Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
: Cocoa-san, gomen! Sacchan baru sadar pas udah upload cerita chapter kemarin nama Cocoa-san hilang! Maaf banget! Sacchan nggak ngerti cara ngedit cerita yang udah di upload, makanya Sacchan minta maaf di chapter ini. Hontou ni gomenasai, Cocoa-san, maafkan Sacchan yang ceroboh dan kurang teliti ini T.T
Hikage Natsuhimiko : Iya, Hika-san, Sacchan sadar kalo chapter kemarin kurang banyak. Kalo dibandingin sama Hiba-Ririn dikit banget. Kecerobohan Dino jadi berkurang karena sering bareng Miyuki ;). Iya tuh, Miyuki cocok banget jadi istri Bos Cavalone yang super ceroboh satu itu! Waktu Miyuki cari informasi kan berantem sama Mafia juga ;). Hahaha, iya sebenernya yang bikin mereka gagal jadi stalker gara-gara trio Ryohei-Yamamoto-Gokudera nggak bisa diem tuh! (Sacchan langsung mendapat tinju, bom dan sabetan pedang entah dari mana). Di chapter ini mungkin kurang greget, tapi agak drama gitu si Miyuki-Hibarinya, jadi agak sedih (nggak tau sih ngena apa nggak adegannya -_-"). Makasih udah nunggu cerita ini. Chapter kali ini leihbanyak dari chapter kemarin sih. Semoga Hika-san suka sama cerita di chapter ini!
sakazuki123 : Ehehe, makasih Sakazuki-san. Silah mengunyel-unyel tuh bocah imut dengan tampang datar, Sacchan aja sampe pengen boneka kayak Ririn :D.
.58 : Azmi-san, terima kasih sudah memfollow dan memfavorite LSIA dan Sacchan. Sacchan sangat senang banyak yang suka LSIA :).
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Lil' Sis VS Big Bro
.
.
.
Sebelumnya…
"Sawada-senpai…ah, bukan, Bos, Juudaime-sama," Miyuki meletakkan satu tangannya di dadanya dan satu tangan yang lain memegang ujung roknya daengan posisi sedikit membungkuk. "saya belum meperkenalkan diri saya dengan benar sebelumnya. Perkenalkan, saya adalah informan rahasia Vongola, atau banyak yang memanggil saya Pipistrello Nero," ucapnya sambil kembali menegakkan badannya.
"APA?"
XXXXX
"Yuki, jelaskan perkataanmu," Hibari menatap adiknya dengan tajam.
"Seperti yang aku katakan, aku adalah informan rahasia Vongola, Pipistrello Nero, Cloud Guardian-san," Miyuki menatap Hibari sambil tersenyum.
Hibari masih menatap adiknya dengan tajam. Tidak terlihat perubahan di wajah maupun tatapannya.
"Sejak kapan?" Hibari kembali melontarkan pertanyaan kepada Miyuki.
"Sejak Kyo-nii menyembunyikan padaku saat terluka parah," senyum di wajah Miyuki menghilang dan tatapannya menjadi serius. "sejak aku pertama kali aku tahu Kyo-nii terluka setelah bertarung dengan Mukuro-san dan aku melihatmu bertarung dengan Varia," Miyuki melanjutkan, tidak mempedulikan tatapan keterkejutan orang-orang di sekitarnya.
"Berhenti," Hibari mendesis.
Miyuki tahu, walaupun hanya satu kata, arti dari kata itu. Berhenti. Berhenti menjadi informan, berhenti dari Vongola. Berhenti terlibat dengan semua ini.
"Tidak," satu kata yang sangat tegas, keluar dari mulutnya.
"Yuki," Hibari medesis dengan nada memperingatkan dan mulai mengeluarkan tonfanya, membuat Tsuna dan yang lainnya menatap Miyuki yang masih tenang cemas.
"Tunggu sebentar," Reborn menyela percakapan dua bersaudara itu.
"Bayi, aku sedang tidak ingin diganggu," Hibari mendesis sambil menatap Reborn tajam.
"Bukan begitu. Sebagai saudara dan anggota Vongola, bagaimana kalau kalian menyelesaikan hal ini dengan cara duel?" Reborn menatap Miyuki dan Hibari bergantian.
"Tanpa melakukan hal itu, kemenangan sudah pasti," Hibari menatap Miyuki dengan tajam.
"Hal itu belum tentu, lagipula duel kali ini bukan satu lawan satu, melainkan dua lawan dua," ucap Reborn yang membuat semua orang yang ada di sana bingung.
"Reborn, apa maksudmu?" Tsuna mengerutkan dahinya tidak mengerti jalan pikiran tutornya. Jangan-jangan Reborn akan menyuruh dirinya bertarung? Tsuna bergidik ngeri membayangkan hal itu.
"Dino, sejak tadi kamu mendengarkan percakapan kami, bagaimana dengan Ririn?" Reborn menatap Dino dengan serius.
Mereka sama sekali melupakan Ririn karena gadis itu diam saja sejak tadi. Ririn menatap Dino dengan tegas.
"Ririn akan bergabung dengan Vongola," ucapnya tegas.
"Tidak boleh, Kakak tidak mengizinkan! Kalau kamu terluka bagaimana?" Dino menatap Ririn dengan serius.
"Kakak," Ririn menatap Dino dengan serius. "di 'dunia ini' kalau takut terluka bukankah bahkan Kakak tidak akan bisa melindungi apapun?" Ririn mengatakan hal itu dengan tegas.
"Ririn-," Dino baru akan berbicara lagi ketika Ririn berjalan ke arah Miyuki.
"Kalau Kakak tidak setuju, kalahkan Ririn dalam duel ini," ucap Ririn tegas yang membuat semuanya kaget, tidak menyangka gadis kecil itu berani bicara setegas itu.
"Tapi, kamu kan tidak bisa bertarung," Dino melihat Ririn dengan pandangan cemas.
"Bisa, dan Ririn akan mengalahkan Kakak,"
"Baiklah kalau begitu, apakah kalian akan melakukan ini atau tidak?" Reborn menatap keempat orang yang saling berhadapan itu.
"Yuki, akan kubuat kau menyesal," Hibari menyiapkan tonfanya dan menerjang ke arah Miyuki.
Miyuki menghindar dan mendarat di salah satu dahan pohon.
"Ara~ kalau Kyo-nii serius begitu apa boleh buat," Miyuki tersenyum dan melepas pitanya, lalu mengikat rambutnya menjadi ekor kuda.
"Miyu," Hibari bergumam melihat Miyuki menatapnya dengan pandanagan tajam dan senyum ceria walaupun dikelilingi aura gelap.
"Wah~ sudah lama kamu tidak memanggilku seperti itu, Kyo-nii~," ucap Miyuki dengan nada ceria.
Sekarang semua memandang sosok Miyuki yang entah kenapa terasa sangat berbeda. Reborn hanya menyeringai melihat Miyu.
"Hibari, pertandingan belum dimulai, kamu tidak boleh menyerangnya duluan," Reborn lalu melihat ke arah Dino dan Ririn. "kalian, berdiri di samping partner kalian."
Ririn segera melompat dan berdiri di samping Miyuki. Dino berjalan ke sebelah Hibari yang terlihat tidak peduli padanya.
"Sekarang keluarkan senjata kalian," Reborn menganggukkan kepalanya pada keempat petarung itu.
"Apa? Ririn kan tidak punya senjata," Dino memandang adiknya yang mengeluarkan cermin dari tas rajutnya.
"Ini senjata Ririn," ucap gadis itu datar.
Tsuna dan yang lainnya menatap Ririn dengan pandangan tidak percaya. Apa yang bisa dilakukan sebuah cermin?
"Ririn-chan, kamu yakin? Rin sedang terluka," Miyuki bertanya dengan nada ceria sambil melihat Rin yang menatapnya dari pelukan Ririn.
"Ririn bisa menyembuhkan Rin,"
"Baiklah,"
"Dino, kalau kamu tidak niat bertarung, Ririn akan bergabung dengan Vongola," Reborn menatap Dino yang masih belum mengeluarkan cambuknya.
"Ukh, baiklah," Dino lalu mengeluarkan cambuknya.
"Reborn-jii-chan, tolong buat topeng Romario menggunakan Leon, Ririn tidak mau bertarung dengan Kakak yang ceroboh," Ririn menatap datar Kakaknya yang mengeluarkan cambuknya tetapi menjatuhkannya lagi.
Reborn mengikuti perkataan Ririn dan menempelkan topeng Romario ke wajah Tsuna.
"Kenapa aku?" Tsuna hanya bisa pasrah ketika tutornya itu menempelkan topengnya ke wajahnya.
"Bagaimana peraturannya?"
"Yang tidak bisa bergerak dalam waktu lebih dari tiga menit kalah," Miyuki menyahuti pertanyaan Dino dari atas pohon.
"Baiklah," Reborn menganggukkan kepalanya. "kalau begitu pertarungan dimulai," ucap Reborn.
"I'll bite you to death!"
"I'll show you the death!"
Seketika, Hibari menerjang ke arah Miyuki dan Ririn. Ririn menghindar sambil melompat ke belakang, sedangkan Miyuki menahan serangan Hibari.
"Herbivore," Hibari menggumam sambil berusaha memukul Miyuki dengan tonfa di tangannya yang lain.
Miyuki tersenyum dan menunduk ke bawah dengan cepat lalu melarikan diri dari celah serangan Hibari sambil melukai bagian lengan Hibari dengan obeng yang di bawanya.
"Kyo-nii~ kalau kakaknya Karnivora, adiknya juga sama kan?" Miyuki tersenyum sambil memainkan obeng di tangannya.
"Hmp," Hibari menyeringai dan mulai menyerang Miyuki dengan brutal.
BOOM
Miyuki melompat menjauh dari Hibari dan melihat asap di bawah mereka. Di tengah-tengah asap itu berdiri Ririn yang sebelah tangannya memegang bola kecil berbagai warna dan Dino di hadapannya.
"Ririn meleset," ucap gadis itu sambil melihat pohon dan tanah yang hangus terkena ledakan.
"He-hei, kamu mau membunuh Kakakmu?" Dino melihat lubang di tanah sebelahnya dengan sedikit ngeri.
"Ririn, kalau kamu menggunakan peledak seperti itu, kamu bisa merusak hutan dan menimbulkan keributan di tengah malam," Reborn mengamati dari salah satu dahan.
"Begitu? Itu karena Kakak tidak serius. Kalau begitu, kita pindah ke tempat lain saja," ucap Ririn sambil mengeluarkan pisau lipat dari tas rajutnya.
"Ririn?" Dino melihat adiknya dengan bingung.
Ririn tidak menghiraukan panggilan Dino dan menyayat lengannya, membuat semua yang melihat terkejut, bahkan Hibari menghentikan serangannya pada Miyuki. Reborn memperhatikan apa yang dilakukan Ririn dengan serius.
Ririn membiarkan darah itu menetes di atas cermin, lalu mengarahkannya ke bulan membuat tubuhnya bercahaya kekungingan, bahkan matanya.
"Mondo di illusione," Ririn merapalkan sebuah mantera dan dengan seketika mereka di selubungi oleh cahaya berwarna kuning yang menyilaukan dan menutup mata mereka.
Begitu mereka merasakan cahaya itu menghilang, mereka membuka mata mereka dan melihat sekeliling mereka menjadi padang rumput dan pohon, bukan tanah seperti tadi. Mereka juga bisa melihat dengan jelas bulan purnama berwarna perak di atas mereka.
"Di mana ini?" Yamamoto melihat sekelilingnya yang jauh berbeda dari tempat mereka berada sesaat yang lalu.
"Ini adalah dunia ilusi yang diciptakan Ririn," Reborn tiba-tiba berada di bahu Yamamoto dan memberikan penjelasan.
"Apa? Ririn, bagaimana kamu melakukan ini?" Dino menatap Ririn dengan pandangan tidak percaya.
"Tentu saja karena Ririn adalah penyihir," ucap Ririn seakan itu adalah hal yang sangat jelas.
"PENYIHIR?"
Serentak Dino, Tsuna, Gokudera, Yamamoto dan Ryohei berteriak.
"Kalau di tempat ini membuat ledakan pun tidak akan mengganggu orang lain, karena di dimensi ini hanya ada kita," jelas Ririn, tidak mempedulikan mereka.
Tiba-tiba, Dino merasakan ada sesuatu di belakangnya. Dia membalikkan badannya dan kaget melihat Scuderia di belakangnya. Dia lalu melihat animal weapon Tsuna dan yang lain juga keluar.
"Di dimensi ini animal weapon akan langsung keluar karena gelombang di dimensi ini berbea dengan gelombang di dunia kita," jelas Ririn. "Kakak, bertarunglah dengan serius," ucap Ririn.
"Espandere," Ririn kembali mengucapkan mantera dan cermin yang dipegangnya membesar hingga setinggi Ririn. "Rin," Ririn memanggil Rin yang berada di sebelahnya.
"Woof," Rin melompat ke dalam cermin.
Tidak lama kemudian sesosok serigala keluar dari dalam cermin. Serigala itu berukuran sangat besar, hampir mencapai 2 meter. Matanya berwarna biru terang, bulunya lebat, bagian atas berwarna abu-abu kebiruan, bagian bawahnya berwarna putih. Di dahinya terbentuk bulan sabit berwarna biru.
"Rin," Ririn mengelus bagian samping serigala besar itu, cerminnya juga kembali ke ukuran normalnya.
"Grawrr!" Rin menggeram pelan.
"EHH, RIN?"
Serempak mereka melihat serigala besar itu dengan tatapan tidak percaya. Kemana perginya anak anjing yang mungil dan manis itu? Ditambah lagi mereka melihat perban dan luka di tubuh Rin sudah tidak ada.
"Ke-kenapa bisa sebesar itu?" Tsuna menatap Rin yang berdiri di samping Ririn.
"Ririn kan sudah bilang kalau Rin bisa menjadi sangat besar," Ririn menatap Tsuna seakan mengatakan hal yang sudah jelas.
"Tapi mana mungkin aku mengira sebesar ini!" Tsuna setengah berteriak kepada Ririn mendengar perkataannya.
"Ahahah, ternyata Rin itu serigala ya," kali ini Yamamoto ikut bicara sambil memperhatikan Rin.
"Ririn kan juga sudah bilang dari awal kalau Rin itu serigala," ucapnya datar.
"Ekstreme! Keren!" Ryohei menatap Rin dengan pandangan kagum.
"Penyihir," Gokudera masih menggumamkan sesuatu sambil mencatat sesuatu di sebuah notes kecil yang entah sejak kapan dia pegang, tiba-tiba dia sudah memakai kacamata dan rambutnya sudah diikat ke belakang.
"Penyihir? Kenapa kamu tidak pernah mengatakan hal itu padaku?" Dino menatap Ririn dengan pandangan tidak percaya. Bertahun-tahun bersama Ririn dia tidak pernah sekalipun mengetahui kalau Ririn adalah penyihir.
"Kakak tidak pernah tanya," ucap Ririn datar.
Dino hanya sweatdrop mendengar perkataan adik angkatnya itu. Memangnya siapa yang akan bertanya hal itu pada orang lain? Tidak ada orang yang akan menanyakan 'apakah kamu adalah penyihir' kan?
"Pertarungan kita belum selesai. Ririn akan bergabung dengan Vongola," ucap Ririn sambil mengangkat cerminnya.
"Kenapa harus bergabung dengan Vongola?" Dino menatap adiknya bingung.
"Karena apa yang Ririn lakukan memiliki hubungan dengan Vongola," ucap Ririn datar.
Reborn menatap Ririn dengan penasaran. Dia memang menerima Ririn, tetapi dia sama sekali tidak tahu apa yang gadis itu inginkan.
"Apa itu?" Dino kembali melemparkan pertanyaan kepada Ririn.
"Pertanyaan Kakak akan Ririn jawab setelah pertandingan ini selesai," ucapnya setelah terdiam sesaat.
"Ukh, kelihatannya tidak ada cara lain," Dino mulai memasang sikap untuk bertarung.
"Bagus. Rin," Ririn mengarahkan tangannya ke arah Dino.
Seakan mengerti perkataan Ririn, Rin menerjang ke arah Dino yang ditahan oleh Scuderia.
Ririn mengeluarkan dua buah botol berwarna biru dan ungu lalu mengeluarkan pisau lipat yang tadi digunakan untuk melukai dirinya. Dia membuka tutup kedua botol itu dan menumpahkannya di ujung pisaku lipat itu.
"Congelare," ucap Ririn dengan mata dan tubuh diselimuti cahaya kekuningan sambil menungkan kedua cairan itu.
Kedua cairan yang dituangkan Ririn dari botol kecil itu mengeras dan membuat pisau kecil itu menjadi pedang pendek walaupun panjangnya hanya berkisar kurang dari 40 cm.
Ririn menatap Dino, lalu melemparkan sebuah bom berwarna merah ke arah Dino.
XXXXX
Begitu mereka berpindah tempat, Hibari langsung kembali menerjang Miyuki. Untuk beberapa saat mereka saling menyerang dan menghindar dari jarak dekat.
Hibari melakukan serangan serangan yang tajam dan cepat yang berhasil di tahan dan dihindari oleh Miyuki walaupun dengan gerakannya yang gesit.
Hibari menggunakan flail dari tonfanya untuk mengunci gerakan Miyuki dan berhasil. Flail itu mengenai lengan kiri Miyuki dan membuatnya tidak bisa mundur. Hibari menyeringai dan menggunakan tonfa di tangan satunya untuk memukul perut Miyuki sambil menarik Miyuki ke arahnya.
Untuk sesaat Hibari melihat Miyuki menyeringai dan melompat sambil melakukan salto dengan bertumpu pada tonfa yang mengikatnya dan mendarat di belakang Hibari. Dengan cepat Hibari menggerakkan tonfanya ke belakang, berniat memukul Miyuki. Pukulan itu berhasil menggores pergelangan tangan Miyuki sebelum gadis itu melompat ke dahan pohon yang lain.
Hibari melihat flail di bahu Miyuki dan tonfanya. Ternyata saat melakukan salto dan berdiri di belakang Hibari, Miyuki melepaskan flail itu dari tonfa dengan obengnya. Hibari menyeringai.
"Heh, kemampuanmu belum berkurang, Miyu,"
"Khuhuhu, tentu saja. Kyo-nii lupa janjiku sebelum meninggalkan Namimori?" Miyuki mengangkat pergelangan tangannya yang terluka dan menjilat darahnya.
"Yuki, jadilah kuat dan kembali ke kota ini," ucap kakaknya sambil tersenyum kepada adiknya. Untuk pertama kalinya dia melihat kakaknya tersenyum seperti itu.
Gadis itu menggenggam pita di rambutnya sambil menundukkan kepalanya. Dia menurunkan tangannya dan menghapus air mata di wajahnya lalu menatap mata kakaknya sambil tersenyum.
"Uhm! Aku akan jadi kuat dan kembali ke sini. Aku kan adik Kyo-nii, aku tidak boleh lemah," gadis itu menatap kakaknya lurus.
Hibari mengingatnya. Hari saat mereka berpisah, saat dia menghentikan air mata Miyuki. Saat dia memberikan pita itu.
"Aku memenuhi janjiku. Aku kembali menjadi lebih kuat dari sebelumnya," Miyuki menatap kakaknya sambil tersenyum. Senyum yang sedikit sedih.
"Huh, sombong sekali kau, padahal kamu belum serius," Hibari mendengus dan kembali memasang kuda-kuda.
"Bisa-bisanya bilang begitu padahal kamu sendiri tidak serius. Sejak kita datang ke sini, Roll sudah keluar dari gelangmu dan kamu bahkan tidak menggunakannya. Bukankah sudah waktunya kita serius?" Miyuki menatap kakaknya dengan pandangan penuh makna sambil melepaskan flail di lengannya. "Atau Kyo-nii sudah menjadi lembek? Tidak berani melukai adikmu sendiri? Hmm?" Miyuki terus memancing Hibari agar dia menggunakan weapon animalnya.
"Baiklah kalau itu maumu," ucap Hibari sambil menyeringai.
Miyuki langsung merasakan bahaya, dia membalikkan badannya dan melihat Roll di dekatnya mulai mengembang.
"Gawat!"
BOOM
"Miyuki-chan!"
Tsuna, Yamamoto, Ryohei dan Gokudera melihat hal itu dengan panik. Ternyata Ririn melemparkan bom berwarna merah ke arah Roll yang mengembang. Mereka langsung mengalihkan pandangan mereka kepada Ririn. Dino sudah mempersiapkan cambuknya, mengira Ririn akan melemparkan bom itu ke arahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Dino menatap Ririn serius.
"Kakak lupa? Pertandingan ini dua lawan dua, bukan satu lawan satu," ucap Ririn sambil menunjuk ke atas asap yang dihasilkan bom.
Perlahan-lahan asap mulai menghilang dan mereka melihat Miyuki berada di atas punggung kelelawar yang sangat besar. Di tengah pita di rambutnya ada hairpin berbentuk kelelawar hitam.
"Eh? Apa maksudnya?" Tsuna (yang masih memakai topeng Romario) bertanya pada Reborn.
"Ririn melemparkan bom sebelum Roll mengembang sempurna, karena ledakan bom itu, posisi Roll menjadi sedikit bergeser dan walaupun hanya sesaat, memberikan Miyu waktu untuk memanggil Natt, animal weapon miliknya," jelas Reborn.
Miyuki menuju ke sebelah Ririn dan melompat turun dari Natt.
"Terima kasih, Ririn-chan," Miyuki mengusap rambut Ririn yang hanya di balas dengan anggukan.
Miyuki lalu menatap Dino yang berdiri di depannya dan tersenyum, yang membuat Dino canggung.
"Jangan lupa, ini adalah pertandingan dua lawan dua, Dino-san," Miyuki mengedipkan matanya ke arah Dino dan mulai menyerang Dino.
"Hmm, kalau seperti ini sepertinya akan sedikit susah," Ririn menggumam. "restringersi," gumamnya.
Cermin di tangan Ririn menjadi kecil, bahkan dapat digenggam oleh tangan mungil Ririn. Dia memasangkan pita di bagian atas cermin itu dan menjadikannya kalung. Dia menggerakkan tangannya cepat dan seketika muncul double stick.
"Nee-chan," Ririn melemparkan senjata itu ke arah Miyuki dan langsung di tangkapnya, lalu Miyuki menyerang Dino dengan menggunakan itu.
"Tunggu, dari mana double stick itu muncul?" Dino menangkis serangan Miyuki sambil memperhatikan benda di tangan Miyuki.
"Itu benda yang dibuat dari ilusi Ririn," jawab Ririn. "tetapi sama seperi Reality Illusion Glove, ilusi yang Ririn buat nyata dan kalau terkena itu, Kakak bisa terluka sungguhan," jelas Ririn.
"Ilusi? Apakah Ririn-chan pengguna mist flame, Reborn?" Tsuna menatap tutornya itu dengan bingung.
"Bukan,"
TRAKK
Pandangan mereka kembali beralih ke pertempuran di depan mereka. Hibari baru saja menyerang Ririn dan ditangkis oleh gadis itu dengan pedangnya.
"Aku masih punya urusan yang belum selesai denganmu Chibi-Herbivore. Kamikorosu," ucap Hibari sambil kembali menyerang Ririn.
"Ririn tidak punya urusan dengan Vampire-san," ucap Ririn dengan datar sambil menghindari serangan-serangan Hibari.
Ririn melompat ke atas dan menaburkan serbuk berwarna ungu ke atas Hibari.
"Aku tidak akan terkena tipuan anak kecil lagi," ucap Hibari sambil menyeringai, dia memutar flail di tonfanya, membuat serbuk itu menjauh dari tubuhnya dan berusaha memukul Ririn tepat ketika gadis itu akan menyentuh tanah.
"Natt!"
Tiba-tiba tubuh Ririn terangkat ke atas. Natt mencengkram Ririn di cakarnya dan membawanya terbang, lalu mengarah ke Dino dan mengambil Miyuki dengan mulutnya dan menurunkan mereka berdua di dahan.
"Rin!"
Rin yang sedang bertarung dengan Scuderia melompat mundur dan berlari ke sebelah Ririn. Scuderia juga kembali ke sebelah Dino. Untuk sesaat keempat orang itu saling berpandangan. Miyuki lalu menatap Ririn dan menanggukkan kepalanya, Ririn ikut menganggukkan kepalanya dan melompat ke belakang Rin. Seakan mengerti apa yang akan dilakukan Ririn, Dino melompat ke belakang Scuderia. Benar saja, dalam sekejap Ririn berada di depan Dino dan Scuderia.
Ririn melemparkan double stick yang tadi digunakan Miyuki ke arah Dino. Dino menghalaunya dengan cambuk dan Ririn menggunakan kesempatan itu untuk menusuk Dino. Dino berhasil menghindar walaupun lengannya tergores.
Dino melihat lengannya yang terluka dan menatap Ririn yang menatapnya tajam. Dino sadar Ririn serius dan akan benar-benar melukainya. Dino akhirnya menetapkan hatinya melihat keseriusan Ririn.
"Scuderia!" Dino berseru dan dengan seketika Scuderia mengeluarkan wing slash ke arah Rin.
"Ingrandire, riflessa,"
Tiba-tiba cermin Ririn menjadi besar dan serangan Scuderia yang masuk ke dalam cermin dipantulkan dan kembali ke arah Dino dan Scuderia. Dengan segera mereka melompat menghindari serangan itu.
"Kakak tidak akan bisa mengalahkan Ririn dan Nee-chan," Ririn menatap Dino dan melemparkan dua bom berwarna biru dan ungu.
Scuderia dengan cepat menghindari bom itu.
"Hah, percaya diri sekali kamu," Dino tersenyum pada Ririn. "kamu lupa kalau Kakakmu ini adalah seorang Bos mafia yang kuat," Dino mulai meregangkan cambuknya.
"Benar juga. Kalau adu kekuatan Ririn bisa kalah," ucap Ririn datar.
"Hei, hei, masa pesimis begitu! Dia terlalu mudah mengiyakan!" Tsuna yang melihat hal itu hanya bisa sweatdrop mendengar jawaban Ririn.
"Kalau begitu," tubuh Ririn kembali diselimuti cahaya berwarna perak, begitu juga cerminnya. "rispecchiare," Ririn kembali merapalkan mantera.
Permukaan cermin yang dipegang Ririn bersinar terang. Tiba-tiba sesuatu keluar dari dalam cermin. Seorang pria dengan pakaian serba hitam dan kuda berwarna hitam dengan api hitam. Pria itu memegang cambuk walaupun matanya kosong.
"HIEE! Dino-san ada dua!" Tsuna memkik kaget.
'Ayo, tunjukkan kekuatanmu yang sebenarnya, penyihir bulan,' batin Reborn sambil memperhatikan pertandingan itu dengan tatapan tajam.
"Karena kemampuan fisik Ririn tidak sehebat Kakak, Kakak lawan saja bayangan Kakak sendiri," ucap Ririn sambil memerintahkan bayangan itu menyerang Dino.
Dalam sekejap, kedua 'Dino' sudah saling menyerang dan memukul.
"Ririn mengkopi bayangan Kakak dengan kemampuan seratus persen, jadi sama saja Kakak melawan diri Kakak sendiri," ucap Ririn.
"Huh, kamu kira aku akan kalah dari diriku yang palsu?" ucap Dino sambil menyerang 'Dino' yang satu lagi.
"Kalau begitu, sekarang," Ririn mengedarkan pandangannya dan melihat Miyuki yang menghindari serangan Hibari di salah satu dahan.
Ririn menuju ke arah Miyuki bersama Rin. Dino berniat menghentikan Ririn, tetapi dihadang oleh bayangan dirinya.
Ririn melompat ke dahan itu dari punggung Rin dan langsung mendapat sambutan tonfa dari Hibari. Ririn melompat dan mendarat ke belakang Miyuki dengan segera dia memberikan naginata yang dibuat dari ilusinya pada Miyuki. Miyuki dengan segera mengambil naginata itu dan menghalau serangan itu Hibari dengan naginata.
Ririn segera melompat ke belakang Hibari den berusaha menusuknya dengan pedang miliknya. Pedang itu hampir mengenai bahu Hibari kalau dia tidak segera menghindar dengan melompat ke dahan selanjutnya..
"Dua lawan satu?" Hibari menyeringai. "Herbivore memang hanya bisa bertarung dengan berkelompok," sambungnya.
"Oh, ya? Kita lihat saja siapa yang akan menang," Miyuki membalas perkataan Hibari dengan nada menantang.
Miyuki membuang naginatanya dan Ririn dengan segera memberikan Miyuki sepasang pistol. Hibari dan Miyuki melompat dari dahan yang satu ke dahan yang lain. Hibari berusaha menghindar dari tembakan Miyuki yang tidak bergerak dari tempatnya dan lemparan pisau kecil yang Ririn buat dengan ilusinya.
"Hebat juga dua gadis itu bisa membuat si Karnivora dan Haneuma terdesak," Gokudera mengomentari sambil menyalakan rokoknya.
"EKSTREME! HEBAT! Akan kuajak mereka bergabung ke klub tinju!"
"Hahaha, ternyata mereka bisa bertarung,"
"Kalau begini terus, apakah Hibari-san dan Dino-san akan kalah?"
"Kita belum tahu hal itu Tsuna berdasarkan pengalaman dan kekuatan, tentu saja Hibari dan Dino lebih unggul. Tetapi, Miyuki dan Ririn juga memiliki keunggulan yang bahkan bisa mengalahkan Dino dan Hibari," ucap Reborn.
"Keunggulan Miyuki-san dan Ririn-chan?" Tsuna bergumam sambil menatap pertarungan itu.
Sebenarnya mereka cukup kagum melihat Miyuki menghindari serangan Hibari dengan gesit padahal memakai rok panjang walau sudah sobek di beberapa bagian.
"Ririn-chan, apa kamu punya senjata lain?" Miyuki menatap Hibari yang berdiri di hadapannya, siap menyerangnya.
"Kalau hanya senjata biasa Ririn bisa menciptakan sebanyak yang Nee-chan mau. Tapi, Nee-chan sudah mempunyainya. Senjata yang hanya Nee-chan miliki,"
Miyuki tersenyum mendengar perkataan Ririn.
"Kamu benar," Miyuki mengangkat roknya hingga setinggi paha, membuat Tsuna, Yamamoto, Gokudera dan Ryohei hampir mengalihkan pandangan mereka ketika melihat Miyuki mengeluarkan sesuatu.
Sebuah tongkat yang panjangnya kurang dari dua puluh senti. Tapi Miyuki mengibaskan tongkat itu dengan cepat dan tongkat itu menjadi panjang, mencapai satu setengah meter.
"Heh, kamu mulai serius?" Hibari melihat senjata di tangan Miyuki dengan mata berkilat.
"Jadi teringat, dulu kita sering berkelahi seperti ini. Kyo-nii dengan tonfa itu, dan aku dengan senjata ini," Miyuki tersenyum.
Hibari menyeringai dan langsung mengarahkan tendangan ke kepala Miyuki. Miyuki bertumpu pada tongkatnya dan berusaha melayangkan tendangan pada Hibari yang ditahan oleh tonfa. Hibari mengarahkan flail yang masih ada di tonfanya yang satu dan menyerang bahu Miyuki. Miyuki terlambat menghindar dan flail itu melukai bahunya.
Miyuki mundur, berniat menjaga jarak, tetapi Hibari mengejarnya dan mengarahkan tonfa ke ke kepala Miyuki. Sadar tidak memiliki kesempatan untuk melompat, dia menjatuhkan dirinya dari dahan pohon. Hibari melihat ke bawah dan tidak melihat Miyuki di bawah pohon.
Tiba-tiba dia merasakan sesuatu dan membalikkan badannya. Ternyata tongkat yang tadi dipegang Miyuki sekarang menjadi tongkat kecil yang terbagi menjadi lima bagian dan dihubungkan dengan rantai. Miyuki berhasil mengunci gerakan tonfa Hibari dengan menggunakan senjatanya dan menendang perut Hibari dengan kencang.
Hibari sedikit memundurkan badannya dan menyeringai. Miyuki yang melihat hal itu langsung melepaskan senjatanya yang terikat pada Hibari dan menjaga jarak.
"Yuki…bukan, Miyu. Kuberi kesempatan sekali lagi, berhenti terlibat dengan semua ini," ucap Hibari tajam dengan mata yang berkilat berbahaya.
"Tidak mau!" Miyu berseru sambil menundukkan kepalanya. "Kyo-nii selalu saja begitu. Sejak dulu, selalu menyembunyikan semuanya dariku. Baik sebagai Miyu maupun Yuki, aku sudah tidak mau lagi menjadi orang yang tidak tahu apa-apa! Kita ini kan keluarga!" Miyu berseru dengan nada suara yang sedih bercampur marah.
"Miyuki-san," Tsuna hanya bisa melihat dengan pandangan simpati.
Reborn hanya menurunkan topi fedoranya. Dino yang melihat hal itu menatap Miyuki dengan sedih sambil menahan lawannya.
"Kamu tidak tahu apa-apa, dan tidak perlu tahu," ucap Hibari dengan ekspresi yang tidak berubah. "Cambio Forma," seketika api berwarna ungu mengelilingi Hibari.
Dengan seketika seragam petugas kedisiplinan milik Hibari menjadi lebih panjang, dipunggung jaketnya tertulis 'disiplin' dari kanji. Tubuh Miyuki bergetar untuk sesaat.
"Kyo-nii wa baka! Battle maniac! Aho!" Miyuki memekik kesal. "Natt, Cambio Forma!" Miyuki memanggil Natt yang sejak tadi terbang di atasnya, siap menunggu perintah dari Miyuki.
Natt dengan segera menghampiri Miyuki. Api hitam dengan segera mengelilingi Miyuki dan Natt, seakan menelan mereka. Udara terasa menjadi lebih dingin. Begitu api itu mulai berkurang mereka melihat Miyuki berdiri dengan penampilan yang sangat berbeda dengan sebelumnya.
Pakaian Miyuki menjadi berwarna hitam. Dia memakai jubah berwarna hitam pekat yang menutupi tubuhnya dan terdapat tudung yang menggantung di belakang lehernya. Jubah itu mencapai mata kaki, tetapi bagian depannya hanya sebatas lutut Miyuki dan bagian nawah jubah itu tersobek-sobek tidak rata. Pita putih di rambutnya menjadi berwarnya hitam dengan hair clip kelelawar yang menghiasi tengahnya. Namun, satu hal yang mencolok dari penampilan Miyuki yang serba hitam itu adalah sepasang sayap kelelawar berwarna hitam yang menempel di punggungnya.
"Api…hitam? Flame of Night?" Tsuna menatap Miyuki yang terlihat mempesona di kegelapan malam itu.
Dino bahkan sudah mengunci gerakan bayangannya dan terpesona melihat keanggunan, keindahan dan aura misterius berbahaya yang dipancarkan oleh Miyuki di bawah bulan purnama berwarna perak.
"Kenapa Miyuki-san bisa memakai Flame of Night?" Gokudera menatap Miyuki dengan tatapan tidak percaya.
"Karena Ririn yang membuat weapon untuk Nee-chan dan walaupun Cloud Flame cukup kuat mengalir di darah Nee-chan, darah Nee-chan lebih memilih Flame of Night," jelas Ririn yang entah sejak kapan sudah ada di dekat mereka.
"Ririn, kamu….," Reborn menatap Ririn dengan tajam.
"Reborn-jii-chan tidak boleh menyalahkan Paman, Ririn yang minta agar tidak diberitahu kalau Ririn yang membuat senjata untuk Nee-chan," Ririn membalas tatapan Reborn dengan serius.
"Apa maksudnya? Kalau begitu, apakah Ririn-chan juga pengguna Flame of Night?" Tsuna menatap Ririn dengan penasaran.
"Bukan. Ririn tidak menggunakan Flame. Ririn menggunakan kekuatan bulan, dan kalau Tsuna-nii mau memberinya nama mungkin Flame of Moon?" Ririn memiringkan kepalanya.
"Tapi bukankah Flame of Night bisa digunakan karena perasaan negative yang ada di hati sesorang yang sangat kuat? Kalau begitu…" Gokudera menatap Miyuki yang menatap Hibari dengan tajam.
"Aku tahu, aku tahu semuanya," gumam Miyuki kepada Hibari dengan suara bergetar. "Kyo-nii sengaja menyembunyikan semuanya karena tidak ingin aku terlibat. Karena," Miyuki menatap Hibari dengan tatapan serius. "aku tahu Tou-san adalah seorang anggota FBI dan Kaa-san adalah anggota intel di Jepang," lanjut Miyuki.
"Apa? FBI dan Intel?"
Semua yang mendengar hal itu hanya menatap kedua bersaudara itu dengan rasa terkejut. Dino yang baru mendengar segalanya, menganggap semuanya menjadi masuk akal. Alasan dia tidak bisa mencari informasi tentang keluarga Hibari sedikitpun. Data yang ditemukan hanya ayahnya meninggal saat adiknya baru lahir dan ibunya meninggal karena kecelakaan.
"Kecelakaan yang membunuh Tou-san dan Kaa-san bukan kecelakaan biasa. Ada sebuah oraganisasi yang mengincar mereka, dan Kyo-nii mendirikan Foundation nggak cuma untuk meneliti weapon box, tetapi juga menyelidiki siapa organisasi yang membunuh orang tua kita kan?" lanjut Miyuki.
"Miyu, cukup," Hibari menggeram tajam dengan flame yang semakin besar.
"Tidak!" bersamaan dengan mengatakan hal itu, api hitam di tubuh Miyuki menjadi semakin besar.
Miyuki mengangkat tangannya dan dengan cepat puluhan obeng membentuk lingkaran di atas tubuhnya dan dia mengarahkannya ke arah Hibari.
Hibari melemparkan Roll yang mengembang dan menghalau semua obeng dari Miyuki. Hibari mengeluarkan borgolnya dan berniat melemparkannya pada Miyuki ketika dia melihat Miyuki tidak ada di tempatnya.
DUAK
Hibari seketika terpental kesamping, tapi berhasil menahan tubuhnya dan tidak jatuh. Miyuki kembali menyerang Hibari dan Hibari mengeluarkan rantai flailnya yang memanjang. Dalam sekejap, Miyuki hilang. Hibari menghentikan gerakannya dan memperhatikan sekitarnya dengan posisi siaga. Tiba-tiba dia merasakan sebuah obeng menancap di kakinya.
"Eh? Apa yang terjadi? Kenapa Miyuki-chan tidak terlihat, tetapi Hibari-san terluka?" Yamamoto yang melihat kejadian itu menjadi bingung.
"Huh, baseball idiot, kau lupa apa kemampuan dari Flame of Night?" Gokudera berkata kepada Yamamoto dengan nada mencemooh yang tidak ditanggapi oleh Yamamoto.
"Short Warp," gumam Tsuna sambil memperhatikan pertarungan itu.
CTARR
Perhatian mereka kembali teralih ke arah Dino and Ririn yang berdiri tidak jauh dari mereka. Bayangan Dino tidak terlihat dimanapun, kelihatannya Dino berhasil mengalahkanya. Sekarang Ririn dan Dino berdiri berhadapan. Scuderia kembali melawan Rin. Ririn mengeluarkan dua botol berwarna perak dan meminum cairan itu.
"Ririn, dunia mafia tidak cocok untukmu. Kamu tidak perlu bergabung dengan Vongola," Dino berusaha meyakinkan Ririn yang mengarahkan pedang ke arahnya.
"Yang menentukan cocok atau tidak bukan Kakak," ucap Ririn sambil menyerang Dino.
Kekuatan dan kecepatan Ririn menjadi bertambah berkat cairan yang diminumnya. Ririn mengayunkan pedangnya ke arah Dino. Dengan cepat Dino menghindar dan membalasnya dengan cambuk. Walaupun sudah bertarung dengan bayangannya, Dino tidak terlihat terlalu lelah, berbeda dengan Ririn yang sudah mulai berkeringat.
Ririn melompat dan melemparkan lima buah bom berwarna ungu dan biru ke arah Dino. Dino mengarahkan cambuknya dan memotong bom yang dilempar Ririn hingga meledak di udara.
"Kalau begitu, biar Ririn melawan Kakak sebagai penyihir," ucap Ririn sambil memegang cerminnya.
Cermin yang di pegang Ririn kembali ke ukuran normal. Ririn lalu mencairkan cairan di pedangnya, membuat pedang itu kembali menjadi pisau kecil. Dia lalu menusuk telapak tangannya dan membiarkan darahnya mengalir di atas permukaan cermin.
"Reborn, kenapa Ririn-chan menusuk tangannya?" Tsuna menatap Ririn dengan panik.
"Karena darah penyihir bulan sangatlah special. Darah mereka merupakan kunci untuk menggunakan kekuatan mereka. Dengan menggunakan darah sebanyak itu, kelihatannya Ririn akan mengeluarkan kekuatan yang hebat," ucap Reborn.
'Dan, kekuatan apa yang akan kamu tunjukkan?' Reborn kembali menatap Ririn dengan serius.
Cermin yang di pegang Ririn mengeluarkan cahaya keperakan, lalu pemandangan di sekeliling mereka berubah menjadi lautan api.
"Ilusi?" Gokudera melihat sekeliling mereka yang dikelilingi api.
Tapi, walaupun mereka tahu itu adalah ilusi, mereka tetap merasakan panas dari api itu. Bahkan Reborn terlihat sedikit berkeringat.
"Kamu kira bisa mengalahkanku dengan menggunakan ilusi?" Dino menatap Ririn sambil tersenyum penuh percaya diri.
"Menang atau tidak baru bisa ditentukan setelah pertandingan ini berakhir,"
XXXXX
Hibari bersembunyi di balik pepohonan, berusaha mencari cara untuk membuat Miyuki menunjukkan wujudnya. Tiba-tiba Hibari melihat sekelilingnya terbakar. Dia melompat ke atas pohon dan melihat Ririn menyerang Dino dengan ilusi yang dibuatnya.
Merasakan aura membunuh, Hibari melompat ke dahan yang lain dan melihat Miyuki di atasnya, terbang dengan sayapnya.
"Kyo-nii lihat? Aku menjadi lebih kuat sekarang," gumam Miyuki sambil menunduk.
Miyuki mengeluarkan Flame of Night-nya.
"Miyu, Flame itu….," Hibari menghentikan kalimatnya menatap Miyuki.
"Flame of Night, Flame yang diciptakan karena perasaan negative, kebencian dan keputus asaan dari pemiliknya," Miyuki menjelaskan sambil tersenyum pahit. "Kyo-nii, aku sudah pernah mengatakan hal ini. Aku tidak pantas lagi memakai warna putih," lanjutnya sambil memperlihatkan gelang rantai bermotif salju di pergelangan tangannya.
"Aku membenci diriku yang tidak bisa melakukan apapun walaupun aku tahu Kyo-nii bertarung dan berusaha mencari informasi tentang pembunuh orang tua kita, aku hanya bisa diam, tidak bisa melakukan apapun. Benci. Aku benci diriku yang tidak berguna. Aku marah pada diriku yang tidak bisa apa-apa. Aku merasa muak, bahkan kakakku tidak percaya padaku," ucapnya pelan dengan sedih. Untuk sesaat ekspresi Hibari berubah.
"saat itulah, Reborn-san memberiku kesempatan. Membantuku menjadi lebih kuat. Membuatku menjadi lebih berguna," kali ini Miyuki mengucapkannya dengan tegas.
"Aku tidak akan kalah!" ucapnya sambil mengeluarkan tongkatnya yang sudah menjadi bagian kecil dan tersambung dengan rantai, terbang menuju ke arah Hibari.
Sayang, pertarungan jangka lama bukan keahliannya. Kekuatannya mulai terkuras karena berkali-kali memakai Short Warp dan dia tidak bisa menggunakan Short Warpnya di saat Ririn menggunakan ilusinya untuk melawan Dino. Dimensi di sekitar mereka menjadi berubah-ubah dan menjadi sangat sulit untuk Miyuki menggunakan Short Warp-nya.
Mengingat kakak-nya yang battle maniac dan Dino yang merupakan tutornya adalah orang-orang dengan stamina seperti monster yang bisa bertarung berhari-hari tanpa istirahat, tentu saja hal ini merugikan dirinya dan Ririn.
Ririn biasa berada di dalam mansion dan jarang bertarung, sedangkan Miyuki hanyalah seorang informan yang kerjanya hanya mencari dan mencuri informasi. Mereka berdua bukan spesialis dalam bertarung. Tidak lama lagi stamina mereka berdua akan habis dan mereka akan kalah. Tapi mereka memiliki keunggulan. Keunggulan yang tidak dimiliki oleh Dino dan Hibari.
"Ah, Ririn-chan!" Miyuki seakan tersadar akan suatu hal dan memanggil Ririn.
Ririn menghentikan serangannya dan menatap Miyuki. Untuk sesaat mereka saling menatap.
"Bahaya!"
CRASH
Tsuna, Gokudera, Yamamoto, dan Ryohei berseru melihat serangan Hibari mengenai Miyuki. Miyuki lengah dan tidak sadar Hibari meletakkan Roll diantara mereka berdua. Duri-duri tajam Roll menusuk tubuh Miyuki dan menembus badannya.
"UKH!"
Darah menyembur dari mulut Miyuki dan tubuhnya.
"Miyuki-chan!"
"Miyuki-san!"
To be continue….
XXXXX
Mondo di illusione : dunia ilusi
Espandere : membesar
Congelare : membeku
Restringersi : menyusut/menjadi kecil
Ingrandire : memperbesar
Riflessa : pantulkan
Rispecchiare : pantulan bayangan
Kyo-nii wa baka : Kyo-nii bodoh
Aho: Bego
Minna, sebelumnya Merry Christmas untuk yang merayakan!
Maaf telat, seharusnya cerita ini selesai kemarin, tapi Sacchan nggak selesai-selesai nulis ceritanya -_-. Maaf ini banyak pertarungan, dan sedikit rumit. Sacchan harap kalian mengerti pertarungan yang terjadi.
Chapter selanjutnya adalah hasil dari pertarungan!
Sebelumnya Sacchan mau minta maaf, karena sepertinya Sacchan hanya bisa mengupdate 2 atau 3 cerita lagi karena Sacchan ada UAS begitu selesai libur, dengan kata lain, libur kali ini harusnya libur belajar~ (tapi Sacchan males, makanya nilai Sacchan membahayakan untuk UTS kemarin -_-")
Nah, untuk kelanjutannya lagi dimohon kesabaran menunggu ya!
R&R please!
