Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Caeliayuuki: Untuk semua pertanyaanmu akan terjawab di chap ini, nanti kan saja~

Yukishiro Seiran: Iya, chapter sebelumnya memang hampir semua tokoh pentingnya muncul. Tenang saja, nanti akan lebih rame lagi kok~

OllaBoyong98: Maaf ya telat update, Sacchan banyak kesibukan di sekolah. Tenang, akan diusahkan chapter selanjutnya lebih cepat update!

Nurulhuda9802: Hai Nurul, terimakasih sudah memfavo dan Follow cerita ini ya. Maaf ya karena banyaknya kesibukan di sekolah jadi lama updatenya. Sacchan nggak nyangka ternyata ada readers dari negara tetangga yang ikut menikmati cerita buatan Sacchan! Akan diusahakan update selanjutnya sesegera mungkin!

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Miyazawa

.

.

.

Xanxus hampir tidak bisa menahan amarahnya dan benar-benar berniat menembak kepala Miyuki ketika dia mendengar sebuah suara.

"Xanxus? Yuki-chan?" sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.

"Rika-nee?"

"Rika,"

Dari arah pintu masuk taman berdiri Rika yang menatap mereka berdua, lalu pandangannya berhenti pada Xanxus dengan tatapan tidak percaya. Gadis itu memakai baju terusan putihnya seperti biasa, napasnya terlihat terengah-engah, keringat menetes dari dahinya dan wajahnya sedikit pucat.

Xanxus yang sebelumnya membeku dengan cepat menyimpan senjatanya dan melangkah ke arah Rika, menangkap tubuh gadis itu tepat sebelum Rika terjatuh karena kehabisan tenaga.

"Ah, terima kasih, Xanxus," ucap Rika sambil tersenyum. Mou, Lotticcciam disituMou, Lotticcciam disitu berkata sambil melihat ke arah satu-satunya gadis yang memakai seragam Varia dan menyenderk berkata sambil melihat ke arah satu-satunya gadis yang memakai seragam Varia dan menyenderk

"Rika-nee tidak apa-apa?" Miyuki langsung berlari menghampiri Rika dan Xanxus dengan khawatir.

"Rika-sama!" Reiko terlihat berlari dari kejauhan dan menghampiri mereka. "Xanxus-sama? Miyuki-sama?"

"Reiko-san, kenapa kalian bisa ada di sini?" Miyuki memandang Reiko dengan heran.

"Saat kami sedang di halaman belakang tiba-tiba Rika-sama berlari ke sini," jelas Reiko dengan khawatir.

"Lari?!" Miyuki meninggikan suaranya dan terdengar panik. "Rika-nee tidak apa-apa?" Miyuki menatap khawatir Rika yang berada di pelukan Xanxus dan terlihat masih kelelahan.

"Aku tidak apa-apa, tenang saja. Akhir-akhir ini kondisiku mulai membaik," ucap Rika sambil mengeluarkan senyum lembutnya.

Tetapi, tetap saja setelah mengetahui Rika berlari dari rumahnya di tengah teriknya matahari yang panas ini membuat Miyuki, Xanxus, Reiko dan Hibari mengkhawatirkan kondisinya mengingat betapa lemahnya fisik Rika sebelumnya.

"Xanxus-san, sebaiknya kita tunda dulu yang tadi," Miyuki menghela napas pelan melihat keringat yang membasahi tubuh Rika dan napasnya yang masih belum teratur.

"Hn," Xanxus menggumam pelan sambil mengangkat tubuh Rika.

"Eh?" Rika mengerjapkan matanya kaget karena Xanxus tiba-tiba mengangkatnya bridal style, yang membuat Reiko dan Lussuria memekik senang. "Ma-mau kemana?"

"Ke rumah Rika-nee," jawab Miyuki.

"A-aku bisa jalan sendiri kok," ucap Rika yang mendapat tatapan tidak percaya dari Miyuki dan Xanxus.

Xanxus tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengeratkan pegangannya pada Rika, membuat gadis itu sadar bahwa apapun yang dikatakannya tidak akan di dengarkan. Rika menghela napas pasrah.

"Lama tidak bertemu, Rika," Reborn melompat ke hadapan Xanxus dan Rika.

"Reborn-san? Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Rika yang terlihat kaget melihat Reborn langsung kembali tersenyum.

"Baik," ucap Reborn singkat.

"Reborn, kau mengenalnya?" Tsuna yang sejak tadi diam seperti yang lain mulai bertanya.

"Ya, dia adalah pembuat senjata profesional," ucap Reborn yang disambut tatapan tidak percaya dari semua orang disitu.

Seorang gadis dengan penampilan dan perangai lembut, juga fisik yang terlihat lemah adalah seorang pembua senjata profesional? Sulit dipercaya.

"Vongola Juudaime?" Rika menatap Tsuna dengan pandangan bertanya.

"Ya, dia adalah Vongola Juudaime. Rika, maaf tapi sepertinya kami membutuhkan tempat untuk berbicara. Apa kau keberatan kalau kami pergi ke rumahmu?"

"Boleh saja," ucap Rika sambil tersenyum kepada Reborn.

Tanpa menunggu lebih lama. Xanxus berjalan menuju rumah Rika diikuti yang lain. Sesekali Rika berbisik meminta Xanxus menurunkannya karena terlihat memalukan, tapi Xanxus tidak mempedulikannya.

Semenatara itu seluruh anggota Varia termasuk Dino dan Tsuna penasaran dengan hubungan Xanxus dan Rika, juga siapa sebenarnya gadis itu.

XXXXX

"Rika-nee, biar kubantu,"

"Tidak usah. Ini pertama kalinya rumah ini mendapatkan tamu sebnayak ini. Aku mau menyiapkan semuanya sendiri," ucap Rika dengan senyum senang dan nada riang.

Melihat Rika yang tersenyum bahagia seperti itu membuat Miyuki tidak bisa menolak perkataannya dan dia menuruti permintaan Rika untuk pergi ke ruang tengah bersama Ririn yang berniat membantu Rika. Setelah perkenalan singkat antara Rika, Dino, Tsuna dan seluruh anggota Varia, Rika langsung pergi ke dapur untuk membuatkan camilan untuk mereka.

Miyuki menuju ruang tengah dan mengambil tempat di hadapan Xanxus, sementara Hibari memilih bersender di dinding pembatas antara taman dan ruangan, sedangkan yang lain duduk dengan tenang.

"Um, boleh Ririn main dengan weapon animal?" Ririn menatap Dino dengan tatapan datarnya.

"Eh, mungkin?" Dino menjawab dengan tidak yakin mengingat dia tidak kenal dengan si pemilik rumah.

"Ririn-chan, kalau mau main di taman saja. Karena tamannya menyambung dengan hutan jadi tidak masalah kalaupun Bester atau Scuderia keluar," ucap Miyuki sambil tersenyum yang dibalas dengan dengan anggukan oleh Ririn.

Setelah itu Ririn mengambil pisaunya dan meneteskan sedikit darah sehingga tubuhnya bersinar berwarna silver. Seketika, seluruh animal weapon muncul keluar, termasuk Alo dan Livya.

"VOII!"

"EH?"

"Apa-apaan ini?"

Seluruh anggota Varia yang baru pertama kali melihat kekuatan Ririn terlihat bingung karena animal weapon mereka keluar sendiri tanpa diperintah. Melihat kebingungan Varia, Dino berbaik hati menjelaskan kepada mereka secara singkat. Sementara itu Miyuki membiarkan Natt bergabung bersama kelompok animal weapon itu.

Ririn mengabaikan anggota Varia yang sibuk mendengar penjelasan dari Dino dan berjalan menuju ke taman bersama seluruh animal weapon itu.

"Seperti di kebun binatang saja," gumam Tsuna sambil menggaruk belakang kepalanya melihat Ririn yang duduk di atas Bester bersama Rin dan Natsu di halaman beserta animal weapon lainnya.

Miyuki melihat ke arah Xanxus yang menatap ke arah dapur yang jaraknya cukup jauh dari ruangan itu. Laki-laki itu terlihat tidak peduli dengan kejadian di sekitarnya.

JLEB

Semua mata memandang ke arah pisau yang menancap tepat di samping Xanxus. Xanxus memandang gadis yang duduk di hadapannya dengan tatapan kesal, sedangkan Miyuki membalasnya dengan senyum.

"Ah, maaf tanganku licin. Aku berniat mengembalikan pisau itu pada Bel-san," ucap Miyuki sambil tersenyum yang terlihat sama sekali tidak merasa bersalah.

"Kau," Xanxus menggeram kesal sambil memandang Miyuki.

Sementara itu, Reborn memperhatikan mereka berdua dengan ekspresi tertarik sambil menyeringai dan menurunkan topi fedoranya untuk menutupi seringainya. Dia tahu Miyu memang hobi iseng, tapi untuk melihat Yuki dengan sengaja membuat kesal seseorang itu baru pertama kali dia lihat, dan pastinya hal itu sangat menarik mengingat 'korban'nya adalah sang pemimpin Varia.

"Rika," Xanxus menggumam pelan sambil menghela napas kasar.

"Hm? Kondisi Rika-nee? Seperti yang kamu lihat, jauh lebih sehat dibandingkan sebelumnya bahkan akhir-akhir ini sudah bisa jalan-jalan ke kota," ucap Miyuki yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Xanxus.

"Sampah sialan," Xanxus menggeram pelan sambil menatap Miyuki yang sama sekali tidak terlihat terintimidasi.

"Kemarin kan aku belum selesai bicara karena beberapa orang menginterupsi pembicaraan kita, kenapa juga kamu mengambil kesimpulan sendiri?" Miyuki mengangkat alisnya dengan pandangan bertanya yang membuat beberapa orang merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, takut terkena amukan Xanxus.

"Tapi, aku benar-benar tidak menyangka kamu akan langsung terbang ke sini dengan informasi ambigu begitu," lanjutnya sambil tersenyum kecil.

"Kau-,"

JLEB

Untuk sesaat tatapan Miyuki berubah sedingin es sebelum kembali tersenyum.

"Apa? Kau yang berani melanggar janjimu, masih berani berkomentar?" Miyuki menunjukkan senyum manisnya dengan nada mengancam.

Mendengar kata-kata itu membuat Xanxus mendecih pelan sambil mengurungkan niatnya. Xanxus sadar, untuk Miyuki yang terpenting adalah Rika, sama sepertinya. Melihat Rika yang tadi tersenyum dengan gembira membuat Xanxus merasa tidak punya hak untuk marah kepada gadis di depannya. Karena, yang terpenting adalah senyuman Rika.

"Terima kasih kembali," ucap Miyuki begitu melihat Xanxus yang sedikit lebih tenang, dan mau tidak mau Xanxus harus mengakui kalau dia berterima kasih kepada gadis itu walaupun masih memasang wajah kesal.

Bel yang duduk tidak jauh dari Xanxus mengambil pisaunya yang tidak disadarinya sudah berkurang jumlahnya entah sejak kapan. Padahal, dia sedang mengalami krisis pisau dikarenakan semua pisaunya dibongkar paksa oleh Miyu beberapa waktu yang lalu dan tidak ada pembuat senjata yang cukup hebat untuk membenarkan pisau miliknya dalam waktu singkat.

"Yuki,"

"Hmm?"

Reborn melompat ke bahu Miyuki dan dengan cepat merubah gaya rambut Miyuki menjadi dikuncir satu.

"Apa? Apa? Kamu butuh sesuatu?" dengan cepat gaya bicara, sikap, aura dan ekspresi Miyuki berubah menjadi lebih ceria dan kekanakan.

"Tidak. Aku hanya merasa lebih menarik kalau begini, Miyu," ucap Reborn menurunkan feodranya untuk menyembunyikan seringainya sambil kembali melompat ke kursinya semula yang hanya dijawab dengan tatapan bingung Miyuki.

"Ah, aku lupa. Bagaimana dengan 'hadiah perpisahan' dariku? Sayang sekali, padahal aku mau melihatnya secara langsung," ucap Miyuki dengan ekspresi menyayangkan yang membuat Xanxus kesal.

Tapi berhubung dia sudah bertahun-tahun menghadapi Miyuki, dia mulai bisa belajar arti dari kata 'sabar' dan menahan diri agar tidak menghancurkan rumah orang yang paling disayanginya itu.

"Ah, tapi aku punya fotonya, mungkin akan kutunjukkan pada Rika-nee," tambah Miyuki sambil tersenyum ceria dan mengeluarkan selembar foto yang dengan cepat diambil oleh Xanxus dan disobek hingga menjadi serpihan kecil.

Xanxus mengarahkan pistolnya pada Miyuki dengan cepat yang membuat semua yang ada di sana kembali panik, kecuali Reborn dan Hibari.

"Minuman dan makanannya sudah datang," ucap Rika dengan nada riang sambil membawa minuman diikuti Reiko yang membawa camilan, membuat Miyuki dan Xanxus membeku sesaat.

"Eh? Kalian bertengkar?" Rika menatap Xanxus dan Miyuki dengan tatapan kecewa dan sedih yang membuat Xanxus dan Miyuki panik di dalam hati.

Miyuki dengan cepat merubah gaya rambutnya kembali seperti sebelumnya dan tersenyum pada Rika.

"Bukan begitu Rika-nee. Xanxus-san merasa senjata miliknya perlu di maintenance karena merasa ada masalah, tapi sayangnya karena pistol ini dibuat khusus oleh Rika-nee aku tidak terlalu mengerti," ucap Miyuki sambil tersenyum walaupun di dalam hati meminta maaf karena berbohong pada Rika.

"Hn," Xanxus yang tidak mau membuat Rika sedih menganggukkan kepalanya.

"Begitu ya," Rika menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lega karena perkiraannya salah.

'He-hebat! Dia berhasil membuat Miyuki dan Xanxus yang seperti itu berhenti bertengkar!' batin semua yang ada di sana.

Rika mulai meletakkan makanan dan minuman di atas meja ketika ketika melihat Hibari yang berdiri dan bersender di tembok, lalu melihat semua kursi yang sudah ditempati. Bahkan Reborn menggunakan Leon yang berubah menjadi sofa kecil. Rika dan Reiko masuk ke dalam sebentar dan membawa dua kursi yang diletakkan bersebelahan di antara Xanxus dan Miyuki.

"Kyoya-kun, jangan berdiri saja di situ. Sini, duduk di sebelahku," ucap Rika sambil duduk di kursi yang berada di dekat Xanxus dengan senyum lebar.

"Tidak perlu," ucap Hibari singkat.

"Kyoya-kun, sejak dulu kamu selalu menolak berada di dekatku. Apa kamu tidak suka padaku?" tanya Rika dengan tatapan sedih.

Jujur saja, karena kedua orang tuanya sejak dulu selalu bekerja sebelum mereka meninggal, Hibari tidak terbiasa menerima sikap baik dari orang lain selain Miyuki. Ditambah dengan sifatnya yang penyendiri dan memandang rendah orang lain. Abaikan pamannya, karena entah kenapa sejak awal bertemu Hibari sudah tidak menyukainya.

Tapi berbeda dengan orang tuanya, pamannya, dan Miyuki, Rika sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya. Makanya, sejak kecil dia selalu kabur setiap kali Miyuki mengajaknya ke rumah Rika atau pulang lebih dulu. Karena, dia tidak terbiasa dengan hal itu. Hanya Rika yang sejak dulu selain keluarganya yang dia hormati dan dia tidak membencinya.

Tapi seorang Hibari Kyoya tidak mungkin mengatakan hal itu. Dia hanya menghela napas dan berjalan menuju kursi di sebelah Rika dan duduk di sana, membuat Rika dan Miyuki tersenyum senang.

'Satu lagi hewan buas berhasil ditaklukkan!' batin semua yang ada disana.

Sekarang, seluruh anggota Varia kecuali Xanxus, Reborn, Tsuna dan Dino menatap Rika dengan pandangan kagum dan hormat. Gadis lembut dengan senyum malaikatnya berhasil menjinakkan hewan buas-hewan buas ini.

Mata Reborn langsung berkilat melihat hal itu. Siapa sangka kelemahan para hewan buas ini adalah seorang gadis lembut feminin yang memiliki fisik yang lemah? Menarik. Dia mulai memikirkan suatu rencana yang mungkin….

"Reborn-san," Rika tersenyum sambil memanggil Reborn yang menatapnya. "apapun yang kamu rencanakan, aku tidak mau terlibat," ucapnya sambil tersenyum.

"Cih, kalian memang ibu dan anak," ucap Reborn sambil mendecih yang membuat Rika tertawa kecil.

Tsuna menatap Rika dengan kagum karena biasanya, bahkan dengan Vongola Intuition-nya, dia masih tidak bisa memprediksi rencana Reborn.

"Baru pertama kali rumah ini mendapat tamu sebanyak ini, aku senang sekali," ucap Rika sambil tersenyum senang pada semuanya, membuat semua orang yang ada di sana terpana akan senyum cantik Rika.

"Mou, tenang saja Rika-chan, kalau kamu mau kami bisa sering datang ke sini," ucap Lussuria bersemangat.

"Terima kasih, Lussuria-san," ucap Rika sambil tersenyum.

"Mou, sudah kubilang tidak perlu formal begitu!" ucap Lussuria sambil menggembungkan pipinya.

"Baiklah, Lussuria," ucap Rika sambil tertawa kecil melihat reaksi Lussuria.

"Jadi, kamu yang sering dipanggil 'Lotti-chan' kan? Yuki-chan selalu bercerita tentangmu kalau selesai menjalankan misi, katanya kamu teman perempuannya yang pertama dan satu-satunya sejak menjalankan misi," ucap Rika sambil tersenyum pada Lotti yang langsung menjadi canggung dan malu mendengar dirinya disebut sebagai 'teman'.

Lotti melihat ke arah Miyuki sekilas yang dibalas senyum senang oleh Miyuki, membuatnya menjadi semakin canggung dan hanya bisa menganggukkan kepalanya.

"Seperti yang dibilang Yuki-chan, kamu tinggi dan cantik seperti model," puji Rika membuat Lotti menundukkan kepalanya karena malu tidak terbiasa dipuji terang-terangan, terlebih oleh perempuan cantik dan lembut seperti Rika.

"Te-terima kasih,"

"Ah, apa kamu keberatan aku memanggilmu Lotti-chan seperti Yuki-chan?" Rika menatap Lotti yang menggeleng pelan dan tersenyum. "baguslah," tambahnya senang.

'Lagi! Satu hewan buas berhasil dijinakkan, mengagumkan!' batin seluruh anggota Varia yang sudah cukup lama mengenal Lotti.

"Ano,"

Semua mata tertuju pada Fran.

"Apa hubungan Rika-san dan Boss?" Fran akhirnya menanyakan pertanyaan yang tidak berani ditanyakan oleh hampir semua orang yang ada di sana.

Semua mata memandang Rika yang sekarang terlihat salah tingkah dengan pipi memerah, terlihat sangat manis dan membuatnya terlihat lebih muda dari umurnya yang sebenarnya. Lussuria dan Miyuki sudah memekik di dalam hati melihat betapa manis Rika.

"A-aku," Rika terlihat kebingungan dan menatap Xanxus ragu.

Sementara, Miyuki sudah sibuk mengeluarkan aura mengintimidasi yang membuat Xanxus menoleh ke arahnya dan membuat laki-laki itu menghela napas kasar. Aura yang seakan mengatakan 'heh, cepat bantu Rika-nee, cowok nggak berguna'. Kalau berkaitan dengan Rika, Xanxus sangat mengerti bisa betapa menyebalkannya Miyuki.

Xanxus akhirnya melingkarkan satu tangannya ke pinggang Rika dan mencium pelipis perempuan itu, membuat semua yang ada di situ kaget dengan sikap Xanxus.

"Eh?"

"Kyaaa!"

"VOIII!"

"Hiee!"

Sekarang wajah Rika sudah memerah total mendapat perlakuan begitu, sedangkan Xanxus tetap memasang wajah cool sambil menatap Miyuki yang membuat Miyuki kesal. Tetapi, melihat Rika senang membuatnya menghela napas dan ikut tersenyum kecil.

"Ara, syukurlah ya, Xanxus-san," ucap Miyuki yang langsung mendapatkan perhatian. "Beberapa waktu yang lalu kudengar karena kamu menolak semua wanita yang mendekatimu, muncul gosip kalau kamu gay lho," ucap Miyuki sambil menunjukkan senyum tanpa dosa.

Dan, tentunya hal ini membuat para anggota Varia berusaha menahan tawa saat mereka mengingat gosip itu. Saat mereka menghadiri pesta mafia dan Xanxus mendengar hal itu, Boss Varia itu hampir menghancurkan acara itu.

"Kira-kira dari mana ya gosip itu menyebar?"

Xanxus langsung menatap tajam Miyuki dan semua anggota Varia termasuk Tsuna dan Dino menatap Miyuki dengan pandangan tidak percaya. Ya, tentu saja. Kalau tidak ada yang memulai, gosip itu tidak akan menyebar dan tidak perlu diragukan, Miyuki yang menyebarkan gosip itu.

"Eh? Begitukah?" Rika menatap Xanxus dengan tatapan polosnya yang langsung membuat laki-laki itu mengalihkan pandangannya.

"Su-sudahlah," Tsuna yang sejak tadi diam akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. "jadi, kenapa tadi kamu mengajak kami ke sini, Reborn?"

"Cih, kamu merusak kesenangan saja," ucap Reborn sambil menurunkan fedoranya. "karena ada Varia, sekalian saja. Aku ingin membahas tentang organisasi yang sedang kita selidiki," ucap Reborn yang langsung mendapat tatapan serius dari semuanya.

"Tapi, sebelum itu. Rika, apakah kamu sedang sibuk untuk bulan ini?"

"Tidak. Pekerjaan terakhirku membenarkan persenjataan bazooka milik Vongola seminggu yang lalu,"

"Baiklah. Selain itu," Reborn menatap Rika lama. "Rika, berapa umur mu sekarang?"

"Eh?"

"Mou, Reborn-san, tidak sopan menanyakan umur pada seorang lady," ucap Miyuki dengan dahi berkerut.

Reborn hanya diam tidak menjawab, sedangkan setelah beberapa lama terdiam, Rika tersenyum.

"Reborn-san, aku bukan mama. Aku tidak apa-apa," ucap Rika dengan senyum lembut dan sedikit sedih.

Jawaban Rika membuat Reborn terdiam. Miyuki menatap Rika selama beberapa saat.

"Apakah ini berkaitan dengan penyakit Rika-nee?"

"Ya. Bisa dibilang fisik lemah Rika adalah penyakit keturunan. Mirip seperti yang pernah dialami Luche dan perempuan Giglio Nero sebelum kutukan Arcobaleno terlepas, mereka memiliki umur yang pendek. Tapi, untuk mereka itu dikarenakan kutukan," ucap Reborn.

Sekarang semua mata memandang Rika yang masih memasang senyum menenangkan.

"Tapi aku jauh lebih sehat sekarang. Aku bisa berjalan keluar rumah, bisa ke kota dan bisa berlari. Aku tidak akan semudah itu mati," ucap Rika tegas.

"Dan hal itulah yang membuatku penasaran. Rika, bagaimana kamu meningkatkan kekuatan fisikmu?"

"Kurasa karena obat dari Xanxus," ucap Rika.

"Dari mana kamu mendapatkan obat itu? Sudah bertahun-tahun Vongola berusaha menyembuhkan penyakit yang diderita perempuan Miyazawa dan tidak berhasil menemukannya," ucap Reborn sambil menatap Xanxus tajam.

"GRAAWRR,"

Tiba-tiba Bester masuk ke dalam ruangan dengan Ririn, Rin dan Hibird di atasnya. Liger berjalan memutari sofa dan berhenti di dekat Xanxus, lalu merendahkan tubuhnya hingga Ririn sejajar dengan Xanxus.

"Xanx-nii, Ririn lupa kasih ini untuk bulan ini," ucap Ririn sambil memberika kantung kain seukuran genggaman tangan berwarna biru.

"Hn. Rika, ulurkan tanganmu," ucap Xanxus setelah menerima kantung itu dari Ririn dan meletakkannya di tangan Rika.

"Eh? Apa ini?" Rika menatap Xanxus dan Ririn bingung lalu melihat isi kantung itu. "Eh? Ini kan obat yang biasa kamu berikan?" Rika menatap Xanxus dan Rika dengan tatapan kaget.

"Jadi, apa bisa kusimpulkan yang membuat obat untuk Rika adalah kamu, Ririn?" tanya Reborn yang dibalas Ririn dengan tatapan bingung, membuat Reborn menghela napas. "Xanxus?"

"Hn," jawabnya singkat.

"Ririn, obat yang kamu buat adalah untuk Rika," Reborn berusaha menjelaskan kepada Ririn dengan perlahan. "tetapi, bahkan Vongola tidak berhasil membuat obat untuk Rika. Bagaimana caramu membuat obat itu?"

"Karena itu bukan obat untuk manusia,"

"Eh?"

"Apa maksudmu?"

Ririn menatap Rika dengan tatapan lurus.

"Giglio Nero memliki witch of the light, Ririn adalah witch of moon, dan Rika-nee adalah, Witch of nature," ucap Ririn yang membuat semua orang kaget, termasuk Rika sendiri.

"Apa maksudmu? Rika adalah penyihir alam?" Reborn menatap Ririn dengan penasaran.

"Um," Ririn lalu meloncat turun dari Bester dan menarik tangan Rika, mengajaknya berjalan keluar menuju taman.

Bersamaan dengan Rika yang berada di taman, diikuti oleh yang lain, angin berhembus. Terasa tenang dan lembut.

"Rika-nee adalah penyihir alam. Alam akan memberi 'respon' terhadap Rika-nee. Angin yang berhembus, sinar yang terang dari matahari maupun bulan, awan yang melindungi. Bukankah, Rika-nee tadi ada di taman karena mendengar angin 'berbicara' kepada Rika-nee?" ucap Ririn.

Rika terdiam mendengar ucapan Ririn, sedangkan semua mata memandangnya penasaran. Memang, kalau dipikir-pikir yang terjadi tadi adalah hal yang aneh. Varia tidak memberitahukan kedatangannya ke Namimori kepada siapapun, hal itu murni karena Bos mereka dengan seenaknya masuk ke ruang tengah dimana seluruh anggota Varia sedang berumpul dan menyuruh mereka untuk bersiap-siap karena detik itu juga mereka akan terbang ke Namimori.

"Saat Xanx-nii meminta Ririn membuatkan obat, Xanx-nii memberikan sedikit sampel darah Rika-nee. Saat itu, Ririn tahu, Rika-nee bukan manusia biasa dan penyakit yang di derita oleh Rika-nee, adalah karena kekuatan Rika-nee," ucap Ririn.

"Maksudmu?" tanya Reborn yang meloncat ke samping mereka dengan hati-hati, merasakan firasat tidak enak mendengar penjelasan Ririn.

"Untuk menggunakan 'kekuatan' selalu ada yang harus dikorbankan. Saat ini, Yuni sudah bisa mengendalikan kekuatannya dalam melihat masa depan yang mengorbankan stamina mental dan fisiknya, terutama dalam hal emosi. Ririn menggunakan darah untuk menggunakan kekuatan Ririn. Sedangkan, Rika-nee," Ririn menghentikan kata-katanya sejenak sambil menatap Rika lurus.

"Rika-nee, penyihir alam berbeda dari yang lain. Yang mereka korbankan adalah 'energi kehidupan'," ucap Ririn yang membuat semua yang ada di sana tidak percaya.

Reborn menurunkan fedoranya untuk menyembunyikan ekspresinya, sementara Xanxus diam-diam mengeratkan kepalan tangannya mendengar kata-kata Ririn. Hibari dan Miyuki hanya diam dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Hmm, begitu ya," ucap Rika sambil tersenyum lembut seakan sudah mengira hal itu.

"Rika-nee," Miyuki memanggil Rika pelan yang dibalas dengan senyum lembut oleh Rika.

"Kenapa kalian berwajah seperti itu? Walaupun Ririn-chan bilang begitu, bukan berarti aku akan meninggal secepat itu," ucapnya sambil menghela napas. "lagipula, kalau mengingat bagaimana kesehatan fisikku sebelumnya, hal itu mungkin memang akan terjadi lebih cepat. Tapi, sekarang aku sudah lebih sehat kan?" tambahnya sambil memberikan senyum menenangkan kepada mereka semua.

Melihat Rika yang tersenyum seperti itu, semua merasa lebih tenang. Entah karena memang kekuatan Rika atau bukan.

"Ririn, apa ada cara untuk mengatasi kekuatan Rika?" Reborn menatap Ririn dengan serius.

Ririn menatap Reborn cukup lama, setelah itu Rika dan wajah datar tanpa ekspresinya terlihat sedang berpikir. Beberapa menit kemudian Ririn menganggukkan kepalanya.

"Ada sebuah cara. Rika-nee harus belajar mengendalikan kekuatan Rika-nee," ucap Ririn.

"Caranya?" Miyuki bertanya dengan bingung.

"Meminta orang lain untuk mengajarkannya," jawab Ririn.

"Jadi, kamu akan mengajarkan Rika mengendalikan kekuatannya?" Dino ikut menimpali.

"Bukan, Ririn tidak bisa. Orang yang tepat dalam hal ini, sepertinya Luce-nee," ucap Ririn.

"Luce?"

"Luce-san?"

Ririn menganggukkan kepalanya melihat ekspresi bingung dari mereka. Mengingat sifat Aria yang angin-anginan memang rasanya tidak mungkin memintanya mengajari orang lain, Safira terlalu sering bepergian dengan Kawahara dan tidak pernah jelas kapan akan kembali, sedangkan Yuni rasanya terlalu muda, belum banyak pengalaman, ditambah dia juga harus mengurus famiglia nya.

"Ara, Luce kah? Sudah lama tidak bertemu dengannya," ucap Rika dengan senyuman sambil mencuri pandang pada sesosok hitman yang segera mengalihkan pandangannya sambil menurunkan fedoranya.

"Tapi, bukankah hal ini aneh? Rika, kenapa kelihatannya keluargamu tidak ada yang menyadarinya?" tanya Reborn dengan curiga.

Reborn mengenal ibu dari Rika dan kelihatannya, dia juga tidak menyadari bahwa ada darah penyihir mengalir di dalam darahnya.

"Karena saat perburuan penyihir di abad ke 16, lebih dari sembilan puluh persen penyihir dibunuh. Banyaknya pemburu penyihir yang menyebabkan para penyihir menyembunyikan identitas mereka, bahkan, dari keluarga dan anak cucu mereka sendiri. Beberapa penyihir yang memiliki kemampuan terkait dengan alam seperti Rika-nee lambat laun akan memiliki umur yang semakin pendek karena alam semakin berkurang. Banyak perkotaan, pabrik, listrik, dan yang terpenting radiasi dan gelombang frekuensi membuat tubuh mereka semakin lemah di zaman sekarang. Bukankah begitu, Rika-nee?" tanya Ririn.

"Ya. Di dalam rumah ini tidak ada telepon ataupun TV, hanya ada sebuah radio yang jarang dipakai, karena semuanya seperti yang kamu katakan," ucap Rika sambil menganggukkan kepalanya.

"Sejak awal, penyihir alam tidak membutuhkan alat untuk berkomunikasi. Di dalam wilayah kekuasaan mereka, angin akan 'membawa' informasi yang ada," tambah Ririn.

Reborn menurunkan fedoranya, menganalisa semua hal tentang keluarga Rika. Ya, bagaimana mungkin Rika bisa mengetahui informasi dan perintah-perintah dari Nono dengan cepat tanpa media komunikasi?

"Obat yang Ririn buat hanya bisa membantu memulihkan kesehatan fisik Rika-nee. Jika saatnya tiba, obat itu tidak akan bisa membantu. Rika-nee harus meminta Luce-nee mengajari cara mengendalikan kekuatan milik Rika-nee," ucap Ririn.

"Hmm, kalau begitu aku akan mengirimkan surat untuknya dan membicarakan hal itu," gumam Rika sambil memikirkan perkataan Ririn.

"Eh? Kenapa harus pakai surat? Telepon saja biar cepat," Dino menatap Rika dengan heran.

Anggota Varia yang lain dan Tsuna juga berpikir hal yang sama dan menatap Rika dengan heran.

"Tapi aku tidak punya telepon," ucap Rika pelan.

Xanxus hanya menghela napas pelan melihat reaksi mereka yang kaget mengetahui di zaman modern begini masih ada orang yang tidak memasang telepon di rumahnya. Mereka tidak tahu sudah berapa lama Xanxus ingin mendengar suara Rika walaupun hanya dari telepon, tapi gadis itu hanya bisa menerima surat.

"Dia tidak bisa menerima banyak gelombang radio, ingat?" ucap Reborn sambil menghela napas kepada mereka.

"Ah, kalau begitu bagaimana kalau kamu yang menyampaikannya saja, Reborn-san?"

Reborn dan semua yang ada di sana menatap Rika dengan bingung dan heran. Kenapa harus Reborn?

"Kalau mendapat telepon darimu, dia pasti senang. Apalagi beberapa waktu lalu aku mendapat surat darinya yang menceritakan kekasihnya baru mengunjunginya setelah sekian lama sebanyak lima lembar," ucap Rika setengah berbisik yang hanya bisa didengar oleh Reborn dan Ririn.

Reborn hanya menurunkan fedoranya untuk menyembunyikan ekspresinya yang membuat Rika tersenyum geli.

"Maaf mengganggu, makan siang sudah siap," tiba-tiba Reiko memanggil dari ruang tamu.

"Ah, ternyata sudah jam segini. Kalau begitu, bagaimana kalau makan dahulu?"

Setelah Rika berkata hal itu dengan senyum, mereka kembali ke dalam rumah dan makan siang bersama. Selama makan siang, mereka membahas tentang perkembangan Shimon Famiglia yang sudah mulai stabil berkat Vongola, Cavallone dan Varia yang memberikan bantuan.

"Muu, aku belum reservasi hotel. Lebih baik aku pergi mencarinya sebelum hari gelap," ucap Mammon setelah mereka kembali ke ruang tamu, kecuali Ririn yang kembali bermain di halaman.

"Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau menginap di sini saja? Kebetulan rumah ini cukup luas dan banyak kamar kosong yang bisa dipakai," ucap Rika yang membuat Mammon berpikir.

Kalau menginap di rumah Rika, tentu saja akan menghemat biaya, karena tidak perlu mengeluarkan uang sedikitpun. Tapi, bagaimana dengan anggota yang lain?

"Bagaimana dengan yang lain?" Mammon melihat seluruh anggotanya yang lain.

"Mou, tentu saja aku mau!"

"Voi, aku tidak keberatan,"

"Ushishishi, boleh juga. Pangeran bosan tinggal di hotel,"

"Tidak masalah,"

"Aku tidak masalah, hanya saja untuk malam ini sepertinya aku akan menginap di tempat Master,"

"Kalau Bos tidak keberatan, aku tidak masalah,"

Sekarang semua mata memandang ke arah Xanxus.

"Hn,"

Dua huruf yang tidak bisa dibilang kata. Jawaban yang sangat singkat dan tidak jelas, tetapi untungnya kali ini mudah dimengerti.

"Baiklah, kalau begitu kami akan menginap di sini," ucap Mammon.

Rika tersenyum senang dan segera meminta Yamada dan Reiko untuk menyiapkan kamar untuk mereka.

"Baiklah, aku akan kembali ke topik utama kita," ucap Reborn begitu suasana kembali tenang.

"'Mereka' mulai bergerak,"

To be continue…

XXXXX

Setelah sekian lama, akhirnya kembali update juga!

Diterima review, saran, kritik, masukan dan request!