Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Cocoa2795 : Hahaha, iya nih! Sacchan suka membayangkan Rika-nee yang lembut dan feminin sama Xanxus. Biasanya pasangan yang sebelumnya tidak dikira kan malah menjadi menarik? Oke, ini lanjutan ceritanya!
Yukishiro Seiran: Hai Seiran-san! Sesuai janji, chapter ini Sacchan bikin adegan romantis antara Dino-Miyu. Mohon maaf untuk typo di chapter kemarin! Jujur, Sacchan nggak pake edit karena selesai bikin langsung di publish, maklum habis uts terlalu males buat baca ulang -_-". Btw, makasih doanya, seenggaknya nilai Sacchan ga ancur-ancur amat T_T. Untuk Lotti, itu OC baru buatan Sacchan, baru muncul di chapter kemarin. Hubungan Rika-Xanxus emang nggak pernah Sacchan tulis terang-terangan kok di chapter sebelumnya, baru chapter ini dan yang kemarin aja. Tenang saja~ untuk Hiba-Ririn akan dilanjutkan di chapter depan!
Hikage Natsuhimiko : Hehehe, OC nya nambah lagi nih. Omong-omong Lotti itu chara yang mirip kayak Yuu Kanda di , dia cukup tinggi. Iya, Sacchan nggak pake edit sih chapter kemaren, langsung update aja jadi typo deh. Maaf ya chapter kemarin gantung, chapter ini nggak gantung kok!
Zee Cielova: Iya nih, Rika-nee sama Xanxus! Iya, Sacchan nambah OC lagi…kebanyakan ya? Nggak kok. Selena sama Elena nggak kembar, cuma namanya aja mirip. Selena dan Alaude? Hmm, pendapat Zee-san bisa digunakan untuk chapter selanjutnya. Tenang, Sacchan akan bikin sequel untuk chapter itu + chapter Xanxus-Rika~. Nggak papa kok, Sacchan seneng baca review panjang-panjang, makasih ya. Lagian, didalam review, terdapat ide dan saran #halah :p
Selamat membaca!
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Their Relation Is…?
.
.
.
XXXXX
"Apa Boss akan menginap di sini?" Romario bertanya sambil membukakan pintu mobil hitam itu.
"Tidak, aku ragu Xanxus mau menerimaku di sini," Dino menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa kecil.
Setelah menyuruh Romario untuk pergi mengurus pekerjaan yang lain, Dino memasuki mansion yang lebih mirip kastil hantu daripada mansion itu. Dia berniat bernegosiasi tentang sesuatu kepada Xanxus. Saat Dino bertemu salah satu anggota Varia, dia mempersilahkan Dino memasuki ruang tengah untuk bertemu dengan salah satu anggota utama Varia. Saat itulah, dia melihat sesosok gadis yang sangat dikenalnya dan dirindukannya selama beberapa hari ini.
"Yuki? Tapi model rambut itu, Miyu?" Dino menatap ke arah Miyuki yang berjalan dengan langkah ringan menuju ruangan Xanxus.
Dino melihat pintu ruang tengah tempat Miyuki keluar dan memasuki pintu itu.
"Permisi," Dino tersenyum canggung sambil memasuki ruangan itu.
"Ushishishi, Haneuma bodoh datang," Bel duduk bersila di atas sofa sambil memakan cup cake buatan Lussuria.
"Ah, Haneuma tidak berguna," Fran menatap Dino yang baru masuk, mengalihkan pandangan dari TV yang baru dinyalakannya.
"Dino-kun~," Lussuria melambai pada Dino yang dibalas sambil tertawa kaku.
Lotti sama sekali tidak mempedulikan Dino dan tetap makan kue sambil menonton TV.
"Ne, yang barusan keluar itu, Miyu?" Dino akhirnya menanyakan hal yang membuatnya penasaran.
"Ara~ Dino-san juga kenal Miyu-chan?" Lussuri tersenyum cerah sambil menepukkan kedua tangannya mendengar perkataan Dino.
"Ah, ya. Dia adik Kyoya,"
"Ushishishi, Pangeran kira Miyu-chan hanya memberitahukan identitasnya pada Varia," ucap Bel sambil memotong kuenya menggunakan pisaunya.
"Eh? Memangnya sejak kapan kalian mengenal Miyu?" Dino memandang mereka semua dengan penasaran.
"Tentu saja sejak dia pertama kali menjalankan misi sebagai Pipistrello Nero," jawab Lussuria.
Dino baru berniat bertanya lagi ketika Levi masuk ke ruangan itu.
"Levi? Kukira kau berjaga di ruangan Boss?" Lussuria menatap Levi yang memasuki ruangan itu.
"Miyu-chan bilang ingin bicara berdua dengan Boss dan minta ditinggalkan berdua," ucap Levi.
"Hmm, terdengar mencurigakan," Fran berkomentar dengan wajah datarnya.
"Eh? Kenapa?" Levi menatap Fran bingung.
"Ushishishi, Miyu bilang ingin berbicara tentang hal pribadi dengan Boss,"
"Ara~ apakah itu artinya Miyu suka pada Boss?" Lussuria memegang kedua pipinya sambil memekik kecil.
"Hmm, orang pertama yang dikenal Miyu saat menjadi Pipistrello adalah Boss kan? Itu sebabnya hanya Varia yang mengetahui identitasnya?" Lotti yang sejak tadi diam akhirnya mulai berkomentar.
"Itu karena memang sepertinya mereka berdua sudah saling mengenal, bahkan sebelum Miyu menjadi informan," tiba-tiba Squalo memasuki ruangan itu.
"Kyaa~ jadi Boss dan Miyu memang memiliki hubungan khusus ya?" Lussuria mulai bersikap seperti gadis SMA yang sudah tidak dipedulikan oleh anggota lainnya.
"Tapi, kalian pikir apa yang pernah dilakukannya selama ini pada Boss itu menunjukkan rasa suka?" Lotti melemparkan pertanyaan yang membuat semua orang menatapnya.
"Mengganti wine milik Boss dengan jus anggur dan blueberry," Levi menggumam.
"Menyelipkan wasabi ke dalam makanan Boss," Lussuria ikut berpikir.
"Memasukkan tabasco ke dalam kopi Boss," Squalo ikut bergumam.
"Shishishi, menyembunyikan 10 alarm di kamar boss untuk membangunkan Boss yang sedang tertidur dan terbangun setiap satu jam di malam hari," Bel menyeringai mengingat ekspresi Bossnya saat itu.
"Itu lebih seperti…," semua menggumam.
"Lebih seperti dia punya dendam pada Boss," Lotti menyelesaikan perkataan mereka.
"Tapi, walau Boss merasa kesal dan selalu ingin membunuhnya, Boss tidak pernah benar-benar melukai Miyu-chan," Fran memberikan komentar yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Hmm," sekarang semua orang kembali sibuk berpikir.
"Shishishi, Pangeran penasaran," ucap Bel sambil turun dari sofa.
"Wah, Pangeran palsu mau menguping," ucap Fran yang langsung mendapat pisau di topinya.
"Pangeran bosan dan Pangeran mau tahu hubungan Boss dan Miyu," ucap Bel sambil berjalan menuju pintu.
"Kelihatannya menarik," Lotti berdiri dari sofa dan mengikuti Bel.
Akhirnya, seluruh anggota Varia ditambah Dino berjalan menuju ruang kerja Xanxus. Dino sejak tadi hanya diam, berusaha menghilangkan perasaan tidak enak di dadanya. Tentu saja Dino bukan orang bodoh. Dia sudah berkali-kali menjalin hubungan dengan perempuan. Dia sadar dia menyukai Miyuki dan dia cemburu pada Xanxus.
Sekarang semua anggota Varia dan Dino berkumpul di depan pintu dan di depan celah pintu yang terbuka mereka melihat Miyuki berdiri di depan rak dan menyentuh buku-buku itu.
"Sepertinya ada yang berbeda dari Miyu-chan?" Fran yang menyadari aura dan sikap Miyuki yang berbeda berkomentar.
"Dia terlihat lebih tenang dan lembut," Lussuria ikut menambahkan.
"Itu Yuki," ucap Dino yang langsung mendapat perhatian dari anggota Varia yang lain. "kalian tidak tahu? Lihat baik-baik pita di rambut Yuki,"
Semua anggota Varia memperhatikan baik-baik pita Miyuki.
"Kalau rambutnya diikat, dia akan menjadi Miyu dan kalau hanya dipita, akan menjadi Yuki," Dino menjelaskan secara singkat.
SRAKK
"JANGAN BERCANDA!"
Perhatian mereka kembali teralihkan pada Miyuki yang sudah memukul dokumen-dokumen di meja Xanxus.
"Eh? Apa yang mereka bicarakan?" Levi mengerutkan dahinya, tidak bisa mendengar sedikitpun percakapan mereka.
"Miyu terlihat marah,"
"Pertengkaran kekasih?" Lussuria memekik kecil yang langsung mendapat bantahan dari Lotti.
"Sepertinya bukan,"
PLAK
Sekarang seluruh anggota Varia dan Dino sudah membulatkan mata antara terkejut dan tidak percaya dengan mulut menganga. Mereka tidak menyangka Miyuki akan menampar Xanxus. Mereka menunggu hingga beberapa saat, mengira Xanxus akan langsung memukul Miyuki, ternyata walaupun bibir Xanxus mengeluarkan darah, dia sama sekali tidak memberikan respon.
"Sepertinya hubungan mereka lebih rumit," Fran memberikan komentar.
"Aku tidak menyangka dia akan menampar Boss dan Boss tidak marah," Levi melihat kejadian itu dengan serius.
"Are? Apa Miyu-chan menangis?" Lussuria yang melihat Miyuki menundukkan kepala dan bahunya bergetar berkomentar, membuat semuanya berusaha memperhatikan dengan seksama.
Mereka semua mencondongkan badan mereka ke depan, berusaha melihat dengan lebih jelas. Sayang, pintu kayu itu tidak cukup kuat menahan beban mereka.
"Tu-tunggu, kalau kalian bertumpu padaku begini bisa-," suara Levi hilang bersamaan dengan dia merasakan tubuhnya tertimpa oleh berat badan teman-temannya.
BRAKK
"Aduh~,"
"Tch,"
"Shishishi,"
Xanxus dan Miyuki langsung menatap mereka. Dalam sekejap Miyuki mengubah model rambutnya, yang hanya disadari oleh Xanxus dan Dino.
Miyuki segera melompat ke jendela dan membuka kasar jendela itu, membuat semua orang menatapnya.
"KALAU KAU TIDAK BERANI UBAH SAJA NAMAMU JADI XANTHIA DAN PAKAI ROK! XANXUS BODOH! BODOH! BODOH!" Miyuki berteriak sambil melompat keluar dari jendela dan berlari ke arah hutan.
Seluruh anggota Varia dan Dino, kecuali Xanxus memlihat hal hanya bisa mengerjapkan matanya dengan mulut ternganga. Bahkan mereka masih bisa mendengar Miyuki berteriak 'Xanxus banci! Xanxus pecundang!' dari arah hutan walaupun mulai terdengar samar. Mereka tidak menyangka ada orang yang berani menghina Xanxus terang-terangan seperti itu.
"Sampah, apa yang kalian lakukan?" Xanxus menatap anak buahnya dengan tatapan membunuh dan kedua pistolnya terarah ke mereka.
"Ah, aku mau membuat laporan," Fran segera menghilang menggunakan kekuatan ilusinya.
"Aduh, makan malam yang kumasak," Lussuria memekik kecil sambil berlari ke arah dapur.
"Shishishi, Pangeran ada urusan," Bel segera melarikan diri entah ke mana.
"Ah, aku-,"
BRUK
Dino terpeleset dan menimpa Levi yang ada di bawahnya. Lotti dan Squalo entah sejak kapan sudah tidak ada di sana, menyisakan Levi dan Dino yang hanya bisa nyengir kaku.
BOOM
Tidak lama kemudian terdengar suara ledakan dan ruangan Xanxus mengalami beberapa kerusakan.
XXXXX
"Xanxus bodoh!" Miyuki menggumam sambil berdiri di pinggir sungai.
Miyuki melepas sepatu boot hitamnya dan memasukkan kakinya ke dalam sungai, berusaha menyegarkan pikiran dan tubuhnya dari cuaca musim panas di Italia. Karena bajunya yang berwarna hitam, dia jadi mudah merasa panas saat berada di luar. Setidaknya, dia merasa sedikit beruntung karena memakai rok pendek walaupun hitam.
"Khuhuhu~ kondisi Rika-nee? Sangat sehat sampai dia sekarang bisa berjalan-jalan di kota~," Miyuki menggumam dengan seringai dan senyum licik di wajahnya. "tapi aku tidak bohong, lho, waktu kubilang Rika-nee kesepian," tambahnya dengan wajah sedih.
Miyuki memejamkan matanya, mendengar suara samar air terjun yang terdengar. Sebenarnya kalau dia berjalan sedikit lebih jauh, dia bisa melihat air terjun, tapi Miyuki terlalu malas dan sedang tidak ingin berjalan jauh.
Miyuki menggerak-gerakkan kakinya di dalam air sambil menengadahkan kepalanya menatap langit sore yang berwarna kemerahan, memasang wajah sedih sambil memikirkan orang yang sudah dia anggap sebagai kakak ketika seseorang datang di belakangnya. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga tidak menyadari ada orang di belakangnya.
Dino yang baru saja selamat dari serangan Xanxus langsung berlari menuju hutan untuk melarikan diri, berusaha mencari Miyuki dan setelah berkali-kali terjatuh dan membentur pohon, dia berhasil menemukan Miyuki yang sedang duduk di tepi sungai sambil menatap langit sore dengan raut wajah sedih.
Dino menatap bayangan Miyuki dengan wajah sedikit memerah, satu tangannya dia letakkan di depan dadanya yang berdetak kencang. Tiba-tiba dia teringat dengan kata-kata anggota Varia yang lain dan kejadian tadi, tentang hubungan khusus antara Miyuki dan Xanxus. Mengingat kemungkinan itu membuat dadanya terasa sakit.
Xanxus terkenal pemarah dan cepat naik darah, bahkan terhadap anak buahnya. Mengingat kejadian tadi, Xanxus bahkan tidak marah saat Miyuki menamparnya. Bahkan, Miyuki sudah mengenal Xanxus sebelum dia menjadi informan dan Xanxus terlihat mengenal baik 'Miyu' maupun 'Yuki', walaupun anggota Varia yang lain kelihatannya tidak tahu tentang 'Yuki'.
"Are? Dino-san?"
Dino tersadar dari lamunannya begitu mendengar Miyuki memanggilnya. Miyuki menatap Dino dengan senyum ceria dan melambaikan tangannya.
"Hai, Miyu," Dino berjalan ke arah Miyuki dan duduk bersila di sampingnya, terlalu malas untuk membuka sepatunya.
"Lama tidak bertemu!" Miyuki tersenyum riang pada Dino yang dibalas senyum oleh Dino. "Kenapa terluka seperti itu? Dino-san juga habis menjalankan misi ya?" Miyuki memiringkan kepalanya sambil menatap wajah Dino yang terluka.
"Ahahaha, bukan," Dino menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan canggung.
"Begitu? Tapi luka itu tidak boleh dibiarkan," ucap Miyuki sambil mengeluarkan saputangan dan mengelap wajah Dino yang kotor, membuat jantung Dino berdegup kencang.
"Ah, Miyu, apa maksudmu 'juga'?" Dino berusaha mengalihkan perhatiannya agar jantungnya dapat kembali tenang.
"Reborn-san menyuruhku mancari informasi tentang organisasi yang menyerang Shimon," jawab Miyuki dengan riang.
"Benarkah? Lalu bagaimana hasilnya?" Dino menatap Miyuki dengan takjub.
"Rahasia. Reborn-san mengajarkan, sebagai informan aku harus menjaga profesianlitas dan tidak boleh memberi tahu siapapun tentang informasi yang kudapat," ucap Miyuki sambil mengedipkan matanya.
"Benar-benar seperti Reborn," Dino tertawa kecil mengingat mantan tutornya itu.
Miyuki tersenyum mendengar perkataan Dino, lalu berdiri di sungai dan berjalan hingga berdiri di hadapan Dino.
"Akhirnya kamu tertawa!" Miyuki tersenyum riang pada Dino. "Dino-san terlihat sedikit murung dan banyak pikiran, apa kamu sedang ada masalah?" lanjut Miyuki.
Dino terdiam melihat Miyuki di hadapannya. Entah karena cahaya matahari yang mulai tenggelam atau bagaimana, Dino merasa sedikit terharu karena gadis di depannya menyadarinya.
"Tidak, aku hanya sedikit lelah karena ada yang ingin kubicarakan dengan Xanxus. Tapi sepertinya suasana hatinya sedang buruk," ucap Dino sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Begitu?" Miyuki sedikit memiringkan kepalanya.
Dino melihat Miyuki yang terlihat tidak terganggu ketika nama 'Xanxus' diucapkan, seakan tidak ada yang terjadi. Mengingat kemungkinan mereka memiliki hubungan khusus membuat dada Dino kembali terasa sakit.
"Sepertinya sudah waktunya aku kembali. Aku akan datang lagi besok," ucap Dino sambil berdiri.
Dino tersenyum pada Miyuki sambil mengulurkan tangannya, berniat membantu Miyuki keluar dari sungai. Miyuki membalas senyum Dino dan menerima uluran tangan Dino.
"Ah,"
BYUR
Sayang sekali, Dino tetaplah Dino. Karena tidak ada Romario, kecerobohannya menyebabkan tali sepatu yang, entah sejak kapan, lepas terinjak hingga dia terjatuh ke dalam sungai dan menimpa Miyuki.
"Aduh,"
"Miyu, maaf!"
Namun, gerakan mereka berdua terhenti. Miyuki dalam posisi setengah duduk dan Dino berada di hadapannya dengan kedua tangan bertumpu pada batu besar di belakang Miyuki. Selama beberapa saat mereka berdua saling menatap. Wajah Miyuki sedikit memerah selama beberapa saat, tapi Dino tidak bisa menduga apakah itu karena cahaya matahari sore.
"Ahahahaha!" tiba-tiba Miyuki tertawa kencang.
Membuat Dino sedikit bingung, tetapi melihat wajah tertawa Miyuki, dia ikut tertawa.
"Aku merasa déjà vu. Kamu juga pernah jatuh menimpaku sebelumnya," ucap Miyuki dengan riang.
"Maksudmu saat aku hampir dibunuh Kyoya?" Dino tersenyum geli sambil mengulurkan tangannya pada Miyuki yang diterima olehnya.
"Ya," ucap Yuki saambil tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya.
Dino yang sedang keluar dari sungai tidak menyadari ekspresi wajah Miyuki yang untuk sesaat terlihat bersalah. Begitu Dino mengulurkan tangannya untuk membantu Miyuki keluar dari sungai, Miyuki kembali tersenyum ceria.
"Aku tidak bisa pulang dalam keadaan basah begini, mansion ku cukup jauh," Dino menghela napas sambil melepas jaketnya dan memerasnya.
Miyuki tertawa melihat Dino yang terlihat kesulitan dan tiba-tiba mendekati Dino. Dia memperhatikan tatto di lengan kiri Dino dan menyentuhnya, membuat Dino kaget dan sedikit terlonjak.
"Ini pertama kalinya aku benar-benar melihat tatto milikmu," ucap Miyuki, masih menatap tatto di lengan kiri Dino.
Dino merasakan jantungnya berdetak lebih kencang saat tangan lembut Miyuki menyentuh lengannya, menelusuri tatto di lengannya. Karena dia hanya memakai kaus tanpa lengan, jadi tatto di lehernya pun terlihat.
"Hmm~ Dino-san benar-benar sayang dengan Famiglia-mu ya~," Miyuki tersenyum ceria sambil mengamati tatto di lengan Dino dan menyentuhnya.
Tanpa disadari, tangan kanan Dino terangkat ke belakang punggung Miyuki. Pikiran Dino mulai tidak fokus saat mencium wangi lavender dari tubuh Miyuki.
"Ah, di lehermu juga ada!" Miyuki mendekatkan wajahnya ke leher Dino, membuat Dino segera menarik tangannya dan tubuhnya.
"Hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita kembali ke manasion. Walaupun sedang musim panas, tidak baik berada dalam keadaan basah begini," Dino berusaha tertawa senatural mungkin sambil menunjuk mansion di belakang mereka, berusaha menghentikan detak jantungnya yang semakin tidak karuan.
"Benar juga! Aku akan dimarahi Kyo-nii kalau sakit," Miyuki langsung mengambil sepatu bootsnya dan mengikuti Dino berjalan menuju mansion.
Dino menghela napas lega karena hampir saja dia melakukan hal yang berbahaya pada adik dari muridnya itu. Sesekali Dino melihat ke arah Miyuki dan berusaha menghilangkan pikiran yang dimilikinya terhadap gadis itu.
XXXXX
"Mou~ kenpa kalian berdua bisa basah begini?" Lussuria memberikan dua handuk pada Miyuki dan Dino saat mereka datang dalam keadaan basah kuyup.
Miyuki hanya tertawa dan Dino tersenyum canggung mendengar perkataan Lussuria. Seluruh anggota Varia, termasuk Levi yang sudah disembuhkan Lussuria dan Mammon yang baru selesai menjalankan misi ada di sana.
"Ushishishi, pasti ini akibat kecerobohan Haneuma itu," Bel tertawa dari sofa sambil memainkan pisaunya.
"Sudah, kalian pergi ke kamar tamu, aku akan suruh pelayan membawakan pakaian ganti untuk kalian," Lussuria segera menyuruh dua pelayan mengantarkan mereka.
"Uh, terima kasih, maaf merepotkan,"
"Terima kasih, Luss-nee,"
Miyuki dan Dino berterima kasih pada Lussuria sebelum keluar dari ruangan itu.
Tidak lama kemudian Miyuki dan Dino muncul di ruang tengah setelah selesai ganti baju. Miyuki meminjam baju ganti dari Lotti yang sedikit kebesaran karena Lotti lebih tinggi darinya dan Dino meminjam baju dari Squalo yang tidak berhenti menghina mantan teman satu sekolahnya itu.
"Ne, Miyu-chan, apa yang kamu bicarakan dengan Boss tadi?" Bel dengan cueknya bertanya pada Miyu yang membuat Dino menjadi tegang.
"Mou~ Bel, hargailah sedikit privasi perempuan," Lussuria bertingkah seperti seorang ibu yang memarahi anaknya sambil berkacak pinggang.
"Ahahaha, mau tahu?"
Satu kata itu, Squalo yang sedang membaca laporan, Levi yang sedang menulis 100 lembar surat permintaan maaf (yang pastinya tidak akan dibaca Xanxus), Mammon yang sedang menghitung uang, Fran yang sedang makan kue, dan Lotti yang sedang membaca buku, untuk sesaat mereka berhenti.
Bel menyeringai menyadari semua yang ada di sana tertarik dengan topik ini. Bahkan, Mammon yang baru datang dan hanya mendengar cerita dari mereka terlihat tertarik.
"Itu adalah…," Miyuki mengatakannya secara perlahan. "ra~ha~si~a!," Miyuki mengedipkan sebelah matanya sambil meletakkan satu jarinya di depan mulutnya.
"VOIII! YANG BENAR SAJA!" Squalo merasa kesal dan melempar berkasnya ke lantai.
"Hmm~ kalau kalian sepenasaran itu, tanyakan saja pada 'Boss' kalian," ucap Miyuki tidak acuh sambil duduk di sebelah Fran.
'MANA MUNGKIN!' batin mereka bersamaan.
"Hmp, baiklah Miyu, apa hubunganmu dengan Boss?" Bel ternyata masih penasaran dengan hubungan Miyuki dan Xanxus, terus bertanya pada Miyuki.
"Hmm~," Miyuki meletakkan satu tangan di dagunya terlihat berpikir. "rahasia!" Miyuki lalu menjawab riang sambil mengambil cangkir teh yang diberikan Lussuria, membuat Lussuria memekik seperti perempuan.
Sekali lagi Dino, merasakan sakit di dadanya begitu mendengar kata-kata Miyuki. Dia merasa sangat penasaran dengan hubungan Miyuki dan Xanxus.
"Kalau begitu, Miyu-chan, bagaimana perasaanmu pada Boss," tiba-tiba Fran bertanya yang membuat semua orang kembali fokus.
KRAK
"Hah?"
Seketika, cangkir di tangan Miyuki retak bersamaan dengan Miyuki yang tersenyum dengan mata berkilat, membuat Fran langsung bergeser karena merasakan aura menyeramkan dari Miyuki dan anggota lain merasakan rasa kesal yang amat sangat dari gadis itu.
"Perasaanku?" Miyuki meletakkan cangkirnya di meja sambil tertawa seram. "Aku ingin membuatnya kesal dan muak! Akan kubuat dia merasakan penyesalan dan menangis seperti bayi!" ucapnya sambil terkekeh menyeramkan yang bahkan menyaingi tawa psikopat Bel.
Seluruh anggota Varia langsung bergidik ngeri melihat Miyuki yang seperti itu. Bahkan Bel pun tidak mengeluarkan tawanya yang biasa. Tapi diam-diam Dino tersenyum kecil, merasa sedikit lega kaena reaksi Miyuki tidak menunjukkan dia menyukai Xanxus, bahkan dia terlihat memiliki dendam pada Xanxus.
"Yah, begitulah~," sambung Miyuki dengan ekspresi dan nada cerianya yang biasa, membuat anggota Varia yang lain menelan ludahnya dan mengira-ngira apa yang telah Boss mereka lakukan di masa lalu.
"Ushishishi, Miyu, Pangeran penasaran dengan sikapmu saat di ruang Boss tadi," tiba-tiba Bel mengubah topik pembicaraan.
"Eh? Yang mana?" Miyuki sedikit memiringkan kepalanya mengira-ngira sikap yang dimaksud Bel.
"Sepertinya yang mereka maksud Yuki," Dino mengingat kejadian tadi saaat anggota Varia terlihat bingung saat melihat Yuki.
"Ah~ Yuki ya? Kenapa?"
"Kenapa mereka tidak ada yang tahu tentang Yuki?" Dino menatap Miyuki dengan penasaran.
"Yah, aku kan sednag menjalankan misi, makanya aku harus jadi 'Miyu', 'Yuki' terlalu lembut dan cinta damai, dia tidak akan bisa menjalankan misi dengan benar," Miyuki bercerita sambil mengambil cookies yang ada di meja.
"VOIII! Jadi kamu memiliki double personality?" Squalo sekarang sudah sepenuhnya mengabaikan berkasnya dan terlihat tertarik dengan pembicaraan ini.
Bahkan TV yang tadi menyala pun sekarang sudah dimatikan oleh Lotti.
"Hmm, bukan begitu," Miyuki menggumam sambil mengerutkan dahinya, terlihat berpikir.
"Mou~ kenapa selama ini tidak pernah mengatakan pada kami?"
"Karena, 'Yuki' tidak boleh terlibat," ucap Miyuki sambil kembali memakan cookies, tidak menghiraukan tatapan penasaran semua orang yang ada di sana.
"Shishishi, Pangeran mau lihat 'Yuki'," Bel berdiri dan berjalan menuju Miyuki.
"Tidak bisa," ucap Miyuki cuek sambil tetap memakan cookies.
"Ne, tinggal menganti model pita ini kan?" Bel menggerakkan tangannya, hampir menyentuh pita Miyuki ketika dia merasakan aura membunuh sesaat dan melompat mundur.
Trak trak trak
Miyuki berdiri dan menjatuhkan lima pisau milik Bel yang sudah berantakan, bahkan pisau yang salah satu sisinya memiliki gerigi itu sekarang menjadi tumpul.
"Bel~, kamu lupa kata-kataku tadi ya?" Miyuki tersenyum pada Bel.
"Pangeran hanya mau bertemu 'Yuki'," Bel mengedikkan bahunya dengan seringai yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
Walaupun begitu, matanya yang tertutup oleh poni itu menatap kelima pisaunya yang berceceran di lantai dan menelan ludah.
"Aku bilang tidak boleh!" Miyuki berkacak pinggang seperti kakak yang memarahi adiknya.
"Wah, sepertinya daging yang kumasak sudah matang! Kalian berhentilah bertengkar, sudah hampir waktunya makan malam," ucap Lussuria sambil berjalan keluar ruangan.
"Hei, kau mau ikut makan malam?" Lotti yang sejak tadi diam menatap Miyuki dnegan curiga.
"Hmm? Lotti-chan khawatir Xanxus-san akan melukaiku?" Miyuki langsung melompat mendekati Lotti yang segera membuang pandangannya.
"Si-siapa bilang!" Lotti segera berjalan cepat menuju pintu untuk menghindari Miyuki.
"Ahahaha, tenang saja, dia tidak akan melakukan apapun padaku," ucap Miyuki dengan penuh percaya diri yang mendapat tatapan penasaran dari semua orang di sana.
Miyuki tersenyum, mengabaikan tatapan mereka dan memeluk lengan Lotti yang terus memarahinya dan berusaha melepaskan tangannya dari Miyuki, hingga mereka semua sampai di ruang makan.
XXXXX
"Bel, berhentilah buang-buang makanan," Lussuria memperingati Bel yang melempari Fran dengan makanannya.
"Benar,Senpai bodoh, berhentilah melakukan hal tidak berguna," ucap Fran sambil menghindari lemparan Bel dan makan dengan tenang.
Lotti dan Mammon makan dengan tenang, tidak mempedulikan teman mereka yang berisik. Levi sibuk menanyakan rasa dan siap sedia memenuhi kebutuhan Xanxus. Squalo terlihat membicarakans sesuatu dengan Dino dan Miyuki makan dengan tenang dan sesekali berbicara dengan Fran.
Sebenarnya, mereka menyadari tekanan dari Xanxus yang tatapannya mengarah pada Miyuki, tapi gadis itu sama sekali tidak mempedulikan hal itu dan terus makan dengan tenang. Walaupun mereka bersikap normal, anggota Varia yang lain memperhatikan Xanxus yang terlihat hati-hati saat memakan makanan dan minumannya.
Kelihatannya malam itu Miyuki tidak melakukan kenakalan pada Boss mereka karena Xanxus makan dan minum tanpa berkomentar. Bahkan saat mereka keluar dari ruangan pun, kedua orang itu tidak sekalipun saling bertatapan atau bertegur sapa.
Begitu Xanxus dan Miyuki keluar dari ruangan itu, semua anggota Varia dan Dino menghembuskan napas lega. Mereka pergi menuju ruang tengah untuk kembali membalas hubungan Miyuki dan Xanxus.
"Muu, Boss kelihatan kesal, tapi kenapa dia tidak melakukan apapun pada Miyu?" Mammon bertanya sambil terbang dengan Phantasma.
"Hmm, sepertinya memang ada sesuatu di antara mereka berdua," Lussuria meletakkan satu jarinya di dagu dan terlihat berpikir.
Setelah mendengar perkataan Lussuria, mereka saling memandang satu sama lain.
"Mammon-san,"
Mereka terlonjak kaget begitu melihat Miyuki muncul dari balik pintu dengan senyum cerianya yang biasa.
"Apa?" Mammon menatap Miyuki yang menghampirinya sambil tersenyum.
"Kalau aku membayarmu, apa kamu mau melakukan satu hal untukku?" Miyuki tersenyum yang entah kenapa malah membuat anggota Varia yang sejak tadi menatap mereka dan Dino merinding.
"Apa?"
"Aku mau kamu memberikan satu mimpi buruk pada Xanxus-san~,"
'Apa! Tidak sayang nyawa!'
Batin seluruh orang yang ada di ruangan itu mendengar permintaan dari Miyuki.
"Tidak mau! Sebanyak apapun bayarannya, aku bisa mati!" ucap Mammon sambil terbang mundur, menjauh dari Miyuki.
"Yahh, sayang sekali," Miyuki mendesah kecewa dan melempar pandangannya pada pemuda bertopi kodok yang langsung merasakan firasat tidak enak melihat tatapan Miyuki.
"Maaf, Miyu-chan," ucap Frans dengan wajah datarnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan tubuh, membentuk huruf X.
"Tidak bisa juga ya," Miyuki mengerutkan dahinya lalu memutar badannya, berniat keluar dari ruangan itu. "kalau begitu aku akan mencari 'hadiah perpisahan' untuk Xanxus-san~," ucap Miyuki ceria sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
"Ushishishi, kamu tidak mau memberi hadiah untuk Pangeran?" Bel yang entah sejak kapan menyelinap ke belakang Miyuki, mendorong pintu yang baru dibuka sedikit oleh Miyuki sehingga tertutup kembali.
Bel berdiri tepat di belakang Miyuki, sehingga jarak mereka sangat dekat. Anggota Varia yang lain sudah terbiasa melihat Bel menggoda Miyuki hanya menatap mereka berdua dalam diam, sedangkan Dino merasakan perasaan tidak suka di dadanya melihat Bel sangat dekat dengan Miyuki.
"Bel, kamu benar-benar mau 'hadiah perpisahan' dariku?" ucap Miyuki sambil membalikkan badannya, berhadapan langsung dengan Bel. "Boleh, akan kuberikan 'hadiah' yang tidak akan bisa kamu lupakan, melebihi mimpi buruk dari illusionist!" ucap Miyuki dengan nada cerianya yang sayangnya tidak cocok dengan kata-katanya.
"Ushishishi, Pangeran hanya bercanda~," ucap Bel sambil mengarahkan tangannya ke rambut Miyuki diam-diam.
"Coba saja sentuh, aku tidak bercanda lagi," gumam Miyuki dengan senyuman tetapi nada bicaranya serius sambil menatap Bel dengan tatapan yang terkesan berbahaya, membuat Bel menghentikan gerakannya.
"Ah~ Pangeran ingin lihat 'Yuki'," ucap Bel sambil membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah sofa.
"Hhh~ lain kali saja ya," ucap Miyuki sambil keluar dari ruangan dan menutup pintu itu.
"Kamu benar-benar suka padanya ya," ucap Lotti tiba-tiba, membuat Dino segera menolehkan kepala ke arah Lotti.
"Pangeran suka Principessa yang nakal~," ucap Bel sambil memainkan pisaunya.
Dino langsung merasakan perasaan tidak enak dan sedikit sesak mendengar perkataan Bel.
"Aku akan kembali ke kamar dan menyusun berkas yang ingin kubicarakan dengan Xanxus besok," ucap Dino sambil berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu, tidak ingin mendengar percakapan mereka lebih lanjut.
Sebagian besar dari anggota Varia yang memang cuek tidak memberikan respon saat Dino keluar dari ruangan. Sayang, tidak ada yang menyadari perubahan sikap dan ekspresi dari sang pemimpin Cavallone itu.
"Bel-senpai benar-benar menganggap Miyu-chan seperti adik sendiri ya," ucap Fran sambil bermain video games yang entah sejak kapan dia pegang.
"Tentu saja. Bukankah Miyu seperti Principessa yang manis? Dia seperti adik Pangeran~," ucap Bel dengan nada senang.
"Ah~ manisnya! Kamu seperti kakak yang kesepian dan suka mengganggu adiknya!" pekik Lussuria kecil
"Ushishishi, Pangeran tidak kesepian, Pangeran hanya bosan," balas Bel mendengar perkataan Lussuria.
Setelah itu mereka berbincang-bincang hingga satu-persatu memutuskan untuk kembali ke kamar mereka. Sayang, Dino pergi sebelum mendengar percakapan mereka sampai selesai.
XXXXX
Begitu keluar dari ruang tengah, Dino memutuskan untuk berjalan-jalan di taman Varia yang cukup luas untuk menjernihkan pikirannya. Saat sedang berjalan memutari taman, dia melihat Miyuki duduk di dalam sebuah gazebo yang dikelilingi bunga berbagai warna.
Tanpa sadar, senyum Dino melebar dan dia berniat menyapa Miyuki ketika gerakannya terhenti bersamaan dengan senyumnya yang pudar. Dia melihat Miyuki memandang ke arah mansion dengan tatapan menerawang, seakan sedang memikirkan sesuatu.
Dino mengikuti arah pandangan Miyuki dan merasakan perutnya seperti ditimpa batu dan dadanya terasa berat ketika melihat sebuah kamar dengan lampu menyala. Kamar Xanxus. Tanpa sadar, dia menatap Miyuki dengan tatapan hampa.
Miyuki yang merasakan dirinya diperhatikan oleh seseorang tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Dino. Dino yang melihat Miyuki menyadari kehadirannya langsung mengubah ekspresinya dan tersenyum sambil melambaikan tangan dan menghampiri Miyuki.
"Sedang apa disini? Nanti kamu bisa sakit, malam-malam di luar seperti ini," ucap Dino sambil duduk di sebelah Miyuki.
"Aku sedang mencari hadiah yang kira-kira cocok untuk Xanxus-san," Miyuki menjawab dengan ceria sambil mengalihkan pandangannya dari Dino sekilas dan memandang ke arah jendela kamar Xanxus.
Melihat hal itu, Dino hanya bisa memaksakan senyumnya, berusaha agar gadis itu tidak menyadari perasaannya yang tiba-tiba merasa kesal.
"Sepertinya kamu sangat dekat dengan Xanxus ya?"
Tiba-tiba pertanyaan itut terlontar begitu saja dari mulut Dino, yang langsung dia sesali. Jantungnya berdegup dengan tidak tenang begitu dia selesai mengatakan hal itu, dadanya dipenuhi perasaan takut. Takut mendengar jawaban dari gadis itu.
"Apa boleh buat, Rika-nee sangat sayang padanya sih," Miyuki menggumam pelan, seakan berbisik, membuat Dino tidak bisa mendengar kata-kata Miyuki dengan jelas.
Miyuki lalu berdiri di hadapan Dino dan tersenyum.
"Dino-san, mau temani aku berkeliling di taman sebentar?" Miyuki tersenyum kepada Dino, yang untuk sesaat membuat laki-laki itu melupakan pikirannya.
Dino menganggukkan kepalanya dan tersenyum, lalu berdiri dan mengikuti Miyuki yang berjalan di sekeliling taman itu. Sayang, karena sedang musim panas, tanaman di sana tidak banyak yang berbunga.
"Taman yang bagus," ucap Miyuki sambil memperhatikan tanaman-tanaman di sana.
"Taman di rumah mu juga bagus. Bernuansa Jepang," ucap Dino sambil memperhatikan punggung Miyuki yang sedang mendekati tanaman-tanaman yang ada di sana dan menyentuhkan tangannya pada daun-daun sambil berjalan.
"Ya! Taman itu dibuat oleh Kaa-san dan Tou-san! Keluarga kami suka hal-hal yang berbau tradisional, makanya Kyo-nii juga suka melihat ke arah taman dari kamarnya!" Miyuki langsung berbalik dengan cepat dan berbicara dengan semangat saat Dino memuji taman rumahnya.
Dino tersenyum melihat Miyuki yang setelah itu sangat bersemangat menceritakan tamannya yang bernuansa Jepang.
"Tapi, aku juga tahu taman yang sangat indah dan nyaman walaupun tidak besar," ucap Miyuki sambil berniat kembali berjalan.
"Aduh,"
Miyuki merasakan rambutnya tertarik ke belakang dan berhenti melanjutkan jalannya. Ternyata saat berbalik dengan cepat tadi, rambutnya tersangkut dengan ranting daun.
"Rambutku tersangkut di ranting," gumam Miyuki sambil mengarahkan tangannya ke belakang, berusaha melepaskan rambutnya yang tersangkut.
Miyuki mengerutkan dahinya karena tidak bisa melepaskan rambutnya yang tersangkut. Kalau hanya bagian ujung rambutnya yang tersangkut, dia bisa membalikkan badannya dan melepaskannya dengan mudah. Tetapi yang tersangkut adalah bagian atas, dekat pitanya, sehingga dia tidak bisa membalikkan badannya.
"Bagaimana?" Dino mendekati Miyuki begitu melihat Miyuki kesulitan.
"Ah, sepertinya lebih baik kupotong saja," ucap Miyuki sambil mengeluarkan pisau kecil dari kantung bajunya.
Tangan Miyuki sudah mengarah ke rambutnya ketika Dino menggenggam tangannya yang memegang pisau.
"Jangan," ucap Dino yang membuat Miyuki menatap laki-laki itu. "Rambutmu terlalu indah, sayang kalau dipotong," ucap Dino sambil mengelus rambut Miyuki yang tidak tersangkut.
Miyuki hanya bisa merasakan jantungnya berdegup kencang ketika Dino mengatakan hal itu dan mengelus rambutnya dengan hati-hati. Dia menarik tangannya yang digenggam Dino sambil sedikit menunduk, membuat Dino tersadar bahwa dia masih menggenggam tangan Miyuki.
"Biar kubantu melepaskan ini," ucap Dino melihat Miyuki yang sedikit menunduk dan hanya menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Dino.
Sesekali Miyuki melihat ke arah Dino yang terlihat serius dan berjarak sangat dekat dari dirinya. Dia memegang dadanya, merasakan jantungnya berdegup kencang dan wajahnya terasa sedikit panas. Ada sesuatu berdesir di dadanya.
Dino yang sadar kalau Miyuki sesekali melihat ke arahnya hanya tersenyum pahit merasakan sakit dan sedih di hatinya, mengira Miyuki merasa tidak nyaman dengan dirinya yang terlalu dekat. Andaikan tempat itu lebih terang, dia bisa melihat wajah Miyuki yang sudah memerah. Sayangnya cahaya dari lampu taman berada di belakang Dino sehingga wajah Miyuki tidak terlalu terlihat.
"Maaf, kamu pasti merasa tidak nyaman aku berada sedekat ini. Bersabarlah, sebentar lagi akan selesai," ucap Dino sambil tersenyum meminta maaf, membuat Miyuki langsung mengangkat wajahnya.
"Bukan begitu! Aku bukan merasa tidak nyaman, hanya saja…," Miyuki mengalihkan pandangannya sedikit dari wajah Dino sambil berbicara dengan suara yang semakin mengecil.
Dino menggeser sedikit tubuhnya untuk mendengar kata-kata Miyuki lebih jelas dan tertegun. Cahaya lampu yang tadi tertutup oleh Dino sekarang mengenai wajah Miyuki sehingga Dino bisa melihat wajah Miyuki yang memerah.
"Aku hanya merasa gugup karena Dino-san sangat dekat," gumam Miyuki lirih.
'Imutnya,' batin Dino.
Tiba-tiba rasa sedih yang tadi dirasakannya hilang melihat sikap Miyuki yang terlihat manis. Tidak seperti Miyu yang biasanya bersikap ceria, kali ini dia terlihat seperti anak kecil yang sedang bingung dan hanya memainkan tangannya gugup.
"Ta-tapi kelihatannya Bel sering berada di dekatmu?" Dino bergumam tanpa sadar sambil kembali melepaskan, berusaha menenangkan dirinya.
Namun segera setelah Dino mengatakan hal itu, dia menyesalinya sendiri. Dia tidak mau mendengar jawaban dari Miyuki tentang hubungannya dengan Bel.
"Kalau Bel kan beda," jawab Miyuki yang entah kenapa berhasil membuat Dino kembali down. "Bel hanya melakukan hal itu karena iseng. Kalau Dino-san tidak begitu," tambah Miyuki dengan suara yang kembali semakin mengecil.
Dino tidak bisa menahan senyum di wajahnya saat melihat Miyuki yang terlihat sangat manis. Miyuki terus menatap ke bawah, tidak menyadari bahwa rambutnya yang tersangkut sudah berhasil dilepaskan oleh Dino.
"Uhm, apa belum selesai?"
Mendengar penggilan Miyuki, Dino tersadar dan memandang rambut Miyuki yang berada di dalam genggamannya.
"Sebentar lagi," gumam Dino sambil mengelus rambut di tangannya dengan lembut.
Dino menatap rambut Miyuki dengan lembut dan mengelusnya. Dia sadar bahwa dia harus melepaskannya, tetapi dia tidak ingin melakukannya. Mengingat Bel yang menyentuh rambut Miyuki dengan santainya membuat Dino merasa cemburu.
"…milikku,"
"Hm?"
Dino menggumam dengan sangat pelan hingga tidak terdengar, membuat Miyuki mengangkat kepalanya dan melihat Dino menatapnya dengan intens, yang membuat jantung Miyuki berdegup kencang. Tubuhnya seperti dialiri setruman listrik ketika dia melihat Dino mencium rambutnya dengan sangat lembut.
"Sudah terlepas, rambut yang indah," ucap Dino sambil melepaskan rambut di tangannya dengan gerakan sensual dan tersenyum, tetapi senyumnya terlihat berbeda dengan senyum Dino yang biasanya membuat Miyuki merasakan bahaya yang tidak dimengertinya.
"A-ah, terima kasih banyak, sepertinya aku harus kembali ke kamar sekarang, selamat malam!" Miyuki berkata dengan cepat sambil mengalihkan pandangannya karena merasakan perasaan yang aneh ketika melihat Dino yang saat ini ada di hadapannya.
Begitu selesai berbicara, Miyuki melesat dengan cepat menuju ke mansion, meninggalkan Dino yang mematung di tempatnya selama beberapa saat.
"Aaaakhh!" Dino langsung berjongkok dan memegangi kepalanya sambil mengerang tertahan. "Bodoh! Bodoh! Bodoh! Seharusnya aku bisa lebih menahan diriku! Dia pasti sekarang menganggapku om-om mesum! Apa yang mau kulakukan padanya tadi!," Dino hanya bisa meratap di bawah sinar lampu.
"Dia memang terlibat dengan mafia, tapi dia tidak sama dengan perempuan yang selalu kukencani. Dia masih suci dan polos. Aku seharusnya menjaga jarak padanya. Aku harus menjaganya samapai…," Dino terdiam seketika.
Sampai kapan dia harus menjaga jarak darinya? Sampai kapan dia harus menjaganya? Sampai ada laki-laki lain di sisinya?
Dino berdiri sambil menghela napas dan mengacak rambutnya kasar begitu merasakan amarah dan perasaan tidak rela ketika membayangkan ada laki-laki lain di sisi Miyuki.
"Miyuki, apa yang kau lakukan, membuatku merasa seperti ini," gumam Dino dengan lirih sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan menatap cahaya bulan di langit yang samar-samar terlihat.
Tapi dia harus melakukannya, menjaga jarak dari Miyuki. Kalau tidak, mungkin dia akan melakukan hal yang akan dia sesali nantinya. Dia harus menahan dirinya.
XXXXX
BLAM
CKLIK
"Huft,"
Miyuki menghela napas dan memegang dadanya yang masih berdebar kencang dan wajahnya yang terasa panas. Dia tidak pernah melihat Dino seperti tadi sebelumnya, benar-benar berbeda dari yang biasanya, membuat jantungnya berdegup kencang tiap kali mengingatnya. Ada sesuatu yang berdesir di dadanya, yang membuat Miyuki bingung.
"Sepertinya ada yang salah denganku. Kenapa tiba-tiba saja aku jadi begini, terhadap Dino-san?" Miyuki menggumam pelan sambil berjalan ke arah jendela dan mengunci jendela kamarnya.
Setelah yakin bahwa pintu dan jendela kamarnya sudah terkunci sempurna, dia menarik pita di rambutnya dan membiarkan rambutnya terurai. Perlahan-lahan Miyuki berjalan menuju cermin dan menyentuh pantulan wajahnya yang berekspresi datar. Dia lalu mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pin dari saku bajunya.
"Aku harus fokus. Apa yang dicari oleh Kyo-nii, Ririn-chan dan Vongola ada padaku. Aku tidak boleh lengah ataupun kehilangan fokus. Aku adalah kunci dari misi ini," gumam Miyuki sambil menatap benda di tangannya.
Setelah itu dia berjalan menuju jendela dan menatap Dino dari celah-celah tirai yang diterangi sedikit cahaya bulan sebelum lelaki itu berjalan menuju mansion.
XXXXX
"VOOIII!"
Pagi itu, hampir seluruh anggota Varia dikejutkan oleh suara teriakan dari sang komandan berambut panjang yang terdengar seantero mansion Varia.
"Squalo?"
Dino sedikit mengerutkan dahinya begitu mendengar teriakan Squalo dan berjalan menuju ruang tengah, tempat suara itu berasal ketika bertemu dengan Fran dan Mammon yang baru selesai latihan bersama, Lotti yang baru selesai jogging, Bel yang terlihat tertarik dengan teriakan itu dan Lussuria yang masih memakai piyama berwarna pink.
"Ada apa dengan Komandan Idiot kita?" gumam Fran ketika Lotti membuka pintu menuju ruang tengah.
DHEG
Seketika mereka berenam mematung di tempat ketika melihat sesosok gadis berdiri di hadapan Levi, sedang menarik kerah baju pria itu sehingga Levi sedikit menunduk. Dari sudut pandang mereka, dua orang itu terlihat seperti berciuman, kalau saja gadis itu tidak melepaskan pegangannya pada kerah Levi dengan gerakkan menyentak dan membuat Levi terjatuh ke belakang dalam keadaan pingsan.
Keempat orang itu memandang wajah Levi yang berwarna merah padam dan darah mengalir di hidungnya (sepertinya mimisan) serta dahi memerah yang saat ini pingsan dengan posisi terlentang di dekat sofa. Pandangan mereka segera teralih melihat Squalo dengan posisi terlentang di atas meja dan kepala menggantung.
Wajahnya berwarna biru dengan mata yang terlihat putih dan mulut berbusa. Walaupun hanya sekilas, bisa dipastikan bahwa kedua orang terkuat di Varia itu tidak sadarkan diri. Keenam orang yang baru datang itu merasakan aura gelap dan menusuk dari gadis yang tiba-tiba memutar tubuhnya dan berjalan ke arah mereka.
Entah kenapa keenam orang itu merasakan udara menjadi dingin dan tubuh mereka seakan membeku, tidak bisa digerakkan. Gadis yang mereka kenal selalu memasang senyum ceria kekanakan itu sekarang tersenyum datar dengan tatapan dingin, terlihat mematikan.
"Siapa," Miyuki mulai bergumam dengan suara dingin yang terdengar jelas di ruangan itu.
"yang," matanya menatap keenam orang yang baru datang satu persatu dengan tatapan tajam menilai.
"mengambil," Miyuki masih berjalan menghampiri mereka berenam.
"pitaku?" Miyuki berhenti tepat di hadapan mereka berenam.
Keenam orang itu langsung tersadar bahwa rambut Miyuki tergerai, pita putih yang senantiasa ada di rambutnya tidak terlihat. Miyuki berjalan ke hadapan mereka satu-persatu dengan pandangan menyelidik.
Dino merasakan jantungnya berdetak kencang untuk sesaat ketika Miyuki melewatinya, namun dadanya langsung terasa sakit saat Miyuki melihatnya dengan tatapan dingin dan dahi berkerut, seperti melihat sesuatu yang tidak disukainya dan langsung melewatinya.
"Miyu-chan, pitamu hilang?" Lussuria memberanikan diri bertanya pada gadis di hadapannya.
"Ya," jawab Miyuki cepat.
"Ushishishi, kami tidak tahu pitamu di mana," Bel melipat tangannya di belakang kepala walaupun merasa sedikit terintimidasi oleh Miyuki yang sekarang.
Miyuki segera berjalan cepat menuju Bel dan tersenyum misterius, membuat Bel merasakan firasat tidak enak dan tengkuknya terasa dingin.
"Aku ada urusan dengannya," ucap Miyuki sambil menarik Bel beberapa langkah hingga masuk ke dalam ruangan dan segera menutup pintu di hadapan Dino, Lotti, Mammon, Lussuria dan Fran dengan cepat.
"Hei, menutup pintu tepat di depan wajah orang lain itu tidak sopan," ucap Fran dengan datarnya.
SRRT
KRAK
BUGH
"GYAAA!"
Keenam orang yang ada tepat di depan pintu itu terlonjak kaget mendengar teriakan dari sang Pangeran Varia. Mereka menelan ludah pelan begitu suasana hening selama beberapa saat, menerka-nerka suara apa yang terdengar sebelum teriakan Bel terdengar. Mereka saling bertukar pandang dalam diam.
TRAKK
TRAKK
Cklek
"Aduh~ aku kan sudah bilang jangan macam-macam. Kamu tidak boleh mengambil barang milik perempuan tanpa izin, Bel~," Miyuki keluar dengan senyumnya yang biasa dan menutup pintu dibelakangnya, rambutnya sudah kembali dihiasi pita putih kesayangannya.
"Ah, kalian," Miyuki tersenyum kepada kelima orang yang menunggunya sejak tadi di depan pintu. "maaf, sepertinya Bel tidak bisa melakukan misi untuk sementara, karena aku membongkar semua pisau miliknya," ucap Miyuki dengan ceria, sama sekali tidak terlihat bersalah.
"Miyu-chan, kau apakan Pangeran Bodoh, Komandan Idiot dan Om Mesum itu?" Fran yang melihat Miyuki sudah kembali seperti biasa memberanikan diri bertanya.
"Hmm, kalau kau dan Mammon bisa membuat orang merasakan mimpi buruk," Miyuki menaruh jarinya di dagu, terlihat berpikir. "aku membuat orang lain mengalami kenyataan yang akan menjadi mimpi buruk mereka!" lanjutnya riang.
Sekali lagi, kelima orang itu hanya bisa menatap gadis yang berubah 180 derajat sikapnya dengan gadis yang sepuluh menit lalu mereka temui.
"Itu salah Bel! Aku sudah bilang jangan macam-macam, dia malah mengambil pitaku!"
"Miyu, mereka bertiga…," Lotti menggantung kata-katanya sambil menunjuk pintu di belakang Miyuki.
"Ah, aku harus minta maaf pada Squalo dan Levi nanti, aku sudah salah menyerang mereka," ucap Miyuki dengan dahi berkerut, terlihat menyesal.
"Muu, jadi apa yang kau lakukan pada mereka?" Mammon yang penasaran akhirnya bertanya pada Miyuki.
"Hmm~ ra-ha-si-a~," Miyuki meletakkan satu jarinya di depan mulut. "lebih baik kalian tidak tahu. Baiklah, sepertinya Levi dan Squalo akan bangun sekitar satu jam lagi, kalau Bel mungkin besok, mungkin nanti malam, entahlah,"
"Ah, aku mau siap-siap dulu, aku akan kembali ke Jepang hari ini," ucap Miyuki sambil melihat jam di tangannya.
"Eh, sudah mau pergi? Aku akan buatkan sarapan untuk semuanya, kamu tidak ikut makan?" Lussuria langsung memasang wajah menyayangkan. "Padahal Bos pasti tidak ikut makan pagi karena masih tidur," tambahnya dengan nada kecewa.
"Kalau Luss-nee bilang begitu, aku akan pulang setelah sarapan," ucap Miyuki sambil tersenyum yang di balas Lussuria dengan pekikan senang dan menggenggam tangan Miyuki.
Setelah itu, Lussuria pergi ke dapur dan segera menyiapkan sarapan setelah sebelumnya meminta Lotti dan Fran untuk mengurus tiga anggota yang pingsan di ruang tengah, sedangkan Miyuki kembali ke kamarnya untuk merapihkan barang-barangnya.
"Muu~, Miyu terlalu berlebihan," Mammon menggumam begitu melihat dari belakang Lotti dan Fran.
Dino yang sejak tadi hanya diam ikut melihat ke dalam ruangan dan meneguk ludah begitu melihat kondisi ruangan itu. Sebenarnya seluruh barang di ruangan itu sama sekali tidak ada yang rusak, hanya saja di seluruh ruangan bertebaran pisau dan kawat yang sudah berantakan di seluruh lantai dan bisa dipastikan milik Bel.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, dia bisa membongkar pisau milik Bel yang jumlahnya lebih dari 100 itu. Lotti menghela napas dan menelpon anak buahnya agar segera membersihkan ruangan itu, juga membawa Squalo, Levi dan Bel ke kamar mereka.
Dino berjongkok dan mengambil satu pisau yang sudah rusak dan mengingat sikap Miyuki tadi. Saat Miyuki melihatnya dengan pandangan tidak suka, juga Miyuki yang terlihat sengaja menghindari pandangannya. Dino tidak tahu apakah itu hanya perasaanya atau Miyuki memang menghindarinya.
Dia kembali menyesal dengan apa yang dilakukannya semalam. Walaupun dia berniat menjaga jarak dengan Miyuki, dia tidak mau kalau Miyuki menghindarinya. Perasaannya sangat kompleks mengingat sikap Miyuki dan tekadnya.
XXXXX
"Aku benar-benar minta maaf!" Miyuki membungkuk di depan Squalo dan Levi begitu mereka selesai sarapan.
"Su-sudahlah, tidak apa-apa!" Levi terlihat panik dan menenangkan Miyuki yang terlihat merasa bersalah.
"Vooi, lupakan saja karena kami juga tidak ingat apa yang kau lakukan, tapi itu pertama kalinya aku melihatmu benar-benar marah," ucap Squalo smabil berkacak pinggang.
"Ah, itu karena pita ini sangat penting untukku, aku jadi panik saat pita ini hilang. Aku benar-benar minta maaf," ucap Miyuki sambil kembali menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, itu salah Pangeran Idiot itu, mengambil barang orang lain sembarangan," ucap Fran yang memperhatikan Miyuki.
"Benar, akan ku beri hukuman begitu dia sadar nanti," ucap Squalo sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.
Jika dibandingkan dengan keadaan Levi dan Squalo sebelumnya, ternyata mereka berdua sama sekali tidak apa-apa. Bahkan, Squalo dan Levi sama sekali tidak ingat apa yang dilakukan oleh Miyuki pada mereka sebelumnya.
"Ah, kurasa tidak perlu. Karena, aku cukup yakin Bel akan menyadari kesalahnnya ketika sadar nanti," ucap Miyuki riang dengan tatapan dingin. "Baiklah, kurasa sudah waktunya aku pulang," ucap Miyuki sambil melihat jamnya.
"Mou~ kuharap kamu bisa tinggal lebih lama di sini," ucap Lussuria dengan pandangan menyayangkan yang hanya dibalas dengan tawa kecil oleh Miyuki.
Setelah mengatakan salam perpisahan pada anggota Varia yang ada di sana, kecuali Xanxus dan Bel, Miyuki segera menuju pintu depan ketika bertemu dengan Dino. Untuk sesaat dia merasakan ada yang berdesir di dadanya, namun segera mengabaikan perasaannya dan tersenyum sambil menghampiri Dino.
"Dino-san, aku akan pulang ke Jepang sekarang," ucap Miyuki pada Dino.
Dino yang sejak pagi merasa tidak tenang karena merasa dihindari oleh Miyuki memasang ekspresi kaget untuk sesaat.
"Dino-san?" Miyuki melambaikan tangannya di hadapan Dino yang terlihat membatu.
"A-ah, begitu ya. Hati-hati di jalan ya," ucap Dino dengan kikuk, berusaha sebisa mungkin menjaga jarak dari Miyuki.
"Um! Dino-san mau ke tempat Xanxus-san?" pandangan Miyuki terarah pada dokumen di tangan Dino.
"Ya, ada urusan yang ingin kubicarakan dengannya," ucap Dino yang membuat Miyuki terdiam sesaat.
"Kalau begitu kamu beruntung bisa melihat hadiah yang kuberikan pada Xanxus-san!" ucap Miyuki dengan riang yang langsung membuat Dino merasa cemburu.
"O-oh, begitu ya, kedengarannya menyenangkan," ucap Dino dengan nada yang ceria walaupun dipaksakan. "kalau begitu aku ke tempat Xanxus dulu," Dino dengan cepat menyudahi pembicaraan mereka dan berjalan melewati Miyuki.
"Dino-san,"
Dino membalikkan badannya ketika Miyuki memanggilnya. Miyuki menundukkan kepalanya dan membisikkan sesuatu sebelum menatap Dino sambil tersenyum.
"Semoga urusanmu cepat selesai dan bisa cepat kembali ke Jepang," ucap Miyuki sebelum membalikkan badannya dan melanjutkan jalan.
Dino tersenyum lembut sambil memandang punggung Miyuki yang berjalan menjauh, lalu kembali menuju kantor Xanxus.
BOOM
"Eh?" tangan Dino baru menyentuh gagang pintu ketika mendengar suara ledakan dari dalam ruangan Xanxus.
BRAK
"BOCAH SIALAN!"
Dino yang segera membuka pintu ruangan Xanxus hanya bisa menganga melihat Xanxus dan kondisi ruangannya.
"Apa yang- ASTAGA!"
Seluruh anggota Varia yang mendengar ledakan itu langsung menuju ruangan Xanxus dan hanya bisa menemani Dino memandang isi ruangan itu ditambah Xanxus yang sekarang secara keseluruhan berwarna pink neon.
"VOOII, PINK?!" Squalo hanya bisa mengatakan hal itu ketika melihat keadaan Boss dan ruang kerjanya.
"MANA SAMPAH ITU!" Xanxus berteriak kepada anak buahnya sambil memegang pistolnya.
"Miyu sudah pulang sejak 15 menit yang lalu," Lotti menjawab pertanyaan Xanxus sambil bersender pada tembok dan mengamati Boss nya yang sekarang berwarna pink.
"Sepertinya aku mendengar suara ledakan yang sama dari kamarmu Boss?" Fran yang tadi hanya bisa melihat tanpa berkata apapun akhirnya bersuara, membuat seluruh anggota Varia menelan ludah melihat Boss mereka gemetar menahan amarah.
"Muu? Ada kertas di sini," Mammon mengambil secarik kertas berwarna hitam dengan tulisan putih diantara warna pink itu.
" 'Hai~, apa kamu suka dengan hadiah perpisahan dariku? Tenang saja, setelah 3 hari warna pink di badanmu akan hilang! Sayang sekali aku tidak bisa melihatmu yang sekarang berwarna pink, pasti terlihat menggemaskan :) ! Ah, kamu pasti tahu kenapa aku melakukan hal ini, dan aku benar-benar kesal padamu!' " Mammon mengangkat wajahnya begitu selesai membaca surat dari Miyuki, juga Squalo, Lotti dan Fran yang berdiri di belakangnya.
Mereka mengira Xanxus akan mencaci maki dan menembak ke sembarang arah dengan penuh amarah, tapi Xanxus hanya mendengus kesal walaupun dia terlihat masih sangat marah. Xanxus memasukkan kembali pistolnya.
"Aku tidak mau lihat warna sampah ini lagi!" ucap Xanxus sambil berjalan keluar dari ruangan itu, mengabaikan tatapan anak buahnya.
Levi dengan segera pergi mencari anak buahnya untuk merapihkan ruangan Xanxus dan mengubah warna ruangan itu agar kembali seperti semula.
"Tch, aku harus mengurus dokumen-dokumen berwarna pink?" Squalo menatap setumpuk dokumen di atas meja Xanxus dengan tatapan jijik.
"Kalau Bel-senpai sudah sadar, dia pasti akan menertawakan hal ini," ucap Fran, masih mengamati ruangan Xanxus yang berwarna pink terang.
"Ah~ aku juga mau kamarku berwarna seperti ini~," Lussuria berkata sambil meletakkan satu jarinya di dagu, membuat semua yang ada di situ menatapnya aneh.
"Muu, kita harus keluar biaya untuk meperbaiki ruangan Boss seperti semul-,"
BLAAR
BOOM
"Ah, sepertinya apa yang kukatakan tadi tepat. Kamar Boss mungkin juga bernasib sama dengan ruangan ini," ucap Fran dengan datarnya.
Mereka bisa melihat dying will bullet yang melesat ke arah hutan dan meledak di sana.
"Muu~, lagi-lagi biaya yang dikeluarkan harus bertambah," Mammon menggerutu.
"Tapi, apa kalian tidak merasa ini terlalu aneh?" Lotti yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. "Boss yang biasanya langsung menghabisi orang yang berani mempermainkannya malah membiarkan Miyu, yang sudah melakukan hal seperti ini terhadap Boss?" Lotti mengambil satu buku pink yang tergeletak di lantai dan melihat bagian dalam buku itu masih berwarna putih, hanya bagian luarnya saja yang berwarna pink.
"Apa sebenarnya hubungan mereka?" Dino tanpa sadar menyuarakan pikirannya.
"Entahlah," Lotti mengedikkan bahunya.
"Sebenarnya sejak pertama Miyu menjalankan misi dengan Varia aku juga memikirkan hal yang sama, tapi tidak satupun di antara mereka terlihat ingin membahas hal itu," ucap Squalo sambil memilah-milah beberapa dokumen yang masih berwarna putih.
"Hmm, hubungan yang misterius ya~," Lussuria bersenandung kecil.
Dino hanya bisa diam mendengar pembicaraan itu. Ketika pandangannya tertuju pada dokumen di tangannya, dia hanya bisa menghela napas karena kelihatannya urusannya tidak bisa selesai hari itu juga. Dia hanya berharap bisa secepatnya melesaikan semua pekerjaannya di Italia dan kembali ke Jepang secepatnya untuk menemui adiknya yang imut dan seorang gadis yang membuat suasana hatinya berubah-ubah.
To be continue…
XXXXX
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakan, minna~
Nggak nyangka udah hampir setahun sejak Sacchan pertama kali nulis LSIA dan nggak nyangka bakalan nulis chapter sebanyak ini!
Terima kasih untuk semua pembaca setia (#halahsokformal) yang sudah menyempatkan diri membaca LSIA sampai chapter ini. Padahal niatnya LSIA ini bakalan Sacchan tamatin sebelum ketemu puasa lagi, nggak taunya belom kelar juga -_-". Semoga kalian nggak bosen-bosen baca LSIA yang udah sepanjang ini dan terus mengikuti cerita ini!
Oke ini adalah akhir dari chapter Miyuki di Varia. Chapter depan kita akan kembali melihat keimutan dan kepolosan Ririn-chan serta tingkah lakunya yang membuat Hibari stress!
P.S: Untuk beberapa readers yang bingung sama Charlotte (Lotti), Cloud Guardian Varia, itu 100% OC buatan Sacchan. Maaf karena di chapter sebelumnya lupa dikasih penjelasan.
Minna, mind to R&R? Saran, kritik, request, Sacchan terima semua!
