Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Sakazuki123 : Hahaha, dengan sis-com si Dino kayaknya susah tuh buat Dino ngebiarin Ririn diculik. Iya, Sacchan bikin hint-hint dikit, tunggu kelanjutan romance mereka ya~
Hikage Natsuhimiko : Hehehe, entah kenapa Sacchan suka membuat sesuatu yang kira-kira membuat orang terkejut. Iya, Sacchan udah ready stock untuk chapter ini dan harusnya semalem di update, tapi Sacchan tepar, kecapekan habis main ke Jakarta di buat lihat kembang api, jadi baru update. Gambarnya bagus kok, Sacchan suka liat tampang datar Ririn di gambar itu lucu, Rin juga lucu, semuanya lucu~! Miyuki terlalu negative thinking sama dirinya sendiri, makanya Flame of Night-nya jadi lebih kuat daripada Cloud Flame-nya. Adegan itu, karena karakter Miyu sama kayak karekternya pas masih kecil, yaitu ceria dan agak kekanakkan, makanya dia agak childish. Itu salah satu kekuatannya menggunakan Flame of Night dan kekuatan Natt. Hika-san, cairan yang disiram Ririn nggak sebanyak itu, botolnya cuma sekitar 5 cm lho. Well,Hibari family gitu lho mereka mah EXTREME! (ngikutin Ryohei). Iya tuh, Ririn kehabisan tenaga sama kehabisan darah, bulannya juga bulan sabit, jadi nggak maksimal. Hika-san bisa lihat siapa yang dipanggil Mukuro 'Ptincipessa' di chapter ini. Iya tuh, si Boss yang bunuh ortu Ririn, jadiin Ririn bahan eksperimen dan ngurung Ririn di rumah mini sampe ketemu Dino! Giling aja, giling! (#kompor). Maaf ya chapter ini agak gantung, cerita si Mukuro jadi nggak tuntas.
Yukishiro Seiran : Seiran-san, si Ririn emang udah kena anemia tuh, darahnya banyak banget gitu yang dia keluarin. Itu si Boss yang bunuh ortu Ririn sama jadiin Ririn eksperimen. Pertanyaan antara si Muku sama Hiba akan terjawab nanti, akan anda lihat nanti. Iya, si Hibari sedikit nge'rasa' tapi tetep ga sadar. Maklumlah, namanya juga battle maniac, dia mana sadar sama perasaan kayak gitu.
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Mist Guardian
.
.
.
"Reborn, apa benar Ririn-chan tidak apa-apa?"
Tsuna bertanya pada Reborn sambil memandang langit-langit kamarnya. Setelah pertandingan semalam, mereka sempat panik karena Ririn pingsan tiba-tiba (kecuali Reborn dan Hibari dengan poker face mereka). Reborn langsung menyuruh Dino untuk memanggil Romario dan mereka pergi ke hotel tempat Dino menginap.
Flashback beebrapa jam yang lalu….
Begitu mereka sampai ke hotel, Reborn dengan segera menyuruh Dino membawa Ririn ke ruangan dengan jendela yang besar dimana cahaya bulannya bisa mengenai tempat tidur. Untunglah ada satu kamar yang cocok dengan deskripsi Reborn dan Dino langsung membaringkan Ririn di kamar itu.
Setlah itu Miyuki (sudah kembali menjadi Yuki) mengusir semua orang dari kamar itu dan membersihkan luka di tubuh Ririn dan mengganti baju Ririn dengan baju cadangan yang sudah disiapkan Dino untuk cadangan jika Ririn kangen padanya dan ingin menginap di hotel (yang sayangnya tidak terjadi).
"Woof!"
Miyuki menoleh, melihat Rin yang berdiri di sebelah wajah Ririn dan menjilati majikannya itu dengan wajah cemas. Sejak tadi, Rin bersikap diam seperti boneka sehingga tidak ada pegawai hotel yang menyadari Rin. Miyuki tersenyum dan mengelus kepala Rin pelan, menenangkan anak serigala itu.
"Tenang saja. Bukankah majikanmu itu gadis yang hebat dan tangguh?" Miyuki menatap Rin sambil mengedipkan matanya.
"Woof!" Rin membalas ucapan Miyuki dengan gonggongan tegas, seakan mengiyakan.
Setelah itu Miyuki meninggalkan kamar Ririn dan pergi ke ruang tamu di kamar hotel itu. Hotel itu benar-benar hotel kelas atas karena satu lantai seluruhnya adalah satu kamar yang disewa Dino.
"Yuki, bagaimana keadaan Ririn?" Dino langsung memburu Miyuki dengan pertanyaan begitu Miyuki memasuki ruangan.
Semua duduk di sofa di ruangan itu, kecuali Hibari yang lebih memilih berdiri di pojok ruangan. Anak buah Dino yang ada hanya Romario, berdiri di belakang sofa tempat Dino duduk.
"Luka di tubuhnya tidak banyak, hanya luka di tangannya yang parah. Sepertinya dia kehilangan banyak darah," jelas Miyuki pada Dino.
"Reborn, kenapa kita tidak memanggil Dr. Shamal," tanya Tsuna, mengingat Ririn perempuan dan imut, pasti Shamal dengan senang hati akan merawatnya.
"Shamal sedang di Italia, membantu anggota Shimon yang terluka," jawab Reborn.
"Kalau begitu, kenapa kita tidak membawanya ke rumah sakit?" kali ini Gokudera menimpali dengan pertanyaan.
"Tidak, membawanya ke rumah sakit hanya akan merepotkan," ucap Reborn yang membuat semua yang ada di sana mengerutkan dahi bingung, kecuali Miyuki.
"Apa maksunya?"
"Kalian akan tahu besok. Lagipula, kekuatan penyihir bulan akan lebih cepat pulih jika dia terkena cahaya bulan," ucap Reborn yang membuat beberapa orang bingung.
"Dame-Tsuna dan yang lain, karena besok kalian libur, besok siang kalian semua datang ke rumah," ucap Reborn. "Hibari dan Miyuki, kalian juga," tambah Reborn sambil menatap Hibari dan Miyuki.
"Reborn, bagaimana dengan Ririn?" Dino mengerutkan dahinya bingung.
"Besok, dia pasti sudah sadar dan semua lukanya sudah sembuh. Jangan kamu remehkan kekuatan spesial yang mengallir di darahnya,"
"Reborn, penyihir bulan itu sebenarnya apa?" Tsuna bertanya pada Reborn dengan penasaran.
"Hal itu, akan lebih baik kalau Ririn sendiri yang menjelaskan," ucap Reborn setelah terdiam selama beberapa saat. "baiklah, ayo pulang Dame-Tsuna, kalian juga," ucap Reborn akhirnya sambil melompat ke bahu Tsuna.
"Eh? Bagaimana dengan Ririn-chan?"
"Besok dia akan pulih. Kelihatannya dia kelelahan karena menggunakan kekuatan terlalu banyak. Menyembuhkan luka, membutuhkan energi yang sangat besar, apalagi untuk tubuh sekecil itu,"
"Ririn," Dino menggumam pelan mengingat lukanya yang disembuhkan oleh adiknya itu.
Dari sudut matanya, Reborn mengamati Hibari yang untuk sesaat tatapannya berubah. Reborn sedikit menurunkan topi fedoranya sambil sedikit menyeringai.
'Apa dia sudah mulai merasakannya?' batin Reborn.
Setelah itu, Romario mengantarkan mereka semua ke rumah masing-masing.
Flashback end….
"Tentu saja dia tidak apa-apa. Daripada memikirkan hal itu lebih baik sekarang kamu tidur, Dame-Tsuna. Kelihatannya besok akan menjadi hari yang cukup berat," ucap Reborn sebelum mulai tidur.
Tsuna yang melihat Reborn tertidur dengan cepat hanya sweatdrop dan membenarkan perkataan Reborn. Dia memejamkan matanya berusaha beristirahat.
XXXXX
TING TONG
"Yaa,"
Tsuna berjalan membuka pintu rumahnya.
"Konnichiwa, Boss," Miyuki menyapa Tsuna yang membuka pintu dengan senyum ramah dan lembut khasnya. Di belakangnya, berdiri Hibari dengan Hibird yang bertengger di atas kepalanya.
"E-eh, Miyuki-san, Hibari-san, konnichiwa," Tsuna menjawab dengan canggung dan mempersilahkan Miyuki masuk.
Tsuna membawa mereka ke ruang tengah di mana sudah terdapat Yamamoto, Gokudera, Ryohei, dan Lambo. Nana sedang pergi belanja bersama Bianchi dan I-pin, sedangkan Lambo tadi tertidur dan baru terbangun.
Ryohei sedang sibuk menonton acara tinju di TV, Yamamoto sedang membicarakan sesuatu sambil tertawa yang dibalas dengan galak oleh Gokudera, Lambo sedang memakan cookies.
"Bwahahahaha! Nee-chan yang waktu itu memberikan Lambo permen! Ne, apa kamu punya permen lagi?" Lambo langsung melompat ke hadapan Miyuki setelah memakan cookies terakhirnya dan mengulurkan tangannya.
"Ada, ini," Miyuki membungkukkan badannya dan memberikan sebuah permen kepada Lambo sambil mengelus anak itu.
"Nee-chan, terima kasih," ucap Lambo sambil memakan permen itu, yang dibalas senyuman oleh Miyuki.
"Ah, duduklah dulu, akan kubuatkan minuman," ucap Tsuna sambil berjalan menuju dapur.
"Boss, biar aku bantu," Miyuki menghampiri Tsuna, berniat membantunya.
"Eto, Miyuki-san, tolong jangan panggil aku Boss, panggil saja aku seperti biasa, atau kamu bisa memanggilku Tsuna seperti yang lainnya," ucap Tsuna sambil tersenyum pada Miyuki.
"Kalau begitu, Tsuna-senpai?" Miyuki menatap Tsuna, meminta persetujuan.
"Yah, itu lebih baik," ucap Tsuna.
"Tsuna-senpai juga boleh memanggilku 'Yuki' jika mau,"
"Ah, kalau begitu, Yuki-chan?" Tsuna menggaruk belakang kepalanya canggung sambil tersenyum yang di balas anggukkan kepala oleh Miyuki.
"Kalau begitu, biar kubantu membuatkan minuman,"
"Tidak! Sebagai tangan kanan Juudaime, akulah yang akan membantunya!" tiba-tiba Gokudera berdiri di sebelah Miyuki dan Tsuna, lalu dia berjalan menuju dapur dengan semangat.
"Ah, Gokudera-kun! Yuki-chan, tunggulah di ruang tengah saja, aku akan membantu Gokudera-kun," ucap Tsuna sebelum menyusul Gokudera ke dapur.
Miyuki berjalan ke arah meja dan duduk di hadapan Yamamoto. Hibari sudah duduk bersender pada tiang kayu di teras tepat di sebelah ruangan itu dengan mata terpejam, memilih menghindari berada di ruangan yang sama dengan orang-orang.
"Selamat siang, Yamamoto-senpai, Sasagawa-senpai," Miyuki menyapa Yamamoto dan Ryohei begitu duduk di hadapan Yamamoto.
"Oh, Selamat siang, Miyuki!" Ryohei mengalihkan pandangannya dari TV untuk sesaat dan kembali menonton pertandingan itu.
"Siang, Miyuki-chan," Yamamoto menyapa Miyuki dengan ceria.
Untuk beberapa saat Miyuki dan Yamamoto berbincang-bincang ringan. Tidak lama kemudian, pertandingan tinju yang di tonton Ryohei selesai dan dia bergabung dalam percakapan Miyuki dan Yamamoto. Lambo duduk di pangkuan Miyuki sambil menonton acara TV.
Setelah Tsuna dan Gokudera kembali dari dapur dan meletakkan minuman dan makanan di meja, mereka kembali berbincang dengan tenang untuk sesaat. Perlu di ulangi, untuk sesaat, karena dalam sekejap Lambo yang berusaha mencari permen di rambutnya mengambil granat yang dengan tidak peduli di lempar dan ditangkap Gokudera.
Gokudera segera melemparkan granat itu ke luar jendela dengan spontan dan memarahi Lambo, Yamamoto berusaha menenangkan Gokudera dan Tsuna menyembunyikan Lambo di belakang punggungnya. Ryohei seakan tidak peduli dengan hal itu dan berbicara dengan Miyuki yang mengabaikan mereka sambil menyesap tehnya.
Tiba-tiba mereka merasakan bulu kuduk mereka meremang (kecuali Miyuki yang masih minum teh dengan santainya) karena merasakan aura membunuh. Mereka menatap ke arah teras dan melihat Hibari berdiri dengan tonfa ditangannya sedangkan Hibird sudah pergi entah ke mana.
"Hi-Hibari-san," Tsuna melihat Hibari dengan pandangan ngeri.
"Kalian berisik dan mengganggu tidurku Herbivore, kamikorosu," ucap Hibari sambil menatap tajam mereka semua.
Lambo sudah terdiam, ketakutan dengan air mata menggenang bersembunyi di belakang Tsuna yang tidak kalah takut dengan Lambo. Yamamoto memberikan tawa cangung, berusaha menenangkan Hibari, Gokudera bersikap menantang dan Ryohei seperti biasa, tidak merasakan ke kesalan Hibari.
"Kyo-nii, kita bertamu ke rumah orang bukan untuk membuat kerusuhan di sini. Tolong simpan senjatamu," ucap Miyuki berdiri dari duduknya sambil menatap Hibari.
"Yuki, aku bosan menunggu. Ayo kita bertarung," kali ini Hibari mengarahkan senjatanya ke Miyuki.
"E-eh? Semalam kita baru bertarung, lagipula aku tidak bertarung. Aku ini menghindari kekerasan!" ucap Miyuki tegas.
"Kalau begitu aku akan menyerangmu sampai kamu bertarung denganku," ucap Hibari.
Miyuki tersenyum dengan manis mendengar perkataan Hibari, sangat manis yang anehnya terasa menyeramkan, membuat Tsuna, Yamamoto, Gokudera, Ryohei dan Lambo merasakan bulu kuduk mereka berdiri, padahal Miyuki tidak melakukan apapun.
Saat itu, Miyuki terasa lebih menyeramkan dibandingkan Hibari yang berdiri di hadapannya..
"Kalau Kyo-nii masih memaksa," Miyuki berbicara dengan nada lembutnya yang biasa, masih tersenyum. "kubongkar tonfamu," lanjutnya dengan suara manis yang terdengar mengancam sambil mengangkat sebelah tangannya yang entah sejak kapan sudah memegang obeng, membuat semua yang mendengarnya merinding.
"Hmp," Hibari mengerutkan dahinya tidak puas dan menurunkan tonfanya.
'He-hebat! Dia bisa menjinakkan Hibari-san!' batin mereka
"Hhh, tapi Dino-san dan Ririn-chan memang lama. Apa Ririn-chan baik-baik saja?" Miyuki menghela napas sambil menatap jam yang tergantung di atas TV.
"Datang~ datang~ Ririn! Rin!"
Tiba-tiba Hibird masuk ke dalam ruangan sambil berkicau.
TING TONG
"Mungkin itu mereka," Tsuna segera berjalan untuk membuka pintu.
"Yo, Tsuna,"
"Tsuna-nii,"
"Woof!"
"Selamat siang,"
Tsuna tersenyum kepada Dino, Ririn, Rin dan Romario yang berdiri di depan pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Suasana kembali tenang karena semua kembali duduk di tempat masing-masing (Hibari kembali ke teras) dan Tsuna telah memberikan minum untuk tamu yang baru datang. Hibird kali ini hinggap di kepala Ririn dan Rin bermain dengan Lambo.
"Haneuma, lama sekali kau! Beraninya membuat Juudaime menunggu!" Gokudera memarahi Dino yang menggaruk-garukkan kepalanya canggung.
"Karena Romario tadi pagi pergi untuk mengurus beberpa pekerjaan dan tidak ada satu pun anak buah Kakak, Kakak melakukan kecerobohan dari mengacaukan sarapannya, menumpahkan satu teko air pada Enzo, menjatuhkan barang, tersandung, membentur…," Ririn berkata dengan datar.
"Wa! I-itu hanya karena aku ceroboh, bukan karena anak buahku tidak ada," Dino berusaha memberi alasan yang hanya ditatap datar oleh orang-orang di sana (Miyuki dan Romario tersenyum geli melihat reaksi Dino).
"A-ah, sudahlah. Ririn-chan, kelihatannya lukamu sudah sembuh semua, kecuali tanganmu," Tsuna mengalihkan topik pembicaraan dan memperhatikan Ririn yang terlihat tanpa luka sedikitpun, kecuali telapak tangannya yang masih di perban.
"Tentu saja, aku sudah bilang kalau Ririn itu memiliki kekuatan spesial kan?"
Semua mata memandang ke atas TV. Reborn sedang duduk sambil meminum kopi dengan tenang.
"Reborn!"
"Walau kelihatannya kekuatanmu belum pulih sepenuhnya, juga lukamu," lanjut Reborn.
"Karena, tadi malam bukan bulan purnama," Ririn hanya menjawab dengan datar.
"Tunggu, sebelumnya bisakah kalian menceritakan semuanya dulu? Tentang penyihir bulan, Flame of Night Miyuki dan Flame of Moon Ririn," Dino menyela percakapan mereka.
"Untuk hal itu, kamulah yang pantas menjelaskannya, Ririn," ucap Reborn yang dibalas angukkan kepala Ririn.
"Pertama-tama, Ririn akan menceritakan tentang penyihir bulan," ucap Ririn.
"Penyihir," gumam Gokudera dengan wajah berbinar.
Entah sejak kapan di tangan Gokudera sudah ada notes, rambutnya sudah dikuncir ke belakang dan dia memakai kacamata. Tsuna hanya sweatdrop melihat reaksi tangan kanannya yang seorang occult.
"Ririn adalah penyihir bulan satu-satunya yang ada di dunia ini,"
"Kenapa satu-satunya?" Tsuna bertanya dengan penasaran.
"Karena kekuatan 'kami'hanya bisa diwariskan pada seorang keturunan perempuan. Mama mewariskan darah penyihir ini dari neneknya kakek, atau nenek buyut. Sebelum Mama, semua keturunan nenek buyut adalah laki-laki sehingga tidak ada yang memiliki kekuatan ini. Tapi Kakek dan Nenek meninggal waktu Mama masih kecil dan Mama mengetahui semua tentang penyihir bulan dari buku-buku peninggalan turun-temurun," jelas Ririn.
"Memangnya selain kamu tidak ada keturunan penyihir bulan yang lain?" Gokudera bertanya dengan serius sambil memegang notesnya.
"Tidak. Di akhir abad ke 15 terjadi perburuan penyihir besar-besaran. Mungkin beberapa penyihir masih hidup, tetapi menurut yang Ririn ingat, Mama pernah bilang kalau penyihir bulan yang selalu hidup berkelompok semuanya di bunuh dan hanya Nenek moyang yang bisa melarikan diri ke sebuah Negara yang saat itu sedang dijajah oleh Eropa. Untunglah penduduk Negara itu juga memiliki ciri khas rambut berwarna hitam, saat itu Nenek moyang berhasil beradaptasi dan tinggal di sana,"
"Di sana?"
"Indonesia,"
Ryohei, Yamamoto dan Tsuna hanya bisa menerka di manakah Indonesia, berhubung nilai geografi mereka di bawah rata-rata.
"Woof!" Rin menggoyangkan ekornya dan berjalan ke arah Ririn sambil membawa granat yang diberikan oleh Lambo.
"Waaa!"
"Sapi Bodoh!"
"Geh!"
Tsuna, Gokudera dan Dino sempat panik melihat granat itu, tetapi Ririn mengambilnya dari Rin dan melemparkannya ke luar jendela dengan tenang sehingga meledak di langit, lalu memanggil Lambo untuk duduk di sebelahnya sambil memberikannya cokelat. Rin kembali duduk di pengkuannya seperti biasa.
"Waah! Terima kasih, Ririn-nee!" ucap Lambo senang sambil duduk dengan tenang di sebelah Ririn.
DUK
DUK
DUK
"Seharusnya kalian bertiga belajar dari Ririn untuk bersikap tenang. Dame-Tsuna, Dino, khususnya kalian," ucap Reborn sambil memegang Leon yang berubah menjadi pistol dengan tinju di ujungnya yang tersambung dengan per. "lanjutkan," ucap Reborn pada Ririn tanpa mempedulikan ketiga orang yang memegang kepalanya kesakitan.
"Woof!"
Sebelum Ririn melanjutkan ceritanya, Rin menggonggong pada Miyuki.
"Eh? Ada apa Rin?" Miyuki menatap Ririn yang menggonggong padanya dengan bingung.
"Woof!" Rin berjalan kepada kantung baju Miyuki dan menepuk-nepuknya.
"Eh? Kamu mau main dengan Natt?" Miyuki mengeluarkan hair clip berbentuk kelelawar dengan bingung.
Kalau dia mengeluarkan Natt, bisa hancur rumah Tsuna.
"Woof!" Rin menggoyangkan ekornya dan mengambil hair clip itu lalu membawanya pada Rin. "wof, woof, wof!" ucap Rin pada Ririn.
"Un," Ririn mengangukkan kepalanya dan mengeluarkan cerminnya.
"Eh? Apa? Aku tidak mengerti?" Tsuna menatap Ririn dengan bingung.
Ririn mengambil pisau dari tasnya dan membuat Dino dan yang lain panik.
"Tunggu, kamu mau apa?" Dino yang duduk di sebelahnya takut Ririn melukai tangannya lagi.
"Mengeluarkan Natt tanpa membuat rumah Tsuna-nii hancur," jawabnya datar.
Ririn menggores jari telunjuknya sedikit dan membuat simbol bintang, lalu memasukkan hair clip itu ke dalam cermin. Dalam sekejap keluar kelelawar kecil seukuran Hibird dari dalam cermin.
"Kiii~"
Kelelawar itu berputar di atas kepala Ririn seakan mengucapkan terima kasih. Setelah itu Rin, Natt dan Hibird keluar dari teras dan bermain di halaman.
"Benar juga. Aku tidak mengerti saat kamu mengatakan kalau kamu menciptakan Natt tadi malam," Yamamoto seakan teringat sesuatu memberikan pertanyaan pada Ririn.
"Bukan menciptakan Natt, tapi menciptakan Weapon. Pada dasarnya, wujud dari Animal Weapon adalah binatang yang sudah ada. Ririn hanya mencocokkan Animal Weapon dan jenis Flame Nee-chan. Saat Reborn-jii-chan meminta Paman untuk membuatkan Animal Weapon, Ririn bersama dengan Paman dan memaksa Paman agar Ririn yang membuatkannya. Saat itu, Ririn meminta sample darah Nee-chan untuk mengetahui Flame milik Nee-chan,"
"Dan ternyata itu adalah Flame of Night," gumam Tsuna.
"Um. Ada Cloud Flame di darah Nee-chan, tetapi Flame of Night lebih kuat, makanya Ririn membuat Weapon berdasarkan Flame of Night dan memanggil Natt untuk menjadi Animal Weapon Nee-chan,"
"Karena rasa benciku pada diriku yang lemah dan tidak bisa apa-apa. Karena perasaan negative milikku, lebih besar daripada Cloud Flame di darahku," ucap Miyuki menimpali perkataan Ririn.
"Tunggu! Kelelawar mana yang besarnya segitu?" Gokudera menyela perkataan Ririn, merasa hal yang mengganjal.
"Ahool," jawab Ririn dengan satu kata yang membuat Gokudera terkejut.
"Ahool?" Tsuna mengernyitkan dahinya bingung.
"Ahool adalah kelelawar monster yang ada pada mitos sebuah negara di Asia, tepatnya Indonesia dan dikatakan zaman dulu tinggal di pulau Jawa," jelas Gokudera pada Bossnya.
"Memangnya monster dalam mitologi bisa dijadikan Animal Weapon?" Dino mengerutkan dahinya bingung yang hanya di balas Ririn dengan memiringkan kepalanya bingung.
"Bisa," kali ini semua perhatian berpindah pada Reborn. "kekuatan spesial yang dimiliki oleh penyihir bulan adalah memanggil hewan seperti apapun bahkan, hewan mitologi dan menciptakan hewan baru yang tidak ada di bumi sebelumnya. Pada kenyataannya sebagian besar hewan mitologi yang ada adalah hewan yang diciptakan oleh penyihir dan mereka kehilangan majikannya sehingga menjadi buas," jelas Rebron.
"Um. Semua binatang yang mereka buat adalah familiar mereka,"
"Kalau begitu, Rin juga?" Dino melihat ke luar, dimana Rin sedang bermain dengan Hibird, Natt, Roll (entah sejak kapan), dan… Enzo. "Eh? Enzo?" Dino meraba saku bajunya dengan bingung.
"Tadi Rin menarik Enzo yang keluar dari saku baju Kakak dan membawanya main," ucap Ririn datar.
"Kalau begitu, Rin adalah Animal Weapon dari Ririn-chan?" Tsuna bertanya dengan bingung, mengingat Rin selalu di pelukan Ririn. Bukankah Animal Weapon seharusnya menjadi suatu benda tertentu?
"Bukan, Rin adalah familiar Ririn. Sama seperti Leon," ucap Ririn yang membuat semua mata tertuju pada Reborn.
"Eh? Kalau begitu Reborn juga penyihir?" Tsuna memandang Reborn dengan kaget.
"Bukan. Leon, Keiman, Cosmo, Fantasma, Lichi, Falco dan Oodako. Semua Animal milik mantan arcobaleno adalah familiar Mama," jelas Ririn.
"Aku sudah mengatakan sebelumnya, mama Ririn, Amel, memberikan binatang-binatang pendamping saat kami menjadi arcobaleno sebagai bukti pertemanan, juga untuk membantu kami yang masih menyesuaikan diri dengan tubuh yang menjadi bayi," jelas Reborn sambil mengelus Leon.
'Ya, saat terakhir kami bertemu,' batin Reborn mengingat pertemuan terakhir mereka. Dia sedikit menurunkan topi fedoranya.
"Ririn-chan, sebenarnya cermin yang kamu bawa itu apa?" Tsuna menatap cermin yang masih dipegang Ririn.
"Tidak tahu. Ririn hanya tahu kalau cermin ini warisan untuk penyihir bulan dan digunakan untuk menggunakan kekuatan, juga menyimpan energi. Mama memberikan ini dan sebuah leontin sesaat sebelum Mama terbunuh," ucap Ririn dengan datar, tidak menunjukkan perubahan emosi sambil melepaskan sebuah leontin berwarna silver dari lehernya.
Reborn melompat ke meja dan mengambil leontin di tangan Ririn. Semua yang ada di meja itu kecuali Dino, Romario, dan Miyuki yang sudah pernah melihatnya, mendekat ke arah Reborn untuk melihat foto di dalamnya.
"Eh, ini foto orang tua Ririn-chan?" Tsuna menatap foto itu dengan seksama.
Foto keluarga itu terlihat sangat gembira walaupun pria yang berdiri di belakang seorang perempuan dan anak yang dipangku perempuan itu berwajah datar. Kalau diperhatikan, perempuan itu sangat mirip dengan Ririn, hanya saja wajah perempuan itu lebih tegas dan dewasa. Perempuan itu juga tersenyum lembut dan gembira, sesuatu yang sepertinya tidak akan dilakukan oleh gadis berwajah datar di hadapan mereka. Sangat manis dan cantik.
"Cantiknya, mirip sekali dengan Ririn-chan,"
"Edrich, Amel," Reborn menggumam pelan. Dia lalu mengembalikan leontin itu pada Ririn. "Ririn, apa kamu ingat orang yang membunuh kedua orang tuamu?" Reborn menatap Ririn dengan serius.
Mendengar pertanyaan Reborn, semua orang di ruangan itu langsung menatap Ririn yang menundukkan kepalanya. Suasana menjadi muram seketika.
"Rir-,"
BRAK
"Kyo-nii?"
Suasana muram itu hanya bertahan untuk sesaat karena tiba-tiba Hibari berdiri dan mengeluarkan tonfanya. Roll sudah kembali ke gelang yang dipakai Hibari.
"Nanas sialan, beraninya memasuki wilayahku," desis Hibari sambil berjalan memasuki ruangan itu, menuju pintu depan.
"Eh, Kyo-nii, mau kemana?" Miyuki memanggil Hibari yang tidak digubris karena Hibari sudah keluar dari rumah itu.
"Nanas? Apa Mukuro-san datang ke Namimori lagi?" Tsuna bergumam pelan.
"Dia datang," Ririn bergumam, lalu berdiri. Rin berlari ke arah Ririn dan melompat ke pelukannya.
"Tunggu, kamu mau ke mana?" Dino melihat adiknya dengan bingung karena tiba-tiba berdiri.
"'Dia' selalu mencari Ririn. Sudah waktunya Ririn bertemu dengannya dan membayar hutang yang Ririn punya pada 'Dia'," ucap Ririn sambil berjalan menuju pintu keluar.
Natt masuk ke dalam rumah membawa Enzo. Dia meletakkn Enzo di bahu Dino dan menjadi hair clip di rambut Miyuki.
"'Dia'?"
Semua memandang satu sama lain dengan tatapan bingung. Reborn menurunkan topinya.
"Kalian, ikuti Ririn," perintah Reborn sambil melompat dari atas TV dan duduk di bahu Yamamoto.
"Oh, apa sekarang kita akan bermain kejar-kejaran Dik?" Yamamoto berdiri, diikuti semuanya dan langsung menuju pintu.
"Bagaimana dengan Lambo?" Tsuna menunjuk Lambo yang sedang tidur.
"Tinggalkan saja si Bodoh itu," ucap Reborn tidak peduli.
Mereka segera keluar dari rumah dan mengejar Ririn yang belum jauh dari sana. Ririn tidak berlari, hanya berjalan.
"Ririn," Dino memanggil Ririn tetapi tidak digubris oleh Ririn.
Ririn berhenti di sebuah persimpangan dan melihat sekelilingnya lalu mengambil salah satu jalur. Ririn sama sekali tidak menggubris pertanyaan yang dilontarkan padanya dan terus berjalan hingga mereka sampai di sekolah mereka.
"Sekolah?"
XXXXXX
TRAK
TRANG
DUAK
"Nanas sialan, beraninya kamu masuk ke wilayahku," Hibari mendesis sambil menyerang Mukuro.
"Kufufufu, Kyoya-kun, senang melihat wajah kesalmu, tapi sayang sekali hari ini aku datang ke sini tidak untuk berurusan denganmu," ucap Mukuro sambil melawan Hibari dengan tridentnya.
"Hahaha, rasakan, byon!"
"Mou~ aku tidak mengerti kenapa kita harus ke sini,"
"Hmp,"
"Mukuro-sama,"
Begitu Tsuna dan yang lain memasuki halaman sekolah, mereka melihat Mukuro dan Hibari sedang bertarung. Rin segera melompat dari pelukan Ririn begitu Ririn mendekati pertarungan itu. Di salah satu sisi terlihat Chrome, Chikusa, Ken dan M.M sedang , menonton pertarungan itu. Mukuro menghentikan serangannya begitu merasakan keberadaan yang dicarinya.
"Kufufu, sudah datang rupanya. Kyoya-kun, sepertinya pertandingan kali ini hanya sampai di sini saja," ucap Mukuro sambil melompat ke arah kelompoknya dan berdiri di hadapan Ririn dan yang lain.
"Mukuro," Ririn menggumamkan nama Mukuro sambil menatap matanya yang berbeda warna.
Mukuro memandang Ririn dan melihat leontin yang tergantung di lehernya.
"Akhirnya aku menemukanmu," Mukuro berjalan ke arah Ririn, membuat Tsuna dan yang lainnya waspada. "Principessa," ucap Mukuro, bersamaan dengan dia berlutut dan menaruh sebelah tangannya di depan dada dan satu lagi mencium tangan Ririn yang terbalut perban, membuat semua orang tanpa terkecuali terkejut dengan sikapnya (termasuk Reborn, Miyuki dan Hibari walau memasang poker face).
"Mu-kun," Ririn menatap Mukuro sedih.
To be continue…
XXXXX
Konnichiwa: selamat siang
Principessa: putri
Happy New Year Readers!
Minna, maaf! Sacchan harusnya update semalem tapi selesai nonton kembang api di Jakarta Sacchan langsung tepar sampe rumah -_-"
Wah, entah kenapa jadi MukuRirin di sini endingnya. Btw karena Sacchan bakalan lanjutin cerita ini agak lama, maaf kalo bikin penasaran, tapi untuk yang selanjutnya di usahakan nggak nunggu libur karena kayaknya lama banget.
R&R please~
