Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Shera-Than: Hai, Shera-Than, dan terima kasih kembali karena sudah memberikan review! YamamotoXLotti mungkin agak susah karena main pairingnya DinoMiyuki sama si HibaRirin. Mungkin klo ada kesempatan atau ada ide dibuat spin-off aja mereka. Maafkan author yang telat update, padahal tinggal finishing tapi ketunda terus. Semoga cukup puas dengan chapter ini yang romacenya cuma nyempil dikit ga keliatan.
Caelia Yuuki: Yaa, akan di usahakan minimal tiap bulan update supaya nggak terbengkalai kayak tahun lalu. Aduhh, sayangnya Sacchan nggak buat SelenaAlaude berhubung mereka cuma muncul sekilas, jadi anaknya juga nggak dijelasin. Bukan, yang terakhir muncul di ending chapter sebelumnya bukan Ririn. Udah nggak lama lagi sih harusnya, cuman ya tergantung waktu aja klo bisa mau tamatin secepatnya karena nggak enak juga sama Ririn Miyuki yang entah kenapa kesannya terbengkalai karena tergoda buat fanfict lainnya #emanggasetia. Sequel mungkin klo ada waktu luang dan bisa buat, ada sih gambarannya, tapi mungkin mengingat LSIA ngaretnya udh begini dan chapternya banyak banget nggak dibuat deh. Yess, tunggu kelanjutan kisah dua pairing utama itu! Akan diusahakan dibuat semanis mungkin!
Happy reading~
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Memories
.
.
.
"Kita kembali," Tsuna bergumam sambil melihat sekeliling mereka.
Dino melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh. Matanya menatap langit malam dan bulan purnama yang menghiasinya.
"Selagi masih ada bulan purnama, aku ingin melakukannya sekarang juga," Dino menatap orang-orang di sekeliling mereka dengan serius.
"Baiklah, tapi Rika, kau harus istirahat," ucap Reborn saat menatap gadis itu.
"Eh? Tapi-,"
"Lihat kondisimu. Kalau saat bangun nanti Ririn melihatmu sakit, dia akan khawatir dan sedih," ucap Reborn yang membuat Rika hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.
"Karena tidak semua orang bisa memasuki alam bawah sadar Ririn, jadi orang yang ikut terbatas. Varia, Mukuro, aku ingin kalian mencari jejak laki-laki tadi kalau dia masih ada di Namimori," ucap Reborn dengan tegas.
"Kufufu, aku tidak sudi diperintah oleh mafia. Tapi, demi Ririn-chan yang manis, apa boleh buat," Mukuro bergumam sambil menggandeng Chrome dan menghilang perlahan.
"Xanxus, kau temani Rika saja," ucap Reborn melihat Rika yang terlihat tidak tenang. "ah, tidak. Bawa dia ke kamarnya sekarang, kesehatannya menurun," ucap Reborn.
Wajah Rika memang terlihat pucat dan terlihat lelah. Dia juga sedikit gemetar.
"Eh? Aku tidak apa- kyaa!" Rika mengerjap kaget saat tubuhnya diangkat oleh Xanxus tiba-tiba.
Di saat Rika masih berusaha mencernanya, Xanxus dengan langkahnya yang besar sudah masuk ke dalam rumah.
"Muu, Reborn, aku ikut ke tempat Ririn," ucap Mammon sambil menatap Reborn.
Melihat kemungkinan Mammon memiliki pengetahuan lebih dibandingkan mereka dalam hal ini, Reborn menganggukkan kepalanya.
Saat Reborn sedang memberikan perintah, Mammon merasakan tatapan seseorang kepadanya dan menolehkan kepalanya ke samping. Tatapannya bertemu dengan sang Ahli Bela Diri yang menatapnya dengan tatapan lembut. Fon melemparkan senyum lembut yang dibalas Mammon dengan membuang wajahnya, membuat Fon tersenyum kecil.
'Dasar tsundere,' batin Reborn melihat sang illusionis bertudung sambil mendengus.
Akhirnya yang berdiri di kamar Ririn adalah trio Arcobaleno, Tsuna, Miyuki, Hibari dan Dino. Dino meletakkan cermin biru kecil di samping kepala Ririn, Fon masih membawa kotak kayu sedangkan Mammon membawa cermin silver Ririn yang sudah pecah.
Tidak lama setelah Dino meletakkan cermin itu, muncul bayangan dari cermin itu. Tiba-tiba cermin itu mengeluarkan cahaya terang yang menyilaukan. Saat mereka membuka mata, mereka berada di sekeliling yang berwarna biru perak, terlihat terdistorasi.
"Apakah kita kembali ke masa lalu lagi?" Tsuna menatap sekelilingnya.
"Lihat!" Dino menunjuk sebuah lubang yang cukup besar, sebesar sebuah kolam di samping mereka.
Perlahan, muncul gambar di kolam itu. Kolam itu menunjukkan seorang gadis kecil berusia dua tahun yang sedang memegang bola di tangannya dan kucing kecil berwarna oranye di dekatnya.
"Karina, lempar sini!" seorang laki-laki yang terlihat berusia awal dua puluhan berkacamata dengan wajah datar sambil menggerakkan tangannya.
"Eh? Dia bicara apa?" Tsuna menggaruk kepalanya bingung mendengar bahasa asing yang diucapkan pria itu.
"I-itu, Ririn-chan?" Miyuki menatap gadis kecil berwajah datar yang sangat menggemaskan itu dengan tidak percaya.
"Benar. Itu adalah ayahnya Ririn, Edrich. Mereka berada di Indonesia dan Edrich berbicara menggunakan bahasa Indonesia," ucap Fon menjelaskan secara singkat.
"Mammon, apa kamu tak bisa gunakan kekuatanmu untuk membantu mereka?" Fon bertanya sambil menoleh ke arah Mammon.
"Muu, akan kugunakan kekuatanku agar kalian mengerti apa yang mereka katakan," ucap Mammon sambil menggunakan kekuatan Mist Flame nya.
"Wah, tumben kau tak minta bayaran," Fon tersenyum saat Mammon langsung menggunakan kekuatannya.
"Muu, siapa bilang? Karena kau yang menyuruh, kumasukkan ke tagihanmu," ucap Mammon sambil membuang wajahnya, membuat Fon hanya bisa memberikan senyum maklum sedangkan yang lain sweatdrop mendengarnya.
Kabut menyelimuti Tsuna, Miyuki, Hibari dan Dino. Hibari mengernyit tidak suka, mengingat si kepala nanas juga pengguna kabut, tapi menahan dirinya.
.
.
.
"Karin, sayang~, makan siang sudah siap!" sesosok perempuan berdiri di depang pintu sambil tersenyum lembut dan ceria, memanggil anak dan suaminya.
"Itu, Mama Ririn," Dino bergumam pelan pernah melihat wajah perempuan itu di leontin milik Ririn, sangat mirip dengan Ririn.
Sementara itu, mereka tidak menyadari tatapan menerawang ketiga Arcobaleno yang menatap keluarga kecil tersebut, terutama Amel dan Edrich yang merupakan teman baik mereka.
"Wah, kalian kelihatan senang sekali!" ucap Amel sambil mengambil Ririn yang digendong oleh Edrich.
.
.
.
Semua memperhatikan ekspresi datar Edrich dan Ririn kecil sambil sweatdrop.
'Datar begitu, darimana senangnya!'
Tetapi, pikiran itu hilang ketika Ririn kecil menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
"Ma-manisnyaa!"
Miyuki dan Dino memekik kecil dengan pipi memerah dan mata berbinar melihat keimutan Ririn.
"Hmm, sepertinya dulu saat kecil dia memang tidak sedatar itu," Fon mengingat-ingat kunjungan terakhirnya yang diikuti anggukkan kepala Reborn dan Mammon.
.
.
.
Tiba-tiba gambar di lubang itu menjadi kabur, lalu hilang. Selanjutnya menampilkan langit malam dengan hujan yang sangat deras, bahkan petir menggelegar
ZRRSSS
CTARR
BRAKK
BRAKK
Edrich yang sedang mengenakan jas labrotariumnya berjalan membuka pintu rumahnya heran, diikuti Ririn yang bersembunyi dibalik tembok. Malam-malam begini di tengah badai hujan, orang kurang kerjaan mana yang datang?
"Ya? Ada ap-,"
DUAK
"Ukh,"
Begitu pintu terbuka, seorang laki-laki dengan jas hitam dan berkacamata hitam memukul Edrich tepat di perutnya, membuat laki-laki itu membungkuk. Ririn yang melihat hal itu langsung berlari menuju ibunya yang sedang mencuci piring.
"Ada apa Karin? Kenapa berlari seperti itu?" Amel bertanya sambil tersenyum lembut saat Karin berlari memeluk kakinya. "takut dengan suara petir di luar?" Amel mengelap tangannya dengan kain dan menggendong putrinya.
"Amel, bawa Ririn ke laboratorium dan hancurkan semua penelitianku!" tiba-tiba Edrich berteriak dari depan pintu dapur sambil memegang perutnya. Satu tangannya memegang sebuah tabung berwarna biru.
"Ed!" Amel melebarkan matanya melihat kondisi suaminya, tapi mengikuti perintahnya.
Begitu sampai di laboratorium, Amel mengunci pintunya dan membuka sebuah lemari, mengeluarkan isinya, lalu meletakkan Ririn di dalamnya.
"Karin, tunggulah di sini sampai keadaan aman, jangan bersuara sedikitpun atau bergerak dari sini," ucap Amel dengan tatapan khawatir sambil mengecup dahi gadis kecil itu, setelah itu, dia menutup pintu lemari itu.
Amel segera mengambil sebuah kotak kayu yang di simpan di salah satu lemari, lalu berjalan menuju salah satu dinding. Tidak disangka, dia mengambil batu bata yang ada di dinding itu, membuatnya menjadi brankas kecil. Setelah dia meletakkan kotak itu di dalamnya, dia menyusun kembali batu bata itu seperti semula.
Amel mengambil cermin di sakunya, lalu mengambil pisau di atas meja dan menggores tangannya dengan pisau itu. Dia meneteskan darahnya di atas cermin yang segera membuat tubuhnya dan cermin itu bersinar.
"Ukh, kekuatanku melemah karena hujan," gumam Amel saat melihat kekuatannya tidak sekuat biasanya.
Amel menggerakkan tangannya, membuat seluruh yang ada di ruangan itu berantakan. Dia mengumpulkan berkas, dokumen, buku bahkan kertas yang tercecer di hadapannya.
"Holocaustum," gumam Amel.
Api menyala dan membakar tumpukan kertas itu. Amel menghela napas lelah sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan tangan.
BAKK
DUAKK
"Gawat!" Amel menatap panik pintu itu dengan takut, sekilas pandangannya terarah ke lemari tempat Ririn bersembunyi.
BRAKK
Pintu itu terbuka, dengan segera beberapa laki-laki berbaju hitam dan berkacamata hitam memasuki ruangan itu. Salah seorang membawa Edrich dengan kedua tangan ditahan ke belakang.
"Percuma saja, Amel," ucap sesosok laki-laki muda yang memasuki ruangan itu.
"Steven!" Amel terlihat terkejut melihat seorang laki-laki yang dikenalnya.
"Apa maumu, sialan!" Edrich yang sudah terluka menatap tajam Steven.
"Aku mau semua data penelitianmu terkait penyihir bulan, Edrich," ucap Steven sambil menunjukkan senyuman.
"Hah, tumpukan itu adalah semua hasil penelitianku!" ucap Edrich dengan penuh kemenangan sambil mengarahkan pandangannya ke arah tumpukan kertas yang sudah terbakar.
Api yang tadi menyala sudah mati karena kekuatan Amel yang melemah, menyisakan abu bekas pembakaran kertas.
"Hoo. Kau pintar, Edrich. Sangat pintar. Kau tidak mungkin lupa apa hasil penelitian yang kau lakukan. Kau akan memberitahukannya padaku. Terutama, kekuatan yang dimiliki oleh anakmu yang manis itu," ucap Stevan dengan senyum licik.
"Kau gila! Aku tidak sudi memberitahukannya padamu!" ucap Edrich sambil menatap Steven tajam dan marah.
"Sayang sekali, tapi pilihanmu hanya memberitahukan hasil penelitianmu, atau aku akan menggunakan anakmu sebagai objek penelitianku, Edrich," ucap Steven.
"Aku menolak!"
Edrich tahu, kalau dia mengatakan hasil penelitiannya, Ririn tetap akan dalam bahaya karena penelitiannya berkaitan dengan kemampuan Ririn.
"Sayang sekali. Kalau begitu selamat tinggal, Edrich," Steven menyunggingkan senyum kejam sambil mengangkat pistolnya perlahan.
"Jangan!" Amel berusaha menggunakan kekuatannya untuk menciptakan pelindung di hadapan Edrich
DOR
PRAKK
"Ugh,"
Pelindung yang diciptakan Amel terlalu lemah sehingga pecah dan peluru itu menembus dada kiri Edrich.
Ririn yang mengintip dari celah-celah lemari menatap dengan mata melebar.
"Ti-Tidakk!" Amel segera berlari ke arah Edrich, berusaha meraih tubuh itu ketika tangan Steven menggenggam lengannya.
"Aku masih membutuhkanmu, Amel,"
"Le-lepaskan! Pembunuh!"
Steven mengernyitkan dahinya dan memutar tubuh Amel sehingga menghadapnya. Amel menatapnya sengit dengan air mata membasahi wajahnya. Satu tangan Steven meraih dagu Amel, sedangkan tangannya yang lain masih menahan satu lengan Amel yang memegang cermin.
"Amel, kamu itu cantik. Sayang sekali kalau harus berakhir bersama pria menyedihkan ini. bagaimana kalau kau ikut denganku saja?" ucap Steven sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Amel.
PLAK
"Jangan bercanda! Aku tidak sudi!" ucap Amel tegas sambil menatap Steven tajam.
"Hmm, perempuan pemberani," Steven menyentuh pipinya yang memerah sambil menjilat bibirnya.
"Lepaskan!" Amel mendesis tajam sambil berusaha melepaskan genggaman Steven.
PLAK
CTARR
Suara tamparan Steven dan bunyi petir yang menggelegar bergema di laboratorium itu. Rasa sakit di pipinya tidak membuat Amel gentar ataupun takut. Dia membalas tamparan Steven dengan tatapan tajam penuh kebencian.
BRAKK
"Lepaskan Mama!"
Mata Amel terbelalak kaget melihat Ririn kecil memukuli kaki Steven. Melihat mamanya dipukuli membuat gadis kecil itu tidak bisa diam saja. Matanya basah karena takut, tetapi dia lebih tidak ingin mamanya terluka
"Karin, jangan!"
DUAK
Steven menendang Karin hingga tubuh gadis itu membentur lemari.
"Karin!"
Darah menetes dari belakang kepala gadis kecil itu.
.
.
.
"Laki-laki itu," Dino mendesis tajam.
Aura membunuh dan marah menguar tajam dari tujuh orang yang sedang melihat kejadian itu. Bahkan, Tsuna dan Fon yang biasanya hampir tidak pernah menunjukkan amarahnya kini menunjukkan raut wajah yang mengeras.
Reborn, Fon dan Mammon membuat catatan untuk membuat laki-laki itu menyesal pernah hidup di dunia ini karena berani macam-macam dengan sahabat mereka-walaupun Reborn dan Mammon tidak akan pernah mengakuinya.
Tidak akan cukup kalau dia langsung mati atau dibawa oleh Vindice. Mungkin untuk permulaan mereka akan mengikatnya di motor bagian depan Skull (mengingat cara menyetirnya yang sangat tidak aman), lalu Lal, Colonello dan Reborn akan menjadikannya sasaran tembak, setelah itu Fon menjadikannya sasaran pukul, menjadi tikus percobaan Verde dan terakhir merasakan ilusi dari Mammon yang membuatnya tidak akan pernah bisa memejamkan mata. Ah, untuk makanan sehari-harinya sepertinya masakan Bianchi lebih dari cukup.
Mungkin, setelah itu semua mereka baru bisa merelakan laki-laki itu dibawa oleh Vindice. Atau tidak.
.
.
.
Amel mengigit tangan Steven dan segera berlari ke arah Ririn. Dengan cepat dia segera berusaha menyembuhkan Ririn.
"Sialan!" Steven mengangkat pistolnya.
Melihat apa yang dilakukan Steven, Amel segera membuat pelindung dengan kekuatannya yang tersisa. Ririn yang kesadarannya mulai kembali menatap mamanya yang terlihat panik. Amel segera memeluk Ririn erat.
DOR
Pelindung yang dipasang oleh Amel terlalu lemah, sehingga peluru itu menembus pelindung itu dan mengenai tubuh Amel.
"Ukh!" Amel mengerjapkan matanya merasakan panas di punggung hingga dadanya.
Mata Ririn membulat kaget melihat darah mulai merembes dari bagian dada baju mamanya.
"Ma…ma?" gumam Ririn sambil meletakkan tangannya ke belakang punggung mamanya, merasakan cairan hangat dan lengket mengenai tangannya.
Pandangan Ririn mengarah pada sosok papanya yang sudah tergeletak di lantai, tidak bergerak. Jas putih yang digunakannya kini berwarna kemerahan karena darah yang mulai tergenang di bawah tubuhnya.
"Karin, pegang cermin ini. Jangan pernah lepaskan, karena ini akan menjadi sumber kekuatanmu untuk sementara nantinya. Saat waktunya tiba, lepaskanlah segel ini. Ingatlah, kekuatanmu adalah kekuatan untuk melindungi," ucap Amel sambil menyentuh dahi Ririn dengan jarinya, membuat sebuah rantai dari cahaya perak melilit tubuh Ririn dan hilang perlahan yang tidak dapat dilihat oleh Steven dan bawahannya.
"Hahaha! Bodoh! Seharusnya kalian menyetujui tawaranku dan bekerjasama denganku!" Steven tertawa jahat sambil mengeluarkan rokok dan menyalakannya. "Amel, sayang sekali malam ini hujan ya?" Steven bertanya dengan nada mengejek sambil menendang keras tubuh Amel yang memeluk Ririn, membuat Ririn kembali membulatkan matanya takut.
"Ka..kau..mengkhi..anati…kami,"
Amel menatap penuh dendam Steven. Laki-laki yang tidak sengaja melihat Amel menyembuhkan Ririn dan memaksanya terlibat dalam sebuah penelitian. Edrich sudah menolak, tetapi dia bersedia mundur setelah memaksa mengetahui kekuatan yang dimiliki Amel. Yang ternyata, tidak ditepatinya.
"Bukankah aku sudah membuat tawaran tadi? Tapi kalian menolaknya,"
"Kamu..ti..dak..akan..bi..sa..mendapat..kan..yang..kamu..ingin..kan," Amel berkata sambil menunjukkan senyum mengejek. "a..ku..menyembunyikan…kun..cinya," ucap Amel susah payah sebelum menutup mata untuk selamanya.
"Perempuan sialan!" ucap Stevan sambil menendang kencang tubuh Amel yang sudah tidak bergerak.
"Huh, sayang sekali dia mati. Padahal dia sangat menarik untuk diteliti,"
"Boss, kami sudah memeriksa semua yang ada di rumah ini. Tidak ada apa-apa di ruangan lain, sedangkan di ruangan ini semua penelitian sudah dihancurkan," lapor salah seorang laki-laki berpakaian hitam dan berkacamata.
"Huh, Edrich memang pintar. Dia memilih langsung menghancurkan semua penelitiannya," gumamnya kesal.
Pandangannya beralih pada Ririn kecil yang memeluk cermin kecil pemberian ibunya.
"Heh, dia bisa digunakan," ucap Steven jahat. "gadis kecil, jangan menyalahkanku atas hal ini. Kalau kamu mau, salahkan dirimu sendiri yang lemah dan tidak bisa berbuat apapun," ucapnya sambil tertawa jahat.
"Atau kau bisa menyalahkan dirimu yang lahir dari bulan terkutuk," tambah Steven sinis.
Ririn memandang kedua orang tuanya yang tidak bergerak dan berlumuran darah, lalu tubuh dan tangannya yang juga berwarna merah darah, terkena darah mamanya.
Dan saat itulah, Reborn, Fon, Mammon, Tsuna, Miyuki, Hibari dan Dino melihat cahaya yang hilang dari mata gadis itu.
Dia kehilangan emosinya.
.
.
.
"Dasar brengsek," Mammon mengumpat melihat semua kejadian itu.
Rasa marah tidak tertahankan atas apa yang terjadi kepada gadis kecil berumur tidak lebih dari tiga tahun itu.
Tiba-tiba gambar di lubang itu menjadi gelap, berganti dengan potongan-potongan adegan yang terus berubah. Ririn yang berada di ruangan tanpa udara, duduk di kursi dengan listrik, disuntikkan obat-obat tidak jelas, di masukkan dalam tabung berisi air.
Berada di Estraneo Famiglia dan bertemu Mukuro. Hingga, gambar berakhir saat dia bertemu dengan Dino dan lubang itu tertutup.
Suasana menjadi tegang dengan aura marah dan membunuh beredar di sekitar mereka. Melihat apa yang dialami oleh gadis itu. Benar-benar bukan hal yang pantas dialami oleh anak berumur dua tahun. Kebahagiaannya direnggut oleh laki-laki itu, Steven.
Sebuah sosok memandang ketujuh orang itu dengan raut wajah sedih dan dahi berkerut. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya. Bibirnya tertarik ke atas, mengembangkan senyum jahil di wajah manis dan imutnya.
Dia mendekati ketiga sosok batita diam-diam dan memeluk ketiganya bersamaan dengan posisi Reborn di ujung kanan, Mammon di ujung kiri dan Fon di tengah.
"Muu!"
"Eh!"
Reborn, Mammon dan Fon terkejut saat merasakan tubuh mereka terangkat dan berada di dalam sebuah pelukan yang terasa sangat familier. Ketiga batita itu mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menggendong mereka dan hanya bisa membulatkan mata mereka kaget, begitu juga Tsuna, Miyuki, Hibari dan Dino yang sebelumnya terkejut karena ketiga Arcobaleno itu tiba-tiba terangkat oleh sesuatu dan melihat sosok yang memeluk mereka.
"A-Amel!"
Suara terkejut dan tercekat berhasil keluar dari mulut Reborn, Fon dan Mammon. Orang yang baru saja mereka lihat terbunuh kini sedang memeluk mereka.
"Lama tidak bertemu, kalian. Kelihatannya Leon, Lichi dan Fnatasma juga sehat ya," ucap perempuan itu lembut.
"Hi-hie! Tapi-dia-barusan," Tsuna tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya yang terputus-putus, membuat Amel tertawa.
"Anak-anak yang manis. Mereka siapa?" Amel menundukkan kepalanya dan menatap ketiga Arcobaleno yang berusaha menguasai diri mereka.
"Vongola Juudaime, Vongola Guardian, Informan dan Cavallone Juudaime," jawab Reborn cepat, membuat Amel memiringkan kepalanya sambil menunjukkan senyum bingung.
"Muu, percuma. Amel tidak tahu 'dunia' kita," ucap Mammon.
Reborn menurunkan fedoranya untuk menyembunyikan ekspresinya. Karena terkejut melihat Amel, dia sampai lupa kalau Amel sama sekali 'buta' tentang dunia mereka. Dia tidak tahu apa-apa tentang mafia karena Edrich memutuskan kontak total tentang segala hal yang terkait mafia karena tidak ingin menarik Amel kedalam dunia mereka yang gelap.
Semua, kecuali kontak dengan Arcobaleno. Orang-orang terdekatnya sekaligus yang dia percayai.
"Perkenalkan ini adalah Tsuna-kun, Kyoya-kun, Miyuki-chan, dan Dino-kun," ucap Fon sambil memperkenalkan mereka satu-persatu dengan posisi masih digendong oleh Amel. "Dino-san telah mengangkat Karina sebagai adik angkatnya, sedangkan mereka adalah teman-teman Karina. Ah, Kyoya-kun dan Miyuki-chan adalah keponakanku," ucap Fon sambil tersenyum.
"Eh? Wah!" Amel terlihat terkejut dan memandang mereka dengan tatapan berbinar-binar, membuat mereka sedikit tidak nyaman dan tanpa sadar jantung mereka berdebar terutama karena wajahnya yang sangat mirip dengan Ririn.
Jujur saja, walaupun statusnya ibu-ibu tapi dia terlihat manis dan imut. Dari penampilan saja kelihatannya umurnya tidak beda jauh dengan Miyuki. Mereka kaget melihat Ririn versi ceria dan dewasa di hadapan mereka.
"Muu, cukup perkenalannya. Bisa kau lepas pelukan ini?" Mammon mengerucutkan mulutnya sebal.
Dia tidak suka dipeluk seperti ini, terlebih kalau yang di sebelahnya adalah ahli kempoka yang selalu mengumbar senyum menyebalkan.
Sungguh, itu karena dia memang tidak suka pada si Ahli Beladiri kok, bukan karena jantungnya yang selalu berdetak lebih cepat saat berdekatan dengannya.
"Tidak mau~, Viper," Amel tersenyum lebar sambil menatap ketiga Arcobaleno di pelukannya.
"Sekarang namaku Mammon!"
"Begitukah?" Amel menatap Mammon dengan pandangan bertanya.
"Kenapa kau bisa ada di sini?"
Sebelum Mammon sempat membuka mulutnya untuk membalas kata-kata Amel, Reborn melemparkan pertanyaan dengan tajam yang malah mendapat balasan berupa senyum lembut dari Amel.
"Kalian melihatnya, sihir yang kugunakan kepada Karin sebelum aku mati. Aku 'menitipkan' kekuatanku padanya, sebagian dari jiwa dan kekuatanku untuk melindungi dirinya dari penelitian Steven," jelas Amel dengan sorot mata sedih walaupun bibirnya masih menyunggingkan senyum.
"Kalau begitu, apakah kau bisa membantu Karina bangun dengan kekuatanmu?" Fon menatap Amel penasaran.
"Tidak. Kekuatanku sudah mulai habis karena dia menggunakan kekuatanku dengan cara yang 'salah' sebelumnya, aku tidak bisa mencapai tempat dia 'berada' sekarang. Tapi kalian bisa," ucap Amel dengan senyumnya.
"Bagaimana caranya?" Dino menatap Amel dengan penasaran dan khawatir.
Melihat ekspresi keempat orang di hadapannya, Amel tersenyum lembut. Dia sangat bersyukur anaknya mendapatkan teman-teman yang tulus perhatian dan peduli padanya.
"Kalian bisa berada di sini, karena Karin mengizinkan kalian. Aku memberi jalan untuk Reborn, Vip-Mammon, dan Fon, tapi tidak untuk kalian," jelas Amel lembut.
"Kalian bisa menemukan Karin dan membuatnya terbangun dari pelindung yang dibuatnya sendiri. Karena, anak itu menyalahkan dirinya dan kekuatan bulan biru miliknya atas semua hal buruk yang menimpa orang-orang di sekitarnya," ucap Amel sambil menurunkan ketiga Arcobaleno itu.
"Kekuatanku tinggal sedikit, ini akan bisa menuntun kalian ke tempat Karin berada," ucap Amel sambil memajukan kedua telapak tangannya.
Dari telapak tangan Amel, muncul cahaya berwarna perak transparan yang perlahan-lahan melingkari Tsuna, Dino, Hibari dan Miyuki, juga ketiga Arcobaleno. Sebuah bola cahaya perak berukuran sedang melayang diatas mereka.
"Ikuti cahaya itu, dia akan mengantarkan kalian menuju ke tempat Karin berada," ucap Amel bersamaan dengan kakinya yang mulai menghilang menjadi cahaya-cahaya berwarna perak.
"Amel,"
"Kekuatanku sudah habis, selanjutnya kalian yang akan meyakinkan anak itu. Tolong, buat dia sadar bahwa kekuatannya tidak membawa bencana," ucap Amel sebelum menghilang sepenuhnya.
Reborn menurunkan fedoranya, untuk menyembunyikan ekspresinya.
"Ayo kita ikuti itu," ucap Reborn sambil menunjuk bola cahaya di atas mereka.
Mereka mengikuti bola cahaya berwarna perak itu, tidak tahu sudah sejauh apa mereka berjalan karena pemandangan di sekitar mereka sama sekali tidak berubah. Hingga tiba-tiba mereka memasuki tempat distorasi ruang yang didominasi warna biru gelap dan abu-abu gelap, membuat perasaan dan suasana tidak enak.
Saat melihat pemandangan di depan mereka mulai berubah, mereka tahu mereka mulai mendekati tempat Ririn berada. Mereka tiba-tiba ada di sebuah padang rumput yang luas dengan langit malam bertabur bintang dan sebuah bulan purnama berwarna biru perak. Tempat yang indah, sekaligus terasa sedih.
"Ririn!"
Dino berseru saat melihat sesosok gadis kecil mengenakan dress berwarna putih di bawah sebuah pohon besar dengan lutut dilipat menempel di dada dan kedua lengan yang dilipat. Kepala gadis itu menunduk, dahinya menempel pada lengannya.
BUGH
"A-apa?" Dino mengernyitkan dahinya sambil mengusap wajahnya yang memerah bingung.
Dino baru saja membentur sesuatu yang tidak terlihat ketika berniat mendekati adiknya sambil setengah berlari.
"Hmm, pelindung ya," Reborn memajukan tangannya ke depan, menyentuh sebuah dinding tak kasat mata.
Tiba-tiba bola cahaya yang ada di atas merea terbang menembus dinding transparan itu dan hancur. Seketika, mereka melihat ada rantai berwarna biru perak yang seakan menjadi dinding, membatasi mereka dan tempat Ririn berada. Tidak hanya itu, mereka melihat sebuah gambar di atas pohon tempat Ririn berada.
Gambar sebuah desa yang terkena letusan gunung berapi, kedua orang tuanya yang mati, dan Hibari yang terluka parah.
"Ririn!"
"Ririn-chan!"
Mereka berusaha menarik dan memukul rantai di hadapan mereka, bahkan Reborn sudah mencoba menggunakan Leon yang menjadi pistol. Tetapi, tidak mempengaruhi rantai itu sedikitpun.
"Muu, coba kalian tenang sedikit," ucap Mammon sambil menunjuk gambar yang terus berubah-ubah.
"Kalau kamu mau, salahkan dirimu sendiri yang lemah dan tidak bisa berbuat apapun,"
"Atau kau bisa menyalahkan dirimu yang lahir dari bulan terkutuk,"
"Ini salahmu! Penyihir bulan biru yang selalu membawa kutukan!"
"Hehehe, lihat Karina! Ini kekuatanmu, kekuatan yang sangat hebat! Dan, karena kekuatanmu inilah orang-orang yang ada di sekitarmu selalu berada dalam bahaya,"
Mereka membulatkan mata ketika menyadari suara samar yang terdengar ternyata merupakan potongan ingatan Ririn tentang kata-kata Steven.
"Tidak…tidak…semuanya salahku,"
Mereka mengarahkan pandangan mereka ke arah Ririn mendengar suara lirih yang seperti bisikan terdengar, dan kalau dilihat gadis kecil itu terlihat gemetaran.
"Ririn, itu bukan salahmu!" Tsuna tiba-tiba berteriak sambil memukul rantai yang membatasi mereka dengan kedua tangannya.
"Ck, suara kita tida terdengar!" Dino menggumam kesal saat menyadari Ririn tidak bereaksi.
"Mungkin kita harus menghancurkan rantai ini dulu?" Miyuki menyentuh rantai di depan mereka dengan dahi berkerut.
"Kalau begitu, biar kucoba," ucap Dino sambil mengeluarkan cambuknya.
Dia lalu memukulkan cambuknya ke rantai itu dan terlihat terkejut.
"Flame ku tidak bisa digunakan," ucap Dino sambil menatap cambuknya.
Mendengar perkataan Dino, mereka langsung mencoba menggunakan flame mereka. Seperti yang dikatakan Dino, flame mereka tidak keluar.
"Mungkin…bukan dengan kekuatan, untuk menghancurkan rantai ini," ucap Tsuna sambil menatap kedua tangannya.
"Kau benar," gumam Reborn sambil memikirkan cara untuk menghilangkan rantai itu.
"Ririn, itu bukan salahmu! Kekuatanmu adalah kekuatan untuk melindungi, bukankah karena itu kau memberikan Mukuro-san darahmu? Untuk menolongnya dari penelitian Estraneo Famiglia!" tiba-tiba Miyuki berteriak, berusaha membuat Ririn berhenti menyalahkan dirinya dan menyadarkannya.
"Mu…kun?"
Tiba-tiba gambar di belakang Ririn menampilkan Mukuro yang ditemuinya.
"Ini…mungkin bisa berhasil," gumam Reborn.
"Ririn, bukankah karena kekuatanmu itu Rika menjadi lebih sehat? Kekuatanmu itu telah menolong nyawa Rika," ucap Reborn.
"Rika…nee,"
Gemetar di tubuh Ririn mulai berkurang, gambar yang ada pun berubah menjadi gambar Rika.
"Muu, itu benar! Bukankah kamu sudah membantu Boss dengan menolong Rika?"
"Walaupun hanya satu orang yang kamu bantu dengan kekuatanmu, bukankah bantuanmu itu menolong orang-orang di sekitar mereka?" Fon menimpali kata-kata Mammon
"Benar! Saat kamu menolong Mukuro-kun, kamu juga menolong Ken-kun, Chikusa-kun dan Chrome-chan! Saat menolong Rika-san, kamu juga menolong Xanxus-san!" melihat gambar di atas Ririn yang berubah-ubah, Tsuna berusaha agar gadis itu tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Itu benar! Bukan hanya kekuatanmu, keberadaanmu juga sangat membantu, karena kamu menjadi adikku, aku menjadi sangat senang karena keluargaku bertambah!" ucap Dino.
"Ka..kak?"
Kali ini kepalanya mulai terangkat walaupun wajahnya masih menunduk.
"Bukankah kau bilang kalau kau iri denganku karena kekuatanku yang bisa melindungi orang lain? Lalu, apa ka mau terus menjadi lemah, membiarkan orang itu mengambil dan melukai apa yang berharga bagimu?" ucap Hibari dengan
"Melukai…semuanya?"
Kali ini, Ririn mengangkat kepalanya dengan mata melebar. Gambar di atas pohon berubah-ubah dengan cepat, menampilkan semua orang yang pernah dikenalnya dan membantunya.
"Bukankah seharusnnya tugasmu untuk mencegah semua itu? Karena, kekuatanmu itu untuk melindungi apa yang berharga bagimu kan, Chibi-Herbivore!"
Tiba-tiba tubuh Ririn bersinar terang, membuat Tsuna dan yang lain menutup mata mereka... Saat cahaya menyilakan itu hilang, mereka mengerjapkan mata mereka menatap sekeliing mereka. Mereka sudah kembali ke dunia nyata.
"Uhh..,"
"Ririn!"
"Ririn-chan!"
Dino dan Miyuki segera menghampiri Ririn yang bergerak pelan di atas kasur. Perlahan, matanya terbuka menampilkan manik silver kebiruan itu.
"Kakak, Nee-chan, Master….semua," Ririn memandang semua yang ada di ruangan itu dengan tatapan lemah.
Dino segera menggenggam tangan Ririn dan tersenyum lega.
Tiba-tiba tatapan Ririn berhenti pada Hibari. Rasa bersalah dan menyesal terlihat jelas dari mata gadis itu.
"Vampire-san, maaf…maaf…," Ririn berkata dengan lirih, mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Kyoya sudah tidak apa-apa karena kamu. Terima kasih, Ririn," ucap Fon yang melompat ke kasur dan berdiri di samping bantal Ririn, mengelus kepala gadis itu lembut.
"Master, maaf. Ririn melanggar janji," Ririn bergumam dengan suara lirih.
"Ya, dan kamu menyesalinya. Asalkan kamu sudah mengetahui kesalahanmu dan menyesalinya, itu sudah cukup," ucap Fon dengan bijak.
"Ririn-chan, kelihatannya kamu masih lelah. Istirahatlah, kita akan membicarakan masalah hari ini besok," ucap Miyuki sambil mengelus kepala Ririn.
Ririn menganggukkan kepalanya, memejamkan kembali matanya. Satu-persatu keluar dari ruangan itu, berniat membiarkan Ririn beristirahat.
"Hm?" Tsuna yang keluar paling belakang merasakan intuisinya mengatakan sesuatu dan melihat kebelakang, menatap Ririn yang tertidur di atas kasur.
"Perasaanku saja kah?" Tsuna mengernyitkan dahinya sambil keluar dari ruangan itu dan menutup pintu kamar itu.
Begitu pintu kamar itu tertutup, Ririn membuka matanya.
"Maaf…maaf. Ini salah Ririn, semuanya, maaf kan Ririn," ucap Ririn sambil mengusap air mata yang mulai menetes dan bangkit dari kasur.
"Masalah ini, biar Ririn yang selesaikan sendiri,"
XXXXX
Holocaustum : Terbakar, bakar
Akhirnya berhasil update untuk bulan ini!
Jadi, kalo kalian sadar di ending chapter sebelumnya itu yang dilihat Selena, Amel.
Semoga kalian menikmati chapter yang agak suram ini ya, berhubung romancenya hampir nggak kerasa di chapter ini.
