Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
The Blue Moon Witch
.
.
.
"Cahaya apa itu tadi?"
Tsuna mengerjapkan matanya setelah cahaya yang menyilaukan itu menghilang. Dia melihat sekelilingnya dan terkejut melihat sinar matahari pagi dan pemandangan di sekitar mereka berubah. Mereka berada di pemukiman penduduk, di kelilingi oleh pohon-pohon yang tinggi. Penduduk di sana memakai jubah yang sangat mirip satu sama lainnya, terlihat familier.
"Apa yang terjadi?"
"Dimana kita?"
Yamamoto dan Ryohei menatap sekeliling mereka dengan panik.
"Tenanglah,"
"Lihat baik-baik, mereka tidak bisa melihat kita,"
Ucap Fon dan Reborn sambil mengamati penduduk yang berlalu-lalang. Memang benar, kalau diperhatikan tubuh mereka terlihat sedikit transparant.
Mereka memperhatikan orang-orang itu dan menyadari jubah yang dipakai oleh penduduk desa itu ternyata hanya terdiri dari wana emas dan perak. Selain itu, setiap orang membawa binatang yang bermacam-macam.
"Jubah itu, bukankah sama dengan yang dipakai Ririn saat menggunakan cambia forma?" Miyuki menanyakan hal yang mengganjal hatinya.
"Ya,"
"Sepertinya kotak ini membawa kita ke masa lalu saat penyihir bulan masih ada,"
"Muu, ini desa penyihir bulan. Aku merasakan energi yang sama seperti yang dikeluarkan Amel dan Ririn pada seluruh penduduk desa ini,"
Reborn, Fon dan Mammon menatap penampilan mereka yang cukup mirip. Rambut bergelombang dengan mata yang memiliki warna yang sama seperti kekuatan bulan yang mereka miliki. Tiba-tiba mereka merasakan waktu di sekeliling mereka berubah dan langit menjadi sore.
"Nenek, aku pergi sekarang!"
Perhatian mereka segera teralihkan oleh teriakan seorang gadis yang keluar dari sebuah rumah tenda yang berbeda dari tenda yang lain. Jika tenda lain tidak memiliki hiasan apapun, ada sebuah tali panjang dengan banyak batu berbentuk bulat kecil di letakkan di tenda itu.
"Hari ini akan muncul bulan purnama, kembalilah sebelum malam!"
"Baik, Nenek,"
Lalu, sesosok gadis muda keluar dari tenda itu, membuat mereka terkejut. Seorang gadis yang terlihat berumur 14 tahun dengan tinggi normal, bermata biru perak, dengan rambut hitam bergelombang mengenakan jubah yang berbeda dengan jubah milik penduduk lainnya, berwarna biru perak yang terang.
"Ririn," gumam Dino.
"Ya, mirip sekali dengan Ririn-chan," ucap Yamamoto sambil mengamati gadis itu.
Reborn, Fon dan Mammon hanya diam, mengamati gadis yang sangat mirip dengan Amel dan Ririn itu.
"Lihat, itu si pembawa sial,"
"The Cursed Blue Moon,"
"Si penyihir biru terkutuk,"
Mereka melihat penduduk di sekitar mereka berbisik-bisik, membuat senyum di wajah gadis yang mereka lihat hilang. Gadis itu segera menutup wajahnya dengan menggunakan tudung di jubahnya, berusaha menyembunyikan dirinya dari tatapan penduduk desa yang menyakitkannya dan pergi ke hutan dengan cepat.
"Gadis itu, ayo ikuti dia," ucap Tsuna dengan ekspresi serius. Intuisinya mengatakan kalau mereka harus mengikuti gadis itu.
"Hm," Reborn menganggukkan kepalanya.
Mereka mengikuti gadis itu hingga jauh ke dalam hutan, sampai ke sebuah padang bunga. Terdapat beraneka ragam bunga di taman itu, tetapi yang paling banyak adalah bunga lonceng dan anggrek bulan yang menempel pada pohon.
Gadis itu berhenti dan duduk di sebuah pohon besar sambil menurunkan tudungnya, lalu menyenderkan punggungnya dan menengadahkan kepalanya ke atas dengan mata terpejam. Tidak lama setelah dia duduk di bawah pohon itu, bintang-binatang hutan seperti kelinci, burung, tupai, musang dan hewan lainnya datang menghampiri gadis itu sambil membawa buah-buahan dan jamur. Merasakan ada sesuatu di bahu dan pangkuannya, gadis itu membuka matanya dan tersenyum.
"Terima kasih, kalian memberikan ini karena khawatir padaku?" Gadis itu mengelus teman-temannya dengan sabar satu-persatu.
"Ini sangat membantuku, aku tidak perlu lagi mencari makan malam," ucap Gadis itu.
Seekor rusa menghentakan kakinya dan menggerakkan tanduknya dengan marah yang dibalas dengan senyum lembut oleh Gadis itu.
"Itu bukan salah mereka. Mereka seperti itu karena kekuatanku memang kekuatan terkutuk. Kekuatan bulan biru hanya bisa menghancurkan semuanya, bahkan saat aku lahir aku menyebabkan kehancuran di Pompeii sehingga orang tuaku harus menggunakan seluruh kekuatan mereka dan mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi penduduk desa hingga penduduk desa harus berpindah sejauh ini untuk menghindari keberadaan klan kami ditemukan,"
Seekor kelinci berjalan pincang dengan kaki terluka ke arah Gadis itu dan menggosokkan kepalanya ke lengan Gadis itu, berusaha menghiburnya.
"Terima kasih, biar kusembuhkan lukamu," ucap Gadis itu sambil tersenyum lembut dan mengangkat kelinci itu ke pangkuannya dan menyembuhkan lukanya.
"Dia…benar-benar seperti Ririn," ucap Dino yang dibalas anggukan kepala oleh semuanya.
Gadis itu menatap langit, melilhat langit mulai menggelap.
"Sebentar lagi malam tiba," ucap Gadis itu sambil meletakkan kelinci yang sudah sehat dan berdiri.
Dia berjalan ke tengah padang rumput sambil menautkan kedua tangannya di depan dada dan memejamkan matanya, seakan sedang berdoa. Perlahan, dari bunga-bunga dan hewan muncul cahaya kecil mirip kunang-kunang berwarna biru perak dan terbang ke arah langit, menuju ke arah bayangan bulan yang masih samar.
"Dengan begini, kekuatan penduduk desa akan pulih lebih cepat dan bisa melindungi desa," ucap Gadis itu sambil tersenyum.
Seekor kuda liar menatap Gadis itu dengan pandangan tidak setuju.
"Tidak apa. Klan ku sudah cukup baik membiarkanku berada di desa walaupun mereka tidak menyukainya. Nenek juga sudah semakin tua, akan semakin sulit untuknya menopang seluruh penduduk desa. Walaupun sedikit, aku ingin bisa membantunya," ucap Gadis itu sambil mengelus kuda itu dan berpamitan kepada teman-temannya sambil melambaikan tangannya.
Tiba-tiba sekeliling Tsuna dan teman-temannya berputar, waktu di sekeliling mereka berjalan dengan cepat.
"Apa yang kau lakukan selama ini!"
Mereka segera menolehkan kepala mereka ke arah sumber suara. Kelihatannya, mereka maju 3 tahun ke depan. Gadis yang sebelumnya mereka ikuti terlihat sudah tumbuh, lebih dewasa terlihat berumur 17 tahun.
"Aku ingin membantu Nenek dan penduduk desa lainnya," ucap Gadis itu dengan tatapan penuh tekad, tidak terlihat gentar ataupun takut.
"Kau tidak seharusnya melakukan semua ini! Kamu tahu, kalau kamu melakukan ini, kekuatanmu akan-," Nenek tua itu gemetar, tidak mampu menyelesaikan kata-katanya.
Gadis itu mendekati Neneknya dan memeluk wanita tua itu.
"Maaf, tapi aku tidak bisa diam saja. Kekuatanku bisa membantu penduduk desa, aku juga ingin melindungi semuanya dengan kekuatanku," bisik Gadis itu pelan kepada neneknya.
"Kekuatanmu tidak hanya membuat penduduk desa kita awet muda dan memiliki hidup yang panjang, tetapi juga menambah kekuatan mereka. Kalau ada orang lain yang tahu, kau bisa berada dalam bahaya," ucap Nenek tua itu lirih.
"Nenek terlalu khawatir, aku tidak apa-apa. Tidak akan terjadi apa pun," ucap Gadis itu menenangkan.
"Pantas saja Amel tidak terlihat bertambah tua," gumam Reborn yang dibalas anggukan kepala Fon dan Mammon.
"Hei, ada seseorang di balik tenda itu," Squalo menunjuk bayangan orang yang terlihat akibat pantulan cahaya dari balik tenda.
Hanya sesaat, setelah itu bayangan itu menghilang. Tsuna langsung merasakan firasat yang sangat buruk melihat bayangan tadi. Waktu di sekitar mereka kembali berjalan, kali ini kelihatannya mereka tidak melewati waktu terlalu jauh karena gadis yang mereka perhatikan masih terlihat sama dan musim yang kelihatannya semakin dingin pada sore hari.
Kali ini, mereka berada di tengah taman yang sebelumnya mereka lihat, hanya saja tanpa bunga dan sedikit daun hijau. Gadis yang sebelumnya mereka perhatikan berjalan seorang diri menuju pohon besar di taman itu sendirian.
"Akhirnya, musim dingin tiba. Teman-teman sudah memasuki hibernasi dan aku semakin kesulitan mencari makanan," gumam Gadis itu sambil menempelkan kepalanya ke pohon besar itu.
Tidak lama kemudian Gadis itu menggosokkan tangan dan meniupnya, berusaha menghangatkannya. Dia berjalan menuju tengah-tengah padang dan melakukan hal yang sama seperti dilakukan sebelumnya, hanya saja cahaya yang mucul berkurang jauh dibandingkan sebelumnya.
Tsuna dan lainnya hanya diam memperhatikan Gadis itu kembali ke pohon besar sebelumnya dan duduk dibawahnya. Gadis itu menengadahkan kepalanya ke langit dan memejamkan matanya, tertidur. Waktu di sekitar Tsuna dan kawan-kawannnya kembali berputar cepat hingga langit menjadi gelap. Gadis itu membuka matanya dan terlihat terkejut.
"Gawat, aku tertidur! Nenek pasti akan memarahiku karena malam ini bulan purnama muncul!" gumam Gadis itu panik sambil berdiri cepat dan berlari menuju rumahnya.
PRAK
ZRASSH
GYAA
"A-apa itu?"
Tidak hanya Gadis itu, Tsuna dan kawan-kawan juga penasaran melihat langit berwarna kemerahan dari arah desa, suara ribut dan teriakan. Mereka langsung merasakan firasat buruk. Benar saja, begitu dia sampai di sana, mereka melihat banyak penduduk desa menggunakan sihir mereka melawan orang-orang yang memegang senjata dan cermin hasil rampasan. Gadis itu menutup mulutnya melihat banyak penduduk desa yang terbunuh.
"Ba-bagaimana bisa?" Gadis itu bergumam sambil mengangkat kepalanya, menatap langit.
DEG
"Ti-tidak…mungkin," suaranya bergetar dengan mata terbelalak kaget dan terkejut.
Langit malam itu dihiasi oleh bulan purnama berwarna biru. Warna biru yang cantik dan lembut. Bulan purnama paling indah yang pernah dilihat oleh Tsuna dan kawan-kawan.
"Sa-salahku…ini salahku," gumam gadis itu dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.
"Cepat lari! Anak kecil dan perempuan yang bawa bayi cepat ke arah sini!"
Gadis itu menolehkan kepalanya mendengar suara yang familier. Dia segera berlari ke arah sumber suara.
"Nenek!"
Seorang Nenek tua terlihat kaget saat menolehkan kepalanya dan memeluk sang gadis yang berlari ke arahnya.
"Kau tidak apa-apa?" Nenek itu dengan segera memeluk cucunya dengan perasaan sayang dan khawatir.
"I-ini salahku…bulannya..ini karena aku diluar saat purnama," Gadis itu terduduk memeluk neneknya sambil menangis dan gemetar.
"Bukan, ini bukan salahmu," Nenek itu mengelus punggung gadis itu dengan sabar.
"Ta-tapi-,"
"Ini bukan salahmu. Ada pengkhianat yang menjual tempat persembunyian kita kepada pasukan kerajaan. Kekuatanmu, bukan untuk menyakiti ataupun membawa bencana untuk orang lain, tetapi melindungi mereka,"
"Ketua, tim pelindung sudah terdesak!"
"Kita kalah jumlah, sudah banyak korban yang tumbang!"
Nenek itu langsung menoleh cepat dengan tatapan khawatir. Kekuatan penyihir bulan biasanya hanya dimiliki oleh perempuan, makanya laki-laki klan umumnya mengggunakan cermin milik istri mereka yang dapat berguna menyimpan kekuatan. Kalau begini, cermin yang dimiliki hampir kehabisan kekuatan karena dia sudah menyuruh sebagian besar perempuan melarikan diri.
"Dengar, penghkianat itu mengetahui kekuatanmu yang berbeda dengan penduduk lainnya. Pasukan istana mencari kekuatanmu. Pergilah, nak. Pergi jauh-jauh dari tempat ini. Bulan purnama biru ini pastinya membangkitkan kekuatan milikmu," ucap Nenenk itu sambil membuka sebuah bungkusan yang dibawanya.
Dia mengeluarkan sebuh kotak kayu dengan ukiran yang sangat familier bagi Tsuna dan teman-temannya.
"Itu, sama dengan kotak ini," gumam Gokudera
"Nak, ini adalah cermin biru milikmu. Bawalah ini pergi," ucap Nenek itu sambil memberikan kotak kayu itu kepada gadis itu.
"Ta-tapi aku tidak bisa meninggalkan Nenek dan penduduk lainnya-,"
"Pergilah! Kekuatanmu itu tidak boleh sampai jatuh ke tangan mereka! Kau harus pergi, demi orangtuamu, klanmu dan demi aku," ucap Nenek itu dengan tegas.
Tanpa melihat ke arah gadis itu, sang Nenek bergabung bersama sekumpulan penduduk yang memegang cermin dan menggunakan sihir mereka untuk berusaha menghalau para pasukan kerajaan.
Gadis itu terdiam dan menggigit bibirnya, berusaha menahan tangisnya saat melihat neneknya dan seluruh penduduk desa berjuang mengusir para pasukan. Dia menguatkan tekadnya dan membalikkan badannya, kembali berlari ke arah hutan.
"Selamat tinggal cucuku sayang, Selena," gumam Nenek gadis itu dengan air mata menetes dari wajahnya.
XXXXX
"Dia kabur ke arah sana!"
"Cepat kejar!"
"Penyihir biru itu harus kita tangkap hidup-hidup!"
Selena dengan napas terengah-engah sembunyi di belakang sebuah batu besar. Napasnya memburu, menciptakan asap dari uap karena udara yang dingin karena hampir memasuki musim dingin.
Selena menatap kotak di tanganannya dan membukanya, melihat isi dari kotak itu adalah cermin kecil berwarna biru dengan tali yang dapat dikalungkan.
"Muu? Kenapa kotak yang kita pegang tidak ada isinya?" Mammon mengintip kotak yang dipegang Fon dan mengernyitkan dahi.
Teman-temannya juga ikut mengintip kotak yang dipegang oleh Fon. Tidak ada isinya. Perhatian mereka kembali teralihkan pada Selena.
Gadis itu melihat ada tebing karang yang tidak jauh darinya. Dia mengendap-endap ke belakang tebing itu ketika para pasukan mulai menjauhi tempatnya.
Di belakang tebing itu, dia mengambil sebatang kayu dan dengan cepat membuat lingkaran sihir. Setelah itu, dia mengambil batu yang lancip dan duduk di tanah. Dia mengangkat batu itu tinggi dan menusuk telapak tangan kirinya dengan batu itu, membuat Tsuna dan yang lainnya membelalakkan matanya dan terkejut.
Dengan bibir berdarah karena digigit, menahan teriakan sakit, Selena mengambil cermin birunya dan meneteskan darahnya ke atas cermin itu. Perlahan, cermin itu bersinar. Gadis itu mengarahkan cerminnya ke arah bulan sambil membaca mantra.
Tubuh gadis itu segera dikelilingi cahaya berwarna biru perak yang sangat tenang, begitu juga dengan lingkaran sihir yang dibuatnya.
"Hei, disana ada cahaya aneh!"
"Ayo periksa!"
Samar-samar mereka mendengar suara prajurit yang datang. Selena memejamkan matanya perlahan. Dia menggunakan sihir teleportasi dengan kekuatan sihir yang sangat besar.
'Kumohon, bawa aku ke tempat aman yang jauh dari sini! Aku tidak peduli dimanapun, kumohon!' Selena berulang kali berdoa di dalam hati bersamaan dengan sosoknya yang mulai menghilang.
Saat para prajurit itu datang, mereka tidak menemukan siapapun di belakang batu karang.
"E-eh?"
Tsuna dan teman-temannya merasakan tubuh mereka seperti ditarik. Tiba-tiba mereka seperti berada di dalam lorong black hole. Tiba-tiba sesosok tubuh melayang melintasi mereka.
"Si..apa?" Selena dengan kesadaran yang mulai menghilang menatap Tsuna dan kawan-kawannya sebelum matanya terpejam.
"Hi-hiee! Dia bisa melihat kita!" Tsuna memekik kaget.
"Sepertinya tempat ini adalah distorasi ruang yang dilewati penyihir saat melakukan teleportasi," ucap Mammon melihat sekeliling mereka.
"Pantas saja, makanya gadis itu jadi bisa melihat kita,"
"Hei, kelihatannya gadis itu pingsan karena kehabisan darah?" Rika berniat mendekati gadis yang melayang menuju sebuah cahaya di depan ketika tangannya di tahan oleh Xanxus.
"Tidak boleh Rika. Kalau kita melakukan apapun padanya, kita bisa merubah masa depan," ucap Reborn dengan tatapan memperingatkan.
"Ah," Miyuki melihat Selena hilang ditelan cahaya.
Bersamaan dengan itu, mereka juga ditelan oleh cahaya. Saat mereka mengerjapkan mata mereka, mereka memandang sekeliling mereka dan berada di sebuah taman yang tertutup salju. Reborn dan Xanxus mengerutkan dahi mereka merasakan taman itu terlihat sangat familier.
"Lihat,"
Fon mengarahkan pandangannya pada gadis tadi yang saat ini terbaring di tengah-tengah salju. Dapat dipastikan gadis tadi pingsan.
"Hei, kau mau kemana?"
"Aku mendengar suara,"
Tsuna dan yang lainnya mengarahkan pandangan mereka ke tembok tanaman tinggi. Dari sisi samping tembok, muncul seseorang dengan rambut pirang platina.
"Itu..,"
"Alaude-san?" Tsuna membelalakkan matanya terkejut.
Alaude yang melihat seorang gadis tergeletak di taman, mendekatinya perlahan.
"Ada apa Alaude?" sesosok laki-laki dengan pakaian Jepang menyusul Alaude dan melihat seorang gadis di dekat Alaude.
"Ugetsu-san!" Yamamoto terlihat kaget melihat Ugetsu.
Reborn menurunkan fedoranya. Pantas saja dia merasa familier dengan tempat ini. Ada dua orang Guardian Primo, dengan kata lain ini adalah markas Vongola di masa lalu.
"Penyusup?" Ugetsu menatap gadis di sebelah Alaude dengan curiga.
"Tidak. Kelihatannya dia tidak sadarkan diri," ucap Alaude saat membungkukkan badannya dan menatap wajah gadis itu.
Keringat membasahi dahinya dan wajahnya sangat pucat. Mata Alaude memicing melihat pakaian gadis itu yang kotor karena tanah dan bercak darah. Pandangannya terarah pada tangan kiri gadis itu yang terluka dan masih mengalirkan darah, membasahi salju di bawahnya, membuat noda berwarna merah di permukaan putih itu.
Alaude meneliti pakaiannya yang sama sekali tidak cocok digunakan di cuaca bersalju seperti saat ini. Entah kenapa, Alaude sama sekali tidak merasakan bahaya dari gadis itu. Dia menggendong gadis itu dan berdiri.
"Eh? Mau kau apakan dia?" Ugetsu menatap Alaude dengan heran.
"Akan kuserahkan pada Ele untuk dirawat," ucap Alaude sambil berjalan menuju sebuah bangunan.
"Sejak kapan kau jadi baik begitu, peduli pada orang pingsan?" Ugetsu mengikuti Alaude dengan dahi berkerut dalam yang tidak dipedulikan oleh yang bersangkutan.
To be continue…
XXXXX
Selamat tahun baru!
Maaf banget karena udah sangat lama nggak update, tapi sesuai janji, ini fanfict nggak bakalan Sacchan biarin terbengkalai.
Untuk yang udah setia membaca dan menuggu LSIA ini update, juga readers yang baru mengikuti LSIA, Sacchan masih nggak tau kapan lagi bakalan update, tapi kalau punya waktu luang akan diusahakan melanjutkan ini.
Jangan lupa R&R yaa, saran dan kritik dari kalian semangat buat Sacchan!
