Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Yamashita Akira: Kira-chan~! Sacchan kangen! Maaf baru bales dan dilanjutin ceritanya ya. Iya, Reborn lagi berusaha mendekatkan Ririn dan Hibari, kalo soal lubang rahasia terinspirasi dari Reborn yang selalu muncul tiba-tiba dan berhasil mengembalikan segalanya seperti , bahkan sejak mereka masih di SMP. Iya, nggak apa-apa Kira-chan, semangat ya belajar buat UN-nya, semoga lulus dan mendapatkan nilai terbaik, juga diterima di sekolah yang diinginkan (amin).
Hikage Natsuhimiko: Hika-san, Sacchan juga kangen banget~! Maaf ya baru bisa dilanjut sekarang ceritanya. iya, Chapter sebelumnya emang chapter Hibari-Ririn, tenang aja, chapter selanjutnya giliran Dino-Miyuki kok, walaupun nggak sebanyak adegan Hibari-Ririn. Misi Miyuki yang dikasih Reborn emang buat nyatuin Ririn sama Hibari. Iya, itu Hibari agak nyesel, maklum Ririn kan penampilannya anak-anak imut kayak kelinci gitu, jadi Hibari kayak ngejahatin bocah :D! Entah kenapa mengingat Reborn selalu muncul tiba-tiba dimana saja-kapan saja membuat Sacchan ikut berpikiran 'itu gedung Nami-chuu temboknya sebesar apa ya?' dan membuat adegan serta fanservice itu ;) Sacchan sebentar lagi libur, jadi bisa kebut update, tunggu kelanjutannya ya~
Akarui Lilia: Terima kasih sudah memfavorite cerita Sacchan, Lili-san! Sacchan bingung mau panggil apa, jadi Lili-san aja ya.
Yukishiro Seiran: Seiran-san, arigatou udah mereview, memfavorite dan memfollow cerita Sacchan! Sacchan jadi tambah semangat baca review kamu setelah sekian lama nggak buka fanfict. Tentang Yamamoto, tenang aja nanti ada pasangannya kok, kan kasihan kalo ngejomblo sendiri ;) untuk alur yang lambat dan kata-kata yang rancu, Sacchan minta maaf ya. Sacchan kerjainnya kebut, ngejer libur selesai. Terima kasih atas saran dan kritiknya ya, Sacchan akan lebih teliti lagi supaya nggak ada kesalahan. Tunggu lanjutan LSIA ya!
Sakazuki123: Sakazuki-san, hontou ni arigatou! Makasih banyak udah memfavorite dan memfollow LSIA dan Sacchan! Sacchan seneng banget ada yang follow dan favorite Sacchan! Boleh, Sacchan seneng banget kalo kamu mau buat fanart-nya~! Tunggu lanjutan cerita Sacchan ya!
Minna, selamat menikmati!
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Calm Before The Storm
.
.
.
"Ririn-chan?"
Miyuki membuka pintu kamar Ririn dan melihat Ririn memakai jas putih –entah dari mana- dengan rambut di kepang satu yang menyisakan sedikit bagian kanan dan kirinya sedang memegang sebuah tabung bulat berwarna hijau terang yang berbuih.
"Nee-chan,"
Ririn mengangkat pandangannya dan menatap Miyuki. Dia meletakkan tabung yang dipegangnya begitu Miyuki menghampirinya.
"Ini, yang ku janjikan," Miyuki mengulurkan tangannya.
Ririn sesaat menatap sebuah pisau lipat kecil berwarna silver dengan sedikit kebiruan dan ukiran bulan sabit di bagian bawahnya.
"Cantik sekali," Ririn mengambil pisau dari tangan Miyuki dan mengarahkannya ke arah cahaya bulan, membuat pisau itu berkilauan dengan warna biru. "terima kasih, Nee-chan. Ririn suka," Ririn memeluk Miyuki yang dibalas dengan pelukan dan senyum senang.
"Syukurlah kamu menyukainya," Miyuki mengusap kepala Ririn lembut sambil memeluknya.
Ririn melepaskan pelukannya dari Miyuki dan mengambil cermin di samping meja laboratoriumnya. Dia menggoreskan tangannya dengan pisau yang di berikan Miyuki dan meneteskan darahnya di atas cermin itu. Tubuh, mata dan cerminnya bercahaya oranye.
Ririn lalu berjalan menuju rak dan mengambil sebuah cairan berwarna oranye pudar, seperti krem. Ririn berdiri di depan jendela, di bawah sinar bulan. Dia meletakkan pisau kecil pemberian Miyuki di hadapannya. Cerminnya berkilau dan muncul diagram sihir berwarna kuning di bawah Ririn. Ririn menggumamkan sesuatu sambil menuangkan cairan yang di pegangnya di atas pisau lipat.
Seketika pisau itu berkilau dan cahaya oranye di tubuh dan cermin Ririn menghilang. Ririn mengambil pisau lipat itu dan melipatnya. Miyuki yang sejak tadi diam dan memperhatikan ritual yang di lakukan Ririn menghampirinya.
"Jadi, sekarang kamu tidak perlu meminum obat lagi?" Miyuki tersenyum pada Ririn sambil menatap pisau di genggaman Ririn.
"Um, dengan begini Ririn tidak perlu lagi meminum obat itu. Rin juga tidak suka Ririn meminumnya," Ririn mengalihkan pandangannya dan menatap Rin yang sedang tidur di sofa.
"Baguslah," Miyuki tersenyum kecil, lalu matanya terarah pada pergelangan tangan Ririn yang masih membiru. "Ririn-chan, apa terasa sakit?" Miyuki memegang pergelangan tangan Ririn lembut dan menatapnya khawatir.
"Tidak," Ririn menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu merasa sakit, bilang saja,"
"Tidak. Kalau begitu nanti Kakak akan khawatir, Nee-chan juga. Ririn tidak apa-apa. Ririn tidak mau merepotkan. Ririn tidak mau mengganggu kalian," ucap Ririn dengan wajah datarnya.
"Mana mungkin merepotkan, kamu sama sekali tidak mengganggu," Miyuki memeluk Ririn yang di balas oleh gadis itu.
Sekarang, dia mengerti dengan kata-kata Dino saat dia bilang tidak mengetahui perasaan sebenarnya gadis itu. Dengan perasaan seperti apa Ririn mengatakan hal itu? Perasaan bersalahkah karena menganggap dirinya merepotkan? Wajahnya selalu tidak menampakkan emosi, hampir seperti kakaknya. Tetapi, Miyuki masih bisa membaca emosi Hibari karena dia sudah terbiasa.
"Ririn-chan, aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri, begitu juga dengan Dino-san. Kami menyayangimu, jadi tidak mungkin kamu mengganggu kami," Miyuki mengelus kepala Ririn yang berada di pelukannya.
Ririn hanya terdiam mendengar perkataan Miyuki. Untuk sesaat matanya terlihat kosong dan hampa, yang sayangnya tidak dapat dilihat oleh Miyuki. Miyuki melepaskan pelukannya dan menatap wajah dan tatapan datar Ririn.
"Ririn-chan, karena aku menganggapmu sebagai keluargaku. Jangan pernah menganggap dirimu merepotkan atau mengganggu," Miyuki tersenyum lembut sambil menatap mata Ririn. "Baiklah, ini sudah malam, gantilah bajumu sudah waktunya kita tidur," Miyuki lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
"Ririn-chan, aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri, begitu juga dengan Dino-san. Kami menyayangimu, jadi tidak mungkin kamu mengganggu kami,"
Ririn bersender di jendela dan menatap bulan sabit di langit. Kata-kata Miyuki terngiang di kepalanya. Kata-kata yang mirip dengan kata-kata yang diucapkan Kakaknya. Matanya menjadi kosong dan hampa.
"Itu tidak mungkin. Pada akhirnya, Ririn hanya akan merepotkan kalian semua," Ririn menatap cermin di tangannya dan melihat pantulan dirinya. "Ririn hanya akan menjadi beban bagi kalian. Merepotkan kalian dan mengangu hidup kalian. Pada akhirnya, kalian akan menyesal sudah menerima Ririn," Ririn menyetuh bayangan wajahnya di cermin dan mengepalkan tangannya erat.
Darah menetes dari genggaman Ririn. Wajahnya datar, matanya kosong dan hampa. Tubuhnya sedikit bergetar.
Tiba-tiba Ririn merasakan ada sesuatu menyentuh kakainya. Ririn menundukkan kepalanya dan melihat Rin mengusapkan kepalanya di kaki Ririn. Kekosongan dan hampa di mata Ririn menghilang, kembali datar seperti biasa.
"Woof!" Rin menatap Ririn, seakan memberitahukannya bahwa dia akan selalu setia di samping majikannya.
"Terima kasih. Terima kasih, Rin," Ririn berlutut dan memeluk Rin erat.
Setelah beberapa saat, Ririn berdiri dan mengganti bajunya, lalu berjalan menuju kamar Miyuki bersama Rin.
XXXXX
Miyuki dan Ririn sedang berjalan menuju taman sekolah untuk makan siang. Hari ini, mereka berencana untuk makan bersama dengan Rin. Tiba-tiba beberapa siswa berbadan besar dan berwajah seperti preman datang dan menggiring mereka berdua ke belakang sekolah.
"Hehehe, tidak disangka, Ketua Komite Kedisiplinan yang seperti setan itu memilki adik yang cantik seperti ini," ucap salah seorang preman dengan rambut berdiri sambil menyeringai ke arah Miyuki yang berdiri di depan Ririn.
"Maaf, tapi kami ada perlu, tolong biarkan kami lewat," Miyuki, dengan senyumnya yang biasa berkata pada orang-orang yang mengelilinginya.
"Sayang sekali Miyuki-chan, itu tidak mungkin," seorang preman dengan telinga ditindik berkata dengan seringai yang mengintimidasi, yang sayangnya tidak berpengaruh pada Ririn maupun Miyuki. "karena, kami akan menggunakan kalian untuk mengalahkan Hibari!" lanjut preman itu.
Miyuki yang sudah mengetahui maksud dari para preman itu untuk menjadikannya dan Ririn sebagai sandera untuk mengalahkan Hibari. Tiba-tiba ada sebuah kilat di matanya yang hanya di sadari oleh Ririn karena perubahan aura di sekeliling Miyuki.
"Kalian berniat menjadikanku dan Ririn-chan sebagai sandera untuk mengalahkan Kyo-nii, begitukah?" Miyuki menundukkan kepalanya dan tangannya terangkat ke arah rambutnya.
"Nee-chan," Ririn menyentuh tangan Miyuki yang terangkat.
Miyuki memandang Ririn yang menatapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan, mereka hanya orang biasa. Bukankah Nee-chan menyembunyikannya dari Vampire-san?" Ririn memandang lurus mata Miyuki.
Untuk sesaat gerakan Miyuki berhenti.
"Kamu benar," Miyuki menurunkan tangannya dan tersenyum sambil mengusap kepala Ririn.
"Heh, sekarang diamlah," Preman dengan telinga ditindik itu bergerak maju dan berniat memegang tangan Miyuki yang dihindari Miyuki dengan bergeser ke samping dengan cepat.
"Kamu benar, Ririn-chan. Kalau begitu aku akan menyelesaikannya sebagai 'Miyuki'," Miyuki berkata sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, yang malah membuat preman-preman itu terpesona.
"Huh?" Preman bertindik tadi mengerjapkan matanya beberapa kali saat tangannya hanya menyentuh udara.
Preman tadi kembali mencoba menggenggam tangan Miyuki, tetapi lagi-lagi Miyuki berhasil menghindar dengan perbedaan jarak yang sangat tipis, membuatnya di tertawakan oleh teman-teman premannya yang lain.
"Kurang ajar!" Preman tadi mengumpat sambil menerjang Miyuki.
Miyuki menyeringai kecil sambil menghindar ke samping preman itu dan mengulurkan kakinya hingga preman itu tersandung dan jatuh dengan wajah membentur tanah.
"Sialan!" Preman bertindik itu memandang Miyuki dengan marah.
Teman-teman preman itu sudah mengelilingi Miyuki dalam sekejap. Mereka menyeringai licik sambil menatap Miyuki dengan mata berkilat.
"Hehehe, sepertinya sang prefek tidak akan keberatan kalau kita bermain dulu dengan adiknya yang cantik,"
Seorang preman bertubuh kurus dan tinggi berjalan mendekati Ririn dan memainkan ujung rambut gadis itu.
"Tolong lepaskan tangan senpai dari Ririn-chan," Miyuki tersenyum, tetapi matanya berkilat berbahaya.
"Haaah?" Preman itu memasang wajah mengejek.
BUGH
Preman yang tadi menyentuh rambut Ririn dalam sekejap tergeletak di tanah dengan dagu berwarna merah. Sekarang semua mata memandang gadis mungil yang baru saja menumbangkan preman itu.
"Kakak bilang tidak boleh membiarkan orang mencurigakan mendekati Ririn dan Ririn harus menyerangnya kalau berani menyentuh Ririn," ucap Ririn datar.
"Apa? Kurang ajar!"
Salah seorang preman menerjang ke arah Ririn, yang langsung di tendang oleh Miyuki dari belakang begitu preman itu melewatinya.
"Ara? Melawan seorang gadis kecil dengan kekerasan itu tidak boleh lho," Miyuki masih memasang senyumnya.
"Serang mereka berdua!" seorang preman berbadan besar memerintahkan pada teman-temannya.
Miyuki dan Ririn dengan mudah menghindari pukulan dan tendangan para preman itu. Miyuki beberapa kali membuat mereka tersandung dan memukul belakang kepala preman-preman itu hingga pingsan.
Ririn menghindari setiap serangan dengan datar. Tiba-tiba ada seorang preman yang mengendap-endap di belakang Ririn. Preman itu memasang seringai mesum sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, berniat memeluk gadis mungil itu.
'Ririn-chan sayangku, akhirnya aku bisa menyentuhmu,' pikir preman pedofil itu.
DUAK
"A..a..gh," preman itu memegang bagian terpenting tubuhnya, di antara selangkangan dan jatuh ke belakang dengan wajah pucat dan mata berwarna putih.
Bisa dipastikan preman itu pingsan setelah Ririn menendangnya tepat di selangkangan preman itu. Untuk sesaat gerakan preman lain berhenti dan mereka refleks ikut memegang selangkangan mereka melihat rekan mereka tumbang.
"Ririn-chan...," Miyuki melihat preman yang tumbang itu dengan sebelah alis terangkat.
"Kakak bilang kalau ada orang yang mau berniat jahat pada Ririn, mencurigakan dan terlihat menjijikkan, Ririn harus menendang orang itu di selangkangan," Ririn menjelaskan pada Miyuki yang menatapnya dengan alis terangkat.
"Perempuan sialan!"
Salah seorang preman berteriak sambil mengambil sebuah balok kayu dan mengarahkannya pada Ririn.
"Grrr!"
Tiba-tiba Rin muncul dan menerjang wajah preman yang memegang balok kayu.
"Arggh!" Preman itu mengambil Rin yang menggigit hidungnya dan mencakar wajahnya dan membanting Rin ke tanah.
"Rin!" Miyuki dan Ririn berseru panik melihat Rin membentur tanah.
Ririn langsung berlari menghampiri Rin dan menggendong anak serigala itu dengan perlahan. Dia langsung memeriksa Rin yang pingsan dan bersyukur luka Rin tidak parah. Punggungnya sedikit berdarah, tetapi tidak ada tulang yang retak.
Preman tadi mengambil kesempatan dan berniat memukul Ririn yang sedang memeriksa Rin dari belakang.
"Senpai~"
Preman yang memegang balok kayu tadi memutar kepalanya menuju asal suara dan pingsan seketika begitu sepasang kaki menginjak wajahnya keras. Preman itu terjatuh terlentang, sedangkan Miyuki melakukan salto di udara dan mendarat di sebelah Ririn.
"Ririn-chan, bagaimana keadaan Rin?" Miyuki langsung ikut berlutut di sebelah Ririn dan memeperhatikan Rin.
"Hanya sedikit terluka di punggung dan sepertinya memar," Ririn berdiri sambil memeluk Rin yang pingsan.
"Ririn-chan ayo kita bawa Rin ke UKS, di sana ada dokter, mungkin dia bisa merawat Rin," Miyuki mengajak Ririn ke UKS yang di balas dengan anggukkan.
Mereka berdua pergi dari tempat itu menuju UKS, meninggalkan preman-preman yang tergeletak pingsan, tidak sadar sepasang mata sejak tadi mengamati. Tatapannya menatap sang gadis berpita dengan penasaran.
XXXXX
Dino baru saja berhasil meloloskan diri dari murid-muridnya dan beberapa guru yang merupakan fansnya. Sejak bel istirahat berbunyi, mereka selalu menempel pada Dino hingga sang Cavallone itu bingung karena harus menelepon tangan kanannya untuk mempersiapkan segala berkasnya yang harus di bawa ke Italia beberapa hari ke depan.
Saat Dino sedang berjalan, berniat mendatangi adiknya yang imut, dia melihat adiknya dan Miyuki bersama beberapa preman berbadan besar pergi menuju ke belakang sekolah. Merasa adiknya berada dalam situasi yang berbahaya, Dino berniat mengejar mereka.
"Tung-"
BRUK
Sayang sekali, lagi-lagi Dino tersandung kakinya sendiri dan terjatuh dengan wajah membentur tanah. Dino mengerang pelan dan mengusap dahinya. Dia berdiri dan berjalan ke arah yang sama dengan yang di tuju Ririn, Miyuki dan para preman itu.
Setelah beberapa kali tersandung, dia berhasil menemukan Miyuki dan Ririn. Dino bersembunyi di balik pohon dan mengamati Miyuki yang mengalahkan preman-preman itu dengan gerakan yang minim.
"Hebat, benar-benar adik Kyoya," Dino memandang Miyuki dengan kagum. Dia tidak pernah menyangka gadis lembut itu dapat berkelahi.
"Ririn!" Dino berseru panik dengan suara pelan begitu melihat seorang preman mengendap-endap di belakang Ririn dengan wajah mesum menjijikkan.
DUAK
Dino meringis melihat Ririn menendang preman itu tepat di alat vitalnya. Dino tersenyum kecil mendengar Ririn mengingat perkataannya. Dino menghela napas dan pandangannya teralih ke arah Miyuki yang sudah menumbangkan beberapa preman lagi.
Dino segera mengalihkan pandangannya kembali ke Ririn begitu mendengar suara geraman Rin. Dino hanya bisa melihat dari tempatnya saat Rin dilempar dia berniat berlari ke arah Ririn, namun gerakannya berhenti begitu melihat tiga preman yang tersisa sedang mengelilingi Miyuki.
"Beraninya kalian melukai Rin," Miyuki menatap ketiga preman itu sambil tersenyum, tetapi senyumnya membuat ketiga preman itu merinding.
Dino yang melihat senyum Miyuki juga merasakan hal yang sama dengan preman itu. Bibirnya tersenyum, tetapi matanya berkilat dan auranya berbahaya. Dino memperhatikan Miyuki yang memberikan tendangan memutar di kepala preman yang menyerangnya dari belakang, lalu membanting preman yang satu ke arah yang lain sehingga mereka pingsan.
Setelah itu dia memanggil preman yang memegang balok kayu tadi, yang tidak di sadari oleh Dino sambil melompat tinggi dan menginjak wajah preman itu dengan keras, lalu mendarat sambil melakukan salto di sebelah Ririn.
Setelah Miyuki dan Ririn pergi ke UKS untuk merawat luka Rin, Dino keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan ke arah preman-preman yang pingsan itu. Dino mengingat dengan jelas gerakan-gerakan Miyuki. Cara bertarungnya yang hebat, juga tatapannya dan auranya yang terakhir tadi.
Cara bertarung, aura dan tatapan yang tidak akan didapat hanya karena kebetulan atau sehari-dua hari. Dino seorang bos mafia, dan dia tahu hal itu. Matanya dan gerakannya menunjukkan kalau gadis itu sudah terbiasa. Dan auranya.
"Yuki, sebenarnya kamu siapa?" gumam Dino sambil mengeluarkan ponselnya.
Dia harus memberi tahu sang Ketua komite Kedisiplinan kalau ada yang berani mengganggu ketenangan Namimori Gakuen.
XXXXX
Miyuki dan Ririn memasuki ruang UKS dan menemukan ruang UKS itu kosong. Mereka akhirnya mengambil perban dan obat-obatan dan merawat luka Rin berdua.
"Rin, maaf kamu jadi terluka. Seharusnya Ririn bisa melindungimu," Ririn mengelus kepala Rin yang sudah tersadar pelan.
"Woof," Rin menjilati tangan Ririn seakan mengatakan kalau itu bukan salahnya.
Tiba-tiba pintu UKS terbuka dan Hibari masuk ke ruangan itu. Matanya tertuju pada Ririn dan Miyuki lalu Rin yang berada di atas meja dan ada perban di kepalanya.
"Kyo-nii, Rin terluka," seakan bisa membaca raut wajah Hibari, Miyuki berbicara. "ada yang memukulnya," Miyuki menambahkan.
Hibari menatap Rin yang balas menatap Hibari dengan wajah memelas. Kuping dan ekornya diturunkan, membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Beruntung selama beberapa hari ini Reborn mengajarinya cara agar bisa membuat orang lain bersimpati padanya, terutama sang Ketua Komite Kedisiplinan yang merupakan pecinta binatang kecil. Hibari mengalihkan matanya dan menatap Miyuki.
"Aku tidak tahu, saat kami menemukannya dia sudah terluka," Miyuki berbohong dengan wajah sedih. Tidak mungkin dia mengatakan baru saja berkelahi. Kakaknya tidak boleh tahu hal itu.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Ririn memeluk Rin dan menggendongnya. Miyuki yang melihat Ririn memegang bahu gadis itu.
"Ririn-chan, waktunya kita masuk kelas," Miyuki tersenyum kepada Ririn.
"Ririn tidak mau. Rin terluka, kalau Ririn di kelas, Rin akan sendirian," Ririn berkata dengan tegas.
"Chibi-Herbivore, kamu harus masuk kelas. Sekarang," ucap Hibari dengan nada tegas. Miyuki memperhatikan Hibari lalu Rin untuk sesaat.
"Ah, bagaimana kalau Rin di titipkan di ruang komite kedisiplinan saja? Kalau di sana ada Kyo-nii, Hibird dan Roll. Rin tidak sendirian kan?" Miyuki tersenyum kepada Ririn.
"Yuki," Hibari menatap Miyuki dengan dahi berkerut.
"Kyo-nii tidak mau ada anak siswa yang membolos kan? Ririn-chan pasti tidak mau meninggalkan Rin sendiri. Pilihannya Kyo-nii membiarkan Ririn-chan membawa Rin ke kelas atau Rin dititipkan di ruang komite kedisiplinan," ucap Miyuki sambil berjalan mendekati Hibari. "lagipula Kyo-nii tidak kasihan pada Rin yang terluka seperti itu?" Miyu berbisik kepada Hibari sambil mengarahkan pandangannya pada Rin yang kembali memasang pose memelas.
Hibari hanya terdiam sambil memandang Rin tanpa berkata apapun, lalu pandangannya beralih pada Ririn yang memandangnya dengan datar.
"Nah, Ririn-chan, Rin pasti akan baik-baik saja. Kamu percaya pada Kyo-nii?" Miyuki tersenyum pada Ririn.
"Um, Ririn percaya," Ririn menganggukkan kepalanya pada Miyuki, membuat Hibari sedikit terkejut. Dia sama seklai tidak menyangka kalau Ririn mempercayainya.
"Bagus, sekarang berikan Rin pada Kyo-nii," Miyuki yang menyadari sedikit keterkejutan di mata kakaknya yang hanya sesaat tersenyum kecil.
Ririn memandang Rin dan memberikannya pada Hibari. Hibari menerima Rin dan menggendong anak serigala itu dengan satu tangannya. Hibari segera membalikkan badannya dan pergi tanpa mengatakan apapun. Begitu Hibari dan Rin pergi dari ruangan itu, Miyuki mengajak Ririn untuk kembali ke kelas mereka.
XXXXX
Pelajaran telah selesai dan sekarang waktunya pulang sekolah. Begitu bel berbunyi, Ririn segera membereskan barang-barangnya dan pergi menuju ruang Komite Kedisiplinan, sedangkan Miyuki harus pergi ekskul.
Ririn memasuki ruang komite kedisiplinan setelah mengetuk pintu beberapa kali. Hibari berada di depan laptop, tidak mengalihkan pandangannya saat Ririn memasuki ruangan. Ririn segera berjalan mendekat ke arah sofa tempat Rin duduk, di hadapannya ada Hibird dan Roll.
Ririn memperhatikan Rin dan Hibird yang sedang bertatapan, sedangkan Roll hanya menatap mereka berdua dengan canggung. Rin mengangkat satu kakinya dan mengarahkannya ke atas Hibird. Hibird sedikit mengepakkan sayapnya melihat Rin mengangkat tangannya, namun tetap pada tempatnya.
Hibari mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya dan tersenyum kecil melihat Ririn berlutut di depan sofa sambil menatap ketiga bintang itu. Ririn terlihat seperti anak kecil dengan sikap seperti itu.
Hibari mengangkat alisnya melihat apa yang sebenarnya dilakukan Rin dan Hibird. Tangan Rin yang sebelumnya terangkat perlahan-lahan turun dan mengusap kepala Hibird.
"Rin~ Rin~," Hibird berkicau dengan riang begitu Rin selesai mengusap kepalanya. Dan terbang ke kepala Rin.
"Kalian sangat imut," Ririn berdiri dan duduk di sofa sambil mengangkat Rin dan Roll ke pangkuannya.
Tidak lama berselang, terdengar suara pintu diketuk. Miyuki memasuki ruangan itu sambil berjalan ke arah Ririn dan mengelus Rin yang menggoyangkan ekornya begitu melihat Miyuki.
"Kyo-nii, aku akan pulang bersama Ririn, apa Kyo-nii mau kumasakkan sesuatu untuk makan malam?" Miyuki memperhatikan kakaknya yang sedang sibuk membaca beberapa kertas.
"Tidak. Aku tidak makan di rumah,"
"Lagi? Kyo-nii terlalu sibuk akhir-akhir ini," Miyuki mengehela napas mengingat sudah beberapa hari kakaknya itu jarang makan di rumah.
Sebenarnya Miyuki tahu alasan kakaknya jarang makan di rumah selama beberapa hari terakhir. Akhir-akhir ini Kusakabe dan beberapa anggota komite kedisiplinan lainnya terlihat sibuk. Mereka pasti sedang melakukan pencarian informasi.
"Baiklah, kalau begitu aku dan Ririn pulang duluan," Miyuki mengajak Ririn pulang sambil melambaikan tangannya pada Hibari.
Miyuki dan Ririn sedang berjalan di lapangan sekolah ketika melihat sekelompok orang yang mereka kenali.
"Senpai-tachi,"
Yamamoto, Tsuna, Gokudera, dan Ryohei membalikkan badannya ketika mendengar suara yang mereka kenal.
"Ah, Ririn-chan Miyuki-san," Tsuna yang pertama kali merespon dan melambaikan tangannya pada Ririn dan Miyuki diikuti Yamamoto dan Ryohei, sedangkan Gokudera hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Konnichiwa, senpai," Miyuki sedikit membungkukkan badannya sambil memberikan salam kepada para seniornya yang dibalas oleh mereka, sedangkan Ririn memeluk Tsuna.
"Tsuna-nii," Ririn memeluk Tsuna dengan satu tangan, karena teangannya yang satu lagi digunakan untuk manggendong Rin.
"Ririn-chan," Tsuna mengelus rambut Ririn pelan sebelum gadis itu melepaskan pelukannya.
Setelah itu dia memeluk Yamamoto, Gokudera, dan Ryohei bergantian yang dibalas dengan berbeda-beda oleh masing-masing orang.
"Kalian sudah pulang? Tidak bersama Hibari-san?" Tsuna melihat sekeliilngnya, sedikit takut kalau cloud guardiannya itu tiba-tiba muncul dan 'menggigit sampai mati' dirinya.
"Tidak, akhir-akhir ini Kyo-nii sibuk,"
"Ciaossu!"
Tiba-tiba Reborn muncul dari langit dangan Leon berubah sebagai parasut dan mendarat di antara mereka.
"Reborn!" Tsuna langsung memekik melihat Reborn.
"Ririn, hari ini kamu ke rumah Tsuna," Reborn melompat ke bahu Tsuna dan duduk di sana sambil menunjuk Ririn.
"Eh?!" Tsuna memekik dengan perkataan Reborn yang tiba-tiba.
"Berisik," Reborn dengan datar berkata sambil melompat dan menginjak muka Tsuna, lalu melompat ke bahu Ririn. "Kamu keberatan Ririn?"
"Tidak, Ririn tidak keberatan," Ririn menggelengkan kepalanya.
"Eh? Apa tidak apa-apa, Miyuki-san?" Tsuna memegang wajahnya yang masih terasa sakit sambil menatap Miyuki dengan perasaan tidak enak karena tiba-tiba membawa Ririn pergi.
"Tidak apa-apa. Kalau Ririn tidak keberatan, aku tidak ada masalah," Miyuki tersenyum kepada Tsuna, menenangkan.
"Begitu?" Tsuna ikut tersenyum sambil menghela napas lega.
"Sekarang, ayo pulang," Reborn memerintahkan.
"Kalau begitu kami pergi, Miyuki-san," Tsuna pergi sambil melambaikan tangannya pada Miyuki yang diikuti oleh yang lain dan dibalas oleh Miyuki.
"Apa lagi rencanamu, Reborn?" gumam Miyuki begitu melihat punggung mereka menghilang di balik gerbang sekolah.
XXXXXX
"Hhh~ hari ini aku makan sendiri," Miyuki bergumam sambil menatap langit.
Sejak Ririn datang, dia hampir tidak pernah sendirian. Sekarang Ririn sedang bersama dengan Reborn dan yang lain, membuatnya sendirian. Miyuki terlalu sibuk dengan pikirannya, tidak sadar bahwa ada seseorang di belakangnya.
"Yuki~" Dino menyentuh pundak Miyuki pelan, mengagetkan gadis itu dari lamunannya.
"Dino-san," Miyuki tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya.
"Sendirian saja? Mana Ririn?" Dino tersenyum dan memandang sekitarnya.
"Ririn-chan pergi bersama Sawada-senpai," Miyuki tersenyum menjawab pertanyaan Dino.
"Kalau begitu kamu sendirian? Mana Kyoya?"
"Kyo-nii sedang sibuk dan kelihatannya akan pulang malam,"
"Hmm," Dino menatap Miyuki yang masih menatapnya. "kalau begitu kamu mau makan malam denganku? Kebetulan aku ada waktu luang sampai malam," Dino tersenyum kepada Miyuki.
"Ah, tidak usah. Aku merasa tidak enak selalu ditraktir oleh Dino-san," Miyuki tersenyum sungkan pada Dino.
"Ah, tidak apa-apa. Aku ingin berterima kasih padamu karena telah menjaga Ririn ," Dino kembali memaksa dengan halus.
"Tapi untuk kebutuhan Ririn semua sudah dibayar oleh Dino-san kan? Aku merasa tidak enak ditraktir di tempat mahal terus," Miyuki kembali menolak tawaran Dino.
Dino tampak terdiam mendengar perkataan Miyuki, kemudian berpikir. Biasanya perempuan senang kalau diajak makan di tempat mewah. Miyuki memang berbeda dengan perempuan yang selalu ada di sekelilingnya, kecuali Ririn.
"Ah, bagaimana kalau kita membuat makan malam bersama di rumah?" Miyuki tersenyum kepada Dino yang menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Dino-san yang membeli bahan makanannya, biar aku yang memasak di rumah. Kalau seperti itu Dino-san tetap mentraktirku dan aku merasa lebih baik karena Dino-san tidak perlu mengeluarkan banyak uang," jelas Miyuki sambil tersenyum.
Dino menatap gadis di depannya dengan kagum. Dia mengenal banyak perempuan dan belum pernah dia bertemu perempuan seperti Miyuki.
"Um, kalau tidak mau tidak-" Miyuki menatap Dino dengan pandangan tidak enak, salah mengartikan sikap diam Dino.
"Mau, aku mau!" Dino segera memotong perkataan Miyuki sebelum gadis itu selesai bicara.
Miyuki menghela napas lega dan tersenyum kepada Dino yang dibalas dengan senyum.
"Ayo kita beli bahan makanannya," Dino tersenyum sambil berjalan, mengajak Miyuki membeli bahan makanan.
"Dino-san, aw-,"
JDUGG
"-as..."
Miyuki berjalan panik ke arah Dino yang memegang dahinya yang memerah karena membentur tiang listrik.
"Dino-san tidak apa-apa?" Miyuki menatap Dino yang mengelus dahinya pelan.
"Tidak apa-apa, ayo kita pergi," Dino mennggerakkan tangannya di depan dada dengan canggung dan kembali mengajak Miyuki membeli bahan makanan, menyembunyikan rasa sakit di dahinya.
Miyuki menghela napas dan mengikuti Dino. Dia berjanji tidak akan melepaskan pandangannya dari Dino selama mereka hanya berdua untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan.
XXXXX
"Wah, manisnya~!" Nana memekik gemas begitu melihat Ririn.
"Kaa-san, ini adik Dino-san, Ririn-chan," Tsuna memperkenalkan Ririn dengan canggung kepada mamanya.
"Halo, namaku Nana, tapi kamu boleh memanggilku Mama seperti yang lainnya," Nana tersenyum ceria pada Ririn yang menatapnya.
JIII~
Tiba-tiba Ririn memeluk Nana dengan erat. Nana awalnya kaget, tetapi membalas pelukan Ririn sambil mengelus kepala Ririn dengan keibuan.
"Hangat, lembut dan menenangkan," gumam Ririn sambil melepaskan pelukannya dari Nana.
"Mama?" Ririn bergumam sambil menatap Nana yang dibalas dengan senyuman ceria dan tatapan lembut.
Reborn menurunkan fedoranya sambil memperhatikan Ririn. Dia dapat melihat tatapan Ririn yang menjadi lembut. Reborn dapat menebak bahwa Ririn teringat dengan Amel. Sifat dan sikap Amel memang mirip dengan Nana. Lembut, keibuan dan optimis.
"Kaa-san, kami ke atas dulu," Tsuna mengajak Ririn ke kamarnya sambil membawa minuman dan camilan untuk bergabung bersama Yamamoto, Ryohei dan Gokudera yang sudah lebih dulu ke kamarnya.
Begitu Tsuna dan yang lain sudah duduk di kamar Tsuna, Tsuna menatap Reborn dengan pandangan bertanya.
"Reborn, kenapa kamu menyuruhku mengajak Ririn ke sini?" Tsuna melihat Ririn dari sudut matanya.
Gadis itu sedang mengelus Rin sambil membicarakan sesuatu dengan Gokudera yang terlihat bersemangat dan memegang sebuah majalah. Tsuna melihat nama majalah itu sekilas dan hanya bisa sweatdrop, 'Sihir dan Ilmu Gaib'. Bisa-bisanya mereka membahas buku seperti itu dengan serius, dan walaupun wajah Ririn tetap datar, dia bisa melihat anak itu tertarik. Mungkin berkat Vongola Intuitionnya.
"Dame-Tsuna!" Reborn menendang Tsuna kencang hingga Tsuna mengerang kesakitan.
"Apa yang kamu lakukan?" Tsuna hanya bisa mengerang sambil memeluk lutunya dan meringis kesakitan.
"Sebagai Juudaime, seharusnya kamu sadar apa yang harus kamu lakukan tanpa kuberi tahu," Reborn mengehela napas sambil menggelengkan kepalanya meremehkan Tsuna. "kamu harus mengakrabkan diri dengan Ririn. Sebagai adik Dino, dia bisa membantumu nantinya, apalagi sekarang dia sudah menganggapmu sebagai kakaknya," lanjutnya.
Tsuna hanya menghela napas mendengar perkataan Reborn. Pandangannya teralih kepada Ririn yang sedang menatap Gokudera yang sedang bertengkar dengan Ryohei, sedangkan Yamamoto hanya tertawa sambil berusaha melerai.
Bertahun-tahun menjadi murid Reborn mengajarkannya untuk tidak membantah Reborn kalau tidak mau berakhir dengan tubuh penuh luka. Tsuna hanya menatap gadis itu sebelum mendekatinya. Lagipula, apa yang bisa dilakukan gadis itu untuk membantunya? Dia tahu Reborn merencanakan sesuatu.
To Be Continue….
XXXXX
Minna, setelah sekian lama akhirnya Sacchan kembali!
Sacchan seneng banget setelah sekian lama bisa melanjutkan cerita ini dan Sacchan nggak nyangka yang review tambah banyak! Kyaa~ makasih Minna! Review kalian menjadi tambahan tenaga buat Sacchan untuk melanjutkan cerita ini!
Sacchan benar-benar berterima kasih kalian mau menuggu LSIA ini. Sebentar lagi libur dan Sacchan akan punya waktu senggang, jadi Sacchan akan melanjutkan kebut update Sacchan. Semoga kalian tidak bosan dan tidak lelah menuggu Sacchan melanjutkan cerita ini!
Akhir kata,
R&R please!
