Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Boundary

.

.

.

Miyuki menghela napas sambil menatap langit saat istirahat siang. Dia meninggalkan Ririn saat sedang makan siang bersama Tsuna dan yang lain karena sedang ingin sendiri. Dia sekilas melihat jam tangannya, berniat kembali jika waktu istirahat sudah hampir habis yang sayangnya terbilang masih cukup lama karena masih ada dua puluh menit.

Miyuki menyenderkan tubuhnya di sisi jendela, sedikit bersembunyi karena memang tidak ingin terlihat oleh siapapun. Dia tidak perlu khawatir dengan teman-temannya karena dia memberi alasan yang cukup masuk akal, yaitu dipanggil oleh guru.

Pikirannya melayang kepada sesosok guru jadi-jadian dengan rambut blonde yang akhir-akhir ini menghindarinya. Gadis manis itu masih memaklumi saat beberapa kali Dino menolak makan di rumahnya setelah bertarung dengan kakaknya atau terlihat terburu-buru setiap mereka berbicara berdua.

Miyuki berpikir kalau Dino memang sedang sibuk karena dia adalah boss dari Cavallone. Tapi, hal itu dia ragukan karena setiap kali mereka berbicara, Dino tidak lagi pernah menatap matanya. Bahkan, semalam dia melihat Dino bersama wanita yang sangat cantik dengan rambut cokelat kemerahan, memasuki sebuah hotel bersama. Mungkin, wanita itu adalah pacarnya karena mereka terlihat sangat akrab.

Miyuki mengingat kembali wanita yang bersama dengan Dino semalam. Terlihat cantik, dewasa, anggun dan elegan. Wanita dewasa, cocok untuk pria dewasa seperti Dino. Miyuki menyentuh dadanya sambil mengernyit. Ada rasa sesak dan sakit mengingat Dino dan wanita itu.

"Dino-sensei!"

"Sensei mau kemana?"

Mendengar nama Dino disebut, Miyuki refleks mengintip dari pinggir jendela, melihat Dino dikelilingi oleh para siswi. Laki-laki itu tersenyum sambil menanggapi perkatan murid-muridnya itu. Seorang siswi bahkan dengan berani memeluk lengan Dino yang hanya dibalas Dino dengan senyum maklum sambil berusaha melepaskan pelukan siswi tersebut.

Miyuki mengelus dadanya, berusaha meredakan rasa sakit yang timbul karena melihat kejadian itu. Dino memang baik pada semua perempuan. Dia laki-laki gentleman, wajar kalau melihat dia bersikap baik pada perempuan.

Diam-diam dia kembali mengamati Dino yang masih dikelilingi oleh beberapa siswi. Dino tersenyum dan beberapa kali tertawa bersama kerumunan siswi itu. Entah kenapa Miyuki merasa kehilangan dan kesepian saat melihat Dino berbicara dengan biasa dan normal terhadap para siswi itu.

Miyuki meletakkan tangannya di samping roknya dan merasakan suatu benda di dalam saku roknya. Dia mengambil benda itu, dan seakan tersadar dia teringat dengan tekadnya. Sebuah pin kecil berbentuk binatang yang didapat saat melakukan misi sebelumnya dia genggam dengan erat.

Dia tidak punya waktu untuk memikirkan perasaan tidak berguna ini. Dia harus berusaha menemukan orang yang membunuh kedua orang tuanya. Miyuki berusaha menguatkan tekadnya sebelum memasukkan kembali pin itu dan meninggalkan tempat itu.

XXXXX

Miyuki, Ririn, Kusakabe dan Romario duduk di salah satu sisi atap sekolah. Di depan mereka ada teh dan cookies yang dibuat Miyuki. Keempat orang itu sedang menunggu Hibari dan Dino selesai bertarung.

"Hmm, makanan buatan Nona Miyuki memang selalu enak," Romario berkomentar sambil menyesap tehnya dan mengambil cookies.

"Benar," ucap Kusakabe menyetujui sambil memandang atasannya yang menghindar dari cambuk Dino.

"Terima kasih," Miyuki tersenyum manis menerima pujian yang diberikan padanya.

"Sepertinya sebentar lagi selesai," Ririn berkomentar menatap kedua orang yang sudah bertarung sejak pulang sekolah hingga matahari mulai terbenam, yaitu tiga jam yang lalu.

"Haneuma, kau bercanda?" Hibari yang baru saja menghindar dari serangan Dino menatap Dino tajam.

"Eh? Apa?"

"Kau tidak konsentrasi pada pertarungan ini!"

Yah, memang Hibari juga terluka, tapi luka Dino terlihat lebih parah. Dalam pertarungan tadi, Hibari sadar kalau Dino beberapa kali kehilangan fokus dan memikirkan hal lain sehingga beberapa luka terlihat dalam walaupun tidak terlalu berbahaya. Hibari lalu menyimpan tonfanya.

"Eh? Kyoya?"

"Aku tidak berniat bertarung dengan Herbivore," ucap Hibari dengan nada tajam. "Tetsu,"

"Ya,"

Hibari lalu meninggalkan atap bersama Kusakabe. Bekas teh dan cookies mereka sudah dirapihkan oleh Kusakabe dan Romario sebelumnya. Dino yang ditinggal oleh Hibari menghela napas sambil menyimpan cambuknya dan menghampiri Romario.

"Dino-san, Romario-san, bagaimana kalau kalian makan malam di rumah saja sekalian kuobati lukanya?" Miyuki tersenyum pada Dino yang sekarang berada di sebelah Romario.

"A-ah, maaf malam ini aku ada rapat," jawab Dino sambil mengalihkan pandangannya.

Miyuki yang melihat Dino tidak mau menatapnya memasang raut wajah sedih untuk sesaat, namun segera tersenyum lagi.

"Ah, kalau begitu biar kubantu merawat lukamu," ucap Miyuki.

Dino terdiam untuk sesaat dan menatap adiknya yang imut sedang balas menatapnya dengan ekspresi datar.

"Kalau langitnya ada bulan Ririn bisa sembuhin Kakak, tapi malam ini langitnya berawan," ucap Ririn sambil menatap langit yang terlihat gelap.

Romario yang sudah bertahun-tahun berada di sisi Dino, menjadi tangan kanannya, tentu saja menyadari keanehan yang ada pada diri bossnya akhir-akhir ini. Bayangkan, seseorang yang mengidap sister complex akut seperti Dino melamun dan mengabaikan adiknya saat mereka makan malam berdua beberapa hari yang lalu. Bahkan akhir-akhir ini dia sering terlihat menatap langit malam.

Sebagai tangan kanan yang sudah lama berada di sisinya, tentu saja Romario menyadari penyebab dari sikap aneh bossnya. Seorang gadis yang merupakan adik dari muridnya. Miyuki. Dino terlihat menghindarinya akhir-akhir ini.

"Ah, kalau begitu maaf merepotkan, Miyuki-san. Tolong bantu Boss saya merawat lukanya, saya akan mengantar Ririn ke tempat Kyoya-san," ucap Romario sambil memegang pundak belakang Ririn.

"Romario…," Dino menatap Romario, berniat membantah.

"Boss, setelah ini anda harus bertemu dengan nona Elda, masa anda mau bertemu dengan seorang lady dengan penampilan begitu?" Romario menatap penampilan Dino yang berantakan dengan baju robek dan luka di tubuhnya.

Dino hanya bisa diam dan menatap penampilannya yang membuatnya terpaksa menyetujui Romario.

"Kalau begitu, saya akan mengambil baju ganti di hotel sekalian mengantar Ririn ke tempat Kyoya-san yang sedang patroli," ucap Romario sambil mengajak Ririn keluar dari atap.

Dino belum sempat bereaksi ketika Romario dan Ririn keluar dari atap, sehingga menyisakan dirinya dan Miyuki dalam keadaan yang canggung. Sudah beberapa hari ini Dino menghindari Miyuki, pasti gadis itu sadar.

"Ayo, Dino-san, kita ke UKS," Miyuki tersenyum pada Dino dan berjalan terlebih dahulu menuju UKS.

"Ah, iya," jawab Dino refleks sambil mengikuti Miyuki dan berjalan di belakangnya.

Kedua orang itu berjalan dalam diam sambil menuruni tangga. Dino memandangi punggung Miyuki dengan tatapan lembut. Saat mereka sedang menuruni tangga, secara tidak sadar tangan Dino terangkat kedepan, berniat membalik punggung gadis itu dan menatap dua bola mata berwarna hitam yang indah dan dirindukannya. Sayang, yang kita bicarakan di sini adalah Dino dan bawahannya tidak ada di tempat, jadi…

"Eh?"

BRUAKK

Dino malah tersandung kakinya sendiri dan tidak sengaja menarik Miyuki saat terjatuh.

"Aduhh,"

Dino meringis merasakan nyeri di punggung dan belakang kepalanya, lalu membuka matanya untuk melihat gadis berambut hitam di pelukannya. Dino terdiam selama beberapa saat menatap mata berwarna onyx itu hanya beberapa senti dari wajahnya. Dia sendiri tidak sadar sangat merindukan bola mata yang indah itu.

"Um," Miyuki mengalihkan pandangannya dengan wajah yang sedikit memerah, membuat Dino tersadar.

"Ah, Yuki,kamu tidak apa-apa? Tidak ada yang luka?" Dino langsung mengubah posisinya menjadi duduk, membuat Miyuki yang masih ada di pelukannya jatuh ke pangkuan Dino.

"Aku tidak apa-apa, kan Dino-san melindungiku," ucap Miyuki sambil tersenyum, mengingat Dino dengan segera menarik Miyuki ke pelukannya dan melindunginya.

Mau tidak mau Dino kembali merasakan debaran di jantungnya melihat senyum yang sudah lama tidak dilihatnya. Tiba-tiba dia tersadar dengan tekad nya yang sebelumnya dan menjauhkan Miyuki dari tubuhnya, lalu berdiri.

"Ah, ayo kita cepat ke UKS," ucap Dino tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Miyuki berdiri, berusaha bersikap senatural mungkin.

Miyuki menyadari Dino yang berusaha bersikap senatural mungkin. Walaupun tersenyum, walaupun tangannya terulur, tetapi Dino tidak menatap Miyuki. Miyuki merasa sedih, tetapi dia menutupinya.

"Iya, terima kasih," Miyuki tersenyum dan menerima uluran tangan Dino.

Mereka kembali berjalan menuju UKS dalam diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tidak terasa mereka sudah sampai ke UKS. Miyuki mempersilahkan Dino duduk sementara dia mengambil obat-obatan.

Dino hanya diam sambil memandangi punggung Miyuki yang sedang mencari obat yang dibutuhkan. Dia sudah bertekad menjauhi Miyuki agar gadis itu tidak mengetahui dirinya yang sebenarnya.

Selama Dino sibuk berpikir sambil menatap Miyuki, ternyata Miyuki sudah meletakkan obat, perban dan antiseptik di meja sebelah Dino. Sekarang gadis itu sudah memangku baskom berisi es batu dan kain untuk membersihkan luka Dino.

"Dino-san?" Miyuki mendekatkan wajahnya ke arah Dino sambil melambaikan tangannya di depan wajah Dino karena sejak tadi laki-laki itu menatapnya tanpa berkedip.

"E-eh, Yuki?" Dino tergagap karena kaget melihat Miyuki sudah di hadapannya.

"Memikirkan sesuatu? Sejak tadi kamu terlihat melamun?" Miyuki bertanya dengan nada khawatir sambil membersihkan luka di wajah Dino.

"A-ah," Dino sedikit meringis ketika kain dingin yang di pegang Miyuki membasuh luka di wajahnya.

"Maaf, aku akan pelan-pelan," ucap Miyuki sambil menatap luka di wajah Dino dengan penuh perhatian.

Dino terdiam selama beberapa saat, hanya memandang ekspresi perhatian dan khawatir Miyuki yang dengan hati-hati membasuh luka di wajah Dino.

"Aku…memikirkan pekerjaan," ucap Dino setelah terdiam beberapa saat, menghindari menatap wajah Miyuki.

"Hmm," Miyuki yang menyadari kebohongan Dino hanya bergumam pelan.

Miyuki merawat luka Dino dalam diam, begitu juga Dino yang memalingkan wajahnya. Menyadari Dino sengaja menghindari tatapannya membuat Miyuki merasakan sakit di dadanya dan sesak, tetapi dia bisa menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang. Seperti biasa. Dia hanya perlu mengabaikan semua perasaan. Hanya perlu tersenyum dan tenang. Tidak boleh membiarkan hal-hal seperti ini mengganggu konsentrasi dan pekerjaannya.

"Selesai," ucap Miyuki sambil menghela napas setelah selesai merawat semua luka Dino.

"Terima kasih," ucap Dino sambil tersenyum.

Miyuki hanya membalasnya dengan senyum kecil melihat senyum Dino. Bagi orang lain, mungkin terlihat seperti senyumnya yang biasa, tapi Miyuki sadar senyum Dino terlihat sedikit sedih dan dipaksakan. Bahkan laki-laki itu tidak menatap wajah Miyuki saat mengatakannya.

Miyuki mengembalikan obat-obatan ke kotak obat ketika Dino melihat siku Miyuki yang berdarah. Seketika Dino teringat ketika dia tidak sengaja menarik Miyuki hingga jatuh dari tangga tadi.

"Yuki, sikumu…" Dino menunjuk siku Miyuki yang terluka.

"Ah, ini tidak apa-apa kok," Miyuki tersenyum sambil menutup luka di sikunya dan berniat mengembalikan kotak obat yang dipegangnya ke lemari ketika Dino menggenggam pergelangan tangannya.

"Biar aku yang mengobatinya," ucap Dino sambil menyentuh kotak obat yang dipegang Miyuki.

"Ah, ini benar-benar tidak-,"

"Yuki, bukankah kamu yang bilang luka sekecil apapun harus dirawat?" ucap Dino dengan tegas sambil menarik Miyuki agar kembali duduk. "luka ini karena aku menarikmu sampai jatuh dari tangga tadi kan? Setidaknya, biarkan aku menunjukkan permintaan maafku dengan ini," ucap Dino sambil membuka kotak obat yang diambilnya dari genggaman Miyuki.

"Baiklah," ucap Miyuki pasrah mendengar kata-kata Dino.

Dia memperhatikan Dino yang menuangkan cairan antisptik ke kapas, tetapi dengan ceroboh Dino malah menuangkannya terlalu banyak hingga kapas yang di pegangnya malah terlalu basah dengan cairan antiseptik dan menetes ke lantai. Dino hanya tersenyum canggung melihat kapasnya dan Miyuki tersenyum geli melihat Dino seperti itu.

"Dino-san, tenang," Miyuki tersenyum lembut menenangkan Dino.

Entah kenapa, senyum Miyuki selalu berhasil membuat Dino merasa tenang. Dia menganggukkan kepalanya dan mengambil kapas lagi, lalu mulai merawat luka Miyuki. Untunglah, setelah itu Dino tidak melakukan kesalahan dan berhasil mengobati Miyuki dengan baik.

"Dino-san, terima kasih," ucap Miyuki sambil tersenyum menatap Dino.

Untuk sesaat pandangan mata Dino dan Miyuki bertemu, tetetapi Dino dengan segera mengalihkan pandangannya dari Miyuki. Tentu saja, Miyuki menyadarinya dan hal itu membuat senyum di wajah Miyuki pudar.

"Ah, itu bukan apa-apa," ucap Dino sambil mengembalikan obat-obat itu ke tempatnya.

Dino lalu dengan cepat merapihkan semua obat dan berdiri untuk melektakkan kembali kotak obat itu ke lemari. Memandang punggung Dino yang beberapa waktu ini menghindarinya membuat Miyuki tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya.

"Kenapa?" gumam Miyuki pelan sambil menundukkan kepalanya.

"Eh?" Dino membalikkan kepalanya dan menatap Miyuki yang masih duduk di tempatnya dan menundukkan kepalanya.

"Dino-san, kenapa kamu menghindariku?" Miyuki mengangkat pandangannya sambil berdiri dan menatap Dino meminta penjelasan.

Dino merasakan napasnya sedikit tercekat tiba-tiba ditanya seperti itu. Semakin lama Dino diam, semakin Miyuki merasa kesal.

"Jangan bilang kamu tidak menghindariku," ucap Miyuki tegas sambil berjalan mendekati Dino hingga dia berdiri di hadapannya.

"Aku…hanya sedang banyak pikiran saja. Mungkin, karena itu aku terlihat menghindarimu," ucap Dino sambil menghela napas lelah.

"Yang kamu maksud dengan 'pikiran' itu, tentunya bukan pekerjaan kan? Kalau bersangkutan dengan pekerjaanmu, kamu tidak akan bisa menemani Kyo-nii berlatih,"

Dino hanya bisa diam dan menunduk mendengar kata-kata Miyuki. Miyuki memang gadis yang cerdas, wajar kalau dia bisa menyimpulkan hal itu dengan mengamatinya. Melihat Dino yang terdiam cukup lama membuat Miyuki khawatir.

"Um…Dino-san?" Miyuki berjalan mendekat dan mengangkat tangannya, berniat menyentuh Dino.

"Itu bukan urusanmu!" melihat Miyuki yang berusaha menyentuhnya membuat Dino takut perasaannya terbongkar dan berteriak dengan refleks.

Miyuki terlonjak kaget karena Dino tiba-tiba membentak seperti itu dan menarik tangannya kembali sambil menatap Dino bingung.

"Ah, itu, maksudku semua urusan dan masalahku dan famiglia kan bukan urusanmu, kamu tidak perlu khawatir," ucap Dino sambil menunjukkan senyum santainya yang biasa.

Miyuki merasakan dadanya terasa sakit mendengar kata-kata Dino dan menundukkan kepalanya. Bukan urusannya? Memang sebagai anggota famiglia lain, Dino tidak mungkin membicarakan semua masalah famiglianya pada Miyuki, tapi kalau masalah pribadi dan famiglianya memang terkait dengan Vongola, bukankah tidak ada salahnya kalau Miyuki sedikit tahu? Atau setidaknya, tidakkah Dino bisa menggunakan kata-kata lain dibandingkan kata-kata yang terdengar dingin dengan santainya begitu?

Pikiran Miyuki langsung berangsur menjadi negatif, beranggapan bahwa Dino menganggap dirinya masih belum mampu dianggap sebagai anggota Vongola. Masih belum bisa diberi kepercayaan untuk mengatasi urusan famiglia. Apakah dirinya memang belum pantas untuk diakui sebagai Vongola? Perlahan, tangan Miyuki yang sejak tadi dibiarkan di sebelah pahanya meremas rok seragamnya.

"Selain itu, mungkin kita harus menjaga jarak, tidak hanya di sekolah, tapi juga di luar sekolah. Aku tidak mau orang lain salah paham dan mengingat kamu merupakan murid teladan, aku khawatir akan muncul rumor negatif dan membuatmu sulit di sekolah ini," ucap Dino, berusaha menjelaskannya dengan tenang dan santai.

Mendengar kata-kata Dino, Miyuki merasakan napasnya terasa berat. Ingatannya melayang kepada sesosok wanita berambut cokelat cantik yang pernah dilihatnya bersama Dino memasuki hotel. Tubuhnya sedikit bergetar, lalu setelah itu dia menghela napas dan tersenyum pahit.

'Tidak ingin ada salah paham dan rumor negtif ya?' batinnya hampa

Dino hanya bisa menelan ludah melihat Miyuki yang menunduk dengan bahu sedikit bergetar. Tidak bisa dipungkiri, dia sendiripun merasa bersalah dan dadanya terasa sakit dengan setiap kata yang meluncur dari mulutnya. Melihat bahunya yang bergetar membuat Dino ingin menyentuhnya, tetapi Miyuki yang dengan cepat berhasil menguasai dirinya mengangkat wajahnya dan menatap Dino.

"Aku mengerti dengan apa yang ingin Dino-san sampaikan. Maaf," ucap Miyuki sambil sedikit membungkuk, membuat Dino membelalakan matanya karena kaget dengan sikap Miyuki. "kukira, karena kamu tutor Kyo-nii dan sangat akrab dengan Vongola, kamu tidak keberatan kalau aku bersikap akrab dan menganggapmu sebagai bagian dari famiglia juga. Aku benar-benar melupakan statusku, padahal belum lama ini aku abru diakui secara formal oleh Juudaime, ya," ucap Miyuki dengan senyum bersalah setelah menegakkan tubuhnya.

"Yuk-"

"Saya minta maaf atas rasa tidak nyaman yang saya sebabkan pada anda karena sikap saya, Cavallone Juudaime-san," ucapnya sambil sekali lagi membungkuk dalam.

Dino hanya bisa merasakan dadanya terasa berat mendengar bahasa formal dan panggilan yang diberikan Miyuki padanya yang membuatnya mematung. Sebelum Dino sempat bereaksi, Miyuki sudah berjalan menuju pintu.

"Tenang saja, saya akan berusaha agar tidak merepotkan anda, selamat tinggal," ucap Miyuki sebelum menutup pintu, membuat Dino tersadar dan segera berlari dan membuka pintu dengan cepat.

Sayang, yang di temukan Dino hanya jendela yang terbuka. Dino mendekati jendela dan menatap sosok bersayap hitam yang terbang menjauh dari gedung sekolah.

"Boss? Saya kira anda bersama Miyuki-sama?" Romario yang tidak lama kemudian datang menjemput menatap bingung Dino yang hanya diam di jendela depan UKS yang terbuka dan menatap langit.

XXXXX

Penyesalan datang begitu cepat, membuat Dino menyesal –amat sangat menyesal- mengatakan hal seperti itu di UKS pada Miyuki. Dia merasa sangat bersalah dan kesepian. Dia ingin melihat Miyuki. Ingin melihat sosoknya, mendengar suaranya, menatap wajahnya. Kepalanya terkulai lemas di atas meja di ruang guru dengan berbagai pikiran.

Padahal, biasanya dia bisa dengan mudah menemukan Miyuki di area sekolah, tetapi entah kenapa sudah seminggu sejak kejadian itu, dia tidak melihat sosok Miyuki sedikitpun. Dino sudah mengecek ke wali kelasnya, mengira gadis itu sedang dalam misi atau absen, tetapi Miyuki selalu hadir seperti biasa.

Lalu, kenapa dia tidak bisa melihat sosok gadis itu?

Pikirannya yang sempat melayang kemana- mana dengan cepat kembali mendegar sebuah suara memasuki ruang guru.

"Permisi, Satonaka-sensei, saya membawakan tugas hari ini,"

Dino yang kepalanya tergeletak di atas meja dengan cepat bangun dan melihat sosok yang dirindukannya berjalan menuju ke salah satu meja sambil membawa setumpuk buku. Tanpa sadar dia berdiri dan berjalan menuju Miyuki dan berhenti di kursi sebelah Satonaka-sensei.

"Ada apa, Dino-sensei?" Satonaka-sensei yang melihat Dino berdiri di sebelahnya menatap Dino heran.

"Ah, tidak, hanya ingin menanyakan rapat guru sore nanti," ucap Dino canggung sambil mencuri pandang ke arah Miyuki yang bahkan tidak melihat ke arahnya sedikitpun.

"Kalau begitu, saya permisi," ucap Miyuki sambil membungkuk dan tersenyum sopan kepada Satonaka-sensei dan Dino, yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Satonaka-sensei.

Dino hanya bisa merasakan nyeri di dadanya melihat sikap formal Miyuki. Dia tidak mendengarkan kata-kata Satonaka-sensei, hanya menatap punggung Miyuki hingga gadis itu menghilang dibalik pintu.

XXXXX

Lagi, Dino telah melalui dua hari tanpa sekalipun melihat sosok Miyuki. Padahal, dia sengaja memutar melewati kelas Miyuki tiap kali berniat ke ruang guru atau ke mana pun di area sekolah itu. tapi, Miyuki tidak pernah terlihat, yang terlihat hanyalah adiknya yang manis dan imut sering dikelilingi para siswi-dan terkadang beberapa siswa. Besok adalah jam pelajaran olahraga untuk kelas Miyuki, dan Dino berniat melihat gadis itu walau hanya sekilas. Sedikit juga tidak apa.

Tetapi walaupun sudah mencari dan sengaja lewat ke lapangan, yang malah berdampak pada dirinya dikelilingi para siswi, Miyuki tidak terlihat dimanapun.

"Kyaa~ Dino-sensei sedang apa disini?"

"Mencari seseorang?"

"Siang nanti mau makan bersama?"

Dino hanya tersenyum dan menanggapi pertanyaan mereka seadanya. Tiba-tiba dia melihat adiknya baru selesai melakukan gilirannya dalam lari jarak pendek dan berniat duduk.

"Ah, maaf, aku mau menemui adikku," ucap Dino sambil memamerkan senyum yang langsung membuat para siswi meleleh.

"Ririn," Dino mendekati Ririn sambil melambaikan tangannya.

"Kakak, ada apa?" Ririn menatap kakaknya yang akhir-akhir ini bertingkah aneh dan murung.

"Eh, itu," Dino menggaruk belakang kepalanya canggung sambil melihat sekeliling.

"Nee-chan di UKS,"

"Eh?" Dino menatap adiknya dengan tatapan bodoh dan bingung.

"Kakak cari Nee-chan kan?" Ririn sedikit memiringkan kepalannya bingung.

"Eh, iya," ucap Dino yang tidak menyangkan adiknya bisa menyadarinya.

Walaupun wajahnya selalu datar dan sikapnya selalu cuek, tapi adiknya tersayang memang perhatian dengan tindakan, ekspresi dan perasaan orang-orang yang ada di dekatnya.

"Terima kasih, Ririn," ucap Dino sambil tersenyum dan mengelus kepala adiknya, menyadari sikap Ririn yang semakin dewasa tanpa disadarinya.

Adegan itu, tentunya mendapatkan tatapan penuh kecemburuna dari semua orang yang melihat. Para siswi berharap bisa berada di posisi Ririn, sedangkan para siswa berharap berada di posisi Dino. Sayang kakak beradik itu cukup tidak peka dan mengabaikan hal itu.

Dino segera meninggalkan lapangan dan menuju UKS. Walaupun dirinya yang meminta Miyuki untuk menjauh, tapi dia tetap khawatir kalau terjadi sesuatu dengan gadis itu di UKS. Begitu sampai di depan pintu, Dino tidak langsung masuk ke dalam, tetapi mengintip melalu kaca di pintu.

"Mi-Miyuki-san, terima kasih sudah mengobati lukaku,"

Pandangan Dino tertuju pada seorang siswa berseragam olahraga yang menunduk dengan wajah memerah sambil memegang sikunya yang dibalut perban.

"Tidak apa-apa. Sudah sewajarnya aku membantumu merawat lukamu kan, Satoshi-kun?" Miyuki menunjukkan senyum lembutnya sambil meletakkan kotak obatnya ke dalam lemari.

Dino mengernyit kesal. Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu Miyuki, tidak melihat senyum gadis itu, dan tidak mendengar gadis itu memanggil namanya, sekarang dia malah tersenyum sambil memanggil nama orang lain.

"Sebaiknya kita kembali ke kelas, sebentar lagi waktunya ganti pelajaran,"

"Ya,"

Satoshi berjalan menuju pintu dan membuka pintu duluan, sementara Miyuki di belakangnya.

"Dino-sensei?" Satoshi memandang Dino yang berdiri di depan pintu UKS.

"Ah," Dino memandang Miyuki yang menghindari tatapannya. "maaf, aku mau bicara dengan Miyuki sebentar," ucap Dino pada Satoshi yang memandang Miyuki sekilas lalu mengangguk ragu dan meninggalkan UKS.

Suasana menjadi canggung seketika. Dino menatap Miyuki yang masih berdiri di hadapannya.

"Sensei, kalau anda tidak ada keperluan, boleh saya kembali ke kelas?" Miyuki bertanya dengan senyumnya yang biasa.

Dino berusaha melenyapkan perasaan tidak enak yang ada di dadanya mendengar formalitas yang digunakan Miyuki dan senyum formalnya. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Suara bel berbunyi, membuyarkan lamunan keduanya.

"Saya harus segera kembali ke kelas, permisi," ucap Miyuki sambil berjalan melewati Dino.

Dino hanya bisa mematung memandangi punggung Miyuki dan menghela napas. Dia sendiri tidak mengerti kenapa tadi dia mencegat Miyuki dan tidak bisa berkata apapun.

XXXXX

Dino menatap jalanan dengan tatapan kosong dari jendela mobil. Sebentar lagi waktunya libur musim panas. Kalau libur musim panas sudah dimulai, apakah dia bisa bertemu dengan Miyuki? Mengingat Miyuki bahkan seperti tidak pernah mengenalnya dan tidak pernah menyapanya jika mereka berdua berpapasan di tempat yang sepi.

Masih lebih baik jika dia bersama temannya atau sekeliling mereka sedang ramai, setidaknya Miyuki pasti akan memberikan salam formalitas. Romario yang melihat Dino yang terlihat murung melalui kaca tengah hanya bisa merasa simpati.

"Boss, tidak sopan memasang wajah seperti itu saat akan bertemu seorang lady," ucap Romario yang berhasil membuyarkan lamunan Dino.

"Kamu benar," ucap Dino sambil merapihkan penampilannya.

Romario berhenti di depan sebuah hotel dan membukakan pintu untuk Dino. Dino merapihkan jas yang dipakainya dan menghirup napas dalam-dalam sebelum membuangnya, berusaha menghilangkan pemikiran negatifnya.

Dino memasuki hotel dan langsung menuju restoran, menghampiri salah satu meja yang ditempati seorang wanita yang tinggi, cantik, elegan dan bertubuh proporsional dengan rambut cokelat yang sedang meminum segelas wine. Hampir semua tamu hotel dan pelayan hotel, terutama laki-laki memandangi wanita itu.

"Lama menunggu, Elda?" Dino menghampiri wanita itu dan memberikan ciuman di dahinya.

"Tidak juga," ucap wanita yang dipangil Elda tanpa beranjak dari kursinya.

Dino tersenyum dan mengambil tempat di depan Elda. Selama beberapa saat mereka hanya diam, Elda sibuk menikmati wine nya dan Dino sibuk dengan pikirannya.

"Dino, tentang hal yang kau dan Vongola muda minta padaku," Elda membuka pembicaraan tanpa menatap Dino, dia memperhatikan winenya sambil sedikit memutar gelas di tangannya.

"Kau bisa mendapatkannya?" Dino dengan segera melupakan masalahnya dan merespon perkataan Elda.

"Kau kira siapa aku?" Elda tersenyum angkuh dengan penuh percaya diri sambil menatap Dino.

Dino tidak meragukan kemampuan wanita yang sudah lama dikenalnya itu. Wanita yang dijuluki 'The Queen' di dunia hitam. Kecantikan dan keangkuhan yang berhasil membuat laki-laki manapun berlutut di hadapannya.

"Tapi, jujur saja. Untuk kali ini mungkin aku tidak dapat menyediakannya secepat itu," ucap Elda sambil menyesap winenya.

"Kira-kira berapa lama kamu bisa mendapatkannya?" Dino tidak bisa menahan senyum yang sudah terpasang di wajahnya.

"Paling lama kurang dari 5 bulan,"

"5 bulan? Itu sudah termasuk cepat! Kami berusaha mencari selama 3 tahun, tapi tidak berhasil mendapatkannya!" Dino menatap wanita di hadapannya dengan tatapan tidak percaya.

"Dino, kau tahu ini memang pekerjaanku," ucap Elda sambil mengedikkan bahunya.

"Elda sayang, terima kasih," Dino mengangkat tangannya dan mengusap kepala Elda yang dengan cepat diturunkan oleh Elda.

"Dino, aku bukan lagi gadis berusia 5 tahun, jangan perlakukan aku begitu," ucap Elda dahi berkerut.

Dino hanya tersenyum menanggapinya. Untuk Dino, wanita dihadapannya tetaplah seorang gadis yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri -selain Ririn, tentunya- karena keduanya memang memiliki ikatan kerabat walaupun jauh.

"Dino," Elda memanggil pria di hadapannya dengan cuek.

"Ya?"

"Besok aku kembali ke Italia, kamu menginap di sini, temani aku sampai waktu keberangkatanku," ucap Elda dengan nada angkuh dan tak terbantahkan.

"Secepat itu?" Dino bertanya pada Elda yang mengabaikannya.

Elda memanggil pelayan dan berdiri, memerintahkan pelayan untuk membawakan wine nya ke kamar yang dia tempati.

"El, aku masih ada pekerjaan, kurasa aku-,"

"Diam. Aku tidak terima bantahan, lagipula, kau pikir kau bisa bekerja dengan keadaanmu sekarang?"

Dino terdiam dan hanya bisa menatap punggung Elda dengan perasaan terharu. Ternyata walaupun terlihat tidak peduli dan cuek, wanita itu masih mempedulikannya. Oke, sepertinya akhir-akhir ini dirinya menjadi lebih emosional dan sentimentil.

"Romario, Dino akan menginap di tempatku untuk malam ini," ucap Elda pada Romario yang berdiri di lobby saat mereka berniat berjalan menuju kamarnya.

"Baik, nona Elda," ucap Romario sambil membungkukkan badannya.

Dino lalu mengikuti Elda yang berjalan menuju elevator.

XXXXX

Miyuki menghela napas pendek. Dia mengangkat kepalanya dan menatap langit malam dengan perasaan hampa. Berkat bantuan gelombang ultrasonik yang dikeluarkan Natt dan memantul di seluruh area sekolah, Miyuki berhasil menghindari Dino sebisa mungkin.

Miyuki melihat jam di ponselnya, menunjukkan pukul 11.45 malam. Begitu Ririn tertidur, dia menyelinap keluar untuk mencari informasi. Kota di malam hari merupakan sumber informasi yang bagus, terutama untuk orang-orang dari golongan tertentu.

Saat ini dia berniat menyelidiki sebuah hotel yang sering didatangi oleh orang-orang dari kalangan atas, baik artis, politikus, maupun mafia. Tidak banyak hotel besar di Namimori seperti yang saat ini ditempati Dino.

Miyuki berhasil mengelabui penjaga hotel dan berniat melihat buku tamu ketika melihat sosok Dino yang tersenyum dan menghampiri seorang wanita yang sangat cantik dan elegan. Tanpa sadar, dia bersembunyi di salah satu sudut sambil mengamati mereka berdua.

Dadanya terasa sesak melihat senyum lembut yang diberikan oleh Dino kepada wanita itu, terutama ketika Dino mengelus kepala wanita itu lembut. Miyuki tidak bisa mendengar percakapan mereka berdua dan hanya bisa melihat dari jauh, mengira-ngira apa yang mereka bicarakan sampai membuat Dino tersenyum seperti itu.

Saat Dino dan wanita itu berdiri, Miyuki sedikit merasakan dirinya merasa lega karena mengira Dino akan pulang. Tapi, sayangnya perkiraannya salah. Dino dan wanita itu berjalan menuju Romario yang berada tidak jauh dari tempat Miyuki bersembunyi.

"Romario, Dino akan mnginap di tempatku untuk malam ini," ucap Elda pada Romario yang berdiri di lobby saat mereka berniat berjalan menuju kamarnya.

"Baik, nona Elda," ucap Romario sambil membungkukkan badannya.

Miyuki yang mendengar percakapan mereka hanya bisa menahan napas sambil memeluk tubuhnya yang terasa dingin. Entah kenapa tiba-tiba suara di sekelilingnya terasa lenyap. Setelah beberapa saat berada dalam keadaan seperti itu, dia mengingat sesuatu.

"Selain itu, mungkin kita harus menjaga jarak, tidak hanya di sekolah, tapi juga di luar sekolah. Aku tidak mau orang lain salah paham dan mengingat kamu merupakan murid teladan, aku khawatir akan muncul rumor negatif dan membuatmu sulit di sekolah ini,"

"Ah, benar juga," Miyuki bergumam dengan senyum hampa.

Dia mengingat saat-saat Dino yang baik padanya dan semua siswi. Itu adalah formalitas. Itu karena Dino adalah orang yang baik. Itu semua, salahnya yang memang tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun sehingga saat Dino baik padanya dia menjadi salah paham.

Miyuki berhenti memeluk dirinya. Dia masih bisa merasakan tubuhnya terasa dingin, juga perasaannya. Miyuki tersenyum pahit sambil melihat ke arah lift sebelum meninggalkan hotel itu. Dia akan benar-benar menjaga jarak dari Dino.

To be continue…

XXXXX

Hai, akhirnya kembali di update setelah sekian lama!

Selamat hari raya Nyepi untuk yang merayakannya!

Untuk Hikage Natsuhimiko, Celiayuuki, Yukishiro Seiran dan Cocoa2795 maaf karena reviewnya tidak terbalas untuk kali ini.

Maaf karena chapter ini drama dan sedih/angst gini, padahal Sacchan suka fic yang happy ending

Semoga kalian akan terhibur di chapter selanjutnya!

Silahkan review, kritik, saran, request dan komentar-komentar lainnya!