.

"Chibi-Herbivore," Hibari berjalan ke arah Miyuki dan Ririn sambil menggeram. "Apa-apaan ini?" Hibari membanting bentonya kasar tepat di antara bento Miyuki dan Ririn.

"Bento," jawab Ririn dengan polosnya sambil menatap bento di hadapannya.

Hibari menggeram kesal mendengar jawaban Ririn. Miyuki mengambil bento milik Hibari dan membukan isinya. Hibird hinggap di atas kepala Miyuki.

"Wah," Miyuki menggumam kecil melihat betapa imut bento milik kakaknya.

"Hibird?" Hibird memiringkan kepalanya dan mengamati telur yang di buat mirip dengan dirinya itu.

"Ternyata memang lebih baik dibuat seperti kelelawar untuk Vampire-san ya," Ririn menatap Hibari dengan datar.

Hibari mengeluarkan tonfanya dan langsung menyerang Ririn. Ririn melompat ke samping, menghindari serangan Hibari. Siswa-siswi di kelas itu menahan napas melihat Hibari menyerang gadis mungil nan polos itu.

"Kyo-nii, hentikan!" Miyuki berdiri dari kursinya dan berdiri di depan Ririn, membuat Hibird kembali terbang. "Bukankah Kyo-nii pernah bilang tidak akan memukul perempuan dan anak-anak dengan tonfamu?" Miyuki setengah berbisik begitu Hibari berdiri di depannya.

Hibari hanya terdiam sambil menatap tajam Ririn yang masih berwajah datar dan tenang di belakang Miyuki. Hibari mendesis kesal dan menyimpan kembali tonfanya, membuat Miyuki menghela napas lega hingga tidak sadar Hibari berjalan melewatinya.

Ririn memperhatikan Hibari yang menatapnya tajam. Tiba-tiba Hibari menjitak kepala Ririn.

"Sakit," Ririn mengelus kepalanya yang baru saja dijitak oleh Hibari dengan wajah datarnya.

"Kyo-nii," Miyuki sweatdrop melihat Hibari mendengus puas dan berjalan menghampiri Ririn dengan cepat.

Sepertinya Hibari kesal karena tidak pernah mendapat kesempatan memukul Ririn karena selalu dilindungi Miyuki dan baru saja, dendamnya terlampiaskan.

"Ririn-chan kamu tidak apa-apa?" Miyuki mengelus kepala Ririn dan menemukan sedikit benjolan di kepalanya.

"Vampire-san anarkis," Ririn menatap Hibari dengan wajah datarnya yang di balas dengan tatapan tajam.

"Yuki, Chibi-Herbivore ini dilarang membuat makanan lagi," Hibari menatap Miyuki dengan tajam.

"Tidak bisa. Ririn-chan membantuku menyiapkan makanan, jadi aku bisa menyelesaikan sarapan dan bento tanpa terburu-buru. Memangnya Kyo-nii mau menggantikan Ririn-chan masak?" Miyuki menatap kakaknya dengan pandangan bertanya.

Miyuki tersenyum dalam hati karena tidak mungkin kakaknya itu menyetujuinya, mengingat bagaimana masakan kakaknya. Selama ini kakaknya selalu meminta Kusakabe memasak atau membeli makanan di luar. Melihat kakaknya menatapnya tajam, Miyuki akhirnya memberikan sebuah solusi.

"Kalau begitu, begini saja. Ririn-chan membantuku memasak, aku yang akan menyusun bento dan sarapannya. Bagaimana?" Miyuki tersenyum kepada kakaknya.

"Hn," Hibari membalikkan badannya ke luar dari kelas dan melihat Ririn sesaat sebelum benar-benar hilang dari balik tembok, diikuti Hibird.

"Minna-san, maaf membuat keributan," Miyuki melihat teman-temannnya dan membungkukkan badannya.

"Miyuki-san, tidak apa-apa. Tolong jangan membungkuk sperti itu," seorang siswa laki-laki berkata pada Miyuki yang lagsung di setujui teman-teman sekelasnya.

"Terima kasih," Miyuki memberikan senyum lembutnya kepada semua teman-temannya, membuat mereka merona.

'Kyaaa~ Miyuki-sama!' beberapa fans girl Miyuki berseru di dalam hati melihat idola mereka tersenyum kepada mereka.

'Miyuki-sama cantik sekali,' beberapa siswa hampir mimisan.

Miyuki kembali mengalihkan perhatiannya pada Ririn.

"Ririn-chan, apa kepalamu tidak apa-apa?"

"Sedikit berdenyut," Ririn menjawab dengan datar.

"Apa nanti akan cepat sembuh?" Miyuki kembali ke kursi mereka dan merapihkan kotak bekal Hibari.

"Kalau memar tidak bisa cepat sembuh. Hanya luka luar berupa goresan yang bisa sembuh dengan cepat," Ririn memberikan penjelasan singkat pada Miyuki.

"Jadi akan lama?"

"Tidak juga, hanya tidak secepat luka gores,"

"Perlu kuantar ke UKS?"

"Tidak perlu. Ririn tidak mau nanti Kakak histeris melihat Ririn di UKS," Ririn memberika sebuah alasan yang cukup masuk akal.

Kalau Dino melihat Ririn atau mendengar Ririn ada di UKS, pasti sister complexnya akan kambuh dan dia akan mulai histeris. Miyuki menyetujui ucapan Ririn dan melanjutkan makan siang mereka yang tertunda.

XXXXX

"Miyuki, kapan kamu akan memulai rencananya?" Reborn duduk di salah satu jendela di ruang kelas itu.

"Ah~, tidak sabaran ya, Reborn-san," Miyuki tersenyum pada Reborn yang menatapnya.

Miyuki berdiri di sebelah Reborn, menatap pintu masuk. Dia sedang menunggu Ririn yang sedang berada di toilet.

"Tenang saja, besok akan kumulai rencanaku. Aku mau membuat Ririn-chan terbiasa dengan sekolah dulu," Miyuki mengedipkan sebelah matanya pada Reborn sambil tersenyum.

"Hmph, bagus kalau begitu," Reborn menyeringai kecil.

Setelah itu Reborn berbalik dan melompat ke luar jendela menggunakan Leon sebagai parasut. Tidak lama kemudian Ririn masuk ke dalam ruangan itu dan mereka pulang bersama.

XXXXX

TOK TOK

"Masuk," ucap Hibari tanpa mengangkat pandangannya dari kertas-kertas yang di pegangnya. "Tetsu, laporan untuk The Foundation tolong kamu urus sisanya, lalu aku butuh beberapa data dari yang di berikan si Haneuma beberapa waktu lalu," ucap Hibari begitu mendengan suara pintu terbuka dan tertutup.

Hibari mengerutkan dahinya begitu tidak mendegar jawaban dari tangan kanannya yang setia itu dan merasakan ada orang yang berdiri di depan mejanya. Hibari mengangkat pandangannya dan tatapannya bertemu dengan sepasang mata berwarna silver.

"Woof!"

Hibari menurunkan pandangannya dan melihat Rin di pelukan Ririn.

"Chibi-Herbivore, sedang apa kamu di sini?" Hibari bertanya dengan nada tajam.

Ririn tidak menjawab dan malah memberikan secarik kertas pada Hibari. Hibari menerima kertas itu dan membacanya.

Dear Kyo-nii

Kyo-nii, aku sudah membolos ekskul beberapa hari yang lalu, makanya hari ini aku mengikuti ekskul dan aku titip Ririn-chan di ruanganmu ya. Biarkan dia dan Rin di ruanganmu, lagipula jam sekolah sudah selesai. Aku akan ke tempatmu begitu ekskulku selesai.

From Your Beloved Lil' Sis

P.S

Tolong jangan matikan ponselmu dan jangan menindas Ririn-chan! Akan kubongkar tonfamu kalau macam-macam

Hibari mengerutkan dahinya membaca pesan dari adiknya. Bisa-bisanya dia memberikan gambar tersenyum sambil mengancam dirinya. Hibari mengeluarkan ponselnya dari dalam kantung jaketnya dan melihat ponselnya mati. Ternyata dia lupa mengisi baterai ponselnya.

Hibari mengalihkan pandangannya dan menatap gadis berwajah datar yang masih berdiri di depannya. Sebenarnya, dia ingin mengusir gadis itu, tapi tidak mau mengambil resiko tonfanya di bongkar.

"Kau, duduk di sana," Hibari menunjuk sofa di ruangan itu.

Ririn menganggukkan kepalanya dan duduk di sofa itu. Suasana hening menyelimuti ruangan itu. Awalnya, Ririn hanya duduk sambil mengelus Rin. Lalu pandangannya beralih menatap Hibari. Hibari sadar di perhatikan oleh Ririn, tetapi tidak mengambil pusing tatapan gadis itu.

"Chibi-Herbivore, berhenti menatapku," Setelah beberapa puluh menit berlalu, Hibari akhirnya menatap Ririn.

Ririn hanya memiringkan kepalanya menatap Hibari, membuat Hibari menggeram rendah.

"Kenapa menatapku?"

"Karena...," Ririn menghentikan perkataannya sesaat. "Ririn bosan," ucapnya akhirnya.

Hibari kembali mengabaikan Ririn dan memfokuskan diri ke pekerjaannya. Ririn masih menatap Hibari hingga dia merasa mengantuk dan tertidur. Hibari mengangkat pandangannya dan melihat Ririn tertidur sambil memeluk Rin. Dia berdiri dan menghampiri gadis itu.

Hibari mengerutkan dahinya melihat gadis di hadapannya. Tiba-tiba dia teringat malam ketika mereka bertemu. Ketika dia melihat gadis itu bersinar keperakan. Matanya, tubuhnya, auranya. Semuanya terlihat indah dan anggun.

Tersadar dengan apa yang baru saja dipikirkannya, Hibari berusaha menghilangkan pikirannya. Matanya lalu beralih pada tas rajut yang selalu dipakai gadis itu kemanapun dia pergi. Dia melihat sesuatu sedikit keluar dari tas yang tidak ditutup itu.

"Ceroboh,"

Dengan penasaran, Hibari mengambil benda yang sedikit bersinar itu, yang ternyata adalah cermin. Hibari memandang cermin itu lama. Dia mengingat cermin yang sekarang di pegangnya adalah cermin yang pernah Ririn pegang saat mereka pertama bertemu.

Hibari memandang cermin itu dengan seksama dan membolak-baliknya, mengira ada sesuatu yang istimewa dari cermin itu. Dia lalu memandang Ririn yang sedang tidur, sedikit bingung untuk apa gadis itu membawa cermin sebesar itu kemanapun.

"Grr, Woof!" Rin menggongong, membuat Hibari mengalihkan perhatiannya.

Rin berdiri dengan ekor dan kuping lurus di pangkuan Ririn. Hibari meletekkan cermin yang dipegangnya di tempatnya semula.

"Berperan menjadi ksatria kecil?" Hibari mengangkat tangannya dan mengelus Rin.

Rin memperhatikan tangan Hibari dan mengendusnya sebelum membiarkan Hibari mengelusnya. Pandangan Hibari lalu beralih ke arah Ririn yang masih tertidur.

"Majikanmu benar-benar tukang tidur, hm?" Hibari mengelus Rin yang di balas suara pelan seakan menyetujui perkataan Hibari.

Hibari melihat ke arah jam dan kembali berjalan ke arah mejanya, kembali melanjutkan pekerjaannya. Rin kembali tertidur di pangkuan Ririn. Tidak lama kemudian Ririn terbangun. Riring mengedarkan pandangannya dan melihat jam. Sebentar lagi Miyuki selesai ekskul.

"Kyo-nii, Ririn-chan?" Miyuki membuka pintunya dan melihat suasana tenang di sana. Miyuki menghela napas lega. Setidaknya kakaknya tidak menyerang Ririn. Sepertinya.

"Nee-chan," Ririn mengalihkan pandangannya dan menatap Miyuki begitu juga Hibari.

"Kalian baik-baik saja? Tidak bertengkar?" Miyuki seperti seorang ibu yang meninggalkan kedua anaknya di rumah, menghampiri Ririn dan mengelus rambutnya.

"Tidak," Ririn menggelengkan kepalanya.

"Baguslah. Nah, ayo pulang, aku akan masak makan malam," Miyuki tersenyum dan mengajak Ririn dan Hibari pulang.

Ririn hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Hibari masih duduk di tempatnya, memegang beberapa berkas.

"Ririn-chan, tunggulah di luar,"

Ririn menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar bersama Rin.

"Yuki, kenapa Chibi-Herbivore itu menunggu di sini?" Hibari menatap adiknya dengan serius.

"Karena, aku tidak bisa menyuruhnya pulang duluan. Kyo-nii lupa, Dino-san pernah bilang, kalau Ririn-chan benci sendirian karena mengingatkannya ketika dia di kurung? Makanya dia selalu tidur bersamaku kan. Setidaknya dia bersama Kyo-nii kalau di sini," Miyuki menghela napas kecil.

Hibari hanya diam mendengar perkataan Miyuki. Bukannya tidak ingat, dia memang tidak pernah mendengarkan apapun yang dikatakan Dino.

"Kamu suruh saja Haneuma itu menjaganya,"

"Dino-san pergi begitu selesai istirahat pertama. Sepertinya berhubungan dengan perusahaannya," melihat kakaknya kembali terdiam, Miyuki menghela napas kecil. "Kyo-nii, mau pulang sekarang?"

"Tidak, aku akan memeriksa sekolah dan kota, pulanglah duluan," Hibari berdiri dari kursinya dan merapihkan berkas-berkasnya.

Miyuki menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan kakaknya. Dia berhenti di tangga.

"Rencanamu tidak berhasil?" sebuah suara terdengar di belakangnya.

"Aku tidak bisa bilang berhasil tapi juga tidak bisa bilang tidak berhasil. Setidaknya Kyo-nii tidak menyerang Ririn-chan," Miyuki membalikkan badannya menatap Reborn.

"Baiklah, aku serahkan sisanya padamu," Reborn membalikkan badannya.

"Hei, bagaimana denganmu?"

"Ada hal lain yang harus kupersiapkan," Reborn menyeringai kecil sambil melompat keluar jendela.

Miyuki membalikkan badannya dan melanjutkan perjalanannya, menuju Ririn yang menunggunya.

XXXXX

TOK TOK

Ririn membuka pintu ruangan yang selama beberapa hari ini menjadi tempat persinggahannya sementara. Ririn mengedarkan pandangannya dan menemukan Hibari tertidur di sofa, di atas kepalanya Hibird ikut tidur dengan tenang, tidak bekerja di mejanya seperti biasanya.

Ririn perlahan-lahan menutup pintu dan berjalan menghampiri Hibari yang sedang tertidur. Dia berlutut di sebelah Hibari dan mengamati wajah Hibari. Dia menurunkan Rin dari pelukannya, membiarkan Rin duduk di sebelahnya.

"Vampire-san kalau sedang tidur telihat tenang dan tidak galak," gumam Ririn sambil mengamati Hibari.

Pandangan mata Ririn mengarah pada rambut hitam Hibari. Ririn melihat Hibird yang terlihat sangat nyaman tidur di rambut Hibari. Lalu Ririn teringat dengan seberapa seringnya Hibird hinggap di rambut itu dan tidur di sana. Penasaran, Ririn mengangkat tangannya dan mengelus rambut Hibari.

Samar-samar, Hibari mencium wangi lembut yang mirip dengan bayi (bukan Reborn, bayi ASLI). Seperti wangi bunga chamomile dan susu, yang anehnya membuatnya merasa nyaman. Hibari merasakan ada sesuatu mengusap rambutnya. Awalnya, dia mengira itu Hibird, tetapi setelah merasakan yang berada di rambutnya adalah sebuah tangan mungil, dia terbangun.

Ririn sedikit terkejut ketika tangannya di genggam oleh Hibari walaupun wajahnya tetap datar. Hibari membuka matanya dan mengerutkan dahinya begitu melihat Ririn berlutut di sebelahnya dan tangannya mengusap rambutnya.

"Chibi-Herbivore," Hibari menggeram rendah sambil memposisikan dirinya untuk duduk, membuat Hibird ikut terbangun dan hinggap ke kepala Rin yang dengan tenang memperhatikan majikannya. "Apa yang baru saja kau lakukan?" Hibari bertanya dengan tajam, tidak mau mengakui kalau sebenarnya dia menikmati saat tangan kecil itu mengelus rambutnya.

"Ririn mengelus rambut Vampire-san," Ririn menjawab dengan polosnya.

"Kenapa kau lakukan itu?" Hibari masih memegang pergelangan tangan Ririn, hingga posisi Ririn berlutut di hadapan Hibari.

"Karena Ririn merasa ingin menyentuh rambut Vampire-san," Ririn menjawab lagi.

"Dan kenpa kau ingin menyentuh rambutku?" Hibari setengah menggeram melihat gadis di depannya menjawab tanpa rasa takut.

"Karena...terlihat nyaman?" Ririn memiringkan kepalanya sedikit bingung.

"Hn?" Hibari memicingkan matanya, meminta penjelasan lebih lanjut.

"Hi-chan selalu hinggap dan tidur di rambut Vampire-san dan terlihat sangat nyaman, Ririn jadi ingin mencoba mengelus rambut Vampire-san,"

"Lalu?"

"Lalu, rambut Vampire-san memang sangat halus dan lembut. Terasa nyaman. Ririn suka mengelusnya," lanjut gadis itu polos.

Hibari terdiam beberapa saat. Dia terkejut dan tidak menyangka Ririn akan berkata seperti itu. Memang, selama ini dia merasa gadis di depannya itu menyebalkan karena sengaja membuatnya kesal. Tapi, jika diingat Ririn pernah mengatakan kalau dirinya memiliki mata yang indah. Hibari kembali memfokuskan pandangannya pada Ririn.

"Chibi-Herbivore, kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?" Hibari menatap Ririn dengan tajam yang di balas Ririn dengan tatapan bingung. "kau mengganggu tidurku," Hibari melanjutnkan dengan tajam.

"Ririn mengganggu?" Ririn menatap Hibari dengan tatapan bersalah yang tidak Hibari sangka.

"Ya, kau mengganggu tidurku," Hibari menambahkan dengan tajam.

"Maaf, Ririn tidak tahu kalau Ririn mengganggu Vampire-san," Ririn menundukkan kepalanya sambil menatap Hibari dengan pandangan bersalah.

Hibari kali ini benar-benar tidak menyangka kalau Ririn akan meminta maaf, mengingat beberapa kali gadis itu membuatnya kesal.

Hibari melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ririn dan menatap gadis yang masih yang masih berlutut dan menatapnya dengan pandangan bersalah itu. Untuk orang berwajah datar, matanya cukup mewakili emosinya.

Entah kenapa rasa kesalnya hilang dan dia tidak merasa ingin menghukum gadis itu karena sudah mengganggu tidurnya.

"Hn, jangan ganggu aku lagi saat sedang tidur," Hibari mengalihkan pandangannya dan menatap jam di dinding. "Sudah berapa lama kau berada di sini?" Hibari mengerutkan dahinya sambil menatap Ririn.

"Hampir dua puluh menit," Ririn ikut mengalihkan pandangannya ke arah jam dan menghitung-hitung waktu kedatangannya.

Hibari kembali mengerutkan dahinya. Mengingat dirinya yang seorang light sleeper dan mudah terbangun, dia merasa aneh mengingat Ririn berada di ruangan itu selama dua puluh menit dan dia tidak terbangun.

Perlu ditambahkan ketika gadis itu berlutut di sampingnya dan mengelus rambutnya. Hibari menatap Ririn dengan dahi berkerut.

"Ririn sudah ketuk pintunya dua kali kok, seperti biasa," seakan bisa membaca pikiran Hibari, Ririn menjawab.

Oke, Hibari semakin bingung dengan dirinya. Dia selalu mudah terbangun, tapi kenapa dia bahkan tidak mendegar ketika Ririn mengetuk pintu ruangannya?

"Vampire-san?" Ririn menatap Hibari yang terlihat begitu serius dengan bingung.

"Chibi-Herbivore, berhenti memanggilku seperti itu," Hibari kembali menatap Ririn dengan tajam.

"Kalau begitu panggil Ririn dengan nama Ririn," Ririn menatap Hibari tegas.

Hibari hanya menatap Ririn sekilas lalu berdiri dan berjalan menuju mejanya, sama sekali tidak berniat memanggil Ririn dengan namanya. Ririn berdiri dan duduk di sofa yang baru saja di tiduri oleh Hibari dan menatap Hibari yang mulai membuka laptopnya dan bekerja.

"Ne, Vampire-san?" Ririn memanggil Hibari hanya di balas dengan tatapan. "Mengelus rambut itu, tidak boleh?" Ririn menatap Hibari dengan pandangan bertanya.

"Tidak," Hibari menjawab dengan cepat.

Yah, normalnya mana ada orang yang langsung mengelus rambut orang lain kan?

"Kenapa? Banyak yang mengelus Ririn, itu salah?" Ririn kembali bertanya, membuat Hibari terlihat kesal.

"Chibi-Herbivore, aku mau kerja. Tanyakan hal itu pada Yuki dan jangan ganggu aku lagi," Hibari berkata dengan nada tegas yang di balas anggukan kepala oleh Ririn.

"Chibi-Herbivore, mana Haneuma sister complex itu?"

Bukannya peduli, Hibari hanya heran kenapa Dino tidak membawa Ririn mengingat sister complexnya yang membuat Hibari kesal. Seharusnya yang menjaga Ririn adalah Dino, bukan dirinya yang malah menjadi baby sitter.

"Kakak sedang mengurus beberapa berkas. Dia akan kembali ke Italia untuk mengurus beberapa hal di Cavallone HQ dalam waktu dekat,"

Hibari kembali memusatkan pandangannya pada laptop di hadapannya. Dia sedang membuat rincian data untuk The Foundation miliknya. Hibari mengalihkan pandangannya sesaat dan melihat Ririn sedang mengelus Rin dan Hibird yang ada di pangkuannya dengan tangan kirinya bergantian, tangan kanannya dibiarkan tergeletak di samping tubuhnya. Hibari mengangkat alisnya ketika menyadari sesuatu.

"Chibi-Herbivore,"

Ririn mengangkat pandangannya dan menatap Hibari. Mengetahui arti tatapannya Ririn mengangkat Rin yang ada di pangkuannya dengan tangan kirinya dan berjalan mennuju Hibari. Hibari menarik pergelangan tangan kanan Ririn dan melihat bekas genggamannya barusan.

Hibari tidak menyangka kalau genggamannya terlalu kencang, karena Ririn sejak tadi tidak menunjukkan sedikitpun kalau dia kesakitan. Hibari memperhatikan bekas memar berwarna merah-ungu di pergelangan tangan gadis itu.

"Chibi-Herbivore, kenapa kau tidak bilang," Hibari menatap Ririn tajam.

"Bilang?" Ririn menatap Hibari dengan bingung.

"Ini. Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu kesakitan?" Hibari kembali bertanya, kali ini dengan mencodongkan tubuhnya ke arah Ririn.

"Memangnya kenapa?" Ririn memiringkan kepalanya dengan bingung. "Apa bedanya kalau Ririn bilang dan tidak? Bukankah Vampire-san tidak peduli?" lanjutnya dengan bingung.

Hibari terdiam mendegar pertanyaan polos gadis itu. Sama sekali tidak ada niat menuduh atau menyindir dari gadis itu. Lagipula, Ririn benar. Apa bedanya kalau dia bilang? Apa Hibari akan merawat lukanya? Meminta maaf? Melepaskan genggamannya?

Tidak mungkin dia akan melakukan hal itu. Lalu kenapa? Bukankah dia tidak peduli? Hibari terlalu sibuk dengan pikirannya, tidak sadar pintu ruangan itu terbuka dan Miyuki masuk ke dalam ruangan itu.

"Ara? Kyo-nii, pelecehan kepada anak di bawah umur itu kriminalitas~," Miyuki tersenyum jahil melihat Hibari memegang tangan Ririn dengan badan sedikit condong ke arah Ririn.

Hibari mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan melihat Miyuki memasuki ruangan dan berjalan ke arahnya. Hibari mendengus dan melepaskan tangan Ririn, menatap gadis itu sekilas lalu menatap layar laptopnya.

"Hmm?" Miyuki mendekati Ririn dan membungkuk, melihat pergelangan tangan Ririn yang memerah, lalul menatap Hibari dengan pandangan menuduh. "Kyo-nii, apa yang kamu lakukan pada Ririn-chan?" Miyuki memandang Hibari dengan pandangan menyelidik yang hanya di jawab oleh Hibari dengan mengangkat bahunya.

"Nee-chan," panggilan Ririn membuat perhatian Miyuki terarah padanya. "Vampire-san tidak salah. Ririn mengganggu Vampire-san yang sedang tidur," ucap Ririn yang membuat Hibari terkejut.

Dia tidak menyangka Ririn berkata seperti itu. Setidaknya, Hibari tidak menyangka Ririn akan membelanya, mengingat dia selalu bersikap kasar terhadap Ririn.

"Tapi Ririn-chan, tetap saja Kyo-nii salah. Tanganmu sampai memar seperti ini, apa ini sakit?" Miyuki menyentuh memar di tangan Ririn perlahan.

"Kalau dibandingkan dengan apa yang di lakukan oleh para peneliti itu, ini bukan apa-apa," Ririn berkata dengan datar.

Miyuki terdiam dan melihat Hibari sekilas dari ekor matanya. Walaupun terlihat menatap laptopnya, Miyuki dapat melihat mata Hibari mengarah pada Ririn. Berusaha mengenyahkan perasaan tidak enak, Miyuki menegakkan tubuhnya dan mengelus kepala Ririn lembut.

"Baiklah, kita lupakan hal tidak enak. Kyo-nii, aku dan Ririn-chan pulang dulu, jangan pulang terlalu malam," Miyuki memnggandeng tanga Ririn dan mengajaknya keluar dari ruangan itu. "Ririn-chan, kita rawat dulu tanganmu di UKS ya, agar memarnya cepat hilang," samar-samar Hibari dapat mendengar suara Miyuki dari balik pintu.

Begitu Hibari tidak lagi mendengar suara langkah mereka, dia menghentikan pekerjaannya dan menatap tangannya.

XXXXX

"Dino-san, jadi kamu akan kembali ke Italia?" Tsuna menatap kakak seperguruannya itu.

"Ya, apa boleh buat. Ada beberapa data yang harus kuurus di sana. Sebenarnya aku tidak mau meninggalkan Ririn di sini," Dino menghela napas pelan sambil memeluk Ririn yang berdiri di sebelahnya.

Dino, Ririn, Tsuna, Yamamoto dan Gokudera sedang berada di tangga menuju atap. Tadinya, mereka berniat membicarakan masalah ini di atap, namun cuaca mendung di luar membuat mereka mengurungkan niat mereka dan memutuskan bicara di tangga.

Miyuki sedang berada di ruang klubnya. Kabarnya, sejak Miyuki masuk klub jurnalistik, klub itu memiliki penghasilan tambahan sehingga walaupun minim anggota, Hibari tidak menutup ekskul itu. Entah apa yang di lakukan oleh Miyuki terhadap ekskul itu.

"Ririn tidak keberatan. Biasanya juga di Italia Kakak selalu pergi kok," Ririn merespon ucapan kakaknya dengan nada datarnya, membuat Dino kembali merengek.

"Ahahaha, tenang saja Dino-san. Kami juga kan menjaga Ririn!" Yamamoto tertawa ringan sambil mengelus kepala Ririn.

"Itu benar Dino-san, kami juga akan mengajak Ririn-chan bermain dengan I-pin dan Lambo," Tsuna berusaha menenangkan Dino sambil menunjukkan senyumnya.

"Walaupun tidak mau, tapi kalau Juudaime bilang begitu, aku akan ikut menjaga anak ini," Gokudera bicara dengan wajah seakan tidak peduli. "Tapi, kalau kamu memaksa aku tidak keberatan menemanimu berbicara tentang UMA dan penyihir," Gokudera mengalihkan pandangannya dan menatap Ririn dengan antusias yang membuat Tsuna sweatdrop.

"Ririn mau," Ririn menganggukkan kepalanya kepada Gokudera yang di balas oleh Gokudera dengan senyum antusias.

"Jadi, kamu sudah memutuskan akan kembali, Dino?" sebuah suara muncul, membuat mereka mengalihkan pandangan mereka dan mencari asal suara.

"Reborn!" Tsuna berseru melihat Reborn lagi-lagi berada di dalam kotak pemadam kebakaran sambil memegang kopi di tangannya.

"Reborn-jii-chan,"

"Ciaossu," Reborn memberi salam khasnya.

Matanya menatap Ririn sekilas dan sebuah kilatan licik terpancar di matanya yang sayangnya tidak disadari oleh seorangpun dari mereka, kecuali Tsuna dengan Vongola Hyper Intuitionnya.

"Reborn, berkas-berkas yang kamu minta semua sudah ku siapkan, sepertinya aku akan kembali ke Italia dalam minggu ini," Dino menatap Reborn dengan serius.

"Begitu? Baiklah," Reborn mengalihkan pandangannya dan melihat Ririn yang berjalan ke arahnya.

"Reborn-jii-chan, peluk," Ririn membungkukkan badannya dan berniat memeluk Reborn, tetapi Reborn menendang pangkal engsel pintu kotak itu sehingga pintu mulai tertutup dan dia melompat ke lubang kecil yang tiba-tiba ada di kotak itu.

Melihat Reborn masuk ke dalam lubang, Ririn merasa penasaran dan mengikuti Reborn melompat ke dalam lubang kecil itu. Beruntung memiliki badan yang kecil, tubuh Ririn berhasil masuk ke dalam lubang. Bertepatan dengan Ririn masuk kedalam lubang, pintu kotak pemadam kebakaran itu menutup dengan cepat.

"Ririn!"

"Ririn-chan!"

Dino dengan segera membuka pintu pemadam kebakaran yang sayangnya sudah kembali seperti semula.

XXXXX

BUGH

Hibari sedang mengejakan beberapa pekerjaan tentang The Foundation ketika mendengar sebuah suara bergema di ruangan itu. Suara yang mirip seperti sesuatu menabrak papan kayu. Matanya beralih dari layar laptopnya ke arah sumber suara.

DUK

DUK

Hibari memicingkan matanya dan menyiapkan tonfanya sambil berjalan ke salah satu rak buku di ruangan itu. Dia mendengar suara seperti dari lemari bawah raknya seperti sesuatu sedang berusaha membuka lemari rak itu dari dalam.

Hibari bersumpah akan menghukum petugas kebersihan yang bertanggung jawab kalau makhluk yang sekarang berada di dalam lemari itu adalah tikus dan merusak berkas-berkas di dalamnya.

Hibari membungkukkan badannya dan membuka lemari itu. Hal terakhir yang dilihat Hibari adalah sesuatu yang berwarna hitam seperti rambut sebelum dia terbaring karena di hantam oleh 'sesuatu' yang ternyata seorang gadis mungil yang saat ini ada di atas tubuhnya. Pintu lemari yang di buka oleh Hibari tertutup dengan cepat setelah melemparkan gadis itu. Hibari menggeram rendah begitu melihat gadis yang ada di atas tubuhnya.

"Vampire-san?" Ririn menatap Hibari bingung begitu mengangkat kepalanya dan melihat dia berada di atas Hibari.

"Chibi-Herbivore, apa yang sedang kau lakukan?" Hibari menggeram rendah sambil menatap sepasang mata silver yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

"Ririn sedang berbaring di atas Vampire-san," jawab Ririn dengan polosnya.

Hibari berusaha menahan keinginan untuk menepuk dahinya. Hibari mengangkat tubuhnya, mengubahnya menjadi dalam posisi duduk hingga membuat Ririn yang masih berada di atasnya terjatuh ke pangkuan Hibari.

"Chibi-Herbivore, kenapa kau bisa keluar dari lemari?" Hibari berusaha agar suaranya tidak terdengar kesal.

"Ririn mengikuti Reborn-jii-chan. Di dalam kotak pemadam kebakaran ada lubang, Reborn-jii-chan masuk ke dalam sana dan Ririn mengikuti Reborn-jii-chan. Tapi, waktu Ririn masuk ke lubang itu, Ririn terjatuh. Di tempat itu ada banyak lorong dan sangat gelap. Lalu ada tangga, ada lubang lagi, ada seluncuran dan terakhir Ririn jatuh ke dalam lubang lagi dan membentur sesuatu. Saat sesuatu yang Ririn tabrak terbuka, ada yang menendang Ririn dan saat Ririn membuka mata, Vampire-san ada di bawah Ririn," jelas Ririn.

Hibari mengerutkan dahinya menatap gadis yang masih duduk di pangkuannya. Sejak kapan kotak pemadam kebakarannya ada lubang? Hibari terlalu terfokus dengan pikirannya, tidak sadar dengan wajah Ririn berjarak sangat dekat dengannya.

Masih mencerna kata-kata Ririn, Hibari tidak sadar kalau pintu ruangannya di ketuk dan Kusakabe masuk ke dalam ruangan itu.

"Kyo-san, Kinoshita-sensei meminta...," Kusakabe menghentikan kata-katanya begitu melihat Hibari dan Ririn berada dalam posisi yang mengundang salah paham.

"Ah, Tetsu-senpai," Ririn memandang orang yang beberapa kali memberikannya makanan kecil dan permen selama menunggu di ruang Komite Kedisiplinan sepulang sekolah.

"Ma-maaf mengganggu!" Kusakabe dengan cepat menutup pintu ruangan itu kembali begitu tersadar.

Hibari mengerang pelan, mengetahui tangan kanannya yang terpercaya pasti salah paham. Hibari lalu memandang gadis yang masih duduk di pangkuannya. Memegang kerah seragam belakang Ririn, memegangnya seperti memegang kucing, lalu berdiri dan meletakkan gadis itu.

Hibari mengabaikan Ririn yang masih menatapnya dan berjalan menuju lemari rak. Dia membuka lemari itu dan berlutut di depannya. Hibari melihat lemarinya kembali seperti semula, berisi banyak berkas-berkas. Dia mengeluarkan setumpuk berkas dan mengetuk bagian belakang lemari itu.

Setelah beberapa saat memeriksa lemari itu, Hibari mengerutkan dahinya. Lemarinya seperti lemari biasa. Tidak ada tanda-tanda terdapat lubang atau ruang rahasia di sana. Hibari menutup lemari itu dan menatap Ririn yang masih memandangnya.

Hibari memberikan tatapan tajam pada gadis itu, yang sama sekali tidak berpengaruh karena Ririn masih menatap Hibari dengan mata bulat besar dan polos miliknya. Hibari sedikit heran karena biasanya tidak ada orang yang berani menatap matanya langsung seperti Ririn. bahkan, gadis kecil itu sama sekali tidak terlihat takut atau terintimidasi.

"Chibi-Herbivore, kembali ke kelas, sekarang," Hibari memberikan perintah kepada Ririn.

Ririn hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan itu, sedikit membuat Hibari terkejut walaupun tidak terlihat. Dia tidak menyangka gadis itu menurutinya dan tidak berkata apapun, keluar dari ruangan itu. Hibari mengenyahkan pikirannya dan kembali mengerjakan tugasnya. Dia menggeser laptopnya dan mengambil berkas di samping mejanya, berniat mengerjakan tugasnya sebagai ketua Komite Kedisiplinan.

XXXXX

"Hmm, apa rencanamu bisa dibilang berhasil?" Miyuki menurunkan teropong yang dipegangnya dan menatap Reborn di sebelahnya.

Miyuki dan Reborn berada di atap gedung yang bersebrangan dengan gedung tempat ruang Komite Kedisiplinan berada. Mereka sejak tadi bersender di teralis atap sambil mengamati Ririn dan Hibari dengan teropong mereka.

"Ini baru permulaan," Reborn menurunkan sedikit fedoranya sambil menyeringai. Reborn melompat dari teralis dan berjalan menuju pintu atap.

"Reborn-san," Miyuki memanggil Reborn, membuat batita itu berhenti. "aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu. Apa yang kamu rencanakan?" Miyuki menatap punggung sang batita itu.

"Hmph," Reborn menyeringai yang membuat Miyuki merinding. "entahlah," ucapnya sambil melanjutkan jalannya.

"Hhh," Miyuki menghela napas begitu Reborn menutup pintu atap. Dia merasa apapun yang direncanakan Reborn bukan hal bagus. "semoga saja perkiraanku salah," gumamnya sambil bersender di teralis.

XXXXX

MAAF! MAAF! MINNA, MAAF!

Sacchan bener-bener nggak nyangka kalau penyesuaian di tempat baru membutuhkan banyak waktu T.T dan ternyata untuk melanjutkan chapter ini yang sebelumnya udah setengah butuh waktu dua bulan!

Sacchan sama sekali nggak ada kesempatan untuk melanjutkan cerita ini karena tugas yang sangat banyak dan tidak Sacchan sangka. Untuk selanjutnya Sacchan akan berusaha agar bisa menyempatkan diri melanjutkan cerita ini, tapi kalau tidak bisa, Sacchan akan melakukan 'kebut update' saat liburan akhir tahun nanti, dimohon kesabaran readers untuk menunggu.

Terimakasih untuk readers sekalian yang sudah setia dan sabar menunggu Sacchan melanjutkan cerita LSIA ini, semoga kalian tidak bosan menunggu kelanjutannya ini ya.

Mind to R&R?