"Ini dia nih, yang ditunggu-tunggu."

Jonghyun yang baru saja masuk dibuat bingung dengan Jaehwan yang menuntunnya untuk duduk pada sofa di pojok ruangan. Tiga orang lainnya, yang sebelumnya sibuk dengan alat musiknya masing-masing, kini mulai berkumpul di sekitar Jonghyun dan Jaehwan.

"Kenapa?" Tanya Jonghyun heran.

Seongwu selaku yang punya rencana, meringis ke arah Jonghyun. "Bang Seongwu, gue persilakan untuk ngomong." Jaehwan bergeser sedikit untuk memberikan Seongwu tempat.

"Jadi gini," Seongwu berdehem sebentar sebelum melanjutkan. "Gue mau nambah lagu lagi buat minggu depan."

Jonghyun hendak protes, tapi Hyunbin dan Daniel dengan sigap langsung menghentikan. "Bentar, Bang, dengerin dulu," ujar Hyunbin.

Setelah dirasa situasi kembali kondusif, Seongwu melanjutkan. "Tapi gue yang nyanyi. Gue sama Jaehwan bakal tuker posisi buat lagu terakhir. Jaehwan ngedrum, gue vokal."

"Lo ngapain pake nyanyi-nyanyi segala? Buat apa?" Protes Jonghyun. "Gak, gue gak setuju. Kita belum nyiapin apa-apa buat tambah lagu. Jaehwan emang bisa ngedrum?"

Empat laki-laki lainnya tersenyum, seakan telah menduga reaksi Jonghyun. "Gue tau lo bakal ngomong gitu. Jadi, kita udah latihan sebelumnya tanpa lo," jawab Seongwu. "Gimana?"

Daniel, Hyunbin, dan Jaehwan menatap Jonghyun penuh pengharapan. Tak terkecuali Seongwu yang sedari tadi harap-harap cemas.

"Ini demi masa depan gue. Plis, Jonghyun."

Setelah berpikir beberapa detik, Jonghyun akhirnya memutuskan. "Ya udah, oke."

.

.

DAYBREAK

Episode #2: Falling in Love

.

.

Awal semester tiga.

Seongwu satu kelas dengan Minhyun sebenarnya sejak tahun pertama mereka. Tapi, Seongwu bukan tipe yang mudah hapal semua teman sekelasnya, jadi ia mulai kenal Minhyun sekitar awal semester tiga.

Minhyun sedang duduk santai sembari tiduran di atas sofa basecamp Justice League, sembari menunggu Jonghyun selesai latihan. Ia memainkan ponsel, mengecek informasi yang mungkin ia lewatkan di grup chatting kelasnya.

Jonghyun, Jaehwan, Hyunbin, dan Daniel berlatih untuk tampil lusa. Tapi, yang sejak tadi membuat Minhyun heran adalah kosongnya job drummer band mereka.

"Jonghyun, ini emang gak ada yang main drum ya?"

Jonghyun yang masih asik bermain dengan keyboardnya, menoleh ke arah Minhyun. Diliriknya perempuan itu yang kini menyamankan diri dengan jaket milik Daniel sebagai bantalnya.

"Ada, tapi gak tau tuh orang di mana," jawab Jonghyun cuek. Ia kembali fokus untuk memainkan keyboardnya.

"Palingan lagi war Mobile Legends di kantin dia," sahut Daniel. "Terus lupa kalo sekarang udah jam dua," sambung Jaehwan.

"Chat-in dong, Kak. Suruh ke sini." Jaehwan berujar sembari memetik senar gitarnya. "Kalian berdua sekelas kan?" lanjutnya lagi.

Minhyun bangun dari kegiatan tidurannya, kemudian menunjukkan raut wajah yang bingung. "Siapa?" tanyanya.

Jaehwan perlahan bangkit dan berjalan ke arah Minhyun sembari menenteng gitarnya. Ia menyuruh Minhyun untuk geser supaya dirinya bisa duduk dengan nyaman di atas sofa. Setelahnya, ia mengulurkan tangan ke arah Minhyun mengisyaratkan si perempuan untuk memberikan ponselnya.

"Buat apa?"

"Siniin dulu." Jaehwan langsung merebut ponsel Minhyun dari tangan pemiliknya. Laki-laki itu langsung membuka aplikasi chatting milik Minhyun dan menggeser-geser daftar kontak. "Parah. Masa temen sekelas aja gak punya kontaknya," Jaehwan memekik cukup keras.

Minhyun langsung merebut ponselnya dari tangan Jaehwan. "Kalo gak akrab gak aku simpen kontaknya." Perempuan itu membuka grup chatting kelasnya untuk mencari kontak si drummer Justice League yang masih belum ia ketahui namanya.

"Sini, biar gue aja yang chat." Jaehwan merebut lagi ponsel dari tangan Minhyun. Si perempuan hanya bisa pasrah sambil terus memperhatikan tingkah Jaehwan. Takut-takut kalau mahasiswa Fakultas Ekonomi itu berbuat aneh-aneh, Minhyun bisa langsung menarik ponselnya dari genggaman laki-laki itu.

Selang beberapa menit, setelah Jaehwan selesai mengetikkan sesuatu pada aplikasi chatting milik Minhyun, ia mengembalikan ponsel ke atas pangkuan pemiliknya. "Udah noh." Ia kemudian berjalan kembali ke tempatnya semula, "Yo latihan lagi!"

Tepat setelah menyanyikan bagian terakhir lagu, pintu basecamp nampak dibuka. Sosok laki-laki dengan kemeja lengan pendek masuk tanpa mengidahkan tatapan kesal teman-temannya. Ia hanya meringis kecil ketika mendongakkan kepala dan menatap mata rekan bandnya.

"Hehe, maaf gue lupa jam." Ia segera berlari kecil untuk menaruh tas punggungnya dan menarik stik drum yang menyembul keluar dari tasnya.

"Kebiasaan banget sih lo. Lain kali ya, kalo ada acara penting, mending pasang alarm di hape. Lo kalo lagi ngegame suka gak tau diri," omel Jonghyun. Tiga orang lainnya menganggukkan kepala setuju.

"Ya maaf atuh Abang Jonghyun yang terhormat, Seongwu tidak sengaja."

Minhyun yang sejak tadi memandangi adegan tersebut dari atas sofa, sedikit terkejut ketika laki-laki dengan kemeja lengan pendek itu menyebut dirinya 'Seongwu'.

"Bentar deh, kamu beneran Seongwu? Arsitektur 2016?"

Seongwu yang sebelumnya mengecek drumnya sebagai persiapan untuk latihan, langsung menolehkan kepala ke asal suara. Ia mengerutkan alis menatap Minhyun yang juga menatapnya. "Iya. Kenapa?"

"Lah kalian kan sekelas, masa gak saling kenal?" Daniel tiba-tiba menyahuti. "Gue kirain kenal," sambung Hyunbin.

"Lah pantesan Kak Minhyun gak punya kontaknya Bang Seongwu," ujar Jaehwan.

"Oh ya, kita sekelompok buat bikin maket, btw. Kamu kemarin Senin gak masuk pas pembagian kelompok, jadi aku sendirian gak ada temen buat diskusi soalnya partnerku doang yang gak ada." Minhyun berujar panjang lebar dan Seongwu menanggapinya dengan mengangguk saja.

"Kapan mulai bikinnya?" tanya Minhyun.

"Lusa aja, di rumah gue. Sekalian latihan sama anak-anak JL. Ntar gue yang nyiapin bahannya, lo tinggal dateng aja."

"Oke siap!" Minhyun tersenyum manis sembari memberikan gestur hormat ke arah Seongwu.

"Udah, ntar lanjutin lagi diskusinya. Kita latihan dulu."

.

.

.

Pertengahan semester empat.

"Ada yang bawa motor gak?"

Jonghyun yang tiba-tiba muncul di ambang pintu mengagetkan empat orang lain yang sedang santai-santai. Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Jaehwan, selaku yang sering membawa sepeda motor.

"Jaehwan lo bawa motor? Anterin Minhyun balik dong." Ia kini melepas sepatunya, lalu melangkah menghampiri sekumpulan laki-laki yang tidur-tiduran di atas karpet dengan pendingin ruangan yang suhunya direndahkan.

Daniel langsung menegakkan badan dan menyahut, "Gue mau pake motornya Jaehwan, Bang."

"Ya udah kalo gitu anterin Minhyun balik sekalian."

"Gue perginya sama Hyunbin. Boti mau?"

Daniel dan Hyunbin tertawa. Jaehwan ikut tertawa karena Daniel yang tertawa hingga kehabisan napas. Hanya Seongwu yang masih betah bermain ponsel tak menghiraukan kedatangan Jonghyun sejak tadi.

"Bang Seongwu biasanya juga bawa motor." Jaehwan menendang kaki Seongwu. "Bang anterin Kak Minhyun pulang."

"Iya, Bang. Anterin, Bang. Buruan, Bang." Daniel menggoyang-goyangkan lengan Seongwu, hingga laki-laki itu mengumpat pelan karena jagoannya kalah.

"Diem atuhlah, Niel. Kalah nih gue!"

Setelah menutup aplikasi game di ponselnya, Seongwu mendongakkan kepala untuk melihat Jonghyun karena posisinya sekarang sedang tiduran dengan kepala beralaskan jaketnya. "Minhyun di mana?"

"Di depan FEB."

Langsung, setelah Jonghyun memberitahu lokasi Minhyun, Seongwu segera beranjak memakai jaket dan dengan cepat memasang sepatunya. Ia kemudian berlari keluar basecamp, membuat Jonghyun keheranan. Jonghyun melempar pandangan ke tiga orang lainnya, namun Jaehwan, Daniel, dan Hyunbin hanya meringis dan mengendikkan bahu tanda tak mengerti.

Seongwu bisa melihat dari atas sepeda motornya, Minhyun yang tengah duduk sambil mengamati rintik-rintik gerimis. Ia kemudian berhenti tepat di depan Minhyun duduk.

Perempuan itu mengernyitkan dahinya karena bingung dengan kehadiran seseorang bersepeda motor yang helmnya tertutup rapat. Seongwu yang melihat perubahan raut Minhyun dari balik kaca helmnya, segera menaikkan kaca helmnya agar si perempuan dapat melihat wajahnya.

"Oh, Seongwu. Kirain siapa tadi. Kenapa?"

Seongwu tak menjawab, tapi ia langsung melepas jaket marun yang ia kenakan dan memberikannya kepada Minhyun. "Pake nih."

"Hah? Ngapain?" Perempuan itu kaget, namun tetap menerima jaket dari tangan Seongwu.

"Gue anterin pulang." Seongwu menstater lagi motornya ketika dilihatnya Minhyun masih terdiam di tempatnya. "Pake dulu jaketnya. Gerimis. Ntar lo kedinginan. Lagian tumbenan pake kemeja lengan pendek."

Minhyun ragu-ragu memakai jaket milik Seongwu sambil terus mengamati si empunya jaket yang juga pakai kemeja lengan pendek seperti dirinya. "Emang kamu gak dingin? Kamu juga pake lengan pendek."

"Ya gue kan cowok. Cowok mah tahan banting. Udah buruan naik, ntar hujannya tambah deres."

.

.

.

Bazar tahunan, awal semester lima.

Minhyun menggerutu melihat tangannya sedari tadi ditarik oleh Kenta yang dengan riangnya berjalan kesana kemari mengunjungi satu stan ke stan lainnya. Perempuan itu hanya bisa pasrah mengikuti langkah Kenta.

"Minhyun, Minhyun, ke panggung yuk. Bandnya Daniel mau tampil deh kayaknya." Minhyun bahkan belum menjawab iya, tapi dengan gesit Kenta menarik lengan perempuan yang notabene punya tubuh lebih besar darinya.

Mereka berdua berdiri cukup jauh dari panggung karena di depan panggung sudah penuh dengan banyak perempuan yang Minhyun ketahui sebagai fans dari band punya sepupunya. Dua mahasiswa FISIP di Justice League adalah yang mempunyai fans paling banyak, siapalagi kalau bukan Daniel dan Hyunbin. Sisanya, setengah fans Seongwu, seperempat fans Jonghyun, dan seperempatnya lagi fans Jaehwan.

Itulah salah satu alasan kenapa Jonghyun selalu menasehati Minhyun untuk tidak dekat atau punya hubungan dengan anak band. "Jangan mau sama anak band, ceweknya banyak," ujar Jonghyun suatu hari.

"Kamu juga anak band, tapi ceweknya kok cuma Minki aja?" tanya Minhyun.

"Kecuali Jonghyun."

Justice League mulai menyanyikan lagu pertamanya. Semua yang ada di sana langsung berteriak kegirangan bahkan ketika mereka baru membawakan intro lagunya. Saat sang vokalis, Jaehwan mulai menyanyikan liriknya semua kaum hawa di sana semakin berteriak-teriak heboh. Tak terkecuali Kenta yang sejak tadi berteriak menyebut nama Daniel dan Hyunbin bergantian.

Minhyun tak tertarik. Ia perlahan mundur dari samping Kenta dan berjalan untuk melihat-lihat stan UKM lain. Ia berhenti di stan enterpreneurship ketika melihat Sungwoon di sana.

"Kak, jual apaan?" sapanya ramah. Sungwoon kemudian menyuruh Minhyun untuk mendekat ke stannya.

"Kamu kok di sini? Gak liat Justice League?" Sungwoon mendekatkan diri ke Minhyun karena suasana di sana begitu berisik. Minhyun sayup-sayup mendengarkan pertanyaan Sungwoon karena stan milik enterpreneurship dekat dengan speaker panggung.

"Bosen, Kak," jawabnya.

Sungwoon menganggukkan kepala tanda mengerti. "Kamu mau float gak? Aku kasih nih, gratis. Jualanku udah habis."

"Wih, cepet banget."

Sungwoon membawa Minhyun untuk masuk ke dalam stannya dan memberikan segelas float kepadanya. "Yuk, temenin aku jalan-jalan dulu."

Ketika mereka akan keluar dari stan milik enterpreneurship, Minhyun melihat Daehwi yang tergesa-gesa masuk dan langsung menghampiri dirinya. "Kak Minhyun, Kak Minhyun. Ya ampun dicariin daritadi! Ayo ke depan panggung!"

Belum sempat Minhyun menjawab, ia sudah diseret Daehwi keluar dari stan enterpreneurship. Dan sekali lagi, Minhyun hanya bisa pasrah.

.

"Panggilan buat Minhyun, arsitektur 2016. Atau siapa aja yang lagi sama Minhyun anak arsitektur, suruh ke depan panggung sekarang juga karena lagu spesialnya gue persembahin buat dia."

Semua penonton yang ada di sana kompak bersorak. Jonghyun yang sudah siap di balik keyboard ikut terkejut. Ia menyenggol Daniel yang berdiri di sampingnya dan bertanya tentang apa yang sudah ia lewatkan selama ini, tapi Daniel hanya tersenyum dan berbisik, "Lihat aja ntar."

"Sekali lagi, buat Minhyun anak arsitektur '16 ke depan panggung sekarang juga. Kalo gak, gue gak nyanyi-nyanyi."

Dari arah berlawanan, muncul Daehwi yang tengah berlari sambil menyeret seseorang. "Ini! Kak Minhyun-nya di sini! WOY!" Daehwi melambaikan tangannya yang bebas ke arah panggung, berharap Seongwu yang berdiri di atas sana dapat melihatnya.

Seongwu tersenyum ketika ia melihat Minhyun yang datang sambil ditarik oleh Daehwi. Ia mendekatkan bibirnya ke mikrofon. "Minhyun, lagu ini buat kamu."

"Ceilah aku-kamuan."

Seongwu memberi aba-aba kepada Jaehwan yang menggantikan posisinya sebagai drummer untuk memulai lagunya.

Minhyun yang berdiri tak jauh dari panggung menganga lebar, tak habis paham dengan apa yang dilakukan Seongwu di atas sana. Tubuhnya memanas, pipinya merona. Ia meletakkan kedua telapak tangannya ke pipi untuk menutupi semburat merah yang perlahan mulai muncul. Ia malu sekali.

"Yen tak sawang sorote mripatmu, jane ku ngerti ono ati sliramu..."

Penonton bersorak kembali. Beberapa ada yang menolehkan kepala memandangi Minhyun yang malunya kini bertambah dua kali lipat.

"Nanging anane mung sewates konco, podo ra wanine ngungkapke tresno..."

Minhyun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mahasiswa-mahasiswi yang ada di sana semakin bersorak kegirangan. Bahkan ada yang sampai mengabadikan momen langka ini dengan kamera ponsel dan mengunggahnya ke media sosial mereka.

Seongwu di atas panggung semakin menikmati nyanyiannya. Ia sudah tak mempedulikan bagaimana sang pujaan hati yang kini menanggung malu maksimal akibat tindakan kurang menyenangkan oknum Seongwu terhadapnya.

"Yen ku pandang gemerlap nyang mripatmu, terpampang gambar waru ning atimu. Nganti kapan abot iku ora mok dukung..."

"Ya ampun, gak kenal," ucap Minhyun. Daehwi yang berdiri di sampingnya sejak tadi ikut menggoda dirinya dan memekik histeris. "Kak Seongwu lucu banget deh. Daehwi juga mau digituin."

"Mung dadi konco mesra mergo kependem cinta..."

"YO SEMUANYAAA!!!" Seongwu berteriak dari atas panggung. Penonton semakin bersemangat dan ikut menyanyi bersama.

"Sungguh sayang aku tak bisa langsung mengungkapkan. Perasaan yang ku simpan buat ku tak tenang. Ini semua karena hubungan pertemanan, kau sudah biasa anggap ku sebagai kawan..."

"Seongwu ngapain sih..."

Ingin rasanya Minhyun sekarang pergi ke Parangtritis, menenggelamkan diri, dan jadi dayang-dayang Nyi Roro Kidul. Ia hampir ingin kabur dari sana, sebelum tangan Daehwi menahan lengannya. "Mau ke mana Kak? Kak Seongwu kan belum selesai nyanyinya." Dengan berat hati, Minhyun mau tak mau tetap berdiri di sana sembari menahan rasa malu pangkat tiga melihat kelakuan aneh Seongwu.

"Adem panas awakku gara-gara kamu. Nyibakke atiku, gati menyang aku..."

Minhyun geleng-geleng kepala. Seongwu makin menggila di atas sana.

"Sampek kegowo turu, ngimpi ngusap pipimu. Tansah nyoto keroso konco dadi tresno..."

Instrumen lagu masih terus dimainkan, tapi Seongwu tak melanjutkan menyanyi. Ia menarik napas perlahan. Setengah detik kemudian ia mendekatkan kembali mikrofonnya ke bibir.

"Minhyun! Aku gak mau kita sebatas konco mesra aja!" Seongwu berteriak menggunakan mikrofon, membuat Minhyun terlonjak kaget.

"Aku gak mau hubungan kita sebatas pertemanan. Aku juga gak mau dianggap sebatas teman."

Semuanya bersorak kompak. Minhyun malu pangkat empat.

"Jadi, maukah kamu wahai Minhyun untuk menjadi teman hidup seorang Seongwu yang tampan rupawan ini?"

Minhyun malu pangkat lima.

"Seongwu! Turun gak!"

Si perempuan berteriak dari ujung tempat penonton. Seongwu yang tadinya di atas panggung, kini turun dengan wajah sumringah dan senyum yang begitu lebar.

Penonton di depan panggung otomatis membuka barisan, memberi jalan untuk si tokoh utama yang tengah mengutarakan cinta. Seongwu melangkah dengan ringan menghampiri Minhyun yang berdiri di ujung barisan.

Ia berhenti tepat di depan Minhyun masih dengan senyumnya yang lebar. Wajah Minhyun sudah memerah sempurna sampai ke telinga, antara malu juga salah tingkah.

"Jadi aku diterima gak?" tanya Seongwu sekali lagi.

"Malu-maluin banget tauuuu. Ya ampun!"

Seongwu meringis, "Tapi romantis kan?" Ia menaik turunkan alis, berniat menggoda Minhyun.

"Gimana? Diterima apa gak nih?"

Semua orang yang ada di sana kompak berteriak menyuruh Minhyun untuk menerima Seongwu. Banyak di antara mereka yang juga mengabadikan momen romantis ala drama ini di ponsel masing-masing, termasuk Kenta yang Minhyun lihat berteriak paling keras dari yang lain.

"Ya udah deh iya."

Seongwu tersenyum semakin lebar. Ia maju satu langkah dan merentangkan tangan hendak memeluk Minhyun sebelum dahinya di dorong Minhyun ke belakang kembali.

"Aku nerima kamu biar kamu gak malu. Udah diliatin banyak orang, masa ditolak? Kan gak lucu."

Minhyun balik badan, menjauh dari kerumunan orang di depan panggung. Meninggalkan Seongwu yang berdiri sembari melongo lebar.

.

.

.

.

Ngelanjutin ini di tengah2 antri cetak ktp haha. Sumpah ya buat yang mau bikin ktp baru, harus sabar2 aja karena prosedurnya itu nyusahin. Belum lagi kalo ketemu sama petugasnya yang galak hehe /peace

Yg sudah punya ktp dijaga baik2 ktpnya karena dapetinnya susah. Lebih susah dari nonton konser oppa

Ya masa kalo dengerin bojo galak sama konco mesra itu selalu keinget Jaehwan sama Ong mulu sihhh

Yang nanti dateng ke fm nya wanna one boleh dong request Jaehwan ft. Ong - Bojo Galak

terima kasih buat review di chapter sebelumnya hohoho(btw saya tida tau bagaimana cara membalas komentar????)yang penting... teriMA KASIHHH