Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
KirikaAndo : Terima kasih sudah memfollow dan favorite Sacchan dan cerita Sacchan :)
Cocoa2795 : Chapter kemrin emang panjang, tapi dari chapter ini kedepannya Sacchan akan jaga supaya nggak lebih dari 5000 w karena kayaknya kebanyakan satu chapter segitu -_-"
Hikage Natsuhimiko : Hika-san, maaf Sacchan baru update dan cuma sedikit. Untuk kedepannya Sacchan akan usahakan update tiap minggu karena Sacchan mau jaga tiap chapter nggak lebih dari 5000 w.
Yukishiro Seiran : Untuk ke 4 orang itu sadar sama perasaan mereka mungkin agak lama ya, tapi berhubung Dino udah sadar jadi tinggal 3 orang yang nggak sadar~ sabar ya untuk romancenya akan berjalan sedikit lambat.
Celiayuuki : Terima kasih sudah memfavorite Sacchan walaupun Sacchan baru nulis 1 story :)
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Visit From Mu-kun
.
.
.
Hibari mengerjakan tugasnya dengan tenang. Setidaknya, dia berusaha menghilangkan pikirannya dan kenyataan bahwa dia harus menjadi babysitter sampai adiknya pulang. Sekarang dia mengerti alasan Miyuki mengatakan Ririn tidak boleh ditinggalkan sendirian. Anak itu mengundang bahaya untuk dirinya sendiri.
Hibari hanya bisa menghela napas saat mendengar dua ketukan pintu. Pintu itu segera terbuka dan seorang gadis imut berwajah datar memasuki ruangan itu sambil memeluk seekor bayi serigala dan sebuah kotak bekal.
"Vampire-san, ayo makan siang bersama," Ririn berjalan ke arah Hibari sambil menunjuk kotak bekal Hibari yang ada di atas meja.
Hibari baru berniat menolak tawaran gadis itu ketika dia mengingat kejadian kemarin. Dia tidak mau mengambil resiko gadis itu melakukan hal yang sama. Dengan terpaksa dia mengambil kotak bekal miliknya dan duduk di sofa. Ririn duduk di sofa di depan Hibari dan menatap Hibari lama.
Hibari yang menyadari tatapan Ririn baru berniat memarahi gadis itu karena menatapnya ketika dia sadar gadis itu berekspresi datar, tapi matanya terlihat…senang?
"Kenapa?" Hibari mengangkat alisnya bingung melihat Ririn.
"Vampire-san mau makan siang bersama Ririn," ucapnya sambil menatap Hibari dengan tatapan yang terlihat senang walau ekspresinya datar.
Hibari hanya bisa terkejut mendengar jawaban yang tidak dikiranya dan terdiam, sebelum mulai memakan bekalnya. Seperti biasa, mereka makan dalam keadaan tenang. Ririn memberi kan sedikit bekalnya pada Rin, Hibird dan Roll yang keluar dari gelang sambil memakan bekalnya.
Keadaan berlangsung dengan tenang selama beberapa saat sampai mereka berdua merasakan kehadiran yang sangat familiar. Hibari langsung menyelesaikan makannya dan berdiri sambil memegang tonfa di kedua tangannya, sedangkan Ririn masih duduk manis di tempatnya.
"Kufufu, aku datang menemuimu, Ririn-chan~,"
Tiba-tiba dari dekat rak buku muncul kabut dan sesosok laki-laki dengan model rambut nanas muncul di sana.
"Mu-kun," Ririn segera berdiri dan memeluk Mukuro yang dibalas Mukuro dengan senang.
TRAKK
"Herbivore," Hibari mendesis sambil menatap Mukuro tajam.
"Oya, Kyoya, aku senang kau memberiku sambutan hangat seperti ini, tapi hari ini aku kemari untuk bertemu dengan Ririn-chan," ucap Mukuro sambil tersenyum dan menahan serangan Hibari menggunakan tridentnya dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya menyembunyikan Ririn di belakang tubuhnya agar tidak terluka.
Mukuro segera melompat ke belakang dengan cepat sambil membawa Ririn di satu tangannya dan membuat jarak diantara dirinya dan Hibari.
"Berdua saja dengan Ririn-chan yang polos di dalam ruangan yang sempit. Kyoya, apa kau bermaksud melakukan hal mesum pada Ririn-chan?" Mukuro bertanya dengan nada mengejek yang membuat Hibari melemparkan tonfanya dan dengan mudah dihindari oleh Mukuro.
"Mu-kun, jangan menjelek-jelekkan Vampire-san," Ririn dengan polosnya menarik lengan baju Mukuro pelan.
"Kamu memang baik, membela orang seperti ini," Mukuro tersenyum dan mengelus kepala Ririn, membuat Hibari menyipitkan matanya. "baiklah kalau begitu. Aku akan membawamu pergi dari sini agar kesucianmu tidak dikotori oleh Skylark mesum ini, kufufu," ucap Mukuro sambil menarik Ririn ke pelukannya, bersamaan dengan muncul kabut yang menutupi tubuhnya dan Ririn.
Hibari merasa kesal, entah karena perkataan Mukuro atau tindakannya, dan mengeluarkan rantai pada tonfanya, lalu melemparkannya ke arah Mukuro, yang sayangnya tidak kena karena sudah menghilang bersama Ririn.
"Tch,"
Hibari mendecih kesal saat Mukuro berhasil melarikan diri. Dia mengambil tonfanya dan kembali duduk di sofa, berniat menghilangkan rasa kesalnya. Pandangannya terarah pada kotak bekal mungil di atas meja.
"Vampire-san mau makan siang bersama Ririn,"
"Mu-kun,"
"Mu-kun, jangan menjelek-jelekkan Vampire-san,"
TOK TOK TOK
"Kalau begitu jangan sesenang itu saat si Kepala Nanas memanggilmu,"
"Kyo-san-,"
BRAK
Kusakabe hanya bisa mematung karena begitu dia membuka pintu, Hibari menghancurkan meja di depan sofa.
"Urus itu," ucap Hibari sambil berjalan keluar dari ruangan tanpa menatap Kusakabe.
Sang tangan kanan terpercaya itu hanya bisa menghela napas melihat atasannya sedang bad mood. Dia berjalan menuju meja dan melihat kotak bekal mungil dan kotak bekal berukuran sedang yang sangat dikenalnya. Kusakabe bisa mengira-ngira penyebab atasannya marah.
XXXXX
"Mu-kun, jangan iseng," Ririn menatap Mukuro yang tersenyum puas saat tiba di halaman belakang sekolah.
"Oya, apa maksudnya itu, Ririn-chan?"
"Mu-kun sengaja membuat Vampire-san kesal karena bosan kan?"
"Kufufu, aku tidak menyangka kau bisa tahu," Mukuro hanya tertawa kecil dan mengelus kepala Ririn.
"Mu-kun, Ririn tidak mengerti perkataan Mu-kun tadi,"
"Yang mana?" Mukuro berhenti mengelus Ririn dan bertanya sambil tersenyum.
"Apa maksudnya Vampire-san mengotori kesucian Ririn?" dengan polosnya Ririn bertanya, membuat senyum di wajah Mukuro kaku seketika.
"Eh, um, itu," Mukuro menggaruk belakang kepalanya bingung.
Mukuro cukup sadar diri bahwa dirinya, anggota paling nista (#Sacchanditusuktrident)-oke, ralat- bukan anggota yang sepolos Chrome nya tersayang. Tapi, tetap saja ditatap dengan tatapan polos oleh anak tidak berdosa yang mirip titisan malaikat kecil ini membuatnya tidak tega untuk mengotori pikiran suci gadis kecil itu.
Ririn masih menatap Mukuro dengan tatapan polosnya, bersabar mendengar jawaban dari orang yang sekarang bingung mau menjawab apa. Mukuro merasa kena karma karena terlalu sering mengganggu sang Cloud Guardian.
"Ririn-chan, kenapa kau memanggil Kyoya dengan 'Vampire-san'?" Mukuro akhirnya berusaha mencari cara untuk menghindari pertanyaan Ririn.
"Karena saat pertama Ririn bertemu dengannya, dia bilang akan mengigit Ririn sampai mati, seperti Vampire. Vampire-san juga memanggil Ririn dengan 'Chibi-herbivore' bukan 'Ririn'," jelas Ririn.
"Kufufu, benar-benar seperti Kyoya," Mukuro tersenyum geli membayangkan bagaimana ekspresi Kyoya saat Ririn pertama kali memanggilnya Vampire-san.
"Mu-kun pertanyaan Ri-,"
"A-ah, mana Yuki-chan? Kukira kalian selalu bersama?" Mukuro kembali berusaha membuat Ririn melupakan pertanyaannya.
"Nee-chan sedang menjalankan misi di Italia," jawab Ririn dengan datarnya.
"Hmm, ternyata dia menjalankan misi," gumam Mukuro pelan.
"Mu-kun, tadi-,"
Lagi, sebelum Ririn menyelesaikan kata-katanya, Mukuro sudah memotongnya.
"Ah, aku baru ingat aku ada janji dengan Chrome. Maaf Ririn-chan, aku akan datang lagi nanti, atau mungkin aku akan mengunjungimu di dalam mimpi," ucap Mukuro dengan cepat bersamaan dengan kabut menyelimuti tubuhnya, takut Ririn kembali menanyainya.
Ririn hanya bisa diam melihat makhluk yang tiba-tiba datang, menculiknya, dan sekarang meninggalkannya tiba-tiba itu pergi.
"Padahal Ririn mau tanya kenapa Mu-kun mencari Ririn," gumam Ririn begitu Mukuro sudah hilang dari hadapannya.
"Ah, Ririn lupa," seakan teriangat sesuatu dia membuka tas yang selalu dibawanya itu.
"Woof!" kepala Rin langsung menyembul keluar dari dalam tasnya.
Ternyata Rin melompat ke tas Ririn saat Ririn memeluk Mukuro dan malah masuk ke dalamnya.
"Sebentar lagi jam istirahat selesai, Ririn mau kembali ke kelas. Rin tunggu sampai Ririn selesai ya, atau kamu bisa ke ruangan Vampire-san kalau bel selesai sekolah sudah bunyi," Ririn meletakkan Rin di bawah dan mengelusnya beberapa kali.
"Woof!" Rin menyahut dengan gonggongan, seakan mengiyakan.
Setelah itu Ririn meninggalkan Rin dan kembali ke kelasnya.
XXXXX
Bel terakhir berbunyi, menandakan usainya pelajaran pada hari itu. Ririn yang selama beberapa hari ini sendiri disapa oleh beberapa siswa fansnya.
"Ririn-chan, lagi-lagi hari ini kamu pulang sendirian, apa Miyu-sama belum sembuh juga?" seorang siswi yang diingat Ririn dipanggil Hina bertanya pada Ririn yang berniat beranjak kursinya.
Ririn terdiam beberapa saat sebelum mengangguk dan menjawab pertanyaan gadis itu.
"Nee-chan akan masuk minggu depan," ucap Ririn menjawab pertanyaan gadis itu.
"Ah, kalau begitu apa kamu akan pulang sendirian? Kalau diingat-ingat, kamu kan selalu pulang bersama Miyuki-chan? Berarti sejak Miyuki-chan tidak masuk, kamu selalu pulang sendiri?" teman Hina yang sering dipanggil Aya bertanya kepada Ririn tanpa jeda.
"Ne, Ririn-chan, kalau hari ini kamu pulang sendirian, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?" tiba-tiba seorang siswa yang Ririn tidak ingat namanya memotong percakapan mereka dan berdiri di sebelah meja Ririn dengan wajah memerah.
Kejadian itu langsung membuat suasana kelas menjadi riuh.
"Ah, biar aku saja yang menemanimu!"
"Ririn-chan, kebetulan arah pulang kita searah, aku saja yang menemanimu!"
"Hei, Ririn-chan akan pulang bersamaku!"
"Bukan, denganku!"
Entah sejak kapan,tiba-tiba saja sudah banyak siswa yang berdebat untuk mengantarkan Ririn pulang, baik siswa kelasnya maupun siswa kelas lain. Hina dan Aya yang tadi bertanya pada Ririn langsung memundurkan tubuhnya menjauh dari Ririn sambil menatap gadis berwajah datar itu dengan sedikit bersalah.
Ririn sempat mendengar Hina menasehati Aya agar menjaga bicaranya karena sepertinya pertanyaan Aya yang memicu kejadian ini, yang hanya dijawab Aya dengan tawa kaku sambil menggaruk belakang kepalanya, mengingatkan Ririn kepada Kakaknya yang ceroboh.
"Ririn…,"
Seluruh ruangan langsung menjadi sepi begitu Ririn mulai membuka mulutnya, mereka menunggu dengan tidak sabar, berharap Ririn mau pulang memilih salah satu dari mereka.
"Ririn tidak pernah pulang sendiri," ucap Ririn sambil menghadap Aya, menjawab pertanyaan yang sempat dipotong oleh para siswa.
"Ririn tidak keberatan kalau kalian mau pulang bersama Ririn, tapi Ririn pulang sama Vampire-san juga. Ah, Rin dan Hi-chan juga," ucap Ririn dengan datarnya kepada seluruh siswa di sana.
"Vampire-san?"
"Tunggu, kalau tidak salah Ririn-chan dan Miyuki-sama pernah membicarakan ini,"
"Jangan-jangan yang dimaksud Vanpire-san adalah….,"
"Maksudmu Vampire-san itu, Hibari-sempai?" Aya yang penasaran memotong bisikan-bisikan ragu dari para siswa dengan pertanyaannya.
"Un," Ririn menggumam sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi Ririn harus menunggu Vampire-san selesai mengerjakan tugasnya, jadi biasanya Ririn menunggu di ruang komite kedisiplinan, kalau mau pulang bareng, Ririn nggak keberatan," ucap Ririn.
Perkataan Ririn membuat mereka teringat bahwa dua malaikat mereka tinggal serumah dengan sang ketua Komite Kedisiplinan. Mengingat hal itu membuat seluruh siswa meneguk ludah mereka.
Seluruh siswa langsung terdiam mendengar perkataan Ririn. Pulang bersama Ririn memang terdengar menyenangkan, tapi bersama sang ketua komite kedisiplinan yang dijuluki 'Setan Namimori'? Tidak, terima kasih. Mereka masih cukup sayang nyawa mereka.
"Ah, ma-maaf, aku baru ingat ada urusan,"
"Aa-aku juga baru ingat ada ekskul,"
Aya dan Hina yang melihat kejadian itu hanya bisa kagum pada Hibari dan Ririn. Hanya mendengar nama Hibari saja sudah membuat para siswa yang tadi begitu ribut terdiam dan mundur, sedangkan Ririn tidak terpengaruh sama sekali dengan keributan tadi, ekspresi wajahnya tetap datar. Ditambah dengan keberaniannya menyebut Hibari dengan Vampire-san.
"Kalau begitu Ririn mau pergi ke tempat Vampire-san," ucap Ririn sambil keluar dari ruangan dengan cuek.
"Ah, malaikatku~ kenapa harus bersama orang itu~,"
Terdengar beberapa nada kecewa dari siswa-siswa di sana begitu Ririn keluar dari ruangan itu. Hana dan Aya hanya saling bertukar pandang melihat apa yang bisa dilakukan oleh gadis kecil itu kepada hampir seluruh siswa.
XXXXX
TOK TOK
Cklek
Ririn membuka pintu ruang komite kedisiplinan dan segera masuk, lalu menutup pintu dibelakangnya. Tidak seperti biasanya saat Ririn masuk ke ruangan ataupun kamarnya, Hibari sama sekali tidak mempedulikan Ririn dan masih memfokuskan tatapannya pada kertas-kertas di hadapannya.
Melihat Hibari yang sama sekali tidak merespon kehadirannya, Ririn hanya memiringkan sedikit kepalanya bingung, setelah itu berjalan menuju sofa. Ririn menyadari bahwa meja di hadapannya baru, berbeda dengan yang tadi siang dilihatnya.
Ririn memandang sekeliling ruangan saat melihat kotak bekalnya yang mungil berada di sebuah rak kecil di samping rak buku.
"Kotak bekal Ririn," Ririn menggumam pelan, lalu mengambil kotak bekalnya.
"Chibi-Herbivore,"
Saat Ririn lewat di hadapan Hibari, Hibari memanggil Ririn dengan suara dingin, membuat Rin yang dipeluk Ririn sedikit terlonjak.
"Kau, tunggu di perpustakaan," Hibari berkata tanpa melihat Ririn.
"U-um," Ririn menganggukkan kepalanya pelan, lalu berjalan menuju pintu bersama Rin sambil membawa kotak bekalnya.
"Hhh,"
Setelah Ririn keluar dari ruangannya, Hibari menghela napas kasar. Dia membuang pandangannya dan menatap langit malam yang mulai menggelap. Dia memijat dahinya pelan, berusaha menghilangkan sakit kepala dan rasa penatnya.
"Ini gara-gara Nanas-Herbivore sialan itu!" Hibari mendesis kesal mengingat kejadian siang tadi.
Setelah beberapa saat, dia kembali mengerjakan tugasnya. Hibari tidak menyadari penyebab kekesalannya bukan hanya karena kedatangan Mukuro, tetapi hal lain.
XXXXX
"Sepertinya lagi-lagi Ririn membuat Vampire-san marah?" Ririn sedikit memiringkan kepalanya bingung sambil menatap Rin.
Begitu sampai di perpustakaan Ririn mengambil sebuah buku dan mengambil tempat duduk di dekat jendela. Dia meletakkan Rin di atas meja, di sebelah bukunya.
"Uuung?" Rin memiringkan kepalanya bingung melihat majikannya yang bingung.
"Padahal hari ini Ririn sudah berusaha menjadi anak baik dan tidak membuat Vampire-san marah," ucap Ririn pada Rin hanya dibalas dengan gonggongan pelan.
"Midori~ tanabiku~,"
Ririn menolehkan kepalanya ke arah luar jendela dan melihat Hibird hinggap di salah satu pohon di dekat jendela.
"Hi-chan," Ririn berdiri dan berjalan menuju jendela diikuti Rin yang menggoyangkan ekornya sambil ikut menatap Hibird.
"Ririn~ Rin~," Hibird terbang dari dahan, menghampiri jendela.
Ririn mengangkat salah satu tangannya, membiarkan Hibird hinggap di tangannya dan membawanya ke meja.
"Ne, Hi-chan, apa kamu tahu kenapa Vampire-san terlihat marah?" Ririn memandang Hibird dengan pandangan bertanya.
"Kepala Nanas-Herbivore~"
"Mu-kun? Hmm, ternyata Vampire-san marah karena Mu-kun. Terus apa salah Ririn?" Ririn kembali memiringkan kepalanya bingung.
"Woof! Woof!" Rin menggonggong, seakan menjawab pertanyaan Ririn.
"Benar juga, mungkin karena suasana hatinya sedang jelek?" Ririn mengelus kepala Rin pelan.
Setelah itu Ririn membacakan buku bergambar anak kepada Rin dipangkuannya dan Hibird di bahunya.
To be contiune…
XXXXX
Minal aidin Minna~ (#telat)
Mohon maaf kalo Sacchan ada salah ya Minna, terutama LSIA yang updatenya sering ngaret ini. Untuk chapter ini dan kedepannya mungkin akan jadi pendek karena Sacchan akan jaga supaya wordnya nggak lebih dari 5000 w perchapter. (sepupu Sacchan bilang perchapter sampe 7000+ w itu kebanyakan -_-")
Tapi sebagai gantinya, tiap minggu, antara jumat/sabtu/minggu Sacchan akan update tiap minggu. Btw, ntar malem Sacchan mau upload cerita Xanxus/Rika sebagai spin-off dari LSIA ini, cuma 2 chapter kokk~
Jadi yang penasaran sama Xanxus-Rika bisa dilihat nanti malem~ (p.s: Xanxus-nya OOC tapi ya…)
Oke, untuk yang mau kasih saran, request, kritik, koment, semua Sacchan terima!
