Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Sakazuki123 : Jangan, Sakazuki-san! Anda bisa diserang oleh sis-com si Dino! (#kenacambuk)

Zee cielova : Hmm, ini yang sebelumnya pake nama Zee Ritsu12 kan? Maaf kalo salah, Sacchan inget 'Zee'-nya -_-" (maaf banget ya kalo salah). Iya, Sacchan kalo libur suka update banyak, tapi libur kali ini Sacchan update nggak sebanyak sebelumnya. Iya, biar lebih seru. Menurut Sacchan sikap Miyuki yang twist cocok sama Flame of Night, karena dia banyak rahasia sih. Maaf ya, Sacchan sebenernya mau kurangin adegan bertarung itu, tapi terlanjur ngetik banyak dan males hapus, ya udah jadi rumit. Naginata adalah tombak khas Jepang dengan mata pedang di ujung salah satu tombaknya. Makasih doanya! Sacchan akan usaha biar UAS bagus dan ada waktu lanjutin cerita ini.

Yukishiro Seiran : Hai Seiran san~ iya, kalo untuk rok Miyuki yang berwarna putih, akan ada penjelasanya sedikit di chapter ini. Iya, maaf ya pertarungannya rumit, tapi chapter ini cuma dikit kok. Iya, semoga kedepannya Sacchan bisa bikin romance Miyu-Dino lebih banyak :). Tenang, semua pertanyaan anda akan terjawab di chapter ini! Makasih semangatnya, Sacchan akan belajar lebih rajin biar ada kesempatan lanjutin LSIA!

Hikage Natsuhimiko : Hehehe, iya nih. Terlalu banyak surprise ya di chapter kemarin? Chapter depan waktunya Ririn ketemu sama Guardian terakhir, entah Hika-san bakal surprise lagi apa nggak. Wah, makasih lho kamu ngerti adegan pertarungan yang Sacchan buat :'). Sepupu Sacchan bilang itu terlalu rumit sih. Iya, Sacchan pake banyak kaarakter tapi nggak semuanya berperan -_-' . Sacchan bikin Ririn penuh misteri sampe Reborn pun nggak tau tentang dia :D. Tunggu aja chapter berikutnya, beberapa jam sebelum tahun baru Saccha bakal update lagi kok~ Btw, itu gambar di FB buatan Hika? Bagus banget, klo boleh Sacchan mau jadiin DP ya ;)

prof. creau : Hai prof! Udah lama Sacchan nggak lihat~ Tenang, chapter ini hasil pertarungan mereka! Iya, Rin besar banget sampe di chapter sebelumnya Ririn yang naik ke Rin, nggak di gendong lagi tuh. Ok, selamat makan prof! (telat)

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Result

.

.

.

Flashback tiga tahun yang lalu…

Hari itu adalah hari pertama Miyuki melarikan diri dari asramanya. Dadanya sedikit berdebar karena merasa tidak enak kepada Suster Kepala dan Suster lainnya, tetapi dia khawatir. Sudah beberapa hari dia menelepon kakaknya dan tidak diangkat.

Kakaknya selalu mengangkat telepon darinya walaupun jarang berbicara atau menjawab. Memang, selalu hanya dia yang berbicara dan jawaban dari kakaknya hanya gumaman berupa 'Hn' yang tidak jelas artinya. Tapi Miyuki mengerti, walaupun hanya gumaman, kakaknya mendengarnya dan memperhatikannya.

Di sinilah Miyuki berdiri, di depan sebuah rumah sakit terbesar di Namimori setelah memaksa Kusakabe memberitahu keadaan kakaknya. Awalnya Kusakabe tidak mau memberi tahu keadaan dan alasan kakaknya bisa seperti itu, tetapi karena merasa kasihan dan tidak enak kepada Miyuki yang khawatir pada kakaknya, Kusakabe menceritakan semuanya.

Dimulai dari penyerangan terhadap murid Namimori dan beberapa murid yang bertarung. Saat itu, dia hanya bisa melihat kakaknya yang tertidur setelah dirawat dokter, secara diam-diam. Dia tahu kakaknya tidak mau dia khawatir dan Miyuki tidak mau kakaknya tahu Miyuki mengetahui kondisi kakaknya itu.

"Dasar, Kyo-nii battle maniac," gumam Miyuki sambil memperhatikan kakaknya yang sedang tertidur di ranjang rumah sakit dengan sedih. "baka," gumamnya pelan sebelum meninggalkan ruangan itu.

Miyuki tidak menyadari ada sesosok mata tajam yang memperhatikannya. Sesosok bayi dengan jas dan topi fedora.

Sejak hari itu, Miyuki diam-diam sering keluar dari asrama dan melihat keadaan kakaknya sembunyi-sembunyi.

Saat itulah, saat pertarungan Ring Battle melawan Varia dia melihat kakaknya kembali terluka. Dia memaki dirinya sendiri, membenci dirinya yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia berdiri di atap sekolah Namimori sambil menatap kegelapan malam setelah pertarungan Ring Battle selesai.

"Ciaossu!"

Miyuki membalikkan badannya dan menatap Reborn dengan pandangan kosong. Reborn sedikit menurunkan fedoranya untuk menyembunyikan seringainya ketika melihat aura yang dikeluarkan Miyuki.

"Siapa?"

"Aku Reborn, hitman nomor satu di dunia dan tutor dari Vongola Decimo,"

Miyuki menatap Reborn sesaat sebelum berbicara.

"Vongola, mafia nomor satu yang menjadikan kakakku sebagai Cloud Guardiannya," gumam Miyuki. "dan kamu adalah salah seorang arcobaleno, salah satu dari tujuh bayi terkuat," tambahnya.

Sekali lagi Reborn menyeringai. Tidak banyak orang awam yang bukan berasal dari dunia hitam yang mengetahui Vongola. Bahkan, Reborn yakin bahwa Tsuna tidak mengetahui tentang arcobaleno.

"Reborn-san, sebagai hitman nomor satu, aku ingin minta tolong padamu," ucap Miyuki sambil menatap Reborn dengan tatapan penuh tekad.

"Apa?"

"Tolong, buat aku menjadi lebih kuat," ucap Miyuki tegas.

"Hmm," Reborn hanya menatap Miyuki dalam diam.

DUAK

TRAK

Dalam sekejap Reborn menyerang Miyuki, berusaha menendang kepalanya yang berhasil ditangkis Miyuki dengan sebuah tongkat panjang yang entah dari mana muncul. Reborn mendarat di hadapan Miyuki dan menyeringai.

"Baiklah, akan kubuat kau menjadi lebih kuat. Pertama-tama, aku akan membuatmu bergabung dengan Vongola," ucap Reborn sambil melompat ke pagar pembatas.

"Terima kasih, Reborn-san," ucap Miyuki sambil tersenyum senang.

'Kekuatan yang lumayan. Dia memiliki bakat untuk bergabung dengan mafia. Nama 'Hibari' memang pantas disandangnya,' batin Reborn sambil menyeringai menatap gadis di hadapannya.

'Aku akan menjadi kuat dan menepati janjiku!' batin Miyuki.

Sejak hari itu, Miyuki diam-diam datang ke Namimori untuk mengetahui berbagai hal yang terjadi pada kakaknya dan dilatih oleh Reborn untuk menjadi informan.

XXXXX

"Miyuki-san!"

"Miyuki-chan!"

"Nee-chan,"

Ririn yang tadinya bertarung dengan Dino langsung menggerakan cerminnya, dengan seketika membuat kabut tebal menyelubungi seluruh area. Dino kehilangan pandangannya dan tidak bisa menemukan Ririn karena kabut itu. Tidak jauh berbeda dengan Dino, Hibari bahkan tidak bisa menemukan tubuh adiknya yang terluka.

BOOM

Hibari langsung membalikkan badannya dan merasakan sesuatu di belakangnya. Sambil menutupi hidungnya dari asap berwarna ungu yang bercampur dengan kabut, dia membalikkan badannya. Tiba-tiba Hibari merasakan dirinya disiram sesuatu dan tubuhnya menjadi berat. Hibari baru akan melemparkan Roll ketika sesuatu seperti tali tambang yang besar menariknya dan mengikatnya ke pohon.

Hibari memperhatikan tali, yang ternyata sulur berwarna hijau mengikat kedua pergelangan tangannya, lengannya, pergelangan kakinya, pinggangnya, dan lehernya. Sulur itu juga menarik tonfa di tangan Hibari, tetapi Hibari menggenggam tonfa itu sangat erat, tidak melepaskan tonfa itu. Sebuah sosok muncul dan berjalan ke arah Hibari.

"Kau," Hibari mendesis sambil menatap sosok itu tajam.

XXXXX

Dino masih berusaha mencari-cari Ririn di antara kabut ketika seseorang menyerangnya. Dino dapat merasakan aura yang tajam dari balik kabut. Dino memasang kuda-kuda dengan cambuknya, begitu dia melihat ada tongkat yang mengarah padanya, dia menghindari tongkat itu dan mengarahkan cambuknya ke sana, tetapi tidak mengenai targetnya.

Dino tetap memasang kuda-kuda ketika dia tiba-tiba merasakan tubuhnya mulai terasa berat. Dino memutar tubuhnya dan kembali berniat menyerang ketika sesuatu memukul pergelangan tangannya hingga cambuknya jatuh.

Dino belum sempat bereaksi ketika tubuhnya terhempas ke pohon dan seketika kedua tangannya terikat ke atas, menggantung tubuhnya dengan dahan pohon dan sebuah tongkat dengan rantai juga mengikat kedua kakinya. Dino berusaha menggerakkan kedua tangan dan kakinya ketika sebuah sosok bersayap mendekatinya.

"Tolong jangan banyak bergerak, Dino-san," Miyuki tersenyum sambil terus mendekati Dino.

"Yuki!" Dino terkejut melihat gadis di depannya.

Dino sangat yakin dia melihat Miyuki tertusuk duri Roll, tetapi Miyuki di hadapannya tidak memiliki luka tusuk di badannya. Hanya beberapa luka hantaman dan goresan dari tonfa Hibari.

"Salah, seharusnya kamu memanggilku 'Miyu'," Miyuki tersenyum ceria dan mendekatkan wajahnya dengan Dino.

"E-eh, Mi…yu?" Dino bisa merasakan wajahnya memanas saat Miyuki mendekatkan wajahnya ke arah Dino.

"Dino-san," Miyuki tersenyum misterius.

GLEK

"Uph?!" Dino mengerjapkan matanya ketika Miyuki menuangkan cairan berwarna ungu dari sebuah botol kecil ke mulutnya. Perlahan-lahan dia meraskan tubuhnya semakin berat dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi.

"Aku tidak bisa membiarkanmu bergerak, bersabar ya. Hanya tiga menit!" ucap Miyuki ceria sambil mengedipkan matanya ke arah Dino. "ups," Miyuki melihat cairan yang dituangkannya menetes ke sekitar mulut hingga ke leher dan baju Dino.

"Aku mengotori bajumu, biar kubersihkan sebagai permintaan maaf," ucap Miyuki ceria sambil mengedipkan matanya.

'E-EEHH! Tung-tunggu! Kenapa aku malah berdebar begini! Ayolah Dino, ini masih di tengah pertarungan, fokuskan pikiranmu! Wa-wajahnya dekat….Tidak! Ayo fokus!' batin Dino, berusaha menenangkan hatinya yang dipenuhi pertikaian dan berusaha fokus ketika Miyuki membersihkan cairan yang di mulut dan lehernya.

"Selesai! Sekarang sudah bersih lagi!" Miyuki menatap Dino dengan ceria dan wajah senang, seperti anak kecil.

'Eh, manis juga kalau dia berekspresi seperti itu…,' batin Dino dalam hati yang lagi-lagi memulai perdebatan dengan dirinya.

"Baiklah, sekarang," Miyuki menolehkan kepalanya ke salah satu arah. "Ririn-chan, aku sudah selesai!" teriaknya dengan nada ceria.

Seketika kabut tebal itu menghilang, menampilkan Dino yang terikat, di depannya ada Miyuki dan Hibari yang terikat dengan sulur hijau, masih berusaha berontak, di depannya ada Ririn yang memegang cermin.

"HIE?! Apa yang terjadi? Kenapa Miyuki-san di depan Dino-san sedangkan Hibari-san di depan Ririn-chan? Kenapa Miyuki terlhat tidak apa-apa, padahal tadi aku yakin melihatnya tertusuk duri Roll?" Tsuna memekik antara kaget dan panik melihat dua orang terkuat yang dikenalnya di kalahkan.

DUAK

"Dame-Tsuna, tenang sedikit," Reborn menginjak wajah Tsuna dan kembali mendarat.

"Reborn-san, tolong hitung waktunya!" seru Miyuki dari depan Dino.

Reborn mengambil topeng Romario dari wajah Tsuna dan mengubah Leon menjadi jam pasir seukuran dirinya.

"Ukh, sial," Dino mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi tidak bisa karena terasa berat.

"Sudahlah, Dino-san. Kamu sudah meminum obat pelumpuh buatan Ririn-chan dan sebelumnya sudah terkena tusukan dari cairan pelumpuh dan obat tidur yang sebelumnya dijadikan Ririn pedang kan? Dino-san tidak akan bisa bergerak sampai Ririn-chan memberikan obat penawarnya," jelas Miyuki sambil tersenyum.

"Herbivore," Hibari menggeram, menatap Ririn.

Dia bergerak, berusaha agar bisa lepas dari sulur yang menjeratnya, tapi semakin banyak bergerak, semakin sulur itu mengikat tubuhnya dengan erat. Tonfanya sudah terlempar karena sulur itu memaksa menarik tonfanya dan memukul tangan Hibari hingga tonfanya terlempar.

"Vampire-san memang hebat. Padahal sedikit saja, obat pelumpuh ini bisa membuat hewan buas sekalipun tidak bisa bergerak," ucap Ririn sambil menatap Hibari.

Dia sudah menyiramkan obat pelumpuh dan obat tidur, menaburkan serbuk dan memberikan asap pelumpuh agar Hibari berhenti bergerak, tetapi tetap saja Hibari masih bisa bergerak.

Hibari mendesis dan mengalihkan pandangannya. Dia melihat Miyuki yang berdiri di depan Dino yang terikat. Hibari menciptakan menciptakan beberapa Mini Cloud Hedgehogs dan mengarahkannya ke arah Miyuki.

JLEB

"Miyuki-san!"

"Miyuki-chan!"

"Miyu!"

Tsuna dan yang lain (kecuali Reborn), juga Dino membelalakkan matanya ketika melihat beberapa Mini Cloud Hedgehogs menembus tubuh Miyuki. Seperti sebelumnya, darah keluar dari mulut dan tubuh Miyuki. Dino yang melihat Miyuki yang terluka di depan matanya merasa untuk sesaat jantungnya hampir berhenti.

Tiba-tiba sosok Miyuki itu tersenyum dan dalam sekejap sosok itu hancur menjadi kumpulan kelelawar berwarna hitam yang terbang ke langit. Dino, Tsuna dan yang lainnya hanya bisa terkejut melihat sosok Miyuki yang menjadi kelelawar hitam.

"Kyo-nii~,"

Entah sejak kapan, Miyuki sudah berdiri di sebelah Ririn, di hadapan Hibari.

"cara seperti itu tidak bisa melukaiku, lagipula," Miyuki mengarahkan pandangannya ke jam pasir yang sudah hampir habis. "tinggal beberapa detik lagi aku menang," Miyuki tersenyum pada Hibari.

5…..4….3…2….1….0!

"Tiga menit sudah berlalu, pemenang duel ini adalah Ririn dan Miyuki!" ucap Reborn sambil menaikkan dua buah bendera bergambar chibi Miyu dan chibi Ririn, entah dari mana.

Ririn dengan segera menarik sulur yang menahan gerakan Hibari hingga Hibari terjatuh. Tetapi dengan segera dia kembali berdiri, walaupun dengan efek obat tidur dan obat pelumpuh yang masih ada di tubuhnya. Miyuki segera terbang dan mengambil senjatanya yang ada di kaki Dino, lalu melepaskan cambuknya.

XXXXX

Sekarang, semua berkumpul di dekat Reborn. Miyuki (masih jadi Miyu) dan Hibari sudah kembali normal tanpa Cambio Forma mereka, begitu juga Rin. Dia kembali menjadi anak serigala (lebih mirip anak anjing#digigitRin) yang imut dan kembali digendong Ririn.

Ririn sudah memberikan penawar obat pada Dino dan Hibari, sehingga mereka hanya butuh waktu untuk menunggu racun obatnya hilang. Tetapi, menurut Ririn, efek pada Hibari akan hilang sedikit lebih lama karena Ririn terlalu banyak memberikan obat pada Hibari (yang langsung kena death glare dari Hibari, tetapi tidak digubris oleh Ririn).

"Karena pemenangnya adalah Miyuki dan Ririn, maka, Miyuki tetap menjadi informan, Kelelawar Hitam dan Ririn bergabung dengan Vongola," ucap Reborn mengumumkan.

"Tidak…," Dino bergumam lemah dan kecewa. Rohnya hampir hilang dari tubuhnya, melayang dari mulutnya.

"Kakak terlalu berlebihan," ucap Ririn sambil menarik roh yang hampir keluar dan memasukkannya ke mulut Dino.

"Ririn~" Dino yang tersadar langsung menatap Ririn dengan pandangan berkaca-kaca memelas.

"Kakak, walaupun Rririn bergabung dengan Vongola, tetapi keluarga Ririn tetap Cavallone kan? Kakak tetap kakak Ririn. Apa Ririn salah?" ucap Ririn sambil menatap Dino

"Ririn," Dino sudah hampir menangis terharu mendengar perkataan Ririn. Kalau efek obatnya sudah hilang, Dino pasti sudah memeluk erat Ririn.

Tsuna, Gokudera,dan Ryohei juga ikut terharu melihat mereka berdua, sedangkan Yamamoto hanya memberikan senyum simpatik miliknya.

"Kyo-nii,"

Satu kata dari Miyuki, dan perhatian mereka teralihkan ke dua saudara sedarah yang sejak tadi hanya diam sambil saling bertatapan.

"Aku akan tetap menjadi informan, mencari pembunuh kedua orang tua kita dan aku tidak akan mundur," ucap Miyuki dengan tegas.

Hibari hanya diam menatap adiknya tajam. Miyuki menghela napas pendek, tahu kakaknya masih belum menerimanya.

"Aku tahu Kyo-nii tidak mau aku terlibat dalam urusan ini karena tidak mau membahayakanku. Juga menyembunyikan tentang kedua orang tua kita karena Kyo-nii khawatir 'mereka' akan mengincarku. Tapi," Miyuki lalu menatap kakaknya sambil tersenyum.

"'Karena aku tidak bisa menyerah, makanya itu menjadi harga diriku' kan?" ucap Miyuki sambil tersenyum lembut.

Mata Hibari sedikit membesar, terlihat terkejut mendengar kata-kata Miyuki walaupun dia segera mengembalikan ekspresinya menjadi datar.

"Itu kan kata-kata Hibari saat melawan Adelheid dulu," ucap Tsuna.

"Hmp, keras kepala," ucap Hibari sambil membuang pandangannya.

"Karena aku adikmu," ucap Miyuki sambil tertawa kecil. "lagipula apa Kyo-nii lupa teori yang selalu diajarkan Kaa-san? 'Yang lemah dimangsa yang kuat', makanya dulu Tou-san juga pernah bilang kalau seorang 'Hibari' tidak boleh lemah kan?" kali ini Miyuki menambahkan dengan ceria, membuat Hibari menyeringai.

'EHH! Teori hukum rimba?! Ibu dan ayah macam apa yang mengajarkan anaknya teori seperti itu! Pantas Hibari jadi seperti itu!' pekik semua yang melihat dua bersaudara itu (kecuali Reborn dan Ririn yang hanya melihat dengan wajah biasa).

Hibari lalu terdiam, melihat rok Miyuki yang sebelumnya panjang dan berwarna putih sekarang sudah berwarna kecoklatan dan tersobek-sobek. Miyuki yang menyadari pandangan Hibari kembali tersenyum.

"Benar, ini adalah satu-satunya benda berwarna putih milikku yang ingin kubuang. Benda putih yang akan kusimpan hanya gelang pemberian Kyo-nii dan pita milik Kaa-san, ini saja cukup bagiku," ucap Miyuki ceria. "lagipula aku memang memiliki firasat kan terjadi sesuatu, makanya memilih warna putih ini. Untuk terakhir kalinya, ini adalah warna putih yang akan kupakai," lanjut Miyuki.

"Miyu," Hibari bergumam pelan.

Hibari mengingat sejak beberapa saat yang lalu, sedikit demi sedikit barang Miyuki yang berwarna putih hampir tidak pernah terlihat. Mungkin, Miyuki membuangnya satu-persatu agar tidak membuat Hibari curiga.

"Tapi, aku tidak menyesal memilih jalan ini. Walaupun aku sudah memilih kegelapan, tetapi aku tidak menyesalinya. Karena, dengan begini, aku bisa menjadi lebih kuat dan Kyo-nii tidak perlu lagi khawatir ataupun melindungiku. Mulai sekarang, aku yang akan melindungi diriku sendiri, juga Kyo-nii," lanjutnya ceria.

"Hmp, sombong sekali mau melindungiku," Hbari menyeringai sambil menatap adiknya tajam.

"Kalau begitu," Ririn menurunkan Rin dan berlutut di sebelah Dino sambil mengulurkan kedua tangannya yang berlumuran darah karena disayat dan ditusuk ke arah Dino.

Tubuh Ririn diselubungi cahaya berwarna perak dan matanya bersinar keperakan. Cahaya itu perlahan-lahan melingkupi Dino dan menututp luka-luka di tubuh Dino.

"Hie! Luka Dino-san sembuh!"

"He-hebat!"

"Ahahaha, Ririn-chan serba bisa ya~,"

"Ekstreme!"

'Kekuatan spesial ras terpilih,' gumam Reborn sambil memperhatikan Ririn yang sudah selesai menyembuhkan luka Dino dan beranjak ke Miyuki.

"Nee-chan,"

Ririn mengulurkan kedua tangannya dan kembali menyembuhkan luka di tubuh Miyuki. Tetapi, karena luka di tubuh Miyuki lebih banyak, butuh waktu lebih lama untuk menyemuhkan lukanya.

"Terima kasih, Ririn-chan," ucap Miyuki sambil menepuk kepala Ririn.

Ririn baru mendekati tubuh Hibari ketika pemuda itu berdiri.

"Tidak perlu," ucapnya tajam pada Ririn.

"Ririn memaksa," balas Ririn datar. "karena, Nee-chan akan sedih kalau melihat Vampire-san terluka," tambah Ririn sambil melihat ke arah Miyuki yang menatap kakaknya dengan raut khawatir.

Melihat Hibari yang terdiam, Ririn mendekati Hibari dan mulai menyembuhkan luka Hibari.

"Reborn, yang kamu maksud keunggulan Ririn-chan dan Miyuki-san itu, kerja sama mereka?" Tsuna bertanya pada Reborn yang sedang memperhatikan Ririn.

"Benar. Walaupun Ririn dan Miyuki belum lama bertemu, mereka dapat mengerti satu sama lain, berbeda dengan Dino dan Hibari yang bertarung sendiri-sendiri. Mereka menggunakan kekuatan mereka untuk menopang satu sama lain dan menyerang lawan yang terpecah dan bergerak sendiri," jelas Reborn.

"Ne, Miyuki-chan, kenapa kamu dan Ririn-chan bertukar posisi saat terakhir?" Yamoto bertanya pada Miyuki.

"Karena, Kyo-nii terbiasa melawan musuh yang memiliki aura bertarung yang besar atau orang yang memiliki aura membunuh yang tajam, sedangkan Ririn-chan tidak mungkin memiliki keinginan membunuh ataupun keinginan bertarung dengan Kyo-nii. Pada dasarnya, Ririn-chan adalah anak baik dan tidak mau melukai orang sembarangan,"

"Dino-san juga pasti tidak akan mengira dan tidak memiliki persiapan saat aku menyerangnya tadi. Jadi, kami bertukar posisi untuk mengalahkan mereka berdua yang pasti tidak akan menyangka hal itu," jelas Miyuki sambil tersenyum.

"Che, hebat juga bisa menyusun rencana seperti itu dan mengalahkan Boss dari salah satu mafia terkuat dan Guardian terkuat," ucap Gokudera.

"Karena aku informan, bukan petarung. Aku bertarung menggunakan taktik," ucap Miyuki sambil mengedipkan matanya.

"Informan yang kuat! Bergabunglah dengan klub tinju!" Ryohei langsung berseru sambil mengarahkan tinjunya ke langit.

"Tidak mau, aku udah masuk klub jurnalistik," Miyuki menolak tawaran Ryohei dengan sambil tersenyum.

"Sayang sekali!" ucap Ryohei yang tidak terlihat sedih.

"Tapi Yuki, maksudku Miyu bisa semuanya ya. Walaupun informan, tapi bisa bertarung," ucap Dino yang sudah bisa bergerak.

"Ahahaha, kalau bertarung seperti itu sudah biasa. Sejak kecil kalau kami bertengkar kami selalu seperti itu, tanpa Cambio Forma tentunya," ucap Miyuki sambil mengibaskan tangannya di depan wajahnya dengan ceria.

"HIE! Sejak kecil bertarung seperti itu?" Tsuna mewakili keterkejutan yang lainnya menyuarakan pikirannya.

"Yah, itu hanya pertengkaran antar saudara biasa kok," ucap Miyuki dengan nada ringan dan ceria.

'Bagaimana sebenarnya keluarga 'Hibari' itu! Seram! Masa pertengkaran antar saudara seperti itu!' batin mereka bersamaan.

Sementara itu, Ririn masih berusaha menyembuhkan luka di tubuh Hibari dan menghilangkan racunnya dengan kemampuannya.

"Maaf," ucap Ririn tiba-tiba.

Hibari tidak mengatakan apapun dan hanya menatap Ririn yang menatap wajahnya. Hibari menatap Ririn dan memberikan tatapan yang menyuruh Ririn menjelaskan perkataannya.

"Ririn melukai Vampire-san dan memberikan banyak obat pada Vampire-san," jelas Ririn.

"Hal itu, bukankah seharusnya kamu katakan pada Haneuma itu lebih dulu," Hibari mengerutkan dahinya mendengar perkataan Ririn.

"Sudah. Kakak menatap Ririn dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Untunglah efek obatnya belum habis, Ririn tidak mau dipeluk Kakak sampai merasa sesak," ucapnya datar.

Hibari membayangkan Dino dengan reaksinya sambil memeluk Ririn. Membayangkan wajahnya saja membuat Hibari kesal.

"Chibi-Herbivore, Dalam pertarungan, terluka itu hal yang biasa. Kalau kamu ingin bergabung dengan Vongola, kau harus siap melukai kawanan herbivore mu," ucap Hibari dengan nada tegas.

Untunglah Ririn merupakan anak jenius, sehingga dapat menangkap yang maksud Hibari dengan 'kawanan herbivore' adalah teman.

"Perumpamaan yang aneh," ucap Ririn sambil mengerutkan dahinya.

Hibari mengabaikan perkataan Ririn dan memperhatikan gadis itu menyembuhkan lukanya. Cahaya keperakan yang menyelimuti tubuhnya membutanya merasa nyaman dan tenang.

"Chibi-Herbivore, bukankah seharusnya kamu menyembuhkan lukamu lebih dulu?" Hibari mengernyitkan dahinya melihat tubuh Ririn penuh luka dan tangannya penuh darah, bahkan masih basah. Dan, kalau diperhatikan baik-baik wajahnya sedikit pucat.

"Kekuatan Ririn bisa menyembuhkan orang lain, tetapi tidak bisa menyembuhkan Ririn," ucap gadis itu. "lagipula, Vampire-san lebih penting," sambung gadis itu.

Hibari hanya diam mendengar perkataan Ririn. Selama ini yang menganggapnya penting hanya adiknya, pamannya dan Kusakabe. Mungkin beberapa bawahannya. Hibari mengernyitkan dahinya. Dia tidak suka perasaan seperti herbivore yang dirasakannya sekarang.

"Se..lesai," gumam Ririn bersamaan dengan tempat di sekeliling mereka berubah dan kembali menjadi hutan Namimori.

Ririn langsung menutup matanya pingsan begitu selesai menyembuhkan luka Hibari yang dengan spontan ditangkap Hibari. Begitu sadar mereka kembali ke hutan dan melihat Ririn yang pingsan. Semua menjadi panik.

"Chibi-Herbivore," Hibari menggumam pelan.

"Ririn!"

"Ririn-chan!"

"Woof!"

XXXXX

Di tempat lain….

Cahaya bulan memasuki ruangan itu. Sang pemuda dengan dua mata berlainan warna berdiri menatap bulan di langit sambil tersenyum misterius. Mata kanannya yang berwarna merah menyala terang, menunjukkan kanji bertuliskan angka enam.

"Perasaan ini….tidak salah lagi," pemuda itu menatap bulan sambil tersenyum. "ternyata, kamu ada di kota ini. Akhirnya, aku akan menemukanmu, principessa," pemuda itu menyentuh mata kanannya sambil memancarkan aura misterius.

"Aku akan membayarkan hutangku padamu, walau dengan nyawa ini," gumam pemuda itu dengan raut sedih dan tatapan menerawang.

Di balik pintu ruangan itu, seorang gadis diam-diam memperhatikan pemuda itu sambil memegang dadanya.

"Principessa…?" gumam gadis itu dengan raut sedih.

XXXXX

Di suatu tempat, di laboratoriun rahasia, Indonesia….

"Boss, ada sinyal yang memancarkan tempat Karin berada!" seorang pria berkacamata yang duduk di depan salah satu dari puluhan komputer di ruangan itu berseru.

"Apa?! Tampilkan di layar monitor sekarang juga!" perintah seorang pria yang terlihat berumur tiga puluhan dengan rambut berwarna cokelat.

Si pria yang tadi memanggil Bossnya langsung menghubungkan komputer di hadapannya dengan layar raksasa di depan ruangan. Di layar itu ditampilkan peta dunia dan ada sebuh titik berwarna silver berkelap-kelip di layar monitor itu. Dalam sekejap, titik itu menghilang.

"Dimana titik tadi muncul?" tanya si Boss kepada anak buahnya.

"Di Jepang,"

"Tempat pastinya?"

"Maaf, titik itu menghilang dengan cepat, kami tidak bisa menemukan letaknya lebih detail lagi," jawab salah seorang anak buahnya dengan nada ketakutan.

BRAK

Boss itu mengangkat tangannya dan mengarahkan tangannya ke arah anak buahnya yang baru saja menjawab peratanyaannya. Dalam sekejap, pria yang menjawab tadi terpental dari kursinya dan sudah membentur dinding hingga dia pingsan walau tidak di sentuh oleh tangan si Boss. Semua orang yang melihat kejadian itu langsung merasa takut.

"Tidak berguna!" bentak Boss itu yang membuat semua bawahan yang melihatnya ketakutan.

"Kalian lihat kekuatanku? Aku membutuhkan gadis itu untuk menyempurnakan kekuatan ini!" sekali lagi, si Boss membentak anak buahnya. "Baiklah, kita cari keberadaan gadis itu di Jepang. Siapkan pesawat secepatnya!" perintahnya kepada salah satu anak buahnya yang langsung membungkuk hormat dan berjalan dengan cepat keluar dari ruangan itu.

'Tidak masalah. Kekuatan ini pasti bisa menemukanmu, karena kekuatan ini akan mencarimu,' batin si Boss dengan licik.

To be continue….

XXXXX

Minna, akhirnya pertarungan dua bersaudara ini selesai! Chapter selanjutnya sedikit pengakuan dari Ririn tentang penyihir bulan dan bertemunya Ririn dengan satu Guardian terakhir~

Btw, chapter selanjutnya akan di update beberapa jam sebelum atau sesaat sesudah tahun baru, dengan kata lain malam ini, ditunggu ya!

Kelihatanya chapter selanjutnya adalah chapter terakhir Sacchan sebelum cuti nulis untuk beberapa saat dan akan dilanjutkan di libur berikutnya.

Minna, Merry Christmas and Happy New Year!

R&R Please!