Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Tsundere-chan

.

.

.

"Baiklah, aku akan kembali ke topik utama kita," ucap Reborn begitu suasana kembali tenang.

" 'Mereka' mulai bergerak," ucap Reborn, membuat suasana langsung berubah menjadi serius.

"Misi yang kulakukan beberapa waktu yang lalu, aku akhirnya menemukan alasan kenapa Shimon Famiglia diserang," kali ini Miyuki berbicara. "pertama-tama, sebelum aku memulainya. Mendengar apa yang telah diceritakan oleh Cavallone Juudaime, Ririn ditemukan di salah satu tempat persembunyian dari 'Mereka' yang kita incar," Miyuki berhenti sejenak.

Dino merasa kecewa mendengar Miyuki tidak memanggil namanya seperti biasa. Cavallone. Yah, dia tidak punya hak untuk merasa seperti itu. Karena, dia yang awalnya memutuskan melakukan hal ini agar Miyuki tidak terluka nantinya.

"Selain itu, bersama Rokudo Mukuro, Ririn juga pernah menjadi percobaan oleh Estraneo Famiglia. Ririn adalah penyihir bulan, bisa dibilang satu-satunya di dunia ini. Penyihir yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan," Miyuki berhenti sejenak sambil memandang semua yang ada disana.

"Kira-kira, apa kalian bisa menebak apa yang diinginkan oleh 'Mereka' dari Ririn?" Miyuki menatap mereka dengan serius.

"Mereka menginginkan kekuatan Ririn. Tetapi, mengingat percobaan yang telah mereka lakukan pada manusia, bisa diambil kesimpulan bahwa yang diinginkan bukan hanya kekuatan Ririn. Mungkinkah dia berniat mengembangkan kekuatan menyembuhkan Ririn agar dirinya bisa menjadi manusia immortal?" Bel memeberikan analisanya yang dibalas dengan anggukan oleh Miyuki.

"EH? Hidup abadi?" Tsuna memekik tidak percaya mendengar hal itu.

"Sebenarnya, hal itu berkaitan dengan barang yang kutemukan di mansion Shimon," ucapnya sambil mengeluarkan sebuah buku diary dan meletakkannya di atas meja.

Reborn membuka buku itu dan membaliknya hingga terbuka halaman terakhir dimana ada selembar foto yang membuat mereka penasaran. Foto yang kelihatannya diambil sebelum foto milik Daemon yang pernah mereka lihat sebelumnya.

"Siapa gadis ini?" Reborn menunjuk gadis yang wajahnya terlihat tidak jelas yang hanya dibalas oleh gelengan kepala oleh Miyuki.

"Entahlah. Sepertinya gadis itu bernama Selena. Tetapi tidak ada hal lain yang tentang gadis itu di buku ini. Sepertinya semua hal yang berhubungan tentang gadis itu sudah dirusak," ucap Miyuki sambil menunjukkan beberapa halaman yang sudah disobek.

"Lalu, apa hubungannya kekuatan Ririn dengan buku ini?" Lotti menatap buku itu dengan heran.

"Ini, di halaman terakhir ditulis buku ini walaupun tersobek masih ada kata-kata di sana," ucap Miyuki sambil menunjukkannya.

Seluruh Italia, tidak, seluuh Eropa sedang gempar-perburuan penyihir.

- Bagaimana ini? Vongola-aku-penyihir-karena mengambil-dari penyihir bisa membawa keabadian-maaf. Maaf aku tidak bisa membantu kalian.

" 'mengambil…..dari penyihir bisa membawa keabadian'?" Dino mengerutkan dahinya membaca kalimat yang sedikit berantakan itu.

"Mengambil apa?" Tsuna mengerutkan dahinya sambil berusaha menatap tulisan yang hampir pudar itu, yang dibalas gelengan kepala oleh Miyuki.

"Entahlah,"

Suasana menjadi sepi untuk sesaat, menerka apa yang akan 'Mereka' ambil.

"Itu yang pertama. Selanjutnya," Miyuki menatap kakaknya ragu sebelum mengeluarkan tiga lembar artikel.

"Bahasa apa ini?"

Mereka menatap artikel dengan dua bahasa yang berbeda. Yang dua Jepang, satu lagi entahlah.

"Ini, Bahasa Indonesia," ucap Reborn begitu membaca artikel itu.

"Indonesia?"

"Ya, negara asal Ririn dan Ibunya," ucap Reborn sambil menurunkan fedoranya.

"Apa yang tertulis di sana?" Tsuna bertanya dengan penasaran.

"Terjadi pembunuhan di sebuah desa di daerah Garut, suami-istri ditemukan tewas sedangkan anak perempuan dari pasangan itu hilang. Tidak diketahui motif dari pembunuhan itu," ucap Reborn, berusaha menerjemahkan secara singkat.

"Itu berita tentang Ririn," ucap Miyuki.

"Eh? Tapi ini koran dua belas tahun yang lalu," Tsuna mengerutkan dahinya bingung begitu melihat tahun yang tertera di sana.

"Aku bertemu dengan Ririn lebih sekitar tiga tahun yang lalu, berarti lebih dari delapan tahun dia bersama dengan 'Mereka'?" Dino menggumam tidak percaya dan memandang adiknya yang sedang bermain di luar dengan para animal weapon.

"Bagaimana dengan artikel ini?" Fran menunjuk artikel lainnya yang membuat tatapan Hibari menjadi dingin.

"Kecelakaan seorang perempuan yang mengendarai mobil dan kecelakaan pesawat menuju Jepang?" Squalo sekilas membaca berita itu.

"Itu orang tuaku ," ucap Miyuki.

"Orang tua Hibari-san?"

"Ya. Kaa-san dan Tou-san sepertinya terlibat dalam hal ini. 'Mereka' yang sedang kita cari tidak hanya buronan di dunia hitam, tetapi juga di dunia atas, bahkan sampai FBI mengincar mereka. Kecelakaan pesawat ini terjadi dengan jalur Indonesia-Jepang, empat hari setelah terjadi kasus pembunuhan orang tua Ririn," Miyuki menghentikan kata-katanya untuk beberapa saat.

"Dan karena ayahmu anggota FBI, 'Mereka' tidak segan-segan membungkam ayahmu bersama puluhan orang tidak bersalah," Reborn memberikan analisa yang dibalas dengan anggukkan oleh Miyuki dengan senyum pahit.

"Kaa-san yang juga menyelidiki akibat kematian Tou-san dan kasus yang sedang diselidiki Tou-san tewas karena kecelakaan mobil. Rem mobil Kaa-san dipotong hingga menyebabkan Kaa-san kecelakaan yang melibatkan sebuah bus ikut mengalami kecelakaan. Hal itu menyebabkan ada 10 orang terluka sedangkan sisanya selamat. Hanya Kaa-san yang meninggal," ucap Miyuki pelan.

Walaupun tipis, tapi semua yang ada di sana bisa merasakan Flame of Night milk Miyuki melapisi tubuhnya. Rasa benci dan dendam kepada 'Mereka' yang begitu kuat hingga menjadi Flame.

"Kalau sudah menjadi buronan seperti itu, kenapa masih belum tertangkap?" Rika yang memang kurang paham mengenai masalah antar Famiglia bertanya dengan bingung.

"Karena mereka menjadikan Famiglia lain sebagai kambing hitam dan dengan sengaja memperalat mereka untuk menutupi kejahatan mereka tanpa terlihat, seperti Estraneo Famiglia. 'Mereka' dengan licik membuat semua bukti hanya mengarah pada Estraneo dan memberikan data perjanjian serta kontrak palsu hingga tidak bisa dilacak," jelas Reborn.

"Tapi, hal itu akan segera berakhir," gumam Miyuki sambil meletakkan sebuah pin berbentuk binatang.

"Mongoose?"

Mereka memperhatikan pin itu dengan seksama.

"Mangusta Famiglia. Tidak ada yang spesial dari Famiglia itu, bisa dibilang mirip dengan Tomaso Famiglia," ucap Miyuki sambil menyentuh pin berbentuk binatang itu. "Tapi, di dunia atas mereka dikenal sebagai perusahaan penghasil kopi termahal yang dibuat dengan bantuan hewan. 'Kopi Luwak', kopi paling mahal di dunia yang berasal dari tempat tinggal Ririn, Indonesia," jelas Miyuki.

"Kopi Luwak?" Tsuna dan Rika terlihat bingung mendengar penjelasan Miyuki.

"Ya, kopi dari kotoran luwak yang diolah sehingga berkualitas dan bercita rasa tinggi," jelas Reborn membuat Tsuna memasang ekspresi aneh mendengarnya.

"Jadi, musuh kita berasal dari Indonesia?" Lussuria yang sejak tadi diam mendengarkan akhirnya berkomentar.

"Kemungkinan besar, ya. Amel tidak pernah sekalipun keluar dari Indonesia, jadi kemungkinan besar mereka bertemu di sana," ucap Reborn.

"Tapi hal ini tidak mudah. Ada banyak pengusaha kopi di Indonesia, dan dari hasil analisaku, ada tiga perusahaan yang kucurigai," ucap Miyuki.

"Apa kamu punya firasat diantara ketiga itu siapa?" Reborn bertanya dengan serius, membuat Miyuki terdiam.

"Aku tidak tahu. Tapi mungkin, ini?" Miyuki mengeluarkan selembar foto perusahaan kopi dengan icon luwak yang membuat Reborn mengangkat alisnya.

"Kesamaan nama, hanya berbeda bahasa dan kesamaan lambang?" Miyuki mengedikkan bahunya tidak peduli.

"Ushishishi, deduksi yang simple," Bel tertawa mendengar penjelasan Miyuki.

Reborn hanya diam dan terlihat berpikir keras.

"Sebenarnya, kalau kalian tanyakan pada bocah itu, bukankah segalanya lebih mudah?" Squalo menunjuk Ririn yang berada di luar dengan heran.

Reborn, Dino, Tsuna dan Miyuki langsung mengubah ekspresi mereka menjadi sedih dan murung.

"Sepertinya Ririn belum mau membahas masalah itu. Sejak tinggal bersamaku tiga tahun lalu, dia seperti menghindari pembicaraan tentang 'Mereka'. Aku tidak sanggup menanyakan hal itu padanya," ucap Dino sambil menghela napas lelah, membuat suasana sepi untuk sesaat, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan meletakkannya di atas meja.

"Selain itu, walaupun selama ini aku selalu mencatat sikap atau kata-kata Ririn yang mungkin bisa berkaitan dengan 'Mereka', dia hampir tidak pernah menyinggungnya," ucap Dino sambil mengusap kepalanya frustrasi.

"Kakak,"

Suara Ririn yang tiba-tiba membuyarkan pikiran mereka. Miyuki dengan segera menyembunyikan semua yang tadi dikeluarkannya dan tersenyum kepada Ririn.

"A-ada apa Ririn?" Dino berusaha tersenyum senatural mungkin menanggapi Ririn.

"Bukankah Kakak bilang ada janji siang ini?"

Dino mengerjapkan matanya dan melihat jam tangannya.

"Astaga, aku harus pergi sekarang!" Dino melompat berdiri dari kursinya begitu melihat jam. "Maaf, aku harus pergi sekarang," ucap Dino

"Eh? Tapi ada yang ingin kudiskusikan denganmu," ucap Tsuna bingung.

"Bagaimana kalalu besok saja? Kalian besok sudah libur kan?"

"Baiklah," Tsuna menghela napas sambil menganggukkan kepalanya.

"Hmm, karena Dino ada urusan kita lanjutkan lain kali saja," ucap Reborn sambil memberikan sebuah tanda pada Miyuki yang dibalas dengan anggukkan kepala.

Mereka tidak bisa membicarakan hal ini di dekat Ririn. Setidaknya sebelum gadis itu sendiri yang berbicara tentang semuanya.

"Kalau begitu," Bel baru mau berkata sesuatu ketika Miyuki memotongnya.

"Ah, kalian bilang ingin aku mengantar kalian ke suatu tempat kan?" ucap Miyuki tiba-tiba sambil menatap seluruh anggota Varia.

"Eh? Kemana?" Levi menatap Miyuki dengan bingung.

"Itu lho, yang kemarin kalian bilang," ucap Miyuki dengan senyum tapi aura yang mengintimidasi, membuat mereka tersadar.

"A-ah yang itu," Squalo yang pertama memberi respon.

"Aduh, benar juga," Lussuria menambahkan.

Xanxus hanya mengangkat sedikit alisnya heran. Mereka datang ke Namimori tiba-tiba, kapan merencanakannya?

"Eh? Kalian juga mau pergi?" Rika menatap mereka dengan pandangan bertanya.

"Iya. Selain Xanxus-san, kami sudah ada rencana. Ada tempat yang mau kami datangi," ucap Miyuki sambil tersenyum pada Rika yang dibalas anggukkan setuju oleh para anggota Varia, kecuali Xanxus.

"Ah, kalau begitu, Squalo-san?"

"Ya?"

"Boleh aku melihat pedangmu sebentar?"

Squalo menatap Rika dengan heran. Dia lalu sekilas memandang Xanxus dan Miyuki yang menganggukkan kepalanya dan memberikan pedang itu pada Rika dengan ragu. Rika mengeluarkan pedang itu dari sarungnya dan memandangnya dengan serius.

"Apakah belum lama ini kamu bertarung dengan lawan yang kuat? Atau latihan yang cukup berat dengan pedang ini?" tanya Rika

"Ya, seminggu lalu aku bertarung dengan lawan yang cukup kuat. Kenapa?"

Rika tidak menghiraukan kata-kata Squalo dan mengeluarkan obeng miliknya. Dia memukul dengan kuat ujung obeng itu ke satu tempat di dekat pangkal pedang dan pedang itu dengan mudahnya retak.

"Ehh?"

"Squalo-san, sayang sekali. Kelihatannya lawanmu sebelumnya berhasil menyerang titik vital dari pedang ini. Kalau kau tidak mengetahuinya, di pertarungan selanjutnya pedangmu akan langsung hancur," jelas Rika.

Squalo hanya bisa menatap Rika dengan pandangan tidak percaya. Padahal setiap hari dia rajin mengelap pedang itu, tapi dia tidak menyadari bahwa pedangnya hampir hancur.

"Kalau anda berkenan, saya akan memperbaikinya, bolehkah?" Rika menawarkan diri dengan senyumnya.

"Ka-kalau kamu memang bisa memperbaikinya, baiklah," ucap Squalo masih sedikit terkejut dengan kemampuan gadis itu mengetahui kondisi senjatanya.

"Tapi, kamu benar-benar merawat pedang ini dengan baik, ya. Pedang ini terlihat terasah dan terawat dengan baik," ucap Rika sambil tersenyum yang membuat pipi Squalo sedikit memerah dan mendapat tatapan tajam dari Xanxus.

"Rika-nee, biar kubantu," Miyuki langsung menawarkan diri yang dibalas senyuman dan anggukan oleh Rika.

"Ah, kalau begitu, Bel-san," Miyuki memanggil Bel yang dibalas dengan tatapan bertanya. "pisaumu, kalau belum diperbaiki, akan kuperbaiki sisanya," ucap Miyuki.

"Ushishishi, Principessa akan memperbaiki pisau pangeran," Bel menyeringai senang dan menyerahkan satu kantung berukuran sedang yang bisa dipastikan isinya pisau yang dirusakkan Miyuki sebelumnya.

Miyuki hanya menerima pisau milik Bel sambil tersenyum, membuat Dino merasa iri terhadap Bel. Andaikan senjata miliknya bukan berasal dari Leon, mungkin Miyuki bisa…

Dino menggelengkan kepalanya. Apa dia benar-benar sedepresi itu karena Miyuki mengabaikannya?

"A-ah, kalau begitu aku akan pergi sekarang," ucap Dino.

Sekilas dia mencuri pandang ke arah Miyuki yang dibalas Miyuki dengan membuang wajah dan berbicara dengan Bel.

"Kalau begitu, kami juga permisi, Rika-nee," ucap Miyuki sambil keluar dari rumah itu, diikuti anggota Varia.

Rika menganggukkan kepalanya dan mengantar mereka sampai depan rumah, sedangkan Xanxus sama sekali tidak peduli dan tetap duduk di sofa. Begitu Rika kembali ke ruang tengah, dia tidak menemukan Xanxus dan berjalan menuju pintu taman yang terbuka. Bibirnya tersenyum ke atas melihat Xanxus berdiri di bawah pohon besar, menatap bunga-bunga matahari yang tumbuh.

Rika berjalan pelan ke arah Xanxus yang sedang melamun dan berhenti di belakangnya. Xanxus membalikkan badannya, merasakan angin kembali bertiup dan melihat Rika yang dikelilingi daun-daun hijau yang terbang terbawa angin.

"Aku tidak menyangka, aku seorang penyihir," ucap Rika sambil menyentuh bunga matahari yang bergoyang karena tertiup angin.

Xanxus menatap Rika yang terlihat bersinar. Ya, gadis itu selalu terlihat bersinar. Apakah itu karena dia seorang penyihir? Bukan. Itu karena Rika adalah malaikat milik-nya. Ya, malaikat milik Xanxus. Xanxus berjalan mendekati Rika dan berhenti di depannya. Dia mengulurkan tangannya dan mengelus wajah Rika yang lembut dengan jarinya.

"Aku sampai lupa mengatakan ini padamu," Rika menggumam dengan senyum lembut, membuat Xanxus mengangkat alisnya. "okaeri," ucapnya lembut.

"Hn. Tadaima," gumam Xanxus sambil mendekatkan wajahnya ke arah Rika yang dibalas Rika dengan menutup matanya.

Sementara itu, di samping tembok rumah ada sesosok maid yang menatap kedua pasangan itu dengan mata berbinar dan pipi memerah dilengkapi kamera ponsel ditangannya. Sayang, kesenangannya hanya sementara karena sang butler mencubit pipinya dan menyuruhnya kembali bekerja.

XXXXX

Varia minus Xanxus beserta Tsuna, Miyuki, Ririn dan Dino menelusuri jalan sambil menatap pepohonan di kanan dan kiri jalan. Maklum, rumah Rika sangat terpencil walaupun berada di dekat kuil karena dekat hutan. Reborn sudah hilang entah kemana begitu mereka meninggalkan rumah Rika sedangkan Hibari melompat seperti ninja ke dalam hutan, menuju ke arah kuil. Dino sesekali melihat Miyuki dari ekor matanya yang sedang berbicara dengan Ririn.

"Ushishishi, Pangeran kira Yuki tidak suka Boss dekat-dekat dengan Rika," ucap Bel membuka pembicaraan.

"Memang tidak suka," Miyuki menjawab dengan senyum, membuat anggota Varia beserta Dino dan Tsuna bergidik melihat senyumnya. "Tidak suka, tapi Rika-nee senang," ucap Miyuki sambil menghela napas.

"Voi, gadis itu…apa benar pacar Boss?" tanya Squalo yang membuat Miyuki diliputi aura suram dan tidak menjawabnya, membuat anggota Varia yang lain berkeringat dingin karena merasa sudah menanyakan hal yang tidak seharusnya.

"Mou, tapi siapa sangka Boss punya pacar seperti itu," ucap Lussuria berusaha mengalihkan pembicaraan. "cantik, baik, lembut, feminin, aduh, benar-benar seorang lady sejati," ucapnya.

"Iya! Bukan hanya penampilan dan sifatnya saja, Rika-nee juga jago masak dan mengurus rumah tangga, selain itu dia bisa membuat senjata," ucap Miyuki dengan mata berbinar, membuat anggota Varia yang lain berterima kasih pada Lussuria yang berhasil mengubah suasana hati Miyuki.

"Yuki sangat sayang pada Rika ya?" Dino yang sejak tadi diam tersenyum lembut pada Miyuki tanpa sadar bertanya.

"Iya. Sangat suka dan sayang," Miyuki menjawab dengan spontan dengan senyum manisnya sambil menatap Dino.

Dino yang tidak menyangka mendapat respon seperti itu hanya bisa membeku di tempat. Senyum yang manis, sangat manis dan cantik. Rasanya sudah lama sekali Miyuki tidak menatap matanya dan tersenyum seperti itu. Seakan tersadar, Miyuki segera memalingkan wajahnya dari Dino dan mempercepat jalannya, membuat Dino kembali merasakan kecewa. Mereka sudah berada di jalan besar ketika Ririn menarik lengan baju Miyuki.

"Jadi, kita mau ke mana?" Ririn yang sejak tadi berjalan sambil memainkan Fantasma yang bertengger di bahu Mammon bertanya, sedangkan Mammon digendong oleh Bel.

"Pangeran mau makan sushi,"

"Aku mau ke tempat Mukuro-sama,"

"Aku mau bertemu Ryou-kun,"

"Voi, aku akan menemui bocah samurai itu, jadi aku ikut denganmu Bel,"

"Muu~ aku ikut Bel saja lah,"

"Kalau begitu aku juga ikut Bel saja,"

"Eh? Kita kan belum lama makan siang, sudah mau makan lagi?" Tsuna menatap Bel, Levi dan Mammon dengan tidak percaya.

"Ushishishi, tidak masalah," ucap Bel sambil menyeringai.

"Lotti, ini pertama kalinya kamu ke Jepang kan? Mau kutemani keliling Namimori?" Miyuki menawarkan diri sambil tersenyum pada Lotti yang sejak tadi diam.

"Ushishishi, lebih baik kau terima tawaran Yuki. Lotti kan buta arah, nanti tidak bisa pulang," ucap Bel dangan nada mengejek.

"Aku tidak buta arah," bantah Lotti dengan cepat sambil menatap Bel tajam.

"Nee, Tsundere-chan, lebih baik kamu pergi dengan Yuki daripada tersesat," Fran menambahkan, membuat Lotti semakin kesal.

"Aku akan jalan-jalan di kota sendiri!" Lotti langsung membalikkan badannya dan berjalan menjauh. "Yuki, jangan ikuti aku," ucap Lotti singkat ketika Miyuki berniat mengikutinya.

Miyuki hanya bisa menghela napas pasrah karena Lotti adalah gadis yang keras kepala. Dia khawatir kalau Lotti akan benar-benar tersesat.

"Kalau begitu aku akan ikut denganmu, Bel. Aku khawatir meninggalkan kalian sendiri," ucap Miyuki yang hanya dibalas oleh Bel dengan tawa.

Dino mengerutkan dahinya mendengar Miyuki akan pergi bersama Bel. Kenapa harus dia?

"Kalau begitu aku pergi dulu, sepertinya Romario sudah menunggu ku," ucap Dino beusaha menyembunyikan ekspresinya dan meninggalkan mereka.

"Kalau begitu, Lussuria-san, mau ke tempat Nii-san denganku? Kebetulan aku ada janji dengan Kyoko-chan di rumahnya," ucap Tsuna yang dibalas dengan anggukan oleh Lussuria.

"Ririn-chan mau ikut?" Miyuki menatap Ririn yang terdiam selama beberapa saat.

"Nggak, Ririn mau main sama Mu-kun," ucap Ririn.

"Oh, kalau begitu kamu ikut Fran ya," ucap Miyuki dengan senyum, sedikit mensyukuri kakaknya sudah pergi. Bisa gawat kalau kakaknya tahu Ririn ke tempat Mukuro.

"Um,"

Setelah itu, mereka berpencar ke tempat tujuan masing-masing.

XXXXX

"Master, aku kembali," Fran berdiri di ambang pintu ruangan dari gedung yang sudah rusak sambil berjalan masuk ke dalam ruangan diikuti Ririn.

Di dalam ruangan itu Ken dan Chikusa sedang membaca komik, sedangkan Chrome bersender di jendela, menatap ke luar dan Mukuro menghampiri mereka.

"Kufufufu, akhirnya kau kembali juga, dan sepertinya kita kedatangan tamu yang tidak biasa, hm?" Mukuro menatap Ririn dengan senyum.

"Ririn mau main sama Mu-kun dan Fran, boleh?" tanya Ririn sambil sedikit memiringkan kepalanya yang membuatnya terlihat sangat imut.

Mukuro membatu untuk beberapa saat sebelum melompat ke arah Ririn dan memeluknya, beserta Rin yang sejak tadi dipeluk Ririn, membuat Rin langsung berontak karena terhimpit oleh pelukan Mukuro yang menyesakkan.

"Tentu saja boleh, Ririn-chan! Ah, kamu sekalian saja tinggal di sini, jadi adikku, abaikan saja si Skylark dan Kuda Jingkrak itu!" ucap Mukuro bersemangat dengan mata berbinar sambil memeluk Ririn dengan erat.

"Mu-Mukuro-sama, sepertinya Rin hampir pingsan!" ucap Chrome yang melihat kaki serigala mungil itu menendang dengan lemah dan lidah terjulur keluar.

"Oya? Maaf, sepertinya aku terlalu bersemangat," ucap Mukuro sambil melepaskan pelukannya dan menenagkan dirinya.

"Lain kali hati-hati, Master lolicon-pedo kepala nanas,"

JLEB

"Aduh," Fran berkata dengan nada datarnya begitu kata-katanya mendapat balasan tusukan trident di topi kodoknya.

"Kufufu, sudah lama tidak bertemu, mulutmu itu masih saja susah diatur ya," ucap Mukuro dengan senyum kesal.

Fran membuat wajah konyol ke arah Mukuro dengan ekspresi datar yang membuat Mukuro semakin kesal. Tidak lama kemudian adegan guru mengejar murid berwajah datarnya di ruangan itu pun terjadi.

"Ririn-chan, sepertinya mereka akan lama. Bagaimana kalau duduk dulu? Akan kubuatkan teh," tawar Chrome sambil menunjuk ke sofa kosong di sebelah sofa yang diduduki Ken dan Chikusa.

Ririn menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju sofa dan memperhatikan Chrome yang berjalan ke sebuah rak dan meja tua di sudut ruangan, berniat membuat teh, lalu melihat ke arah Fran dan Mukuro yang masih kejar-kejaran.

XXXXX

Lotti memperhatikan sekelilingnya. Dia baru pertama kali ke Namimori dan sebenarnya tidak tahu mau kemana atau melakukan apa. Dia menghela napas kesal mengingat kata-kata Fran dan Bel. Enak saja mereka, dia ingat kok jalan pulang, batinnya.

Lotti menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Ada tiga jalan bercabang di belakangnya. Tadi dia jalan dari arah mana ya?

Setelah terdiam selama beberapa saat Lotti kembali menghadap ke depan dan tidak menghiraukan jalan pulangnya. Dia bisa kembali kok. Mungkin.

Berusaha mengenyahkan pikirannya, kembali berjalan hingga sampai ke pusat perbelanjaan. Dia memperhatikan sekelilingnya yang cukup ramai dan mengerutkan dahinya. Dia tidak suka keramaian. Tapi dia juga sama sekali tidak punya tempat tujuan. Akhirnya, Lotti memilih berjalan di sisi jalan yang terlihat sepi. Sepintaas dia melihat-lihat toko-toko yang ada di sana. Toko daging, makanan manis, crepes, dessert, es krim. Lotti berhenti di hadapan es krim dan memeriksa dompetnya. Dia hanya bisa menggerutu di dalam hati karena Boss nya dengan seenaknya dan tanpa pemberitahuan membawanya ke Jepang, sehingga dia sama sekali tidak punya mata uang negara itu.

Lotti menyumpahi Boss nya di dalam hati yang menyebabkannya tidak bisa makan makanan manis kesukaannya yang sebenarnya tidak sesuai dengan imej cool beauty miliknya. Dia terlalu sibuk menyumpahi Boss nya, tidak menyadari sesosok pemuda mengamatinya dari kejauhan.

"Lho? Seragam itu bukannya milik Varia?" sang pemuda yang memakai topi dan membawa glove serta bola baseball mengamati Lotti yang masih berdiri di dekat stand es krim dan berjalan menghampirinya.

Lotti yang merasakan aura yang cukup kuat menghampirinya langsung mengayunkan tendangan secara spontan yang dihindari dengan mudah oleh sang pemuda.

"Siapa kamu?" Lotti menatap sang pemuda yang memberikan senyum menenangkan dengan tatapan tajam dan curiga.

"Tenang, aku hanya menyadari seragam milikmu seperti seragam milik kenalanku yang merupakan anggota Varia," ucap sang pemuda dengan senyum hangat.

Lotti menatap pemuda dihadapannya dengan pandangan yang semakin curiga dan mengamati pemuda itu dengan seksama. Menyadari perempuan di hadapannya mencurigainya, pemuda itu dengan cepat langsung memperkenalkan diri.

"Ah, maaf membuatmu curiga begitu. Perkenalkan, namaku Yamamoto Takeshi, Rain Guardian Vongola," ucap Yamamoto dengan senyum hangatnya sambil menunjukkan kalung Vongola Gear miliknya.

Melihat Vongola Gear milik Yamamoto, Lotti sedikit mengurangi kecurigaannya dan menatap Yamamoto dengan tatapan menilai. Yamamoto yang merasa sedikit canggung karena tidak mendapat respon dari Lotti melihat Cloud Ringdi tangan Lotti.

"Apakah kamu Cloud Guardian Varia?" Yamamoto berusaha mencairkan suasana dengan menunjuk cincin di tangan Lotti.

"Hn, namaku Charlotte," ucap Lotti setelah menilai bahwa pemuda di hadapannya tidak berbahaya.

"Hee, aku tidak menyangka Cloud Guardian Varia adalah seorang perempuan," ucap Yamamoto dengan nada kagum yang malah membuat Lotti mendelik ke arahnya karena merasa diremehkan.

"Ah, bukan maksudku meremehkan, tapi Varia kan sangat kuat, jadi aku tidak menyangka mereka akan menjadikan seorang perempuan sebagai Cloud Guardian mereka," ucap Yamamoto cepat, berusaha menghilangkan ketegangan di antara mereka yang sepertinya kurang berhasil.

Melihat Lotti yang sepertinya tidak senang dengan kata-katanya yang tidak disadarinya telah menyinggung, Yamamoto berusaha mencari akal agar gadis di hadapannya menjadi lebih tenang. Pandangannya lalu terarah pada stand es krim di sebelah mereka, lalu dia teringat bahwa gadis di hadapannya tadi terlihat berhenti di hadapan stand es krim itu.

"E-eh, maaf kalau aku sepertinya menyinggungmu. Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kutraktir es krim? Aku ingin berbicara denganmu tentang anggota Varia yang lain juga," ucap Yamamoto sambil berjalan ke arah penjual es krim dan langsung memesannya.

Lotti yang sejak tadi memang ingin memakan makanan manis tergiur oleh tawaran Yamamoto dan terlihat mendekati stand secara tidak rela, walaupun sebenarnya sangat ingin es krim itu. Melihat Lotti yang mendekatinya dengan kaku membuat Yamamoto tersenyum kecil dan menanyakan rasa yang diinginkan oleh gadis itu yang dijawab dengan suara kecil.

Sungguh, Lotti bersyukur dia tidak bersama dengan Bel atau Fran. Kalau ketahuan, pasti dia akan diejek habis-habisan sebagai tsundere pencinta makanan manis. Untunglah yang mengetahui dirinya suka makanan manis hanya Lussuria yang bertugas sebagai 'Mama' Varia.

"Ini silahkan," ucap Yamamoto sambil memberikan es krim strawberry pada Lotti.

"Te-terima…kasih," gumamnya pelan dengan pipi yang sedikit memerah, lalu menerima es krim itu.

'I-imutnya,' batin Yamamoto yang melihat reaksi Lotti dan tanpa sadar menatap gadis itu lama.

"A-apa?" Lotti menatap Yamamoto galak karena menatapnya terus.

"Ah, tidak. Kalau kamu tidak ada urusan, apa kamu mau ke rumahku? Rumahku restoran sushi," tawar Yamamoto spontan yang membuat Lotti menatapnya aneh dan curiga.

"Ma-maksudku, aku ingin mendengar keadaan Varia sekarang," ucap Yamamoto mencari alasan agar bisa bersama Lotti lebih lama.

"Hmm, baiklah, aku ikut denganmu," ucap Lotti setelah melihat es krim di tangannya.

Setidaknya, pemuda dihadapannya sudah mentraktirnya es krim. Lagi pula dia sama sekali tidak tahu harus kemana, dia sama sekali tidak mengetahui kota itu sedikitpun. Tidak ada salahnya mengikuti orang yang sudah mentraktirnya, lagipula dia cukup kuat. Kalau dia berniat buruk, Lotti yakin bisa mengalahkannya.

"Bagus!" Yamamoto tersenyum senang, lalu mulai berjalan sambil memakan es krimnya, yang segera disusul oleh Lotti.

"Ah, ngomong-ngomong soal yang tadi itu, maksudku memuji lho. Karena Varia hanya menerima anggota yang kuat, makanya, walaupun kamu perempuan, kamu pasti juga sangat kuat sampai bisa menjadi Cloud Guardian Varia," ucap Yamamoto sambil menunjukkan senyum cerahnya pada Lotti.

"Oh," gumam Lotti yang merasa canggung karena baru pertama kali dipuji seperti itu oleh laki-laki secara langsung dengan tulus.

Lupakan Lussuria yang setengah laki-laki. Orang yang benar-benar memujinya dengan tulus di hadapannya memang hanya empat orang, yaitu Lussuria, Miyuki, Rika dan Yamamoto. Dan, seperti yang sudah dikatakan tadi, Yamamoto merupakan laki-laki pertama yang memujinya dengan tulus, membuat Lotti tidak tahu harus merespon seperti apa.

Lotti menyembunyikan wajahnya yang terasa panas dan kecanggungannya dengan menundukkan kepalanya untuk memakan es krim di tangannya. Sayangnya mata Yamamoto yang memang bagus dapat melihat telinga dan pipinya sedikit memerah, membuat Yamamoto tersenyum.

Walaupun memiliki banyak fans perempuan dan sering mendapat pernyataan cinta, dari perempuan cantik, dari yang lebih tua sampai yang lebih muda, feminin dan manis sampai perempuan karismatik, baru kali ini dia benar-benar menganggap seorang perempuan itu imut dan manis.

Setelah itu dengan menggunakan Varia dan Squalo sebagai topiknya, Yamamoto berusaha mengajak Lotti berbicara walaupun sering dibalas dengan singkat dan cuek. Terlihat jelas kalau gadis itu tidak biasa berbicara hal-hal ringan, tapi Yamamoto menikmati ekspresi tenang gadis itu yang merupakan topeng saat berusaha menjawab pertanyaan Yamamoto dengan serius untuk menyembunyikannya.

Dan, saat itu juga, Yamamoto baru menyadari kalau tsundere itu sebenarnya sangat manis, terutama perempuan yang berjalan di sebelahnya.

XXXXX

"Aku pulang,"

"VOOII! Akhirnya datang juga!"

Begitu Yamamoto membuka pintu, Squalo langsung berdiri dari kursinya dan berteriak, menyebabkan semua orang di toko itu dengan segera menutup telinga mereka masing-masing.

"Squalo-san!" Yamamoto tersenyum lebar, terlihat terkejut mengetahui Squalo ada di rumahnya. "ah, yang lain juga ada di sini," ucap Yamamoto begitu melihat Bel, Mammon, Levi dan Miyuki.

"Maaf mengganggu," Miyuki sedikit menundukkan kepalanya dari tempatnya duduk.

"Ushishishi, Pangeran hanya mau makan sushi kualitas terbaik,"

"Muu, aku ikut karena ditraktir,"

"Aku hanya mengikuti mereka,"

Yamamoto tertawa mendengar respon mereka dan berjalan masuk ke dalam toko, diikuti Lotti.

"Lotti-chan," Miyuki tersenyum begitu melihat Lotti yang untungnya tidak tersesat, mengetahui buta arah parahnya.

"Aku melihatnya memakai seragam Varia dan Ring Cloud, jadi aku menyapanya," ucap Yamamoto sambil mempersilahkan Lotti masuk.

"Ushishishi, Pangeran kira Lotti-chan akan tersesat dan tidak bisa kembali, sayang sekali," ucap Bel dengan seringai khasnya sambil memasukan sushi ke mulutnya yang mendapat tatapan tajam dari Lotti.

"Hee, jadi biasanya kamu dipanggil Lotti-chan?" Yamamoto yang duduk di salah satu kursi.

Sebenarnya dia berniat membantu ayahnya, tapi ayahnya memberi isyarat agar dia menemani teman-temannya. Dia sungguh beruntung punya ayah yang pengertian.

"Nggak!" Lotti menyambar dengan cepat.

"Voi, aku sudah menunggumu, ayo duel denganku!" Squalo memotong pembicaran mereka yang langsung mendapatkan lemparan botol bumbu dari Mammon. "Apa yang kau lakukan!"

"Muu, hari sudah sore, bukankah sudah waktunya kita kembali ke tempat Rika-san?" ucap Mammon yang menunjuk ke arah jam di toko itu.

Sepertinya mereka memang sudah terlalu lama berada di toko sushi itu, tidak menyadari hari sudah semakin sore dan sudah hampir malam walaupun langit masih terang. Maklum, musim panas menyebabkan langit terang lebih lama.

Squalo akhirnya menjadi lebih tenang dan menuruti saran Mammon untuk kembali ke tempat Rika bersama yang lainnya. Yamamoto dan ayahnya menyiapkan bungkusan sushi untuk dibagikan pada anggota Varia lain yang tidak datang ke toko yang diterima dengan senang oleh Mammon yang memang senang menerima barang gratisan. Setelah itu, Varia, Miyuki dan Yamamoto berpisah di depan toko.

To be continue...

XXXXX

.

.

Omake

"Jadi, apa alasanmu, Miyu?" Hibari menatap adiknya dengan tatapan menghakimi yang dibalas Miyuki dengan pasrah.

"Aku kan sudah bilang, aku akan menjadi kuat sebelum kembali ke Namimori. Aku sudah berjanji denganmu. Aku tidak bisa menjadi kuat hanya dengan menjadi 'Yuki'. Kyo-nii juga tahu kan, perbedaan kekuatan 'Miyu' dan 'Yuki'? Untuk menjadi kuat dan menjadi anggota Vongola aku tidak bisa mengorbankan 'Yuki', karena 'Yuki' adalah sosok yang mirip seperti Rika-nee. Lembut tetapi tegas, juga baik. Sedangkan untuk bisa berdiri di tempat yang sama dengan Kyo-nii aku harus menjadi 'Miyu' yang kuat agar bisa terlibat di 'dunia ini'," Miyuki menjelaskan dengan tenang, tidak terlihat panik ataupun terintimidasi walaupun Hibari menatapnya dengan tajam.

"Aku tidak menyesal dengan keputusanku yang tidak membuang 'Miyu'. Baik 'Yuki' ataupun 'Miyu' keduanya adalah aku, Miyuki Hibari," ucapnya dengan tegas.

Hibari terdiam selama beberapa saat, lalu bahunya terlihat sedikit turun, terlihat lebih rileks, menandakan dia menerima jawaban dari Miyuki.

"Um, Kyo-nii?"

Hibari mengangkat pandangannya dan menatap Miyuki yang terlihat ragu.

"Apakah Kyo-nii lebih senang kalau aku menjadi Miyu? Karena, 'Miyu' bisa melawan Kyo-nii dan bisa bertarung dengan baik," ucap Miyuki lemah.

Hibari menghela napas, membuat tubuh Miyuki menjadi kaku dan gadis itu menundukkan kepalanya.

"Siapa nama adikku?"

Miyuki mengangkat pandangannya dan menatap Hibari dengan bingung dan aneh.

"Hibari…Miyuki?" jawab Miyuki ragu.

"Jadi, apa hal itu masih perlu ditanyakan?" bibir Hibari terangkat sedikit, begitu juga dengan sebelah tangannya yang mengelus kepala Miyuki ringan.

Miyuki berusaha mencerna kata-kata kakaknya walaupun Hibari sudah berdiri dan berjalan menuju pintu. Tiba-tiba gadis itu berdiri dengan cepat dan memeluk Hibari dari belakang dengan sekuat tenaga.

Apa hal itu masih perlu ditanyakan?

Miyuki tersenyum sambil membenamkan kepalanya ke punggung kakaknya itu. Tentu saja hal itu tidak perlu ditanyakan lagi. Baik 'Miyu' maupun 'Yuki' adalah adiknya. Hibari Miyuki adalah adik dari Hibari Kyoya. Satu-satunya. Tidak masalah dirinya adalah 'Miyu' ataupun 'Yuki', dirinya adalah Miyuki.

"Aku sayang Kyo-nii!" ucap Miyuki dengan nada riang sebelum melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Hibari.

Hibari tidak membalas perkataan Miyuki, hanya tersenyum kecil sambil kembali mengelus kepala adik satu-satunya itu sebelum kembali ke kamarnya.

XXXXX

Maaf sudah lama tidak update, semoga fanfict ini tidak terlantar lagi.

Maaf juga untuk para reviewers karena tidak sempat membalas review kalian. Terima kasih sudah menunggu update sampai selama ini.be continue...

sa membicarakan hal ini di dekat Ririn. Setidaknya sebelum gadis itu sendiri yang berbicara tenang