Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Zee Cielova : Ahahaha, iya maaf chapter kemarin lama banget, chapter ini juga lama -_-. Sacchan nggak berani buka FF karena mau uts dan baru bisa lanjutin setelah selesai. Sacchan juga ngerasa kurang greget adegan Hiba-Ririnnya, kayaknya karena Hibarinya kurang responsif sama Ririn. Untuk selanjutnya Saccchan akan bikin adegan yang lebih greget deh!
Cocoa2795 : Iya nih Cocoa-san :) . tenang aja, nanti bakalan ada fan service lagi kok di beberapa chapter ke depan ;)
Hikage Natsuhimiko : Hika-san, maaf baru update . karena chapter kemarin Sacchan bikin banyak fan servicenya, makanya Sacchan kasih warning, sepupu Sacchan yang baca ini soalnya teriak-teriak terus, tapi untung itu di kamar Sacchan, jadi yang nganggap dia aneh cuma Sacchan sendiri dan dia bilang kasih warning biar readers setia bisa jaga image dan nggak senyum-senyum + teriak-teriak sendiri. Untuk kata-kata Ririn waktu Hibari pegang rambutnya, itu nggak ada niat jahat kok, pure karena Ririn emang kelewat polos. Untuk beberapa chapter selanjutnya Sacchan bakal bikin Miyu waktu lagi menjalankan misi.
Yukishiro Seiran : Seiran-san, arigatou ne, dukungannya. Maaf Sacchan baru bisa update sekarang karena nggak berani buka FF mendekati uts -_-". Sesuai janji Sacchan chapter ini chapter Miyuki, tapi Dino baru muncul di chapter depan. Kalau Sacchan ada waktu, Sacchan akan segera mengupdate chapter selanjutnya, mohon ditunggu karena Sacchan berencana memasukkan romance diantara mereka!
Minna, selamat menikmati~
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Miyu-chan In Mission
.
.
.
Varia HQ, Italia
"Miyu-chan~ selamat datang," Lussuria langsung menggenggam tangan Miyuki begitu Miyuki memasuki mansion besar itu.
"Luss-nee, aku datang lagi," Miyuki tersenyum sambil ikut menggoyang-goyangkan tangannya.
"Ushishishi, menjijikan," Bel yang berdiri di belakang Lussuria tertawa mengejek karena mereka berdua seperti dua cewek yang lama tidak bertemu.
Sebenarnya yang menjijikan hanya Lussuria, tapi Lussuria dan Miyuki seakan tuli tidak mendengarkan kata-kata Bel dan mengabaikannya.
"Hei, dengarkan Pangeran!" Bel melemparkan pisaunya yang dengan mudah dihindari Lussuria dan Miyuki.
"Ne, kok sepertinya sepi, yang lain tidak ada ya?" Miyuki mengalihkan pandangannya ke sekeliling mansion besar itu.
"Fran-kun sedang pergi menjalankan misi bersama Squa-chan, Levi menemani Boss ke HQ untuk mengurus beberapa hal dan Mammon pergi menjalankan misi sendirian," jelas Lussuria.
"Hmm, baiklah. Kalau begitu karena aku ada misi, aku pergi dulu," ucap Miyuki sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu depan.
"Mou, baru datang sudah mau pergi lagi? Tumben kau tidak mencari anak itu," Lussuria meletakkan berkacak pinggang, seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.
"Ada hal lain yang mau kukerjakan, jadi aku ingin menyelesaikan misi kali ini dengan cepat. Tenang saja, sebelum kembali ke Jepang aku pasti akan menemuinya," Miyuki tersenyum pada Lussuria sambil melambaikan tangannya.
"Ne, Pangeran bosan, biar Pangeran bantu," ucap Bel sambil melipat tangannya di belakang kepala.
"Tapi misi kali ini tidak ada pertarungan, hanya meneliti. Kamu juga tidak boleh melukai orang-orang di sana,"
"Shishishi, kedengarannya membosankan, Pangeran tidak jadi ikut,"
"Seenaknya sekali," Miyuki mengerutkan dahinya sambil tersenyum dengan nada menyindir.
"Tentu saja, karena aku adalah Pangeran," balas Bel dengan seringainya.
"Ya, ya, terserah. Aku pergi dulu," ucap Miyuki sambil melambaikan tangannya dan pergi.
"Hati-hati, Miyu-chan~," Lussuria ikut melambaikan tangannya pada Miyuki.
XXXXX
"Uwaah, hancur berantakan~," Miyuki menggumam dengan nada takjub yang agak dibuat-buat dan sedikit seringai melihat mansion Shimon Famiglia yang tidak sebesar mansion Vongola hancur sekitar seperempatnya.
Miyuki mengamati mansion itu dari langit yang diterangi cahaya bulan dan memperhatikan beberapa pekerja yang sedang membangun kembali mansion itu. Dari penampilan luarnya, kelihatannya mansion itu dihancurkan setengahnya dan sudah diperbaiki sehingga masih seperempat bagian yang rusak.
Miyuki memutuskan untuk masuk dan terbang menuju pintu depan mansion itu. Miyuki menghentikan gerakannya ketika merasakan aura membunuh dan sesuatu terbang ke arahnya.
"Penyusup!"
Miyuki menolehkan kepalanya, melihat asal suara dan orang yang melempar senjata tadi. Ternyata senjata yang dilempar tadi adalah sebuah kipas besi dan yang menyerangnya adalah Adelheid.
"Suzuki-senpai, aku bukan penyusup," Miyuki terbang menuju Adelheid yang memasang posisi siaga dan menatapnya tajam.
"Siapa kau?" Adelheid menatap Miyuki yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Ada ribut-ribut apa ini?" Julie tiba-tiba keluar dari mansion bersama Enma dan Aoba.
"Ada penyusup!" Adelheid menunjuk Miyuki yang berdiri di hadapannya dengan kipasnya.
"Mou, aku bukan penyusup!" Miyuki mengibaskan tangannya, menyangkal perkataan Adelheid sambil menghilangkan sayapnya. "Ah, Kozato-senpai!" Miyuki langsung menatap Enma dengan senyum lebar di wajahnya.
"Kamu," Enma menatap Miyuki dengan tatapan terkejut. "Adik Hibari, Miyuki-san?" Enma menatap Miyuki dengan tidak yakin.
"Ya, aku adik Kyo-nii, Cloud Guardian Vongola!" Miyuki dengan riang membenarkan kata-kata Enma.
"Apa? Orang seperti itu punya adik semanis ini?" Julie mendekati Miyuki dengan pandangan menilai.
"Hah? Adik dari orang mengerikan itu?" Aoba menatap Miyuki dengan mata dipicingkan.
BUGH
"Walaupun kamu adik dari Cloud Guardian, untuk apa kamu ke sini?" tanya Adelheid curiga setelah memukul Julie yang menatap Miyuki dengan tatapan genit.
"Kalian tidak tahu walaupun sudah melihat penampilanku?" Miyuki merentangkan tangannya sambil menatap Adelheid.
"Penampilan itu…Pipistrello Nero?" Enma menatap Miyuki dengan kaget.
"Benar!" Miyuki mengacungkan jempolnya pada Enma sambil tersenyum.
"Pipistrello Nero…informan rahasia yang itu?" Adelheid menatap Miyuki dengan pandangan tidak percaya.
Pipistrello Nero yang dia dengar sebagai informan terhebat yang pernah ada adalah seorang gadis, ditambah lagi siswi SMA?
"Aku ke sini untuk membantu Shimon mencari pelaku penyerangan," ucap Miyuki sambil mengeluarkan sepucuk surat dan memberikannya pada Enma.
"Ini surat dari Reborn," ucap Enma setelah membaca surat itu.
"Percuma kau datang kemari, kami tidak menemukan bukti apapun tentang pelaku penyerangan itu," ucap Adelheid pada Miyuki.
"Tidak, aku pasti akan menemukannya," Miyuki membalas perkataan Adelheid dengan penuh percaya diri sambil tersenyum dan tatapan sedikit berkilat.
Melihat tatapan mata Miyuki, Adelheid menyimpan kipasnya dan membalikkan badannya.
"Hmp, baiklah, lakukan saja sesukamu," ucap Adelheid sambil masuk ke dalam mansion sambil menyuruh Aoba menyeret Julie yang pingsan.
"Kamu," Enma menggumam pelan sambil menatap Miyuki.
"Hm?"
"Aura dan sikapmu berbeda dengan saat di sekolah," ucap Enma, membuat Miyuki tersenyum misterius yang membuat Enma terdiam.
"Panggil aku Miyu selama di sini, Kozato senpai~," Miyuki tersenyum ceria sambil menunjuk dirinya, tidak menjawab perkataan Enma.
Setelah itu Enma mengantar Miyuki memasuki mansion itu dan melihat-lihat isinya.
"Maaf tidak sebesar Vongola HQ," gumam Enma lirih.
"Ahahaha, tenang saja, aku juga tidak pernah ke Vongola HQ kok," Miyuki tersenyum ceria pada Enma yang menundukkan kepalanya.
"Eh? Lalu bagaimana kerjamu selama ini? Kukira Pipistrello Nero selalu mendapat tugas dari Kyuudaime?" Enma memandang Miyuki dengan pandangan bertanya saat mereka menuju bagian mansion yang hancur.
"Ya, surat perintahnya memang berasal dari Vongola HQ, tapi semuanya melalui Reborn-san sebagai perantara. Karena, Reborn-san orang yang menjadikanku Pipistrello Nero. Aku sama sekali tidak pernah menemui anggota Vongola lainnya ataupun Kyuudaime, bahkan Kyo-nii tidak tahu aku adalah Pipistrello Nero," jelas Miyuki dengan cerianya.
"Lalu kenapa sekarang kamu menunjukkan jati dirimu kepada kami?"
"Kalau sekarang, Kyo-nii sudah tahu pekerjaanku sebagai informan, jadi tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Lagipula sejak awal aku sudah bilang bekerja untuk Juudaime, jadi Bossku sebenarnya adalah Tsuna-senpai, bukan Kyuudaime,"
"Kudengar selama beberapa kali menjalankan misi kamu memiliki beberapa partner?"
"Ah, itu anggota Varia. Kebetulan sebelum aku menjadi Pipistrello Nero aku sudah mengenal seseorang dari Varia, jadi anggota Varia mengenalku," Miyuki kembali menjelaskan.
Begitu mereka sampai di tempat reruntuhan, mereka melihat Shitt P, Rauji dan Kaoru. Kelihatannya karena Shimon baru mulai berkembang, mereka kekurangan orang sehingga mereka ikut membantu. Setelah perkenalan diri yang singkat oleh Enma dan Shitt P yang langsung pergi entah kemana, Miyuki berjalan-jalan di antara reruntuhan itu sambil mengamati sekeliling.
"Kozato-senpai, aku sudah memiliki informasi tentang garis besar kejadian saat itu. Saat itu seluruh kejadian inti anggota Shimon sedang berada di Jepang. Tiba-tiba gedung bagian selatan diledakkan dan dua puluh penyusup dengan kekuatan aneh memasuki tempat ini. Begitu mereka terkepung, mereka bertingkah gila dan tiba-tiba tubuh mereka bersinar keperakan lalu tewas?"
"Ya,"
"Apa sama sekali tidak ada ciri khas dari mereka?"
"Tidak ada barang yang bisa menjadi bukti dan kamera pengawas rusak, tetapi mereka menggunakan kekuatan yang aneh, berbeda dengan Flame. Mereka menggunakan kekuatan mereka dengan menggunakan darah mereka sehingga sebelumnnya tempat ini dipenuhi darah. Beberapa penjaga mengatakan kalau setelah mereka menusuk diri mereka, mereka menggumamkan sesuatu yang aneh seperti mantera dan beberapa dari mereka mengeluarkan cahaya keperakan dan melukai para penjaga," jelas Enma.
Ekspresi Miyuki langsung berubah saat mendengar kata-kata Enma.
'Cahaya keperakan dan darah? Apa mungkin?'
"Kozato-senpai maaf kalau aku menanyakan hal yang aneh. Tapi, apa itu terjadi saat malam bulan purnama?" Miyuki bertanya pada Enma, tidak menghilangkan nada ceria yang menjadi ciri khasnya.
"Bagaimana kau tahu?" Enma menatap Miyuki dnegan tatapan curiga yang dibalas Miyuki dengan tatapan misterius dan seringai.
"Karena, kemungkinan besar organisasi yang menyerang kalian adalah organisasi yang selama ini sedang dicari oleh Vongola dan Cavallone," jawab Miyuki dengan misterius.
'juga aku, Kyo-nii dan….Ririn-chan,' tambahnya di dalam hati.
"Kozato-senpai, apa yang ada di gedung selatan ini?" Miyuki kembali berjalan sambil melihat-lihat reruntuhan yang sepertinya sudah dirapihkan itu.
"Dokumen-dokumen lama dari keluarga Shimon sebelumnya,"
"Apa ada barang yang hillang?"
"Setelah kami memeriksanya, kami tidak menemukan barang yang hilang,"
"Dokumen-dokumen itu dari mana asalnya? Bukankah mansion ini belum lama dibuat?"
"Dokumen ini diambil dari markas kami sebelumnya di pulau Shimon,"
"Dokumen dari di pulau itu, apa sudah ada sejak zaman Cozarto?"
"Sepertinya begitu,"
Setelah pertanyaan itu, Miyuki terdiam sambil mengamati sekelilingnya. Miyuki menghentikan langkahnya saat berada di tempat yang belum di betulkan dan menatap langit malam.
"Kalian berdua, hari sudah malam, lanjutkan besok. Cepat makan dan istirahat," tiba-tiba Adelheid muncul dan berkata dengan tegas pada Enma dan Miyuki.
"Eh? Aku juga?"
"Tentu saja. Shimon tidak akan menelantarkan tamu yang datang begitu saja," ucap Adelheid sambil membalikkan badannya.
"Ahahaha, Suzuki-senpai baik sekali~," Miyuki tersenyum ceria mendengar kata-kata Adelheid.
"Ap- sudahlah, cepat makan! Aku sudah menyiapkan kamar tamu untukmu," ucap Adelheid dengan wajah sedikit memerah dan meninggalkan mereka.
"Kamu punya keluarga yang baik," Miyuki tersenyum pada Enma begitu Adelheid meninggalkan mereka.
"Ya," Enma menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
XXXXX
Keesokan paginya, Miyuki kembali ke tempat reruntuhan itu seoran diri. Anggota keluarga Shimon yang lain terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Adelheid pergi ke Vongola untuk membicarakan bantuan yang diberikan oleh mereka bersama Julie, sedangkan Aoba dan Shitt P pergi ke tempat Cavallone.
Orang yang masih ada di mansion itu tinggal Kaoru dan Rauji yang mengurus reruntuhan dan Enma yang sejak tadi tidak terlihat. Saat makan malam Miyuki sempat bertanya pada Enma tentang tempat penyimpanan dokumen setelah gedung selatan dihancurkan dan dokumen-dokumen itu disimpan di perpustakaan.
Setelah beberapa lama dia berkeliling di tempat dokumen-dokumen lama, Miyuki menghentikan kegiatannya. Dia mengeluarkan laptop yang dibawanya dan duduk di salah satu meja di perpustakaan itu.
'Mungkinkah dokumen yang mereka cari masih ada di pulau milik Shimon atau sebenarnya di Vongola?' Miyuki membatin sambil membuka data-data di laptopnya.
'Mengingat data yang kudapatkan selama ini, mereka meneliti tentang hidup abadi dan kekuatan tidak terbatas. Kerjasama dengan Estraneo menunjukkan mereka sering melakukan penelitian terlarang dengan manusia. Ditambah dengan para peneliti yang sebelumnya pernah mereka bunuh untuk tutup mulut,'
Miyuki berpikir sambil mengetikkan sesuatu dan membandingkannya dengan data-data selama ini.
'Kekuatan yang digunakan dengan menggunakan darah dan cahaya perak, juga bulan purnama. Pernah menjadi kelinci percobaan di Estraneo Famiglia. Kekuatan khusus dan kemampuan yang special, satu-satunya di bumi ini. Jangan-jangan…,'
"Miyuki-san?"
Tlak
"Kozato-senpai," Miyuki yang kaget langsung menutup laptopnya dan menolehkan kepalanya, melihat Enma berdiri di belakangnya. "aku sudah bilang, panggil aku Miyu," Miyuki mengerutkan dahinya pada Enma dengan nada bercanda.
"Maaf," Enma menundukkan kepalanya pelan. "Miyu, sedang apa kamu di sini?"
"Aku sedang mencari kira-kira apa tujuan mereka menyerang Shimon," ucap Miyuki sambil merapihkan laptopnya. "sepertinya kurang lebih aku mendapatkan sedikit petunjuk. Kozato-senpai, aku mau melihat bagian selatan mansion ini," ucap Miyuki.
Enma menganggukkan kepalanya dan mengantar Miyuki menuju bagian selatan mansion itu. Begitu mencapai bagian selatan, Miyuki berjalan hingga sedikit ke taman dan mengeluarkan Natt.
"Cambio Forma!"
"Flame berwarna hitam? Flame of Night?"
Enma, Kaoru dan Rauji melihat Miyuki dengan tatapan terkejut. Mereka terdiam melihat keanggunan dan kemisteriusan yang dipancarkan oleh Miyuki yang dikelilingi oleh Flame of Night. Miyuki berjalan di ujung lorong mansion yang hancur.
"Ultrsuoni eco!"
Miyuki mengeluarkan semacam gelombang ke dalam mansion itu dan memejamkan matanya.
"He, hei, apa yang kau lakukan pada mansion kami?" Rauji bertanya dengan khawatir melihat jurus yang dikeluarkan Miyuki.
"Aku hanya berusaha mencari petunjuk dengan menggunakan gaung milikku," jawab Miyuki sambil membuka matanya. "baiklah, aku akan melanjutkan berkeliling mansion ini sambil mencari petunjuk itu," ucap Miyuki sambil berjalan ke dalam mansion itu.
"Ah, tunggu!" Enma segera mengikuti Miyuki untuk mengawasi gadis itu.
Sambil berkeliling di mansion itu, Miyuki mengamati Enma yang kurang-lebih mirip seperti Bossnya, hanya saja terlihat lebih muram.
"Kozato-senpai, apa yang kamu lakukan sejak pagi? Aku tidak melihatmu di mansion ini?"
"Aku mencari bantuan dari partner Famiglia yang lain. Aku tidak boleh mengandalkan kebaikan Tsuna yang menjadi temanku saja, aku juga harus berusaha sendiri,"
"Eh? Kalau begitu Kozato-senpai pergi ke HQ Famiglia lain seorang diri?" Miyuki menatap Enma sedikit tidak percaya.
Miyuki cukup yakin kalau Adelheid tidak akan membiarkan hal itu terjadi mengingat sikap over protektif-nya pada Enma.
"Tidak, Boss Famiglia itu menyuruhku pergi ke suatu tempat untuk menemuinya," jawab Enma, entah kenapa terlihat berat saat mengatakannya.
"Eh? Apa pertemuannya tidak berjalan lancar? Sepertinya senpai terlihat murung?"
"Pertemuannya sebenarnya lancar-lancar saja. Hanya saja…," Enma menggantungkan kalimatnya, membuat Miyuki sedikit penasaran. "dia orang yang cukup…unik, sehingga dia menyetujui memberikan bantuan dengan sebuah syarat yang tak bisa kukatakan," gumam Enma lirih, terlihat tertekan.
"Sepertinya Boss itu merepotkan ya," Miyuki menggaruk belakang kepalanya canggung melihat Enma depresi seperti itu.
"Tidak. Sebenarnya dibandingkan syarat yang dia ajukan kepada Famiglia lainnya, syarat ini cukup bisa dilaksanakan dengan akal sehat," ucap Enma sambil menghembuskan napas, sikap tertekan dan depresinya hilang.
'Eh? 'Bisa dilaksanakan dengan akal sehat'? Memangnya dia memberikan syarat seperti apa kepada Famiglia lain?' Miyuki hanya bisa sweatdrop mendengar perkataan Enma.
Merasa tidak enak bertanya lebih jauh, mereka melanjutkan pencarian mereka dalam diam. Hingga malam tiba, Miyuki belum menemukan apa yang dicarinya dan berencana melanjutkan hal itu keesokan harinya.
XXXXX
"Hhh, capek~," Miyuki mengipasi wajahnya dengan tangannya.
Sejak pagi dia melanjutkan pencarian petunjuk, kali ini diikuti oleh Enma dan Adelheid.
"Hmp, sudah kubilang kamu tidak akan menemukannya karena memang tidak ada," ucap Adelheid dengan angkuh.
"Tidak, barang bukti itu ada. Tapi dimana ya? Apa di sana?" Miyuki mengamati salah satu lorong dan mengeluarkan jurusnya.
"Huh, mau dicari dimanapun pasti-,"
"Ketemu!" Miyuki membuka matanya dengan ceria.
"Eh?" Adelheid dan Enma menatap Miyuki dengan tatapan tidak percaya.
"Ada di sana," Miyuki menunjuk sebuah pintu kamar yang terlihat mewah.
"Jangan bercanda kau! Itu kamar Enma!" Adelheid menatap Miyuki dengan tegas sambil mengerutkan dahinya.
"Eh?" Miyuki menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Miyu, barang kau cari itu seperti apa?" Enma tiba-tiba membuka suaranya.
"Sebuah buku yang sangat lama, sepertinya buku yang kamu ambil dari pulau Shimon atau semacamnya karena buku itu berumur ratusan tahun," gumam Miyuki sambil memejamkan matanya, berusaha mengingat gelombang yang dipantulkan tadi.
"Buku dari pulau Shimon? Aku akan mencarinya," ucap Enma sambil masuk ke kamarnya.
Adelheid dan Miyuki menunggu di depan kamarnya dengan sabar. Sepuluh menit kemudian Enma keluar membawa sebuah buku yang terlihat sangat tua.
"Apakah ini?" Enma memberikan buku itu pada Miyuki.
"Iya, buku ini," ucap Miyuki riang begitu menyentuh buku itu.
"Eh? Buku apa itu?" Adelheid melihat buku itu dengan sedikit penasaran.
"Tidak tahu," ucap Miyuki jujur dengan riangnya sambil membuka buku itu.
"Buku diary?" Adelheid dan Miyuki saling berpandangan lalu menatap Enma yang mengadikkan bahunya.
"Ya, itu buku diary milik Cozarto," ucap Enma.
Setelah itu mereka memutuskan untuk pindah ke ruang baca untuk membaca buku itu. Mereka membaca tentang saat Cozarto dan Giotto serta seluruh anggota Vongola ditambah Elena dan seorang gadis bernama Selena sering menghabiskan waktunya dengan akrab, lalu saat Cozarto mengkhawatirkan Giotto hingga saat dia memutuskan hubungan dengan Vongola. Tetapi ada hal yang aneh, beberapa halaman di buku itu terlihat disobek, entah karena apa.
"Hn? Tunggu, kalau kau menemukan buku ini kenapa tiga tahun lalu kau berniat menghancurkan Vongola? Hm~?" Miyuki bertanya kepada Enma dengan senyum ceria tetapi tatapan mata yang berbahaya, membuat Enma sedikit terlonjak dan Adelheid bergidik.
"A-aku baru menemukanya dua tahun lalu saat memindahkan dokumen-dokumen disana!" Enma berkata dengan gugup pada Miyuki.
"Begitu?" Miyuki menganggukkan kepalanya pelan sambil kembali memusatkan pikirannya pada buku di depanya, lalu membuka halaman akhir buku itu.
Ada sebuah foto tertempel di sana. Foto Cozarto, Giotto, seluruh Vongola Guardian saat itu, Elena dan seorang perempuan yang berdiri di samping Alaude. Perempuan berambut hitam legam, namun entah kenapa wajahnya tidak jelas.
"Siapa perempuan ini?" Miyuki menunjukkan foto perempuan yang wajahnya tidak jelas pada Enma.
"Entahlah. Tapi, kalau berdasarkan diary itu sepertinya Selena," jawab Enma dengan canggung.
Miyuki membuka beberapa halaman yang disobek dan melihat sedikit tulisan di kertas yang masih tersisa.
Selena ada-
Sel-
Kekua-
Miyuki mengerutkan dahinya berusaha menerka-nerka apa yang tertulis disana.
"Hmp, sepertinya tidak ada yang kita dapatkan. Sudah waktunya makan malam, aku akan menyiapkan makanan," ucap Adelheid sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
"Kozato-senpai, boleh aku pinjam buku ini untuk malam ini saja?"
"Boleh,"
"Terima kasih,"
Setelah itu mereka berdua kembali ke kamar masing-masing. Semalaman Miyuki berusaha meneliti isi buku itu dan mencari beberapa data yang kira-kira cocok hingga pagi menjelang.
XXXXX
"Hmm, kurasa disekitar sini seharusnya ada sesuatu yang bisa kudapatkan," gumam Miyuki sambil berdiri di tempat kemarin.
Hari ini, dia lebih serius dari kemarin. Dia memperhatikan tiap detail bagian mansion yang masih dibangun itu, setelah itu dia berjalan mengelilingi mansion itu dengan teliti. Miyuki lalu teringat dengan dokumen-dokumen yang ada di perpustakaan.
'Kalau perkiraanku benar, seharusnya di antara dokumen-dokumen ini ada sesuatu,' Miyuki bergumam sambil membongkar beberapa dokumen, tetapi bukan dokumen dari gedung selatan mansion itu, melainkan dokumen sekitar sembilan tahun yang lalu.
"Hei-," Enma yang memasuki perpustakaan itu menghentikan kata-katanya begitu melihat perpustakaan miliknya sudah berantakan. "apa kamu tidak tahu bagaimana sopan santun saat berada di kediaman orang lain?" Enma menatap dokumen miliknya yang tersebar di sebuah lorong berserakan di mana-mana.
"Nanti kubereskan," ucap Miyuki tidak acuh.
Enma menghela napas melihat gadis yang sifatnya berubah 180 derajat dengan gadis yang pertama kali ditemuinya kemarin.
"Ah," Miyuki memekik kecil ketika menemukan secarik kertas dan sebuah pin berbentuk binatang.
"Apa itu?" Enma mendekati Miyuki dan ikut membaca apa yang tertulis di kertas yang ditemukan Miyuki. "Eh? Kenapa itu bisa ada di berkas beberapa tahun yang lalu?" Enma membulatkan matanya begitu melihat isi kertas itu.
"Khuhuhu," Miyuki berdiri dengan mata berkilat dan seringai yang menurut Enma cukup menyeramkan. "Kozato-senpai, terima kasih sudah menerimaku di sini selama beberapa hari ini. Aku akan langsung kembali setelah selesai merapihkan dokumen-dokumen ini. Kozato-senpai juga tidak perlu khawatir, karena setelah ini Shimon tidak akan diserang," ucap Miyuki sambil mulai merapihkan dokumen-dokumen di sekitarnya.
"Eh? Apa kau tahu siapa yang akan mereka serang selanjutnya?" Enma bertanya pada Miyuki sambil membantu gadis itu merapihkan dokumen-dokumen.
"Ya, Vongola atau Cavallone," ucap Miyuki dengan yakin.
"Ap- Vongola dan Cavallone bukan Famiglia yang bisa diremehkan, memang mereka sekuat apa?" Enma bertanya dengan nada tidak percaya pada Miyuki.
"Menurutku, kalau dibilang kuat, mereka kuat, tapi juga lemah di saat bersamaan," gumam Miyuki yang membuat Enma menatapnya dengan tidak percaya. "tapi, karena itulah mereka menyerang Shimon. Mereka berusaha menyerang Famiglia yang dekat dengan Vongola dan Cavallone, tetapi belum terlalu kuat, dan Shimon yang baru mulai berkembang sangat cocok untuk sasaran mereka," ucap Miyuki.
Tidak lama kemudian Miyuki selesai merapihkan dokumen-dokumen itu dan segera pergi dari tempat itu setelah mengucapkan salam dan terima kasih pada seluruh anggota Shimon.
XXXXX
Seorang gadis berambut cobalt blue, biru tua agak gelap dengan model diikat satu dan menyisakan sedikit rambut panjangnya yang lurus dikanan dan kiri wajahnya, serta sepasang mata berwarna baby blue yang terlihat tenang dan dingin berjalan di sebuah mansion yang sangat luas seperti kastil dengan tenang. Ekspresi dinginnya membuat anak buahnya tegang dan tidak berani menyapanya.
"Kyaa~ Lotti-chan~,"
Bersamaan dengan suara itu, seseorang memeluknya dari belakang membuat perempuan berambut biru itu menghentikan langkahnya.
"Sudah kubilang," gadis yang dipanggil 'Lotti' itu menundukkan kepalanya. "jangan panggil aku seperti itu!" lanjutnya berseru sambil menggerakkan tangannya, berniat meninju orang yang baru saja memeluknya.
Namun, orang itu dengan mudah menghindari pukulan yang ditujukan temannya. Sekarang dia berdiri di hadapan perempuan yang memakai pakaian serba hitam yang berbeda dengan pakaiannya sambil tersenyum lebar.
"Miyu," Lotti menatap Miyuki dengan wajah dan tatapan yang kembali menjadi dingin.
"Ara, Lotti-chan ini tidak jujur ya. Padahal kamu kangen padaku~," Miyuki meletakkan satu telapak tangannya di pipi, sedangkan tangan yang lain menopangnya.
Lotti tidak menjawab perkataan Miyuki dan berjalan menuju ruang tengah dimana di situ terlihat ada Fran yang sedang menghindari pisau Bel dan Squalo yang sedang mengelap pedangnya.
"Minna, aku datang berkunjung~,"
"Ah, itu Miyu-chan ," Fran yang melihat Miyuki memasuki ruangan langsung menunjuk ke arah Miyuki dan beberapa pisau dari Bel sukses menancap ke topi kodoknya. "sakit, Pangeran Palsu," Frang mengerang dengan wajah dan nada datarnya.
"Ushishi, Pangeran nggak palsu," ucap Bel kesal.
"VOOIII! Kau datang rupanya, Miyu!" Squalo menunjuk Miyuki dengan pedangnya yang baru dilap.
"Ya, aku datang beberapa hari yang lalu dan baru selesai mengerjakan misi," jawab Miyuki dengan riangnya.
"Ushishi, saat itu kalian sedang tidak ada, jadi Pangeran yang menyambutnya," Bel tertawa sambil menghampiri Miyuki.
"Apa? Kamu sudah datang sejak kemarin?" Lotti menatap Miyuki dengan mata dipicingkan, terlihat kesal.
"Ara? Lotti-chan sedih karena aku tidak memberitahumu?" Miyuki mendekatkan wajahnya pada Lotti yang menatapnya sambil tersenyum nakal.
"Bo-bodoh, mana mungkin!" Lotti segera mengalihkan pandangannya sambil menyilangkan tangannya dengan wajah yang sedikit memerah.
"Ara, Tsundere-chan, wajahmu terlihat memerah," Fran dengan wajah datarnya berkomentar.
"Shishishi, wajahmu tidak bisa berbohong, Lotti~," Bel ikut menimpali, membuat Lotti merasa kesal.
"Berisik! Aku bilang namaku Charlotte, ini gara-gara kau mereka jadi memanggilku begitu!" Lotti menatap Miyuki yang membalas tatapan kesalnya dengan senyum lebar.
"Eh~, tapi aku memberimu nama panggilan begitu karena terdengar manis. Lagipula nama itu cocok denganmu, Lotti-chan kan manis~," Miyuki tersenyum kepada temannya dengan riang.
"Ap-aku tidak manis," Lotti berusaha menenangkan dirinya agar tidak terpancing oleh Miyuki.
Sudah cukup lama dia mengenal Miyuki dan cukup sering pula Miyuki menjebaknya dengan kata-kata, dan entah kenapa dia selalu seperti itu. Miyuki yang melihat Lotti mulai bisa menguasai dirinya tertawa kecil dan berjalan menuju Squalo.
"Squalo-san, ini beberapa informasi yang kamu minta beberapa waktu yang lalu," Miyuki memberikan sebuah amplop cokelat yang cukup besar dari dalam tasnya.
"VOIII! Kerjamu memang bagus!" Squalo menerima amplop dari Miyuki dan berjalan keluar dari ruangan itu.
"Squalo-san, apa Xanxus-san ada?" sebelum Squalo keluar dari ruangan, Miyuki memanggilnya.
"Sepertinya ada di ruang kerjanya," ucap Squalo sambil keluar dari ruangannya.
"Ushishishi, tumben ada perlu dengan Boss?" Bel berjalan mendekati Miyuki sambil menyeringai.
"Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan dengannya," Miyuki tersenyum pada Bel sambil mengingat seseorang di Jepang, membuat senyum dan nada bicaranya tidak seceria biasanya.
Dan, tentu saja hal ini tidak luput dari penglihatan Bel yang jenius dan peka.
"Urusan pekerjaan?"
"Bukan, urusan pribadi," jawab Miyuki sambil mengedipkan sebelah matanya nakal.
Bel menyeringai dan berdiri tepat di depan Miyuki. Dia menggenggam pisau di sebelah tangannya dan pisau itu dia gunakan untuk memilin rambut Miyuki yang diikat.
"Bagaimana kalau Pangeran yang mengurus urusan pribadimu, Miyu?" bisik Bel di dekat wajah Miyuki.
Fran sudah melihat adegan itu sambil makan popcorn yang entah sejak kapan ada dan Lotti hanya menatap dengan seringai kecil.
WUSH
Miyuki menggerakkan obengnya ke arah tangan Bel yang memegang pisau dan langsung dihindari oleh Bel dengan melompat mundur.
"Aduh, itu karena kamu menyentuhku dengan sembarangan Bel~," Miyuki tersenyum sambil memainkan obengnya di sebelah tangan. "tapi, lain kali kalau kamu macam-macam," Miyuki berhenti memainkan obengnya dan menatap Bel dengan senyum lebar. "kubongkar semua pisaumu," lanjutnya mata dan senyum sadis.
"Shi..shi.., Pangeran hanya bercanda," Bel mengedikkan kedua bahunya sambil meyimpan pisaunya.
"Aku tidak mau jadi mainanmu, play-boy~," Miyuki membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar sambil menjulurkan lidahnya pada Bel.
Blam
"Miyu-chan kalau marah seram," Fran berkomentar sambil menatap pintu yang tertutup.
"Fuh, kalau tadi kau lanjutkan, aku yakin kau tidak akan punya senjata untuk misi selanjutnya, Bel," Lotti duduk di atas sofa sambil menyilangkan tangannya.
"Tapi Pangeran lebih kuat," ucap Bel, berusaha memberikan alasan.
"Minna~ kuenya sudah matang~ ara? Kukira aku mendengar suara Miyu-chan?" Lussuria memasuki ruang tengah sambil membawa sebuah nampan berisi cupcake yang disusun bertumpuk dan memandang sekeliling ruangan, mencari sosok gadis berambut hitam.
"Miyu-chan baru saja pergi," Fran menjawab dengan datarnya.
"Mou, padahal aku baru membuatkan kue," ucap Lussuria sambil meletakkan kue itu di meja yang langsung diambil oleh Lotti.
XXXXX
Miyuki berjalan menuju pintu ruang Xanxus dengan senyum di wajahnya, namun dikelilingi aura gelap, membuat anggota Varia yang berpapasan dengannya langsung menjauh dari gadis itu. Begitu dia melihat pintu ruangan yang ditujunya dan seseorang dengan wajah seperti om-om menjaga pintu itu, dia mendekati orang itu dan membungkukkan badan padanya.
"Levi-san, selamat siang," Miyuki memberikan salam kepada Levi dengan senyum cerianya.
"Miyu-chan, kamu datang lagi?" Levi terlihat terkejut melihat Miyuki di hadapannya.
"Ya, ada misi yang kukerjakan, tapi sudah selesai," Miyuki menjawab pertanyaan Levi dengan riang, membuat wajah Levi memerah (dasar om-om mesum -_-). "Levi-san, sebenarnya ada beberapa hal pribadi yang ingin kubicarakan dengan Xanxus-san, bisakah kamu meninggalkanku berdua dengannya?" Miyuki menunjukkan wajah memohon yang sangat imut, membuat Levi menutup hidungnya yang hampir mimisan.
"Te-tentu saja boleh! Kalau begitu aku akan pergi ke ruang tengah," ucap Levi sambil melambaikan tangannya pada Miyuki yang dibalas dengan semangat.
Miyuki menatap pintu di depanya dengan senyum yang memudar dan menutup matanya. Setelah dia menghembuskan napas dalam-dalam, dia membuka pintu itu.
Ruangan itu cukup luas dengan beberapa rak buku di sekeliling ruangan itu. Ada sebuah meja dan kursi kerja besar di sebrang pintu itu. Di dalam ruangan itu juga terdapat sebuah sofa yang besar di sebelah kanan ruangan, dekat jendela dan sebuah meja kecil di depannnya.
Xanxus yang sedang membaca sebuah dokumen dengan kedua kaki di atas meja langsung mengalihkan pandangannya dari kertas di hadapannya begitu melihat Miyuki. Dia menatap Miyuki tajam dan tidak suka saat gadis itu memasuki ruangan dengan senyum cerianya.
"Lama tidak bertemu, Xanxus-san~," Miyuki mendekat ke arah Xanxus dengan senyum cerianya.
"Sampah," Xanxus memaki sambil melempar gelas yang terisi setengah ke arah Miyuki yang dengan mudah dihindari olehnya.
"Ahahaha, walaupun aku ingin, tapi hari ini aku tidak ke sini untuk membuatmu kesal, Xanxus-san," ucap Miyuki dengan riangnya.
Setelah mengatakan hal itu, dia melepas pitanya sehingga rambutnya tergerai dan menjadikan pita itu sebagai bando. Dalam sekejap, aura yang dikeluarkan Miyuki yang tadinya terkesan ceria, kekanakan dan misterius menjadi lembut. Miyuki membuka matanya dan tersenyum kecil pada Xanxus.
Xanxus yang melihat Miyuki seperti itu langsung merubah posisi duduknya dan menatap Miyuki dnegan tatapan serius. Miyuki tersenyum kecil melihat Xanxus merubah sikapnya.
"Lama tidak bertemu Xanxus-san, setidaknya sebagai diriku yang seperti ini," Miyuki menatap Xanxus sambil tersenyum sedih. "kurasa, seharusnya kau tahu alasanku ke sini," Miyuki menatap Xanxus dengan serius tapi tatapan matanya menunjukkan kesedihan.
"Bagaimana keadaannya?"
"Ah, ternyata kamu masih peduli padanya?" Miyuki menghela napas sambil mengalihkan pandangan ke arah jendela dengan tatapan sedih. "Bukankah kalian saling mengirim surat? Masa kamu tidak tahu keadaannya?" Miyuki menatap Xanxus dengan tajam.
Xanxus hanya diam mendengar kata-kata Miyuki.
"Entahlah," Miyuki menghela napas sambil berjalan perlahan menyusuru rak-rak buku di ruangan itu. "seharusnya kamu tahu, 'Dia' tidak akan menunjukkan kelemahan atau kesedihannya kepada orang lain. Kalau kamu tanya bagaimana dia di hadapanku, tentu saja aku akan menjawab dia 'terlihat sehat'," ucap Miyuki sambil menatap buku-buku di hadapannya dan menyentuk buku di rak itu satu-persatu, menyadari suasana di ruangan itu yang mulai berubah.
"Aku memang tidak pernah melihatnya, tapi aku bisa berkata dengan yakin," Miyuki memberi jeda sambil berjalan ke arah meja Xanxus. "Rika-nee menangis," ucap Miyuki dengan nada dan ekspresi sedih.
Wajah Xanxus mengeras mendengar perkataan Miyuki. Miyuki bisa mendengar napas Xanxus yang tersentak.
"Karena Rika-nee kuat, makanya aku tahu dia semakin memendam perasaannya. Dia merasa kesepian. Aku tahu kamu ingin melindungi Rika-nee agar musuh-musuhmu tidak melukainya," ucap Rika sambil berdiri tepat di depan meja Xanxus.
SRAKK
Miyuki memukul seluruh dokumen yang ada di meja Xanxus hingga bertebaran di lantai.
"JANGAN BERCANDA!" Miyuki berteriak keras yang hanya ditanggapi oleh Xanxus tanpa berkedip. "Seharusnya kamu tahu Rika-nee akan merasa kesepian, kalau kamu tidak bisa berada di sisinya, lalu kenapa saat itu kamu mempertahankannya? Tiga tahun tanpa pernah bertemu sekalipun bukan sesuatu yang sepele," Miyuki berkata dengan kepala ditundukkan.
"Katakanlah sesuatu!"
PLAK
Miyuki menampar Xanxus kencang yang suaranya bergema di ruangan itu. Xanxus tidak memberikan reaksi atau respon apapun walaupun darah mengalir dari bibirnya. Xanxus menggigit bibirnya keras.
"Kalau tahu begini, seharusnya saat itu aku tidak membiarkan Rika-nee memilihmu. Padahal aku tahu, keputusan itu akan membuatnya sedih. Kamu kan pemimpin Varia, masa tidak bisa melindungi perasaan perempuan yang kamu cintai? Bukankah kamu sudah berjanji akan melindunginya?" Miyuki menggumam lirih dengan bahu bergetar. "Kau tahu? Kondisi Rika-nee sekarang-," suara Miyuki yang bergetar dan terkesan pahit terputus saat mendengar sebuah suara.
BRAKK
To be continue…
XXXXX
Ultrasuoni eco: Gaung ultrasonik
Tsundere : sebutan untuk orang yang bersikap dingin atau kasar tapi mudah malu/tersipu (Sacchan nggak begitu ngerti sih artinya -_-")
Minna, sebelumnya Sacchan mau minta maaf karena update yang sangaaat lama ini. Sacchan akan usahakan untuk mengupdate sesegera mungkin, atau paling lama saat libur puasa nanti.
Untuk chapter ini baru perkenalan kira-kira bagaiman Miyu kalau menjalankan misi. Mohon maaf untuk yang menantikan adegan Miyu-Dino, karena untuk chapter ini nggak ada romancenya. Tapi untuk chapter depan Sacchan akan usahakan buat banyak romancenya!
Minna, mind to R&R? Saran, kritik, request, Sacchan terima semua!
