"Kalo punya pacar tuh ya, mbok berangkatnya bareng gitu. Kok ini masih sama Bang Jonghyun mulu."

Minhyun tersedak kuah bakso.

"Seongwu aja tiap hari berangkatnya naik gojek," ucap Minhyun santai. Ia melanjutkan makan setelah sebelumnya terbatuk karena kuah bakso.

"Jadi sebenernya yang pacarnya Seongwu tuh gojek apa lo?"

Minhyun melempar bekas tisu ke arah Hyunbin yang tertawa terbahak-bahak. Bahkan Jonghyun sampai menyemburkan es jeruknya karena tertawa.

"Jonghyun jorok!" Meskipun mendapat pelototan mata dari Minhyun, ia tidak bisa berhenti tertawa.

"Putusin aja lah, Kak. Gak guna juga punya pacar kayak dia." Jaehwan berkata dengan cuek sembari membantu Hyunbin yang bajunya basah terkena semburan es jeruk dari Jonghyun.

"Heh! Gue denger ya!"

.

.

DAYBREAK

Episode #3: Hugging

.

.

"Yang, lain kali jangan makan bareng anak-anak JL lagi. Apalagi Hyunbin sama Jaehwan. Nanti ketularan begonya." Seongwu menggenggam erat tangan Minhyun dan mulai mengayunkannya senada dengan langkah kaki mereka.

Minhyun tersipu malu. Wajahnya mulai merona merah sampai ke telinga. Ia menundukkan kepala agar Seongwu di sampingnya tak bisa melihat warna kemerahan yang muncul di pipinya.

"Mau gimana lagi, orang dari awal mainnya sama mereka kalo gak sama Kenta," jawab Minhyun santai. Ia tak menyadari perubahan raut wajah Seongwu. Laki-laki itu mengerucutkan bibir, kemudian menahan tangan Minhyun untuk berhenti melangkah. Si perempuan otomatis mendongakkan kepala.

"Kenap- HAHAHAHA." Minhyun menutup bibirnya untuk mengurangi suara tertawanya yang ia rasa terlalu keras. "Jangan gitu. Geli tau gak."

"Apa sih, Yang?"

"Gak papa, udah ayo buruan ntar makin gelap." Minhyun langsung menyeret tubuh besar Seongwu, sedangkan si laki-laki malah tersenyum senang menatap tangannya digenggam erat oleh Minhyun.

Mereka sampai di tempat parkir setelah melewati lorong gedung Departemen Arsitektur dan Perencanaan yang penuh dengan mahasiswa-mahasiswi yang membicarakan mereka berdua.

Seongwu adalah satu dari sekian banyak laki-laki tampan dari Fakultas Teknik, sehingga hubungannya dengan Minhyun yang resmi kemarin sore menjadi topik oborolan panas sejak tadi malam dan hari ini. Laki-laki tak terlalu menggubris apapun yang orang lain katakan tentang mereka, begitupun Seongwu. Berbeda lagi dengan perempuan seperti Minhyun. Perempuan itu terlalu perasa. Ia merasa sedikit tidak nyaman ketika banyak mahasiswi yang tak ia kenal membicarakan dirinya.

"Udahlah, Yang, gak usah dipikirin. Mereka itu gak rela karena pangeran Fakultas Teknik ini udah ada yang punya," ujar Seongwu ketika mereka sampai di tempat parkir.

"Ge-er kamu." Minhyun mendengus, lalu memukul punggung Seongwu. Si laki-laki meringis sedikit karena tak menyangka perempuan lemah lembut seperti Minhyun tenaganya lumayan juga.

"Tumben bawa motor? Biasanya sama gojek." Minhyun memasang helm yang diulurkan Seongwu dan bersiap untuk duduk pada jok belakang sepeda motor si laki-laki.

"Kan sekarang udah punya tanggung jawab nganterin pulang." Seongwu mulai menghidupkan mesin motor. "Pegangan, Yang. Nanti kalo kamu jatoh, aku sedih."

"Bukannya tadi pagi kamu berangkat naik gojek?"

Sepeda motor Seongwu berjalan keluar parkiran. Seongwu menyempatkan diri menyapa beberapa rekan mahasiswa yang sedang berjalan masuk parkiran dengan sebuah senyuman.

"Iya sih. Terus aku balik lagi ke kosan naik gojek buat ambil motor." Ia meringis kemudian. "Aku lupa kalo sekarang udah punya pacar."

"Ya kalo lupa kan besok masih ada hari lagi."

"Aku orangnya selalu melakukan yang terbaik seperti hari ini adalah hari terakhir, Yang."

Minhyun mendengus. Seongwu tetap tak pernah berubah. Percaya dirinya, lucunya, sikap tenangnya, apapun yang ada pada diri Seongwu, Minhyun menyukainya.

.

.

"Eh, eh, rumahku kelewatan, Yang."

Minhyun menepuk-nepuk bahu Seongwu yang sejak tadi mengoceh, bercerita dari hulu ke hilir tentang apa saja yang ditemuinya sepanjang jalan menuju rumah Minhyun. Minhyun sampai bingung harus menanggapi Seongwu seperti apa lagi.

"Ya ampun, Yang, sorry. Keasikan ngoceh sih akunya." Minhyun bisa melihat wajah tanpa dosa Seongwu yang nyengir lebar dari kaca spion.

Ia bergegas turun ketika Seongwu berhenti tepat di depan rumah dengan pagar bercat hitam. Minhyun melepas helm, kemudian menyerahkannya kepada Seongwu. "Mau mampir dulu?"

Seongwu mematikan mesin sepeda motornya. Ia menaikkan kaca helmnya agar bisa bersitatap langsung dengan Minhyun. "Gak usah deh, Yang. Udah mau magrib, gak enak. Kapan-kapan aja ya, gak papa kan?"

Minhyun mengangguk. "Ya udah sana pulang." Tangannya membentuk gestur mengusir.

"Kok aku diusir sih?"

"Tadi ditawarin mampir gak mau. Disuruh pulang gak mau. Kamu mau diem di sini aja gitu?"

Seongwu memasang muka sedih yang dibuat-buat. Minhyun gemas dan tangannya mengarah untuk menyubit hidung Seongwu. "Jangan pasang muka gituuu. Geli tauuuu."

Seongwu berusaha melepaskan cubitan Minhyun dari hidungnya, karena sungguh tenaga Minhyun itu dua kali lipat lebih kuat dari Jonghyun kalau Seongwu boleh hiperbola. "Sakit, Yang."

Minhyun tertawa melihat wajah kesakitan Seongwu dengan hidung yang memerah. Ia berhenti tertawa ketika menangkap raut sebal pacarnya. "Hehe, ya udah aku masuk dulu."

Tangan Minhyun ditahan oleh Seongwu ketika perempuan itu balik badan. Minhyun terpaksa memutar kembali menghadap Seongwu yang masih duduk manis di atas sepeda motor.

"Kenapa?"

Seongwu tidak menjawab, ia menggigit bibirnya, dan sesekali membasahinya dengan lidah. Ia grogi maksimal. Berbeda 180 derajat dari normal-Seongwu yang biasa Minhyun lihat.

"Kemaren waktu aku nembak kamu, kamu kan langsung pergi gitu aja habis ngasih jawaban."

Minhyun menunggu Seongwu untuk melanjutkan kalimatnya.

"Biasanya di drama kan kalo habis nembak, mereka pelukan."

Minhyun menahan tawanya. "Ya terus?"

Seongwu mengambil napas. Ia melepas helmnya dan meletakkannya pada gagang kaca spion. Ia bercermin sebentar, merapikan rambutnya yang berantakan karena helm.

Seongwu menatap Minhyun. Ia lalu bangkit dari duduknya, sehingga mereka kini berdiri berhadapan. Seongwu tersenyum lembut sembari merentangkan tangan.

"A hug for me, please."

Senyum Minhyun pecah. Ia tak bisa lagi menyembunyikan raut wajah bahagianya. Ia tersenyum, lebar sekali. Senyum paling lebar dan tulus yang pertama kali Seongwu lihat dari sosok Minhyun.

Minhyun mendekatkan dirinya pada Seongwu dan membalas pelukan laki-laki itu. Ia menyamankan diri pada bahu sang laki-laki.

Seongwu sendiri menyandarkan dagunya pada pucuk kepala Minhyun. Ia menghirup harum rambut gadisnya dan membubuhkan satu kecupan kecil di sana.

"BELOM MUHRIM WOY!"

Jinyoung berteriak dari balik pintu.

.

.

.

.

.

Jinyoung siapanya Minhyun hayoooo?????

Oh ya, apakah aku harus mengepost cerita ini di wattpad juga?? Aku takut kalo di wattpad gak ada yang tertarik buat baca :(((

Sebenernya cerita ini aku tulis di draft wattpad dan akan aku posting di sana, tapi sepertinya di wattpad peminat onghwang masih jarang, jadi aku publish di sini.

Jadiiiii di publish di wattpad juga atau tidaaaa?

tambahan: aku besok dan lusa gak bisa post bab selanjutnya karena mau belajar dulu buat to kimia hari kamisnya:((( jadiiii hari jumat akan aku post lagiiii

sekali lagi TERIMA KASIH buat yang review, favorite, dan follow cerita ini