Disclaimer : Akira Amano

Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.

.

.

.

Little Sisters In Act

.

.

.

Steven, Mangusta Famiglia

.

.

.

Tidak jauh dari pinggir sungai, di atas parit, sekelompok laki-laki melihat mereka berdua. Seorang laki-laki paruh baya yang memakai kemeja hitam menyeringai sambil menatap gadis yang berdiri di dekat sungai. Gadis yang dicarinya. Ya, boneka kecil miliknya. Sang gadis pemegang kekuatan bulan.

"Aku menemukanmu, Karina," gumam laki-laki itu sambil berjalan mendekat ke arah Ririn dan Hibari.

Ririn yang tidak menyadari keberadaan laki-laki itu merasakan tas tempat cerminnya berada bergetar.

"Rin?"

"Boneka kecilku yang manis, akhirnya aku menemukanmu,"

DEG

Ririn merasakan tubuhnya membatu mendengar suara itu. Berbagai hal buruk yang dialaminya, baik kematian kedua orang tuanya maupun apa yang dialaminya di laboratorium langsung terbayang di kepalanya. Dia membalikkan tubuhnya, saat melihat laki-laki itu, matanya melebar dan tubuhnya gemetar tanpa sadar.

Hibari yang melihat kondisi Ririn yang tidak biasa dan merasakan aura buruk dari laki-laki di depan mereka langsung mengeluarkan tonfanya dan berdiri di depan Ririn.

"Hoo, sepertinya kamu berhasil menemukan ksatria untuk melindungimu?" laki-laki itu tersenyum sinis menatap Hibari dan menggerakkan tangannya.

Dalam sekejap, Ririn dan Hibari dikelilingi oleh sekitar sepuluh pria berpakaian hitam. Ririn merasakan tasnya bergerak-gerak dan Rin meloncat keluar dari dalam tas.

"Woff!" Rin menyalak ke arah para pria berbaju hitam itu, yang membuat laki-laki paruh baya itu tertawa.

"Hahaha, kamu memiliki teman yang cukup manis ternyata,"

"Katakan apa urusanmu dan pergi dari sini!" Hibari menggeram pada laki-laki di hadapannya.

"Aku hanya ingin boneka kecilku kembali padaku setelah seseorang mencurinya beberapa tahun yang lalu, bukankah begitu Karina sayang?" ucap laki-laki itu dengan nada menyebalkan.

Ririn tersentak mendengar namanya dipanggil dan memegang punggung baju Hibari dengan tangan gemetar.

Melihat reaksi Ririn dan cara laki-laki itu memanggil nama Ririn membuat Hibari semakin kesal. Dia menaikkan tonfanya dan menyerang pria berbaju hitam yang mengelilingi mereka. Kurang dari sepuluh menit, Hibari sudah berhasil menumbangkan semua pria berbaju hitam.

"Hoo, sepertinya ksatriamu kuat juga. Tapi sayang, mereka bukan pengawal biasa," ucap laki-laki itu sambil tersenyum licik.

Hibari menaikkan alisnya waspada. Tiba-tiba semua pria yang dikalahkan Hibari bangkit dan berjalan dengan tubuh penuh cahaya berwarna keperakan.

"TIDAK!"

Ririn berteriak sambil melompat ke depan Hibari bersama Rin sambil memegang cermin miliknya bersamaan dengan tubuh para pengawal yang meledak.

"Hehehe, ternyata kamu bisa menahannya,"

Begitu asap dari ledakan hilang, terlihat Ririn, Rin dan Hibari berdiri tegak tanpa terluka sedikitpun. Hibari yang sudah mendengar kejadian di Shimon menyadari bahwa laki-laki dihadapannya adalah orang yang sangat berbahaya.

Hibari menggeram dengan kesal dan berlari menyerang laki-laki yang berdiri sendirian itu. Saat sudah dekat dengan laki-laki itu, laki-laki itu memukul Hibari dengan sesuatu menyerupai tongkat berwarna perak yang dengan segera ditangkis oleh Hibari.

"JANGAN!"

CRASH

Tongkat perak yang ditangkis Hibari menembus tonfa, tangan dan dadanya. Mata Hibari terbelalak tidak percaya. Laki-laki itu mendorong kasar tubuh Hibari yang tertancap di tongkatnya dan membuang tubuh itu dengan kasar.

"Hehehe, lihat Karina! Ini kekuatanmu, kekuatan yang sangat hebat! Dan, karena kekuatanmu inilah orang-orang yang ada di sekitarmu selalu berada dalam bahaya," ucap laki-laki itu sambil berjalan mendekati Ririn perlahan.

Tiba-tiba Hibari dengan cepat berdiri di depan Ririn, membuat mata Ririn membulat kaget. Luka yang diterima Hibari bukan luka kecil, untuk bisa berdiri saja pasti sudah sulit.

"Su-sudah, Vampire-san, jangan…," suara Ririn terdengar bergetar.

Suara gadis yang biasanya terdengar tanpa emosi dan lebih terkesan dingin itu sekarang bergetar. Terdengar lemah dan tidak berdaya.

"Ririn akan iku-,"

"DIAM!"

Ririn tersentak kaget mendengar teriakan Hibari.

"Kau, tidak akan pergi kemanapun!" ucapnya tegas sambil kembali mengangkat tonfanya, kali ini Cloud flame mengelilingi tubuhnya.

"Hah, berapa kali pun dicoba hasilnya akan sama saja!"

Laki-laki itu mengangkat tongkatnya untuk kembali menusuk Hibari. Dengan luka di tubuhnya, sebenarnya gerakan Hibari tergolong cepat, tetapi karena kekuatan bulan milik Ririn, kekuatan fisik laki-laki itu menjadi meningkat. Beberapa kali Hibari berusaha melakukan cambio forma, tapi tidak berhasil dan terkena tusukan tongkat. Bahkan saat ini untuk berdiri sudah sulit untuknya. Melihat hal itu, laki-laki itu langsung menendang Hibari yang sudah kehilangan banyak darah berulang kali.

"Lihat! Ini yang akan terjadi pada orang-orang di sekitarmu! Ini karena kekuatanmu, penyihir dari bulan terkutuk!" ucap laki-laki itu dengan sinis, masih menendang Hibari.

Ririn menundukkan kepalanya sambil menggenggam cermin di tangannya erat. Perlahan, Cloud flame yang mengelilingi tubuh Hibari mengecil.

"Woff!"

BUKK

Rin yang berusaha menolong Hibari dengan menggigit laki-laki itu juga ditendang dan diinjak oleh laki-laki itu.

Pyak

"-ven,"

"Hm?"

"STEVEN!"

BYURR

CRASH

"AARGHHH!"

Laki-laki yang dipanggil Steven langsung meloncat kebelakang walaupun terlambat. Tangan kirinya putus karena air sungai tiba-tiba berubah menyerangnya dengan cepat dan tajam. Steven melihat mata Ririn yang berpendar berwarna perak, juga bulan di langit yang tiba-tiba berwarna perak.

"…bunuh," gumam Ririn dengan aura dan sorot mata yang tajam.

XXXXX

Tsuna, Varia dan teman-teman yang lain sedang berada di atas kuil ketika mereka merasakan kekuatan Cloud milik Hibari digunakan. Dengan segera Tsuna merasakan instingnya mengatakan hal buruk sedang terjadi. Dia menatap Reborn dan teman-temannya yang menganggukkan kepalanya.

"Kami ikut!" ucap Lussuria.

"Tidak! Varia tetap disini, lindungi anak-anak dan perempuan," ucap Reborn sambil beranjak pergi.

"Yuk-,"

"Aku ikut! Kyo-nii ada di sana!"

Reborn hanya menganggukkan kepalanya dan berlari pergi bersama Tsuna dan yang lainnya, serta Dino ke tempat Ririn dan Hibari.

"Cloud flame Kyo-nii mulai melemah," Miyuki bergumam dengan khawatir.

Mengingat kakaknya merupakan anggota terkuat Vongola, seharusnya dia tidak perlu merasa khawatir seperti itu. Tapi, dia merasakan firasat buruk. Kakaknya sedang berada di dalam situasi yang buruk.

"Tenang saja, bukankah Kyoya Guardian terkuat? Percaya saja padanya," Dino berusaha menenangkan Miyuki sambil tersenyum.

Miyuki yang sedang memikirkan kakaknya hanya mengangguk pelan mendengar perkataan Dino.

XXXXX

"Ririn-chan, apa yang terjadi? Kuharap aku belum terlambat!"

Sesosok batita yang memakai pakaian China dan membawa monyet di bahunya berlari di atap gedung dengan khawatir

XXXXX

"Mereka disana!"

Tsuna dan teman-temannya melihat satu daerah di tepi sungai yang terlihat aneh. Hanya di tempat itu ada bulan berwarna perak bersinar dengan terang, tetapi dengan sedikit pendar biru.

"Ririn! Hibari!"

"Ririn-chan! Hibari-san!"

"Ririn-chan! Kyo-nii!"

Mata mereka membulat kaget melihat Hibari yang bersimbah darah tergelatak tidak jauh dari Ririn. Sedangkan Ririn memegang cermin yang memantulkan sinar berwarna perak dengan sedikit biru. Tidak seperi biasanya, gadis kecil itu mengeluarkan aura membunuh yang sangat besar. Beberapa meter di depan Ririn, ada seorang laki-laki dengan sebelah tangan yang terputus.

Tsuna dan yang lainnya mendekati Hibari yang terluka dan mulai kehilangan kesadarannya sambil memperhatikan Ririn dengan khawatir. Baru pertama kali mereka melihat Ririn seperti itu. Rambut dan pakaiannya sedikit melayang, seakan disekitarnya tidak ada gravitasi.

Ririn mengangkat sebelah tanggannya, sedangkan tangan satunya masih memegang erat cermin. Tangan yang diangkat diarahkan ke sungai, perlahan air sungai terangkat mengikuti gerakan tangan Ririn. Ririn lalu menggerakkan tangannya dengan cepat ke arah laki-laki itu. Laki-laki itu segera mengangkat satu tangannya untuk menghalau serangan Ririn dengan memunculkan perisai berbentuk perak.

"Dia…?"

"Steven, Boss Mangusta famiglia," gumam Miyuki.

Perisai yang dibuat Steven hancur, menyebabkan serangan air Ririn mengarah padanya, seakan berniat menenggelamkan laki-laki itu.

"Woff! Wof!"

Reborn yang melihat Rin yang terluka menggonggong ke arah Ririn menatap curiga mereka berdua. Kenapa Rin menggonggong seperti itu?

Tiba-tiba darah menetes dari mulut Ririn, membuat Tsuna dan yang lainnya kaget. Ririn berniat menghancurkan tubuh laki-laki itu ketika sebuah suara menghentikannya.

"BERHENTI, RIRIN!"

DEG

"Mas..ter,"

Ririn mengangkat kepalanya dan baru menyadari Tsuna dan yang lainnya ada di sana, juga gurunya, Fon.

"Fon?"

"Fon-san?"

"Paman?"

BYURRR

"Ukh!"

Tiba-tiba air yang menenggelamkan Steven hancur, membuat laki-laki itu terjatuh ke tanah sambil terbatuk, begitu juga dengan ilusi bulan yang dibuat Ririn. Ririn berlutut setelah memuntahkan darah dari mulutnya, berkeringat dingin dan batuk darah yang membuat teman-temannya panik dan segera menghampirinya.

Melihat Ririn dan teman-temannya yang sedang sibuk, Steven mengambil kesempatan untuk melakukan teleportasi.

"Kau!" Gokudera yang melihat tubuh Steven mulai menghilang karena melakukan teleportasi berteriak marah sambil menyiapkan dinamitnya yang dihalangi Reborn.

"Kali ini aku mundur, tapi selanjutnya aku pasti akan mendapatkanmu Karina! Kau milikku! Ingat, kemampuanmu dari bulan terkutuk hanya membawa sial orang di sekitarmu!" ucap Steven sesaat sebelum tubuhnya menghilang.

Tidak ada yang menyadari tatapan tajam Dino terhadap laki-laki yang sudah pernah membuat hidup adik angkatnya sengsara itu.

"Ririn-chan, aku sudah bilang kamu dilarang menggunakan kekuatanmu dengan perasaan seperti itu, terutama untuk membunuh orang!" Fon yang memegang bahu Ririn memarahi gadis itu.

"Maaf," suara Ririn terdengar lemah.

"Kyo-nii!"

Semua mata tertuju pada Miyuki yang sejak tadi berada di samping Hibari. Sejak tadi, Hibari masih membuka amtanya, hanya saja tidak ada tenaga untuk bergerak.

"Vampire-san," Ririn bergumam lalu berdiri dan dengan langkah bergetar berjalan ke arah Hibari.

"Ini gawat, Kyoya terkena kutukan bulan!" Fon yang melihat kondisi Hibari langsung terlihat terkejut.

"Kutukan bulan?" Reborn menatap temannya itu dengan penasaran.

"Ya. Kekuatan bulan seperti pedang bermata dua. Kalau digunakan untuk kebaikan, bisa untuk melindungi dan menyembuhkan, jika digunakan untuk keburukan bisa menjadi kutukan dan kekuatan untuk menghancurkan," jelas Fon.

"Rin, cambio forma,"

Semua melihat cahaya keperakan yang mengelilingi tubuh gadis itu. Tiba-tiba pakaian Ririn berubah. Dia memakai dress perak tanpa lengan di bawah lutut, boots silver, tudung panjang hingga punggung dan sarung tangan sepanjang siku. Cermin yang di pegangnya berubah menjadi tongkat berukuran sedang dengan cermin kecil di puncaknya.

"Ririn-chan, kondisimu-,"

"Master, kalau Ririn tidak melakukan ini, Vampire-san akan mati!"

Fon terdiam mendengar perkataan Ririn.

" 'Lakukan apa yang menurutmu benar selama hal itu tidak merepotkan orang lain, dibandingkan hidup dalam penyesalan', bukan kah itu yang Master ajarkan pada Ririn?" Ririn berjalan dengan darah masih menetes dari mulutnya.

Fon hanya bisa menggeretakkan giginya. Dia tidak ingin keponakannya mati, dan memang hanya Ririn yang bisa menyembuhkannya. Tapi, dia juga tidak ingin muridnya terluka.

"Ririn-chan?"

"Maaf, tolong menjauh dari Vampire-san," ucap Ririn sambil mengangkat tongkatnya tinggi.

Miyuki dan yang lain segera menjauh dari Hibari. Ririn memejamkan matanya, lalu membukanya dan sekelilingnya seakan-akan tidak memiliki gravitasi hingga Hibari melayang di hadapan Ririn. Tiba-tiba ada bulan berwarna perak di langit tepat di atas mereka, menyinari Ririn dan Hibari. Dibawah tubuh Hibari muncul lingkaran sihir dan berbagai bentuk bulan mulai dari sabit, setengah, hingga purnama.

"Wahai bulan perak pemilik kekuatan penyembuh," Ririn mulai mengucapkan mantera yang perlahan-lahan tidak dapat dimengerti oleh semua yang ada di sana.

Semua memperhatikan tubuh Hibari yang perlahan-lahan dililit oleh cahaya berwarna perak hingga membentuk seperti kepompong transparan. Ririn mendekati Hibari yang mulai membuka matanya dan menciumnya.

"HIEE!"

"EHH!"

"Pa-Paman?"

"Ah, untuk menghilangkan kutukan bulan, harus menggunakan darah penyihir bulan. Menggunakan darah yang menetes di mulutnya, Ririn berusaha membuat Kyoya meminum darahnya dengan melakukannya dari mulut ke mulut," jelas Fon yang sebenarnya tidak rela anak didiknya yang polos melakukan hal seperti itu.

Ah, tapi itu hanya perawatan gawat darurat untuk keponakannya.

Hibari yang perlahan kesadarannya mulai pulih membulatkan matanya kaget merasakan bibir lembut Ririn menyentun miliknya. Tapi, rasa kaget itu hilang saat Ririn menarik wajahnya dari Hibari dan Hibari melihat wajah Ririn yang pucat dan penuh dengan keringat.

"Chibi-herbi-,"

BRUGHH

Cahaya perak yang tadi menyelimuti Hibari hilang ketika Ririn terjatuh ke arahnya. Hibari yang sudah pulih seperti semula dengan sigap berdiri tegak dan menangkap tubuh Ririn.

"Ririn-chan!"

"Ririn!"

XXXXX

"Bagaimana keadaannya?"

Fon melompat ke hadapan Shamal yang baru keluar dari ruangan Ririn. Mereka sedang berada di rumah Rika dan menempatkan Ririn pada ruangan paling ujung yang terkena banyak cahaya bulan. Shamal menggelengkan kepalanya pelan.

"Aku tidak tahu apakah analisa pada manusia biasa sama seperti analisa pada penyihir bulan sepertinya. Secara fisik, dia tidak apa-apa, bahkan beberapa luka sudah sembuh dan darahnya mulai normal karena dia berada di bawah cahaya bulan walaupun penyembuhannya cukup lambat. Seharusnya dia sudah sadar, tetapi sepertinya ada hal lain yang membuatnya tidak sadarkan diri," jelas Shamal.

Fon menundukkan kepalanya. Sepertinya dia harus menceritakan semuanya.

"Apakah Dino berada di dalam?" Fon menatap Shamal yang berniat menuju ruang tengah untuk memberitahukan kondisi Ririn kepada yang lainnya.

"Ya, dia sangat khawatir kepada adiknya itu," ucap Shamal sambil meninggalkan Fon.

Fon membuka pintu perlahan dan melihat Dino duduk di kursi samping tempat tidur Ririn. Tangan laki-laki itu menggenggam erat tangan Ririn, seakan memberikan doa dan kekuatan agar adiknya yang manis segera membuka matanya. Fon hanya bisa menyembunyikan rasa kesal dan kecewanya. Dia mengajari Ririn beladiri agar gadis itu tidak perlu menggunakan kekuatannya lagi saat berhadapan dengan Steven dan organisasinya, ternyata tidak berhasil.

"Dino, ada yang ingin kuberitahukan pada kalian semua tentang Ririn yang selama ini tidak pernah kukatakan," ucap Fon sambil menepuk bahu Dino dan mengajaknya ke ruang tengah.

Dino menganggukkan kepalanya dan melepaskan tangan kecil adiknya, lalu berjalan menuju ruang tengah. Fon menghela napas dan menatap atap. Dia masih harus memanggil keponakannya yang merasa bersalah pada apa yang terjadi pada Ririn walaupun itu bukan kesalahannya, meskipun dia sama sekali tidak menunjukkannya.

XXXXX

Fon memandang semua orang yang berkumpul di ruang tengah, termasuk dua keponakannya yang bersender pada pintu geser menuju taman dan yang duduk di sebelah Dino, kecuali Haru, Kyoko, I-pin, dan Lambo yang sudah pulang ke rumah atas saran Reborn dengan diantar oleh Ryohei. Tidak mungkin mereka membiarkan perempuan dan anak-anak pulang tanpa pengawalan di saat seperti itu.

"Jadi, apa yang ingin kau jelaskan?" Reborn menurunkan fedoranya sambil menatap Fon dengan serius.

"Aku ingin menceritakan tentang sejarah penyihir bulan pada kalian. Kalian tentu tahu bahwa pada abad ke-16 dilakukan perburuan penyihir, tetapi perburuan terhadap penyihir bulan sudah dilakukan jauh sebelum itu. Karena kekuatan menyembuhkan dan melindungi, juga kutukan dan kekuatan untuk menghancurkan milik mereka, penyihir bulan selalu hidup berkelompok, menjadi sebuah klan, berbeda dengan penyihir lain yang biasanya hidup berbaur dengan manusia,"

Fon menghentikan kata-katanya sambil menatap Rika sesaat.

"Hal itu dilakukan agar kekuatan mereka tidak digunakan untuk kepentingan orang lain, terutama membunuh dan melukai. Pada dasarnya kekuatan mereka berasal dari hati yang suci dan keinginan yang murni. Seperti yang kalian lihat, Ririn-chan terluka karena dia menggunakan kekuatan menyembuhkan dan melindunginya untuk melukai Steven dengan kebencian dan amarah. Karena itu dia terluka akibat kekuatannya sendiri," jelas Fon.

"Fon-san, apa yang terjadi kalau Ririn-chan benar-benar membunuh laki-laki tadi?" Tsuna tiba-tiba menanyakan hal yang membuat perasaannya tidak enak.

"Kemungkinan terburuk, Ririn akan mati," ucap Fon yang membuat semua memasang raut wajah tidak percaya.

"Lalu, apa yang akan terjadi pada Ririn?" Dino bertanya dengan khawatir pada Fon.

Fon memasang raut wajah serius mendengar perkaaan Dino. Dia mengeluarkan suatu benda yang dibungkus kain dan membuka kain itu. Cermin yang selalu dibawa Ririn dalam keadaan pecah.

"Dimana Rin?" Tsuna tiba-tiba menyadari bahwa sejak tadi dia sama sekali tidak melihat ataupun mendengar suara Rin.

"Rin?" Fon melihat ke arah Reborn.

"Rin adalah familiar milik Ririn," ucap Reborn sambil menurunkan fedoranya, membuat Fon semakin khawatir.

"Apakah ada hubungannya dengan Rin yang hilang?"

Reborn menatap Tsuna sebelum menjawab.

"Setiap familiar akan terus hidup jika partnernya hidup. Baik Leon maupun Lichi tetap ada walaupun Amel sudah meninggal, karena Amel telah melepaskan mereka dan saat ini aku dan Fon yang menjadi partner mereka. Karena Ririn yang menciptakan Rin, jika energi kehidupan Ririn mulai memudar, Rin tidak akan bisa mempertahankan keberadaan dirinya,"

"Maksudmu, kondisi Ririn saat ini kritis?" Dino bertanya dengan nada yang tanpa disadarinya meninggi.

Fon dan Reborn menolak untuk menjawab dan hanya membuang wajah mereka.

"Apa tidak ada cara untuk menyembuhkan Ririn?" Rika bertanya dengan nada khawatir.

"Ada. Kalian tentu tahu bahwa seorang penyihir bulan hanya dapat disembuhkan dengan menggunakan cahaya bulan. Kekuatan penyihir bulan tergantung pada bulan purnama saat penyihir bulan lahir. Amel lahir saat bulan purnama perak, makanya setiap kali menggunakan sihir dia mengeluarkan cahaya berwana perak," Fon menjelaskan.

"Kalau begitu kita harus menunggu bulan purnama perak?" Yamamoto menatap Fon dengan pandangan bertanya.

"Bukan, Ririn tidak lahir saat bulan purnama perak. Dia lahir saat bulan purnama biru," ucap Fon yang membuat semua bingung, kecuali Reborn.

"Apakah itu alasan Boss Mangusta memanggil Ririn 'penyihir dari bulan terkutuk'?" Reborn menatap Fon dengan tatapan serius.

"Apa maksudnya?" Tsuna menatap Reborn dengan bingung.

"Apakah ini ada kaitannya dengan mitos bahwa bulan purnama biru selalu muncul saat ada kejadian aneh dan bencana besar?" Gokudera menatap Reborn dan Fon dengan penasaran.

"Ya,"

"Kalau begitu, satu-satunya cara yang kamu maksud menunggu sampai bulan purnama biru muncul?" Miyuki bertanya dengan nada suara pelan.

"Tidak. Rika-san, apakah Mitsuki kamu pernah menemuimu?" Fon menatap Rika dengan serius.

Mendengar nama ibunya disebut, Miyuki dan Hibari langsung menatap Rika dengan cepat. Mereka tidak pernah tahu bahwa Rika pernah bertemu dengan ibu mereka.

"Ah, ya. Beberapa tahun yang lalu, sebelum Yuki-chan pergi ke Tokyo. Itu adalah saat pertama dan terakhir kalinya aku bertemu dengannya,"

"Apa yang Okaa-san katakan saat itu?" Miyuki yang penasaran langsung bertanya dengan cepat.

"Saat itu kondisi badanku sedang sangat lemah," Rika meletakkan tangannya di dagu sambil menunduk, berusaha mengingat apa yang terjadi saat itu. "Mitsuki-san memintaku menjaga kalian sebagai keluarga," ucap Rika sambil berusaha mengingat yang membuat Miyuki menutup mulutnya dengan tangan.

Ternyata, ibunya selama ini mengetahuinya. Mengetahui keberadaan Rika dan selalu menjaga mereka melalui orang-orang terdekat mereka. Miyuki merasakan kepalanya diusap pelan oleh Hibari yang berdiri di sebelahnya dan tersenyum pada kakaknya.

"Ah, Rika-sama, Nona mungkin tidak ingat, tapi saat itu Mitsuki-sama menitipkan sesuatu pada anda," Reiko yang datang membawakan minuman tiba-tiba membuka suaranya.

"Sesuatu?" Rika memiringkan sedikit kepalanya sambil mengingat-ingat.

"Sesaat setelah Mitsuki-sama pergi, Rika-sama berada dalam kondisi kritis, tidak heran kalau Nona lupa. Sebuah kotak dengan ukiran berbentuk bulan sabit, Nona pingsan dan tidak sadarkan diri selama 2 minggu setelah menyimpan kotak itu," ucap Yamada yang masuk ke ruang tengah mendengar pembicaraan mereka.

"Kotak dengan ukiran bulan sabit?" Rika seakan teringat sesuatu dan berjalan menuju ruang kerjanya yang tidak jauh dari ruangan itu.

Tidak lama kemudian dia keluar dengan membawa kotak kayu dengan ukiran berbentuk bulan sabit.

"Ini kotak yang dititipkan Mitsuki-san padaku," ucap Rika sambil menunjukkan kotak berbentuk bulan sabit berwarna biru perak kepada Fon.

"Fon, kotak apa itu?" Reborn menatap kotak dengan simbol bulan yang sangat familier itu.

"Itu kotak yang ditemukan oleh kakakku saat menjalani misinya di Indonesia beberapa tahun yang lalu dan diserahkan pada Mitsuki karena tidak ingin jatuh ke tangan pemerintah. Kotak itu adalah milik Amel," ucap Fon membuat Reborn semakin penasaran.

"Apa isinya?" Yamamoto memandang kotak yang dipegang oleh Rika dengan penasaran.

"Tidak bisa dibuka," ucap Rika saat berusaha membuka kotak itu.

Fon dan Reborn saling bertatapan dan menganggukkan kepala bersamaan.

"Rika-chan, boleh kupinjam kotak itu?"

Rika memberikan kotak yang dipegangnya pada Fon. Fon dan Reborn langsung meloncat menuju taman dan meletakkan kotak itu dibawah cahaya bulan. Seketika, kotak itu bersinar.

"Bagaimana?" Reborn menatap Fon yang berusaha membuka kotak itu.

"Hmm, masih belum bisa dibuka," ucap Fon.

"Muu, Fon, berikan pecahan cermin milik Ririn," tiba-tiba Mammon yang sejak tadi tidak terlihat muncul melayang dengan Fantasma ke arah Reborn dan Fon.

Tsuna dan yang lainnya mengikuti ke taman dan memperhatikan mereka. Fon memberikan cermin milik Ririn yang sudah hancur pada Mammon. Mammon menerima cermin itu dan memantulkan cahaya sinar bulan ke arah kotak yang dipegang Fon dengan cermin. Tiba-tiba kotak yang dipegang Fon terbuka dan mengeluarkan cahaya biru perak yang sangat menyilaukan.

To be continue…

XXXXX

Haiii!

Selamat menunaikan ibadah puasa Readers~

Mohon maaf kalau udah lama nggak update, ini Sacchan upload untuk menemani Readers sekalian sebagai hidangan sampingan sebelum buka puasa! #abaikan

Untuk Yukishiro Seiran, Caelia Yuuki, dan Michan, maaf Sacchan nggak bisa bales review dulu. Tenang saja, review kalian selalu menjadi semangat Sacchan dalam emlanjutkan LSIA ini!

Untuk Haruno Bara0201 terima kasih sudah fave dan follow LSIA ini~

Akhir kata, semangat puasanya!

R&R yaa, komentar dan saran kalian sangat ditunggu!