Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Yukishiro Seiran : Hehehe, iya tuh pada cemburu. Sacchan emang pengen ada slight pairing lain, jadi masukin Muku-Chrome di sini. Btw, Sacchan emang ga ada niat bikin fanfic rate M kok, nggak kuat -/-. Makasih, Sacchan emang tetep mau nunjukkin kalo Miyuki tetep 'siswi SMA' walaupun dia berhubungan dengan mafia. Untuk pacar Rika, silahkan dilihat di chapter depan, pasti langsung ketahuan. Oke, request diterima ;) chapter depan Sacchan bakal bikin chapter Miyuki yang lagi jalanin misi!
Hikage Natsu : Wah, review yang sangat panjang ya Hika-san, Sacchan jadi bingung mau mulai dari mana. Tentang baju Ririn, itu yang nyiapin semua si Romario, kan Romario penyelamat Ririn dari siscom Dino. Hahaha, nggak papa kok, Sacchan seneng baca review dari Hika-san panjang-panjang bikin semangat :). Iya, di chapter 27 Sacchan bikin sedikit serius tentang Ririn sama Mukuro, tapi ada slight pairing Muku-Chrome. M.M yang jadi bawahan Mukuro, pake clarinet dikalahin Bianchi dan gendong Fran waktu lawan Bermuda. Karena di chapter akhir dia masih ada sama Mukuro jadi Sacchan masukin. Hika-san pasti langsung tahu siapa 'Dia' di chapter depan ;) Iya, yang mau ditemuin sama Miyuki itu pacar Rika. Tenang aja, ini chapter full fanservice kok, dijamin fansgirling dan jejeritan sendiri ;)
Sakazuki123 : Sakazuki-san, maaf Sacchan lama update ya. Sebagai permintaan maaf ini chapter samper 6k+ lho panjangnya dan full fanservice Hiba-Ririn ;)
Zee Cielova : Wah, makasih perhatiannya Zee-san! Sacchan terlalu semangat nulis tentang Ririn sih, jadi nggak sadar kalo udah sepanjang ini :) Untuk nama karakter, Sacchan juga baru sadar pas udah jalan ceritanya. Sebelumnya bahkan mamanya Ririn juga mau Sacchan kasih nama Rina atau Runa, tapi jadi banyak karakter yang huruf depannya 'R' -_-" Iya, sebagai salah satu guardian, dia harus dikasih peran juga dong~ Terima kasih sudah menunggu!
Ricchan's matahari : Terima kasih sudah memfollow cerita Sacchan, Ricchan! Sacchan juga sudah membaca cerita Ricchan yang ' Kuudere Type' dan cukup menarik!
WARNING!
Dikarenakan banyaknya fanservice, readers diharapkan tidak membaca di tempat umum untuk menjaga nama baik readers sendiri kalau tidak mau dianggap orang aneh karena jejeritan sendiri
Salam damai, Sacchan ;)
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Hibari A Babysitter (?)
.
.
.
Hibari bergerak pelan, merasa mencium wangi lembut yang familier. Namun, dia membuka matanya bukan karena hal itu. Hibari membuka matanya karena merasakan sesuatu yang hangat di pelukannya. Sebenarnya terasa nyaman, namun dia tidak mengingat memiliki bantal besar atau panjang di atas kasurnya dan lagi, memiliki wangi seperti itu. Begitu matanya terbuka, yang dia lihat adalah sekumpulan rambut berwarna hitam. Hibari langsun bersikap waspada dan bangun dengan cepat.
Tetapi, yang dilihatnya membuat alisnya terangkat dan tatapannya berubah menjadi kesal. Ternyata, entah sejak kapan, Hibari memeluk Ririn dalam tidurnya. Dan yang membuat Hibari kesal adalah, Ririn ada di kasurnya.
DUAK
Dengan sangat tidak gentleman-nya, Hibari mendesis dan menendang Ririn hingga jatuh dari kasur dan mendengus. Namun, tidak mendengar reaksi apapun, Hibari bangkit dari kasurnya dan berdiri di sebelah Ririn yang masih tertidur di lantai. Dahi Hibari berkerut kesal melihat Ririn masih tidur dengan nyenyaknya.
"Chibi-Herbivore," Hibari menggeram sambil memegang kedua bahu gadis itu dan mengguncangnya, yang sayangnya tidak memiliki hasil apapun.
Merasa kesal, Hibari menarik kedua pipi Ririn, yang sayangnya sama sekali tidak mempan karena Ririn masih tertidur dengan nyenyaknya.
"Woof!"
Entah sejak kapan dan dari mana, Rin tiba-tiba berada di sebelah Hibari yang setengah berlutut, mengguncangkan tubuh Ririn agar gadis itu bangun. Hibari mengangkat alisnya melihat Rin di sebelahnya.
'Kyo-nii, Ririn-chan kalau tidur seperti orang mati, dia sama sekali tidak bisa dibangunkan,'
Dia teringat kata-kata Miyuki yang pernah didengarnya. Hibari mengerutkan dahi memandang Ririn yang tertidur dan mengerang kesal. Tiba-tiba, Rin berdiri dan menggonggong di sebelah Ririn.
Ririn bergerak pelan dan tangannya terangkat, mengusap matanya pelan. Begitu dia membuka mata, Hibari langsung melepaskan pegangan pada bahunya hingga Ririn terjatuh ke lantai.
"Aduh," Ririn menggumam dengan wajah datarnya.
"Chibi-Herbivore, lebih baik kau punya penjelasan kenapa kau ada di kamar ini, atau ku kamikorosu," ucap Hibari dengan suara tajam dan mata berkilat, seketika dia sudah berdiri sambil memegan tonfa di kedua tangannya.
"Vampire-san?" Ririn menggumam pelan sambil melihat sekitarnya.
Seakan menyadari sesuatu, dia mengambil tas rajut yang tergantung di samping tempat tidur, yang tidak disadari Hibari, dan mengambil secarik kertas dari sana. Ririn lalu dengan wajah polos dan datarnya memberikan kertas itu pada Hibari.
Hibari mengangkat alisnya melihat kertas yang dipegang Ririn. Dia menurunkan tonfanya dan mengambil kertas di tangan Ririn. Ririn berjalan ke jendela dan membuka tirai, membiarkan matahari masuk. Hibari membaca surat itu dengan dahi berkerut
Dear Kyo-nii
Kyo-nii, seperti yang sudah Kyo-nii tahu, aku bekerja sebagai informan Vongola. Aku ada misi untuk membantu Shimon Famiglia selama beberapa hari ini dan sudah menyiapkan surat untuk sekolah pada Ririn-chan.
Kyo-nii, karena Ririn-chan tidak bisa tidur sendiri, aku menyuruhnya tidur di kamarmu, jangan marahi dia. Selama beberapa hari ini Ririn-chan akan tidur bersama Kyo-nii dan Kyo-nii tidak boleh meninggalkan Ririn-chan sendirian, pokoknya Kyo-nii DILARANG MENINGGALKAN RIRIN-CHAN SENDIRIAN!
Melihat sikapnya selama ini, memang tidak masalah kalau dia bersama denganku, tapi tolong jangan Kyo-nii biarkan dia sendirian. Yah, kurasa Kyo-nii akan tahu alasannya nanti dan itu tidak akan membutuhkan waktu lama.
Minggu ini Ririn-chan tidak mendapat giliran piket, jadi aku menyuruhnya segera ke ruanganmu setelah jam pelajaran berakhir, kalau dia belum datang juga, jemput dia. Sebisa mungkin, tolong jangan biarkan Ririn-chan sendirian. Aku juga menyuruhnya untuk makan siang bersamamu.
From Your Beloved Lil' Sis
Hibari mengerutkan dahinya membaca pesan adiknya yang sangat panjang itu sambil menggeram kesal. Di baru berniat membuang kertas itu ketika melihat ada tulisan di baliknya.
P.S
Kyo-nii, kalau berani macam-macam dan terjadi sesuatu pada Ririn-chan, akan ku sebarkan foto memalukan saat Kyo-nii masih kecil yang kusimpan ;)
Your Beloved Miyu~
Kerutan di dahi Hibari semakin dalam membaca pesan dari adiknya. Dia mendesis kesal dan melemparkan pandangannya pada Ririn yang entah sejak kapan sudah menggendong Rin.
"Keluar, aku mau siap-siap," desis Hibari sambil melempar Ririn yang masih menggendong Rin keluar dari kamarnya, tidak lupa tas rajut milik Ririn.
BRAK
Ririn mengerjapkan matanya beberapa kali saat pintu kamar Hibari di tutup tepat di belakang punggungnya.
"Uuung?" Rin melompat dari pelukan Ririn dan menatapnya bingung dengan ekor bergoyang.
"Sudahlah, ayo kita juga siap-siap," ucap Ririn sambil meraih tas rajutnya dan berjalan menuju kamar Miyuki sambil mengusap pipinya yang entah kenapa terasa sakit sejak bangun tidur tadi. (a/n : barang Ririn sebagian besar di kamar Miyuki)
XXXXX
"Ririn, Rin, pagi~ pagi~" tiba-tiba Hibird masuk ke dalam ruang makan saat Ririn sedang mengatur makanan di atas meja, diikuti Hibari.
Hibari masuk ke ruangan itu dengan tenang, seakan tidak menganggap Ririn. Sekali lagi, dia harus menahan rasa kesalnya saat melihat sarapan yang dibuat Ririn pagi itu. Secangkir kopi dan pancake yang disusun menjadi wajah dan telinga sehingga membentuk kepala beruang dan maple syrup membentuk mata sedangkan hidung dan mulut di buat dengan maple syrup di atas mentega.
Hibari berusaha menenangkan dirinya dan memotong pancake itu dengan kasar, hingga tidak terlihat bahwa bentuk pancake itu sebelumnya sangat imut. Setelah memberi makan Hibird dan Rin, Ririn duduk di hadapan Hibari dan memakan pancakenya dalam diam.
Hibird dan Rin hanya bisa saling memandang melihat majikan mereka makan dalam suasana yang kaku dan hening. Biasanya Miyuki selalu membuat suasana terasa lebih ringan dengan sikap lembutnya pada Ririn atau terkadang sikap bercandanya pada Hibari.
Krek
Hibird dan Rin hampir terlonjak kaget mendengar suara kursi Hibari. Ternyata, Hibari sudah selesai makan, begitu juga Ririn. Hibari langsung kembali ke atas, sedangkan Ririn mencuci piring-piring mereka.
Begitu Hibari turun, Ririn mengikuti Hibari berjalan menuju pintu keluar. Hibari menatap langit yang mendung dan sedikit gerimis. Hibari mengerutkan dahinya dan membalikkan badannya melihat Ririn yang sudah memeluk Rin dengan satu tangan dan satu tangannya yang lain memegang payung.
"Chibi-Herbivore, kau pergi sekolah sendiri," ucap Hibari sambil membalikkan badannya dan berjalan cepat meninggalkan Ririn yang menganggukkan kepalanya.
XXXXX
Bel sekolah sudah berbunyi, bahkan pelajaran pertama sudah selesai. Hibari yang sejak pagi sudah berada di gerbang sekolah mengerutkan kening di ruangannya. Dia menatap gerbang sekolah dari jendela yang tentu saja kosong karena gerimis. Sejak tadi dia sampai di sekolah hingga bel periode pertama usai, dia belum melihat Ririn masuk melewati gerbang sekolah.
Hibari mendesis dan berniat menghukum gadis itu begitu sampai di rumah karena berani bolos sekolah, tapi pikiran itu langsung terlupakan ketika dia melihat gadis yang dicarinya memasuki gerbang sambil memeluk seekor bayi serigala.
Hibari kembali mengerutkan dahinya begitu melihat Ririn yang basah dari atas sampai bawah, tidak memakai payung yang pagi tadi dipegangnya. Hibari menyuruh Kusakabe untuk membawa Ririn ke ruangannya dan Kusakabe segera hilang pergi dari ruangan itu.
Tidak lama kemudian. Kusakabe dan Ririn masuk ke dalam ruangan Hibari dan Kusakabe segera pergi dari ruangan itu.
"Chibi-Herbivore, jelaskan kenapa kau bisa terlambat dan basah begitu," ucap Hibari yang lebih mirip perintah daripada pertanyaan.
"Ririn tadi bertemu Tachibana obaa-san," jawab Ririn singkat.
"Dan, kenapa kamu bisa terlambat?" Hibari menatap Ririn dengan tajam karena pertanyaannya tidak dijawab.
"Karena, Ririn bertemu Tachibana obaa-san?" kali ini Ririn menjawab sambil memiringkan kepalanya, mengulangi perkataannya sebelumnya.
Merasa kesal, Hibari mengeluarkan tonfanya dan berniat memukul Ririn saat secarik kertas terjatuh, entah dari mana, di atas kakinya saat Hibari mengeluarkan tonfanya. Hibari mengerutkan dahinya dan mengambil kertas itu.
Dear Kyo-nii
Aku sudah bilang sebelumnya, Kyo-nii dilarang berbuat kasar pada Ririn-chan! Kalau aku dengar Kyo-nii berbuat kasar pada Ririn-chan, aku marah! Pada dasarnya, Ririn-chan anak yang baik, tapi terkadang Kyo-nii harus spesifik kalau menanyakan sesuatu padanya. Pokoknya, aku tahu kalau Kyo-nii berbuat kasar pada Ririn-chan dan Kyo-nii tidak boleh berbuat kasar!
From Your Beloved Lil' Sis
Hibari mengerutkan dahinya, sedikit bingung bagaimana cara adiknya meletakkan kertas itu. Dia menyobek kertas itu dengan kasar dan melemparkannya ke tempat sampah terdekat. Dia mendesis sambil menyimpan kembali tonfanya.
TOK
TOK
"Masuk," desis Hibari tajam.
"Kyo-san," Kusakabe masuk ke dalam membawa sebuah nampan berisi dua teh hangat dan sebuah kantung plastik.
Kusakabe meletakkan teh hangat itu satu di meja Hibari dan satu di meja yang ada di depan sofa, setelah itu memberika dua buah handuk besar pada Ririn.
"Maaf, kemarin malam saya mendapat pesan dari Miyuki-san dan dia meminta bantuan saya agar membantu kelengkapan Ririn-chan di sekolah," ucap Kusakabe pada Hibari yang menatapnya dengan tajam. "dan, ini adalah seragam sekolah Ririn-chan yang baru selesai di buat. Saya permisi," ucap Kusakabe sambil keluar dari ruangan itu.
Hibari menatap kantung berisi seragam Ririn yang diletakkan Kusakabe di atas meja dan menatap Ririn yang sedang setengah berjongkok, berusaha mengeringkan bulu Rin dengan sebuah handuk setelah meminum teh hangat dari Kusakabe, sedangkan handuk satunya menutupi kepala dan bahunya.
Sebelumnya, karena dia menggendong Rin memang tidak terlihat, tapi setelah Rin turun dari pelukan Ririn, sekarang Hibari bisa melihatnya. Seragam musim panas yang memang tipis dan hampir transparan itu sekarang benar-benar transparan. Hibari bisa melihat bra berwarna hijau yang dipakai Ririn sekarang.
"Chibi-Herbivore, sekarang juga, ganti seragammu. Cepat," ucap Hibari sambil mengerutkan dahinya dan menatap Ririn dengan tajam sambil melemparkan kantung berisi seragam Ririn tepat ke wajah gadis polos itu.
"Uph," Ririn menatap kantung yang baru saja mengenai wajahnya.
Ririn menganggukkan kepalanya dan berdiri, lalu mengeluarkan seragam yang ada di dalam kantung itu dari plastiknya. Hibari menatap Ririn dengan pandangan tajam dan kesal, karena bagaimanapun, dia tidak bisa melukai Ririn karena adiknya.
Hibari memperhatikan Ririn dengan tajam dan membulatkan matanya ketika gadis itu langsung membuka seragamnya di hadapan Hibari.
"Kenapa kau buka bajumu di sini?" Hibari mendesis dengan nada tajam kepada Ririn yang masih membuka kancing bajunya.
"Vampire-san bilang 'sekarang juga, ganti seragammu' kan? Jadi sekarang Ririn mengganti seragam Ririn," ucap gadis itu polos dengan kancing depan yang sudah terbuka sepenuhnya.
Hibari sekilas melihat kancing seragam yang sudah terbuka sepenuhnya sebelum membalikkan badannya, menatap langit yang hujan di luar jendela dengan wajah kesalnya. Setelah menghela napas, merasa lelah dengan tingkah Ririn, Hibari mulai bersuara.
"Chibi-Herbivore, bukankah Yuki pernah memperingatkanmu kalau kau tidak boleh telanjang di depan laki-laki," ucap Hibari dengan nada datar.
"Um, tapi Ririn tidak melepas pakain dalam Ririn, jadi Ririn tidak telanjang," jawab Ririn dengan polosnya yang membuat Hibari ingin melemparkan sesuatu ke kepala gadis itu.
"Woof!"
Tiba-tiba Rin berdiri di dekat kaki Hibari, setengah tubuhnya masih tertutup handuk yang berantakan. Hibari berjongkok dan mengelus Rin sambil mengeringkan anjing itu. Rin menggoyangkan ekornya senang saat Hibari menyentuhnya.
"Vampire-san, Ririn sudah selesai ganti seragam,"
Hibari menghentikan kegiatannya dan berdiri, lalu membalikkan badannya, melihat Ririn menggunakan seragam baru yang memang terlihat lebih pas daripada seragamnya sebelumnya. Lengan baju yang sebelumnya hampir mencapai siku Ririn, dan roknya hampir mencapai lutut Ririn.
Seragam yang sekarang dipakainya, lengannya seragamnya tepat berada di pertengahan antara bahu dan sikunya, sedangkan roknya tepat sepuluh senti di atas lutunya. Hibari mengerutkan dahinya menatap rok Ririn yang terlihat sangat pendek.
"Roknya terlalu pendek," ucap Hibari datar.
"Tidak, rok ini tepat sepuluh senti di atas lutut Ririn, seperti yang ada di buku peraturan. Rok Nee-chan yang Ririn pinjam justru tidak sesuai dengan peraturan karena terlalu panjang," ucap Ririn.
Hibari hanya diam sambil menatap rok yang dipakain Ririn. Bagaimanapun, menurut Hibari, rok yang dipakai Ririn terlalu pendek. Lagipula, sejak awal dia tidak suka dengan peraturan yang mengharuskan rok di atas lutut. Hibari mengenyahkan pikirannya begitu mendengar bel sekolah berbunyi.
Hibari mengalihkan pandangannya ke jam tangannya dan akhirnya menyuruh Ririn segera ke kelas, sedangkan dia membiarkan Rin berada di ruangan itu. Hibari ingin segera menjauh dari gadis itu. Entah kenapa, gadis itu selalu berhasil membuatnya merasa kesal.
XXXXX
Bel istirahat berbunyi, beberapa murid segera mengelilingi Ririn. Mereka menanyakan keberadaan Miyuki yang dijawab Ririn sesuai dengan pesan Miyuki.
"Nee-chan sedang sakit dan mungkin tidak akan masuk selama beberapa hari ini," jawab Ririn kepada siswa-siswi yang mengelilinginya. "Nee-chan juga bilang supaya teman-teman sekelasnya tidak perlu khawatir karena dia akan segera sehat kembali," tambah Ririn.
"Miyuki-sama, ternyata kondisi tubuhnya lemah,"
"Perempuan cantik dengan senyum lembut dan tubuh lemah…,"
"Benar-benar seorang lady~"
"Sudah begitu, dia masih mengkhawatirkan kita,"
"Baik sekali,"
Siswa-siswi itu memekik, mengingat idola mereka yang cantik dan baik hati. Inginnya sih mereka menjenguk sang idola, tapi apa mau dikata, sang idola adalah saudara dari setan Namimori, jadi mereka yang masih sayang nyawa hanya bisa berdoa agar idola mereka itu cepat sembuh.
Selagi mereka sibuk membahas Miyuki, Ririn menyelinap keluar dari kelas sambil membawa bekalnya dan berjalan menuju ruang komite kedisiplinan.
"Ah, Ririn-chan. Maaf, Kyo-san belum lama ini pergi untuk patroli. Silahkan makan di sini, akan saya siapkan minuman untukmu," Kusakabe langsung menyiapkan minuman untuk Ririn.
Ririn menganggukkan kepalanya dan mendekati Rin yang sedang tidur di sofa lalu duduk di sebelahnya.
"Tetsu-senpai juga makan bersama Ririn?" Ririn menatap Kusakabe yang menyiapkan minum untuknya.
"Saya bisa makan nanti," ucap Kusakabe sambil tersenyum.
"Ririn mau makan bareng," ucap Ririn sambil mengelus Rin yang terbangun.
"Baiklah," Kusakabe hanya tersenyum melihat tingkah polos Ririn dan memakan bekalnya bersama Ririn.
Mereka makan bersama dalam diam. Begitu selesai makan siang, Kusakabe meninggalkan Ririn karena masih ada beberapa tugas yang harus dia kerjakan dan Ririn hanya bisa menganggukkan kepalanya. Merasa bosan, Ririn membawa Rin berjalan-jalan di halaman belakang .
BUGH
DUAK
"AAKH!"
"Ma…maaf! Hii!"
BUK
Ririn yang mendengar suara aneh menghampiri asal suara itu. Ririn menghentikan langkahnya begitu melihat Hibari dengan beberapa bercak darah di tonfa yang dipegangnya. Di dekat kakinya, beberapa tubuh terlgeletak tidak bergerak. Hibari mengeluarkan ponselnya dan berbicara sebentar lalu memasukkan ponselnya kembali ke kantung seragamnya.
"Vampire-san," Ririn memanggil Hibari, membuat Hibari menyadari keberadaan gadis itu.
Hibari hanya menatap Ririn sekilas, lalu berjalan melewati gadis itu. Ririn sedikit memiringkan kepalanya dan mengikuti Hibari. Setelah beberapa saat berjalan, Hibari menghentikan langkahnya, membuat Ririn yang mengikutinya membentur punggungnya.
"Chibi-Herbivore, kenapa kau mengikutiku?" ucap Hibari sambil membalikkan badannya.
"Entahlah," ucap Ririn sekenanya sambil memiringkan kepalanya.
Hibari bisa merasakan dahinya kembali berkedut, merasa kesal dengan gadis kecil di hadapannya.
"Berhenti mengikutiku," ucap Hibari sambil membalikkan badannya.
"Tidak mau," ucap Ririn sambil mengikuti Hibari.
"Kenapa?"
"Karena bel masuk masih cukup lama dan Ririn bosan,"
"Pergilah ke tempat herbivore lainnya,"
"Ririn mau ikut Vampire-san saja,"
Hibari baru berniat membalas perkataan Ririn ketika dia mendengar keributan. Hibari mengabaikan Ririn dan menghampiri keributan itu.
"Beraninya kalian!"
"Hah, apa? Kau mau berkelahi?"
Ririn melihat dua kelompok siswa saling melempar makian dan ancaman.
"Membuat keributan di sekolah, kamikorosu!" ucap Hibari tanpa basa-basi begitu melihat dua kelompok siswa itu.
"Hi-Hibari-san!"
Kelompok siswa itu menjerit kaget begitu melihat Hibari. Beberapa berniat lari, tapi dalam sekejap Hibari berhasil menangkap mereka dan 'mengigit' mereka dengan tonfanya. Saat Hibari akan memukul mereka yang masih sadar tetapi tidak berdaya, Ririn berdiri di hadapan Hibari.
"Vampire-san tidak boleh memukul orang yang tidak bisa melawan," ucap gadis itu datar.
"Tch, berisik, minggir," Hibari menatap Ririn dingin.
Ririn tidak bergeming dan membalas tatapan Hibari dengan ekspresi datarnya. Siswa yang masih tersisa itu hanya bisa melihat dari punggung kecil Ririn sambil meringkuk kesakitan karena pukulan Hibari.
"Kubilang minggir, Chibi-Herbivore," Hibari mendesis dengan nada tajam yang membuat siswa di belakang Ririn terlonjak ketakutan.
"Tidak," balas Ririn tegas.
Untuk beberapa saat, mereka saling bertatapan. Hibari mendengus kesal dan membalikkan tubuhnya sambil menyimpan tonfanya. Ririn segera mengikuti Hibari yang sudah berjalan lagi.
"Ma-malaikat…," gumam para siswa yang sebelumnya dilindungi Ririn sambil memandang punggung kecil penyelamat mereka.
XXXXX
"Berhenti mengikutiku,"
"Tidak mau,"
"Kau mengganggu pekerjaanku,"
"Vampire-san terlalu cepat marah, nanti cepet tua,"
Krek
Hibari menghentikan langkahnya. Dia sudah bersabar sejak tadi membiarkan Ririn mengikutinya disaat dia sedang tidak ingin berada didekatnya sama sekali. Hibari membalikkan badannya dan menatap Ririn tajam.
DUAK
"Aduh,"
Hibari menjitak kepala Ririn yang hanya bisa di balas dengan tatapan bingung oleh Ririn. Hibari mengambil Rin dari pelukan Ririn dan meletakkannya di bawah, lalu menggendong Ririn di bahunya, seperti membawa sekarung beras.
"Vampire-san, Ririn bisa jalan sendiri," ucap Ririn sambil mengelus kepalanya yang terasa benjol.
"Diam,"
Satu kata dari Hibari dan Ririn menuruti perintahnya. Ririn masih mengingat perintah Miyuki untuk menuruti Hibari dan tidak membuatnya marah…walaupun terlambat.
XXXXX
"Um, ayo kita pergi nonton hari Minggu nanti,"
"Baiklah, aku tidak keberatan,"
Tsuna dan Kyoko sedang asyik berbincang-bincang di dalam kelas. Kali ini, karena cuaca mendung, Gokudera, Yamamoto, Tsuna, dan Kyoko makan bersama di dalam kelas. Sepertinya, Hana langsung pergi ke tempat ekskul tinju karena Ryohei ada di sana.
"Bagaimana kalau kamu juga ajak Haru-chan untuk nonton? Dia pasti senang," Yamamoto tersenyum pada Gokudera yang duduk di hadapannnya.
"A-apa? Mana mungkin aku mengajak perempuan berisik itu pergi nonton berdua! Dasar Baseball Idiot!" Gokudera langsung memaki Yamamoto dengan wajah memerah.
Walaupun dia bersikap seperti itu, sebenarnya Gokudera mempertimbangkan usul dari Yamamoto. Sekali-kali mungkin dia akan mengajak Haru pergi bersama dengannya…
BRAK
Tap
Tap
DUK
"HIE!"
Suasana di kelas itu langsung hening seketika. Hibari masuk ke dalam kelas Tsuna dan dalam sekejap melempar Ririn ke pangkuan Tsuna, membuat Tsuna yang tidak siap terlonjak kaget.
"Hibari-san? Ririn-chan?" Tsuna melihat Hibari yang menatapnya tajam dan Ririn yang berada di pangkuannya secara bergantian.
"Urus Chibi-Herbivore itu," Hibari mendesis dengan tatapan dan nada tajam sebelum keluar dari kelas itu.
"Apa! Beraninya dia kurang ajar pada Juudaime! Akan kuledakkan dia!"
"Wa, Gokudera-kun, tidak perlu!"
Tsuna dengan segera menghentikan Gokudera, namun gerakannya berhenti saat merasakan berat di pangkuannya.
"Tsuna-nii," ucap Ririn sambil memeluk leher Tsuna, membuat seluruh siswa di kelas itu yang merupakan fans Ririn melihat Tsuna dengan tatapan iri dan membunuh.
"Err, Ririn-chan, kenapa Hibari-san melemparmu?" Tsuna dengan canggung mengelus kepala Ririn dan menatap gadis itu.
"Entahlah. Sepertinya Ririn membuat Vampire-san marah?" Ririn menatap Tsuna dan Kyoko dengan pandangan bingung.
"Kepalamu benjol," ucap Tsuna saat merasakan ada sebuah benjolan di kepala Ririn.
"Tadi Ririn di jitak Vampire-san karena Nee-chan melarang Vampire-san melukai Ririn,"
'Eeeh! Bukankah kalau kepalamu benjol sama saja dengan terluka?' Tsuna hanya bisa membatin dalam hati.
Gokudera, entah sejak kapan mengambil kursi dan menyuruh Ririn duduk di antara dirinya dan Tsuna.
"Lho, memangnya Miyuki-chan kemana, Ririn-chan?" Kyoko menatap Ririn dengan pandangan bertanya.
"Nee-chan sedang menjalankan misi," jawab Ririn dengan datarnya.
"Misi? Sebagai Pipistrello Nero?" Gokudera menatap Ririn dengan pandangan penasaran.
"Um,"
"Wah, pasti Miyuki-chan sangat sibuk," dengan nada cerianya, Yamamoto tersenyum pada Ririn.
"Pipistrello Nero?" Kyoko menatap Tsuna dengan pandangan bertanya.
"Ah, begini, Kyoko-chan..," Tsuna dengan segera menjelaskan kejadiannya, berhubung Kyoko sudah mengetahui tentang mafia.
"Kalau begitu, selagi di sini. Ririn, bagaimana menurutmu tentang hal ini?"
Entah dari mana, tiba-tiba Gokudera mengeluarkan sebuah buku berisi ritual dan mantera-mantera dengan mata berbinar dan menunjukkannya pada Ririn.
"Ahahaha, Gokudera sangat tertarik pada hal seperti itu ya," Yamamoto tertawa melihat reaksi temannya yang kelewat semangat begitu membahas occult.
"Diam kau Baseball Idiot! Aku sedang bicara!"
Yamamoto hanya membalas teriakan Gokudera dengan tawa ringannya. Akhirnya, sampai bel selesai istirahat berbunyi, Ririn bersama dengan Tsuna, Kyoko, Gokudera dan Yamamoto.
XXXXX
TOK
TOK
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Ririn segera masuk ke dalam ruangan Hibari sambil memeluk Rin. Seperti biasa, Ririn segera duduk di sofa bersama Rin. Tidak lama kemudian Hibird masuk dan hinggap di atas kepala Rin sambil menyanyikan lagu Namimori.
Namun, tidak seperti biasanya, Ririn yang baisa menunggu beberapa jam harus menunggu hingga Hibari selesai mengerjakan tugasnya, membuat Ririn menjadi bosan. Tetapi, mengingat perintah Miyuki, Ririn berusaha menjadi anak baik dan hanya bermain dengan Rin, Hibird, dan Roll. Setelah beberapa jam berlalu dan langit menjadi gelap, Hibari merapihkan berkasnya dan menutup laptopnya.
Hibari menatap Ririn sekilas sebelum berjalan menuju pintu. Seakan mengerti arti tatapan Hibari, Ririn berdiri dari duduknya sambil membawa tas dan Rin, Roll kembali ke gelang Hibari. Hibari hanya diam, tidak mengatakan sepatah katapun walaupun mereka sudah berada di luar gedung sekolah.
Tiba-tiba Hibari berbelok di sebuah perempatan yang bukan mengarah ke rumahnya. Ririn hanya mengikuti Hibari dalam diam tanpa mengatakan apapun. Hibari tiba-tiba memasuki salah satu toko ramen yang segera diikuti oleh Ririn.
"Selamat dat-," suara si pegawai toko berhenti ketika melihat sang 'Setan Namimori'.
Seketika suara ramai di toko itu berhenti begitu melihat siapa orang yang baru saja masuk di toko itu.
"A-ah, Hibari-san, mari saya antar ke tempat anda yang biasa," pegawai itu dengan sedikit gemetar membawa Hibari ke sebuah meja di sudut toko yang sedikit sepi, diikuti Ririn.
Semua mata memandang Ririn dengan penasaran, menebak-nebak siapa gerangan gadis imut dan manis seperti boneka yang mengikuti orang yang paling ditakuti di Namimori.
"A-anu nona, hewan peliharaan…," kata-kata pegawai itu langsung berhenti ketika merasakan tatapan menusuk dari Hibari.
"Kenapa?" Ririn menatap pegawai toko itu dengan datar.
"A-ah, tidak, tidak ada apa-apa," pegawai itu langsung memberikan buku menu pada Ririn dan Hibari.
"Si-silahkan memanggil saya kalau anda mau pesan," ucap pegawai itu dengan gugup sebelum pergi dengan cepat.
Ririn melihat buku menu itu sekilas dan menatap Hibari yang terlihat memandang buku menu itu dengan tatapan datar, terkesan bosan dan kembali menatap buku menunya. Setelah beberapa saat, Ririn memanggil pegawai yang tadi.
"Mau pesan apa?" ucap pegawai itu, berusaha terlihat ramah dengan senyum yang dipaksakan dan suara yang agak tercekat.
"Ririn mau ini," ucap Ririn sambil menunjuk salah satu gambar yang ada di buku menu.
"Baik," ucap pegawai itu sambil mencatat pesanannya. "ma-maaf, tuan-," pegawai itu berusaha terlihat tenang yang sayangnya sama sekali gagal karena suaranya bergetar dan mengecil juga senyumnya mulai memudar saat akan bertanya pada Hibari yang menatapnya tajam.
Pegawai itu mulai berkeringat dingin dan mulai membuka mulutnya, berniat menanyakan pesanan Hibari, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulut si pegawai karena Hibari menatapnya dengan tajam.
"Vampire-san pesan yang ini," ucap Ririn, membuat perhatian si pegawai teralihkan.
Si pegawai menatap Ririn dengan pandangan berterima kasih, lalu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan segera mencatat pesanan itu lalu pergi sambil menggumamkan sesuatu lagi dengan cepat. Hibari mengabaikan si pegawai dan menatap Ririn dengan alis terangkat.
"Vampire-san memperhatikan menu itu, Ririn kira Vampire-san mau makan yang itu. Ririn salah?" ucap Ririn sambil sedikit memiringkan kepalanya mengetahui arti tatapan Hibari.
Hibari tidak mengatakan apapun dan ekspresinya menjadi datar walau sebenarnya dia sedikit terkejut. Untuk orang lain, Hibari pasti terlihat hanya menatap tajam buku menu itu. Selama ini hanya Miyuki yang bisa mengetahui apa yang dia maksud. Sebenarnya ada satu orang lagi, tapi Hibari tidak akan pernah mengakuinya. Tidak akan.
"Ririn tidak salah," ucap Ririn lagi begitu Hibari membuang pandangannya ke luar jendela.
Sambil menunggu, Ririn mengelus Rin yang duduk di pangkuannya. Kedua orang itu menunggu dalam diam, mengabaikan pelanggan lain yang berbisik-bisik. Tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Hibari menatap datar makanan Ririn saat melihat apa yang dipesan gadis itu.
"Kenapa?" Ririn menatap Hibari yang memperhatikan makanannya.
Satu set paket ramen anak-anak yang besar mangkuknya setengah dari porsi ramen Hibari. Hibari mengabaikan pertanyaan Ririn dan mulai memakan ramennya. Melihat Hibari mulai memakan ramennya, Ririn juga mulai memakan makanannya. Beberapa daging yang ada pada ramennya dia berikan pada Rin.
Selesai menghabiskan makan mereka dan Hibari membayar makanan, mereka pulang ke rumah. Hibari menyiapkan air untuk mandi sedangkan Ririn mengambil jemuran dan berniat mencuci kotak bekal mereka.
Begitu Ririn selesai melipat baju dan mencuci kotak bekal, Hibari sudah selesai mandi dan Ririn langsung mengambil baju tidurnya dan mandi.
XXXXX
TOK
TOK
Krieet
Hibari mengangkat pandangan dari laptopnya saat mendengar suara ketukan dan Ririn masuk ke dalam kamarnya membawa Rin dan tasnya. Dia sedang duduk bersandar di tengah pintu geser menuju teras kamarnya yang terbuka.
Hibari tidak mengatakan apapun ketika melihat gadis berjalan menuju kasurnya. Hibari baru akan membuka mulutnya dan berniat mengusir gadis itu yang sekarang sudah duduk di kasurnya ketika teringat ancaman Miyuki dan akhirnya membiarkan gadis itu.
"Vampire-san," Ririn memanggil Hibari yang tidak ditanggapi. "Vampire-san belum mau tidur?" lanjut Ririn, tahu Hibari mendengarnya.
"Nanti," ucap Hibari cepat.
"Oyasumi," Ririn menganggukkan kepalanya dan mulai masuk ke dalam selimut sambil bergumam.
Rin lebih memilih tidur di dekat kaki Ririn. Ririn tidur dengan posisi menyamping, memperhatikan Hibari yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya dan perlahan tertidur.
Tidak lama kemudian Hibari menutup laptopnya sambil menghela napas kecil. Setelah menyimpan laptopnya dan berjalan menuju kasur, dia mengernyitkan dahinya melihat Ririn yang tidur, namun mengabaikannya dan naik ke kasur, tidur tanpa mepedulikan Ririn di sisi kasur dan memberi jarak antara dirinya dan Ririn.
XXXXX
Lagi, Hibari mencium wangi lembut susu yang membuatnya merasa nyaman dan merasakan sesuatu yang hangat. Hibari membuka matanya dan lagi-lagi melihat sekumpulan rambut hitam. Hibari langsung terjaga sepenuhnya dan, sekali lagi, menemukan dirinya tidur sambil memeluk Ririn.
Hibari mengernyitkan dahinya dan mengubah posisinya menjadi duduk. Hibari hampir menendang gadis itu lagi karena berani melanggar wilayahnya kalau tidak sadar bahwa dirinya yang bergerak memeluk Ririn.
Hibari kembali mengernyitkan dahinya heran saat melihat tempatnya berada sebelum tidur lumayan jauh dari Ririn dan dia bukan tipe orang yang bergerak dalam tidur. Hibari melihat jam di ponselnya dan menghela napas pendek. Dia beranjak dari kasur dan meraih laptopnya, berniat melanjutkan tugasnya daripada melanjutkan tidurnya.
Hibari menghentikan gerakannya sesaat dan melihat Ririn yang masih tertidur beberapa saat dan Rin yang entah sejak kapan tidur di sebelah keranjang Hibird setelah itu melanjutkan kegiatannya.
Beberapa saat kemudian, Ririn terbangun dan menatap Hibari yang sedang mengetik di laptopnya sebelum beranjak keluar dari kamar Hibari membawa tasnya. Tidak lama setelah Ririn keluar dari kamarnya, Hibari berniat bersiap-siap dan mengeluarkan seragamnya dari lemari saat selembar kertas jatuh.
Hibari mengambil kertas itu dan memasang wajah datar begitu selesai membacanya. Dengan tidak peduli dia membuang kertas itu dan melanjutkan aktivitasnnya.
XXXXX
Hibari menahan dirinya untuk me-kamikorosu pada gadis berwajah datar di hadapannya saat melihat sarapan di hadapannya. Roti bakar dengan keju dan selai cokelat yang di buat mirip wajah Winnie The Pooh si beruang penyuka madu.
Hibari segera menumpuk rotinya dan memakan sarapannya tanpa banyak bicara. Sekali lagi, suasana makan pagi itu sangat sepi. Begitu mereka selesai sarapan dan Ririn mencuci piring kotor makan mereka, Hibari memberikan isyarat agar Ririn segera mengikutinya.
Hibari mendengus kecil melihat Ririn mengikuti langkahnya kakinya yang panjang dengan kaki kecilnya sambil menggendong Rin dengan setengah berlari. Kalau bukan karena surat peringatan kedua dari Miyuki untuk menyuruh Hibari pergi sekolah bersama Ririn, Hibari sudah pergi dari tadi meninggalkan gadis kecil itu.
Hibari mengabaikan Ririn yang mengikutinya setengah berlari dan terus berjalan menuju sekolah. Tiba-tiba saat melewati sungai, Hibari tidak merasakan langkah kecil yang sejak tadi mengikutinya. Hibari menghentikan langkahnya dan dahinya berkerut saat melihat Ririn sudah berada di bawah, di samping sungai, mengamati sebuah kotak kardus yang terhanyut.
Hibari menggerutu pelan dan menghampiri Ririn yang sudah berjongkok di sebelah sungai dan Rin yang menggongong di sebelahnya.
"Woof! Woof!"
"Chibi-Herbivore, apa yang kau lakukan?" Hibari mengangkat kedua alisnya ketika Ririn sedang membuka kaus kakinya.
"Ririn mau ambil itu," ucap Ririn sambil menunjuk kardus yang tersangkut di batu.
"Miiw! Miaw!"
Hibari menajamkan pandangannya dan melihat tiga ekor anak kucing di dalam kardus. Pandangannya kembali teralih ke arah Ririn dan Rin yang menarik celana Hibari dan menggonggong.
"Woof! Woof!" Rin menggelengkan kepalanya sambil memutari Ririn.
"Chibi-Herbivore, kau bisa berenang?" Hibari mencoba menerka maksud Rin yang terlihat menarik baju majikannya.
"Tidak. Ririn tidak pernah berenang sebelumnya," jawab Ririn sambil berdiri dan berniat melompat ke dalam sungai saat sebuah tangan menahan tubuhnya.
"Aku tidak mau ada murid Nami-High yang mati konyol," ucap Hibari datar sambil mengangkat Ririn dan meletakkannya agak jauh dari sungai.
Hibari mengeluarkan tonfanya dan rantai yang ada di belakang tonfanya, setelah itu melempar rantai itu hingga menembus kardus dan menarik kardus itu hingga ke tepi. Ririn segera menghampiri Hibari yang sedang mengeluarkan anak-anak kucing itu dari dalam kardus yang basah.
"Vampire-san hebat, terima kasih," ucap Ririn tulus sambil mengeringkan bulu anak-anak kucing itu dengan sapu tangan yang di bawanya.
"Kenapa berterima kasih padaku?"
"Karena kalau Vampire-san tidak menolongnya, Ririn akan menolongnya walaupun Ririn tidak bisa berenang," jawab gadis itu.
Hibari hanya diam menatap Ririn, lalu berdiri tiba-tiba.
"Chibi-Herbivore, cepat pergi atau kita terlambat," ucap Hibari sambil berjalan.
"Um," Ririn menganggukkan kepalanya walaupun Hibari tidak bisa melihatnya.
Setelah itu Ririn menggendong Rin dan melambaikan tangan kepada anak-anak kucing itu sambil mengikuti Hibari.
XXXXX
Hibari sedang duduk di atap sekolah, beristirahat dari tugas-tugasnya sebagai ketua komite kedisiplinan dan pemilik The Foundation. Tiba-tiba dia melihat sebuah sosok di depan gerbang. Hibari melompat dari tempatnya duduk dan segera menghampiri orang yang memasuki daerah Namimori itu.
"Ada keperluan apa?" tanya Hibari tanpa basa-basi pada seorang nenek yang terlihat menggenggam sebuah payung.
"Ah, maaf, saya Tachibana, mau mengembalikan payung ini pada Ririn-chan," ucap Tachibana-baa-san sambil tersenyum ramah.
Hibari mengambil payung yang di berikan nenek itu dan melihat ada sebuah kertas berlapis plastik yang terdapat tulisan 'RIRIN-CHAN, 1-A NAMI-HIGH'. Hibari segera mengenal tulisan rapih dan indah milik adiknya.
"Kemarin Ririn-chan membantu saya membawakan barang dan kehujanan sampai ke halte saat mau menemui cucu saya yang baru melahirkan, padahal dia mau sekolah dan saat itu hujan bertamabah deras. Ririn-chan benar-benar anak yang baik karena mau menolongku yang sudah tua ini, padahal orang lain berpura-pura tidak melihat atau hanya memperhatikan dengan tatapan simpati tanpa membantu saya," lanjut Tachibana-baa-san
Setelah itu, Tachibana-baa-san pamit kepada Hibari, meninggalkan Hibari yang memandang payung dalam genggamannya sebelum kembali ke ruangannya.
XXXXX
TOK
TOK
Kriet
Ririn membuka pintu ruangan Hibari sambil memeluk Rin dan membawa kotak bekalnya. Melihat tidak ada siapa-siapa di ruangan itu, Ririn memilih duduk di sofa yang biasa dia duduki. Ririn terdiam sambil menatap kotak bekalnya sambil mengelus Rin yang bersuara pelan melihat majikannya dengan tatapan kosongnya.
Ririn tiba-tiba berdiri sambil memeluk Rin dan membawa kotak bekalnya yang masih terbungkus rapih dan keluar dari ruangan itu.
XXXXX
Hibari sedang melakukan patroli di lingkungan Nami-High dan sudah menyuruh Kusakabe untuk mengurus beberapa hal terkait The Foundation. Alasan sebenarnya adalah, dia tidak ingin bertemu dengan Ririn.
Tanpa sadar, Hibari menghela napas berat mengingat gadis kecil berwajah datar itu. Entah kenapa, apapun yang dilakukan Ririn berhasil membuat Hibari merasa berkali-kali lipat lebih lelah dibandingkan biasanya dan membuat kepalanya berdenyut sakit. Lama-lama bersama gadis itu membuatnya stress.
Setidaknya, dia ingin sedikit menenangkan diri dan menjauh dari gadis yang selalu membuat kesabarannya kacau. Hibari merutuki nasibnya dan adiknya yang menyuruhnya menjadi babysitter Ririn.
"Grr! Woof! Woof!"
Saat sedang memikirkan hal itu, Hibari mendengar suara gonggongan yang familier di telinganya. Hibari berbelok dan melihat ada seorang siswa, berdiri di depan seorang gadis yang tengah berbaring di bawah pohon.
Di depan siswa itu, ada seekor anak anjing yang menggonggong dengan kencang, seakan berusaha melarang siswa itu mendekati gadis yang sedang tidur.
"Berisik!" siswa itu memegang bagian leher anjing itu dan melemparkannya ke belakang tanpa mempehatikan ke mana dia melempar si anak anjing.
Hibari yang melihat Rin terlempar ke arahnya menangkap bayi serigala itu dengan mudahnya. Rin bersura pelan sambil menatap Hibari, seakan berterima kasih. Hibari lalu melihat siswa tadi dan mengernyit tidak suka dan ada perasaan marah ketika melihat siswa tadi sudah berlutut dan menyentuh rambut Ririn.
Siswa tadi lalu mencondongkan badannya ke arah Ririn dan Hibari segera tahu apa yang siswa itu akan lakukan pada Ririn. Seakan ada sesuatu di dadanya yang membuatnya merasa marah kesal dan tidak suka melihat kejadian itu. Tanpa sadar, ekspresi wajahnya mengeras.
DUAK
"AARRGGH!"
Seketika, siswa tadi memegang hidungnya yang berdarah karena wajahnya baru saja dihantam oleh sebuah tinju yang sangat keras.
"Berani kau melakukan perbuatan mesum di sekolah ini, kamikorosu," ucap Hibari dengan tatapan mata setajam pisau dan suara sedingin es, siap membunuh orang di hadapannya.
"A-A-MA-MAAAF!" teriak siswa tadi dengan suara sengau karena darah masih menetes dari hidungnya sambil lari dari tempat itu dengan cepat.
Hibari menatap tajam ketika siswa tadi berlari dengan cepat dan mengalihkan pandangannya pada sosok gadis yang terlihat tanpa dosa tidur di bawah bayangan pohon. Hibari menatap sosok gadis itu dengan perasaan kesal dan marah.
Bisa-bisanya dia tidur di tempat seperti ini, tidakkah dia sadar banyak siswa yang mengincarnya? Namun, setelah mengingat sikap naif dan tidak tahu apa-apa Ririn, Hibari hanya bisa menghembuskan napas dengan kasar dan berjongkok di sebelah Ririn. Dia menjadi bingung dengan dirinya karena tidak mengerti kenapa bisa merasa semarah itu.
"Woof!"
Hibari melihat Rin yang menggoyangkan ekornya sambil menatapnya, seakan mengatakan terima kasih.
"Kerjamu bagus sebagai kesatria, kecil," ucap Hibari sambil tersenyum dan mengelus Rin yang membuat anjing itu menggonggong senang.
Hibari lalu kembali mengalihkan perhatianya pada Ririn yang masih tertidur dengan nyenyak, tidak terganggu sedikitpun oleh semua kejadian tadi. Dia merasa kesal dan ingin membangunkan serta memarahi gadis itu, tetapi mengingat betapa heavy sleeper-nya Ririn, dia menahan diri. Pandangan Hibari lalu mengarah ke pangkuan Ririn dimana ada kotak bekalnya.
Tidak ingin kejadian tadi terulang, Hibari berniat membawa Ririn ke ruang komite kedisiplinan ketika mengambil kotak bekal gadis itu dan merasakan isinya terasa berat. Hibari menunda niatnya dan membuka kotak bekal itu.
Hibari mengernyit bingung ketika melihat kotak bekal yang besarnya setengah dari kotak bekal miliknya masih terisi penuh, belum tersentuh sedikitpun. Dia kembali menutup kotak bekal milik Ririn dan menatap gadis itu sebelum menggendongnya bridal style dan sedikit terkejut dengan tubuh Ririn yang sangat kecil dan ringan.
Ririn memang memiliki postur tubuh kecil seperti anak-anak, tetapi tubuh kecil itu terasa lembut. Seperti bayi. Kecil, mungil dan lembut. Hibari yakin bisa menghancurkan tubuh kecil itu dengan mudah. Seakan tersadar dengan pikirannya, dia kembali memfokuskan diri. Dia menatap Ririn sekilas sebelum membawanya ke ruang komite kedisiplinan, diikuti Rin. Dia sama sekali tidak mempedulikan tatapan para murid yang menatapnya dengan terkejut dan penasaran.
XXXXX
Hibari memasuki ruang komite kedisiplinan dan berjalan menuju sofa untuk meletakkan Ririn di sana. Setelah meletakkan Ririn di sofa, Hibari tidak beranjak dari depan sofa dan menatap wajah polos Ririn yang tertidur.
Hibari menatap lekat-lekat wajah Ririn dan teringat saat mereka pertama kali bertemu. Mata dan tubuh yang bersinar berwarna perak. Beberapa helai rambut jatuh menutupi wajah Ririn. Hibari menatap rambut hitam Ririn yang terlihat pekat. Walaupun sejak kemarin setiap terbangun dia melihat surai hitam itu, tidak pernah sekalipun dia benar-benar memperhatikannya.
"Karena...terlihat nyaman?"
Entah kenapa, kata-kata yang pernah Ririn katakan sebelumnya terngiang di benak Hibari. Tangan Hibari tanpa sadar terangkat dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Ririn. Hibari dapat merasakan wajah Ririn yang lembut dan halus, juga rambutnya.
Hibari memperhatikan rambut hitam Ririn dan mengelusnya, menggenggam rambut panjang itu dan membiarkannya berjatuhan dari sela-sela jarinya. Berbeda dengan rambut Miyuki yang terasa halus, rambut Ririn terasa lembut. Tercium wangi lembut susu, entah wangi shampo yang dipakainya atau apa.
"Little Angel," Hibari menggumam tanpa sadar.
Hibari terus mengelus dan memainkan surai hitam itu sambil menyandarkan wajahnya pada satu tangannya, tidak menyadari gerakan kecil dari Ririn.
"Hnn, Vampire-san?" Ririn menggumam kecil begitu melihat wajah Hibari yang berada di jarak yang sangat dekat dengannya ketika dia membuka matanya.
Hibari membatu sesaat saat menyadari apa yang dilakukannya. Dia mengalihkan pandangannya dari surai hitam Ririn dan tatapannya bertemu dengan mata silver Ririn. Mata yang memancarkan sedikit kebingungan dan kepolosan.
Hibari baru sadar saat melihat mata silver Ririn dari jarak sedekat itu kalau ada sedikit warna biru samar yang tercampur pada mata Ririn. Namun, pikiran itu hilang ketika Ririn mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ne, kenapa Vampire-san memegang rambut Ririn?"
Dan Hibari lupa kalau dia masih menggenggam rambut milik Ririn. Dia melepaskan genggamannya dari rambut Ririn dan menatap wajah gadis itu yang menatapnya polos.
"Ririn mengerti," ucap Ririn setelah tidak mendapatan jawaban dari Hibari yang hanya menatapnya tanpa berkata apapun. "Ririn tahu alasan Vampire-san memegang rambut Ririn. Ririn juga pernah mengelus rambut Vampire-san," ucap Ririn.
Hibari kembali teringat saat Ririn pernah mengelus rambutnya saat dia sedang tidur beberapa waktu yang lalu. Hibari hanya mendengus dan berdiri, berniat menuju meja kerjanya sebelum teringat sesuatu.
"Chibi-Herbivore, kau dilarang tidur sembarangan di area sekolah. Apa yang kau lakukan, tidur di halaman belakang?" Hibari menatap Ririn dengan mata yang dipicingkan.
"Ririn sedang menatap langit," jawab Ririn dengan polos.
Hibari mengangkat sebelah alisnya, menyuruh Ririn melanjutkan kata-katanya.
"Langit itu seperti Vongola," ucap Ririn sambil menatap langit di luar jendela. "Tsuna-nii adalah langit yang menopang semuanya dan guardian yang membantu Tsuna-nii. Berbeda dengan Storm, Thunder, Rain, Mist, dan Sun Guardian, Sky dan Cloud Guardian akan selalu ada. Baik siang atau malam, baik hujan atau berkabut," ucap Ririn sambil menatap langit di luar jendela, tanpa sadar Hibari mengikuti arah pandang Ririn dan melihat langit di luar.
"Ririn suka awan yang bergerak dengan bebas dan tidak terikat. Berjalan sesuai keinginannya sendiri," lanjut Ririn yang membuat Hibari menatap gadis itu.
Hibari mengingat cerita Dino tentang Ririn yang dulu selalu terkurung di ruangan dan dijadikan kelinci percobaan. Tiba-tiba suara bel istirahat selesai membuyarkan pikiran Hibari.
"Ririn harus kembali ke kelas," ucap Ririn sambil berdiri dari sofa dan mengambil kotak bekalnya di meja.
"Kotak bekalmu,"
Ririn menghentikan langkahnya mendengar suara Hibari. Dia membalikkan badannya dan menatap Hibari dengan pandangan bertanya.
"Kenapa tidak kau makan?"
"Karena," Ririn menundukkan kepalanya menatap kotak bekalnya. "Ririn tidak suka makan sendirian. Rasanya tidak enak," lanjut Ririn, masih menundukkan kepalanya.
Hibari menatap Ririn yang menundukkan kepalanya dengan alis terangkat. Dia mirip seperti anak kecil yang ditinggalkan orang tuanya dan merasa kesepian. Ririn yang tidak mendengar Hibari mengatakan apapun kembali berjalan menuju pintu.
"Chibi-Herbivore, kau dilarang tidur sembarangan di area sekolah," ucap Hibari sebelum Ririn keluar dari ruangan itu.
"Um," Ririn menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Hibari hanya bisa melihat tangannya begitu Ririn keluar dari ruangan itu. Dia tidak tahu apa yang membuatnya melakukan hal tadi. Dia teringat surat dari Miyuki kemarin yang melarang Hibari membiarkan Ririn sendirian, dan sekarang Hibari mulai mengetahui alasannya.
Hibari berjalan menuju kursinya dan menghela napas kasar, merasa lelah. Dia harus siap menjadi babysitter selama beberapa hari ke depan. Hibari hanya menatap awan dari jendela sebelum mulai mengerjakan pekerjaannya.
XXXXX
Begitu bel pulang berbunyi, Ririn segera mencari Rin di sekitar halaman sekolah seperti biasa. Tidak lama kemudian, Ririn berhasil menemukan Rin di dekat lapangan baseball.
"Rin," Ririn memanggil Rin yang sedang memainkan bola yang terabaikan di pinggir lapangan.
"Woof!" Rin segera menghampiri Ririn dengan ekor bergoyang.
"Take-senpai," gumam Ririn melihat Yamamoto sedang berlatih memukul di lapangan.
Untuk beberapa saat, Ririn memperhatikan Yamamoto sebelum meninggalkan lapangan itu.
ZRRASH
XXXXX
Hibari baru selesai 'mendisiplinkan' beberapa siswa yang berani merokok di lingkungan sekolah ketika lewat di dekat lapangan bola dan tidak sengaja melihat Ririn.
"Hei, lihat, itu Ririn-chan!"
Hibari yang berada di balik pohon bisa mendengar suara seorang siswa.
"Ah, benar! Imutnya!"
"Hei, seragam musim panaskan tipis bagaimana kalau kita siram?"
Seorang siswa berkata dengan jahilnya.
"Eh? Tapi kasihan Ririn-chan kalau sampai sakit,"
"Tenang, kita pinjamkan saja jaket kita, dengan begitu kita bisa lebih dekat dengan Ririn-chan,"
"Benar juga. Lagipula Ririn-chan tidak akan marah,"
Hibari mengerutkan dahinya mendengar perkataan mereka. Dia baru berniat mengancam siswa-siswa itu ketika terdengar suara siraman air.
"Maaf! Kami benar-benar tidak sengaja!"
Siswa yang tadi mengusulkan untuk menyiram Ririn entah sejak kapan memegang selang dan merupakan orang yang menyiram Ririn. Air masih mengalir dari selang yang dipegang oleh siswa itu ketika dia meminta maaf kepada Ririn.
Ririn menatap mereka dengan wajah datar, tidak menunjukkan ekspresi terkejut ataupun marah sedikitpun.
"Tidak apa," ucap Ririn sambil menurunkan Rin dari pelukannya.
Tiga siswa itu langsung menatap seragam semi-transparant Ririn dengan tampang mesum. Rin berjalan ke arah mereka bertiga dan mengibaskan bulunya yang basah ke arah mereka dengan angkuh.
"Hei!"
Seru salah satu dari mereka sambil berusaha menutupi wajah mereka dari air yang dikibaskan Rin walaupun tidak membantu. Hibari melihat Rin sambil tersenyum kecil.
"Herbivore, kalian membuat basah koridor, kamikorosu," ucap Hibari tiba-tiba sambil berdiri di hadapan ketiga siswa itu.
Ketiga siswa tadi langsung terlonjak kaget melihat sang ketua komite kedisiplinan tiba-tiba berdiri di belakang mereka lengkap dengan tonfa di kedua tangannya. Mereka lupa telah membuat koridor penghubung basah saat menyiram Ririn dan mereka akan mendapat konsekuensinya.
"Vampire-san," Ririn menatap Hibari yang balas menatapnya sesaat. "uph," Ririn lagi-lagi hanya bisa menerima jaket yang dilempar Hibari dengan asal menutupi wajahnya.
"HUAAA!"
"AAAA!"
Dalam waktu kurang dari satu menit, Hibari sudah membuat ketiga siswa tadi terbaring di tanah, dalam keadaan tidak sadar.
"Hmp," Hibari mendengus sambil menyimpan tonfanya begitu selesai 'mendisiplinkan' siswa-siswa itu.
"Vampire-san, jaketmu," Ririn baru berniat menyodorkan jaket Hibari ketika Hibari menatapnya tajam.
"Pakai itu,"
"Tapi nanti jaket Vampire-san basah,"
Hibari hanya menatap Ririn, bukan dengan tatapan membunuhnya, tetapi tatapan memperingatkan. Beberapa hari bersama Ririn, Hibari sadar tatapan membunuh ataupun marahnya tidak akan berpengaruh pada gadis itu.
"Padahal Ririn tidak masalah dengan baju basah ini," ucap Ririn sambil memakai jaket Hibari, mengerti arti tatapan Hibari.
Hibari melihat sekeliling mereka dan sebagian siswa mendesah kecewa karena 'tontonan' mereka baru saja selesai. Hibari nyentuh dahinya lelah, sadar kalau gadis di hadapannya sama sekali tidak sadar dan tidak peduli pada seragamnya yang transparant.
"Vampire-san, ini terlalu besar,"
Hibari kembali menatap gadis di hadapannya yang membuat beberapa siswa yang masih di sana dan beberapa siswi memekik gemas. Ririn terlihat sangat moe dengan jaket Hibari yang jatuh di atas lutunya dan lengan baju yang sangat panjang.
Sekali lagi, Hibari hanya bisa memaki di dalam hati karena sepertinya efek yang ada adalah sebaliknya. Hibari melemparkan tatapan tajam pada siswa-siswi yang ada di dekat mereka, dan siswa-siswi itu segera berjalan cepat, menghindari tatapan Hibari.
"Chibi-Herbivore, kancingkan jaketnya dan lipat lengan bajunya. Kita pulang," ucap Hibari sambil memutar badannya.
Dia tidak berniat berlama-lama di tempat itu, dan mengingat seragam Ririn basah, dia tidak mau menanggung akibat berurusan dengan Miyuki jika Ririn sakit. Setidaknya, tidak Miyu atau Miyuki.
Ririn hanya menganggukkan kepalanya dan dengan patuh mengancingkan jaket Hibari dan melipat lengan jaketnya. Hibari melihat dari ekor matanya, penampilan Ririn sama sekali tidak membantu karena membuatnya terlihat seperti anak SD yang sedang cosplay menjadi moe begitu.
Hibari hanya bisa menghela napas lelah dan berjalan menuju rumah, diikuti oleh Rin. Hibari berharap adiknya pulang dengan cepat, karena sekarang dia sadar dia tidak akan bisa meninggalkan gadis itu sendirian. Atau tidak boleh, jika tidak ingin kena masalah.
To be contiune….
XXXXX
Oyasumi : selamat tidur
Obaa-san/baa-san : nenek/ tante/bibi (untuk memanggil perempuan yang jauh lebih tua seperti ibu-ibu atau nenek-nenek)
Moe: imut/menggemaskan (imut seksi(?) )
Minna, maaf Sacchan lama update!
Sesuai janji, Sacchan membuat chapter ini Hiba-Ririn, tapi entah kenapa Sacchan merasa ini kurang greget walau banya fanservicenya -_-
Untuk chapter berikutnya, karena ada request sepertinya saya akan membuat chapter depan chapter Miyuki yang sedang menjalankan misi
Sacchan baru sadar ini word sampe 6 rb lebih, kalo ada yang keberatan sama gaya nulis Sacchan yang kebanyakan tolong saran ya, biar chapter depan nggak banyak-banyak.
Minna, R&R please?
Kritik? Saran? Request? Sacchan terima semua, ayo, anon juga boleh kok!
