Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Yukishiro Seiran : Hehehe, iya Seiran-san, begitulah ceritanya kurang lebih. Untuk alasan kenapa Ririn menatap Mukuro sedih, dapat dilihat di chapter ini.

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Estraneo Famiglia

.

.

.

"Akhirnya aku menemukanmu, Putri. Bertahun-tahun aku mencarimu. Aku belum mengucapkan terima kasih saat kau menyelamatkan nyawaku,"

Ucapan Mukuro membuat semua terkejut. Apa hubungan mereka?

"Tidak!" Ririn menarik tangannya dari genggaman Mukuro. "Kenapa Mu-kun yang berterima kasih? Seharusnya Ririn yang berterima kasih karena kamu mau memenuhi permintaan Ririn," Ririn menundukkan kepalanya.

"Tunggu, Mukuro-san, kenapa kamu bisa mengenal Ririn-chan?" Tsuna yang penasaran akhirnya bertanya pada Mist Guardiannya.

"Kufufu, kalian mau tahu?" Mukuro menatap mereka semua sambil tersenyum misterius.

XXXXX

Flashback Sembilan tahun yang lalu, Estraneo Famiglia…

Saat itu, percobaan di Estraneo Famiglia semakin menjadi-jadi karena mereka menginginkan sebuah hasil eksperimen yang bisa mengangkat nama Famiglia mereka walaupun yang mereka lakukan adalah eksperimen terlarang karena menjadikan manusia sebagai kelinci percobaan, bahkan anak-anak.

Seorang anak laki-laki berambut biru dengan model rambut menyerupai nanas duduk di salah satu ruang eksperimen yang sangat besar itu. Dia hanya diam mengamati anak-anak lain sedang dijadikan bahan eksperimen dengan kedua mata birunya.

Tiba-tiba pintu ruang eksperimen terbuka. Seorang pria muda berambut cokelat dan berpakaian rapih masuk ke ruangan itu membawa seorang anak perempuan kecil dengan baju terusan putih.

Untuk sesaat pandangan si anak laki-laki dan anak perempuan itu bertemu. Yang satu memancarkan kekosongan dan yang satu memancarkan kemisteriusan. Hanya itu, sama sekali tidak memancarkan kesan mendalam untuk mereka.

Setelah itu, si anak laki-laki sering melihat anak perempuan di sekitar laboratorium. Dia di berikan ruangan khusus walaupun dia juga seorang kelinci peprcobaan. Anak laki-laki itu sering melihat di salah satu ruang eksperimen khusus, bagaimana anak perempuan itu dijadikan bahan eksperimen.

Satu-satunya yang membuat anak laki-laki itu memperhatikan si anak perempuan adalah karena tidak ada emosi yang ditunjukkan anak itu walau tubuhnya dijadikan percobaan. Walaupun para profesor itu mengambil darahnya, memasukkan selang dan kabel ke tubuhnya, menyetrumnya dengan listrik, bahkan percobaan yang tidak pantas dilakukan pada anak, yang bahkan, terlihat belum mencapai lima tahun itu.

Anak laki-laki itu melihat anak perempuan itu tidak menangis, tidak berteriak, dan tidak terlihat ketakutan, tidak seperti anak lainnya. Walau begitu, dia tidak terlalu peduli pada anak perempuan itu. Baginya, mengamati anak itu hanya menghabiskan waktunya sampai tiba saatnya dia akan menghancurkan Famiglia yang menjadikannya kelinci percobaan.

XXXXX

"AAAARGH!"

Suara kesakitan anak-anak yang dijadikan eksperimen memenuhi ruangan itu. Seperti biasa, si anak laki-laki hanya diam di sudut ruangan sambil memperhatikan sekitarnya. Para profesor itu baru saja melakukan eksperimen padanya.

Pintu ruang eksperimen terbuka lagi. Selama beberapa bulan terakhir, pintu itu selalu terbuka di jam yang sama dan mereka akan masuk ke dalam ruangan. Seorang pria muda berambut cokelat dan anak perempuan kecil bagai boneka.

Tapi, hari itu merupakan hari yang berbeda bagi si anak laki-laki dan akan mengubah hidupnya. Hari itu, si anak perempuan berjalan melewatinya seperti biasa dan seperti biasa si anak perempuan akan ditinggal oleh si pria di dekat sebuah meja berisi dokumen, sementara si pria berbicara dengan profesor di sebuah ruangan kedap suara yang transparant.

Cring

Di antara teriakan anak-anak, suara benda yang jatuh itu sama sekali tidak terdengar, tapi anak laki-laki itu melihatnya. Si anak laki-laki melihat benda yang di jatuhkan si anak perempuan saat lewat di hadapannya. Anak laki-laki itu memungut benda itu dan memperhatikannya. Sebuah leontin berwarna silver. Penasaran, si anak laki-laki membuka leontin itu dan melihat foto keluarga di sana.

Anak laki-laki itu menutup kembali leontinnya dan berjalan menghampiri anak perempuan yang berdiri seorang diri di sebelah meja penuh dokumen.

"Maaf, kamu menjatuhkan ini," anak laki-laki itu berusaha menarik perhatian si perempuan sambil mengulurkan tangannya.

Anak perempuan itu membalikkan badannya dan terlihat terkejut melihat leontinnya di tangan si anak laki-laki.

"Terima kasih. Terima kasih banyak. Ini benda yang sangat berharga untukku," ucap anak perempuan itu dengan suaranya yang kecil.

Dia segera mengambil leontin itu dan menggenggamnya erat. Untuk kedua kalinya mata mereka bertemu. Mata biru yang memiliki ambisi besar walau di dalam keadaan seperti itu dan mata silver yang untuk pertama kalinya memancarkan emosi. Hanya sesaat dan si anak laki-laki hanya menganggukkan kepalanya dan kembali duduk di tempatnya semula, meninggalkan si anak perempuan.

XXXXX

Tidak lama setelah itu, si pria berambut cokelat dan anak perempuan itu datang lagi ke ruang eksperimen itu. Si anak perempuan kembali ditinggalkan di sebelah sebuah meja penuh dokumen.

Namun, satu hal yang berbeda. Setelah si pria masuk ke dalam ruangan bersama salah seorang profesor, anak perempuan itu berjalan menghampiri anak laki-laki yang duduk di pojok ruangan, anak laki-laki yang mengembalikan leontinnya. Anak laki-laki itu mengangkat kepalanya dan menatap anak perempuan di depannya.

"Tanda terima kasih karena kamu mengembalikan benda berharga milikku," anak perempuan itu memberikan sebuah botol kecil dengan cairan berwarna silver dan sedikit kemerahan.

"Apa ini?" anak laki-laki itu memandang botol itu dengan dahi mengernyit.

"Karena kamu menunjukkan sesuatu yang tidak aku miliki dari pancaran matamu, aku berikan itu untukmu," anak perempuan itu berkata pada laki-laki itu.

"Sesuatu?"

"Keinginan untuk hidup,"

Untuk yang ketiga kalinya kedua mata itu kembali bertemu. Si anak laki-laki menatap mata kosong anak perempuan yang jauh lebih muda darinya itu. Anak perempuan itu terlihat lebih dewasa dari usianya begitu anak laki-laki itu mendengar gaya bicaranya, begitu tenang.

"Beberapa hari lagi, mereka akan mengadakan eksperimen denganmu dan mengoperasimu. Sebelum eksperimen, minumlah cairan di botol itu, dan kamu akan berhasil menjalani operasi itu dan memiliki kekuatan yang hebat," jelas anak perempuan itu.

"Dari mana kamu tahu hal itu?"

Anak perempuan itu tidak menjawab pertanyaan si anak laki-laki dan hanya meletakkan jarinya di depan bibir.

"Kalau kamu bisa keluar dari sini dan kita bertemu lagi, aku ingin tahu namamu,"

"Mukuro. Rokudo Mukuro. Kalau aku keluar dari sini, itulah namaku," ucap si anak laki-laki sambil tersenyum misterius.

"Kalau begitu aku akan memanggilmu Mu-kun. Lalu, aku mau minta tolong satu hal padamu,"

"Apa?"

"Itu…,"

XXXXX

"AAAARRRGHHH!"

"WAAAAA!"

JLEB

DUAK

ZRAAK

"Kufufufu, seperti yang kukira, dunia ini memang tidak pantas. Ayo kita menghapusnya," anak laki-laki itu membuka perban di sebelah matanya dan menatap dua anak di hadapannya. "mau ikut bersamaku?" anak laki-laki itu tersenyum pada dua anak itu.

Bersama dua anak itu, dia menghancurkan seluruh eksperimen dan laboratorium, juga merusak semua dokumen. Si anak laki-laki yang sekarang mata kanannya telah berubah menjadi merah dan memiliki kanji bertuliskan 'enam' berusaha mencari si anak perempuan yang memberikannya obat.

Anak perempuan yang membuatnya bisa mendapatkan kebebasan dan membalas dendam terhadap mafia yang dibencinya. Tapi dia tidak bisa menemukannya. Dia tidak bisa menemukan gadis itu.

Dia bahkan tidak sempat menanyakan nama gadis itu karena, begitu si pria berambut cokelat sudah selesai berbicara dengan profesor dan si anak perempuan dengan segera kembali ke tempatnya semula.

XXXXX

"Ririn-chan…pernah menjadi eksperimen di Estraneo Famiglia?" Miyuki menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

Semua yang ada di sana menatap Ririn dengan ekspresi terkejut, tidak menyangka gadis kecil itu pernah mengalami kejadian menyedihkan seperti itu. Reborn hanya menurunkan topi fedoranya dan Hibari yang entah sejak kapan sudah ada di salah satu pohon mengamati mereka, menatap Mukuro dan Ririn dengan tajam.

"Aku sudah menghancurkan semua eksperimen, laboratorium dan seluruh dokumen seprti permintaanmu. Tapi, aku tidak bisa menemukanmu," Mukuro menatap Ririn dengan wajah sedih.

"Mu-kun…," Ririn menundukkan kepalanya.

"Aku belum berterima kasih padamu karena memberikanku kekuatan dan kebebasan,"

Mukuro menatap Ririn dengan tatapan yang tulus, tetapi Ririn membalas tatapan Mukuro dengan sedih dan ragu. Ririn mengangkat tangannya dan menyentuh mata Mukuro yang berwarna merah. Sepasang mata tajam menatap hal itu dengan tatapan tidak suka dan seorang gadis menatap hal itu dengan menahan rasa sakit di dadanya.

"Mu-kun tidak membenci Ririn? Mu-kun seharusnya membenci Ririn. Karena Ririn memberikanmu obat itu, kamu jadi mengalami banyak kejadian yang buruk. Mu-kun jadi buronan, ditangkap Vindice, dikurung…," Ririn menatap Mukuro dengan tatapan sedih dan bersalah.

"Kufufu, kalau saat itu kamu tidak memberikanku obat itu, mungkin aku malah akan mati," Mukuro tersenyum kepada Ririn. "aku berterima kasih karena kamu memberikanku kesempatan untuk bebas dan aku akan melakukan apapun untuk membayar hutangku karena, aku tidak bisa menolongmu saat itu. Lagipula, apa yang kualami sama sekali bukan apa-apa dibandingkan denganmu kan?," tambah Mukuro.

"Mu-kun," Ririn menatap Mukuro dengan mata yang sedikit melebar. "terima kasih," Ririn memeluk Mukuro yang masih berlutut di hadapannya dengan erat.

"Seharusnya aku yang harusnya bilang begitu," Mukuro membalas pelukan Ririn. "terima kasih sudah memberilu kebebasan dan mempertemukanku dengannya," ucap Mukuro.

"Kamu..tahu?" Ririn melepas pelukannya dari Mukuro dan memandang Mukuro.

"Kufufu, tentu saja," Mukuro berdiri dan berjalan ke arah Chrome. "kamu memberiku kesempatan untuk bertemu dengannya," ucap Mukuro sambil memegang bahu Chrome dan mendorongnya pelan ke arah Ririn.

"Mu-Mukuro-sama," Chrome menatap Ririn.

"Mu-kun salah, Ririn hanya memberikan 'jalan'. Mu-kun yang menemukan dan dia yang menuntun," jawab Ririn sambil berjalan menuju Chrome. "perkenalkan, nama Ririn, Karina. Tapi panggil Ririn saja," ucap Ririn sambil menatap Chrome.

"Sa-saya Chrome, Chrome Dokuro," Chorme sedikit membungkukkan badannya.

JIIII~

Tsuna, Dino dan yang lain sweatdrop. Sebentar lagi pasti…

"Eh?"

Chrome mengerjapkan matanya kaget ketika Ririn memeluknya.

"Chrome-chan, maaf, Ririn-chan suka memeluk orang yang baru dikenalnya," Tsuna memberikan penjelasan pada Chrome yang terlihat bingung.

"Bau cokelat," gumam Ririn sambil melepaskan pelukanya dari Chrome.

"A-ah, tadi makan siang kami," Chrome menjawab dengan gugup.

"Eh? Chrome-chan, kalian makan dengan benar kan?" Tsuna mulai khawatir mendengar ucapan salah satu Mist Guardiannya.

"Tenang saja Boss, kami makan dengan benar," Chrome berusaha menenangkan Bossnya dengan senyumnya.

"Apa? Aku M.M," kata M.M judes pada Ririn yang memperhatikannya.

JIII~

Ririn hanya memperhatikan M.M lalu mengalihkan pandangannya pada Ken dan Chikusa.

"Eh? Ririn-chan tidak memeluk M.M?" Tsuna bertanya pada Dino sambil menunjuk Ririn.

"Terkadang Ririn memang pemilih. Tapi aku tidak tahu apa yang menjadi dasar Ririn memeluk orang atau tidak," Dino mengangkat bahunya bingung.

"Woof!" Rin tiba-tiba berdiri di sebelah Ken sambil menggoyangkan ekornya.

"Ada apa, byon?" Ken memperhatikan Rin yang menatapnya sambil menggoyangkan ekornya.

"Werewolf?" Ririn memiringkan kepalanya sambil menatap Ken.

"Bukan,byon!" Ken langsung membantah tuduhan Ririn dengan keras.

"Kenpa dia selalu menganggap orang lain sebagai monster?" Dino hanya bisa sweatdrop mengingat sebelumnya dia menganggap Hibari sebagai Vampire dan pernah menganggap Daisy sebagai zombie.

"Kufufu, mereka adalah orang yang keluar bersamaku dari Estraneo," Mukuro menjelaskan sambil mendekat ke arah Ririn.

"Kakimoto Chikusa," Chikusa memperkenalkan dirinya dengan cuek.

"Aku Ken Joshima, byon!," ucap Ken semangat.

JIII~

Ririn memandang kedua orang di hadapannya. Sebelum dia memeluk salah satu dari mereka, sebuah tangan menahannya.

"Putri, tidak perlu memeluk mereka. Nanti kebodohan mereka tertular padamu," ucap Mukuro.

"Aku tidak bodoh, byon!" Ken membantah dengan kesal.

"Fuh, jangan samakan aku dengannya," Chikusa menghela napas sambil membenarkan kacamatanya.

"Mu-kun, Ririn tidak suka dipanggil 'Putri' lagipula, Mu-kun punya seseorang yang seharusnya dianggap putri kan?" Ririn lalu memandang Chrome yang terlihat murung dan terkejut.

"Kufufu, Chrome-ku bukan seorang putri," ucap Mukuro sambil berjalan ke arah Chrome. "dia adalah 'ratu' ku," ucap Mukuro sambil mencium tangan Chrome, membuat Chrome salah tingkah.

"Cih," M.M mendecih iri.

"Ah~ kelihatannya kamu sudah membongkar identitasmu?" Mukuro mengalihkan pandangannya dan menatap Miyuki yang berdiri dengan tenang.

"Ya, perkenalkan, Mist Guardian, aku adalah Pipistrello Nero," Miyuki tersenyum kepada Mukuro sambil membungkukkan badannya.

"Geh, gadis ini?" M.M memandang Miyuki tidak percaya.

"Miyuki," Chrome memandang Miyuki kaget.

Ken dan Chikusa terlihat tidak peduli. Mukuro berjalan ke arah Miyuki ketika sesuatu melayang ke arahnya.

TRAK

"Menjauh dari adikku, Nanas mesum," tiba-tiba Hibari sudah turun dari pohon dan berjalan ke arah mereka sambil menangkap tonfanya yang terpental ke arahnya.

"Ara, Kyoya-kun, sepertinya kamu harus menyembuhkan sister complexmu?" Mukuro tersenyum ke arah Hibari yang menghampiri mereka sambil mengeluarkan tridentnya.

Dalam hitungan detik, kedua orang itu kembali bertarung.

"Tsuna-nii, dua Guardian-mu sedang bertarurng," Ririn menatap Tsuna dengan datar sambil menunjuk kedua orang yang saling menyerang.

"Ah…ya…biarkan mereka, itu sudah biasa," Tsuna menghela napas lelah sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, bingung mau menghentikan mereka. Untunglah hari libur, jadi tidak ada orang di sekolah.

Reborn diam menatap Ririn. Untuk sesaat Ririn dan Reborn saling berpandangan sebelum Ririn mengalihkan pandangannya.

'Reaksinya tadi…sepertinya aku harus menunda pertanyaan ini,' Reborn menurunkan fedoranya untuk menyembunyikan ekspresinya.

XXXXX

Hari menjelang malam. Hibari sudah pergi begitu Kusakabe menelponnya, begitu juga M.M, Ken, dan Chikusa, mereka pergi karena bosan. Yamamoto pergi untuk membantu ayahnya menutup toko dan Ryohei pulang ketika Kyoko meneleponnya. Gokudera sudah pulang karena Bianchi tadi lewat di hadapannya sehingga dia pingsan dan Bianchi berbaik hati membawanya pulang dan merawatnya (walau efek yang terjadi sebaliknya). Romario pulang untuk mengurus beberapa berkas yang harus di urus karena tinggal beberapa hari lagi mereka harus kembali ke Italia.

Sehingga yang tersisa di taman (Hibari dan Mukuro bertarung sambil berlari hingga mereka berakhir di taman) adalah Tsuna, Reborn, Ririn, Rin, Miyuki, Dino, Chrome dan Mukuro.

"Ririn, cairan yang kamu berikan pada Mukuro saat itu apa?" Reborn bertanya pada Ririn begitu suasana mulai sepi.

"Itu obat yang Ririn buat dan dicampurkan sedikit darah Ririn,"

"Bukankah kamu dikurung? Dengan apa kamu membuat obat?" Dino menatap adiknya dengan bingung. Ririn membuka mulutnya lalu menatap Mukuro dan menutupnya lagi.

"Ada baiknya kalian tidak perlu tahu," ucap Ririn sambil membuang pandangannya dengan ekspresi datarnya.

"He-hei, apa yang kamu gunakan?" Mukuro mulai merasa ragu. Di dalam laboratorium itu, bahan apa yang digunakan olehnya?

"Mu-kun, lebih baik kamu tidak tahu," ucap Ririn dengan wajah datar, sekali lagi membuat Mukuro merasa cemas dengan benda yang pernah dikonsumsinya.

"Hmm, darahmu memang memiliki kekuatan khusus," gumam Reborn.

"Ne, Mu-kun, kamu tidak mau mengambil alih tubuh Ririn seperti kamu mencoba mengambil alih tubuh Tsuna-nii? Dengan kekuatan Ririn, kamu mungkin bisa menguasai dunia?" Ririn memandang Mukuro serius.

"EH?" Tsuna dan Dino membelalakkan mata mereka mendengar perkataan Ririn.

"Kufufu," Mukuro tertawa kecil sambil berjalan mendekati Ririn. "aku sudah bilang, aku berhutang padamu. Kamu adalah sudah memberiku hidup dan kebebasan, mana mungkin aku melakukan itu padamu," Mukuro mengelus kepala Ririn sambil tersenyum.

"Lagi pula, aku mencarimu untuk berterima kasih. Aku tidak keberatan melakukan apapun untuk membayar hutangku, walau harus membahayakan nyawaku, karena, sejak awal ini adalah nyawa yang kau berikan," ucap Mukuro serius.

"Mu-kun, kamu tidak boleh bilang begitu. Kalau kamu bilang begitu, kamu akan membuat sedih orang yang kamu tinggalkan," Ririn menatap Chrome, membuat Chrome terkejut. "dan, nyawa itu milikmu. Tanpa keinginan Mu-kun untuk hidup, walau Ririn memberimu obat itu, Mu-kun tidak akan bisa bertahan melalui operasi itu. Karena itu, Mu-kun tidak boleh membuang nyawa untuk Ririn. Mu-kun harus menjalankan hidup yang Mu-kun mau. Hidup Mu-kun adalah milik Mu-kun, bukan milik orang lain ataupun Ririn," lanjutnya datar.

Mukuro menatap Chrome yang melihatnya dengan tatapan sedih lalu menatap Ririn.

"Terima kasih. Mungkin, selama ini, itulah kata-kata yang kudengar darimu," ucap Mukuro sambil tersenyum. "Ne, Ririn-chan, karena secara tidak langsung kita berbagi darah, bagaimana kalau kamu menjadi adikku saja?" Mukuro tiba-tiba menyentuh bahu Ririn sambil tersenyum.

"Tidak! Aku kakaknya!" Dino dengan cepat menarik Ririn ke pelukannya dengan sikap protektif.

"Kufufu, Haneuma, dari pada bersama denganmu bukankah lebih baik Ririn-chan menjadi adikku?" Mukuro tersenyum meremehkan Dino. "dengan kecerobohanmu itu, kamu hanya akan merepotka Ririn," lanjut Mukuro.

"Ap- Tidak! Pokoknya Tidak! Aku Kakaknya!" Dino kembali berseru.

"Ara~ Ririn-chan populer ya, untuk dijadikan adik," Miyuki yang melihat hal itu tersenyum geli.

"Ha...ha…ha…," Tsuna hanya menggaruk kepalanya bingung.

Ririn melepaskan tangan Dino yang memeluknya lalu menatap Mukuro.

"Mu-kun, Kakak memang orang yang ceroboh jika tidak ada anak buahnya, bahkan tidak bisa diandalkan. Dia juga over ptotektif terhadap Ririn dan menderita sister complex akut yang membuatnya menyebalkan.," ucap Ririn pada Mukuro .

"Ririn~," Dino menatap Ririn dengan mata berair mendengar perkataan adiknya.

"Tapi, Kakak adalah Kakak Ririn dan hal itu tidak akan tergantikan. Ririn sayang Kakak. Maaf Mu-kun," ucap Ririn.

"Ririn!" kali ini Dino hampir melompat ke arah Ririn yang dihindari oleh Ririn.

"Tapi, Ririn senang kalau Mu-kun menganggap Ririn sebagai adik Mu-kun. Mu-kun adalah teman Ririn yang pertama sejak saat itu," tambah Ririn.

"Kufufu, baiklah. Untuk saat ini, aku terima," ucap Mukuro sambil membalikkan badannya ke arah Chrome. "tapi, kalau kau sudah muak dengan Haneuma itu, aku akan selalu menerimamu menjadi adikku," ucap Mukuro sebelum menghilang bersama Chrome.

"Tidak! Ririn tidak akan bosan bersamaku!" ucap Dino sambil memeluk adiknya lagi.

DUAK

"Dino, berisik. Kamu harus sembuhkan sister complexmu itu," ucap Reborn tidak acuh sambil memegang Leon yang berubah jadi palu.

Tiba-tiba ponsel Dino berbunyi. Setelah menerima telpon yang ternyata dari Romario dan ternyata tentang pekerjaan, Dino akhirnya kembali ke hotelnya untuk mengurus pekerjaan dan berkasnya.

Hari sudah malam, akhirnya Miyuki berpamitan pada Tsuna dan Reborn bersama Ririn dan Rin untuk pulang.

"Haah, hari yang melelahkan," Tsuna menghela napas begitu sampai di kamarnya.

"Tsuna, mulai saat ini, sebisa mungkin, tolong kamu awasi Ririn," ucap Reborn di atas meja Tsuna, memandang bulan yang tertutup awan di langit dari jendela.

"Kenapa aku? Bukankah biasanya kamu melakukan hal itu?" Tsuna menatap Reborn dengan pandangan aneh.

"Tentu saja aku juga akan mengawasinya. Tapi, kalau bisa, aku ingin sebanyak mungkin orang menjaganya," kata Reborn berkata dengan serius. Untuk sesaat suasana menjadi sepi.

"Apa…itu ada hubungannya dengan darah spesial yang selalu kamu sebutkan?" Tsuna bertanya pada Reborn dengan ragu.

Zzzzz

"Reborn, kamu tidur!" Tsuna memekik kesal melihat Reborn tidur dengan mata terbuka di atas mejanya.

Tsuna akhirnya menghela napas dan menatap bulan di langit. Vongola Intuitionnya mengatakan bahwa gadis itu harus dilindungi, seperti kata Reborn. Tapi dari apa?

Tsuna akhirnya berusah menyingkirkan pikiran itu dan mencoba untuk beristirahat.

XXXXX

"Nagi," Mukuro memasuki ruangan di mana Chrome sedang duduk di atas kasurnya sambil bersender pada tembok dengan wajah sedih.

"Mu-M ukuro-sama," Chrome terkejut melihat Mukuro yang masuk ke kamarnya.

"Kamu memikirkan sesuatu?" Mukuro bertanya sambil berjalan ke arah Chrome.

"Ti-tidak," Chrome menggeser tubuhnya begitu Mukuro duduk di sebelahnya.

"Apa kamu cemburu pada Ririn-chan?" Mukuro menatap Chrome yang menundukkan kepalanya.

"A-aku tidak cemburu," gumam Chrome lemah dengan wajah sedikit memerah.

"Chrome…Nagi," Mukuro memegang dagu Chrome dan mengangkat wajahnya pelan hingga mereka saling bertatapan. "Ririn-chan adalah orang yang menyelamatkan nyawaku, juga membuatku bertemu denganmu. Aku menganggapnya sebagai adikku, begitu juga dengannya. Dia melihatku sebagai teman pertamanya dan kakak," lanjut Mukuro.

Mukuro mendekatkan wajahnya pada Chrome, tetapi Chrome menarik wajahnya dari tangan Mukuro dan menatap lantai.

"Jangan…," Chrome berbisik pelan, membuat Mukuro mencondongkan tubuhnya untuk mendengar perkataan Chrome. "tolong, jangan katakan akan mengorbankan nyawamu seperti itu, Mukuro-sama," ucap Chrome lirih sambil menatap Mukuro dengan wajah sedih.

"Kufufu, Chrome-ku yang manis," Mukuro meletakkan tangannya di kedua pipi Chrome dan menghapus air mata yang menggenang di wajah Chrome dengan ibu jarinya. "aku tidak akan mengorbankan nyawaku,"

'Setidaknya untuk saat ini,' batin Mukuro.

"Kamu khawatir padaku? Manis sekali," Mukuro mulai mendekatkan wajahnya ke arah Chrome.

"Tu-tunggu, yang lain masih bangun," Chrome berusaha mengelak dari Mukuro dengan wajah memerah.

"Mereka sudah tidur," Mukuro tersenyum melihat wajah Chrome yang memerah.

"Kakipi, aku bosan, ayo main denganku, byon!"

Suara kencang Ken terdengar, bahkan sampai ke kamar Chrome. Chrome dengan refleks mendorong Mukuro begitu mendengar suara Ken.

BRUK

"Kyaa! Mukuro-sama!" Chrome langsung merasa panik karena secara spontan mendorong Mukuro hingga jatuh dari tempat tidur.

"Ku..fu..fu…," Mukuro bangun dengan mata berkilat, lalu keluar dari kamar membawa trident.

"GYAA!"

"Kau mau main? Aku akan menemanimu, Ken. Kufufufu,"

Chrome hanya bergidik mendengar suara teriakan Ken dan tawa kejam Mukuro.

XXXXX

Beberapa hari setelah kejadian itu, semuanya berjalan seperti biasa. Kecuali Dino yang sudah kembali ke Italia, semuanya sama. Miyuki dan Ririn sering makan siang bersama Kyoko dan Hana, atau terkadang bergabung dengan kelompok Tsuna.

Saat hari libur, biasanya Miyuki membawa Ririn untuk pergi bersama Kyoko, Haru, Hana dan Chrome. Terkadang, bersama Bianchi, juga Lambo dan I-pin. Hanya saja hari libur kali ini, Miyuki membawa Ririn ke tempat yang berbeda.

Ririn memandang rumah berwarna putih di tempat terpencil itu. Bagian depan rumah itu terlihat manis dengan banyak tumbuhan di sekitar rumah itu. Ririn mengikuti Miyuki yang mengetuk pintu rumah itu.

"Miyuki-sama, silahkan masuk,"

"Terima kasih, Yamada-san,"

Miyuki mengikuti pria tua itu ke ruang tengah yang sangat luas, berbeda dengan penampilan depan rumah itu yang terlihat kecil. Seorang perempuan berkacamata dengan rambut berwarna cokelat lembut yang diikat ke belakang sedang duduk di atas lantai walau ada sofa di ruangan itu, memegang sebuah gergaji listrik yang besar dan tang, sementara banyak barang berceceran di sekitarnya.

Sungguh, penampilan lembut dan anggun wanita itu sangat tidak cocok dengan benda yang dipegangnya. Begitu pelayannya memanggilnya, perempuan itu mengangkat pandangannya dan menatap Miyuki dengan wajah senang. Dia melepas kacamata dan ikat rambutnya, lalu menghampiri Miyuki dan Ririn.

"Yuki-chan," Rika menghampiri gadis itu sambil tersenyum lebar.

"Selamat pagi, Rika-nee. Maaf, apa aku mengganggu pekerjaan Rika-nee?" Miyuki memandang gergaji besar dan beberapa barang yang berserakan di lantai.

"Tidak, mana mungkin mengganggu," Rika tersenyum pada Miyuki. "Eh, siapa gadis ini?" tanya Rika yang menyadari kehadiran Ririn yang sedang memeluk Rin di belakang Miyuki.

"Ah, Rika-nee, kenalkan dia adalah adik angkat dari Dino Cavallone, Karina," Miyuki mendorong pelan Ririn ke hadapan Rika.

"Panggil saja Ririn, yang ini Rin," ucap Ririn sambil mengamati Rika dan mengangkat Rin yang dipeluknya.

"Woof!" Rin menggoyangkan ekornya sambil menatap Rika

"Kalau begitu perkenalkan Ririn-chan, Rin, aku Rika," Rika tersenyum lembut pada Ririn sambil mengelus Rin.

Rin melompat dari pelukan Rin dan Ririn langsung memeluk Rika.

"Ririn-chan?" Rika tersenyum bingung begitu Ririn memeluknya.

"Maaf Rika-nee, Ririn-chan suka memeluk orang yang baru dikenalnya. Tapi biasanya dia menatap orang itu dulu, tidak langsung memeluknya,"

"Rika-nee punya aura yang menenangkan, Ririn suka," gumam Ririn, masih memeluk Rika.

"Wah, terima kasih pujiannya," Rika tersenyum dan mengelus kepala Ririn.

"Ririn-chan, Rika-nee ini sudah seperti kakak perempuan untukku," Miyuki tersenyum melihat Rika dan Miyuki.

"Kalau begitu, Ririn juga mau menganggap Rika-nee sebagai kakak Ririn," ucap Ririn sambil mendongakkan kepalanya, menatap Rika.

"Wah, terima kasih, Ririn-chan. Aku senang punya dua adik yang manis," Rika tersenyum sambil mengelus kepala Ririn.

Miyuki memperhatikan Ririn dan Rika sambil tersenyum.

"Yuki-chan, sini, kamu juga. Dengan begini aku punya dua adik perempuan yang manis," ucap Rika sambil melambaikan tangannya pada Miyuki.

"Ah, aku tidak-,"

"Yuki-chan ayolah, padahal sebelum pindah dulu kamu selalu menempel padaku," Rika menatap Miyuki dengan pandangan memelas yang membuat Miyuki tidak bisa menolaknya.

"Baiklah," Miyuki tersenyum dan memeluk Rika. Dia benar-benar tidak bisa menang melawan Rika.

"Hm~, coba kalau Kyoya-kun juga mau jadi adikku," ucap Rika dengan riangnya.

"Ahaha, itu tidak mungkin. Tapi, walau Kyo-nii tidak mengatakan apa-apa, Rika-nee juga orang yang dianggap penting oleh Kyo-nii," ucap Miyuki sambil melepaskan pelukannya.

"Ya, aku tahu. Sejak kecil dia benar-benar kaku, aku sampai khawatir dengan dirinya dulu. Tapi sepertinya sekarang dia sudah menemukan tempat yang cocok untuknya sebagai Cloud Guardian," ucap Rika sambil tersenyum.

"Daripada bicara sambil berdiri, bagaimana kalau duduk dulu?" tiba-tiba Reiko masuk ke dalam ruangan sambil membawa nampan berisi beberapa makanan ringan dan tiga gelas minuman.

"Ah, benar juga. Maaf aku lupa, ayo duduk dulu," Rika tersenyum dan melepaskan pelukannya pada Ririn lalu mengajak mereka untuk duduk.

Rika duduk di tengah-tengah sebuah sofa panjang diikuti Ririn yang terus menempel padanya. Rin berada di pangkuan Rika.

"Sepertinya Ririn-chan dan Rin sangat suka pada Rika-nee," Miyuki tersenyum sambil memperhatikan Ririn dan Rin yang menempel pada Rika.

"Rika-nee memiliki aura yang berbeda dari yang lain. Beda dari Nee-chan juga Luce-nee, Aria-nee dan Yuni. Ririn sangat suka," ucap Ririn datar.

"Aku tidak mengerti, tapi terima kasih, Ririn-chan," Rika tersenyum dan mengelus kepala Ririn.

Miyuki tersenyum melihat Rika dan Ririn yang akrab. Miyuki berniat mengambil gelas minumnya ketika melihat surat di atas meja. Dia mengambil surat itu dan melihat pengirimnya.

"Itu surat yang kuterima pagi ini," Rika tersenyum lembut menatap surat di tangan Miyuki.

Miyuki memandang Rika yang melihat surat yang dia pegang dengan tatapan rindu. Miyuki tidak suka kakaknya yang lembut dan baik terlihat sedih. Miyuki mengerutkan dahinya memperhatikan surat di tangannya.

"Rika-nee, memangnya 'Dia' tidak pernah meneleponmu?" Miyuki akhirnya bertanya pada kakaknya.

"Aku kan tidak punya telepon," Rika memandang Miyuki sambil tersenyum.

"Eh? Lalu bagaimana kalau mendapat tugas dari Nono?" Miyuki bertanya kepada Rika dengan bingung.

Miyuki merasa heran, bisa-bisanya dia tidak tahu hal itu. Padahal, kalau diingat-ingat, di rumah Rika memang hampir tidak ada alat elektronik seperti TV, komputer, laptop dan telepon. Yang ada hanya sebuah radio.

"Biasanya salah satu dari Guardian akan datang dan memberi pesan dari Nono atau terkadang anak buahnya," Rika menjawab sekadarnya.

"Bagaimana dengan berita dan sebagainya?"

"Aku mendengar lewat radio,"

Miyuki menatap Rika dengan pandangan tidak percaya. Bertahun-tahun dia mengenal Rika, kenapa dia tidak sadar kalau selama ini dia hampir tidak pernah melihat alat elektronik di rumah Rika selain radio dan alat untuk membenarkan senjata?

"Rika-nee tidak pernah meminta 'Dia' untuk datang menemui Rika-nee?" Miyuki kembali bertanya pada Rika.

"'Dia' orang yang sibuk, aku tidak mau bersikap egois dan mengganggunya," Rika menghela napas sambil melemparkan pandangannya ke arah taman melalui pintu kaca.

"Rika-nee seharusnya lebih egois. Kalau tidak, Rika-nee seharusnya mencari pacar yang lebih baik," ucap Miyuki sambil menghela napas.

"Terima kasih kamu mengkhawatirkanku, Yuki-chan. Mengetahui sifatnya, dia perhatian padaku sudah cukup," ucap Rika sambil tersenyum lembut.

"Rika-nee," Miyuki menggumam sambil memandang Rika.

'Mana mungkin cukup, Rika-nee pasti ingin bertemu dengannya,' Miyuki membatin dengan sedih.

Miyuki lalu bertekad untuk melakukan sesuatu untuk Rika. Setelah itu, Miyuki mengalihkan pembicaraan dan bercerita tentang Ririn pada Rika.

XXXXX

Hari kembali seperti biasa, hanya saja Miyuki menyadari suatu hal telah terjadi. Entah sejak kapan, mungkin sejak pertarungan mereka, dia melihat Hibari mengabaikan Ririn bahkan hampir tidak pernah menanggapinya.

Pernah, suatu kali Miyuki dengan sengaja membiarkan Ririn menata kotak bekal sehingga Hibari membawa bekal ala anak TK itu ke sekolah, tetapi di rumah dia hanya menatap Miyuki tajam sambil melemparkan kotak bekal yang sudah habis tanpa bicara apapun.

Miyuki masih sering menitipkan Ririn di ruang komite kedisiplinan, tapi, setiap kali dia datang yang bersama Ririn adalah Kusakabe. Kusakabe bahkan mengatakan akhir-akhir ini Hibari melakukan patroli lebih sering daripada sebelumnya.

"Bagaimana ini Reborn-san?" Miyuki menatap Reborn yang berdiri di hadapannya.

Saat bel istirahat siang, Miyuki meninggalkan Ririn bersama Kyoko dan Hana untuk makan siang dan pergi ke belakang sekolah untuk berbicara dengan Reborn.

"Hm, kukira Hibari mulai menyukai Ririn," Reborn melipat tangannya di depan dada sambil menatap Miyuki.

"Tapi Kyo-nii akhir-akhir ini seperti menghindari Ririn-chan, bahkan seperti menganggapnya tidak ada," ucap Miyuki sambil mengelap dahinya dengan sapu tangan.

Bulan sudah berganti, memasuki musim panas. Cuaca siang itu cukup panas, padahal belum lama hujan. Musim peralihan memang membuat udara menjadi lembab.

"Baiklah kalau begitu," ucap Reborn sambil mengeluarkan sebuah surat.

"Hmm, Shimon Famiglia," Miyuki membuka surat itu dan membacanya dengan serius. "baiklah, aku akan pergi malam ini," ucap Miyuki sambil melipat surat itu dan memasukkannya ke amplop.

"Hm? Kalau aku pergi bagaimana dengan rumah? Masa aku meninggalkan Kyo-nii dan Ririn-chan berdua?" ucap Miyuki sambil menatap Reborn cemas.

Berbagai pikiran mulai muncul di benak Miyuki. Bagaimana kalau kakaknya menjahti Ririn? Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kakaknya tidak akan memukul anak kecil dengan wajah imut bagaikan binatang kecil…mungkin. Bagaimana kalau mereka berdua bertengkar? Itu adalah hal yang paling masuk akal. Menginat sikap polos Ririn dan tempramen buruk kakaknya….

"Tenang saja, justru ini kesempatan yang bagus untuk mereka berdua memperbaiki hubungan mereka," ucap Reborn melihat kecemasan di wajah Miyuki. "kamu seperti seorang ibu yang meninggalkan dua bocah di rumah," ucap Reborn dengan dahi berkerut.

"Tapi, apa mereka bisa mengurus rumah dengan baik berdua? Ririn-chan kan tidak suka sendirian," Miyuki terus bergumam hingga Reborn menjentikkan jarinya.

"Tenanglah. Kalau begitu, bagaimana kalau…,"

Reborn menjelaskan rencana dan beberapa kali Miyuki menambahkan rencananya hingga bel masuk berbunyi.

XXXXX

"Jadilah anak baik di rumah," ucap Miyuki mengelus kepala Ririn sambil tersenyum.

"Um," Ririn menganggukkan kepalanya sambil memeluk Rin.

"Miyu, kau sudah siap? Hm? Kamu belum mengubah ikat rambutmu," Reborn berdiri di jendela, menatap penampilan serba hitam Miyuki.

"Ya, aku akan ganti di luar. Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan pada Ririn-chan sebelumnya. Baiklah, aku pergi dulu. Ada seseorang yang ingin kutemui selesai misi, jadi sepertinya aku akan pulang sedikit lebih lama," ucap Miyuki sambil melangkahkan satu kakinya ke luar jendela.

"Nee-chan mau ketemu Kakak ya?"

Ucapan polos Ririn sukses membuat Miyuki tersandung dan terjatuh. Reborn menyeringai mendengar pertanyaan Ririn dan melihat reaksi Miyuki.

"Ap- tidak, bukan!" Miyuki segera berdiri dan membantah Ririn dengan pipi sedikit memerah. "Ehm, kenapa kamu kira aku ingin bertemu Dino-san?" tanya Miyuki kepada Ririn yang menatapnya polos setelah berhasil menguasai dirinya.

"Karena, Nee-chan akhir-akhir ini sering menatap ruang guru, lorong atau tangga, tempat Kakak biasanya berada," jawab gadis itu polos.

"Hm~ Miyuki, kamu seharusnya bilang, kamu akan kubuat menjadi isteri Cavallone yang terhebat," ucap Reborn kepada Miyuki.

"Isteri? Reborn-san, sebelumnya kamu mau menjadikan Boss sebagai Neo Vongola Primo, sekarang kamu mau menjadikanku isteri Cavallone? Astaga, aku sekarang bingung dengan title hitman nomor satu mu," ucap Miyuki sambil menghela napas, berhasil menyembunyikan emosinya.

"Sudahlah, sudah waktunya kita pergi, dan sekali lagi, orang yang akan kutemui bukan Dino-san, Ririn-chan. Dia…kenalanku," ucap Miyuki dengan sedikit ragu. "yah, pokoknya jadilah anak baik, turuti perkataan Kyo-nii dan sebisa mungkin, jangan buat dia marah. Aku akan berusaha kembali secepatnya," ucap Miyuki sambil melompat ke luar jendela.

"Um, hati-hati Nee-chan," ucap Ririn sambil melambaikan tangannya.

"Woof!" Rin sekan tidak mau ketinggalan ikut mengangkat tangannya dengan ekor bergoyang.

Begitu Miyuki dan Reborn pergi dari kamar itu, Ririn keluar dari kamar Miyuki dan berjalan ke kamar Hibari sambil membawa tas miliknya dan secarik kertas. Ririn memasuki kamar Hibari dan berjalan perlahan, tidak ingin membangunkan Hibari.

"Vampire-san," gumam Ririn sambil menatap Hibari.

To be continue….

XXXXX

Minna, bagaimana chapter kali ini? Mengagetkan kah? Sudah dapat ditebak kah?

Sacchan masukin sedikit MukuChrome di sini! Btw, apakah ada yang bisa menebak siapa pacar Rika yang rajin kirimin dia surat dan obat? Ayo tebak! (#iseng).

Chapter berikutnya doki doki time, HibaRirin! Ayo, semua fans HibaRirin, jangan lewatkan chapter depan! (yang kemungkinan bakal lama)

Btw, ini chapter Sacchan bikin pelampiasan selesai UAS, jadi maaf ya kalo kurang bagus, otak Sacchan udah berasap nih -_-"

Minna, mind to R&R? Kritik? Saran? Request? Sacchan terima semua!