Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Warning: Rate T+ (menjurus M (mungkin))

Caeliayuuki : Waa, makasih udah mau review lagi ya~ tenang, adegan romance untuk empat orang itu emang bakalan banyak kok ;) makasih semangatnya!

Hikage Natsuhimiko: Sacchan emang bakalan bikin Hibari banyak cemburu, tapi sayangnya harga diri sang karnivore terlalu tinggi, dia jadi nggak mau ngakuin perasaannya deh :v . Iya nih, segimana pun nistanya Mukuro, dia nggak bakalan tega 'mengotori' pikiran suci penyelamat nyawanya~ sama-sama Hika-san, tapi kayaknya Sacchan bakalan mulai jarang buka fanfict sih… Sacchan usahakan secepat mungkin kisah cinta mereka berempat kelar :v

Seiran : Iya, soalnya sekarang Sacchan bakalan jaga biar perchapter nggak lebih dari 5000+ word, biar nggak kebanyakan. Terima kasih sudah menunggu, silahkan menikmati cerita kali ini!

Cocoa2795: Ini update chapternya!

Selamat menikmati~

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Innocence is A Crime

.

.

.

Ririn hanya bisa menatap Kusakabe yang hari ini menemaninya makan siang dan Hibari yang masih bekerja di balik mejanya. Mereka makan dalam keheningan. Hibird tidak terlihat sejak tadi, kemungkinan memang tidak ingin berada di dalam ruangan dengan aura yang tidak nyaman walaupun tuannya ada di sana.

Ririn tidak mengerti apa yang membuat Hibari marah padanya. Dia memang bukan orang yang ekspresif, bahkan dia miskin ekspresi dan emosi, tapi bukan berarti dia tidak mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain. Bisa dibilang dia cukup peka terhadapa perasaan orang lain, walaupun lebih sering bersikap tidak acuh dan tidak terlalu mempedulikannya.

Ririn bisa mengingat kejadian kemarin, saat Hibari datang menjemputnya di perpustakaan. Tidak seperti biasanya, dia sama sekali tidak menatap Ririn sedikitpun dan hanya mengatakan 'pulang' tanpa embel-embel 'Chibi-Herbivore'. Saat makan malam di restoran kemarin, dia juga mengatakan pesanannya langsung kepada pelayan yang gemetar ketakutan, tidak menatap daftar menu lama dan membiarkan Ririn memesankan makanannya.

Ririn sesekali menatap Hibari sambil memakan bekalnya, lalu menatap Kusakabe yang memberikannya senyum menenangkan. Saat masuk ke dalam ruangan Hibari tadi, Kusakabe sudah ada di sana, seakan memang sengaja menunggunya dan Hibari mengabaikan Ririn yang mengajaknya makan siang bersama hingga Kusakabe memberikan alasan dan mengajaknya makan bersama.

Ririn menatap kotak bekalnya yang masih tersisa sedikit selama beberapa saat sebelum menutupnya. Kusakabe menatap Ririn dengan pandangan bingung.

"Ririn kembali ke kelas. Terima kasih sudah menemani Ririn makan siang bersama, Tetsu-Senpai," ucap Ririn sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Ah, tidak apa-apa," Kusakabe hanya bisa menjawab dengan senyum.

Setelah itu Ririn keluar membawa bekalnya dan Rin. Begitu pintu ruangan itu tertutup, Kusakabe menghela napas pelan sambil merapihkan makanannya, memikirkan apa yang kira-kira terjadi pada Hibari dan Ririn.

"Buatkan teh," ucap Hibari tiba-tiba, membuyarkan lamunan Kusakabe.

"Baik, Kyo-san," ucap Kusakabe lalu membuatkan teh dan memberikannya pada Hibari yang sudah duduk di sofa, berniat memakan bekalnya.

Hibari sempat terkejut saat membuka kotak bekalnya. Kotak bekalnya terlihat lebih sederhana walaupun masih memiliki bentuk-bentuk, tapi tidak terlihat terlalu imut seperti bekal yang pernah di buat Ririn sebelumnya. Dia melihat tulisan kecil menggunakan saus di atas daging dengan tatapan datar. 'gomen, Vampire-san'.

Kusakabe yang melihat Hibari terdiam sambil melihat kotak bekalnya langsung menyadari sikap Hibari dan memberi alasan untuk keluar dari ruangan, meninggalkan Hibari sendirian yang tidak diperhatikan oleh Hibari.

Hibari menatap tulisan kecil Ririn dalam diam. Maaf. Kenapa Chibi-Herbivore itu meminta maaf? Hibari mengerutkan dahinya. Dia teringat sikap dinginnya pada Ririn sejak kemarin. Itu salah Nanas sialan, tapi kenapa dia melampiaskan kekesalannya pada gadis kecil itu?

Hibari memijat dahinya sambil menghela napas lelah menyadari sikapnya. Dia tidak mengerti kenapa dia menjadi kekanakan begitu dengan melampiaskan kekesalannya pada Ririn hanya karena dia pergi dengan Mukuro. Ya, itu karena dia sangat tidak suka pada Mukuro. Atau…ada hal lain yang sebenarnya mengganggunya?

XXXXX

"Vampire-san sama sekali tidak menghiraukan Ririn," gumam Ririn pada Rin di belakang gedung sekolah.

"Woof?" Rin menggonggong pelan sambil mengusapkan kepalanya ke kaki Ririn, berniat menyemangati gadis itu.

Ririn mengelus kepala Rin dengan tatapan berterima kasih dan memeluknya. Dia meletakkan Rin dan berdiri begitu merasakan kehadiran seseorang.

"Ciaossu, Ririn," Reborn tiba-tiba datang dari atas menggunakan parasut hijau yang segera berubah menjadi Leon begitu menginjak tanah.

"Reborn-jii-chan," Ririn menatap Reborn dan kertas yang dikeluarkan Reborn dari dalam jasnya.

"Ada yang ingin kau bicarakan, Ririn?" Reborn mengacungkan kertas yang dipegangnya dan berdiri di hadapan Ririn.

"Ririn ingin Reborn-jii-chan membantu Ririn," ucap Ririn dengan datar.

Reborn sedikit menurunkan fedoranya, merasakan bahwa gadis di depannya akan meminta tolong hal yang akan cukup berpengaruh nantinya.

"Hmm, apa yang kamu inginkan?" Reborn menatap Ririn dengan serius.

"Ririn ingin Reborn-jii-chan membantu Ririn menemukan sesuatu,"

XXXXX

Bel tanda selesai sekolah berbunyi, hampir seluruh siswa sudah pulang begitu selesai membereskan barang-barang mereka. Beberapa siswa dan siswi sempat melambaikan tangan dan mengucapkan salam kepada Ririn yang masih merapihkan bukunya, yang dibalas Ririn dengan anggukan. Ririn sama sekali tidak menyadari sepasang mata yang sejak pagi terus mengawasinya.

Begitu keluar dari kelas, dia berjalan menuju belakang sekolah seperti biasa untuk menjemput Rin. Langkah Ririn terhenti saat berjalan di koridor. Dia teringat sesuatu dan mengeluarkan sepucuk surat yang ditemukannya di laci meja saat kembali dari makan siang. Seseorang mengajaknya bertemu sepulang sekolah di perpustakaan. Ririn membalikkan badannya yang tadinya berniat menuju ruang komite kedisiplinan dan berjalan menuju arah sebaliknya, ke perpustakaan.

"Uung?" Rin mengangkat kepalanya menatap majikannya yang membalikkan badannya dan menuju ke perpustakaan.

"Ada seseorang yang ingin berbicara dengan Ririn. Lagipula," Ririn menghentikan perkataannya sesaat sambil membuka pintu perpustakaan. "Kelihatannya Vampire-san tidak ingin berada di dekat Ririn. Walaupun hanya sebentar, lebih baik Ririn tidak berada di dekat Vampire-san agar Vampire-san lebih tenang. Ririn tidak boleh merepotkan," ucap Ririn yang dibalas tatapan khawatir Rin.

Ririn berjalan diantara rak-rak di perpustakaan, menuju lorong paling ujung seperti yang tertera di surat. Di sana berdiri seorang laki-laki berambut cokelat sebahu dengan kulit berwarna kecoklatan, badannya besar dan tinggi.

"Apa kamu yang memberi surat ini pada Ririn?" Ririn mengacungkan surat di tangannya pada siswa itu.

"Ya, Ririn-chan," laki-laki itu tersenyum manis melihat Ririn berjalan ke arahnya.

Sejak Ririn berjalan ke arahnya, matanya tidak lepas menatap Ririn seakan ingin menerkam gadis mungil itu. Sayangnya Ririn sama sekali tidak sadar, tetapi Rin merasakan niat buruk laki-laki itu dan menggeram kepadanya.

"Grr! Woof! Woof!" Rin melompat dari pelukan Ririn dan menggonggong seakan mengatakan kepada laki-laki itu untuk menjauh dari Ririn.

"Hmm? Ririn-chan, maaf, kalau boleh aku ingin kita bicara berdua saja, aku akan meletakkan anak anjing ini di depan pintu perpustakaan, jadi kamu bisa mengambilnya setelah kita selesai berbicara," ucap laki-laki itu sambil mengambil Rin dengan menggenggam belakang lehernya sebelum Ririn sempat mengatakan apapun.

Karena perbedaan tinggi mereka, laki-laki tadi dengan cepat menuju pintu sementara Ririn setengah berlari mengejar laki-laki itu, berniat mengambil kembali Rin. Begitu laki-laki itu meletakkan Rin di luar perpustakaan, dia segera menutup pintu perpustakaan itu. Ririn yang baru sampai di depan pintu baru berniat membuka pintu ketika tangannya yang terulur di genggam oleh laki-laki tadi.

"Ririn-chan, aku hanya ingin bicara sebentar dengan tenang padamu. Kalau peliharaanmu berisik seperti itu, kita tidak bisa bicara dengan tenang. Maaf, sebentar saja, aku ingin bicara denganmu," laki-laki itu tersenyum dengan tatapan meminta maaf pada Ririn.

Ririn menatap laki-laki itu selama beberapa saat dan pintu di depannya, mendengar gonggongan Rin. Apa yang dikatakan laki-laki itu memang benar. Ririn menatap pintu di depannya sedikit ragu lalu menganggukkan kepalanya pada laki-laki itu, membuat laki-laki itu tersenyum puas.

"Rin, Ririn akan bicara dengan orang ini sebentar, tunggulah dengan sabar di luar," ucap Ririn pada Rin yang untuk sesaat berhenti menggonggong.

Tetapi, tidak lama kemudian, Rin kembali menggonggong yang sayangnya tidak berguna. Mengetahui tindakannya tidak memberikan hasil, dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, mencari sesuatu yang bisa membantunya.

"Rin~,"

Rin melihat ke luar jendela di lorong dan melihat Hibird hinggap di jendela. Rin mendekati Hibird dan menggonggong pada Hibird, seakan menceritakan apa yang terjadi.

"Hibari~Hibari~ melangggar peraturan, kamikorosu~," Hibird terbang di atas Rin, membuat Rin menegakkan punggunnya.

"Woof!" dengan satu gonggongan itu, Rin berlari menuju orang yang bisa menyelamatkan majikannya diikuti Hibird.

XXXXX

"Ririn-chan, ayo bicara di belakang, kalau mendengar suara gonggongan anjingmu, kita tidak bisa bicara dengan tenang," ucap laki-laki tadi sambil memegang pergelangan tangan Ririn dan menariknya pelan menuju sudut ruangan yang sebelumnya.

Ririn menatap pintu dengan ragu dan mengikuti laki-laki itu menuju sudut ruangan. Begitu mereka sampai ke sudut ruangan, laki-laki itu berbalik menghadap Ririn.

"Ah, maaf aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Tetsuo Ibaraki dari kelas 2-5 dan aku adalah kapten tim basket," ucap Tetsuo dengan nada sombong yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Ririn.

Tetsuo mengamati Ririn dari atas hingga bawah. Tubuh mungil, wajah imut, rambut hitam, mata berwarna silver, dan tatapan Tetsuo mengarah ke salah satu bagian tubuh Ririn. Tanpa sadar, dia menyeringai sambil menjilat bibirnya.

'Heh, siapa sangka tubuh mungil ini memiliki bentuk tubuh yang bagus, terutama pada bagian itu,' batin Tetsuo sambil tersenyum mesum. Tanpa mengalihkan pandangannya dari dada Ririn.

"Tetsuo, kenapa memanggil Ririn ke sini?" Ririn tidak menghiraukan tatapan Tetsuo dan bertanya, membuat perhatian Tetsuo teralihkan dan kembali menatap wajah Ririn.

Laki-laki itu tidak mempedulikan Ririn yang langsung memanggil namanya tanpa embel-embel 'senpai' atau 'san' dan hanya melemparkan senyum palsu pada Ririn.

"Aku sebenarnya ingin menyatakan perasaanku, Ririn-chan. Sejak pertama melihatmu aku sudah menyukaimu, aku ingin kamu pacaran denganku," ucap Tetsuo dengan senyum merayu.

Ririn menatap senyum Tetsuo yang sedikit mirip dengan senyum Mukuro, tetapi setelah dipikir-pikir Ririn yakin senyum Mukuro lebih baik karena senyum Tetsuo terlihat aneh di mata Ririn.

"Suka pada Ririn? Kenapa kamu bisa suka pada Ririn?" Ririn menatap Tetsuo dengan pandangan bingung sambil memiringkan sedikit kepalanya, membuatnya terlihat semakin imut.

"Ya, aku suka padamu karena kamu begitu imut dan manis, seperti boneka. Kamu juga begitu jujur dan polos. Aku menyukaimu sejak pertama melihatmu pindah ke sekolah ini, selain itu aku juga-," Tetsuo terus berbicara tanpa henti, berusaha merayu Ririn.

Ririn menatap Tetsuo dengan wajah datarnya. Dia melihat ekspresi dan tatapan Tetsuo yang sama sekali berbeda dengan tatapan dan ekspresi yang sering dilihat oleh Ririn dari Gamma dan Byakuran saat menatap Aria dan Yuni. Ekspresi Gamma dan Byakuran terlihat lembut dan sesuatu yang Ririn tidak mengerti, sedangkan ekspresi Tetsuo sama sekali tidak seperti itu.

Ririn mengira-ngira apakah perasaan 'suka' yang diucapkan oleh Tetsuo berbeda dengan perasaan suka yang dirasakan oleh Gamma dan Byakuran. Tapi, berbeda ataupun sama Ririn sama sekali tidak menginginkan rasa suka dari Tetsuo. Tatapan yang ditunjukkan laki-laki itu tidak terlihat menyenangkan.

Ririn menyadarinya. Palsu. Kata-kata manis, senyuman dan ucapannya palsu, seperti para dokter dan professor yang pernah meneliti Ririn. Beberapa dari mereka sering mengatakan kata-kata manis pada Ririn. Dan juga orang itu. Untuk sesaat, cahaya di bola mata Ririn meredup.

"Bagaimana? Kamu mau jadi pacarku?"

Pertanyaan terakhir dari Tetsuo membuyarkan lamunan Ririn, membuat Ririn menatap laki-laki itu.

"Tidak, terima kasih," jawab Ririn tegas dengan ekspresi dan wajah datarnya.

Selama beberapa saat suasana menjadi hening. Tetsuo hanya menatap Ririn dengan pandangan menilai dan alis terangkat, masih tersenyum.

"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi Ririn mau ke tempat Vampire-san," ucap Ririn sambil membalikkan tubuhnya.

"Tunggu,"

Tiba-tiba Ririn merasakan lengannya ditarik dan dia berdiri berhadapan dengan Tetsuo. Badannya yang tinggi dan besar, juga jarak mereka yang sangat dekat membuat Ririn harus mengangkat kepalanya untuk menatap Tetsuo.

"Bukankah membosankan menunggu di ruang Komite Kedisiplinan bersama orang menyeramkan itu? Aku akan mengajakmu melakukan hal yang menyenangkan," ucap Tetsuo sambil menyeringai.

"Menyenangkan?" Ririn yang masih belum menyadari bahaya hanya memiringkan kepalanya bingung.

"Ya," gumam Tetsuo bersamaan dengan dia mendorong Ririn hingga berbaring di lantai.

Ririn hanya sedikit mengerutkan dahinya saat Tetsuo mendorongnya hingga punggunya membentur lantai. Tatsuo dengan segera menahan kedua tangan Ririn dengan kedua tangannya di samping kepala Ririn, berada di atas tubuh mungil Ririn.

"Tapi nanti Vampire-san mencari Ririn,"

"Aku akan mengembalikanmu padanya nanti. Bukankah dia pulang setelah sekolah ditutup? Masih ada beberapa anak yang melakukan ekskul, Ririn-chan, jadi kita masih punya cukup banyak waktu," ucap Tetsuo sambil mengangkat tangannyabegitu menyadari Ririn tidak memberontak dan melepaskan dasi pita milik Ririn secara perlahan.

XXXXX

Hibari menatap ke luar jendela dari kursinya. Langit sudah berwarna kemerahan dan bel pulang sudah cukup lama berbunyi. Biasanya Ririn selalu datang ke ruangannya dengan jeda 10-15 menit setelah bel berbunyi, tetapi sudah setengah jam lebih, dia belum datang juga.

Hibari mengerutkan dahinya bagitu sadar dia mengkhawatirkan Ririn. Dia membuang pikirannya itu jauh-jauh dan kembali memfokuskan diri pada kertas-kertas di hadapannya. Tidak lama kemudian dia mendengar suara langkah kaki kecil.

"Woof! Woof!"

"Hibari~ Hibari~,"

Hibari mengerutkan dahinya mendengar suara Hibird dan Rin. Biasanya Hibird selalu masuk lewat jendela, tidak pernah memanggilnya di depan pintu. Rin selalu bersama dengan Ririn, jadi seharusnya gadis itu bisa membuka pintu sendiri. Kecuali jika Hibird dan Rin tidak bersama dengan Ririn.

Hibari menyadari keanehan itu dan beranjak dari kursinya, membuka pintu ruangan itu. Begitu Hibari membuka pintu itu, dia tidak menemukan Ririn dan hanya melihat Rin dan Hibird. Dia membungkuk dan mengelus Rin. Tidak biasanya Rin sendirian.

"Kemana Chibi-Herbivore itu?" gumam Hibari sambil mengelus Rin.

"Herbivore melanggar peraturan~ Hibari~ kamikorosu~," Hibird terbang diatas kepala Hibari.

"Woof! Woof!" Rin menggigit lengan baju Hibari dan menariknya, menunjukkan bahwa dia ingin Hibari mengikutinya.

Hibari yang menyadari tingkah kedua binatang itu menaikkan salah satu alisnya dan berdiri. Begitu Hibari berdiri, Rin dan Hibird langsung pergi menuju perpustakan diikuti oleh Hibari.

"Woof!Woof!"

"Ririn~Ririn~"

Hibari memperhatikan kedua hewan itu dan menghela napas. Apa yang kira-kira dilakukan oleh gadis kecil itu? Hibari masuk membuka pintu perpustakaan dan berjalan menelusuri rak-rak. Rin mengikuti dari belakang dan Hibird hinggap di kepala Rin.

Langkah Hibari terhenti ketika melihat kedua sosok di lantai. Seketika dia merasaka kemarahan memenuhi hatinya dan keinginan untuk membunuh Herbivore yang sedang melanggar peraturan sekolah itu.

"Hehehe, Ririn-chan~"

Tetsuo yang terlalu tenggelam dalam pikiran nistanya tidak menyadari Hibari yang ada di belakangnya dan berusaha membuka kancing kemeja Ririn, sedangkan Ririn hanya menatapnya datar. Merasakan aura membunuh yang sangat menusuk, Ririn mengalihkan pandangannya dan melihat Hibari berdiri tidak jauh dari mereka dengan ekspresi dan tatapan siap membunuh.

"Ah, Vampire-san," ucap Ririn yang membuat lamunan Tetsuo buyar.

Tetsuo langsung merasakan aura membunuh di belakangnya dan dengan wajah yang pucat seketika, juga gemetar, dia membalikkan tubuhnya dan melihat sang ketua komite kedisiplinan berdiri dengan aura menyeramkan, siap menjatuhkan hukuman atas perilakunya yang berniat menodai, tidak hanya sekolah tercintanya, juga gadis polos tercintanya (#Sacchankenahantamtonfa), maksudnya, gadis polos dihadapannya.

"Hi-Hi-Hibari…san," Tetsuo bergumam sambil berusaha menelan ludah melihat Hibari menatapnya dengan tatapan membunuh.

Walaupun cuaca panas, entah kenapa suasana di dalam ruangan itu terasa dingin. Hibari mengalihkan tatapannya dari Tetsuo dan menatap Ririn yang balas menatapnya dengan wajah datarnya.

"Chibi-Herbivore, apa yang kau lakukan?" Hibari bertanya dengan nada dingin yang membuat Tetsuo terlonjak.

"Ririn nggak ngapa-ngapain," jawab gadis itu dengan polosnya.

Beberapa hari mengurus Ririn membuat Hibari sadar bahwa dia harus memberikan pertanyaan secara mendetail karena gadis itu memang hanya menjawab apa adanya. Beruntung selama beberapa tahun ini ditambah tugasnya mengurus Ririn membuatnya belajar untuk sedikit lebih sabar. Sedikit. Hanya sedikit.

"Kenapa kau berada dalam posisi seperti itu?" jawab Hibari dengan ekspresi dan suara yang masih sama dinginnya.

"Tetsuo mendorong Ririn," ucap Ririn dengan polosnya yang hampir membuat jantung Tetsuo berhenti berdetak karena Hibari menatapnya sekilas dengan aura membunuh yang semakin meningkat.

"Kenapa Herbivore ini melakukan itu?"

"Katanya ingin melakukan hal yang menyenangkan?" Ririn sedikit memiringkan kepalanya karena tidak mengerti hal 'menyenangkan' yang dimaksud Tetsuo.

"Hoo, hal yang menyenangkan ya," Hibari menatap Tetsuo yang sudah berkeringat dingin.

Setiap pertanyaan yang dilontarkan Hibari dan jawaban yang keluar dari mulut Ririn membuat jantung Tetsuo berdetak lebih cepat karena dia bisa merasakan tatapan dan aura membunuh Hibari yang semakin menajam. Tetsuo bahkan tidak akan heran kalau tiba-tiba dia kena serangan jantung. Bahkan, kedengarannya lebih baik daripada menerima apa yang akan terjadi padanya melihat tatapan dan aura yang dikeluarkan Hibari.

"Tu-tunggu Hibari-san, saya bisa jelaskan!" Tetsuo berkata dengan cepat secara refleks, keringat dingin sudah membasahi wajah dan badannya.

Tiba-tiba tatapan Hibari beralih pada satu hal membuat Tetsuo mengikuti arah pandang Hibari, yang selanjutnya membuatnya sangat ketakutan. Tangan Tetsuo masih berada di kancing baju Ririn yang terbuka setengah bagian atasnya, memperlihatkan pakaian dalamnya.

Sekarang Tetsuo sudah tidak berani membalikkan kepalanya saat mendengar suara langkah kaki dengan tenang menghampirinya. Dia hanya bisa berdoa dalam hati agar setidaknya dia masih bisa keluar dari ruangan itu dalam keadaan hidup.

"Berani melanggar peraturan dengan percobaan pelecehan seksual. Kau sudah berani menodai sekolah ini dengan melanggar peraturan. Akan kuberikan hukuman yang tidak akan pernah bisa kau lupakan, seumur hidupmu," ucap Hibari dengan penekanan pada kalimat terakhir. "kamikorosu," ucapnya bersamaan dengan tubuh Tetsuo yang terpelanting hingga membentur dinding dengan keras.

Ririn hanya bisa mengerjapkan matanya saat massa tubuh Tetsuo yang tadi berada di atasnya hilang. Setelah melihat ke arah Ririn sekilas, Hibari berjalan ke arah Tetsuo dengan tenang.

"A-ampun..maaf, sa-saya tidak akan mengulanginya lagi," Tetsuo menggumamkan kata-kata berupa permohonan dan permintaan maaf berulang kali dengan suara dan seluruh tubuh yang gemetar.

Wajahnya meringis, tidak hanya menahan rasa sakit, tapi juga rasa takut melihat sang ketua Komite Kedisiplinan yang berjalan dengan tenang ke arahnya seperti malaikat pencabut nyawa. Tetsuo pernah melihat Hibari memberikan 'hukuman' berupa 'gigit sampai mati' kepada beberapa murid yang berani membolos kelas dan dai melihat Hibari terlihat tidak sabaran, seperti ingin menyelesaikan 'mendisiplinkan' siswa yang melanggar dengan cepat. Hibari yang saat itu terlihat menyeramkan.

Tapi, yang kali ini terlihat jauh lebih menyeramkan. Dia terlihat sangat tenang, seperti sengaja ingin bermain-main dengan mangsanya, ingin membuat korbannya sengsara lebih lama sebelum menjatuhkannya ke dalam lubang neraka.

DUAK

BUGH

Hibari langsung menendang Tetsuo dan menghantamnya dengan tonfa sehingga laki-laki itu kembali terpental hingga membentur meja. Ririn yang tadi berada dalam posisi berbaring berusaha berdiri sambil memperhatikan Hibari memukuli Tetsuo.

Setelah itu, Hibari beberapa kali sengaja memukul Tetsuo hingga membentur dinding, seakan ingin bermain-main dengan korbannya, membuat Ririn memiringkan kepalanya karena tidak seperti Hibari yang biasanya. Ririn tahu, Hibari yang biasanya akan langsung memukuli 'Herbivore pelanggar peraturan' dengan beberapa pukulan menyakitkan hingga mereka pingsan.

Ririn tiba-tiba teringat kata-kata Master-nya yang bijak untuk 'tidak melukai orang lain dan hidup damai', tapi melihat keadaan Tetsuo, sepertinya hal itu tidak mungkin. Kata-kata Masternya yang lain, bahwa kita tidak boleh membunuh makhluk hidup dengan mudah kembali teringat.

Ririn menatap Tetsuo yang sudah babak-belur dan berlumuran darah, lalu menatap Hibari yang sdang berjalan dengan tenang ke arah Tetsuo. Untuk sesaat Ririn seperti melihat orang lain dan bukan Hibari.

"Vampire-san,"

Ririn memanggil Hibari, tapi Hibari seakan tidak mendengar perkataan Ririn dan terus berjalan dengan tenang ke arah Tetsuo. Ririn sempat melihat Rin dan Hibird yang terlihat ketakutan, bersembunyi dibalik sebuah rak.

"Vampire-san," kali ini Ririn memanggil Hibari dengan suara yang lebih keras, berusaha mendapatkan perhatiannya.

DUAK

Hibari kembali menendang Tetsuo yang setengah sadar dan sudah tidak bisa menggerakkan badannya lagi hingga membentur meja yang lain. Dia seakan menjadi tuli, tidak mendengarkan panggilan Ririn. Ririn mengerutkan dahinya dan berjalan ke arah Hibari yang juga berjalan menuju Tetsuo yang sudah tidak berdaya dan berlumuran darah.

"Vampire-san!" Ririn memanggil Hibari dengan suara yang lebih tegas sambil menarik lengan bajunya, membuat perhatian Hibari teralihkan.

"Hm?" Hibari menggumam, masih dengan tatapan dingin walaupun aura membunuhnya sudah sedikit berkurang

"Kalau diteruskan, dia bisa mati," ucap Ririn mengarah pada Tetsuo.

Hibari lalu mengalihkan pandangannya dan menatap Tetsuo yang sudah sekarat, hampir kehilangan kesadarannya, lalu melihat sekelilingnya dan melihat beberapa meja yang rusak serta darah yang berceceran mengotori lantai, meja, kursi dan rak. Dia tersadar bahwa sudah berlebihan. Pandangannya lalu teralihkan melihat kancing baju bagian atas Ririn yang masih terbuka setengahnya. Atau mungkin dia memang tidak berlebihan.

"Aku tidak mau melihat wajahmu lagi, Herbivore.," ucap Hibari dengan aura membunuh yang kembali menajam pada Tetsuo yang hanya bisa gemetar ketakutan dan menahan sakit.

Setelah itu Hibari menyimpan tonfanya dan menelpon Kusakabe untuk mengurus semuanya dan segera menarik Ririn menuju ruang komite kedisiplinan yang segera diikuti oleh Rin yang dengan segera menyambar dasi pita milik Ririn yang berada didekatnya dan Hibird dari belakang. Ririn hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Hibari yang besar dan cepat dengan berlari.

BLAM

Begitu mereka sampai di ruang Komite Kedisiplinan, Hibari segera menutup pintu. Beruntung Rin dan Hibird sempat masuk ke dalam sebelum Hibari menutup pintunya. Tapi melihat Hibari yang masih memiliki aura menyeramkan, Hibird dan Rin hanya bisa sembunyi di balik salah satu sofa.

"Chibi-Herbivore, duduk di sofa dan kancingkan bajumu," ucap Hibari, masih menghadap pintu.

Ririn menganggukkan kepalanya dan melepaskan genggaman Hibari di pergelangan tanggannya, lalu duduk di sofa sambil mengancingkan bajunya.

Hibari menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, menghilangkan rasa amarah yang masih tersisa. Menyadari sifat polos Ririn, Hibari cukup sadar bahwa gadis itu pasti tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Tetsuo tadi.

Lagi-lagi dia merasa begitu lelah. Hibari lalu membalikkan badannya dan melihat Ririn yang sudah duduk manis dan menatapnya dengan wajah datar dan tatapan polos. Dia menaikkan salah satu alisnya begitu melihat Ririn tidak memakai dasinya. Dia melihat Rin yang bersembunyi di balik sofa dengan dasi Ririn di hadapannya dan mengambilnya, lalu berjalan ke arah Ririn. Hibari berlutut di depan Ririn dan memasangkan dasi Ririn pada Ririn.

"Terima kasih," ucap Ririn begitu melihat dasinya sudah terpasang.

Untuk beberapa saat Hibari menatap Ririn dan Ririn hanya balas menatap Hibari. Mereka berdua berada dalam posisi itu cukup lama, membuat dua peliharaan mereka takut akan apa yang terjadi selanjutnya dan hanya berani melihat dari balik sofa.

"Chibi-Herbivore, apa hal 'menyenangkan' yang dikatakan oleh Herbivore itu?" Hibari menatap Ririn dengan tajam.

"Entahlah. Tetsuo hanya bilang 'akan melakukan hal yang menyenangkan' tanpa menjelaskannya," jawab Ririn dengan polosnya.

"Hmph," Hibari mendengus dan melihat memar di kedua pergelangan tangan Ririn.

Mengingat dia hanya menarik salah satu pergelangan tangan Ririn, Hibari langsung menyadari penyebab memar di kedua pergelangan tangan Ririn. Dia kembali merasa marah yang dengan segera berusaha dia hilangkan.

Hibari lalu kembali menatap mata Ririn, satu tangannya terangkat, memegang dagu Ririn. Ririn menatap Hibari dengan tatapan datarnya, mengira-ngira apa yang akan dilakukan Hibari. Hibari mendekatkan wajahnya ke arah Ririn secara perlahan-lahan, memperhatikan manik silver dengan sedikit kebiruan itu.

Entah kenapa melihat bola mata Ririn seperti melihat bulan. Bulan purnama yang indah. Tetapi pikirannya buyar ketika tangan mungil gadis itu menyentuh samping matanya.

"Bola mata yang indah. Hitam pekat seakan menghisap segalanya," ucap Ririn sambil menatap mata berwarna onyx Hibari.

Gerakan Hibari berhenti untuk sesaat dan tangannya yang lain naik untuk mengenggam tangan Ririn yang ada di wajahnya. Tangan yang sangat kecil dan lembut. Wajah yang kecil, tubuh yang kecil, tatapan yang polos.

'Seperti bayi,' batin Hibari.

"Kau tahu apa yang akan kulakukan?" Hibari berhenti 3 cm dari wajah Ririn sebelum melanjutkan tindakannya.

"Mengukur suhu badan Ririn?" Ririn memiringkan sedikit kepalanya, dimatanya terlihat jelas dia bingung dengan pertanyaan Hibari.

Hibari menyeringai kecil mendengar perkataan Ririn. Dia bisa mengira dari mana hal itu datang. Pasti karena Dino mengecek suhu badan Ririn dengan cara yang sama.

"Bukan," ucap Hibari.

JDUAK

Rin dan Hibird sedikit kaget ketika dahi kedua majikan mereka berbenturan. Hibari langsung berdiri dan tersenyum puas yang diperkirakan karena senang berhasil melampiaskan kekesalannya di dahi gadis itu mengingat dia tidak boleh memukul Ririn karena permintaan adiknya. Sedikit pelampiasan tak apa kan?

Ririn sekarang hanya menatap Hibari dengan tatapan bingung dan tangan memegang dahi yang berwarna kemerahan.

"Kalau Kakak mengukur suhu tubuh Ririn biasanya tidak sekasar itu," ucap Ririn dengan polosnya membuat Hibari mendengus kesal.

"Dengar Chibi-Herbivore, lain kali kalau ada laki-laki yang mendekatkan wajahnya, lakukan hal tadi," ucap Hibari dengan nada memerintah.

"Kenapa?" Ririn menatap Hibari dengan pandangan bertanya.

"Memangnya Kuda Jingkrak itu tidak mengajarimu untuk tidak mengikuti orang yang tidak dikenal?" Hibari mengabaikan pertanyaan Ririn dan malah balik bertanya.

"Kakak bilang kok setiap kali dia pergi kerja," Ririn menjawab dengan polosnya.

"Kenapa kau bisa bersama Herbivore rendahan itu?" Hibari kembali melakukan interogasi kepada Ririn.

"Dia meletakkan ini di laci meja Ririn," Ririn mengeluarkan sepucuk surat yang langsung dibaca oleh Hibari.

"Bukankah Yuki sudah menyuruhmu untuk langsung menuju ke sini begitu bel pulang berbunyi?" Hibari kembali bertanya.

"Um, tapi," Ririn sedikit menundukkan kepalanya, membuat Hibari mengangkat salah satu alisnya.

"Hmm?"

"Keberadaan Ririn hanya mengganggu Vampire-san. Ririn tidak mau mengganggu, jadi Ririn berniat pergi ke suatu tempat dulu sebelum waktunya pulang," jawab Ririn dengan ekspresi dan nada datarnya, tapi dari tatapan matanya terlihat dia merasa bersalah.

Hibari terdiam untuk beberapa saat mendengar jawaban Ririn. Memang dia merasa Ririn mengganggu pada awalnya, tapi jika dia tidak ada dalam pengawasannya hal itu malah membuatnya tambah tidak tenang. Dia tidak khawatir. Khawatir adalah perasaan orang lemah, dia tidak mengkhawatirkan Ririn.

Hanya saja, jika terjadi sesuatu pada Ririn maka dia menjadi orang yang tidak bertanggung jawab karena tidak bisa melaksanakan tugasnya. Ya, tugas yang diberikan oleh Miyuki untuk menjaga gadis kecil itu.

Tapi dia sadar, karena sejak kemarin dia bersikap kekanakan dengan melampiaskan kekesalannya terhadap Mukuro pada Ririn terjadi hal seperti ini. Sekali lagi Hibari menatap Ririn sambil memijat dahinya.

Sekarang Hibari baru mengerti kata-kata 'kepolosan adalah kejahatan'. Siatuasi yang sering dialami Ririn sangat cocok dengan kata-kata itu. Masa' hanya karena dia tidak mengawasinya gadis ini langsung terlibat masalah? Dan yang paling parah, makin lama bahayanya semakin besar.

"Chibi-Herbivore, sejak awal kau memang mengganggu, apa bedanya?"

Ririn menatap Hibari yang balas menatapnya. Hibari sudah kembali seperti sebelumnya, memanggilnya 'Chibi-Herbivore' dan menatap matanya dengan tatapan galak. Mungkin kata-kata Hibird bahwa Hibari merasa kesal karena Mukuro itu benar? Dan rasa kesalnya terlampiaskan karena baru selesai meng'gigit' mati orang dengan sadis?

"Kalau begitu Ririn boleh terus mengganggu Vampire-san?" Ririn bertanya dengan polosnya pada Hibari.

Hibari terdiam sesaat, setelah itu mendengus dan membalikkan badannya tanpa mengatakan apapun.

"Chibi-Herbivore, pulang," ucap Hibari sambil berjalan meninggalkan Ririn.

Ririn menganggukkan kepalanya dan mengikuti Hibari menuju pintu sambil memeluk Rin.

To be continue….

XXXXX

Minna, akhirnya Sacchan update lagi LSIA!

Untuk yang mau tahu kisah Xanxus-Rika, Sacchan udah bikin spin-off nya, Stronger Than Her Look. Terdiri dari 3 chapter (end) + 1 bonus (on going), jadi 4 chapter.

Silahkan saran, kritik, review dan requestnya, Sacchan tunggu!