Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

OllaBoyong98 :Terima kasih sudah mau mereview, chaper ini ngak terlalu banyak, tapi untuk ch depan kemungkinan akan cukup panjang

Yukishiro Seiran: Iya, emang chapter kemaren rada angst. Fic ini emang masih sedikit panjang. Terima kasih, Sacchan nggak bakalan telantarin ini fic kok, pasti bakalan tamat.

Cocoa2795: Dino mah emang gitu, padahal biasanya carefree, giliran beginian kebanyakan mikir -_-"

Caeliayuuki: Tenang aja, Dino masih single kok, Elda cuma partner Famiglia Dino. Terima kasih ya sudha mau sabar menunggu :)

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Guest

.

.

.

Ririn bersender di samping jendela, menatap Miyuki yang duduk di meja belajar dengan buku terbuka dan tatapan kosong. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke cermin yang dipegangnya, melihat gambar kakaknya yang duduk di meja kerja dengan setumpuk dokumen, tetapi tangannya tidak terlihat bergerak, dia kelihatan sedang memikirkan sesuatu.

Ririn memandang keduanya bergantian sambil memiringkan sedikit kepalanya. Akhir-akhir ini Miyuki dan Dino terlihat tidak bersemangat. Ririn berjalan keluar kamar dan kembali lagi tidak lama kemudian sambil membawa segelas hot chocolate. Dia meletakkan gelas itu di samping Miyuki, membuat Miyuki tersadar dari lamunannya.

"Ririn-chan?" Miyuki menatap Ririn dan gelas di sebelahnya.

"Nee-chan terlihat tidak semangat. Cokelat panas bisa membuat tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks,"

"Ah," Miyuki tersadar kalau dia memperlihatkan perasaannya yang sedang murung di wajahnya dan tersenyum pada Ririn.

"Maaf membuatmu khawatir, tapi aku sudah tidak apa-apa. Terima kasih," Miyuki tersenyum lembut dan mengelus kepala Ririn pelan.

Ririn hanya bisa diam memperhatikan Miyuki yang mengambil gelas berisi cokelat panas dan meminumnya. Miyuki yang terlihat tidak bersemangat memutuskan untuk langsung tidur, diikuti Ririn.

Ririn menatap Miyuki yang setelah agak lama berbaring terlihat mulai tertidur. Dia berdiri dari kasur dan berjalan menuju jendela, menatap bulan sambil memeluk cerminnya.

"Datang," gumam Ririn pelan sambil menatap cerminnya.

XXXXX

Hari ini adalah hari terakhir sekolah dan seluruh siswa maupun guru sedang berada di auditorium untuk menghadiri upacara sebelum libur sekolah. Dari tempatnya, Dino bisa melihat Miyuki di antara barisan para siswi dan terus menatap gadis itu sejak upacara dimulai. Entah kenapa, selama beberapa hari ini Dino lagi-lagi tidak berhasil menemukan sosok Miyuki di sekolah, seakan gadis itu tahu Dino sedang mencarinya dan selalu menghindar.

Begitu upacara selesai dan siswa-siswi mulai keluar dari aula, Dino segera berusaha mengejar Miyuki, ingin setidaknya berbicara sekali lagi dengannya sebelum liburan musim panas, karena Dino tahu dia tidak akan bisa melihat Miyuki jika liburan musim panas sudah dimulai. Gadis itu sudah pasti akan menghindarinya.

"Kyo-nii,"

Dino segera mengalihkan pandangannya dan melihat Hibari sedang bersama Tsuna, yang berada di depan gerbang, berbicara dengan Miyuki dan Ririn.

"Selamat siang, Tsuna-senpai," Miyuki memberikan salam sekilas sambil tersenyum pada Tsuna sebelum mengalihkan perhatiannya pada Hibari.

"Kyo-nii, karena mulai hari ini sekolah libur, bagaimana kalau makan siang bersama? Kyo-nii tidak perlu melakukan patroli kan?"

"Hn,"

"Kalau begitu, bagaimana kalau Tsuna-senpai juga ikut makan-,"

"Yo, Tsuna, Hibari," Dino memotong perkataan Miyuki dan tersenyum sambil menghampiri mereka berempat.

Dino berusaha sebisa mungkin tersenyum natural, bersyukur dengan keberadaan Tsuna dan Hibari yang dapat dijadikan alasan untuk berbicara dengan Miyuki.

"Kakak," Ririn menatap Dino yang berdiri di sebelahnya dan mengusap kepalanya.

"Dino-san," Tsuna tersenyum pada Dino sedangkan Miyuki hanya memberikan senyum kecil sambil mengangguk tanpa menatap wajah Dino, membuat tatapan Dino berubah untuk sesaat.

"Ne, karena sekolah sudah mulai libur, apa Dino-san akan kembali ke Italia?"

"Tidak, aku masih ada pekerjaan di sini, mungkin aku akan menghabiskan libur musim panasku di sini," jawab Dino sambil tersenyum.

"Tumben aku tidak melihat Hayato dan Takeshi bersamamu?" Dino melihat sekeliling mereka yang sudah cukup sepi.

"Karena hari ini mulai libur musim panas, Takesushi sepertinya akan ramai, karena itu Yamamoto-kun menolong ayahnya di toko. Sedangkan, Gokudera-kun pergi ditarik Bianchi begitu upacara selesai," ucap Tsuna sambil menggaruk belakang kepalanya, mengingat Gokudera yang pingsan dan ditarik pergi Bianchi.

"Sebenarnya, aku ingin membicarakan tentang 'organisasi itu' dengan Dino-san, Hibari-san dan Yuki-chan," ucap Tsuna dengan ekspresi serius.

Dino, Hibari dan Miyuki memperhatikan sang Vongola Decimo yang memasang ekspresi serius.

"Sepertinya ini bukan tempat yang bagus untuk membicarakan hal itu," ucap Dino sambil melihat sekeliling mereka.

"Hn,"

"Ah, bagaimana kalau kita sekalian makan siang bersama saja?" ucap Miyuki mengingat hari memang sudah siang.

"Ya, aku tidak- Ririn, mau kemana?"

Dino menatap adiknya yang entah sejak kapan sudah berjalan menjauh dari mereka. Ririn menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.

"Datang," ucapnya sebelum kembali membalikkan badannya dan berjalan menjauhi mereka.

"Apa?" Dino mengerutkan dahinya dan mulai mengikuti Ririn, diikuti Miyuki, Tsuna dan Hibari.

"Apa yang datang, Ririn?" Dino memanggil adiknya yang terus berjalan lurus tanpa menghiraukannya.

"Ririn-chan?" Miyuki memanggil Ririn tetapi tidak dihiraukan oleh gadis itu.

Dino menatap Miyuki, Tsuna dan Hibari, lalu mengedikkan bahunya tanda tidak mengerti.

"Ririn-chan tidak pernah begini kan? Mungkin sebaiknya kita ikuti dia," ucap Tsuna yang disetujui oleh semuanya.

Setelah diperhatikan, ternyata Ririn mengarah menuju taman di dekat kuil. Ririn berhanti tepat di depan taman.

"Datang,"

"Apanya yang datang?" Dino menatap sekeliling mereka yang sepi.

Tidak lama kemudian muncul tujuh orang berbaju hitam dari tikungan di hadapan mereka.

"Va-Varia?" Tsuna menatap sekelompok anggota Varia yang dipimpin Xanxus dengan bingung.

"Huh? Kebetulan sekali bisa bertemu di sini, Vongola Juudaime, Haneuma,"

"Eh? Yang dimaksud Ririn-chan datang itu, Varia?" Tsuna menatap Ririn sambil menunjuk Varia bingung.

Pandangan anggota Varia beralih pada gadis kecil mungil yang memeluk anak serigala di depan Boss mereka. Ya, Ririn sedang menatap Xanxus dengan tatapan polos tak berdosanya, membuat Tsuna dan Dino panik seketika.

"Ri-Riri-,"

"Xanx-nii," Ririn berlari ke arah Xanxus sambil melepaskan Rin yang melompat menjauh karena tatapan membunuh Xanxus dan memeluk tangan laki-laki dengan ekspresi menyeramkan itu.

Jeda selama beberapa saat, sebelum beberapa diantara mereka mulai panik tentang apa yang akan Xanxus lakukan pada gadis kecil di depannya.

"Chibi," Xanxus mengusap kasar kepala Ririn sesaat, membuat rambut Ririn berantakan.

"EEH?"

"VOOII!"

"HAH?"

Sekarang semua anggota, Varia, termasuk Tsuna, Miyuki, dan Dino menatap Ririn dan Xanxus dengan pandangan bingung dan tidak percaya. Xanxus, yang dapat membuat anak kecil menangis hanya dengan tatapannya membiarkan gadis mungil itu memeluknya.

Dan, kalau dilihat secara seksama, ternyata sepasang mata menatap tajam kedua orang itu, terutama sebuah tangan besar yang mendarat di atas kepala sang gadis mungil nan imut.

"Ririn, kamu mengenal Xanxus?" Dino menatap Ririn dan Xanxus secara bergantian.

"Ya, Xanx-nii yang membantu Ririn ke Jepang," jawab Ririn, masih tidak lepas dari Xanxus.

"Ja-jadi yang kamu maksud sebagai 'teman' yang membantumu itu Xanxus?" Dino mencerna kata-kata adiknya dengan rasa tidak percaya.

Pantas saja Ririn bisa mencapai Jepang dengan cepat, karena pesawat jet milik Varia merupakan pesawat jet tercepat di dunia.

"Bester?" Ririn menarik lengan baju Xanxus pelan yang dibalas Xanxus dengan melemparkan sebuah kotak ke arah gadis itu.

"Tunggu! Ririn-chan, kamu tidak boleh mengeluarkan animal weapon sebesar Bester di tempat seperti ini," ucap Tsuna yang menyadari dengan apa yang akan dilakukan gadis itu.

"Tidak boleh?" Ririn memiringkan kepalanya sambil menatap Dino.

"Ya, tidak boleh. Kalau orang lain lihat, nanti bisa membuat keributan," jawab Dino, masih berusaha mencerna kejadian itu.

"Ne, ne, Boss, siapa anak manis ini?" Lussuria berjalan ke arah Ririn dan membungkukkan badannya, terlihat gemas.

"Dia adik angkatku, Karina," Dino menggantikan Xanxus yang terlihat tidak ada niat untuk menjawab dan Ririn yang sudah menatap Lussuria cukup lama.

"Halo Karin-chan, namaku Lussuria, tapi aku lebih senang kalau kamu memanggilku Luss-nee," ucap Lussuria sambil tersenyum.

"Panggil Ririn saja, Luss-nee," ucap Ririn sebelum memeluk Lussuria, membuat Lussuria memekik senang.

"Kyaa, manisnya~," Lussuria membalas pelukan Ririn dengan riang.

"Ah, maaf, Ririn punya 'hobi' memeluk orang lain sebagai salam perkenalannya," ucap Dino sambil menggaruk belakang kepalanya.

Setelah Ririn melepas pelukannya, Lussuria menunjuk Levi dan Squalo.

"Nah, laki-laki berambut hitam dan berwajah seram itu namanya Levi, sedangkan yang berambut panjang dan terlihat galak itu Squalo," ucap Lussuria yang mendapat protes dari kedua orang itu.

"VOOI! Enak saja!"

"Wajahku memang begini!"

"Aduh, aduh, dua kakak itu menyeramkan ya. Sudah, kamu tidak usah peluk mereka," ucap Lussuria berlagak seperti ibu-ibu dan mengelus kepala Ririn, tidak menghiraukan kekesalan dua orang itu.

"Ushishishi, Little Princess, nama Pangeran adalah Belphegor," ucap Bel dengan penuh sombong.

"Bel-nii, pangeran?" Ririn memiringkan kepalanya sambil menatap mahkota yang ada di kepala Bel. "seperti yang sering diceritakan Luce-nee dan Yuni?" Ririn menoleh ke arah kakaknya dengan tatapan bingung.

"Bukan, eh, maksudku ya, eh," Dino menggaruk kepalanya bingung bagaimana menjelaskannya. "maksudku ya, memang sama-sama pangeran, tapi yang ini….beda," jelas Dino sebisa mungkin sambil mengangkat alisnya tidak yakin.

Kalau dibandingkan dengan pangeran yang baik dan lembut seperti yang ada di dongeng-dongeng yang diceritakan Yuni dan Luce jelas berbeda. Pangeran di hadapannya kan pangeran haus darah. Dino bingung bagaimana menjelaskannya pada adiknya.

"Singkatnya yang ini Pangeran Palsu," tiba-tiba Fran muncul di hadapan Ririn.

"Pangeran nggak palsu," ucap Bel sambil melempar pisau yang menancap di topi kodok Fran.

Tetapi, ucapan Bel tidak dihiraukan dikarenakan dua orang berwajah datar itu sekarang sedang saling bertatapan.

1 menit..

2 menit..

3 menit..

"VOI! Kalian sedang apa?"

Sang komandan yang tidak sabaran berteriak kesal melihat kedua orang itu saling bertatapan tanpa melakukan apapun, membuat Ririn merespon.

"Ah, Peri Hutan," Ririn menunjuk wajah Fran.

Dino hanya bisa menepuk dahinya mendengar perkataan adiknya. Sebelumnya vampir, lalu werewolf, sekarang peri, nanti apa? Mumi?

"Anak nyasar yang waktu itu," ucap Fran sambil menunjuk Ririn.

"Ririn udah bilang nggak nyasar kok,"

"Aku juga bukan peri. Ada-ada saja, zaman sekarang mana ada peri?" ucap Fran sambil menaikkan kedua tangannya mengejek.

"Kami tidak mau dengar itu darimu!"

"Oh?"

Seluruh anggota Varia yang ada, kecuali Lotti dan Xanxus berteriak pada Fran. Bisa-bisanya dia bicara begitu, padahal saat mereka pertama bertemu dia sampai menari –yang disebutnya sebagai ritual- untuk mengusir peri.

"Fran-kun, kamu sudah mengenal Ririn-chan?" Lussuria menatap kedua orang dengan ekspresi yang sama itu dengan alis diangkat.

"Aku beberapa kali menemukannya di hutan sekitar kastil Varia," ucap Fran.

"Bukan peri?" Ririn menatap topi kodok besar yang ada di kepala Fran dengan bingung. "kenapa pakai itu terus? Ririn kira peri hutan," ucap Ririn sambil menatap topi kodok di kepala Fran.

"Ah, ini karena Senpai Bodoh itu memaksaku untuk memakai ini dan tidak boleh melepasnya," ucap Fran yang dengan segera menjadi sasaran pisau Bel dan dengan mudah dihindari.

"Jadi selain Xanxus kamu juga sudah mengenal Fran?" Dino bertanya pada adiknya yang masih menatap Fran.

"Um. Begitu Ririn selesai bermain dengan Bester dan Xanx-nii, biasanya saat Ririn mau pulang Peri Hutan menemani Ririn main," ucap Ririn.

"Hoi, kamu tidak bilang kalau kamu bukan peri pada anak itu?" Squalo menaikkan alisnya heran pada Fran.

"Aku terlalu malas. Lagipula sepertinya lebih menarik kalau dia memanggilku 'Peri Hutan'," jawab Fran sambil mengedikkan bahunya yang membuat Squalo menepuk dahinya dan Bel tertawa.

"Ah, kalau begitu aku ulangi saja perkenalannya, namaku Fran," ucap Fran kepada Ririn.

"Fran? Walaupun bukan Peri Hutan tetap main sama Ririn?" Ririn menatap Fran lurus.

"Tentu saja," ucap Fran sambil mengelus kepala Ririn.

Ririn lalu memeluk Fran yang membuat Lussuria memekik betapa imutnya mereka dan malah membuat Squalo muak dengan sikapnya.

Miyuki yang sengaja berdiri di belakang Tsuna sambil menyembunyikan keberadaan untuk memperhatikan keadaan bisa melihat tangan kakaknya mengepal dengan ekspresi datar, tetapi tatapan tajam melihat Fran dan Ririn yang berpelukan. Dia hanya bisa berharap kakaknya dapat menahan diri dengan senyum kecil, tidak menyangka dengan reaksi kakaknya.

"Fran, kau yakin tidak punya keluarga selain nenekmu, contohnya adik?" Levi yang sejak tadi diam bertanya pada Fran yang dibalas dengan dengusan.

"Tentu saja tidak punya, Om-om mesum bodoh," ucap Fran yang langsung dibalas dengan kesal oleh Levi.

"Ah, walaupun penampilannya seperti itu, tapi umur Ririn dan Fran sama lho, jadi sepertinya tidak mungkin Ririn adik dari Fran," ucap Dino yang mendapat tatapan skeptis dari anggota Varia.

Selain tingginya yang hanya mencapai dada Fran, penampilannya dan wajahnya terlihat seperti anak berumur 10 tahunan, atau bisa lebih muda.

"Um, Ririn sudah empat belas," ucap Ririn sambil melepas pelukannya dari Fran.

"Wah, enaknya awet muda," ucap Lussuria sambil mencubit gemas pipi Ririn.

"Muu~ bisa-bisanya kalian pergi meninggalkanku!" tiba-tiba dari sebelah Bel muncul bayi yang tarbang melayang.

Pandangan Ririn langsung beralih pada sosok bayi itu dan lingkaran di atas kepalanya.

"Mammon-chan? Kukira kamu bersama dengan Reborn?" Lussuria menatap Mammon yang terlihat kesal.

"Aku-," kata-kata Mammon terhenti begitu dia melihat Ririn.

"Fantasma," ucap Ririn sambil menunjuk lingkaran di atas kepala Mammon.

"Kau, Karina?" suara Mammon terdengar tidak percaya dan kaget.

"Bibi Viper?"

"Jangan panggil aku Bibi! Reborn, apa maksudnya ini?" Mammon berseru pada Reborn yang muncul entah darimana sambil menginjak kepala Tsuna dan mendarat di sebelah Ririn.

"Seperti yang kau lihat, Karina masih hidup. Kalau mau tahu lebih lanjut tanya saja pada Verde," ucap Reborn.

"Verde? Dia menyembunyikan hal ini dari kita?" suara Mammon terdengar meninggi.

"Ririn yang meminta Paman agar tidak memberi tahu siapapun. Jangan salahkan Paman, Viper-nee," ucap Ririn .

"Muu~ apa boleh buat kalau kamu bilang begitu, tapi namaku sekarang Mammon, Karina, dan jangan panggil aku 'Nee'. Apa-apaan itu?" Viper mendengus mendengar Ririn memanggilnya 'Viper-nee'.

"Karena Luce-nee bilang kalau tidak mau dipanggil 'Bibi' dan minta dipanggil 'Luce-nee'?" Ririn memiringkan kepalanya saat mengingat aura gelap dari belakang Luce saat Ririn memanggilnya 'Bibi'.

"Ah, panggil saja Ririn, jangan Karina," ucap Ririn menambahkan.

"Oh,"

Hanya satu kata dari Mammon dan dia sudah bisa membayangkan reaksi Luce yang menyuruh Ririn memanggilnya 'Luce-nee'. Ya, tentu saja. Perintah Luce adalah absolut dan hal itu juga berlaku untuk semua Arcobaleno. Bahkan hitman nomor satu saja tidak bisa membantahnya.

"Mammon," Ririn mendekat ke arah Mammon sambil merentangkan kedua tangannya.

"Muu!"

Mammon dengan cepat menggunakan ilusinya dan membuat dirinya menghilang, yang malah membuat Reborn tersenyum. Ririn yang tadinya memeluk udara berjalan ke belakang Xanxus dan berhasil memeluk Mammon.

"Ukh, apa-apaan!"

Mammon berusaha melepaskan diri dari pelukan Ririn yang cukup kuat, karena wujud bayinya tidak memiliki kekuatan. Bahkan di wujud normalnya pun stamina fisiknya sangat diragukan, apalagi dalam wujud balita.

"Khuhuhu. Kamu lupa, dia adalah anak dari Amel," ucap Reborn dengan seringai sambil menurunkan fedoranya hingga menutupi seringainya.

"Ushishishi, apa sekarang kemampuan ilusionis mu menurun, Mammon?" Bel menyeringai melihat Mammon yang terlihat kesulitan bernapas di pelukan Ririn.

"Hmph, mph!"

"Bukan Bel-senpai. Ririn memang bisa melihat 'kebenaran' dibalik ilusi," jelas Fran serius.

Melihat respin Fran, dapat diperkirakan kalau dia pernah mencoba menggunakan ilusi di hadapan Ririn.

"Ya, kau benar. Ilusi seperti apapun tidak akan berpengaruh padanya," jelas Reborn.

"Muu~ darah yang merepotkan," ucap Mammon begitu berhasil lepas dari Ririn sambil terbang lebih tinggi hingga tidak terjangkau oleh Ririn.

"Karena kau selalu kena peluk oleh Amel?" Reborn tersenyum geli mengingat teman sesama Arcobalenonya tidak pernah berhasil lari dari pelukan Amel walau pernah membuat duplikat dirinya.

Mammon hanya mendengus tanpa menjawab perkataan Reborn.

"Woof! Woof!"

"Rin,"

Ririn menatap Rin yang mengibaskan ekornya sambil melihat ke arah satu-satunya gadis yang memakai seragam Varia dan menyenderkan diri di tembok tanpa berkata apapun.

"Mou, Lotti-chan jangan diam saja disitu. Ini pertama kalinya kamu bertemu dengan Vongola Juudaime kan?" Lussuria menggembungkan pipinya, membuat Lotti berhenti bersender.

"Namaku Charlotte, Varia Cloud Guardian," ucap Lotti singkat.

"Ah, namaku Sawada Tsunayoshi, yang berdiri di belakang Hibari Kyoya, Cloud Guardian Vongola," ucap Tsuna melihat Hibari tidak ada niat memperkenalkan diri.

'Kenapa semua Cloud Guardian selalu pendiam dan susah ditebak?' diam-diam Tsuna, Dino dan beberapa anggota Varia membatin di dalam hati.

"Charlotte-nee?" Ririn memiringkan kepalanya sambil menatap Lotti.

"Bukan, Ririn-chan. Yang benar itu, 'Lotti-nee'" ucap Miyuki yang muncul dari belakang Tsuna sambil tersenyum yang mendapat death glare dari Lotti.

"Miyu?"

Seluruh anggota Varia menatap Miyuki dengan tatapan ragu. Mengingat mereka berada di Jepang dan Hibari adalah kakaknya, tidak aneh kalau ada Miyuki. Tetapi, aura dan cara bicara yang berbeda itu membuat mereka ragu.

"Lotti," ucap Ririn sambil memeluk Lotti yang kaget karena tidak menyangka dia akan dipeluk, mengingat Squalo, Levi dan Bel tidak mendapat pelukan dari Ririn.

"Eh, lepaskan," ucap Lotti dengan pipi sedikit memerah karena kaget dipeluk tiba-tiba.

"Jangan, Ririn-chan. Lotti-chan itu sangat pemalu, jadi dia tidak terbiasa dipeluk," ucap Miyuki yang dibalas anggukan Ririn.

"Aku nggak malu!" Lotti dengan cepat menyambar perkataan Miyuki, membuat Miyuki tertawa kecil.

"Miyu-chan?" Lussuria memandang Miyuki dengan tatapan ragu.

"Ya. Ah, tapi kalau di luar misi panggil saja aku Yuki, ya?" ucap Miyuki sambil tersenyum pada Varia.

"Miyu?" Hibari memberikan tatapan tajam pada adiknya yang membuat Miyuki menahan napas.

"Itu…akan kujelaskan dirumah, ya?" ucap Miyuki dengan senyum yang membuat Hibari mendengus.

"Ushishishi, apa benar ini Principessa?" Bel mendekat ke arah Miyuki dan berniat menyentuh rambutnya ketika tangannya tertahan oleh sebuah obeng.

"Mau kubuat ingat apa yang terakhir kali 'terjadi' Bel?" tanya Miyuki dengan senyum di wajahnya, tetapi dapat terlihat muncul aura hitam di tubuhnya.

"Pangeran hanya bercanda," ucap Bel dengan seringai sambil mengangkat kedua tangannya, yang dibalas senyum manis oleh Miyuki.

Sekarang seluruh anggota Varia percaya kalau yang berdiri di hadapan mereka adalah orang yang sama. Hibari hanya tersenyum melihat adiknya. Kalau dia mengintimidasi lawan dengan kekuatannya, adiknya mengintimidasi lawan dengan mentalnya.

"Lalu, mau sampai kapan menatapku, Xan-xus-san?" Miyuki menatap Xanxus dengan senyum di wajahnya, sengaja mengeja namanya dengan nada bercanda.

Sejak tadi Xanxus memang sudah menatap Miyuki, dengan tatapan tajam dan aura menyeramkan pastinya. Sedangkan Dino merasa cemburu mendengar Miyuki memanggil nama Xanxus dengan nada akrab seperti itu. Ya, rasionalitasnya mulai terganggu karena dia merasa iri dengan Bel yang mendekati Miyuki walaupun kena ancaman dan Xanxus yang namanya dipanggil oleh Miyuki.

Entah, sudah berapa lama rasanya Dino tidak mendengar Miyuki memanggil namanya lagi, menatap matanya, tersenyum padanya, dan berbicara dengannya. Lamunan Dino terbuyarkan begitu mendengar geraman dari Xanxus.

"Belum sampai sebulan sejak kita bertemu, bahkan baru beberapa minggu, sekarang kamu sudah datang kesini? Ah, bukan. Aku seharusnya lebih kaget dengan 'kamu' berada 'di sini'," ucap Miyuki meralat kata-katanya.

"Kau,"

Semua yang ada di sana tidak bodoh untuk mengetahui Xanxus sedang kesal dan marah, ditambah dengan kata-kata Miyuki yang memang sengaja menyiram minyak ke dalam api. Reborn menatap kedua orang itu dengan seringai tertarik.

"Ne, kalau aku boleh tanya, bagaimana perasaanmu saat terbang ke Namimori? Atau saat ini?" Miyuki maju mendekati Xanxus selangkah demi selangkah. "cemas? Khawatir? Panik? Atau takut?" tanyanya sambil berhenti tepat di depan Xanxus.

Kali ini, bahkan anggota Varia berpikir betapa tidak sayang nyawanya Miyuki melihat tindakannya yang seperti itu kepada Xanxus. Tsuna sudah panik dengan keselamatan nyawa Miyuki, sedangkan Dino hanya bisa melihat dengan khawatir. Dan betapa hebat mentalnya yang masih terlihat tenang dan bisa-bisanya tersenyum sambil mengucapkan semua hal itu.

CKLEK

"Yuki!"

"Yuki-chan!"

"Boss!"

Tanpa sadar mereka berseru melihat Xanxus mengeluarkan pistolnya dan mengacungkannya tepat ke wajah Miyuki. Miyuki memberikan tanda agar mereka tenang, terutama Tsuna yang sudah siap menghentikan mereka.

"Xanxus-san, kau tidak seharusnya mengarahkan benda seperti ini ke arahku kalau kau, bahkan tidak bisa melukaiku. Sedikitpun," ucapnya sambil tersenyum dengan mata berkilat menantang.

"Kau,"

Xanxus hampir tidak bisa menahan amarahnya dan benar-benar berniat menembak kepala Miyuki ketika dia mendengar sebuah suara bersamaan dengan angin yang berhembus.

"Xanxus? Yuki-chan?" sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.

To be continue….

XXXXX

Terima kasih untuk readers setia yang masih mau membaca LSIA walaupun updatenya jadi lama.

Ditunggu reiew, kritik, saran, request dan komentar lainnya!

Mou, Lotticcciam disituMou, Lotticcciam disitu berkata sambil melihat ke arah satu-satunya gadis yang memakai seragam Varia dan menyenderk berkata sambil melihat ke arah satu-satunya gadis yang memakai seragam Varia dan menyenderk