Seongwu celingukan ketika berhasil masuk ke perpustakaan. Matanya awas mengedarkan pandangan ke tiap-tiap sudut perpustakaan guna menemukan sosok perempuan yang suka memakai kemeja garis-garis dan rambut panjang dikuncir kuda. Ia menyusuri lorong-lorong dari bagian sastra hingga jurnal-jurnal kedokteran dan berhasil menemukan sosok Minhyun yang tengah duduk pada bangku panjang di bagian tengah perpustakaan. Dengan earphone yang terpasang di telinga, gadis itu sibuk menggoreskan pensilnya di atas kertas.

Seongwu tersenyum lebar kemudian melangkahkan kakinya ke arah di mana perempuan yang ia cari sejak tadi berada. Ia berdiri di sisi kiri Minhyun, namun perempuan itu belum menyadari kehadirannya di sana. Seongwu mengulurkan sebuah bungkusan plastik putih yang cukup besar ke depan wajah Minhyun, membuat si gadis kaget dan langsung menengadahkan kepala ke arah Seongwu.

Ia melepaskan satu earphonenya di telinga kiri, lalu menerima uluran tangan Seongwu, dan menatapnya aneh. "Apa nih?"

Seongwu duduk pada kursi kosong yang berada tepat di sisi kiri Minhyun. Ia meletakkan tas di atas meja, kemudian meringis ke arah Minhyun. Ia menunjuk bungkusan tersebut dengan dagunya, "Ya buka aja sendiri, tuh."

Minhyun masih menatapnya dengan pandangan aneh, namun sedetik kemudian ia sudah mengalihkannya pada bungkusan yang sekarang di pegangnya. Ia mengintip sedikit dan terkejut ketika mengetahui apa yang menjadi isi bungkusan tersebut. Satu set watercolors isi 24 warna seharga uang saku Minhyun dua minggu, ditambah satu buah sketch book ukuran A3. "Seongwu, ini semua buat aku?"

"Ya iyalah, masa buat Jaehwan." Laki-laki itu berujar santai. Ia tersenyum kecil melihat reaksi kaget milik Minhyun.

"Dalam rangka apa kok tumben pake ngasih ginian segala?" tanya Minhyun

Seongwu nyengir, kemudian menjawab, "Gak dalam rangka apa-apa kok. Gue cuma pengen berbagi aja sama kaum yang kekurangan."

Minhyun mendengus, "Kurang ajar."

.

.

DAYBREAK

Episode #1: Drawing Each Other

.

.

"Eh tapi gak gratis."

Senyum Minhyun perlahan luntur. Ia melepas sebelah earphonenya untuk memastikan bahwa apa yang Seongwu ucapkan tadi benar. "Ah gak jadi deh, bawa aja nih. Aku gak butuh." Minhyun menyodorkan bungkusan putih itu ke arah Seongwu. Seongwu tersenyum, kemudian mendorong kembali bungkusan tersebut ke arah Minhyun. "Bayarnya gak pake duit. Gue tau lo kere."

Minhyun kesal. Dia tau dirinya tidak semampu Seongwu si anak Ibu Kota. Tapi untuk beli satu set watercolors mahal seperti itu, dia masih sanggup. "Trus? Pake apaan?"

Seongwu menggeser duduknya makin dekat dengan Minhyun. Ia kemudian nyengir lebar tepat di hadapan muka Minhyun, membuat si gadis mendorong dahinya mundur. "Kata anak-anak lo jago gambar ya?"

"Ya iyalah, orang kerjaannya tiap hari gambar. Kamu sendirikan juga."

Seongwu memundurkan kepalanya, membuat Minhyun bernapas lega. "Kalo gambar teknik mah anak sekelas juga bisa kali. Maksud gue sketsa wajah. Lo bisa gambar wajah ganteng gue kan?"

"Bisa. Mau digambarin di mana?" Minhyun kini bergerak untuk menyimpan earphone serta ponselnya ke dalam tas. Kemudian menyingkirkan buku gambarnya dan menyimpannya dalam tas juga.

"Itu di sketch book yang gue beliin." Seongwu menunjuk dengan dagunya.

"Katanya sketch booknya buat aku. Pake sketch book kamu sen-" Minhyun belum sempat melanjutkan, karena Seongwu dengan cepat memotong ucapannya. "Siniin hp lo. Mau gue kirimin foto."

Minhyun masih terdiam, namun tangannya tetap mengulurkan ponsel yang tadi dia simpan di dalam tas. Ia tidak protes, bahkan ketika Seongwu mengotak-atik ponselnya. Setelahnya, Seongwu mengembalikan ponselnya lagi. "Tuh gue kasih foto gue buat contoh gambarnya."

Minhyun hanya mengangguk sebagai jawaban.

Ia mulai menggoreskan pensil ke atas kertas sketch book barunya sambil sesekali menengok ke arah ponselnya. Ia kemudian melirik Seongwu yang masih duduk anteng di kursinya, tanpa ada niatan untuk beranjak sedikit pun.

"Kok masih di sini? Gambarnya masih lama kali. Nanti paling jam empatan baru selesai, aku chat."

Seongwu menggelengkan kepala, "Gue tungguin di sini."

"Nungguin aku gambar?"

Seongwu mengangguk lagi.

"Masih lamaaaa, ntar bosen." Minhyun bukan maksud mengusir, serius. Ia hanya takut Seongwu kebosanan menunggu dirinya selesai menggambar. Minhyun adalah tipe yang fokus tanpa bicara ketika mengerjakan sesuatu.

"Gak lah, gue gak bakal bosen cuma liatin lo nggambar."

.

.

Jarum pendek jam dinding perpustakaan menunjuk angka tiga tepat. Genap satu jam sudah Seongwu menumpu kepala dengan tangan menghadap Minhyun yang sedang fokus menggambar. Ia bahkan tidak beranjak dari posisinya sama sekali sejak tadi. Sepertinya, selain bermain drum, mengamati wajah Minhyun dari jarak dekat seperti ini bisa ia masukkan dalam daftar hobinya.

"Kamu dari tadi gitu terus gak capek apa?" Minhyun yang sedang serius menggambar, tiba-tiba berujar. Membuat Seongwu mengangkat kepalanya dari tumpuan tangan. "Gak sih. Orang gak ngapa-ngapain, dari mana capeknya."

"Dari pada nganggur mending ngerjain apaan gitu," sahut Minhyun lagi. Perempuan itu bahkan bicara tanpa menatap lawan bicaranya.

"Ngeliat lo nggambar bikin gue pengen nggambar juga. Gue mau gambar wajah lo boleh gak?" Minhyun kini menolehkan kepalanya. Tanpa sengaja ia menatap lurus mata Seongwu yang juga menatapnya. Perempuan itu segera memutus kontak mata mereka terlebih dahulu dengan kembali menatap hasil gambarnya di meja. "Boleh," jawabnya, sedikit lirih.

Keduanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Minhyun masih melakukan finishing terhadap gambarnya, sedangkan Seongwu curi-curi pandang terhadap Minhyun, untuk melengkapi sketsa gambar di bukunya.

Minhyun menghela napas lega, kemudian menolehkan kepalanya ke arah Seongwu. Seongwu yang tadinya masih curi-curi pandang, langsung menurunkan pandangannya dan pura-pura fokus dengan gambarnya. Ia tertangkap basah mengamati Minhyun diam-diam.

"Nih udah selesai gambarnya." Minhyun berniat untuk menyobek halaman bukunya yang berisi gambar wajah Seongwoo, namun diurungkan karena tangan Seongwoo yang menahannya. "Gak usah disobek. Itu gambarnya buat lo aja. Gue sih tiap hari juga udah ngeliat wajah ganteng ini di cermin."

Minhyun melongo lagi. "Lah, kan kamu yang minta digambarin. Kok jadi aku yang nyimpen gambarnya?"

Laki-laki itu nyengir lebar lagi. "Gambar wajah lo ini juga bakal gue simpen kok. Gue taruh di halaman paling depan sketch book gue. Bakal gue selesein gambarnya ntar di kosan. Yah meskipun gak bagus-bagus amat gambarnya." Seongwu yang tadinya mengangkat sketch booknya untuk menunjukkannya pada Minhyun, kini ia turunkan lagi. Kemudian ia memasukkannya pelan-pelan ke dalam tas.

Minhyun masih bingung. Gadis itu terdiam di tempatnya.

"Itu gambarnya buat kenang-kenangan aja. Daripada lo nyimpen foto-foto gue, mending liatin hasil gambar lo aja. Lebih berharga. Gue keliatan lebih cakep di sana."

Seongwu sudah beranjak dari duduknya setelah merapikan barang-barangnya. Minhyun sendiri merapikan barang-barangnya sambil sesekali menggelengkan kepalanya tak percaya. Seongwu dibuat tertawa melihatnya.

"Gue mau balik nih. Lo mau bareng gak? Jonghyun palingan jalan sama Minki soalnya ini malam minggu."

Minhyun pun mengangguk malu-malu.

.

.

.

bagian 1 done! ini pertama kalinya bikin ff onghwang karena beneran butuh asupan onghwang kkkk (memuaskan diri sendiri ini namanya).

maaf ya agak geli2 gimana gitu liat karakternya seongwu disini, minta ditampol gitu hahaha.

seongwu anak jakardaahh, jadi pake lo-gue. minhyun anak jogja yeuuu jadi adem kalem masih aku-kamuan.

aku butuh review nihhh. oh iyaa ayo berteman, aku gak gigit.