Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
sakazuki123 : Skazuki-san, ggak mirip juga nggak apa-apa, lagian nggak ada gambar karakter asli mereka kok, kan Sacchan nggak bisa gambar -_-". Kalo gambarmu udah selesai Sacchan mau lihat deh, itu bisa jadi karakter ori-nya Ririn sama Miyuki tuh ;). Ahahaha, Sacchan yang bikin karakter Ririn juga gemes sama keimutannya kok ;)
: Cocoa-san, terima kasih sudah memfavorite LSIA dan Sacchan. Maaf updatenya lama ya, Sacchan banyak tugsa jadi cuma bisa lanjutin cerita kalo libur. Sebenernya chapter ini harusnya udah di update dari hari Minggu, tapi berhubung libur telah tiba, Sacchan kebanyakan main, lupa deh -_-" maaf ya. Seharusnya chapter depan lebih cepet Sacchan update sih. Iya, di LSIA peran Reborn jadi mak comblang ;).
Hikage Natsuhimiko : Sebenernya Hika-san itu pisau buat Ririn meletakkan semacam 'kunci' biar animal weapon nggak keluar dari tempatnya seenaknya setiap ada Ririn. Berhubung karena sebelumnya nggak ada 'wadah' kosong buat jadi kunci karena cermin Ririn bukan cermin biasa. Pisau itu juga dipake Ririn buat melukai tubuhnya dan ngeluarin darah dan bisa jadi senjata Ririn (ada di chapter depan). Sacchan mau biki drama sedikit, jadi membuat adegan itu. Sebenernya berhubung Sacchan kehabisan ide buat bikin tema bekalnya makanya di skip -_-'. Mungkin Dino bilang "ada yang mengganggu kedamaian di sekolahmu tercinta?" ;). Sacchan suka sama bintang dan membuat mereka melakukan hal imut~. Wah, kalo Hibari tau Dino bakal di 'kamikorosu' tuh. Itu si Tsuna emang kasian banget. Bertahun-tahun jadi murid Reborn bikin dia pasrah sama nasib tuh. Iya, chapter ini sebagian besar adegan MiyuDino kok, cuma nggak sebanyak HibaRirin. Sacchan udah libur, tapi kebanyakan main, makanya updatenya melar. Chapter selanjutnya harusan nggak lama sih updatenya.
Please enjoy this chapter!
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Found Out
.
.
.
"Dino-san, tidak apa-apa?"
Miyuki dan Dino sudah selesai membeli bahan makanan dan sekarang Miyuki sedang mengelap darah di hidung Dino karena dia tersandung rak supermarket dan terjatuh sambil menimpa kaleng makanan yang ditumpuk sebagai display.
"Ahahaha, hanya segini tidak apa-apa kok," Dino menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa.
Miyuki hanya menghela napas sambil tersenyum kepada Dino. Setidaknya, Dino hanya tersandung tiga kali (termasuk saat sedang belanja) dan terbentur tiang listrik dua kali. Mengingat data yang dia punya menunjukkan biasanya Dino mengalami luka yang lebih parah, bisa dua atau tiga kali lipat dari yang dialaminya sekarang jika tidak bersama anak buahnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membuat makan malam dulu," Miyuki berdiri dan berjalan ke dapur.
"Aku bantu!" Dino segera berdiri dan menghampiri Miyuki.
"Eh, Dino-san? Apa tidak apa-apa?" Miyuki memandangi luka di wajah Dino dengan khawatir.
"Tidak apa-apa. Aku memang tidak bisa masak, tapi pernah membantu Ririn," Dino tersenyum kepada Miyuki yang dibalas anggukan kepala.
"Baiklah,"
Mereka berdua berjalan ke dapur dalam diam. Dino mengeluarkan bahan masakan dari kantung belanjaan mereka, sedangkan Miyuki mengambil peralatan memasak. Miyuki berjinjit, kesulitan mengambil panci di rak bagian atas. Sepertinya kemarin kakaknya yang meletakkan panci itu karena panci itu jauh dari jangkauannya. Tiba-tiba dia merasakan ada sebuah tangan terulur dan mengambil panci itu. Miyuki mendongakkan kepalanya dan bertatapan dengan Dino yang melihat ke arahnya. Wajah mereka hanya terpaku beberapa senti karena Miyuki masih berjinjit.
Pandangan mereka bertemu walau hanya sesaat. Miyuki segera menundukkan kepalanya dan Dino segera mengalihkan kepalanya sambil mengambil panci itu dan mundur beberapa langkah.
'De…dekat!' Miyuki memekik sambil memegang wajahnya yang terasa panas dan merasakan jantungnya berdetak kencang. Itu pertama kalinya dia sedekat itu dengan laki-laki selain kakaknya atau pamannya.
'Kenapa aku jadi malu begini? Ayolah Dino, ini bukan pertama kalinya kamu berhadapan dengan perempuan,' Dino melihat Miyuki yang menunduk dari sudut matanya. Dia bisa mengingat matanya yang indah, pipinya yang bersemu, mencium wangi lavender membuatnya teringat kejadian di tangga beberapa waktu yang lalu….
'Tidak! Apa yang kupikirkan? Dia itu muridku di sekolah, adik Kyoya dan yang terpenting dia masih di bawah umur! Astaga, Dino, kalau seperti ini apa yang dikatakan Kyoya benar!' Dino langsung menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan bayangan di kepalanya dan mencaci dirinya sendiri.
"Emm…,"
Dino terlonjak kaget, menyadarkannya dari lamunannya mendengar gumaman Miyuki.
"Ayo kita mulai saja memasaknya," Miyuki membalikkan badannya dan menatap Dino sambil tersenyum, seakan tidak terjadi apapun sebelumnya.
"Iya," Dino menghela napas lega walaupun ada sedikit perasaan kecewa melihat Miyuki bersikap biasa saja.
Untuk beberapa saat mereka memasak dalam diam. Dino memotong daging dan Miyuki mencuci beras. Dino sedikit kesulitan memotong daging itu hingga merasakan seseorang di sampingnya. Ternyata Miyuki sudah selesai mencuci berasnya, bahkan sudah dimasak di rice cooker.
"Dino-san, cara memegang pisaunya salah. Seharusnya seperti ini," Miyuki memegang tangan Dino membenarkan cara memegang Dino.
"Ya, lalu seperti ini," Miyuki mencontohkan sambil memotong daging itu.
Dino hanya diam sambil menatap Miyuki. Ada perasaan aneh saat tangan Miyuki yang kecil dan lembut memegang tangannya.
"Dino-san, bagaimana? Sudah bisa?"
"Eh, iya," Dino tersenyum canggung kepada Miyuki. Jujur, sebenarnya dia sama sekali tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh Miyuki. "seperti ini?" Dino berusaha mengingat bagaiman cara menggenggam pisaunya dan memotong daging itu.
"Aduh!"
"Dino-san!"
Ternyata Dino masih belum fokus dan melukai jarinya sendiri. Miyuki segera mengelap darah yang mengalir di sekitar jari Dino dengan kain yang dibawanya, lalu menghisap jari Dino untuk menghentikan darahnya keluar.
Dino hanya bisa menatap Miyuki yang terlihat panik dan menghisap jarinya. Dia bisa merasakan panas di jarinya menyebar ke seluruh tubuhnya merasakan mulut Miyuki di jarinya. Hampir saja dia mengeluarkan darah dari hidungnya kalau Miyuki tidak menghentikan tindakannya.
"Ayo, kuobati," begitu darahnya berhenti, Miyuki menarik Dino ke kursi dan menyuruhnya duduk lalu mengambil kotak P3K dan merawat luka di tangan Dino.
Miyuki sama sekali tidak menyadari Dino menatapnya sejak tadi dan hanya terfokus pada jari Dino yang terluka. Dino berusaha memikirkan hal lain selain gadis dihadapannya selama Miyuki mengobati tangannya. Dari memikirkan anak buahnya, pekerjaanya, Ririn hingga memikirkan Kyoya.
Mengingat Kyoya membuatnya bergidik ngeri. Entah apa yang akan dilakukannya kalau dia tahu apa yang dilakukan Miyuki tadi. Bisa dijamin Dino akan 'digigit sampai mati' dalam makna sebenarnya. Lalu pikirannya kembali teralih pada apa yang dilihatnya siang tadi. Miyuki yang mengalahkan preman dengan begitu mudahnya.
Saat Dino tersadar Miyuki sudah selesai merawat lukanya dan sedang mengembalikan kotak P3K itu ke lemari.
"Ehh," tangan Dino terangkat, hampir menanyakan kejadian itu ketika dia mengurungkan niatnya dan kembali menurunkan tangannya.
"Ada apa?" Miyuki masih berdiri di dekat lemari, tetapi dia mendengar suara Dino.
"Eh, tidak. Ayo kita lanjutkan memasaknya, tanganku sudah tidak apa-apa," Dino tersenyum dan berdiri, mengajak Miyuki kembali ke dapur.
Miyuki berniat menghentikannya, khawatir Dino terluka lagi, tetapi dia menghentikan niatnya begitu Dino dengan semangat berjalan ke dapur. Dia menghela napas dan tersenyum lalau mengikuti Dino.
XXXXX
Setelah melalui beberapa kesulitan (kecerobohan Dino), mereka berhasil menyelesaikan masakan untuk makan malam mereka. Setelah Miyuki meletakkan makanan di meja sedangkan Dino menunggu di meja makan (karena Miyuki khawatir kecerobohan Dino akan kumat), mereka saling duduk berhadapan. Di hadapan mereka sudah tersedia tempura, chicken katsu, acar, miso shiru, tumis sayur dan nasi putih yang terlihat masih panas.
"Silahkan dimakan, maaf tidak seenak di restoran," Miyuki tersenyum sambil mempersilahkan Dino.
"Itu tidak benar! Masakan mu selalu lebih enak dari semua makanan di restoran!" Dino langsung membantah perkataan Miyuki dengan cepat.
"Eh? Terima kasih," Miyuki tersenyum lembut mendengar pujian dari Dino membuat Dino salah tingkah dan mulai memakan makanan di meja makan.
Untuk beberapa saat mereka makan dalam diam. Dino beberapa kali memandang ke arah Miyuki dan kembali mengingat kejadian siang tadi, tetapi sedikit merasa sungkan untuk bertanya. Miyuki yang sadar Dino memandanginya membalas tatapan Dino.
"Dino-san, ada apa? Sejak tadi kamu menatapku terus?"
"Eh, Yuki," Dino menghentikan makannya diikuti oleh Miyuki. "sebenarnya aku melihat kejadian tadi siang," Dino bertanya dengan sedikit sungkan.
Walaupun Dino tidak sadar, tetapi untuk sesaat tatapan Miyuki berubah. Tetapi dia berhasil mengontrol perasaan dan ekspresi wajahnya.
"Tadi siang?" Miyuki menatap Dino dengan pandangan bertanya.
"Iya. Aku melihat kamu melindungi Ririn dan berkelahi dengan preman," Dino melanjutkan ucapannya, namun seakan tersadar dan takut perkataan itu menyinggung perasaaan Miyuki, dia segera menambahkan sambil menundukkan kepalanya.
"Ah, maksudku-,"
"Dino-san kaget?" Miyuki tersenyum dan memotong perkataan Dino.
Dino mengangkat kepalanya dan menatap Miyuki. Dia mengira Miyuki akan berusaha menutupinya atau terlihat tersinggung, tetapi tidak. Miyuki menatapnya dengan senyum dan tatapan yang menunjukkan kalau dia merasa geli.
"Dino-san kaget karena melihat penampilanku yang seperti ini, mengira aku tidak bisa berkelahi?" Miyuki kembali bertanya dengan nada geli yang berusaha dia tahan di suaranya.
"Eh, yah…," Dino hanya menampilkan cengirannya sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Khu, tidak apa," Miyuki tertawa kecil melihat reaksi Dino. "kamu mau tahu alasan aku bisa berkelahi?" Miyuki mengedipkan sebelah matanya kepada Dino sambil tersenyum misterius.
"Eh, apa?"
"Karena," Miyuki memelankan suaranya dan sedikit memajukan tubuhnya, Dino tanpa sadar mengikuti Miyuki dan memajukan tubuhnya. "aku adalah adik Kyo-nii," lanjutnya ceria.
"Eh?" Dino mengerjapkan matanya bingung.
"Ya, karena aku adalah adik Kyo-nii dan percaya atau tidak, dulu saat masih kecil aku adalah lawan yang seimbang dengan Kyo-nii," Miyuki melanjutkan perkataannya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan jahil melihat reaksi Dino.
"Lawan? Dulu kamu berkelahi dengan Kyoya?" Dino menatap Miyuki tidak percaya.
"Yah, mungkin itu satu-satunya cara Kyo-nii mengajak adiknya bermain walau salah. Berkelahi," Miyuki menopang dagunya dengan kedua tangannya dan mengingat kejadian saat mereka kecil sambil tersenyum lembut.
"Jadi, Kyoya tahu kalau kamu mengalahkan preman yang tadi siang?" Dino menatap Miyuki dengan penasaran.
"Tidak. Sejak aku pindah ke Tokyo, aku tidak pernah lagi berkelahi dengannya walaupun sering bertemu. Mungkin Kyo-nii tidak ingin aku terluka, karena itu dia tidak ingin aku berkelahi lagi,"
'Walaupun diam-diam aku selalu berkelahi,' sambung Miyuki sedih di dalam hati walaupun dia tidak menunjukkan kesedihan di wajahnya.
"Kalau begitu kejadian tadi siang….," Dino menggantungkan kalimatnya.
"Tolong jangan beritahu Kyo-nii. Aku tidak mau Kyo-nii khawatir," Miyuki menyambung kalimat Dino dengan tatapan serius.
"Baiklah. Kalau Yuki yang minta, aku akan rahasiakan ini dari Kyoya," Dino berjanji sambil tersenyum menenangkan kepada Miyuki yang dibalas dengan senyum.
"Ah, ayo lanjutkan makannya, nanti makanannya dingin," setelah itu mereka melanjutkan makan dalam diam.
XXXXX
Reborn duduk di teras sambil menatap langit. Bulan sabit terlihat bersinar terang. Dia melihat ke dalam ruangan di belakangnya. Terlihat Gokudera dan Yamamoto sedang bertengkar, Ryohei sedang mengatakan sesuatu pada I-pin dan Lambo dengan bersemangat, Bianchi memberikan kue beracunnya pada Ririn yang dimakannya dengan tenang sambil memangku Rin yang sedang tidur dan Tsuna yang melihat hal itu dengan wajah khawatir, pucat dan sedikit panik.
Reborn kembali menatap bulan dan merubah Leon menjadi pesawat kertas, lalu menyelipkan selebar surat berwarna kecoklatan dan menerbangkannya.
"Sudah waktunya tirai dibuka," Reborn menyeringai sambil menatap pesawat kertas hijau yang mulai menghilang dari pandangan.
"Reborn-jii-chan,"
Reborn tidak mengalihkan pandangannya saat Ririn berdiri di sampingnya. Dia hampir tidak bisa merasakan keberadaan Ririn.
"Ada apa?"
"Kata-kata 'untuk mempererat hubungan' itu hanya bohong. Jii-chan ingin membuat Nee-chan bersama Kakak," Ririn mengatakan hal itu dengan nada datarnya. "Kenapa?"
"Ririn," Reborn menyuruh Ririn duduk di sebelahnya dan gadis itu duduk di sampingnya. "ada beberapa hal yang tidak akan kamu mengerti walaupun aku menjelaskannya," Reborn berkata sambil mengelus Rin yang tertidur di pangkuan Ririn.
"Ririn tidak mengerti," Ririn memiringkan kepalanya sambil menatap Reborn dengan pandangan bertanya.
"Tidak apa-apa. Nanti kamu akan mengerti," Reborn tersenyum kepada Ririn yang dibalas dengan anggukan kepala.
"Ne, Reborn-jii-chan,"
Reoborn baru saja berdiri ketika Ririn memanggilnya.
"Ririn mau bergabung dengan Vongola," ucap Ririn dengan tatapan serius.
"Kenapa?" Reborn menatap mata Ririn dengan serius.
"Ada yang harus Ririn lakukan dan Ririn tidak mungkin melakukannya di Cavallone. Kakak tidak akan suka kalau Ririn terlibat dengan bahaya atau ingin bekerja di Cavallone," jelas Ririn.
"Apa yang membuatmu berpikir aku akan membiarkanmu bergabung dengan Vongola?" Reborn menatap mata Ririn dengan tajam.
"Karena, apapun yang Reborn-jii-chan lakukan, semuanya demi Vongola dan Tsuna-nii. Jika Ririn bergabung dengan Vongola, itu akan memberikan keuntungan," jawab Ririn tegas, tidak gentar sedikitpun walaupun lawan bicaranya adalah hitman nomor satu di dunia.
"Hmph," Reborn menurunkan fedoranya sambil menyeringai.
'Benar-benar jawaban yang pintar,' batin Reborn. Dia lalu melihat ke dalam ruangan.
Tsuna sedang menenangkan Bianchi yang berusaha memaksanya memakan poison cooking miliknya, Gokudera sedang memarahi Lambo berusaha dilerai oleh Yamamoto dan I-pin berusaha membujuk Lambo agar minta maaf pada Gokudera, sedangkan Ryohei menonton acara tinju di TV.
Reborn menyeringai melihat keramaian itu. Sepertinya dia bisa pergi sekarang. Reborn lalu memutar tubuhnya dan menatap Ririn.
"Baiklah, ikut denganku," Reborn lalu berdiri dan melompat melewati tembok rumah.
Ririn menganggukkan kepalanya dan mengikuti Reborn. Tidak lama kemudian Tsuna melihat teras dan tidak melihat Reborn maupun Ririn.
"Ririn-chan?" gumamnya dengan dahi berkerut sambil berjalan ke arah teras dan tidak menemukan siapapun di sana.
Tsuna dapat merasakan intuisinya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi.
XXXXX
"Terima kasih makan malamnya, maaf jadi merepotkan," Dino tersenyum kepada Miyuki di depan rumah Miyuki.
Dino dan Miyuki sudah selesai makan malam dan sekarang Dino berniat pulang karena hari sudah larut. Miyuki juga sudah mengganti bajunya sejak tadi. Dia memakai baju atasan berwarna ungu muda dan rok panjang berwarna putih.
"Ah, tidak. Aku yang seharusnya berterima kasih karena sudah menemaniku makan malam," Miyuki membalas senyuman Dino.
"Baiklah, aku harus pulang sekarang. Romario akan memarahiku kalau aku tidak segera melanjutkan pekerjaanku," Dino menambahkan sambil tertawa kecil.
Dino lalu mulai berjalan menjauhi rumah Miyuki sambil melambaikan tangannya yang dibalas Miyuki. Begitu Dino menghilang dari pandangannya, Miyuki menghela napas.
"Hhh, aku kurang hati-hati. Bisa-bisanya aku tidak sadar Dino-san memperhatikanku. Mungkin memang sudah waktunya aku membongkar identitasku?" Miyuki mendongakkan kepalanya dan menatap bulan sabit di langit yang bersinar terang.
"Huh?" Miyuki memperhatikan pesawat kertas berwarna hijau yang terbang ke arahnya dan menangkapnya.
"Leon?" Miyuki mengambil surat di tengah-tengah pesawat kertas itu dan membacanya.
Pipistrello Nero Di Vongola. Misimu selanjutnya berbeda dari biasanya. Ikuti Leon dan akan kuberi tahu padamu.
Miyuki membaca pesan itu dengan dahi berkerut. Tidak biasanya dia meminta bertemu di suatu tempat hanya untuk misi. Walaupun bingung tapi tetap saja Miyuki mengikuti perintah Reborn. Dia kembali melemparkan Leon dan mengikutinya. Dia tidak sadar sepasang mata tajam mengikutinya.
XXXXX
Dino berniat menjemput Ririn di rumah Tsuna ketika dia melihat Ririn berjalan ke arah kuil Namimori. Dino tersenyum dan berniat memanggil Ririn ketika melihat segerombolan orang mengikuti Ririn dengan sikap sembunyi-sembunyi yang sangat mencurigakan. Dino mendekati gerombolan itu dari belakang.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Hiee!"
Serentak keempat sosok itu terlonjak kaget. Ternyata mereka adalah Tsuna, Yamamoto, Ryohei, dan Gokudera.
"Eh, Dino-san," Tsuna memegang dadanya, merasa kaget.
Tsuna alu menceritakan secara singkat Ririn yang hilang dan mereka menemukannya mengikuti Reborn lalu mengikutinya diam-diam.
"Mau ke mana mereka? Baiklah, aku juga ikut!" gumam Dino dengan penuh tekad.
Dia tidak tahu apa rencana mantan tutornya yang licik itu dan merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada adiknya yang sangat imut dan manis itu (sister complex-nya kumat).
Sementara itu, Ririn dan Reborn…
"Hmph, bodoh," Reborn mendengus sambil melihat keributan yang dibuat oleh segrombolan orang di belakang mereka.
"Tsuna-nii dan senpai-tachi tidak berbakat menjadi mata-mata," ucap Ririn datar mendengar omelan Gokudera pada Yamamoto dan suara Ryohei yang berteriak 'Ekstereme!" juga Tsuna yang berusaha menenangkan mereka.
"Abaikan idiot-idiot itu," Reborn berkata dengan kejam sambil terus berjalan. "kamu tidak takut mereka mengetahuinya?" Reborn melihat Ririn dari sudut matanya.
"Tidak. Ririn tidak pernah berniat menyembunyikanya. Kakak tidak pernah tanya," ucap Ririn datar.
Reborn tidak mengatakan apapun dan hanya melanjutkan perjalanan mereka.
XXXXX
Dino dan yang lain hanya melihat tempat tujuan Ririn dengan bingung. Mereka mengira kalau Ririn dan Reborn menuju kuil, tapi ternyata mereka mengarah ke hutan di samping kuil.
"Kalian, sembunyikan keberadaan kalian," Tsuna memberikan perintah dengan nada serius.
Semua menganggukkan kepala mereka dan menyembunyikan keberadaan mereka. Tsuna dapat merasakan Vongola Intuition-nya mengatakan akan terjadi sesuatu. Mereka mengikuti Ririn dan Reborn sambil menjaga jarak.
"Heh, bisa juga kalian," gumam Reborn sambil menyeringai.
Cara mereka mengikuti menjadi lebih baik. Hawa keberadaan mereka menjadi tidak terasa dan mereka menjadi lebih tenang. Ririn sama sekali tidak mempedulikan hal itu dan terus mengikuti Reborn. Mereka berhenti di tengah-tengah hutan yang pohonnya tidak begitu lebat dan mereka dapat melihat bulan dengan jelas. Di sana, berdiri sesosok perempuan.
"Kamu yang menyuruhku ke sini, tapi kamu yang terlambat?"
Tsuna dan yang lainnya menahan napas melihat sosok itu. Miyuki. Namun pertanyaan kembali muncul di benak mereka. Apa yang dilakukan gadis itu di sini?
"Ririn-chan, sedang apa di sini?" Miyuki yang menyadari ada Ririn di sana langsung menghampiri gadis kecil itu.
"Ririn ikut menjalankan misi," ucap Ririn bersungguh-sungguh sambil menatap mata Miyuki.
"Eh?" Miyuki mengerjapkan matanya bingung lalu menatap Reborn, meminta penjelasan.
"Tidak. Kamu masih belum bisa, Ririn," ucap Reborn serius.
"Apa maksudnya Reborn-san?"
"Ririn akan bergabung dengan Vongola," Reborn menatap Miyuki tak acuh.
"Eh? Kukira dia sudah menjadi bagian dari Cavallone?" Miyuki menatap Reborn dengan bingung.
"Keluarga Ririn memang Cavallone, tetapi Kakak pasti tidak akan membiarkan Ririn berhubungan dengan mafia lebih jauh. Ada yang harus Ririn lakukan dan Ririn akan melakukannya sebagai anggota Vongola," jelas Ririn.
Sementara itu kelima orang yang bersembunyi hanya bisa mendengarkan dengan perasaan bingung dan kaget. Apa maksudnya misi? Dari pembicaraan mereka, apakah Miyuki sudah mengetahu tentang mafia?
"Aku mengerti, sangat mengerti perasaan itu," Miyuki tersenyum lembut dan mengelus kepala Ririn lembut. "Kalau begitu, apa misiku kali ini? Melihat dari keadaan beberapa saat yang lalu, apa kamu mau aku membantu Shimon Famiglia dari belakang? Walaupun Cavallone dan Vongola sudah memberikan bantuan pada Shimon, ada kemungkinan musuh memasang beberapa perangkap saat menyerang Shimon kan? Atau kamu mau aku menyelidiki siapa yang menyerang Shimon Famiglia?""
"Kamu memang cerdas," Reborn menyeringai mendengar analisis Miyuki.
Memang, misi selanjutnya yang akan diberikan pada Miyuki adalah menyelidiki hal itu, tetapi yang terpenting hari ini bukan hal itu. Kalau melakukan misi seperti ini terus akan merepotkan nantinya.
SWUUSH
TAKK
"Yuki," sekarang semua mata memandang Hibari yang entah-sejak-kapan ada disana.
Miyuki memegang obengnya untuk menghalau tonfa yang baru saja menagarah ke arahnya. Tonfa itu terlempar dan kembali ke tangan pemiliknya.
"Kyo-nii," Miyuki menatap Hibari dengan pandangan yang sulit diartikan. "jadi, ini tujuanmu menyuruhku ke sini, Reborn-san?" Miyuki bertanya pada Reborn sambil menghela napas.
"Ya, tapi tidak hanya itu. Damae-Tsuna dan kalian, keluar dari sana,"
Perkataan Reborn tentu membuat Tsuna, Dino , Ryohei, Yamamoto dan Gokudera yang bersembunyi di semak-semak terlonjak kaget. Mereka keluar dari semak-semak dan tersenyum canggung, ditambah melihat Hibari yang sudah dipenuhi aura gelap.
"Yuki, apa maksudnya ini?" Hibari menatap Miyuki dengan tajam.
Miyuki melihat Hibari dengan tatapan biasa dan tenang, seakan tidak ada yang terjadi. Reborn menyeringai meliha reaksi Miyuki yang langsung bisa mengendalikan perasaan.
"Sebelum itu, bukankah ada yang seharusnya kamu katakan?" Reborn menatap Miyuki yang dibalas dengan anggukan kepala.
"Eh?"
Miyuki berjalan ke arah Tsuna dan berhenti di depannya sambil tersenyum, membuat Tsuna merasa canggung.
"Sawada-senpai…ah, bukan, Bos, Juudaime-sama," Miyuki meletakkan satu tangannya di dadanya dan satu tangan yang lain memegang ujung roknya daengan posisi sedikit membungkuk. "saya belum meperkenalkan diri saya dengan benar sebelumnya. Perkenalkan, saya adalah informan rahasia Vongola, atau banyak yang memanggil saya Pipistrello Nero," ucapnya sambil kembali menegakkan badannya.
"APA?"
Serentak semua memandang Miyuki tidak percaya. Senyumnya masih terpasang di wajah gadis itu, namun senyum itu terlihat misterius.
To be continue….
XXXXX
Minna, maaf!
Sacchan kebanyakan main, jadi lupa update deh! Cerita selanjutnya akan sangat seru! Pertempuran antara kakak-adik! Dino-Ririn, Hibari-Miyuki!
Sacchan akan berusaha update lebih cepet, mohon bersabar.
Sedikit chapter selanjutnya….
"Yuki, akan kubuat kau menyesal," Hibari menyiapkan tonfanya dan menerjang ke arah Miyuki.
Miyuki menghindar dan mendarat di salah satu dahan pohon.
"Ara~ kalau Kyo-nii serius begitu apa boleh buat," Miyuki tersenyum dan melepas pitanya, lalu mengikat rambutnya menjadi ekor kuda.
"Miyu," Hibari bergumam melihat Miyuki menatapnya dengan pandanagan tajam dan senyum ceria walaupun dikelilingi aura gelap.
….
"Kenapa harus bergabung dengan Vongola?" Dino menatap adiknya bingung.
"Karena apa yang Ririn lakukan memiliki hubungan dengan Vongola," ucap Ririn datar.
Reborn menatap Ririn dengan penasaran. Dia memang menerima Ririn, tetapi dia sama sekali tidak tahu apa yang gadis itu inginkan.
"Apa itu?" Dino kembali melemparkan pertanyaan kepada Ririn.
"Pertanyaan Kakak akan Ririn jawab setelah pertandingan ini selesai," ucapnya setelah terdiam sesaat.
"Ukh, kelihatannya tidak ada cara lain," Dino mulai memasang sikap untuk bertarung.
…
Kurang lebih begitulah~ nantikan pertarungan mereka!
R&R please!
