Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

Nurul1971: Iyaa, makasih ya semangatnya :) udah lama updatenya ngaret banget, semoga kedepannya bisa tepat waktu nih!

Cocoa2795: Hahaha, iya nggak enak sama Yamamoto jadi jones sendiri nggak ada gebetan :( makanya muncul Lotti yang 100% tsundere cantik tapi imut~

Yukishiro Seiran: Iya dong, Sacchan nggak akan tega melupakan Ririn dan Miyuki yang sudah dibuat sepanjang lebih dari 30 chapter~ jadi penjelasannya: Ririn jalan disamping Bel dan Bel gendong Mammon dengan tinggi yang masih bisa dijangkau Ririn. Jadi, sambil jalan sebelah tangan Ririn mainin si Fantasma. Sacchan akan berusaha mengupdate rutin klo bisa, makasiih ya semangatnya!

Yuuki: Iya nih muncul pairing baru biar si Yamamoto nggak jadi jones. Makasih semangatnya yaa!

Michan: Haii, maaf ya baru kali ini bisa bales review kamu. Tenang aja Sacchan mungkin bakalan ngaret updatenya tapi nggak bakalan ninggalin si Ririn sama Miyuki ngegantung gitu dan emang udah beberapa plot dipercepet biar cepet tamat nih cerita, tapi sepertinya masih bisa up sampe ch 40 an lebih nih -.- maklumi ya. Amin benget, makasih doanya nihh! Emang kendala waktu dan tugas yang banyak bikin ide-ide yang berseliweran di kepala nggak dapet kesempatan ditulis. Makasih Michan!

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Summer Festival

.

.

.

Miyuki menatap pantulan dirinya di cermin dan menyentuhnya. Pikirannnya dipenuhi oleh guru jadi-jadian yang merupakan Boss salah satu mafia terbesar. Tanpa sadar tatapannya menjadi sedih mengingat sikapnya pada Dino sebelumnya. Sejujurnya, dia merasa tidak enak, merasa bersalah dan merasa tidak nyaman memperlakukan Dino seperti itu. Tapi, itu harus. Kalau dia terlalu membiarkan Dino baik padanya dan membiarkan dirinya terlena, malah akan semakin menyakiti dirinya sendiri pada akhirnya. Dino sudah punya kekasih.

Miyuki mengingat wanita yang berada di hotel bersama Dino sebelumnya. Begitu dewasa, cantik, anggun dan menawan. Wanita dewasa, cocok dengan Dino yang dewasa dan gentleman. Tanpa sadar tangannya bergerak ke arah dada dan meremas baju yang dipakainya. Dia sama sekali tidak menyadari Ririn memperhatikannya sejak tadi.

Ririn menatap Miyuki, lalu cerminnya yang memantulkan Kakaknya yang memasang ekspresi tidak jauh berbeda dari Miyuki. Dia memang anak yang miskin emosi dan ekspresi, tapi bukan berarti dia tidak menyadari apapun. Ririn sadar kalau Kakaknya dan Miyuki sedang 'bertengkar' karena hubungan mereka sekarang 'tidak baik'. Walaupun tidak mengerti secara jelas, Ririn tidak mau Kakaknya dan Miyuki murung dan sedih seperti itu, tapi dia sama sekali tidak tahu caranya.

Diam-diam Ririn pergi ke laboratoriumnya, berusaha mencari sesuatu yang mungkin bsia membantu Kakaknya dan Miyuki ceria kembali. Miyuki yang tersadar dari lamunannya menolehkan kepalanya ke arah tempat tidur sambil tersenyum, mengira Ririn ada di sana, yang ternyata tanpa di sadarinya sudah tidak ada.

Miyuki menghela napas dan duduk di meja belajarnya, mengambil tas sekolahnya dan berniat mengambil 'barang bukti' yang siang tadi ditunjukkannya ketika menyadari ada benda asing di dalam tasnya, yaitu sebuah buku catatan kecil dengan logo Cavallone. Miyuki merasakan napasnya berhenti untuk sesaat saat mengingat buku catatan itu adalah milik Dino yang siang tadi tidak sengaja terbawa olehnya.

Miyuki terdiam selama beberapa saat, memikirkan bagaimana cara mengembalikan buku catatan itu. Dia berpikir untuk memberikannya pada Romario besok ketika dia membuka halaman pertama yang tertulis 'Catatan Penting'.

Miyuki menjadi khawatir kalau buku di tangannya dibutuhkan oleh Dino sesegera mungkin mengingat pekerjaannya sebagai Boss mafia seringkali tidak mengenal waktu dan bisa saja dia membutuhkan buku itu malam ini juga. Dia menatap ke arah jam ragu, menunjukkan pukul sebelas lewat. Antara ragu dan merasa tidak enak karena buku catatan itu terbawa adalah kesalahannya, Miyuki akhirnya memutuskan untuk pergi ke hotel tempat Dino menginap.

"Aku akan menitipkannya pada Romario lalu langsung pergi," gumamnya meyakinkan diri.

Dengan cepat Miyuki mengganti bajunya dan menuliskan catatan pada Ririn kalau dirinya akan keluar sebentar dan untuk tidak memberitahukannya pada Hibari. Bisa gawat kalau kakaknya tahu dia keluar tengah malam begini.

XXXXX

Miyuki menghela napas panjang dan menguatkan tekadnya untuk masuk ke hotel di hadapannya. Dia berjalan menuju resepsionis dan berhasil mendapatkan kamar yang digunakan oleh Dino dengan sedikit tipuan. Maklum, hotel berbintang dengan pengamanan ketat tidak akan dengan mudah memberi tahu tempat pengunjungnya menginap. Seperti biasa, ternyata Cavallone menyewa satu lantai teratas hotel itu. (Bukan satu kamar, satu lantai).

Miyuki masuk ke dalam lift dan berusaha menghilangkan rasa gugupnya dengan memeluk buku catatan di tangannya erat. Dia berharap bisa bertemu dengan Romario dan segera memberikan buku catatan itu. Begitu lift berhenti dan membuka, Miyuki melangkahkan kakinya keluar dan langsung berpapasan dengan Romario.

"Romario-san," Miyuki menyapa dengan senyum lega di wajahnya.

"Miyuki-san?" Romario menatap Miyuki dengan pandangan kaget dan heran.

"Selamat malam, Romario-san. Aku kesini mau mengembalikan buku catatan milik Ca-Dino-san yang tidak sengaja terbawa olehku tadi siang," ucap Miyuki sambil menunjukkan buku catatan di tangannya.

"Ah, buku itu! Boss sudah mencarinya sejak tadi," ucap Romario dengan tatapan terkejut.

"Eh, ternyata memang buku penting ya. Kalau begitu, aku-," Miyuki belum menyelesaikan kata-katanya ketika Romario memotong pembicaraannya.

"Maaf, Miyuki-san, apakah saya bisa minta tolong untuk anda mengantarkan buku itu pada Boss? Saya sedang ada urusan dan kelihatannya Boss membutuhkan buku itu," ucap Romario sambil menunjukkan amplop cokelat yang isinya berkas pekerjaan yang dipegangnya.

"Eh? Aku tidak enak mengganggunya malam-malam begini," ucap Miyuki, berusaha mengelak.

"Tenang saja, Boss sedang beristirahat, pekerjaannya sudah selesai. Anda langsung saja masuk ke dalam, tidak apa-apa," ucap Romario. "kalau begitu saya minta tolong pada anda, Miyuki-san. Saya sudah ditunggu oleh orang," ucap Romario sambil memberikan kartu akses menuju kamar Dino lalu berjalan masuk ke dalam lift dengan cepat sebelum Miyuki sempat menjawabnya.

"EH? Bagaimana ini," Miyuki menggumam dengan bingung sambil menatap kartu di tangannya.

Dia tidak mau bertemu Dino. Dia ingin kembali ke rumahnya, tapi mengingat kata-kata Romario kalau Dino sudah mencari buku yang dipegangnya sejak siang membuatnya merasa bersalah. Dia menguatkan tekad dan masuk ke dalam kamar Dino. Dia mengetuk pintu beberapa kali sebelum membuka pintu kamar Dino pelan.

"Permisi, maaf mengganggu," ucap Miyuki sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.

Miyuki masuk ke sebuah ruangan yang memiliki meja dan kursi kerja di pinggir ruangan, lalu sofa dan meja rendah di tengah-tengah ruangan. Miyuki menaikkan kedua alisnya bingung melihat betapa berantakannya ruangan itu dengan kertas berserakan di sekitar meja kerja dan beberapa yang berserakan di sekeliling lantai.

Miyuki lalu memperhatikan meja dan sofa ditengah ruangan, dimana Dino terlihat bersender di sofa dengan wajah di telungkupkan pada lengan. Di hadapnnya berserakan botol wine yang cukup banyak dan gelas.

Dino terlihat sangat berantakan. Beberapa gumpalan kertas dan makanan ringan juga berserakan di sekitar sofa dan mejanya. Dia hanya memakai kemeja putih yang sudah berantakan dan kancingnya sedikit terbuka, juga celana bahan. Kelihatannya Dino baru selesai menghadiri rapat atau bertemu klien.

Miyuki memperhatikan Dino dengan sedih dan penasaran. Dia tidak pernah melihat Dino sekacau itu sebelumnya. Merasa penasaran, Miyuki melangkah perlahan mendekati Dino.

"Um, Cavallone-san?" panggil Miyuki pelan sambil melangkah mendekati Dino.

"Cavallone-san?"

Miyuki berdiri di samping Dino yang tidak bergerak. Dahinya mengernyit mencium bau alkohol yang cukup menyengat. Dia memperhatikan Dino yang sepertinya tertidur dan menghela napas lega. Jujur saja, dia tidak ingin berdua dengan Dino ataupun berbicara dengannya. Dia meletakkan buku catatan Dino di atas meja dan berniat kembali ketika Dino sedikit bergerak dari tidurnya.

Perhatian Miyuki kembali terfokus kepada Dino. Dia memperhatikan Dino yang sepertinya terlelap dengan seksama. Melihat kekacauan di tempat itu, Miyuki mengira-ngira hal apa yang bisa membuat Dino sampai seperti itu. Miyuki sedikit menundukkan badannya dan tangannya terarah ke sisi wajah Dino, berniat menyentuh rambutnya dan melihat ekspresi tidur Dino.

Miyuki terkejut ketika pergelangan tangannya yang belum menyentuh Dino digenggam oleh Dino. Kepala Dino terangkat dan memperlihatkan wajahnya yang berantakan dan menatap Miyuki dengan tajam, membuat jantung Miyuki seakan berhenti berdetak.

"Cavallone-san?" Miyuki memanggil Dino dengan suara pelan.

Tiba-tiba ekspresi dan tatapan Dino menjadi dingin, membuat Miyuki merinding dan seluruh tubuhnya terasa dingin. Dalam sekejap Dino menarik Miyuki hingga berbaring di sofa dan menindih kakinya, lalu menahan tangan Miyuki, membuat gadis itu tidak bisa bergerak.

Miyuki membuka matanya perlahan dan melilhat Dino yang menatap dirinya dengan tatapan yang membuat Miyuki takut. Ekspresi dan tatapan mata yang tidak pernah dilihat oleh Miyuki sebelumnya. Dino sedang tidak sadar, Miyuki tahu. Miyuki berusaha melepaskan diri dari Dino yang sayangnya tidak membuahkan hasil. Tenaga Dino jauh lebih kuat dan besar darinya.

"Cavallone-san, sadarlah! Kamu sedang mabuk!" ucap Miyuki, berusaha menyadarkan Dino yang tidak mendengarkan kata-katanya.

Dino menundukkan kepalanya, satu tangannya menahan kedua tangan Miyuki di atas kepalanya, sedangkan satunya membuka tiga kancing teratas kemeja Miyuki, membuat Miyuki semakin memberontak. Perasaan takut karena Dino yang berada di hadapannya bukan pria yang dikenalnya membuatnya semakin panik.

"Cavallone-san, sadarlah!" Miyuki masih berusaha agar Dino tersadar dari pengaruh alkohol yang sayangnya tidak mempan.

Dino menundukkan kepalanya dan menempelkan bibirnya di leher Miyuki, membuat gadis itu merinding. Miyuki kehilangan suaranya dan menahan napas saat bibir Dino berpindah ke bahunya dan mencium sekaligus menghisapnya, membuat bekas di tubuh gadis itu.

Jantung Miyuki berdebar dengan kencang dan keringat dingin mulai membasahi dirinya yang semakin panik. Takut. Dia tidak kenal Dino yang di depannya. Matanya terpejam erat, berusaha melepaskan diri dari Dino dengan sekuat tenaga. Dino sama sekali tidak bergeming dan malah mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Miyuki.

"Il mio amore," Dino menggumam di leher Miyuki yang membuat gadis itu membuka matanya.

Il mio amore, my love. Siapa?

Miyuki mengingat wanita cantik dan dewasa yang bersama dengan Dino di hotel sebelumnya. Hatinya terasa sakit dan pedih. Apakah Dino salah menganggap bahwa dirinya adalah wanita itu?

"..henti," Miyuki menggumam dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"BERHENTI! Aku bukan wanita itu, jangan jadikan aku sebagai penggantinya! DINO!" Miyuki berteriak sekuat tenaga, membuat gerakan Dino berhenti mendengar namanya dipanggil.

Dino seakan tersadar saat mendengar namanya dipanggil. Kepalanya terangkat secara perlahan. Matanya membulat kaget dan berbubah menjadi pucat saat melihat apa yang telah dilakukannya. Jantungnya seakan berhenti berdetak, napasnya terasa sesak, dan seperti ada sesuatu di perutnya yang membuatnya terasa mual.

Wajah Miyuki terlihat merah, mungkin karena baru saja berteriak sekuat tenaga. Matanya yang terlihat memerah dan berkaca-kaca menatapnya dengan tatapan sedih dan kecewa.

Dino merasakan kepalanya seperti dihantam oleh palu sesaat kemudian, kemungkinan besar akibat pengaruh dari alkohol yang terlalu banyak diminumnya. Tangannya yang tadinya memegang erat pergelangan tangan Miyuki langsung terangkat, memegang kepalanya dengan kedua tangan, berusaha menahan rasa sakit yang amat sangat.

Miyuki melihat hal ini sebagai kesempatan dan mendorong Dino yang kondisinya masih berada di bawah pengaruh alkohol kencang hingga terjatuh di lantai, lalu dengan cepat meloncat dari sofa dan lari ke arah jendela di sebelah meja kerja Dino.

"Tung- Yuki!" Dino yang masih berlutut di lantai berusaha memanggil Miyuki dan mengejarnya, tapi sayangnya sakit di kepalanya membuatnya tidak bisa bergerak.

Miyuki tidak menghiraukan Dino dan membuka paksa jendela itu, lalu menoleh ke arah Dino untuk terakhir kalinya sebelum melompat dari jendela. Dino hanya bisa menatap kepergian Miyuki dengan rasa bersalah.

Sesaat sebelum Miyuki melompat ke luar, Dino melihatnya. Ekspresi dan tatapan yang memancarkan luka. Kenapa? Kenapa Miyuki berada di kamarnya di jam segini? Dino berusaha menyenderkan punggungnya di meja di belakangnya ketika melihat buku catatan kecilnya.

"Aaargh!" Dino melempar beberapa botol wine ke sembarang arah hingga pecah, lalu menarik rambutnya kencang.

Kenapa gadis itu harus datang disaat dirinya sedang tidak sadar? Kenapa dia melakukan hal seperti itu pada Miyuki?

Dino menyalahkan dirinya sendiri yang sudah melakukuan hal itu pada Miyuki. Dia yakin Miyuki pasti akan membencinya setelah ini dan menjauhinya. Dia hanya bisa membenturkan kepalanya ke meja, berusaha menghilangkan sosok Miyuki dengan ekspresi dan tatapan yang terluka. Semakin lama, dia merasakan pandangannya semakin mengabur dan tenaganya hilang sebelum pandangannya menjadi gelap sepenuhnya.

XXXXX

Sudah hampir seminggu sejak libur musim panas dimulai. Berbagai macam kegiatan dilakukan oleh para anggota Vongola muda di Namimori. Dari Tsuna yang berkencan dengan Kyoko, Gokudera yang berkencan dengan Haru, Ryohei yang ternyata cukup peka untuk mengajak Hana berkencan, Yamamoto yang modus ke rumah Rika untuk mendekati Lotti, Chrome dan Mukuro yang sering menemani Ririn bermain dengan Fran, Lambo yang seperti biasa bermain dengan I-pin hingga Hibari yang dengan rajinnya mengelilingi kota Namimori di tengah teriknya matahari. Oke, untuk Hibari itu hanyalah rutinitasnya yang biasa.

Tsuna sedang berbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit kamar. Sebenarnya, dia ingin sedikit mendiskusikan masalah organisasi dengan Dino, tapi melihat penampilan dan aura dari Dino saat bertemu di taman kemarin, dia tahu itu bukan saat yang tepat.

Laki-laki itu terlihat murung dan lesu, bahkan senyumnya terlihat hampa dan dipaksakan. Tsuna yang menyapanya jadi tidak bisa mengatakan masalah itu dan memilih obrolan ringan. Dia mengira-ngira apa yang membuat Dino semurung itu.

DUAK

"Aduh, Reborn!"

Tsuna yang tadi berbaring langsung mengubah posisinya menjadi duduk saat wajahnya diinjak oleh seorang batita berpakaian yukata sambil membawa kipas.

"Dame-Tsuna, apa yang kau lakukan menghela napas sendirian di dalam kamar seperti itu. Sekarang sedang liburan musim panas," ucap Reborn sambil melemparkan sebuah selembaran ke muka Tsuna.

"Festival musim panas?"

Tsuna membaca kertas itu yang merupakan pengumuman tentang festival musim panas yang akan diadakan dua hari lagi.

"Ajak seluruh Guardian, Varia, Dino dan yang lainnya termasuk Rika," ucap Reborn sambil melompat ke tepi jendela. "kuberi waktu dua hari. Kalau kau tidak berhasil mengajak semuanya, akan kubuat latihanmu bertambah berat di liburan musim panas kali ini," ucap Rebor sambil melompat kleuar jendela.

Tsuna hanya bisa menghela napas pasrah mendengar perkataan Reborn. Bisa-bisanya dia menyuruhnya seperti itu, pasti dia punya rencana aneh. Yah, bukan Reborn namanya kalau tidak punya rencana aneh.

Tsuna lalu menatap selembaran di tangannya. Mengajak seluruh anggota Guardian dan teman-temannya tentu tidak akan sulit. Hibari pasti akan datang ke festival untuk menagih 'jatah keamanan' dan memeriksa kelancaran festival seperti tahun-tahun sebelumnya. Ibunya sering membuatkan makanan untuk Mist Guardiannya, dan walaupun Mukuro tidak menyukai mafia, dia sepertinya cukup menghormati Nana karena wanita itu tidak pernah telribat dalam urusan mafia. Mengingat kedekatan Chrome dengan Kyoko, Haru, Hana, Ririn dan Miyuki, Tsuna cukup yakin Chrome bersedia datang, dan kalau Chrome datang pasti Mukuro akan ikut bersamanya. Oke, teman-temannya bisa dipastikan akan datang.

Selanjutnya anggota Varia. Mengingat Lussuria dan Bel yang suka keramaian dan festival, mereka mungkin bisa meyakinkan anggota lainnya untuk ikut, kecuali Xanxus. Untuk Xanxus, kalau Rika datang pasti laki-laki itu juga akan datang walaupun tidak ingin, melihat sikapnya terhadap Rika beberapa hari yang lalu. Rika mungkin bisa datang ke festival mengingat fisiknya sudah semakin membaik.

Terakhir, Dino. Tsuna kembali memikirkan sosok 'Kakak' seperguruannya itu. Melihat kondisinya yang lesu akhir-akhir ini, apakah Dino mau ikut? Ah, sepertinya dia harus menyiapkan rencana untuk membuat Dino ikut.

XXXXX

"Festival musim panas?"

Rika meletakkan bor listrik yang di pegangnya dan mendongak menatap Tsuna yang duduk di sofa. Tsuna yang sejak datang masih tidak percaya melihat dua gadis berperangai lembut, Rika dan Miyuki, duduk di atas karpet ruang tengah dengan senjata di tangan mereka dan berbagai macam perkakas serta alat pertukangan di sekitar mereka.

Berbagai macam barang yang sangat tidak cocok dengan perangai lembut mereka bertebaran di sekitar mereka. Andaikan Tsuna tahu reaksi anggota Varia yang lain, terutama Squalo saat melihat Rika berada di ruang kerjanya yang di dominasi oleh senjata, alat perkakas dan alat pertukangan.

"Iya, acaranya dua hari lagi," ucap Tsuna berusaha bersikap tenang.

"Ushishi, kedengarannya menarik," ucap Bel yang memperhatikan pisaunya yang diperbaiki Miyuki.

"Kedengarannya menyenangkan, aku akan mengajak yang lain," ucap Lussuria yang tadinya berada di dapur terlihat bersama Reiko.

Fran dan Ririn sedang bermain, seperti biasa di halaman rumah Rika dengan para animal weapon dan ilusi dari Fran, Squalo berlatih pedang dengan Yamamoto, Lotti entah bagaimana berhasil ditarik ikut oleh Yamamoto. Xanxus hanya duduk di sofa sambil mengamati Rika, sednagkan Levi berdiri di belakangnya seperti penjaga.

"Wah, aku tidak pernah pergi ke festival sebelumnya," ucap Rika dengan riang sambil menatap Xanxus yang duduk di sofa.

Gotcha, batin Tsuna dalam hati sambil tersenyum. Melihat reaksi Rika, Xanxus pasti akan ikut ke festival untuk menemani gadis itu. Dan, kalau Xanxus pergi, pasti anak buahnya yang lainkan ikut.

"Eh, tapi apakah kondisi Rika-nee sudah tidak apa-apa?" Miyuki menatap Rika dengan pandangan khawatir.

"Tenang saja, kalau aku mulai merasa lelah, aku akan segera istirahat," Rika tersenyum pada Miyuki, membuat gadis yang lebih muda darinya itu ikut tersenyum.

Tsuna menghela napas lega. Sepertinya untuk anggota Varia yang lain dia bisa menyerahkannya pada Lussuria yang kelihatan bersemangat dan langsung membicarakannya dengan Reiko di dapur.

Tadi dia sudah menelpon teman-temannya dan mereka dengan senang hati akan datang. Untuk Chrome dan Mukuro tadi dia sudah menelpon kedua Mist Guardian nya, tapi Mukuro langsung menolaknya walaupun Chrome terdengar tertarik.

"Um, Yuki-chan, boleh aku minta tolong padamu?" Tsuna menatap Miyuki yang sedang mengamati pisau yang baru diperbaikinya.

"Ya?"

"Aku ingin kamu mengajak Hibari-san dan Mukuro serta Chrome untuk datang ke festival. Aku sudah mencoba mengajak Mukuro, tapi dia menolaknya, sedangkan aku tidak bisa menghubungi Hibari," ucap Tsuna.

"Mungkin Kyo-nii sedang sibuk mengawasi persiapan festival. Baiklah, aku akan mengajak mereka," ucap Miyuki sambil tersenyum, membuat Tsuna menghela napas lega.

Sekarang yang menjadi masalah adalah Dino.

XXXXX

"Halo?"

"Dino-san, selamat sore. Apa kamu sedang sibuk?"

"Ah, Tsuna, tidak juga. Ada apa?"

"Eh, aku ingin mengundang Dino-san untuk ikut festival musim panas dua hari lagi,"

"Festival musim panas?"

"Ya, Reborn menyuruhku mengajak semuanya untuk ikut ke festival," ucap Tsuna.

Dino terdiam agak lama, membuat Tsuna sedikit khawatir, mengingat kondisi Dino sebelumnya.

"Lebih baik Boss ikut untuk melepaskan stres. Sudah beberapa hari ini Boss selalu sibuk bekerja," samar-samar terdengar suara Romario dari telpon.

Tsuna diam mendengarkan Dino dan Romario yang berdebat kecil hingga akhirnya Dino menghela napas.

"Baiklah, aku akan ikut," ucap Dino akhirnya yang membuat Tsuna menghela napas lega.

"Baiklah, terima kasih, Dino-san," ucap Tsuna sebelum menutup sambungan teleponnya.

XXXXX

Ririn menatap Dino yang sedang menatap ke luar jendela hotel. Kakaknya itu terlihat lemas dan tidak bertenaga, tidak seperti biasanya yang ceria dan selalu tersenyum. Hari itu, Ririn dan Dino memang janji makan siang bersama di hotel.

Ririn yang bingung karena Kakaknya murung menatap Romario yang berdiri tidak jauh dari mereka. Romario hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum tidak tahu. Ririn mengelus Rin yang ada di pangkuannya, diam-diam dia selundupkan ke dalam hotel, seakan meminta saran dari partner kecilnya.

Ririn kembali mengingat Miyuki yang beberapa hari terakhir juga terlihat murung. Walaupun selalu pergi ke tempat Rika dengan senyum, senyumnya terlihat palsu dan dipaksakan. Ririn mau kakaknya tersenyum seperti biasa, tapi dia tidak tahu harus melakukan apa.

Ririn juga menyadari kalau kakaknya dan Miyuki hampir tidak pernah berbicara selama beberapa minggu terakhir. Menjadi anak yang kurang mengerti sosialisasi dan terkurung selama bertahun-tahun membuat Ririn tidak mengerti bagaimana membuat kedua orang yang penting untuknya itu bisa tersenyum seperti biasanya.

Selesai mereka makan siang pun, Dino langsung kembali ke kamarnya untuk mengurus pekerjaan. Romario hanya tersenyum maklum pada Ririn. Saat Romario menawarkan untuk mengantarkan gadis itu kembali ke rumah Hibari, Ririn menolaknya dan memilih untuk berjalan keliling kota sendirian yang membuat Romario cemas, tetapi tidak bisa berbuat banyak karena dia memang memilih untuk mengawasi kondisi Boss nya yang sedang tidak baik.

Ririn akhirnya berjalan ke arah taman yang sepi, bermain di kotak pasir bersama Rin, seperti anak kecil. Dia menggambar Kakaknya dan Miyuki yang terlihat sedih dan menggambar wajah bahagia mereka di sebelahnya.

"Chibi-herbivore,"

Ririn merasakan ada sosok di belakangnya yang menghalangi sinar matahari dan mendongak, melihat Hibari yang mungkin sedang patroli keliling kota.

"Vampire-san,"

"Apa yang kamu lakukan di sini?" Hibari melihat ke arah gambar yang dibuat Ririn dan mengerutkan dahi melihat gambar abstrak itu.

"Main pasir," jawabnya singkat.

Hibari mengangkat alisnya kesal, lalu menarik napas menenangkan diri. Dia mulai terbiasa menghadapi bocah di depannya. Dia lalu mengingat percakapan Miyuki kalau Ririn seharusnya makan siang bersama Dino. Hari memang sudah sore, berarti dia baru selesai dari tempat Dino, asumsi Hibari.

"Chibi-herbivore, kau tidak boleh berkeliaran sendirian,"

"Ririn sama Rin kok, nggak sendiri," ucap Ririn sambil memeluk Rin yang tadi sibuk bermain pasir.

"Manusia!" desis Hibari kesal, lalu menarik napas untuk menenangkan diri lagi.

Chibi-herbivore, kuantar ke tempat Yuki," ucap Hibari sambil menarik gadis itu agar berdiri dari kotak pasir.

Berada di dalam kotak pasir bersama Rin dengan penampilan seperti itu membuatnya persis seperti bocah. Tidak ada bedanya dengan anak-anak, pikir Hibari.

"Tidak mau," ucap Ririn sambil membersihkan pasir yang menempel di tubuhnya.

Hibari menatap Ririn dengan heran, tumben-tumbennya dia tidak mau bersama Miyuki?

"Nee-chan sedang sedih. Kakak juga," ucap Ririn saat melihat tatapan Hibari.

Hibari menghela napas ketika melihat gadis kecil itu menundukkan kepalanya. Dia sadar beberapa hari ini senyum Miyuki terlihat dipaksakan dan dia terlihat tidak bersemangat. Dino juga tidak berlatih dengan serius melawannya. Hibari menghela napas dan mengelus kepala Ririn pelan, lalu membalikkan badannya.

"Kalau begitu, ikut aku," ucap Hibari sambil mulai berjalan melanjutkan patrolinya, diikuti Ririn dan Rin

XXXXX

"Wah, ramai sekali," ucap Lussuria saat berdiri di depan gerbang, melihat keramaian festival.

Seluruh anggota Varia memakai pakaian kasual karena paksaan dan permohonan dari Tsuna. Dia tidak mau mereka berjalan-jalan di tengah kerumunan dengan pakaian mencolok begitu. Tidak pakai seragam Varia saja sudah mencolok.

Saat ini seluruh anggota Varia termasuk Xanxus, juga anggota Guardian dan Dino, kecuali Hibari, sedang menunggu para perempuan Vongola. Sore tadi, tiba-tiba saja Bianchi, Hana, Haru, Kyoko, Chrome, Miyuki dan Ririn datang ke rumah Rika dan mengusir seluruh anggota Varia, kecuali Lotti.

Xanxus yang awalnya protes langsung menurut begitu diyakinkan oleh Rika. Untuk Mukuro, tiba-tiba saja Miyuki dan Ririn muncul di Kokuyo dan membawa paksa Chrome. Mau tidak mau dia datang ke festival bersama Ken dan Chikusa.

"VOI, lama sekali cewek-cewek itu!" Squalo berseru kesal sambil melihat ke arah jam tangannya, membuat Tsuna mulai berkeringat dingin.

Pasalnya, menunggu bersama anggota Varia ditambah Mukuro membuat Tsuna merasa tidak nyaman dengan aura intimidasi yang mereka keluarkan. Ditambah lagi dengan banyaknya tatapan yang dia terima dari orang-orang yang mayoritasnya perempuan.

"Eh, mereka keren banget deh,"

"Coba ajakin bareng,"

"Yang ada lukanya keren banget, deh,"

Tsuna tertawa garing di dalam hati saat salah satu perempuan lewat berkomentar yang dimaksudkan pada Xanxus.

"Maa, maa, namanya juga perempuan," ucap Yamamoto sambil menepuk bahu Squalo yang segera dihalau oleh yang bersangkutan.

"Ah, itu mereka datang," Fran menunjukkan ke sekelompok perempuan yang berjalan ke arah mereka.

Haru memakai yukata berwarna kuning cerah, Kyoko pink, Bianchi merah, Chrome violet, Hana coklat, Miyuki hitam, Lotti biru gelap, Rika putih dan Ririn biru pudar.

"Maaf lama," ucap Rika sambil tersenyum dan berjalan ke arah Xanxus yang hanya diam.

Rambut cokelatnya yang biasanya dibiarkan tergerai digelung dan ditusuk dengan jepitt rambut panjang, membuatnya terlihat makin anggun dan cantik.

"Kyaa~, cantiknya!" Lussuria dengan cepat memekik saat melihat mereka.

"Mukuro-san, lihat," Miyuki menarik Chrome ke hadapan Mukuro membuat wajah sang Mist Guardian memerah untuk sesaat walaupun tidak terlihat di tempat yang minim cahaya itu.

Rambut Chrome yang biasanya diikat menyerupai nanas dibuat tergerai hingga sebahu dan diikat setengah dengan hairclip.

"Mukuro-sama?" Chrome menatap ragu Mukuro yang terdiam sambil menatapnya.

"Kufufufu, kerja bagus," ucap Mukuro sambil mengacungkan jempolnya pada Miyuki dan melingkarkan tangannya ke bahu Chrome. "kalau begitu kami mau jalan-jalan berdua dulu," ucap Mukuro sambil menarik Chrome ke dalam keramaian festival meninggalkan Ken dan Chikusa.

Tsuna sendiri sudah sibuk memperhatikan Kyoko yang terlihat cantik dalam balutan yukata pink nya.

"Kamu terlihat cantik, Kyoko-chan," ucap Tsuna dengan senyumnya.

"Terima kasih, Tsuna-kun," balas Kyoko.

Haru mendekati Gokudera dalam diam. Walaupun dia ingin Gokudera memuji penampilannya, tapi dia tidak berani berharap banyak. Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, Gokudera tidak pernah sekalipun memuji penampilan Haru yang saat SMP menjadi juara satu dalam kontes kecantikan sekolahnya.

"Ayo," Gokudera langsung membalikkan badannya dan berjalan membuat Haru mengikutinya.

Tidak disangka oleh Haru, saat mereka di tengah keramaian, Gokudera menggandeng tangannya.

"Yukata itu cocok denganmu," ucap Gokudera tanpa menoleh pada Haru, membuat gadis itu langsung menolehkan kepalanya sambil tersenyum.

"Hahi, terima kasih, Hayato!" ucap Haru sambil memeluk lengan Gokudera, membuat laki-laki berdarah Italia itu tersenyum sambil mengelus kepala Haru pelan.

"Lotti terlihat manis," ucap Fran

"Ushishishi,"

"Kyaa, Lotti cantik deh," ucap Lussuria sambil memeluk Lotti yang segera melepaskan diri.

"Diam kalian!" ucapnya dengan nada tegas sambil berusaha agar wajahnya tidak memerah.

Yamamoto masih diam menatap Lotti yang terlihat cantik. Yukata birunya sangat cocok dengan mata dan rambutnya yang berwarna biru. Rambut panjangnya yang lurus dibiarkan tergerai, hanya dihiasi dua buah jepit rambut bermotif tetesan air yang elegan, membuatnya seperti peri.

"Takeshi?" Lotti menatap Yamamoto yang menatapnya tanpa berkedip dengan heran.

"Eh, iya, kenapa?" Yamamoto yang tersadar dari lamunannya.

"Kau melamun," ucap Lotti dengan dahi berkerut.

"Ah, iya maaf,"

"Nah, karena beberapa sudah masuk ke dalam, ayo kita juga masuk," ucap Lussuria disetujui yang lain.

"Yuki-chan, itu kenapa?" Lussuria menunjuk ke are lehernya yang sedikit memerah.

Dino yang sejak tadi diam merasa ada batu diperutnya, membuat langkah dan napasnya terasa berat. Tangannya berkeringat dingin melihat leher Miyuki. Pergelangan tangan kiri gadis itu memakai jam dengan model lebar, sedangkan pergelangan tangannya memakai ikat rambut kain yang berbulu, menutupi pergelangan tangan yang diyakini Dino masih berwarna merah.

"Digigit serangga," jawab Miyuki singkat tanpa menatap Dino, membuat laki-laki itu merasa tidak nyaman dengan rasa bersalah.

"Yuki-,"

"Yuki-chan, itu apa?" Bel menatap ke arah kerumunan orang yang sedang berusaha mengambil sesuatu di baskom yang seperti balon air.

"Mau ke sana?" tawar Miyuki dengan senyum, tidak mempedulikan Dino.

Dino hanya bisa melihat tangannya yang hampir terangkat dengan hampa dan punggung Miyuki. Ririn yang melihat hal itu sambil memakan permen apel yang dibelinya ingin menyemangati Dino. Rin berada di dalam cermin, dimasukkan oleh Ririn tidak lama setelah mereka masuk ke dalam festival. Rin merasa tidak enak badan karena begitu banyak bau yang bercampur, baik orang maupun makan dan membuatnya pusing, makanya Ririn memasukkannya ke dalam cermin.

Ririn sedikit berjinjit dan menyodorkan permen apel yang dipegangnya ke hadapan Dino. Dino mendongak menatap Ririn dengan bingung.

"Um, Kakak jangan murung,"

Dino tersenyum mendengar kata-kata adiknya dan berjongkok di hadapan gadis itu. Dino memegang permen apel yang dipegang Ririn dan menggigitnya, lalu tersenyum.

"Terima kasih," ucap Dino sambil menepuk kepala Ririn dan mengembalikan permen apel yang dipegangnya pada Ririn.

Tidak disadari oleh Dino, Miyuki diam-diam memperhatikannya dan tersenyum kecil melihat perlakuan Dino terhadap Ririn juga senyum kecil yang sudah kembali ke wajah Dino walau hanya sedikit.

Miyuki sadar bahwa sebelumnya Dino sedang ada di bawah pengaruh alkohol dan tidak dalam keadaan sadar, tetapi dia tidak bisa melupakan bahwa wanita yang dipikirkan oleh Dino adalah wanita cantik yang ada di hotel. Kalau mengingat hal itu, ditambah dengan apa yang dilakukan oleh Dino padanya…

PLASH

"Ah,"

Miyuki melihat balon yang pecah di tangannya.

"Ushishishi, lihat Pangeran," Bel memberikan balon air aneka warna yang cukup banyak kepada Miyuki hingga jatuh.

"Kalian cukup berbakat ya," ucap Miyuki sambil melihat Bel, Lotti, Yamamoto dan Fran yang hampir menghabiskan barang dagangan si penjual.

Miyuki menghela napas dan menyuruh mereka mengambil secukupnya, lalu mengembalikan sisanya pada si penjual yang sangat disyukuri oleh si penjual. Dino yang melihat hal itu tersenyum dan berniat berjalan menuju Miyuki.

"Ririn, ayo kita…,"

Kata-kata Dino berhenti saat dia membalikkan tubuhnya dan tidak melihat adiknya di sekitarnya.

XXXXX

Tidak ada yang berani menyapa atau membantah sang pengusasa Namimori.

Hibari berkelilng bersama Kusakabe, sibuk memalak stand-stand makanan dan menghancurkan yang tidak sanggup membayar dengan teganya.

"Hancurkan,"

"Jangaan! "

"Tidak!

Satu ucapan dari Hibari yang langsung mendapatkan teriakan menyayat hati dari para penjual stand ynag hanya bisa diam melihat standnya diancurkan begitu saja.

"Upf,"

Hibari membalikkan badannya ketika dia menabrak sesuatu. Lebih tepatnya seseorang yang tingginya hanya mencapai perutnya.

"Chibi-herbivore," ucap Hibari saat melihat Ririn yang menunduk karena wajahnya ditabrak oleh perut besi Hibari.

Ririn mengangkat wajahnya dan menatap Hibari, membuat sang awan terdiam. Rambut bagian kanan dan kirinya sedikit di kepang, sedangkan yang bagian belakang diikat dijepit dengan hairclip ke arah kanan dan dibuat semakin bergelombang. Terlihat wajahnya sedikit diberi riasan entah oleh siapa. Yukata berwarna biru langit dengan hiasan bunga berwarna biru abu-abu sangat cocok dengan gadis itu, membuatnya terlihat seperti boneka.

"Imutnyaa!"

"Anak itu manis sekali!"

"Siapa dia?"

"Aduh, kasihan dia berhadapan dengan Hibari-san,"

Hibari tersadar dan melihat ke arah Ririn yang menatapnya dengan tatapan datarnya.

"Chibi-herbivore, kenapa kau disni?"

"Tadi Ririn lihat Vampire-san jadi Ririn kejar," jawab Ririn dengan polosnya.

"Mana Yuki?"

Mendanngar pertanyaan Hibari, Ririn melihat ke sekitarnya, lalu ke arah Hibari dan memiringkan kepalanya bingung.

"Kau, telpon Yuki sekarang,"

Ririn mennuruti perkataan Hibari dan menelpon Miyuki yang langsung diangkat dan dijawab.

"Ririn-chan? Kamu dimana sekarang?"

"Ririn di depan stand permen kapas,"

"Permen kapas yang mana?"

"Yang warna papannya hijau,"

"Bisa lebih spesifik?"

Hibari yang tidak sabar melihat Ririn langsung menyambar ponsel gadis itu dan berbicara dengan Miyuki.

"Yuki,"

"Kyo-nii! Ririn-chan denganmu?"

"Dia menggangguku, kau-,"

"Syukurlah, karena festival ini terlalu ramai aku takut dia hilang, tapi kalau bersama Kyo-nii apa boleh buat. Karena festival ini terlalu ramai, aku titip Ririn-chan dulu ya, sampai ketemu nanti," ucap Miyuki dengan cepat lalu mematikan ponselnya.

Ririn menatap Hibari yang terlihat ingin menghancurkan ponsel miliknya dengan bingung. Hibari lalu mengembalikan ponsel Ririn dan langsung membalikkan badannya, berniat pergi dari tempat itu dan berusaha menjauh dari Ririn.

Hibari lalu menghampiri salah satu stand bersama anak buahnya dan meminta upah keamanan (memalak) pedagang tersebut yang dengan berat hati menyerahkan uang yang telah dihasilkannya itu. Baru saja Hibari merasa akhirnya dia mendapatkan mangsa untuk melampiaskan kekesalannya saat menemukan pedagang permen kapas yang tidak mampu membayar uang ketika dia merasakan jaket hitamnya ditarik.

"Chibi-herbivore," Hibari menatap Ririn dengan kesal, sedangkan yang bersangkutan terlihat tidak merasa bersalah.

"Jangan jahat sama Paman itu, dia kasih Ririn ini," ucap Ririn sambil menunjukkan permen kapas yang ada di tangannya.

Sementara itu, Paman penjual permen kapas sudah menatap Ririn dengan pandangan khawatir, begitu juga dengan semua yang melihat di kejauhan. Hibari mngerutkan dahinya, terlihat kesal karena kesenangannya digangu dan membalikkan badannya, berniat meninggalkan gadis itu. Pedagang permen kapas itu langsung menatap Ririn seakan gadis itu malaikat karena menyelamatkan standnya.

Ririn yang tertinggal berniat mengejar Hibari yang sudah berada di depannya ketika tiba-tiba ada dua orang laki-laki seperti preman menghadangnya.

"Ne, adik manis, kelihatannya kamu sendirian saja, bagaimana kalau Kakak temani?"

"Apa kamu tersesat? Kami berdua akan mengantarkanmu ke temanmu dan menemanimu,"

Ririn hanya menatap kedua orang preman yang berdiri di depannya dengan datar. Dia ingin mengejar Hibari, tapi dengan kedua orang di hadapannya seperti itu, dia bahkan tidak bisa melihat sosok Hibari.

"Sudahlah, tidak perlu bingung. Kami akan menemanimu bermain di festival ini," ucap seorang preman dengan telinga yang ditindik dan berniat menggandeng tangan Ririn ketika sesuatu melayang melintasi wajahnya.

DUAKK

Ririn dan kedua preman itu menolehkan kepala mereka menghadap benda yang menacap di pohon di sebelah mereka. Sebuah tonfa yang cukup familier. Mereka bertiga lalu menolehkan kepala ke arah datangnya tonfa. Kedua preman yang mengganggu Ririn langsung berubah pucat dan wajah mereka terlihat ketakutan melihat Hibari menatap mereka dengan tatapan tajam.

"Hi-Hi-Hibari-san!"

Hibari menatap Ririn sekilas sebelum menatap tajam kedua preman itu.

"Pergi," desisnya tajam yang membuat kedua preman itu lari ke arah kerumunan tanpa menunggu lagi.

Hibari melihat ke arah Ririn sekilas sebelum mengambil tonfanya yang menancap di pohon. Dia memasang wajah kaku walaupun di dalam hati menghela napas lelah karena lupa bahwa Ririn 'berbahaya' untuk ditinggal sendiri. Ririn menatap Hibari yang diam menatapnya selama beberapa saat.

"Jangan sampai tertinggal," ucap Hibari sambil membalikkan badannya dan mulai berjalan.

Ririn menganggukkan kepalanya dan mulai mengikuti Hibari dengan langkah cepat. Perbedaan tinggi badan mereka membuat Ririn harus mempercepat langkahnya agar bisa mengejar Hibari. Sepanjang perjalanan, Ririn berusaha berjalan dengan cepat hingga terkadang berlari kecil hingga akhirnya terjatuh dan membuat jepit rambutnya terlepas. Di dalam tempat yang ramai dan cahaya yang minim itu, jepit rambut yang sebelumnya dipakai oleh Ririn terinjak oleh orang yang lewat. Ririn dengan cepat mengambil jepit rambut yang berada tidak jauh darinya. Melihat Ririn terjatuh, Hibari menghela napas dan berhenti sambil menunggu Ririn berdiri.

"Chibi-herbivore, kakimu," Hibari menatap kaki Ririn yang penuh dengan lecet, terutama di antara jari kaki nya yang terlihat berdarah.

"Ririn tidak pernah pakai yang seperti ini," ucap Ririn masih dengan ekspresi datarnya.

Wajah gadis itu tidak sedikitpun menunjukkan kesakitan, membuat Hibari mengernyitkan dahinya. Tapi Hibari bisa melihat keringat yang menetes di dahinya, entah karena kakinya yang sakit atau karena harus mengejar langkahnya yang cepat, atau bahkan karena keduanya.

Memang tidak terlihat dengan jelas di tempat yang minim penerangan itu, tapi Hibari bisa melihat bahwa kaki Ririn terlihat sedikit gemetar, kemungkinan karena lelah.

"Vampire-san?" Ririn menatap Hibari yang hanya diam menatapnya dengan bingung.

Tanpa mengatakan apapun, Hibari menggendong Ririn, membuat Ririn semakin bingung dan orang-orang di sekitar mereka kaget. Seorang Hibari Kyoya menggendong bridal style gadis kecil mungil yang sangat imut.

Tanpa mempedulikan tatapan bingung Ririn dan tatapan orang-orang di sekitarnya, Hibari membawa gadis itu menjauh dari kerumunan, ke arah kuil dan mendudukkan gadis itu di sisi tangga kuil. Hibari pergi sebentar dan kembali dengan sarutangan yang basah dan mengelap darah di kaki Ririn, membuat gadis itu sedikit kaget dan menarik kakinya karena rasa dingin dan perih di kakinya.

Hibari menghela napas dan memberikan saputangan itu kepada Ririn, lalu berdiri dan berjalan pergi. Ririn yang melihat Hibari menjauh berdiri, berniat mengejarnya.

"Tunggu di sini,"

Ririn yang mendegar perkataan Hibari kembali duduk sambil menatap punggung Hibari yang semakin menjauh. Gadis itu lalu menempelkan saputangan yang diberikan Hibari ke kakinya, membuat rasa sakit di kakinya sedikit berkurang. Setelah menunggu cukup lama, Hibari kembali membawa sandal slop karet yang nyaman dipakai.

Ririn memasukkan geta yang dipakainya ke dalam plastik dan kembali berjalan mengikuti Hibari. Kali ini, gadis itu memegang lengan jaket Hibari, agar tidak tertinggal. Hibari juga memelankan langkahnya.

Hibari berjalan ke arah sungai, menjauh dari kerumunan festival hingga susasana menjadi hening dan hanya terdengar keramaian festival dari kejauhan dan riak pelan air. Angin yang berhembus membuat Ririn menyelipkan rambutnya ke belakang telinga karena mengganggu pandangannya.

Melihat Ririn yang kesulitan mengatur rambutnya karena angin malam, Hibari menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapan Ririn. Dia mengangkat tangannya dan melakukan sesuatu pada rambut Ririn yang membuat Ririn menatapnya bingung.

Ternyata Hibari menjepit setengah rambut Ririn dengan menggunakan hairclip berbentuk bulan sabit yang dihiasi bintang kecil berwarna biru dengan glitter berwarna silver. Jepit yang dibelinya saat dia pergi membeli sandal untuk gadis itu.

Bulan berwarna biru dengan pendar berwarna silver, seperi warna mata Ririn. Mata yang dengan polos menatapnya tanpa takut, lebih sering bingung. Bola mata yang indah, lebih ekspresif dibandingkan ekspresi wajahnya yang selalu datar. Mata yang berpendar dengan rasa kagum dan penasaran saat melihat miliknya yang berwarna hitam, bahkan menganggap mata miliknya indah.

Hibari menatap Ririn yang tingginya hanya mencapai sedikit di atas perutnya. Gadis mungil yang mirip dengan binatang kecil yang lemah tetapi memiliki mental yang kuat.

Ririn mengarahkan tangannya ke belakang kepalanya dan menyentuh jepit yang digunakan untuk mengikat rambutnya. Dia lalu mendongak dan berniat mengatakan terima kasih pada Hibari ketika tubuh Hibari mulai membungkuk ke arahnya dan satu tangannya memegang pipi Ririn.

"Vampire-san, terima ka-," kata-kata Ririn terhenti melihat ekspresi Hibari yang berbeda dari biasanya.

Mata hitamnya yang biasanya menatap dirinya dengan kesal dan tajam, juga tegas kali ini menatapnya dalam. Ririn merasa seperti tenggelam melilhat bola mata berwarna hitam itu. Terlihat lebih hitam dan pekat dari biasanya, membuat Ririn sedikit takut.

CSSS

DUARR

DUARR

Tiba-tiba Ririn menengok ke langit, fokusnya dalam sekejap teralihkan kepada kembang api yang berwarna-warni yang menghiasi langit malam. Bola matanya berpendar dengan rasa kagum dan tertarik, serta rasa ingin tahu.

Hibari yang melihat Ririn seperti itu menghela napas dan tersenyum kecil sambil melepaskan tangannya di wajah Ririn. Ririn melihat ke arah Hibari yang menepuk kepalanya beberapa kali dan ikut mendongak menatap kembang api bersama Ririn.

Tanpa diketahui Hibari, Ririn menyentuh wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Dengan bingung Ririn berasumsi hal itu dikarenakan cuaca musim panas.

XXXXX

Tidak jauh dari pinggir sungai, di atas parit, sekelompok laki-laki melihat mereka berdua. Seorang laki-laki paruh baya yang memakai kemeja hitam menyeringai sambil menatap gadis yang berdiri di dekat sungai. Gadis yang dicarinya. Ya, boneka kecil miliknya. Sang gadis pemegang kekuatan bulan.

To be continue…..

XXXXX

Haii buat yang setia menunggu LSIA yang semakin ngaret updatenya, makasih yaa!

Maafkan juga Sacchan yang masih sempet-sempetnya bikin fic lain dengan pairing Fon-Mammon di saat LSIA belum kelar T.T

Niat mau update tanggal 14 sebagai hadiah Valentine malah keburu sekarang

R&R yaa, komentar dan saran kalian sangat ditunggu!