Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Caelia yuuki: Hai Yuuki! Untuk barang yang dicari Ririn, masih rahasia. Untuk chapter ini chapter terakhir Hibari ama Ririn ditinggal Miyuki. Tenang, Sacchan masih semangat kok lanjutin LSIA ini~

Seiran: Hai Seiran-san! Emang Ririn itu polosnya udah akut, nggak bisa disembuhin lagi sih, sampe bikin Hibari stress :D

Cocoa2795: Namanya juga Hibari, sadis mah udah biasa tuh orang. Ririn kan emang tingkat polosnya udah stadium akhir ga ada obatnya, sampe bikin Hibari stress :'v

Hikage Natsuhimiko: Iya tuh emang judul dan ceritanya terinspirasi dari kepolosan Ririn. Setiap cerita ada antagonisnya. Entah kenapa Sacchan sering bikin OC Sacchan hampir 'kenapa-napa' terus :'v . Silahkan lempar dan tonjok tuh senpai cabul Hika, Sacchan setuju kok! Lho, emang kenapa Byakkun sama Yuni? Ririn kan emang selalu moe ;) . Ah, Hika, Hibari mah emang selalu psikopat, hobinya aja 'mengigit orang sampai mati' :') . Kenapa harus dihancurkan dengan jawaban ;mengukur suhu badan'? karena Ririn itu anak polos :P . Untuk yang minta izin terus mengganggu, itu maksudnya Ririn minta izin dibolehin ada di deket Hibari karena Hibari bilang keberadaan Ririn udah menggangu, terus Hibari nggak jawab yang seperti biasa, nggak jawab menjawab=boleh. Jadi, Ririn boleh ada di deket dia dan ganggu dia :)

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Is Something Wrong?

.

.

.

Ririn menatap beberapa siswi maupun siswa yang untuk kesekian kalinya mengajak Ririn makan siang sejak Miyuki pergi menjalankan misi. Dan, untuk kesekian kalinya juga Ririn menolak tawaran mereka untuk makan siang bersama. Ririn tidak merasa tertarik berada bersama orang-orang yang tidak begitu dikenalnya.

Seperti biasanya, Ririn berniat mengambil Rin dan membawanya ke ruang komite kedisiplinan ketika bertemu dengan Kusakabe di koridor penghubung.

"Tetsu-senpai," Ririn menghampiri Kusakabe yang membawa beberapa berkas.

"Ririn-chan," Kusakabe tersenyum pada Ririn yang menghampirinya. "mau makan siang di tempat Kyo-san ya? Tapi kulihat Kyo-san baru menghukum beberapa siswa yang ketahuan membolos pelajaran di dekat lapangan baseball," ucap Kusakabe.

"Kalau begitu Ririn mau ke lapangan baseball, mengajak Vampire-san makan bareng," ucap Ririn yang dibalas senyuman oleh Kusakabe.

Setelah itu Ririn pergi meninggalkan Kusakabe dan berjalan menuju lapangan baseball. Lapangan baseball hari itu terlihat ramai, tidak seperti biasanya. Biasanya lapangan baseball hanya digunakan pada saat pulang sekolah atau pada saat jam ekskul sedang berlangsung.

"Ririn-chan?"

Ririn yang sedang mencari Hibari menolehkan kepalanya mendengar suara orang yang memanggilnya. Dia melihat Tsuna, Gokudera, Kyoko, Ryohei dan Hana berada di dekat lapangan baseball. Kyoko yang tadi memanggilnya tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Kyoko-chan," Ririn menghampiri Kyoko yang nasih tersenyum hangat kepadanya. "konnichiwa," Ririn sedikit membungkukkan badannya pada mereka, memberi salam.

Baru Ririn selesai memberi salam, terdengar suara teriakan dari dalam lapangan. Seorang pemain berhasil memukul bola dan sedang berlari menuju base.

"Apa kamu ke sini melihat pertandingan Yamamoto-san?" Hana menatap Ririn yang sejak tadi berkeliaran di dekat lapangan baseball.

"Nggak. Ririn mencari Vampire-san, mau makan siang bareng," ucap Ririn sambil menunjukkan kotak bekal yang dibawanya.

"Eh, dengan Hibari-san?" Tsuna menatap Ririn dengan pandangan tidak percaya yang dibalas anggukan kecil dari Ririn.

"Makan siang dengan Hibari! Extreme! Aku tadi melihatnya di dekat ruang ganti klub baseball," ucap Ryohei sambil mengarahkan tinjunya ke dekat ruang ganti klub baseball.

"Terima kasih," ucap Ririn sambil sedikit membungkukkan badannya.

Ririn lalu membalikkan badannya dan berjalan menuju ruang samping klub baseball. Di samping sebuah pohon besar dan rindang, Ririn melihat Hibari sedang bersender dan menatap langit, masih memegang tonfanya yang sedikit terkena darah. Tidak jauh dari Hibari, Ririn bisa melihat bekas darah dan tubuh yang tergeletak di samping ruang klub baseball.

Ririn memandang Hibari yang terlihat memikirkan sesuatu beberapa saat dan baru berjalan mendekati Hibari ketika Hibari menyadari keberadaannya dan menolehkan kepalanya. Ririn belum sempat mengatakan apapun ketika Hibari menegakkan punggungnya dan menyimpan tonfanya, lalu berjalan melewati Ririn.

"Kenapa?" Hibari menghentikan langkahnya dan menatap Ririn dengan alis terangkat begitu sadar Ririn tidak mengikutinya seperti biasa.

"Um," Ririn menggelengkan kepalanya pelan dan mengikuti Hibari yang kembali berjalan.

Ketika melewati lapangan baseball, terdengar teriakan riuh dari area lapangan baseball. Ririn menghentikan langkahnya dan berjalan mendekat ke arah jaring, melihat Yamamoto yang baru saja memukul home run dan berteriak bersama teman-temannya dengan wajah gembira. Ririn sempat melihat sekerumunan siswi berteriak histeris dan memanggil nama Yamamoto yang hanya dibalas lambaian tangan dan senyum ceria olehnya. Saat menyadari Hibari sudah jauh di depannya, Ririn berlari kecil untuk mengejarnya.

"Ririn-chan!"

Ririn menghentikan langkahnya, sedangkan Hibari masih berjalan beberapa langkah di depannya.

"Take-senpai,"

Ririn membalas lambaian tangan Yamamoto yang berjalan menuju kearahnya semangat dengan lambaiannya yang datar. Begitu Yamamoto selesai bersorak bersama teman-teman satu timnya, ternyata dia menghampiri Tsuna dkk yang menonton pertandingannya.

"Kau lihat pukulanku?" Yamamoto bertanya dengan cerianya yang dibalas anggukkan oleh Ririn.

"Um, pukulan home run," jawab Ririn singkat yang dibalas tawa kecil Yamamoto.

"Hm? Kamu mau kemana bersama Hibari-san?" Yamamoto yang baru menyadari Hibari berdiri tidak jauh dari mereka dengan tatapan tajam bertanya pada Ririn.

"Ririn mau makan siang bareng Vampire-san," jawab Ririn dengan datarnya.

"Hmm, bagaimana kalau kalian makan siang bersama kami?" tawar Yamamoto yang di sambut seruan tidak setuju dari beberapa teman-temannya yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka.

"Tapi Vampire-san tidak suka berkerumun," ucap Ririn sambil sekilas menatap ke arah Hibari yang membalikkan badannya dan kembali berjalan. "Take-senpai, Ririn mau mengejar Vampire-san dulu ya," ucap Ririn sambil melambaikan tangannya dan mulai mengejar Hibari yang semakin menjauh.

"Sayang sekali. Baiklah, lain kali kita makan siang bareng ya!" seru Yamamoto pada Ririn yang menganggukkan kepalanya sambil mengejar Hibari.

Begitu mereka sampai di ruang komite kedisiplinan, karena tidak ada Kusakabe, Ririn langsung membuatkan teh untuk mereka berdua dan mulai memakan bekalnya. Seperti biasa, mereka makan dalam keadaan diam. Tetapi, kali ini Hibird dan Rin asyik bermain di pojok ruangan karena mereka sudah tidak merasakan aura menyeramkan seperti hari sebelumnya.

Begitu Hibari menyelesaikan makannya, dia menyesap tehnya dan terdiam untuk beberapa saat sambil menatap Ririn. Ririn yang menyadari tatapan Hibari balas menatapnya dengan pandangan bertanya, tapi tidak mengatakan apapun dan masih melanjutkan makan siangnya.

"Kenapa…kau tidak makan bersama dengan para herbivore itu saja?" Hibari akhirnya menanyakan pertanyaan yang sejak tadi ada di pikirannya.

Padahal, dia cukup yakin saat Yamamoto mengajak Ririn makan bersama tadi, Ririn akan menyetujuinya dan lebih memilih makan bersama mereka dibandingkan dengannya.

"Tidak boleh?" Ririn sedikit memiringkan kepalanya menatap Hibari.

Hibari hanya bisa terdiam selama beberapa saat mendengar perkataan Ririn.

"Kau lebih cocok bersama kerumunan herbivore berisik itu,"

"Tapi Ririn mau sama Vampire-san," balas Ririn yang membuat Hibari menaikkan salah satu alisnya.

Ririn tahu Hibari ingin dia menjelaskannya, tapi berhubung Ririn anak baik dan bekalnya belum habis, dia melanjutkan makannya sampai Hibari tidak sabar dan akhirnya menyuarakan pertanyaannya.

"Kenapa?"

"Karena Tsuna-nii dan yang lainnya terlalu baik," ucap Ririn sambil menyuapkan makanan terakhir ke mulutnya.

Hibari mengerutkan alisnya. Dia sadar dia bukan orang paling lembut atau baik yang ada. Tapi entah kenapa walaupun dia tahu kata-kata Ririn tidak memiliki niat jahat dia malah merasa tersindir.

"Mereka bersikap terlalu baik pada Ririn. Selama ini, hanya Vampire-san yang memarahi Ririn dan memukul Ririn. Vampire-san tidak berusaha 'bersikap baik' pada Ririn. Vampire-san memperlakukan Ririn sama seperti memperlakukan yang lain," ucap gadis itu sebelum meminum tehnya.

'Karena pada akhirnya Ririn hanya akan merepotkan kalian dan menjadi beban, seharusnya kalian tidak bersikap sebaik itu pada Ririn' tambah Ririn di dalam hati sedih, walaupun tidak terlihat di wajahnya.

"Vampire-san benci Ririn?" Ririn lalu kembali bertanya yang hanya di balas dengan tatapan tidak terbaca oleh Hibari.

"Bukankah kau yang membenciku?" Hibari malah membalas pertanyaan Ririn dengan pertanyaan yang langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Ririn.

Hibari mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan dari Ririn.

"Ririn…iri pada Vampire-san," ucap Ririn mengawali kalimatnya yang disambut tatapan penasaran yang tidak terlalu terlihat dari mata Hibari. "Vampire-san memiliki semua yang Ririn inginkan. Kepercayaan diri, harga diri yang tinggi, kekuatan dan ego untuk mempertahankan apa yang berharga untuk Vampire-san. Kalau dulu Ririn sekuat Vampire-san, Mama dan Papa…," Ririn menggantungkan kalimatnya dan kembali menyesap tehnya, lalu mengelus Rin yang sudah ada di pangkuannya.

Hibari sedikit mengerutkan dahinya tanpa disadari, memikirkan perkataan gadis itu dan maksud di balik kata-katanya, serta ekspresi seantiasa datarnya yang sekarang terlihat sedih. Kemudian dia teringat cerita Dino bahwa orang tua Ririn dibunuh. Tanpa sadar, tangannya terangkat ke kepala Ririn.

"Ah,"

Ririn menggumam pelan sesaat sebelum tangan Hibari menyentuh puncak kepalanya. Hibari segera menarik tangannya kembali sebelum Ririn menyadarinya.

"Ririn tidak membenci Vampire-san," ucap Ririn sambil menatap Hibari yang balas menatapnya datar. "Ririn belum menjawab pertanyaan Vampire-san kan? Ririn tidak membenci Vampire-san. Ririn sangat suka Vampire-san yang apa adanya pada Ririn," ucap Ririn sambil menatap lurus mata Hibari.

Bel masuk berbunyi, membuat Ririn segera merapihkan bekalnya dan kembali ke kelasnya setelah memberi salam kepada Hibari. Begitu pintu tertutup, Hibari hanya bisa mengangkat satu tangannya dan menutup mulutnya. Wajahnya sedikit memerah.

'Ririn sangat suka Vampire-san yang apa adanya pada Ririn'

Hibari menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan kata-kata Ririn yang seakan terus berdengung di telinganya. Dia merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Dia berdiri dari sofa dan duduk di meja kerjanya. Perasaan apa yang dia rasakan?

XXXXX

Sekolah sudah selesai dan Ririn bersama dengan Rin menunggu Hibari selesai mengerjakan tugasnya hingga langit menjadi gelap. Ririn sedang membaca sebuah buku yang dia pinjam dari perpustakaan ketika menyadari cahaya yang berasal dari luar jendela.

Ririn meletakkan bukunya dan berjalan menuju jendela yang ada di belakang meja kerja Hibari. Ternyata langit malam sedang dihiasi oleh bulan purnama berwarna perak. Hibari yang dari ujung matanya melihat Ririn mengeluarkan cermin dari tas rajutnya hanya diam.

"Vampire-san, boleh Ririn pergi ke atap dan melihat bulan?" ucap Ririn pada Hibari yang langsung meletakkan dokumen yang dibacanya dan menatap Ririn.

Untuk beberapa saat Hibari menatap Ririn tanpa berkedip, mengingat beberapa kejadian yang telah terjadi selama beberapa hari ini karena dia meninggalkan Ririn sendirian membuatnya berpikir berkali-kali.

Hibari menatap bulan di luar selama beberapa saat, lalu Ririn, dan Rin yang entah sejak kapan sudah berada di sebelah Ririn ikut menatapnya dengan mata memohon dan ekor bergoyang. Hibari menghela napas sebelum berbicara.

"Baiklah. Tapi, Hibird harus ikut denganmu," ucap Hibari sambil memberi perintah pada Hibird untuk menghampiri mereka dan meletakkan Hibird di atas kepala Ririn. "ingat Chibi-Herbivore, kau dilarang berbicara ataupun mendekati orang yang tidak kau kenal!" Hibari memperingatkan dengan penuh penekanan yang dibalas anggukkan oleh Ririn.

Setelah itu, Ririn keluar dari ruangan diikuti Rin yang terlihat bersemangat. Begitu pintu tertutup, Hibari memijat kepalanya yang terasa lelah dan berniat menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.

XXXXX

Hibari menghela napas pelan setelah menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Dia mematikan laptop dan menumpuk semua dokumenya, lalu melihat jam dinding. Waktu sudah menujukkan pukul delapan malam lebih, membuat Hibari melihat ke luar jendela dan memandang bulan di luar.

Memikirkan sesosok gadis polos di atap sekolah malam-malam begini, walaupun musim panas kalau sudah menunggu selama satu jam lebih ditambah anaknya tidak kuat dingin, bukan tidak mungkin akan sakit. Memikirkan kemungkinan itu, entah kenapa membuat Hibari mempercepat gerakannya dalam merapihkan semua barang-barangnya dan dia dengan segera mengambil jaket hitamnya, lalu berjalan menuju atap.

Begitu dia membuka pintu menuju atap, dia hanya bisa terdiam di tempatnya melihat sesosok gadis dengan mata terpejam berdiri di tengah-tengah atap disinari cahaya bulan yang berwarna perak. Entah kenapa dia merasakan déjà vu dan teringat kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika mereka pertama kali bertemu.

Sesosok gadis bersinar dengan cahaya keperakan yang mau tidak mau harus diakui terlihat indah. Gadis itu memeluk cermin yang diletakkan di depan dada dan diarahkan menghadap bulan. Cahaya yang terpantul dari cermin itu seakan berpendar di sekeliling gadis itu, membuat seekor anak serigala yang duduk di sebelah gadis itu ikut bersinar dengan warna perak.

Hibari menutup pintu perlahan dan berjalan mendekati gadis yang seakan sedang menikmati cahaya bulan yang menyelimuti tubuhnya itu. Gadis itu membuka matanya perlahan dan membalikkan matanya, membuat rambut hitamnya berkibar karena angin malam.

'Malaikat bulan,'

Walaupun tidak mau mengakuinya, tetapi pikirannya berkata lain. Gadis yang terlalu polos dan jujur, seakan tidak ternoda oleh apapun. Gadis yang diam-diam mendapat julukan 'malaikat kecil Namimori' oleh siswa-siswi Nami-Gakuen karena sering menghentikan sang setan 'menggigit mati' mangsanya.

Indah. Cantik. Entahlah, Hibari tidak tahu lagi apa kata yang tepat untuk mengungkapkan gadis di depannya. Dia bukan tipe laki-laki romantis dan dia tidak membutuhkan kosakata yang menurutnya hanya digunakan oleh herbivore lemah.

"Vampire-san," Ririn menggumam pelan saat melihat Hibari berdiri tidak jauh darinya.

Ririn berjalan dengan tubuh yang masih dikelilingi cahaya berwarna perak mendekati Hibari. Langkahnya terlihat ringan, kakinya tidak berpijak pada lantai, sedikit melayang. Hibari hanya diam bahkan, saat Ririn sudah berdiri di hadapannya.

Ririn mengulurkan kedua tangannya dan menggenggam kedua tangan Hibari. Cermin yang sejak tadi dipegangnya melayang di depan dadanya dan memantulkan cahaya perak yang perlahan ikut menyelimuti tubuh Hibari. Hibari hanya memperhatikan apa yang dilakukan Ririn tanpa berbicara dan merasakan kehangatan dari tangan mungil yang menggenggam kedua tangannya.

"Bagaimana?" Ririn sedikit memiringkan kepalanya sambil menatap Hibari.

"Hn?"

"Apa Vampire-san merasa lebih baik? Saat bulan purnama, Ririn tidak hanya bisa memulihkan diri Ririn, Ririn juga bisa menyembuhkan mental dan fisik orang lain. Vampire-san terlihat lelah, apa rasa lelahnya sudah hilang?" Ririn kembali bertanya sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Hibari.

Mendengar penjelasan Ririn membuat Hibari sadar bahwa rasa pegal dan lelahnya mulai hilang, tubuhnya juga mulai terasa rileks. Cahaya yang menyelimuti tubuhnya terasa nyaman, juga kehangatan yang berasal dari kedua tangannya. Entah, berapa lama mereka berada dalam posisi seperti itu. Ririn yang memandangi kedua tangan mereka yang saling menggenggam dan Hibari yang memandangi Ririn.

Sayang, Ririn terlalu terfokus pada kekuatannya, tidak menyadari tatapan sang Cloud Guardian yang untuk sesaat menatapnya lembut. Tiba-tiba Ririn melepaskan genggamannya pada tangan Hibari bersamaan dengan cahaya keperakan yang mulai menghilang.

"Hari sudah mulai larut, sepertinya sudah waktunya kita pulang," ucap Ririn sambil memasukkan cerminnya ke dalam tas.

Hibari hanya menganggukkan kepalanya pelan dan menatap punggung Ririn yang berjalan untuk mengambil Rin yang masih duduk di tempat semula. Hibari menatap kedua tangannya sesaat, merasa kehilangan kehangatan yang baru saja dirasakannya.

"Vampire-san?" Ririn sedikit memiringkan kepalanya sambil berdiri di depan Hibari yang terdian menatap kedua tangannya.

Hibari segera menghilangkan apa yang baru saja dipikirkannya dan membalikkan badannya, berniat pulang yang diikuti Ririn. Diam-diam dia menghela napas pelan. Walaupun rasa lelahnya sudah hilang, pikiran dan tubuhnya terasa lebih tenang, tetapi kenapa sekarang malah perasaannya yang tidak tenang?

XXXXX

Lagi, pagi ini Hibari terbangun sambil merasakan sesuatu yang hangat, lembut dan mungil di pelukannya. Tapi pagi ini dia terlalu malas untuk membuka matanya dan menjauhkan tubuhnya dari sosok yang dipeluknya. Dia merasa nyaman.

Mengingat hari ini libur dan dia bisa pergi ke sekolah juga patroli lebih siang dari biasanya, dia berniat kembali tertidur. Tidak berapa lama dia kembali terbangun karena merasakan tangannya diangakat dengan sangat hati-hati dan sosok yang ada di dalam pelukannya beranjak pergi. Saat itulah, otaknya seakan tersadar dan membuka matanya, menatap Ririn yang berniat turun dari tempat tidur.

"Chibi-Herbivore," Hibari menggumam pelan dengan suara khas orang bangun tidur yang membuat Ririn langsung menoleh menatap Hibari.

"Maaf, Ririn membangunkanmu," ucap Ririn sambil berdiri di samping tempat tidur.

Hibari hanya menggumam tidak jelas dan kembali membenamkan kepalanya ke bantal. Ririn menunggu sampai Hibari benar-benar kembali tertidur sebelum keluar dari ruangan itu. Gadis itu tidak sadar kalau Hibari hanya memejamkan matanya, berusaha menghilangkan pikiran bahwa dia merasa kehilangan kehangatan yang sebelumnya berada di pelukannya.

Entah, berapa lama Hibari kembali tertidur, yang pasti saat tersadar sinar matahari sudah masuk dari pintu geser di kamar itu. Hibari melihat Hibird dan Rin yang masih bergelung di pojok ruangan dan memutuskan untuk keluar dari kamarnya.

Setelah dari toilet, dia menuju ruang makan dan melihat Ririn yang langsung menuangkan kopi begitu melihat Hibari, lalu kembali melanjutkan masaknya. Hibari hanya menatap kopi di hadapannya selama beberapa saat, lalu merlihat ke arah Ririn yang terlihat sudah selesai memasak dan membawa dua piring ke meja makan.

Lagi, Hibari tidak mengerti kenapa herbivore kecil di hadapannya tidak bisa menyajikan makanan dengan penampilan normal sederhana seperti yang biasa Miyuki buatkan untuknya.

"Chibi-Herbivore," panggilan Hibari membuat Ririn yang duduk di depannya menatapnya. "kenapa kau selalu membuat makanan dengan bentuk begini?" Hibari menatap makanan di depannya tajam sekilas.

Hari ini, menu sarapan yang dibuat Ririn adalah burger. Entah bagaimana caranya, Ririn berhasil membuat tumpukan roti bagian atas berbentuk seperti beruang dan membuat mata dan mulut dari saus, sedangkan bagian mulutnya adalah tumpukan keju, daging dan sayuran di dalam burger itu sendiri.

"Karena Ririn lihat di TV kalau kita membuat makanan dengan bentuk-bentuk yang lucu seperti ini bisa membuat orang yang makan lebih bersemangat dan tersenyum. Ririn mau Vampire-san bersemangat dan tersenyum, walaupun Vampire-san jarang tersenyum dan hanya melakukannya pada Nee-chan," jelas Ririn.

Hibari menatap Ririn, lalu makanan di hadapannya.

"Vampire-san sama sekali tidak pernah tersenyum pada Kakak dan selalu mengajak Kakak bertarung, jadi Ririn kira kalau makan yang seperti ini Vampire-san bisa lebih lembut pada Ka-aduh!," Ririn sedikit mengerutkan alisnya karena Hibari yang duduk tepat di hadapannya sudah mengulurkan tangannya dan menarik kedua pipinya keras.

"Itadakimasu," gumam Hibari setelah puas mencubit pipi Ririn dan langsung memakan sarapannya.

Ririn mengelus kedua pipinya yang sekarang berwarna kemerahan sambil menatap Hibari yang sudah mulai makan. Memangnya dia salah apa sampai pipinya dicubit?

XXXXX

"Vampire-san mau ke mana?" Ririn menatap Hibari yang sudah berpakaian lengkap ketika melewati ruang tengah.

"Patroli" jawab Hibari singkat sambil menatap Ririn sekilas.

Ririn berdiri dan mengikuti Hibari dari belakang, diikuti Rin.

"Chibi-Herbivore," Hibari menghentikan langkahnya, membuat Ririn membentur punggung Hibari. "kamu mau kemana?"

"Ririn mau ikut Vampire-san patroli, Ririn bosan,"

"Pergi saja dengan herbivore-herbivore yang lain,"

"Tapi Kyoko-chan dan Haru-chan sedang kencan, Take-senpai sedang latihan baseball,"

Untuk beberapa saat kedua orang itu hanya diam dan saling berpandangan.

"Hhh, pokoknya jangan ikuti aku," ucap Hibari sambil lanjut berjalan menuju pintu depan.

"Ya udah, Ririn main ke tempat Mu-kun aja," ucap Ririn sambil mengikuti Hibari menuju pintu depan.

Lagi-lagi Hibari menghentikan langkahnya, membuat Ririn kembali membentur punggung Hibari, dan dengan cepat membalikkan tubuhnya menatap Ririn.

"Chibi-Herbivore, ikut aku patroli," ucap Hibari singkat dengan wajah yang terlihat kesal yang membuat Ririn bingung,

"Um," Ririn menganggukkan kepalanya sambil menatap Hibari sedikit bingung.

Hibari mengabaikan tatapan bingung Ririn yang dipastikan karena keputusannya yang plin-plan..

XXXXX

Sudah beberapa jam Ririn mengikuti Hibari berkeliling kota Namimori tanpa berbicara. Sekarang, mereka sedang memasuki pusat perbelanjaan. Ririn melihat toko-toko sambil berusaha mengikuti Hibari.

Pandangannya tiba-tiba terhenti pada sebuah lukisan dengan pemandangan bulan purnama berwarna perak yang indah di tepi danau. Terlihat punggung seorang perempuan yang memiliki rambut hitam panjang bergelombang sepunggung dan memakai dress putih membawa sebuah tongkat panjang sedang menatap bulan di lukisan itu. Tanpa sadar, tangannya menyentuh kaca etalase toko itu, berniat menyentuh sosok perempuan dalam lukisan itu.

"Mama…," Ririn menggumam pelan tanpa sadar.

Rin yang sejak tadi diam di sisi majikannya hanya bisa menatap Ririn dengan pandangan yang sama sedihnya. Kali ini, Rin tidak memiliki keberanian ataupun keinginan untuk mengalihkan perhatian majikannya itu.

Brukk

Tiba-tiba Ririn ditabrak oleh orang yang berlalu lalang di jalan hingga membuatnya jatuh.

"Ah, maaf!" seorang laki-laki paruh baya berkacamata dan berpakaian rapih mengulurkan tangannya untuk membantu Ririn berdiri. "maaf, saya tidak sengaja. Kamu tidak apa-apa?" laki-laki itu menunjukkan ekspresi khawatir sambil bertanya pada Ririn.

"Ririn tidak apa-apa," jawab Ririn setelah berdiri.

Rin langsung mendekati Ririn dan menatap Ririn dengan pandangan khawatir yang dibalas Ririn dengan tatapan menenangkan. Ririn tidak menyadari laki-laki tadi masih memegang tangannya dan sekarang sedang menatapnya.

"Nona, anda manis sekali," ucap Laki-laki itu sambil tersenyum.

"Terima kasih," Ririn sedikit memiringkan kepalanya ketika melihat tatapan laki-laki di depannya berubah dan menarik tangannya yang di genggam laki-laki itu.

"Apa kamu tertarik menjadi model? Sekali sesi pemotretan anda akan langsung mendapatkan bayaran yang besar," Laki-laki itu menahan tangan Ririn yang masih digenggamnya, tidak berniat melepaskannya.

"Model?"

"Ya. Ah, saya adalah Fujiyama dan ini adalah kartu perusahaan kami," ucapnya sambil memberikan kartu nama dengan warna yang mencolok. "tenang saja, awalnya memang akan sedikit tidak nyaman, tapi setelah lama-lama pasti akan terbiasa," tambah Fujiyama dengan wajah yang memerah dan berkeringat

Sekarang kedua tangan Fujiyama sudah memegang pundak Ririn. Ririn hanya menatap Fujiyama datar dan satu tangannya memegang kartu nama yang diberikan laki-laki itu. Tiba-tiba muncul laki-laki berbadan besar berdiri di belakangnya. Ririn mendongakkan kepalanya dan menatap laki-laki yang sudah menyeringai dibelakangnya.

"Ah, ini adalah rekan saya, Sato. Sato, ayo kita bawa Nona ini ke tempat kita," ucap Fujiyama.

Beberapa penjual dan orang yang lewat mengamati mereka bertiga dengan takut. Sebenarnya, beberapa orang menatap Ririn khawatir karena kedua laki-laki di depannya terlihat mencurigakan, tetapi setelah sadar bahwa dua orang itu berasal dari salah satu geng, mereka khawatir akan terkena masalah dan hanya berani melihat dari kejauhan saja.

"Tapi Ririn harus mengejar Vampire-san, nanti Ririn dimarahin," ucap Ririn sambil memutar tubuhnya, berniat mencari jejak Hibari.

"Ah, kami bisa mengabarkan keberadaanmu pada orang yang kau sebut itu nanti," ucap Fujiyama sambil menarik pergelangan tangan Ririn.

"Tidak bisa, Vampire-san orangnya tidak sabaran," ucap Ririn sambil berusaha menarik tangannya.

"Jangan begitu, kalau tidak mau menjadi model kamu bisa memuaskan pelanggan,"

Orang yang dipanggil Sato sudah memegang pundak Ririn dari belakang, menahan gerakan gadis itu. Ririn sedikit mengerutkan dahinya. Dia harus segera menemui Hibari. Ririn baru memasukkan tangannya ke dalam tas, berniat memberikan obat tidur pada dua orang yang mengapitnya ketika sebuah tonfa melayang dan mengenai wajah Sato.

KRAK

"Aghhh!"

Ririn cukup yakin bahwa hidung orang yang bernama Sato itu pasti patah. Ririn melihat arah datangnya tonfa itu dan Hibari berdiri di sana sambil memegang satu tonfanya yang masih tersisa, dibelakangnya berdiri Rin yang entah sejak kapan sudah tidak ada di sisi Ririn. Matanya menatap tajam Sato dan Fujiyama yang sekarang sedang gemetar ketakutan melihat dirinya.

"Hi-Hi-Hibari-san," Fujiyama jatuh terduduk dan satu tangannya menunjuk ke arah Hibari.

"Hoo, kudengar ada serangga rendahan yang berani mengganggu ketenangan Namimori dengan cara merekrut paksa siswi-siswi di Namimori untuk melakukan pekerjaan kotor," ucap Hibari sambil berjalan perlahan menghampiri tiga orang di depannya.

"Ti-tidak, bu-bukan begitu, kami-," Sato memegang hidungnya yang berdarah dengan satu tangan, tangan yang satunya dikibaskan di depan wajahnya.

"Masih berani menyangkal. Chibi-Herbivore, sini!" Hibari memberi isyarat pada Ririn untuk mendekatinya. "apa yang dua orang ini katakan padamu?" tanya Hibari setelah Ririn berdiri di depannya.

"Fujiyama bilang kalau Ririn manis dan cocok jadi model. Ririn dikasih ini," ucap Ririn sambil memberikan kartu nama Fujiyama pada Hibari.

"Lalu, apalagi yang mereka katakan?" Hibari dengan sabar bertanya pada gadis polos di depannya setelah sekilas memberikan tatapan mengancam pada dua orang yang hanya bisa merasakan nyawa mereka semakin memendek.

"Katanya kalau Ririn tidak mau jadi model, Ririn bisa memuaskan pelanggan," segera setelah Ririn selesai mengatakan hal itu, Hibari yang memang pada dasarnya memiliki aura mengintimidasi yang membuat orang ketakutan menjadi semakin menyeramkan.

"Jadi, kalian berniat membuat anak dibawah umur menjadi pelacur? Kamikorosu!" Hibari yang merasa tidak membutuhkan penjelasan lebih langsung maju menyerang kedua orang yang sudah duduk di tanah dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.

"GYAAAA!"

Teriakan menggema di seantero pertokoan Namimori, membuat orang-orang yang kebetulan ada di sana dan sedang lewat menyaksikan aksi hukuman dari sang setan Namimori sambil bergidik ngeri. Beberapa yang lewat membawa anak kecil langsung menutup mata atau telinga anak mereka dan segera lari meninggalkan TKP tersebut.

"Itu…,"

"Hibari-san?"

Dua pasang pemuda-pemudi yang sedang lewat, diduga selesai berkencan, keluar dari sebuah café dan melihat adegan yang tidak cocok dilihat untuk anak-anak itu.

"Hahi! Itu orang yang waktu itu sempat memaksa Haru menjadi model desu! Tapi Bianchi menolongku," seorang gadis manis berambut cokelat gelap menunjuk dua orang yang sedang sibuk menerima pukulan tonfa dari Hibari.

"Ah, mereka juga sempat memaksaku, tapi saat itu Hana bersamaku dan mengatakan mereka terlihat mencurigakan dan mengancam akan memanggil polisi jika masih memaksaku," ucap gadis lain yang berambut cokelat keemasan sambil mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.

"Huh, berarti mereka memang mencurigakan kalau Hibari sudah meng'kamikorosu' mereka! Biarkan saja mereka rasakan akibatnya!" ucap salah seorang laki-laki berambut silver dengan nada kasar.

"Kalau begitu, mungkin lebih baik kita menjauh saja dari sini agar tidak mengganggu pekerjaan Hibari-san," ucap laki-laki berambut brunette yang diikuti anggukkan teman dan pacarnya.

Setelah beberapa saat yang dirasa sangat lama bagi kedua orang yang menerima hantaman tonfa, Kusakabe datang bersama beberapa orang anggota komite kedisiplinan dan seorang polisi.

"Urus mereka,"

"Baik!"

Hibari lalu menyerahkan dua orang itu kepada anggotanya untuk diurus. Dia langsung menarik tangan Ririn yang sejak tadi hanya menonton sambil memeluk Rin dan membawanya pergi dari pusat perbelanjaan itu.

Setelah mereka sampai di tepi sungai, Hibari melepaskan pegangan tangannya pada Ririn. Ririn memperhatikan tangannya yang dilepaskan oleh Hibari selama beberapa saat. Tiba-tiba Ririn seakan teringat sesuatu.

"Vampire-san," Ririn memanggil Hibari pelan.

Walaupun Hibari terus melangkah dan sama sekali tidak menjawab, tapi Ririn tahu kalau Hibari mendengarnya, jadi dia melanjutkan perkataannya. Ralat, pertanyaannya.

"'Pelacur' itu apa?"

Bukk

Untuk yang ketiga kalinya hari itu, Ririn membentur punggung Hibari yang berhenti mendadak. Dia mengelus hidungnya dan mengira-ngira kenapa hari ini laki-laki itu suka berhenti mendadak di depanya?

"Chibi-Herbivore, kenapa kau tidak mengikutiku?" tanya Hibari setelah membalikkan badannya.

Ririn terdiam beberapa saat mencerna pertanyaan Hibari. Kenapa pertanyaan Ririn malah dibalas dengan pertanyaan?

"Ririn melihat lukisan bulan di etalase toko," jelas Ririn singkat.

Hibari terdiam selama beberapa saat, mengingat lukisan bulan yang sekilas dia lihat di etalase toko tempat dia menghukum dua orang tadi.

"Ririn tadi mau mengejar Vampire-san setelah membuat dua orang tadi tertidur, tapi Vampire-san ternyata belum jauh dan malah mendatangi Ririn duluan," jelas Ririn sambil menunjukkan sebuah bola yang diingat Hibari sebagai bom asap dengan efek obat tidur.

Sebenarnya, tadi dia sudah melewati beberapa gang dan baru tersadar kalau Ririn tidak mengikutinya saat melihat pantulan dirinya di depan cermin sebuah toko tanpa gadis itu di belakangnya. Saat dia sedang mencari gadis itu, Rin malah datang dan seperti biasa membawa Hibari menemui Ririn.

"Vampire-san, pertanyaan Ririn belum dijawab. 'Pelacur' itu apa?" Ririn kembali bertanya dengan polosnya.

Hibari hanya bisa membeku di tempat selama beberapa saat. Bayangkan, seorang gadis mungil nan imut dengan wajah polos menanyakan hal itu kepada sang Setan Namimori. Beberapa pejalan kaki yang mulai lewat mungkin sudah mencurigai Hibari berniat membuka bisnis gelap.

"Chibi-Herbivore, lupakan kata-kata itu," ucap Hibari dengan nada dingin dan tatapan tajam, lalu membalikkan punggungnya.

"Tapi,Vamp-"

"Lupakan kata-kata itu, jangan pernah sebut lagi dan jangan pernah tanyakan pada orang lain!" Hibari berkata dengan gusar sambil melangkah cepat.

"Tapi…,"

Hibari menghentikan langkahnya ketika merasakan Ririn tidak mengikutinya. Dia menghela napas pelan dan membalikkan tubuhnya.

"Chibi-Herbivore, kau mau makan siang apa?"

Ririn menatap Hibari yang tumben-tumbennya menanyakan menu makanan pada Ririn, padahal biasanya kalau makan di restoran dia tidak pernah tanya Ririn dulu dan langsung masuk sesukanya.

"Takesushi?" Ririn menjawab setengah ragu karena mengira Hibari akan menolaknya.

Perlu diingat kalau Hibari menghindari mengunjungi tempat dimana dia bisa bertemu orang yang dikenalnya, terutama Famiglia nya. Terlebih, orang yang bersikap sok akrab padanya seperti Ryohei dan Yamamoto.

"Ayo, cepat," Hibari lalu membalikkan badannya dan kembali berjalan, kali ini dikuti Ririn.

Dalam hati, Hibari membuat catatan mental agar lebih menjaga ucapannya di depan Ririn. Kalau bukan karena gadis itu secara tidak sengaja telah membantunya menemukan dua mangsanya, dia sudah membungkam gadis itu dengan mencubit atau menjitaknya.

XXXXX

Miyuki tersenyum lebar di depan pintu rumahnya. Di tangannya ada oleh-oleh dari Italia. Sebenarnya sejak dulu dia ingin membawa oleh-oleh untuk kakaknya, tapi karena harus merahasiakan identitasnya, dia tidak bisa membawakannya. Miyuki sengaja tidak memberitahukan kakaknya atau Ririn kalau dia pulang sore ini. Sekali-kali dia ingin mengejutkan kakaknya, walaupun kemungkinannya sangat kecil.

"Tadaima," Miyuki menggumam pelan sambil melangkah masuk ke rumah.

Pandangannya terarah pada sepatu kakaknya dan Ririn yang ada di depan pintu, artinya mereka baru saja pulang dan ada di rumah. Miyuki berjalan perlahan, mengira-ngira dimana kira-kira kakaknya dan Ririn berada.

BRUKK

Suara kencang dari ruang tengah menarik perhatian Miyuki. Samar-samar dia mendengar suara TV yang menyala dan berjalan menuju ruang tengah. Begitu dia sampai di ruang tengah, senyumnya memudar dan oleh-oleh yang dibawanya dibiarkan jatuh ke lantai.

"Nee-chan?"

"Yuki,"

Miyuki menatap Hibari yang berada di atas Ririn dengan pandangan tidak percaya. Dia tahu kakaknya memiliki moral yang tinggi dan tidak akan melakukan sesuatu pada anak dibawah umur, tetapi kalau sudah melihat begini…

"K-Kyo-nii ngapain ke Ririn-chan?" Miyuki setengah tidak percaya menunjuk posisi mereka berdua, pipinya sudah memerah.

Ririn terbaring di lantai, rambutnya berserakan dan satu tangannya ditahan oleh Hibari ke lantai. Hibari berada di atas Ririn dengan satu tangan memegang satu pergelangan tangan Ririn dan yang lain berada di samping kepala Ririn.

"Kyo-nii tidak boleh macam-macam sama anak di bawah umur!" Miyuki lalu berjalan cepat ke arah mereka dan mendorong Hibari yang bahkan tidak sempat bereaksi lalu membantu Ririn duduk.

"Kamu salah paham, Yuki," Hibari berusaha duduk sambil menatap Ririn tajam.

"Nee-chan, Ririn yang salah. Ririn lagi main sama Rin, Hi-chan dan Roll, terus Ririn hampir nginjek Roll, jadi Ririn narik baju Vampire-san yang mau berdiri. Vampire-san, maaf, Ririn nggak sengaja," jelas Ririn sambil minta maaf ke Hibari yang tidak dihiraukan.

Miyuki sekarang menatap Roll yang baru disadari ada di sebelah Ririn dan menatap mereka dengan pandangan bersalah. Hibird sudah bertengger di atas TV dan menatap mereka dengan tenang, sedangkan Rin di dekat meja menatap Hibari dan Ririn dengan khawatir.

"O-oh, jadi aku salah paham ya. Kyo-nii, maaf," Miyuki langsung ke sebelah kakaknya dan menundukkan kepalanya, benar-benar merasa bersalah.

Hibari hanya mendengus mendengar permintaan maaf adiknya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Maaf, padahal Kyo-nii kan sama sekali tidak tertarik pada Ririn-chan, bahkan memikirkan untuk berbuat macam-macam pada Ririn-chan pun tidak," Miyuki tertawa canggung sambil menatap kakaknya.

Entah kenapa, Miyuki melihat kakaknya seperti membatu setelah mendengar ucapannya. Walaupun sudah berusaha bersikap biasa, kalau yang di hadapannya adalah adiknya, gelagat kecil seaneh apapun tentu akan disadari oleh Miyuki.

"Ng, Kyo-nii, masa sih…?" Miyuki belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena Ririn memanggilnya.

"Nee-chan, ini apa?"

"Ah, itu oleh-oleh yang kubawa untuk kalian!" Miyuki langsung mendekati Ririn yang menatap oleh-oleh yang dibawanya berserakan.

Hibari menghela napas lega dalam hati karena berhasil lolos dari tatapan menyelidik adiknya yang entah kenapa selalu mengetahui sikapnya. Sekilas dia menatap Ririn dan teringat kata-kata adiknya barusan. Dia sama sekali tidak memiliki pikiran macam-macam terhadap bocah itu. Dia tidak memikirkan untuk memeluk gadis itu sebelum Miyuki masuk ke dalam ruangan kok. Bukan pikiran macam-macam kan?

To be contiune…

XXXXX

Tadaima : aku pulang

Judul kali ini agak ngasal, ga tau mau dikasih judul apaan. Semoga readers sekalian menikmati chapter kali ini :)

Silahkan review, kritik, saran, request dan komentar-komentar lainnya!