Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Shera-Than: Haii Shera-Than! Ini pertama Sacchan bales review kamu yaa. Makasih ya udah baca LSIA walaupun ceritanya panjang banget dan jarang update! Chapter ini flashback waktu Selena sama Vongola generasi pertama. Semoga kamu suka! Untuk adegan romance mungkin beberapa chapter ke depan karena mau menyelesaikan masalah Ririn-chan dulu.
Caelia Yuuki: Yuuki~ makasih lho masih setia baca LSIA walaupun updatenya sangat, sangat lama. Makasih juga lho supportnya :) beberapa chapter udh dicicil, kayaknya bakalan update tiap bulan sih karena niatnya tahun ini, klo bisa sebelum lebaran namatin LSIA #amin.
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Vongola Primo
.
.
.
Giotto memutuskan untuk merawat Selena karena tidak merasakan bahaya dari gadis itu. Bahkan intuisinya mengatakan bahwa gadis itu akan menjadi keluarganya yang sangat penting. Elena lah yang setiap hari dengan sabar merawat gadis itu. Alaude selalu datang menjenguk gadis itu saat malam hari, dimana semua orang sudah terlelap. Sudah lima hari gadis itu tidak sadarkan diri karena kekurangan darah.
Saat pertama kali tersadar dan melihat Elena, dia tidak bicara sedikitpun. Begitu melihat kotak kayu miliknya dan tangannya yang dibalut, tanpa sadar gadis itu menjerit dan menangis kencang. Bayangan neneknya dan seluruh penduduk desa yang diserang oleh pasukan istana kembali terbayang.
Dia tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi orang-orang yang disayanginya. Hanya dia yang selamat. Dia yang menyebabkan hal itu terjadi, karena dia adalah penyihir bulan biru. Penyihir pembawa kutukan.
Setelah Elena memeluk gadis itu dan menenangkannya dengan sabar, beberapa anggota Guardian datang dan menanyakan keadaan pada Elena yang dibalas dengan senyum sedih dan gelengan kepala. Mereka melihat Selena kembali tertidur karena lelah menangis.
Waktu di sekeliling Tsuna dan teman-temannya kembali berputar.
"Lena!"
Tsuna melihat Elena bersama Daemon menghampiri Selena yang sedang memetik bunga di taman.
"Ada apa, Ele?" Selena tersenyum memandang Elena yang menghampirinya sambil tersenyum lebar.
"Kelihatannya waktu berjalan dengan cepat lagi," Fon mengamati Elena dan Selena yang terlihat akrab.
"Hm," Miyuki mengingat nama gadis itu.
Selena. Gadis yang ada di catatan Shimon dan berfoto bersama Shimon, Primo, Guardian dan Elena. Salah satu orang yang penting.
"Kamu hebat!" Elena langsung menghadiahi Selena dengan pelukan erat, membuat gadis tadi sedikit kaget.
"Eh?" Selena menatap Daemon bingung yang malah dibalas senyum bangga.
"Aku dengar kamu membantu Primo saat menolong orang-orang yang tinggal di dekat tebing! Kamu melindungi mereka dari tebing yang runtuh! Selain itu kamu juga melindungi Lampo yang hampir terkena ledakan!" ucap Elena dengan semangat menggebu-gebu.
"Ah, lihat! Selena memakai Vongola Ring!" Tsuna menunjuk tangan kiri Selena dimana terpasang cincin berwarna biru perak.
"Aku tidak pernah melihat cincin seperti itu?" Gokudera menatap heran cincin yang dipakai Selena.
"Apa kau tahu tentang ini, Reborn?" Fon menatap rekan Arcobalenonya yang biasanya serba tahu itu.
"Tidak. Ini juga pertama kalinya aku melihat cincin itu," Reborn mengerutkan dahinya heran.
"Ah, kekuatanku kan memang untuk menolong orang. Sejak kalian menerimaku tiga tahun yang lalu, aku sudah bersumpah setia pada Giotto akan menjadi Guardiannya dan melindungi Vongola, juga semua hal berharga di dalamnya," jawab Selena lembut sambil tersenyum, membuat Elena dan Daemon terenyuh.
"Uh, anak baik," Daemon mengelus puncak kepala Selena dengan perhatian, begitu juga dengan Elena, membuat Selena senang sekaligus malu.
Saat berada di desanya, tidak pernah ada yang peduli dan menghargai kerja kerasnya selain neneknya.
Trakk
"Nufufu, apa-apaan itu Alaude?" Daemon mengerutkan dahinya saat borgol yang ditangkisnya dengan tongkat ilusi kembali ke tangan Alaude.
"Hmp," Alaude membuang mukanya cuek, membuat Daemon menyeringai iseng.
"Hm? Kamu cemburu aku menyentuh Lena?" goda sang ilusionis sambil merangkul bahu Selena, membuat Selena bingung harus berbuat apa.
Alaude menatap tajam Daemon dan tangannya yang bertengger mesra di bahu Selena.
"Adaw!"
Daemon melepaskan tangannya dari bahu Selena karena tangannya baru saja dicubit oleh tunangannya.
"Besar juga nyalimu memeluk perempuan lain di depan tunanganmu?" Elena tersenyum mengancam, membuat Daemon panik.
"Bu-bukan begitu Elena sayang, aku hanya berniat-,"
"Ikut aku!"
Elena segera menarik Daemon pergi dari tempat itu. Sesaat, dia memberikan isyarat kedipan mata pada Alaude. Alaude mengakui dia harus berterima kasih pada Elena nanti.
"Baru kembali dari misi, Alaude?" senyum lembut muncul dari bibir Selena.
"Hm,"
"Aku berniat menghias ruang kantor dengan bunga agar lebih indah, ada bunga yang kamu sukai? Akan kuletakkan di ruanganmu nanti," Selena tersenyum sambil memetik mawar berwarna merah untuk Giotto.
"Ah," karena tidak hati-hati tangan Selena tertusuk duri.
"Kau tidak apa-apa?" Alaude mendekati Selena dan menyentuh tangannya.
"A-ah tidak apa-apa," Selena menjadi gugup saat tangannya di pegang Alaude.
Selama beberapa saat, mereka saling berpandangan.
Waktu kembali berputar di sekitar Tsuna dan teman-temannya.
"Ele, kamu tidak apa-apa?" Selena duduk di tepi tempat tidur dan menatap Elena dengan khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit tidak enak badan kok," Elena tersenyum menenangkan Selena.
"Maaf, andai aku bisa menyembuhkan penyakit dalam. Aku hanya bisa menyembuhkan luka luar," Selena menatap dengan rasa bersalah.
Elena menyentil pelan dahi Selena, membuat Selena menatap gadis itu yang menatapnya dengan tegas.
"Ini bukan salahmu, jadi jangan pasang wajah seperti itu. Aku akan segera sembuh, jadi tersenyumlah. Melihat wajah sedihmu membuatku merasa semakin sakit," ucap Elena sambil pura-pura terbatuk.
"Maaf," Selena tertawa kecil mendengar kata-kata Elena dan tersenyum, membuat Elena juga tersenyum.
"Hmm, ternyata Ririn tidak bisa menyembuhkan penyakit dalam," Reborn menganggukkan kepalanya melihat kejadian itu.
Sementara itu, diluar kamar Elena, Daemon dan Alaude berdiri di depan pintu kamar, mengurungkan niat untuk masuk mendengar suara tawa kedua perempuan itu. Mereka saling memandang selama beberapa saat dan menghela napas sambil tersenyum kecil. Mereka akan datang lagi nanti.
Waktu kembali berputar, kali ini Tsuna dan teman-teman berdiri di depan sebuah pemakaman. Mereka melihat banyak orang menangis dengan pakaian serba hitam.
"Ele,"
Mata mereka terarah pada Selena memegang sapu tangan dan menyeka air mata yang tidak berhenti. Di sebelahnya, Alaude memeluk bahu gadis itu, berusaha menenangkannya.
"Kalau aku ada disana, Ele pasti-,"
"Sst, Ele tidak akan senang melihatmu seperti ini," Alaude berusaha menghentikan pikiran negatif gadis disampingnya.
"Ini saat Elena meninggal,"
"Berarti,"
Pandangan mereka langsung tertuju pada Daemon yang menatap batu nisan dengan kepala tertunduk.
Waktu dengan cepat berputar, tiba-tiba menjadi malam hari.
Tsuna dan teman-temannya melihat Selena bersama dengan Alaude di sebuah gazebo berwarna putih di sudut taman. Gadis itu menundukkan kepalanya terlihat sedih.
"Aku melihatnya, Al, bulan purnama berwarna biru! Ini salahku, ini karena kekuatanku," Selena menyalahkan dirinya sendiri dengan suara bergetar.
"Ini bukan salahmu atau kekuatanmu, kau-,"
"Kau tidak mengerti!"
Alaude serta Tsuna dan teman-temannya kaget melihat Selena yang tiba-tiba berteriak.
"Aku berbeda dengan penyihir bulan lainnya. Penyihir yang lahir dari bulan biru itu terkutuk, Al. Keberadaanku saja bisa merenggut nyawa orang-orang yang kusayangi. Itu takdir the cursed blue moon witch,"
"Itu tidak benar,"
"Itu benar! Orang tuaku meninggal saat aku lahir karena diserang kerumunan serigala, sedangkan aku? Aku sama sekali tidak apa-apa! Nenek dan seluruh klanku juga mati. Semua itu terjadi saat bulan purna bersinar dengan warna biru perak. Saat bulan purnama, penyihir pemilik kekuatan bulan akan menggerakkan alam sekitarnya dengan kekuatan bulan. Kenapa…kenapa aku harus memiliki kekuatan ini? Aku hanya akan membawa kehancuran bagi Vongola!" Selena jatuh terduduk di lantai gazebo sambil menangis.
"Sst, tidak akan. Vongola tidak akan hancur. Bukankah ada Giotto dan para Guardian? Kami tidak akan membiarkan Vongola hancur. Aku tidak akan membiarkannya," ucap Alaude dengan suara menenangkan sambil memeluk gadis itu.
"Membawa kesialan?" Dino menggumam pelan tidak percaya.
Mereka tidak ingin percaya. Tidak mau. Tapi, Fon, Mammon dan Reborn mengingat dengan jelas bahwa Amel dan Edrich pernah bercerita bahwa tempat tinggal mereka terkena letusan gunung berapi saat Ririn lahir. Lalu, Amel dan Edrich yang terbunuh. Juga Hibari yang hampir sekarat. Mereka berusaha mengenyahkan pikiran negatif dan kembali fokus.
Waktu kembali berputar. Kali ini, Tsuna dan teman-temannya berada di salah satu sudut taman di malam hari. Mereka melihat Selena menggunakan jubahnya mengendap-endap ke taman. Mereka memperhatikan gadis itu yang bersembunyi di semak-semak.
"Aku akan mewujudkan keinginanmu, Elena. Menjadikan Vongola sebagai yang terkuat…aku akan melakukannya,"
Ternyata Selena sedang mengikuti Daemon yang terlihat aneh sejak kematian Elena. Selena menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang gemetar. Saat gadis itu mengangkat kepalanya menatap langit, Tsuna dan teman-temannya baru menyadari bahwa langit malam itu dihiasi bulan berwarna biru perak.
"Ele, apa yang harus kulakukan untuk melindungi Vongola dan orang yang kamu cintai? Kalau begini terus, karena kekuatanku akan ada kejadian buruk yang terjadi," gumam Selena sambil terisak kecil.
Tiba-tiba angin berhembus, pendar-pendar berwarna biru perak seakan turun dari langit, menyelimuti tubuh Selena dengan lembut.
"Tenanglah, kekuatanmu bukan kekuatan pembawa sial,"
Tsuna dan teman-temannya hanya bisa membelalakkan mata mendengar suara perempuan yang terdengar lirih seperti terbawa angin, tetapi lembut itu.
"Ele," Selena bergumam sambil menyeka air matanya.
"Bukankah kekuatanmu untuk melindungi orang-orang yang kamu cintai?"
Tiba-tiba muncul sosok Elena yang transparant di hadapan Selena.
"Kamu pasti bisa melakukannya. Ah, bukan. Hanya kamu yang bisa melakukannya, Lena,"
Bersamaan dengan kalimat terakhir dan senyum lembut dari Elena, bayang itu hilang.
"Ele," Selena kembali menghapus air matanya dan mendongakkan kepalanya menatap bulan purnama.
"Kamu benar," gumam Selena bersamaan dengan pendar berwarna biru perak yang menyelimuti tubuhnya. "aku tidak akan kalah. Aku akan melakukan apa yang kubisa dan melindungi Vongola serta semua yang berharga untukku walau harus melawan takdirku sendiri," ucap Selena dengan tatapan penuh tekad.
Waktu kembali berputar. Kali ini Tsuna dan teman-temannya berada di sebuah medan perang.
"Dimana ini?"
"Ini bukan di Vongola,"
Mereka menatap sekeliling mereka yang dikelilingi dengan suara ribut dan tembakan peluru.
"Cozarto, bagaimana ini?"
"Ukh!"
Pandangan mereka beralih menatap Shimon generasi pertama yang terdesak.
"Cozarto…Shimon?"
"Sialan, apakah Vongola membohongi kita?"
"Tidak mungkin! Giotto tidak akan melakukan hal seperti itu!"
Tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara.
"Butuh bantuan?"
Cozarto dan teman-temannya menoleh ke asal suara dan melihat seluruh anggota Guardian, kecuali Daemon berada di belakang mereka.
"Kalian!"
"Cozarto, awas!"
Seorang anak buah Cozarto memberi peringatan saat musuh mereka melemparkan granat ke arah Cozarto.
"Rifflessa,"
Selena memegang cerminnya dan mengarahkannya ke hadapan mereka, memantulkan semua peluru dan serangan yang mengarah pada mereka, termasuk granat yang hampir mengenai mereka.
"Lena!" Cozarto tersenyum senang melihat sosok yang sudah dianggapnya keluarga itu menolongnya.
"Kenapa kalian ada di sini?"
"Giotto menyuruh kami ke sini. Kelihatannya dia mengetahui rencana Daemon," jelas Ugetsu.
"Hei, hei, nanti saja bicaranya. Sebaiknya kita urus dulu yang ini," ucap Lampo sembil memperhatikan musuh mereka.
"Itu benar," Alaude sudah memegang borgolnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, Lena! Urus semua yang terluka, sisanya ikut aku!" ucap G memberi perintah.
Selena segera menyembuhkan mereka yang terluka.
Shimon dan Vongola berhasil memenangkan pertempuran itu. Setelah itu, mereka menyusun rencana agar Daemon tidak mengetahui keselamatan Shimon dengan cara Cozarto memutuskan agar Shimon hidup dibalik bayang-bayang.
Waktu di sekitar Tsuna dan teman-teman kembali berputar. Kali ini mereka berada di mansion Vongola. Terlihat mereka berada di dalam ruangan yang besar dimana terdapat satu meja panjang. Giotto duduk di ujung meja sedangkan seluruh Guardiannya berada di kanan-kiri meja itu. hanya Daemon dan Alaude yang tidak terlihat disana.
"Jangan bercanda! Aku tidak terima!"
Untuk pertama kalinya, mereka melihat Giotto berdiri dari kursinya sambil berteriak marah.
"Tidak ada cara lain! Lagipula, bukankah ini sama saja dengan saat kita membiarkan Shimon hidup dalam pengasingan?" Selena ikut berdiri dari kursinya dan memperlihatkan raut wajah sedih.
"Aku juga tidak bisa menerima pendapatmu, Lena. Kami tidak akan membiarkanmu hidup dalam pengasingan seorang diri," ucap Knuckle sambil menata Selena tegas.
"Kalian tidak bisa bersikap egois seperti ini! Perburuan penyihir sudah memasuki kawasan Italia, cepat atau lambat mereka akan sadar bahwa aku adalah penyihir!"
"Kami akan melindungimu," ucap Ugetsu dengan tegas.
"Kalau kalian bersikap begini, akan ada perpecahan di dalam Vongola yang mendukung dan membenci penyihir! Kalian lupa kalau kekuatanku sebagai penyihir bulan biru itu terkutuk? Para pendeta dari Perancis yang sudah menghabisi klanku pasti langsung menyadarinya dan hal itu malah akan menyebabkan pertikaian yang besar!" Selena berusaha menjelaskan pada teman-temannya dengan sedih.
"Tapi…," Lampo berniat berbicara ketika Selena menatap mereka sambil tersenyum.
"Seperti yang Cozarto bilang, bukankah walaupun kita berpisah, tetapi keturunan kita akan bertemu kembali dan kita semua akan bersama lagi dalam generasi yang berbeda," tambah Selena lembut, membuat semua yang ada di ruangan itu bungkam.
"Hhh, kalau perburuan penyihir sudah sampai seperti ini, memang kamu mau mengasingkan diri dimana? Bukankah hampir seluruh wilayah sudah terdoktrin oleh para pendeta?" menghela napas sambil menatap Selena.
"Asia," ucap Selena sambil tersenyum yang mendapat tatapan heran dari teman-temannya.
"Di Asia, banyak terdapat kepercayaan terhadap nenek moyang mereka sehingga tidak sedikit yang bisa menggunakan kekuatan sepertiku. Banyak yang memiliki kekuatan supranatural dan gaib yang nantinya bisa menyembunyikan identitasku sebagai penyihir," jelas Selena.
"Asia itu…tempat tinggal Ugetseu sebelumnya?" Lampo memandang dengan bingung.
"Hmm, di negara yang berbeda. Negara tropis di Asia," ucap Selena.
"Tepatnya?"
Selena tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pada teman-temannya.
"Tidak akan kuberi tahu. Kalian pasti berniat melakukan sesuatu," ucapnya yang membuat teman-temannya diam.
"Hhh," Giotto menghela napas sambil terduduk di kursinya. "kalau kau sudah membuat rencana seperti itu, bagaimana dengan Alaude?"
"Tolong…sembunyikan ini darinya," ucap gadis itu lirih dengan senyum sedih.
Waktu kembali berputar, Tsuna dan teman-temannya kali ini kembali ke taman Vongola di malam hari. Giotto, Ugetsu, G, Knuckle dan Lampo berdiri menatap Selena yang berdiri di atas sebuah lingkaran sihir. Tangannya memegang cermin yang diangkat di dapan dada.
"Jaga dirimu baik-baik," Knuckle tersenyum menatap Selena.
"Tch, jangan pernah kau berani berpikir negatif lagi!" G memberikan nasihat sambil menggit rokok di mulutnya.
"Walau kau berada di tempat yang lain, tetapi kita berada di bawah langit yang sama," Ugetsu tersenyum menatap Lena.
"Lena-nee, aku tidak akan melupakanmu!" ucap Lampo tegas.
Dia tidak ingin bersedih di saat kepergian Selena dan membuat sosok yang sudah dianggap kakak olehnya bersedih.
Giotto maju ke hadapan Selena dan tersenyum memandangnya.
"Terima kasih, sudah melindungi keluarga ini dan menjadi orang yang berharga bagi kami," Giotto tersenyum tulus kepada Selena yang dibalas dengan gelengan kepala.
"Seharusnya akulah yang berterima kasih kepada kalian. Walaupun kalian tahu kekuatanku, kalian tetap menerimaku apa adanya sebagai keluarga. Aku bahkan diizinkan menjadi Guardian Vongola. Bertemu dengan kalian adalah kebahagiaan terbesar untukku," ucap Selena sambil tersenyum lembut.
'Juga bertemu dengannya,' batinnya sedih.
Selena berjalan menuju Giotto dan melepas cincin di tangannya, lalu mengangkat tangan Giotto dan meletakkan cincin itu di tangan Giotto.
"Nanti, suatu saat keturunanku akan datang mengambil kembali posisi yang kutinggalkan. Sekali lagi, aku akan melindungi Vongola," ucap Selena dengan senyum.
Giotto menerima cincin pemberian Selena sambil tersenyum.
Selena kembali ke lingkaran sihir dan mengangkat cerminnya ke arah bulan purnama sambil mengucapkan mantera. Perlahan-lahan tubuh Selena terbungkus cahaya biru perak dan lingkaran di bawahnya bercahaya.
"Akh!" Selena terduduk di atas lingkaran sihir dengan satu tangan melingkari perutnya.
"Lena!"
Semua yang melihat memandang Selena khawatir, tatapi tidak bisa mendekatinya. Selena pernah mengatakan pada mereka bahwa sekali sebuah ritual dijalankan, tidak boleh dihentikan atau terganggu karena bisa menyebabkan bahaya yang cukup besar.
Giotto yang memperhatikan Selena memegang perutnya tiba-tiba merasakan intuisinya mengatakan sesuatu.
"Lena, perutmu…," Giotto membulatkan mata tidak percaya.
Mendengar kata-kata Giotto, G yang jenius menerka tidak percaya.
"Kau hamil?" G sampai menjatuhkan rokok di mulutnya.
"He-eh," dengan senyum keibuan, Selena menganggukkan kepalanya dan mengelus perutnya lembut membuat semua yang ada di sana terngaga.
"Kau, ah, kau bahkan tidak memberitahukan hal ini padanya?" Ugetsu menatap Selena dengan pandangan tidak percaya yang dibalas gelengan sedih oleh Selena.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Sebuah suara mengejutkan mereka.
"Alaude!"
Alaude berdiri dengan tatapan tajam dan aura marah melihat mereka.
"Jelaskan semuanya!"
Alaude menatap marah mereka semua. Giotto berusaha menenagkan Alaude dan menjelaskan segalanya.
"Aku yang minta agar mereka tidak memberitahumu. Kau masih dibutuhkan di sini. Tolong lindungi Vongola," ucap Selena sambil tersenyum yang perlahan-lahan mulai menghilang.
"Selena!" Alaude mengulurkan tangannya, berusaha merih gadis itu, tetapi terlambat.
Tiba-tiba dunia seakan berputar untuk Tsuna dan teman-temannya. Pohon, tanah dan langit di sekitar mereka menjadi berliuk lalu sekeliling mereka berputar.
"A-apa yang terjadi?"
Saat mereka sedang merasa panik, tiba-tiba terdengar sebuah suara.
"Tenanglah,"
Tiba-tiba sekeliling mereka berhenti berputar. Mereka berada di ruang distorasi waktu seperti sebelumnya.
"Senang bertemu dengan kalian, generasi ke sepuluh," sebuah suara terdengar dibelakang mereka, membuat mereka segera membalikkan tubuh mereka.
Selena memakai gaun terusan berwarna putih dan memakai jubah penyihirnya berdiri di belakang mereka. Senyum di wajahnya terlihat lembut dan hangat.
"Kau… Selena?" Gokudera memicingkan matanya melihat Selena ada di hadapan mereka.
"Eh? Bagaimana caranya? Bukankah tadi-," Tsuna tergagap bingung, membuat Selena tertawa kecil.
"Tenanglah, Vongola Juudaime. Yang tadi kalian lihat adalah kepingan ingatan yang sengaja kutinggalkan," ucap Selena pada mereka.
"Kamu tahu…," kata-kata Yamamoto terpotong oleh senyum gadis itu.
"Ya," ucapnya sambil berjalan dan berhenti di hadapan Tsuna. "ah, aku bisa merasakannya. Darah Giotto yang mengalir di dalam dirimu," ucap Selena sambil memejamkan matanya.
"Hei, apa yang membuatmu menarik kami kemari?" Reborn menatap Selena dengan curiga sambil sedikit menurunkan fedoranya.
"Aku ingin meminta tolong sesuatu pada kalian," Selena menautkan kedua tangannya dan meletakkannya di depan dada. "tolong, selamatkan Karina, keturunanku," ucap Selena dengan raut sedih dan serius.
"Apa maksudmu?" Miyuki merasakan firasat buruk mendengar perkataan Selena.
"Dia…dia menolak untuk bangun. Kami pemilik kekuatan bulan biru perak memiliki kenangan akan sejarah kami yang berbeda dengan penyihir bulan lainnya. Pemegang kekuatan bulan terkuat yang membawa bencana. Hal itu, membuatnya merasa hidupnya hanya akan melukai orang-orang yang dia sayangi. Tolong, sadarkan dia bahwa hal itu tidaklah benar," Selena menatap mereka dengan pandangan memohon.
"Apa yang pernah Giotto katakan padaku, aku baru menyadarinya sekarang. Kekuatan ini, untuk mencegah nasib buruk yang akan terjadi, bukan menyebabkan hal itu!"
"Kalau kau menyadari hal itu, bukankah seharusnya keturunanmu yang lain, yang merupakan pemegang kekuatan bulan biru perak mengetahuinya?" Reborn menatap Selena dengan pandangan curiga.
"Tidak. Karina adalah satu-satunya keturunanku yang memegang kekuatan bulan biru perak. Karena kematian kedua orang tuanya, dia mulai menyalahkan dirinya sendiri dan kekuatannya," ucap Selena sedih.
"Tapi, bagaimana cara kami melakukan hal itu?" Dino maju dan menatap Selena dengan serius.
"Bawalah ini," Selena meletakkan cermin biru yang dikalungkannya ke dalam kotak yang dibawa Fon. "Ini adalah cermin miliknya," ucap Selena dengan senyum.
"Yang perlu kalian lakukan hanya meletakkan Karina ditempat yang terdapat cahaya bulan, lalu letakkan cermin ini di dekat tubuhnya. Saat cermin ini memantulkan bayangan, kalian akan masuk ke dalam alam bawah sadar Karina. Tetapi, tidak semua orang bisa memasuki nya dengan mudah, karena hanya orang yang diizinkan olehnya lah yang bisa memasukinya. Saat sudah di dalam sana, carilah anak itu," ucap Selena sambil tersenyum.
"Kekuatanku sudah habis, aku tidak bisa berada di sini lagi. Akan kukembalikan kalian ke dunia nyata," ucap Selena bersamaan dengan tubuh mereka yang bersinar.
Tiba-tiba sesaat sebelum mereka menghilang, Selena melihat sebuah sosok transparant mengikuti mereka. Sosok itu melayang dibelakang mereka dan tersenyum, mengedipkan satu matanya dengan satu telunjuk di depan bibir dan satu tangan lagi melambai padanya. Selena tersenyum kecil melihat sosok itu.
To be continue…
XXXXX
Selamat Valentine!
Ada yang lihat peristiwa Supermoon kemarin kah? Ada yang keinget Ririn nggak waktu liat bulannya? XD
Untuk yang menunggu kelanjutan LSIA akan di update bulan depan saat white day yaa
Btw seperti tahun kemaren, ada fanfic spesial valentine FonxFem!Mammon!
Kalo kalian ada request pairing bisa pm atau tinggalkan di kolom komentar
So, please review, feedback, request, kritik, saran dll yaa!
